Actions

Work Header

What are we?

Summary:

Apa sebenarnya hubungan antara Mark dan Haechan?

Work Text:

" Sudah makan?"

 

Pertanyaan singkat dari pemuda tampan di hadapannya membuat Haechan mengangkat kepala dari buku tebal yang sedang dibacanya. 

 

Gelengan kepala ia berikan sembari melanjutkan membaca dan sesekali mengetik beberapa kalimat ke dalam laptop di sampingnya.

 

Tatapan mata pemuda itu berubah melihat respon Haechan. Alis camarnya menukik tajam. "Kenapa belum makan? Ini sudah jam dua siang." Ia menarik kursi dan mendudukkan bokongnya disana. Suara kursi yang ditarik cukup menarik perhatian di tengah sepinya perpustakaan. Tas ransel yang digunakannya ia letakkan di kursi sebelahnya. 

 

"Kau tahu sendiri bagaimana sibuknya aku sekarang Mark Lee! Aku bahkan rasanya sudah tidak punya kehidupan sosial yang baik karena semua tugas ini." Sahut Haechan ketus.

 

Pria itu terlihat menghela nafas pelan sebelum akhirnya membuka tas ranselnya dan mengeluarkan dua buah roti dan sekotak susu.

 

"Makan ini dulu sebagai pengganjal. Setelah kau selesaikan tugasmu, kita makan dengan benar."

 

Haechan kembali menatap pria itu dalam. Ia tersenyum miring mendengar jawaban Mark. "Aku rasa kau lupa kalau di perpustakaan ini ada larangan untuk makan dan minum. Kau mau aku dihukum karena menantang Nyonya Kim?"

 

"Kita ada di pojok perpustakaan. Aku rasa walaupun kita berbuat sesuatu, tidak akan ada seorangpun yang akan tahu."

 

Haechan menatap Mark sejenak sebelum meraih roti coklat di atas meja. Ya, benar juga kata pemuda itu. Perpustakaan ini terlalu luas untuk membuat Nyonya Kim sadar kalau mereka melakukan sedikit kenakalan di pojok ruangan. 

 

Haechan segera membuka roti dan mengunyahnya cepat. Sementara ia  mengunyah, matanya tidak berhenti menjelajahi buku yang tengah dibacanya.

 

"Tugasnya dikumpulkan kapan?"

 

"Besok."

 

Keheningan akhirnya menyelimuti keduanya. Haechan kembali sibuk dengan tugasnya sementara Mark sibuk dengan ponselnya.

 

"Kenapa belum pulang?" Kali ini Haechan yang bertanya. Masih dengan mata dan tangannya yang bergerak aktif.

 

"Malas. Lagipula di luar masih panas. Enak disini, dingin."

 

" Sudah makan?" Tanya Haechan lagi. 

 

Mark menggeleng pelan. "Kenapa?" 

 

"Malas," sahut pemuda itu. Tawa kecil terdengar dari bibir Haechan mendengar alasan Mark. 

 

Mark selalu begitu. Ia akan selalu menunggu Haechan untuk segala hal.

 

Keheningan kembali menyelimuti keduanya hingga tidak terasa hampir satu jam Mark menemani Haechan mengerjakan tugas.

 

"Selesai!" Seru Haechan pelan begitu ia rasa tugasnya sudah sempurna. Senyum lebar terpatri di bibirnya melihat hasil ketikannya dari layar laptop 

 

"Ayo makan," ajak Mark segera sambil ikut merapikan barang-barang Haechan.

 

"Makan dimana?" Tanya Haechan yang ikut merapikan buku yang akan ia kembalikan.

 

"Kita makan di luar saja. Ada restoran baru yang ingin aku coba." Haechan mengangguk mendengarnya. Kalau itu restoran pilihan Mark, Haechan rasa memang perlu dicoba.

 

Merasa meja dan kursi sudah rapi dan kembali ke asalnya, keduanya melangkah untuk mengembalikan buku dan segera menuju ke parkiran, tempat mobil Mark sudah terparkir dengan rapi. Sejujurnya, Haechan memang sudah kelaparan sejak kelas terakhirnya jam 11 tadi, tapi tugas yang masih menggantung membuat rasa laparnya ia lupakan sejenak.

