Work Text:
Earth mencintai Kao. Earth sangat mencintainya, namun Earth juga sangat menyayangi kembarannya, In. Demi keduanya, Earth akan melakukan segalanya. Karena yang seharusnya pergi bukan In, namun Earth.
====================================
Suara lonceng kecil yang tergantung di pintu masuk kafe terdengar lembut, disusul ucapan ‘Selamat datang’ oleh para pegawai dan derap langkah kaki yang semakin mendekat. Kursi di depanku ditarik kemudian seorang pemuda dengan topi baret berwarna cokelat muda duduk di sana. Aku mendongak, mengalihkan perhatianku dari buku yang kubaca dan menatap pemuda yang tengah mengatur napasnya tersebut.
“Macet?” Tanyaku. Pemuda yang usianya lebih tua beberapa bulan di hadapanku ini langsung meraih gelas es cokelat milikku lalu meminumnya.
“Iya. Apa karena mendung jadi orang-orang bersiap pulang?” Wajahnya tampak kesal. Diletakkannya kembali gelas es di atas meja. Aku meraihnya lalu meminumnya sampai habis. “Earth.”
“Hm?” Aku memandangnya dari balik gelas. Pemuda di hadapanku itu terus menatapku hingga akhirnya aku meletakkan gelas di atas meja. “Kenapa, Fluke?”
“Kamu yakin akan terus begini?” Fluke menatapku dengan khawatir. Aku tersenyum pahit sembari jemariku mencengkeram tali tas dengan erat.
Kami berdua keluar dari kafe lima belas menit kemudian. Sepanjang jalan, aku terus bercerita tentang buku yang kubaca. Fluke hanya mengangguk-angguk seolah mengerti, meski kutahu ia sedang berpikir keras mencerna kata-kataku. Aku tersenyum, setidaknya ia tidak memaksa untuk membahas persoalan tadi.
Pintu apartemen kubuka perlahan, mencoba mendengarkan suara dari dalam. Ketika tak mendengar suara apapun, aku menoleh pada Fluke yang kini menatapku. Ia mengangguk, bahkan sebelum aku bicara apapun. Sepertinya empat bulan melakukan hal yang sama membuatnya tak perlu lagi kuperingatkan. Kupejamkan kedua mataku sejenak sebelum melangkah masuk ke dalam apartemen bernuansa krem tersebut.
“Phi, aku pulang. Fluke juga ikut datang.” Ucapku dengan suara riang. Tanpa harus kulihat, aku tahu bahwa Fluke sedang menatapku khawatir.
“Oh, kau sudah pulang? Hai, Fluke! Fluke saja? Tidak ada Ohm?” Terdengar sahutan dari dalam kamar. Senyumku mengembang. Suara itu benar-benar membuatku merasa tenang.
Kakiku melangkah ke kamar yang berada di samping ruang tengah, diikuti oleh Fluke di belakangku. Kepalaku melongok ke dalam, mengintip seorang pria dengan rambut hitam yang mulai panjang tengah duduk di depan meja belajar. Sebotol air dingin berada tak jauh dari tangannya yang sedang terdiam di atas sebuah buku. Hatiku menghangat melihatnya baik-baik saja. Kubuka pintu kamar sedikit lebih lebar kemudian berjalan menghampirinya.
“P’Kao, sedang baca apa?” Aku melingkarkan kedua tanganku di sekeliling lehernya sementara pandanganku tertuju pada buku yang tengah terbuka di atas meja. Tak ada satupun yang bisa kumengerti dari buku itu.
“Buku yang kemarin kau belikan. Sekarang phi sudah bisa membaca dengan lebih cepat. Khoop khun na.” Senyum Phi Kao mengembang sembari mengelus tanganku. Aku memeluknya lebih erat sebelum melepasnya dan duduk di atas tempat tidur, memandangnya yang tengah menoleh ke arah sumber suara tapi tak bisa menemukan posisiku yang sebenarnya.
“Ah, phi lapar? Kumasakkan sesuatu ya. Tunggu sebentar.” Aku beranjak dari tempat tidur lalu melangkah keluar kamar. Tepat saat aku berada di pintu kamar, Phi Kao menyebut nama yang membuat duniaku kembali runtuh.
“Khoop cai na, In.”
Tubuhku mematung. Jantungku seolah berhenti karena aku tak lagi dapat mendengar detaknya. Pandanganku mengabur seiring munculnya ingatan yang tak ingin lagi kuingat. Kekuatan kakiku melemah, bahkan aku tak dapat mendengar panggilan Fluke. Sesaat setelah Fluke memegang kedua lenganku, aku jatuh terduduk di lantai apartemen.
