Work Text:
Sejak Yanqing berusia 9 tahun, Yanqing rajin berlatih pedang dengan Jing Yuan. Bunyi besi saling menghantam terdengar.
"Baik, Yanqing. Kita istirahat dulu."
"Aaaaaa Jendral sangat kuat, Yanqing pasti akan mengalahkan Jendral suatu hari nanti!!!"
Jing Yuan tersenyum. "Saya menantikan hari itu tiba. Mungkin Yanqing akhirnya tumbuh tinggi~~"
"Huh, Jendral mengejek Yanqing ya!?"
Jing Yuan tertawa dan meninggalkan Yanqing. Yanqing menghela napas dan mengejar Jing Yuan.
"Aaaaaa Jendral, tunggu Yanqing!!"
Yanqing yang terburu-buru tidak melihat batu. Yanqing tersandung dan jatuh. Wajahnya menghantam tanah.
"Yanqing!" Jing Yuan dengan cepat menolong Yanqing berdiri.
"..."
"Yanqing, hidungmu terluka... Saya akan memanggil Bailu, kamu istirahat saja di kamar."
Yanqing hanya mengangguk. Hidungnya terus mengeluarkan darah. Jing Yuan yang khawatir menemani Yanqing menuju kamar sembari menutupi hidung Yanqing dengan lengan baju-nya.
"Yanqing tiduran saja, tutupi hidung-mu dengan kain ini." Jing Yuan memberi Yanqing sapu tangan.
Yanqing mengangguk dengan patuh. Jing Yuan memanggil Bailu. Ketika Bailu sampai, Yanqing tersenyum meringis dengan hidung mimisan. Bailu menggelengkan kepala-nya dan merawat Yanqing.
"Lain kali kalau jalan lihat-lihat."
"Yanqing lari, bukan jalan."
"Sama saja!"
Bailu mengomel sambil merawat Yanqing. Yanqing hanya cengengesan sambil sesekali meringis kesakitan.
Setelah selesai merawat Yanqing. Bailu pamit dengan Yanqing dan Jing Yuan dan meninggalkan Mansion.
"Yanqing, maaf-"
"Mengapa Jendral meminta maaf? Kan Yanqing yang salah."
Jing Yuan menggaruk kepala-nya yang tidak gatal.
"Yanqing tidak merasa sakit?"
"Pertanyaan Jendral aneh, tentu saja Yanqing kesakitan."
"Ah maaf, soalnya kamu tidak menangis..."
"...Jendral sangat ingin melihat Yanqing menangis ya?"
"Eh, tentu saja tidak!"
Yanqing menggembungkan pipi-nya dan berbalik memunggungi Jing Yuan. Jing Yuan terus meminta maaf pada Yanqing yang berpura-pura tidur.
---
Waktu terus berjalan. Yanqing terkadang mengalami kecelakaan. Tetapi, Jing Yuan tidak pernah melihat sekali pun Yanqing menangis. Sampai suatu hari, setelah melawan Phantylia, Jing Yuan kelelahan dan pingsan. Kru Astral Express membawa Jing Yuan ke Bailu. Bailu sangat terkejut dan segera merawat Jing Yuan. Jing Yuan tidak kunjung bangun selama 5 hari. Di hari ke-6, Jing Yuan akhirnya membuka mata. Jing Yuan merasakan beban ringan di tempat tidur. Ternyata, Yanqing tertidur di sebelah lengan Jing Yuan. Jing Yuan mengangkat tangan dan membelai kepala Yanqing. Yanqing terbangun dan menatap Jing Yuan.
"Yan- ekhem, halo Yanqing." Tenggorokan Jing Yuan terasa kering.
Yanqing memberi Jing Yuan air.
"Ekhem, terima kasih." Jing Yuan meminum air dan menghela napas lega.
"..." Yanqing hanya menatap Jing Yuan.
"Yanqing, bagaimana kabarmu?" Jing Yuan memecah keheningan.
"..."
"Ummm... Yanqing?"
Yanqing tidak menjawab.
Yanqing berdiri dari kursi dan meninggalkan Jing Yuan.
"Yanqing..." Jing Yuan menghela napas pelan.
"Jendral sudah bangun!" Bailu muncul dan segera memeriksa Jing Yuan.
Setelah 2 hari, Jing Yuan diperbolehkan pulang. Tubuhnya sudah sehat.
"Aku pulang!" Jing Yuan membuka pintu dan memasuki rumah. Rumah terlihat bersih, rapi, dan sangat sunyi.
Jing Yuan menuju kamar Yanqing. Dia mengetuk pintu Yanqing dengan pelan.
"Yanqing..."
Tidak ada jawaban yang terdengar dari dalam kamar. Jing Yuan akhirnya membuka pintu. Terlihat buntalan selimut di tengah kasur. Jing Yuan berpikir, mungkin Yanqing sedang tidur. Ketika Jing Yuan hendak menutup pintu, terdengar suara dari dalam selimut.
"Uuuuuuuuuuu..."
"Yanqing?"
"Uuuuuuuuu... Uhuk uhuk, uuuuuuuu..."
Jing Yuan perlahan membuka selimut. Terlihat Yanqing yang sedang... Menangis. Jing Yuan terkejut dan segera memberi sapu tangan, mengusap mata Yanqing.
"Yanqing mengapa menangis..."
"Uuuuuuuu... Jendral jahat! Yanqing pikir Jendral akan mati! Yanqing juga tidak bisa membantu Jendral, Yanqing pusing!"
"Ahh maaf ya Yanqing-"
"Yanqing merasa tidak berguna! Yanqing letnan Jendral, tapi tidak bisa melindungi Jendral! Uuuuuuuu..."
"Tidak, Yanqing sudah membantu saya."
"Membantu apa? Saya bahkan tidak dapat melindungi Jendral!"
"Yanqing tetap hidup sampai saat ini."
"...Bagaimana hal itu bisa membantu Jendral?"
"Keselamatan Yanqing adalah nomor satu."
"Memangnya keselamatan Jendral tidak penting!? Yanqing akan sangat sedih jika Jendral mati! Uuuuuuuuu..."
"Ah Yanqing, maafkan saya, apakah Yanqing mau pedang baru..."
Jing Yuan yang tidak dapat menghibur Yanqing mencoba menawarkan pedang baru. Yanqing langsung berhenti menangis dan menatap Jing Yuan dengan mata berbinar dan hidung ingusan. Jing Yuan menghela napas lega.
"Kamu ini, soal pedang langsung berubah..."
"Jendral apakah akan membelikan Yanqing pedang baru!?"
"Iya, ayo-"
Yanqing langsung bangun dan melesat ke toko pedang. Jing Yuan menghela napas dan mengikuti Yanqing. Jing Yuan baru pertama kali melihat Yanqing menangis. Lain kali, dia harus memperbaiki komunikasi mereka. Dia juga harus lebih memperhatikan keselamatan diri sendiri. Tetapi, melawan Phantylia memang melelahkan. Jika terjadi hal seperti ini lagi, Yanqing akan menangis lagi.
Mungkin, Kalau ditawarkan pedang baru, Yanqing tidak akan menangis...?
-fin