 

"Mau makan apa?" Tanya Mark di tengah perjalanan mereka. Ia juga menyerahkan ponselnya pada Haechan untuk menunjukkan menu yang dijual di restoran itu.

 

Mata Haechan menjelajahi daftar menu dengan teliti. Ia sangat lapar sekarang dan menginginkan sesuatu dengan porsi besar untuk meredam suara perutnya yang sudah sangat memalukan.

 

" Kimchi Jjigae !" Mark tertawa kecil mendengar seruan Haechan. Sesuai dugaannya, Haechan yang kelaparan pasti akan selalu kembali ke Kimchi Jjigae

 

30 menit berkendara dan keduanya tiba di restoran yang mereka tuju. Restoran otentik yang menjual makanan khas Korea. 

 

Begitu masuk, seorang wanita paruh baya dan gadis muda segera mendatangi keduanya. “Mau pesan apa?” 

 

Kimchi Jjigae !” Seru Haechan dengan semangat, tanpa perlu membuka buku menu yang diberikan wanita itu. 

 

Wanita itu tertawa mendengar seruan Haechan yang begitu semangat.” Kau bersemangat sekali anak muda. 

 

"Kau sendiri mau pesan apa?" tanya si gadis muda pada Mark. 

 

Haechan bukannya tidak menyadari jika si gadis muda tersebut selalu menatap Mark sejak pertama keduanya masuk, tapi ia memilih mengabaikannya karena memang kejadian seperti ini sering terjadi.

 

Haechan sangat sadar bila sahabat kecilnya itu masuk golongan pria tampan dan menarik. Tidak sekali dua kali ia mendapati sahabatnya itu mendapat pernyataan cinta.

 

Tapi mark selalu menolak mereka. ia selalu beralasan ingin fokus sekolah dan tidak memikirkan perkara percintaan terlebih dahulu. Entahlah, Haechan tidak pernah ambil pusing dengan apa alasan pria itu.

 

Setelah mencatat pesanan keduanya, wanita paruh baya dan gadis muda itu kembali ke tempat mereka.

 

Keduanya kembali mengalihkan fokus  pada ponsel masing-masing. Haechan beberapa kali tertawa melihat video lucu di ponselnya.

 

"nonton apa?" tanya mark.

 

Belum ada jawaban. Haechan masih sibuk mengganti video yang ia tonton. "Apa yang sedang kau tonton lee haechan?" Mark kembali mengulangi pertanyaannya tapi dengan suara yang lebih keras.

 

Haechan mengangkat kepala dan memandang Mark dengan senyuman yang masih belum hilang dari wajahnya. "Ha? Apa?"

 

Mark menghela nafas pelan. "Nonton video apa?"

 

"Oh ini. Ada video kucing dan kelinci sedang jalan beriringan. Lalu ada seseorang yang menambahkan seolah-olah keduanya sedang berbincang. Lucu sekali," ujar Haechan sembari kembali menatap ponselnya.

 

"Oh," sahut Mark singkat.

 

Haechan kembali fokus dengan ponselnya sementara fokus Mark sekarang justru menatap Haechan.

 

Sudah berapa lama ia berteman dengan Haechan? Ia merasa telah mengenal Haechan lebih dari separuh hidupnya.

 

Masih segar diingatan Mark bagaimana Haechan kecil yang memegang sekantong snack berjalan bersama ibunya menuju rumah mereka; berkenalan sebagai tetangga baru.

 

Haechan yang ceria dan ramah langsung menawarkan Mark makanan yang ia bawa. Mark dengan ragu-ragu sambil sesekali melirik sang ibu, ia mengambil beberapa keping makanan ringan itu. 

 

Haechan, dengan senyum lebarnya, memekik riang melihat teman barunya menerima apa yang ia tawarkan. “Mama, dia mau!” Kedua wanita di samping mereka tertawa mendengar suara riang Haechan.

 

Mark merasa wajahnya terasa panas, tapi tidak dipungkiri, ia juga ikut tersenyum melihat tawa Haechan. seperti bunga matahari , pikirnya. 