Harum parfum vanila menguar di ruang tengah. Aku menoleh memandang In yang tengah memakai sepatu kesukaannya. Kupandanginya dari atas hingga bawah. Sepertinya ia akan pergi berkencan.
“Mau kemana?” Tanyaku. In menoleh dan melempar senyum padaku.
“Kencan dong. Aku pergi dulu ya. Bye, twin!” Saudara kembarku berlari menghampiri pria yang telah menunggunya di depan rumah. Mataku bergerak mengikuti mereka, lebih tepatnya mengikuti gerak pria yang kini tengah mengacak rambut In.
Phi Kao.
Aku dan In adalah saudara kembar. Kami berdua sangat mirip, bahkan orang masih sering kali salah membedakan kami berdua. Meski begitu, In adalah anak yang lebih ceria dibandingkan diriku. Lebih cerewet, bisa dibilang. Mungkin karena alasan itu pula Phi Kao jatuh hati pada In, dan bukan pada diriku.
Phi Kao adalah seniorku dan In. Aku tidak tahu siapa di antara kami berdua yang lebih dulu mengenal Phi Kao, tapi yang kutahu pasti adalah aku lebih dulu menyukai Phi Kao. Bisa dibilang, aku menyukai Phi Kao pada pandangan pertama. Salah satu hal yang membuatku menyukainya adalah ia dapat membedakan kami berdua pada pertemuan ketiga. Aku menyukainya dalam diam. Phi Kao memang tipikal orang pendiam, ia lebih sering terlihat sendirian dan membaca bukunya. Aku sangat menyukai senyumnya, meski sangat jarang ia tunjukkan. Kupikir semuanya akan berjalan lancar, tapi aku tidak menyangka bahwa pada akhirnya Phi Kao justru menyukai In, saudara kembarku sendiri.
Hingga hari ini, terhitung dua tahun sudah Phi Kao dan In berkencan. Sudah berulang kali aku menasehati diriku sendiri untuk segera melupakan Phi Kao dan berpindah hati, namun aku tak pernah bisa. Cinta yang kurasakan terhadap Phi Kao terlampau besar, tapi aku tak mungkin dapat merebutnya dari In. Rasa sayangku pada In juga terlampau besar, bagaimanapun juga ia adalah saudara kembarku. Aku hanya bisa tersenyum saat In menceritakan hal-hal manis yang ia lakukan dengan Phi Kao, saat In memintaku untuk membantunya memberi kejutan di hari ulang tahun Phi Kao, saat Phi Kao menghubungiku untuk meminta saran mengenai hubungannya dengan In, dan saat aku hanya bisa melihat kebahagiaan In dan Phi Kao. Tentu aku sadar bahwa aku tidak mungkin menggantikan posisi In di hatinya. Ia hanya mencintai In dan aku tahu itu. Namun jauh di lubuk hatiku, aku berharap Phi Kao menyadari perasaanku. Jauh di lubuk hatiku, kuharap aku bisa menjadi cahaya baginya di gelapnya malam. Jauh di lubuk hatiku, aku ingin menggantikan posisi In.
Tapi aku tidak menyangka bahwa Tuhan akan mendengar kata hatiku dan mengabulkannya sedemikian cepat.
Malam itu ponselku berdering. Seluruh tubuhku terasa luluh lantak saat aku mendengar kabar dari rumah sakit bahwa saudara kembarku mengalami kecelakaan mobil. Tanpa memedulikan apapun lagi, aku berlari menuju rumah sakit. Aku tahu ada yang tidak beres saat tiba-tiba tanganku terasa sakit dan gelas yang kupegang jatuh hingga pecah, tapi aku tidak benar-benar memikirkannya karena aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada In. Kakiku terus berlari menuju ruang gawat darurat meski beberapa suster sudah memberi peringatan untuk tidak berlari di koridor. Aku berhenti berlari setibanya di pintu ruang gawat darurat. Melalui kaca, aku bisa melihat In terbaring di atas tempat tidur. Darah merah menutupi kulitnya yang putih. Di sampingnya, kulihat Phi Kao juga terbaring. Keduanya tak sadarkan diri.
