Work Text:
Jam kosong di siang yang membosankan dapati Fourth sesap tembakau pada rokoknya yang berada di antara kedua belah bibirnya. Mungkin karena ini batang pertamanya setelah sekian lama tak konsumsi benda candu tersebut hingga buat dirinya terbatuk beberapa kali. Perlahan ia kembali hisap rokoknya; menikmati zat nikotin itu masuk ke dalam aliran darah. Sayu matanya tatap kepulan asap putih yang tercipta dari hembusan napasnya melalui mulut juga lubang hidungnya yang kemudian mengudara bebas di ruang terbuka pada atap sekolahnyaㅡtempat dirinya berpijak sekarang.
Sandaran nyamannya pada tumpukan meja dan kursi yang dibiarkan terbengkalai tak bertahan lama sampai ia menangkap sebuah suara datang dari arah pintu yang terbuka tiba-tiba dan sosok tinggi hampiri dirinya setengah berlari buat Fourth terperanjat, alhasil tangannya tersundut bara rokok. Ada merah yang nampak jelas tercetak di sana.
“Udah gue duga lo pasti di sini,”
Fourth menyalang kaget melihat sosok tinggi yang bernama Gemini Norawit itu memergoki dirinya di sini. “Gue butuh tandatangan lo di survei ini.” tuturnya sambil tersenyum.
“Lo kenapa bisa tau gue ada di sini?!”
“Gue tau kan karena gue ketua kelas.” jelasnya. Fourth mengangguk mengerti akan pernyataan ketua kelasnya itu. Kemudian ia jatuhkan rokoknya ke tanah dan menginjaknya hingga mati tak tersisa.
“Siniin kertasnya,” alih-alih memberikan kertas yang diminta, Gemini meraih tangan Fourth yang nampak kemerahan akibat tersundut rokok tadi. “Lo gapapa?”
Tersentak. Fourth refleks mundur satu langkah. Semburat merah turut hadir pada pipinya yang tak ia sadari sebab Gemini mengelus jemarinya kelewat pelan, pun tiupan halus pada luka kecilnya buat Fourth merinding geli.
“Ntar gue olesin salep ya,” ujar Gemini nyaris berbisik yang semakin membuat Fourth terheran.
“Tapi rokok tuh…” perhatian si ketua kelas yang beberapa saat betah pada jemari Fourth kemudian beralih menatap lurus tepat pada matanya. “Gimana rasanya?”
“Hah?”
Halah, goblok.
Ia tarik tangannya cepat kemudian raih kotak rokok dari dalam sakunya dan sodorkan pada Gemini.
“Kalo penasaran, buka aja nih sㅡ”
Fourth sungguhan tak mengerti bagaimana bibir yang tadinya rasakan tekstur kasar dari kertas rokoknya kini rasakan bibir ketua kelasnya.
GOBLOOOOOOOOK.
Tengkuknya ditahan oleh Gemini dan tangan Fourth yang memegang kotak rokok tergantung canggung sebelum akhirnya Gemini genggam utuh. Fourth yang memejamkan matanya erat buat Gemini menyunggingkan senyum miring yang kemudian ikuti lawannya ‘tuk pejamkan mata dan buka sedikit mulutnya agar bibir bawah Fourth dapat menempel tepat di atas miliknya. Tiga detik setelahnya, pagutan bibirnya tak hanya menempel namun gerak pada ciumannya yang masih nampak berantakan itu tunjukkan bahwa keduanya cukup amatir.
Tumpukan kertas yang dibawa Gemini tadi pada akhirnya dibiarkan tergeletak di bawah kaki mereka.
“Arrrgh. Masa sih gue tinggalin.” gerutu Fourth. Sejak gurunya melangkah keluar dari kelas ia sudah mengobrak-abrik isi tasnya guna mencari kotak rokok yang beberapa hari belakangan ini selalu ia bawa.
Setelah lima menit berkutat mencari satu pun batang yang hasilnya nihil itu buat dirinya menghela napas frustasi. Fourth menyerah. Punggungnya bersandar kesal pada kursi dan dongakkan kepala dengan mata yang terpejam, berusaha meredam kesal pada dirinya sendiri karena tak dapati apa yang diinginkannya.
“Makan ini aja,”
Fourth membuka mata dan melihat sebuah permen tangkai muncul di atasnya. “Rokok rasanya pahit.” lanjutnya.
Ketika menoleh, ada Gemini yang menatapnya tak terkesan pada apa yang sedari tadi Fourth permasalahkan.
“Lo bahkan gak tau rasanya gimana!!” sungutnya.
“Tau kok,” sanggah Gemini, kemudian tatapnya jatuh pada kedua belah bibir Fourth yang terbuka. “Waktu itu rasanya pahit.”
Seketika bayangan keduanya saat itu terlintas dalam otaknya. Tangannya terkepal kuat di atas meja dan mendadak rasakan panas menjalar pada wajahnya. Sial, ia malu sekali.
Maka, dirinya beranjak dari kursinya dan rebut permen yang berada pada tangan Gemini kemudian mengayunkan tungkai kakinya pergi dari hadapannya. Langkahnya terburu sebab tak ingin berlama-lama satu ruangan dengan si ketua kelas, juga tak ingin pertontonkan wajahnya yang tersipu.
Gemini melangkahkan kakinya lebar-lebar, mengekori Fourth. “Pulang bareng dong,” ujarnya sedikit berteriak.
“Kita beda arah!”
Fourth benar-benar tinggalkan Gemini di belakang dengan hentakan kakinya yang mengisi kekosongan koridor kelas. Walakin, tak dapat sesap rokoknya seperti biasa, permen yang didapatnya dari Gemini juga tidak begitu buruk untuk jadi temannya di perjalanan pulang kali ini.