 

Keduanya menjadi sahabat tanpa pernah mereka sadari. Semua orang hanya tahu, dimana ada Mark maka disitu pasti ada Haechan; begitu pula sebaliknya.



“Hei, kau melamun.” Suara haechan mengembalikan kesadaran Mark. Bahkan pesanan mereka sudah tersedia di depannya. Dua mangkok Kimchi Jjigae lengkap dengan nasi dan segelas air putih dingin. Haechan segera menyendok Kimchi Jjigae dan rasa puas langsung terpatri di wajahnya. “Enak sekali! Rasanya pedas dan gurihnya bercampur menjadi satu. Astaga, aku harus bungkus agar mama juga bisa merasakannya.”

 

Mark yang mendengar celotehannya ikut tersenyum dan ikut menyendokkan sesendok kuah kimchi. Haechan benar, ini enak sekali. Tapi ia masih lebih menyukai buatan ibu Haechan, rasanya lebih sesuai dengan lidah Mark.

 

“Oh iya, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Tapi aku harap kau tidak salah paham apapun. Aku hanya menyampaikan, bukan dengan maksud apapun.”

 

Dahi Mark berkerut mendengarnya. Hal penting apa yang ingin disampaikan sampai Haechan memberi alasan panjang?

 

Haechan masih belum berbicara. Tangannya hanya mengaduk-aduk kuah kimchi jjigae yang sudah tidak ada isi. “Tadi ada mahasiswi mencarimu. Dia melihatku di perpustakaan dan bertanya tentang dirimu. Katanya pernyataan cinta darinya belum kau jawab sejak minggu lalu.”

 

“Siapa namanya?” Mark meletakkan sendoknya ke atas meja dengan kasar. Haechan menghela nafas pelan, here we go again.

 

“Aku tidak ingat siapa namanya. Tapi, katanya dia memberimu sekotak coklat sebagai pernyataan cinta.”

 

“Banyak yang memberikan coklat. Aku tidak ingat yang mana orangnya.”

 

“Ah, baiklah. Besok aku akan coba cari tahu siapa namanya. Kasihan dia, sudah menitip pesan padaku, tapi aku lupa.”

 

“Tidak usah.” Haechan menatap Mark bingung. “Kenapa? Setidaknya berikan dia jawaban yang jelas.”

 

Mark menghembuskan nafas kasar. “Lain kali, kalau ada hal seperti ini lagi, abaikan saja. Bilang saja kau tidak ada urusan dan bilang dia harus katakan padaku langsung.” Haechan hanya mengangguk pelan mendengar jawaban Mark.





Haechan tengah duduk sendirian di kantin ketika sepupu sekaligus sahabatnya, Jaemin datang menyusul. “Kenapa melamun? Eh, mana pangeran kita?” 

 

“Siapa yang kau maksud?” Tanya Haechan pada Jaemin, temannya yang baru saja tiba.

 

“Mark Lee. Siapa lagi?”

 

“Tidak tahu. Sepertinya dia marah padaku.”

 

Jaemin segera duduk di kursi di hadapan Haechan. Ia ikut memesan semangkuk mie dan es kopi.

 

“Marah? Memangnya dia bisa marah denganmu?”

 

Haechan mengernyit mendengar pertanyaan Jaemin. “Apa maksudmu? Mark Lee tetap manusia normal. Dia punya rasa marah di dalam dirinya.”

 

Jaemin mengangguk mendengarnya. “Iya, aku tahu Mark Lee bisa marah. Tapi ini denganmu, sahabat kecilnya. Sepanjang 15 tahun kita bersama, aku bahkan tidak pernah melihatnya menaikkan nada suara denganmu. Jadi, seorang Mark Lee marah pada Lee Haechan adalah hal terakhir yang sepertinya akan terjadi.”

 

“Sudah kan?”

 

“Tapi ini perlu diabadikan!” Seru Jaemin yang membuat Haechan memutar mendengus malas.

 

“Tapi, pertanyaan sebenarnya adalah apa yang sudah kau lakukan sampai dia marah? Kau pasti melakukan sesuatu yang tidak dia sukai.”

