Actions

Work Header

Enam Hari

Summary:

Catatan bonding ayah-anak tak sedarah :
Fushiguro Megumi sakit karena rindu Ayah Gojo Satoru

Work Text:

Mari kita bicarakan seorang Gojo Satoru.

Sosok pria dewasa tampan rupawan juga kaya raya. Idaman bagi banyak wanita yang rela dijadikan sekadar simpanan olehnya.

Seorang pebisnis muda yang berbakat dalam mengembangkan bisnisnya hingga menjadi mitra banyak perusahaan. Bahkan mungkin kesibukkannya sudah mengalahkan jadwal perjamuan kenegaraan seorang presiden sebab terlalu sibuk.

Ditengah melejitnya karir yang luar biasa, Gojo Satoru tetaplah seorang pria biasa yang sepertinya juga butuh kehidupan normal layaknya manusia biasa.

Gojo Satoru si pebisnis muda ini masih melajang dalam status terakhirnya di majalah bisnis bulanan bulan lalu kini mendadak ramai dibicarakan karena pernyataannya yang mengejutkan bahwa ternyata dia sudah memiliki anak.

Bukan anak kandung memang, namun sudah ia rawat sedari bayi tentu menjadi bentuk bonding lainnya dari sekadar darah yang mengalir dalam daging.

Yang lebih mengejutkan lagi adalah kenyataan bahwa anaknya menjadi alasan terbesarnya dia masih betah melajang hingga saat ini.

“Aku cukup hidup berdua dengan Megumi. Tidak perlu orang lain.”

Sebuah pernyataan yang tentu mengundang patah hati banyak manusia diluaran sana.

Juga sebuah pembatas bagi orang-orang yang ingin mencampuri hidupnya. Bahwa dia sudah punya peran sebagai orang tua dari seorang anak bernama Fushiguro Megumi.

Marga yang berbeda tak menjadikan perlakuan Gojo semena-mena terhadap Megumi. Anak mendiang sahabatnya yang akhirnya dia asuh secara kasih juga sayang.

Mungkin terlihat seperti Gojo yang benar-benar posesif terhadap Megumi dalam hidupnya. Namun nyatanya Megumilah yang tak bisa jauh dari kehadiran Gojo.

Bahwa ternyata anak umur lima tahun itu langsung jatuh sakit begitu ditinggalkan ayahnya pergi mengurusi keperluan bisnis.

Enam hari sudah kepergian Gojo meninggalkan Megumi dan akhirnya berujung kondisinya semakin parah. Demam juga radang yang kini mengharuskannya tidur dalam pengawasan dokter anak.

Puncaknya saat ini, Fushiguro Megumi tengah menangis meraung-raung dalam pelukan perawat di kamar VIP rumah sakit.

Menangis meminta kehadiran Gojo Satoru sang Ayah angkat untuk berada disisinya sesegera mungkin.

Efek demam juga kerewelan anak kecil yang haus perhatian membuat siapapun diruang tersebut iba juga kasihan.

“A-ayah… Gumi mau ayah. Ayah-huaaaa.”

Para pelayan meringis sulit mendengar permintaan tuan mudanya. Sedangkan mereka sudah melakukan berbagai cara untuk menghubungi Gojo yang terakhir memberikan kabar sudah dipesawat untuk pulang dari perjalanan bisnisnya.

“Sebentar lagi Ayah pulang, Tuan Megumi.” Bisik sang perawat yang sedari tadi berusaha menenangkannya.

Megumi perlahan mulai tenang namun masih tersedu-sedu. Mungkin juga pengaruh obat yang mulai bekerja dalam tubuhnya.

Selang lima belas menit dari kegaduhan dalam ruangan, Gojo datang dengan tergesa-gesa.

Tampak raut panik menghiasi wajah tampan pria surai putih. Didekati sang perawat yang sedari tadi memeluk Megumi untuk menggantikan posisinya.

“A-ayah.”

“Iya Gumi. Ayah disini.”

“Ayah pulang?”

“Iya, Ayah sudah pulang. Mana yang sakit?”

Pertanyaan Gojo dibalas tangisan keras Megumi. Membuat pria itu langsung menggendongnya dalam pelukkan hangat.

Elusan pelan dipunggungnya membuat Megumi sedikit relaks. Menikmati kenyamanan dalam dekapan sang Ayah.

“Gumi kangen Ayah ya?”

Sebuah pertanyaan yang membuat Megumi mengeratkan pelukannya sekencang-kencangnya. Tanda betul bahwa dirinya memang merindukan Ayahnya.

“Maafkan Ayah ya Nak. Nanti kalau Ayah kerja jauh lebih dari tiga hari, Gumi ikut Ayah ya.”

Megumi jelas tidak mengerti perkataan panjang Ayahnya. Tapi menurutnya itu sesuatu yang baik maka dia hanya anggukan kepala pelan setuju dengan perkataan Gojo.

“Ayah.”

“Ya?”

“Gumi sayang Ayah.”

Gojo tersenyum mendengar ucapan pelan anaknya.

Dikecupnya kening Megumi lalu membalas, “Ayah juga sayang Gumi.”

Megumi tersenyum lemah di wajah pucatnya kemudian berbisik pelan.

“Happy Birthday Ayah, peluk Gumi ya.”

Gojo terdiam sejenak sambil berkaca-kaca mencerna ucapan sang anak angkat.

Dirinya ternyata sangat sibuk sampai melupakan hari lahirnya sendiri. Mungkin anaknya sakit adalah tanda untuk beristirahat sejenak dari semua kesibukannya.

Dan sepertinya Gojo memilih untuk memeluk Megumi semalaman sambil merancang liburan mereka nanti.

Dia butuh waktu berdua dan intens dengan sang anak.