Bila memang Tuhan mengabulkan doaku untuk menggantikan posisi In, maka aku ingin menggunakannya sekarang. In adalah orang yang paling kusayang, hartaku yang paling berharga. Dia adalah orang yang selalu ada saat aku membutuhkannya. Tidak ada orang lain yang memiliki hati seputih In. Meski kembar, tapi dia selalu mendahulukan kebahagiaanku. Hanya ada satu waktu dimana In jauh lebih mementingkan kebahagiaannya sendiri, yaitu saat ia mendekati Phi Kao. Tapi aku tidak bisa menyalahkannya karena ia tidak pernah tahu aku menyukai Phi Kao.
Berjam-jam kuhabiskan untuk menunggu. Otakku bahkan sudah tidak bisa mencerna perkataan suster yang mengajakku bicara. Selama tiga hari aku berada di lorong rumah sakit, menunggu kabar baik dari dokter. Namun pada hari keempat aku berada di rumah sakit, aku tahu doaku sama sekali tak didengar oleh Tuhan saat aku merasakan sakit teramat sangat di jantungku.
In meninggal dunia.
Teriakan pilu itu terdengar di lorong rumah sakit saat aku menjerit histeris. Kedua lenganku ditahan oleh suster saat aku berusaha untuk kembali membuka kain putih yang kini menutupi sekujur tubuh In. Aku tidak ingin menerimanya. Aku yakin bahwa In masih hidup, bahwa saudara kembarku tidak pergi meninggalkanku sendirian, bahwa separuh cahaya hidupku tidak mati dan menjadi gelap. Entah berapa lama aku menangis, aku sudah tak bisa mengidentifikasi apapun. Jantungku terasa sangat sakit. Aku meremas dadaku, tepat dimana jantungku berada, dengan sangat kuat.
Bila Tuhan memang ada dan mendengarkan setiap hambanya, aku ingin Tuhan juga membawaku. Perasaan bersalah yang teramat besar menyelimutiku. Seharusnya hari itu aku bisa mencegah In untuk pergi. Seharusnya hari itu aku bisa menyelamatkan In. Seharusnya saat itu aku bisa membuatnya tinggal dan tidak membiarkannya pergi menjemput ajalnya sendiri.
Selepas pemakaman In, aku kembali datang ke rumah sakit. Dari pintu kamar, kupandangi pria yang dulunya tertawa mendengar lelucon receh In kini terbaring lemah. Ada banyak sekali kalimat yang berkecamuk di pikiranku. Jika hari itu Phi Kao tidak mengajak In kencan, apakah In akan tetap hidup? Jika Phi Kao tidak memilih In, apakah In akan tetap hidup? Dan jika Phi Kao tidak pernah bertemu dengan In… Apakah semuanya akan baik-baik saja? Siapa yang harus kusalahkan? Phi Kao? Atau diriku sendiri? Namun rupanya hatiku sungguh kurang ajar karena aku tetap melangkah menuju tempat tidur Phi Kao dan duduk di sampingnya. Hatiku terasa sakit melihatnya terbaring lemah seperti ini, tapi hatiku juga terasa sangat sakit karena teringat In meninggal dikarenakan mobil yang dikendarai Phi Kao terlibat dalam kecelakaan tunggal.
Tanganku kuulurkan. Seiring tanganku bergetar semakin hebat, bulir-bulir air mata pun mulai jatuh tak terkendali. Saat tanganku menyentuh telapak tangannya yang tergeletak di atas selimut, aku mulai terisak dengan kencang.
“Phi… In sudah pergi… Earth sekarang sendirian, phi…”
Phi Kao terbaring koma selama hampir lima bulan. Selama itu pulalah aku berada di sisinya. Kuceritakan keseharianku padanya, kutunjukkan foto kucing yang kutemui, dan kunyanyikan lagu-lagu kesukaannya. Saat itu aku masih terlelap dengan kepalaku bersandar di tempat tidur di samping tangannya saat kurasakan usapan lembut di kepalaku. Sedikit linglung, aku terbangun. Aku sangat terkejut mendapati jemari Phi Kao yang bergerak dan segera memanggil suster. Setelah hampir lima bulan lamanya, akhirnya Phi Kao tersadar dari koma. Kebahagiaanku membuncah, melihat orang yang kucintai akhirnya sadar. Namun kebahagiaan itu lenyap seketika ketika Phi Kao mengucapkan kata pertamanya.
“In…”
Duniaku runtuh seketika. Tubuhku seakan tersengat, tak lagi kuat untuk berdiri. Aku merasa sama sekali tidak berguna. Aku tidak bisa melihat dua orang yang kucintai tersakiti. Salah satu dari mereka sudah pergi, tapi yang lain tentu tidak akan bisa menerima fakta bahwa orang yang dikasihinya meninggal karena dirinya. Otakku sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Aku kacau. Di tengah kekalutan itu, tiba-tiba aku teringat sesuatu.