 

Haechan memainkan sedotan es di hadapannya sembari mengingat bagaimana situasi keduanya di perjalanan pulang minggu lalu. Mark memang masih menjemputnya dan mengantar ke kampus sepanjang minggu, tapi tidak ada pembicaraan dari keduanya. Haechan tidak cukup berani untuk memulai percakapan.

 

“Minggu lalu waktu aku sedang mengerjakan tugas di perpustakaan, seorang gadis menghampiriku dan bertanya soal Mark. Intinya, dia ingin aku mengingatkan Mark soal pernyataan cinta gadis itu.”

 

Haechan menyeruput sedikit es jeruknya sebelum melanjutkan ceritanya. “Aku tentu mengingatkan Mark tentang hal itu. Tapi, aku memang lupa siapa nama gadis itu dan dari fakultas mana dia. Apakah mungkin itu yang membuat Mark menjadi marah?”

 

Jaemin mungkin rasanya ingin menyiram Haechan dengan kopi yang tengah ia minum jika saja tidak ingat pemuda di depannya ini ada sepupunya sendiri.

 

“Sebelum aku memaki dengan kalimat apapun yang akan aku sampaikan, apa jawaban Mark setelah hal itu kau sampaikan?”

 

“Mark justru bilang kalau aku harus mengabaikan gadis-gadis itu. Tapi, aku sudah diberi amanat untuk menyampaikan pesan mereka, tidak mungkin aku abaikan begitu saja?”

 

Jaemin memukul dahi Haechan pelan yang dibalas tatapan tidak suka dari Haechan. “Apa sih? Sakit.”

 

“Kau. Kau adalah  manusia terbodoh sepanjang sejarah keluarga kita. Aku bahkan masih tidak menyangka aku bisa punya sepupu sebodoh kau!” Pekik Jaemin sambil menunjuk-nunjuk wajah Haechan.

 

“Hei, aku bahkan selalu jadi juara ketika di sekolah. Bahkan aku masuk 10 besar ketika ujian masuk kampus ini. Bodoh sebelah mana?”

 

Jaemin menggeleng keras mendengarkan pembelaan Haechan. “Tidak, kita tidak sedang berbicara tentang kemampuan akademik. Kau bodoh karena tidak peka dengan perasaan orang lain.”

 

“Maksudnya? Aku sama sekali tidak paham kemana arah pembicaraan kita.”

 

“Kau tahu kenapa Mark marah padamu? Tidak, dia sebenarnya tidak marah padamu. Dia marah dengan gadis-gadis itu.”

 

“Kenapa? Mereka hanya menyatakan cinta, bagian mana yang membuat Mark marah?” Haechan semakin bingung dengan semua kalimat Jaemin. Dia sepertinya mulai menyesal curhat pada sepupunya ini.

 

“Mark marah karena gadis-gadis itu mengganggumu. Dia marah karena kau tahu jika dia mendapatkan pernyataan cinta lagi. Dia marah karena ranah pribadinya diusik oleh orang asing.” Jaemin mengatur nafas sejenak sebelum melanjutkan lagi kalimat ta. “Sampai disini kau paham? Dia tidak marah denganmu, dia marah dengan gadis itu.”

 

“Kenapa dia harus marah? Aku tidak merasa dirugikan sama sekali.” Entahlah, Haechan masih tidak paham dengan semua ini. Semakin dipikirkan, semakin semuanya terasa tidak masuk akal.

 

“Aku rasa Mark harus bekerja sangat keras agar kau sadar apa arti dia di hidupmu. Aku hanya ingin memberi sebuah pesan, Mark orang yang baik. Dia sudah ada untukmu selama ini, jangan sia-siakan dia. Jangan sampai kau menyesal dengan pilihanmu.”





Sepanjang kelas hingga sore hari, kepala Haechan dipenuhi oleh kalimat Jaemin di kantin. Dia tidak peka? Dia menyia-nyiakan Mark? Apa maksudnya? 

 

Haechan sudah akan memesan taksi online ketika seorang temannya memberitahu bila Mark menunggunya di depan kelas. Tanpa pikir panjang, Haechan segera berlari keluar dari kelasnya.

 

“Hai. Kau menunggu lama?”

 

Mark mendongak dan mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ketika mendengar suara Haechan menyapa telinganya.

 

“Baru saja. Mau langsung pulang?” Tidak ada nada marah dari suaranya. Bahkan wajah ramah Mark sudah kembali lagi. Dia sudah tidak marah?

 

“Iya. Aku besok kelas pagi, ingin tidur cepat malam ini.” Mark mengangguk mendengar pernyataan Haechan. Keduanya berjalan beriringan menuju ke arah mobil Mark yang sudah terparkir rapi di halaman fakultas Haechan.

 

Haechan masih tidak berani memulai pembicaraan di dalam mobil. Bahkan ia merasa sepertinya ia menahan nafas sejak tadi.

 

“Kenapa nggak putar lagu? Biasanya langsung putar lagu.”

 

Haechan menghembuskan nafas pelan sebelum merubah posisi duduknya. Kini separuh tubuhnya menghadap ke arah Mark.

 

“Kamu marah?”

 

“Soal?” Tanya Mark balik. Matanya masih fokus menatap jalanan di hadapan mereka.

 

“Soal yang aku bilang waktu itu.”

 

“Kenapa kamu berpikir kalau aku marah?” 

 

“Satu minggu kau abaikan aku.”

 

“Aku tetap antar jemput kamu. Aku tetap kirim pesan selamat tidur. Aku tetap sarapan di rumah kamu. Bagian mana yang mengabaikan?”

 

“Kamu tidak bicara,” ujar Haechan lirih.

 

Mobil yang mereka kendarai berhenti karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Mark merubah posisi duduknya menghadap Haechan. 

 

“Seorang Mark Lee tidak pernah mengabaikanku sebelumnya. Bahkan ketika aku berbicara hal yang tidak jelas, ketika aku memintanya menemaniku mencari es krim di siang bolong, ketika aku memintanya menemaniku sepanjang malam, ia tidak pernah mengabaikanku.”

 

Mark masih mendengar ocehan panjang Haechan. “Mark Lee selalu bertanya apa yang aku mau. Dia selalu bertanya sebelum memutuskan sesuatu. Tapi, pagi ini kamu datang lebih cepat dari biasanya. Kamu sarapan dengan menu yang diambilkan mama dan bukan yang sudah aku siapkan. Kamu marah.”

 

“Haechan …”

 

“Kamu marah. Kamu marah karena aku menyampaikan pesan gadis itu. Kamu marah karena gadis itu menghampiriku. Tapi apakah itu semua salahku? Aku tidak pernah meminta dia untuk datang. Aku juga tidak kenal siapa dia. Aku tidak suka Mark marah denganku.”

 

Lampu lalu lintas sudah berubah hijau. Mark kembali menjalankan mobilnya. Haechan masih berkutat dengan rasa kesal di dalam hatinya. Lihat, Mark tidak membalas satupun kalimat panjangnya. Dia hanya memanggil nama Haechan satu kali!

 

Haechan sepertinya terlalu lama melamun hingga ia menyadari mobil Mark telah memasuki wilayah kompleks perumahan mereka. Mereka sudah hampir tiba di rumah, tapi bahkan Mark belum bicara sepatah katapun?

 

“Terima kasih sudah mengantarku pulang. Aku rasa, mulai besok kita tidak usah pergi dan pulang bersama. Aku takut kalau pada akhirnya memang aku yang mengganggumu,” ujar Haechan sebelum keluar dari mobil. Ia tidak menyangka akan ada hari dimana persahabatannya dan Mark berada dalam situasi seperti ini. Tidak pernah terlintas sekalipun di pikirannya jika ia akan mengeluarkan kalimat seperti itu.

 

Mark hanya diam mendengar apapun yang Haechan katakan. Ia tidak mengatakan apapun atau melakukan sesuatu. Hanya diam.

 

Haechan membuka knop pintu, tapi tidak bisa. Pintunya terkunci. Ia masih mencoba lagi, masih tidak bisa. Ia menoleh pada Mark dengan pandangan yang kesal. Haechan akui, ia tidak pernah bisa menyembunyikan emosinya. Pasti wajahnya sekarang menampakkan jelas apapun emosi di dalam hatinya.