Aku pernah meminta Tuhan supaya aku dapat menggantikan posisi In.
Saat itu juga aku tersadar. Tuhan benar-benar mengabulkan permohonanku. Aku bisa menghidupkan In kembali. Yang harus pergi adalah Earth, bukan In. In harus tetap hidup.
Kupandangi Phi Kao yang menoleh ke kiri secara perlahan. Balutan perban di sekeliling matanya memaksanya untuk menggunakan pendengarannya dengan baik. Kugenggam kalung berinisial IE yang berada di dadaku dengan erat. Aku telah mengambil keputusan.
“Phi Kao.”
Mendengar sebuah suara, Phi Kao menolehkan kepalanya ke kanan, tepat ke arahku yang berada di sisinya. Tangannya yang masih terhubung dengan infus terulur. Kusambut uluran tangannya dan kutautkan jemari kami berdua. Aku tersenyum.
“In di sini.”
Napasku memburu. Fluke mendekapku dengan erat sembari mengelus punggungku. Pintu kamar Phi Kao sudah ditutup oleh Fluke sehingga Phi Kao tak dapat mendengar keributan yang terjadi. Bulir air mataku terus mengalir dengan deras. Rasanya sangat sakit saat aku harus hidup sebagai In. Tapi Earth harus pergi, sementara In harus tinggal.
“Ssh…. Tidak apa, Earth. Tidak apa. Tenangkan dirimu. Ini semua bukan salahmu, Earth. Percayalah. Ini semua bukan salahmu.” Fluke berucap lirih. Bibirnya gemetar sejak ia ikut menangis.
“Harusnya aku bisa mencegahnya, Fluke. In tidak harus pergi. Kenapa harus dia yang pergi? Kenapa bukan aku? Kenapa aku harus berdoa seperti itu? Kenapa aku sangat bodoh, Fluke? Sakit, Fluke. Sakit.” Aku merintih dan menenggelamkan wajahku di pundak Fluke. Jemariku mencengkeram baju Fluke dengan sangat erat.
“Bukan, ini bukan salahmu. Kau tidak bersalah. Jangan seperti ini na, Earth? Kau tidak harus hidup sebagai In. Biarkan In istirahat, na? Tolong jangan seperti ini.” Fluke menangis semakin kencang dan tangannya semakin gemetar. Aku menggeleng dengan kuat, tidak setuju dengan kalimatnya.
“Tidak. In harus hidup. Earth yang harus pergi. Kalau In hidup, maka semua orang akan senang. Kalau In hidup, Phi Kao akan merasa bahagia. Aku sudah merenggut kebahagiaan mereka berdua, Fluke. Aku jahat. Phi Kao mencintai In, bukan mencintai Earth. Hanya ini yang bisa kulakukan supaya ia bisa terus bahagia.” Aku melepaskan pelukan Fluke yang masih terus menangis. Ia menatapku dengan tidak percaya kemudian menggelengkan kepalanya. Senyumku mengembang. Sebuah senyuman pahit yang akan selalu kuukir hingga entah kapan.
“In harus hidup, Fluke. Ingat itu. Earth yang sudah pergi. Ingat na. Aku In, bukan Earth.”
Sesaat setelah aku mengucap, pintu kamar Phi Kao terbuka. Ia berjalan hati-hati dan berhenti saat ia merasa menabrak sesuatu. Diulurkannya tangan kanannya ke objek yang berada di depannya. Jemarinya menyentuh helai rambutku, kemudian ia tersenyum.
“In, kenapa duduk di bawah?”
Phi Kao tersenyum. Hanya itu yang kubutuhkan untuk membuatku bangkit dan balas tersenyum. Aku mendekat lalu melingkarkan tanganku di tubuhnya. Kutenggelamkan kepalaku ke pundaknya yang lebar. Aku tersenyum saat Phi Kao membalas pelukanku.
“In sayang Phi Kao na.” Ucapku lirih. Kurasakan jemari Phi Kao mengusap kepalaku dengan lembut. Aku merasa sangat nyaman dan tidak akan pernah menukar kenyamanan ini dengan apapun. Aku akan terus mempertahankannya meskipun hal itu membunuhku.
“Phi juga sayang In na.”
Tuhan, apakah benar Engkau mengabulkan doaku? Ataukah ini adalah bentuk keegoisanku? Atau justru ini adalah hukuman bagiku?