 

“Tidak mau mendengar penjelasanku?” Tanya Mark. Suaranya masih sangat lembut dan menenangkan; suara kesukaan Haechan.

 

“Buat apa? Sepanjang minggu ini bahkan sepanjang perjalanan tadi kau diam saja. Apalagi yang mau dikatakan?”

 

“Tapi aku tetap harus menjelaskan apa alasan aku diam.”

 

“Diam itu hak pribadimu. Aku hanya tetangga tidak penting yang mungkin tidak pernah berarti dalam hidupmu. Jelaskan saja pada gadis kemarin. Kasihan dia, menunggu jawaban darimu.” Mark tersenyum mendengar omelan Haechan.

 

Dia tersenyum? Setelah Haechan mengeluarkan seluruh isi hatinya, pemuda itu bahkan masih bisa tersenyum? Tidak tahukah dia mata Haechan sudah hampir kehabisan pertahanan? Ia merasa sebentar lagi air matanya akan mengalir seperti air terjun.

 

Perlahan tapi pasti, Mark menarik tubuh Haechan ke arahnya. Ia peluk pemuda kesayangannya itu. Haechan masih enggan membalas pelukannya, walau ia tidak bohong bila ia merindukan pelukan hangat itu. Sangat rindu.

 

“Sudah, jangan menangis. Maaf karena mengabaikanmu satu minggu ini. Maaf juga karena segala ocehanmu selama di jalan. Mama selalu mengingatkanku agar berhati-hati menjaga malaikatnya ini. Aku tidak mau berdebat sembari mengemudi, berbahaya untuk kita dan pengendara lain.”

 

Haechan diam mendengarnya. Ia bahkan tidak sadar bila air mata sudah mengalir melewati pipinya jika saja Mark tidak mengatakan itu.

 

“Aku minta maaf untuk segala perasaan kesal dan bingung yang kau alami sekarang. Aku tahu, aku terdengar seperti pecundang karena membuat kau berjibaku dengan pikiranmu. Tapi, Lee Haechan, sahabatku, kau akan dan selalu orang spesial di hidupku. Sepanjang minggu ini aku masih harus menguatkan hati dan niatku.”

 

“Untuk apa? Apa yang mau kau lakukan?” Sebuah perasaan tidak nyaman muncul di hati Haechan. Apa yang sedang direncanakan Mark? Hal sebesar apa yang akan ia lakukan hingga perlu menghindari Haechan sepanjang minggu?

 

“Aku sedang mempersiapkan hatiku untuk mengajakmu berkencan. Aku tidak ingin hanya jadi sahabat kecilmu, aku ingin kita lebih dari itu. Aku ingin jadi teman hidupmu, aku ingin kita jadi sahabat hingga rambut kita beruban nanti. Aku ingin selalu ada di semua hal penting dalam hidupmu.”

 

Haechan refleks mendorong tubuh Mark. Apa kata pemuda itu? Menjadi teman hidup? Apa dia sudah gila?

 

Mark tersenyum, sudah menduga dengan reaksi Haechan. Walau tidak bisa dipungkiri, jantungnya berdegup luar biasa kencang. Ia takut ditolak, kalau boleh jujur.

 

“Kau gila?” Pekik Haechan.

 

“Ya, aku gila karena kau. Aku gila karena tidak bisa membayangkan masa depan tanpa dirimu. Kau, dengan segala kepolosanmu, justru menyampaikan pesan gadis-gadis itu. Aku hampir gila karena mencoba menahan perasaan ini.”

 

Mark menelan ludah dan membasahi bibirnya yang entah kenapa terasa sangat kering sebelum melanjutkan kalimatnya. “Kalau seandainya kau tidak mau, aku sama sekali tidak memaksa. Tapi, setidaknya, abaikan gadis-gadis itu. Jangan pernah sampaikan pesan mereka dan biarkan aku tetap disampingmu sampai kau memutuskan untuk pergi dari aku. Tapi, jangan pernah usir aku. Jangan pernah paksa aku untuk pergi karena itu tidak akan pernah terjadi.”

 

Bibir Haechan terbuka mendengar perkataan penuh konfrontasi dari Mark. “Kau benar-benar sudah gila. Kau yang kemarin meninggalkanku, sekarang kau berani mengatakan hal seperti itu.”

 

Mark tersenyum lebar mendengarnya. “Ya, aku gila karena kau. Maaf untuk yang kemarin, anggap saja itu upaya untuk meyakinkan diriku sendiri tentang apa yang sedang aku rasakan.”

 

Haechan mendengus kesal. “Kalau begitu, kau tidak boleh memaksaku menjawabnya sekarang. Kau juga perlu menunggu setidaknya seminggu bila ingin mendapat jawaban. Anggap saja aku juga sedang meyakinkan diriku sendiri dengan apa yang aku rasakan,” balas Haechan. Senyum jahil terpatri di bibirnya.

 

Mark, dengan keberaniannya yang sudah di luar batas, mencuri sebuah kecupan dari bibir Haechan. Tentu saja membuat telapak tangan Haechan mendarat manis di bahunya.

 

“Kau!” Pekik Haechan, jari telunjuknya menunjuk Mark yang sedang tersenyum tengil.

 

“Aku akan menunggu. Bahkan jika itu artinya sepanjang sisa hidupku, akan aku tunggu.”

 

Haechan menghela nafas pelan. Sekarang, ia yang perlu menenangkan hatinya. Ia yang perlu meyakinkan rasa apa yang sedang ia rasakan sekarang. Perasaan aneh apa yang sedang mengganjal di dalam hatinya.









Epilog

 

“Jadi, kalian sudah jadian?” 

 

“Secara teknis, sudah. Secara harfiah, belum.”

 

Jaemin mengerutkan dahinya mendengar jawaban Haechan. “Maksudnya?”

 

Haechan menyeruput es jeruknya hingga tandas sebelum menjawab pertanyaan Jaemin. “Dia memang mengatakan ingin berkencan denganku, tapi aku tidak pernah menjawabnya. Kami hanya melakukan semuanya seperti biasa.”

 

“Kau menolaknya?”

 

Haechan menggeleng. “Tidak juga. Entahlah, aku merasa tidak penting dengan hal seperti itu. Selama aku sayang padanya begitu pula dengan dia, semuanya sudah cukup. Tidak perlu ada kalimat seperti itu.”

 

“Mark tidak pernah bertanya tentang jawabanmu?”

 

Haechan kembali menggeleng. “Tidak pernah. Setelah pertengkaran hebat waktu itu, semua hanya kembali seperti awal. Hanya aku merasa Mark menjadi lebih romantis dan perhatian dari sebelumnya. Ia juga jadi lebih terbuka dengan perasaannya.”

 

“Kau suka dengan itu?”

 

Haechan tersenyum kecil mendengarnya. “Suka, sangat suka.”

 

Jaemin tersenyum mendengarnya. “Senang mendengarnya. Setidaknya kalian sudah tahu tentang apa yang kalian rasakan. Sudah tidak ada lagi salah paham di antara kalian, itu yang terpenting.”

 

Keduanya masih asyik mengobrol ketika seseorang mengecup pipi kiri Haechan. Tidak perlu menoleh untuk tahu siapa orangnya.

 

“Pulang sekarang? Mama bilang akan memasak banyak, kita diminta untuk belanja dulu sebelum pulang.”

 

Haechan mendengus kesal mendengarnya. “Sebenarnya anak mama aku atau kau sih? Mama selalu lebih perhatian denganmu daripada aku,” omel Haechan sembari merapikan tasnya dan beranjak menuju parkiran bersama Mark. 

 

“Tentu saja mama lebih sayang aku. Kau anak yang nakal Haechan, aku selalu nurut dengan apapun kata mama.” Keduanya masih terus berdebat hingga tiba di parkiran mobil.



Matahari sore menjadi teman pulang mereka hari ini. Cahayanya yang indah dan hangat seolah menjadi penanda awalnya hubungan romansa dua anak adam. Hubungan manis nan ringan namun sarat makna.