Work Text:
Bisakah kita membunuh seorang dewa?
Satu pertanyaan, dan itu adalah garis start dari sebuah perjalanan mencari sebuah jawaban. Kemudian disusul oleh keharusan untuk tahu pada jawaban lanjutan.
Bagaimana cara kita membunuh seorang dewa?
Dua pertanyaan, dan itu adalah garis finish dari penemuan takdir yang memilukan. Tidak ada satu pun di antara mereka yang menginginkan, tapi pada akhirnya semua harus ikhlas diterima dengan berlandas pada cinta dan kepercayaan.
Cinta.
Haechan tertawa—miris. Pikirnya, ia sudah mati rasa. Atau paling tidak, itu lah yang ingin ia percaya.
Percaya.
Haechan hanya percaya pada satu hal; jiwanya sudah lama mati sebagaimana manusia fana seperti dirinya sudah ditakdirkan untuk mati juga nantinya.
Haechan adalah manusia, yang dirinya sekali pun tidak pernah meminta untuk terlahir dengan (yang katanya) anugerah sebagai titisan dari Sang Helios—dewa matahari.
Haechan tidak pernah meminta untuk tetap hidup, dengan harga mahal yang harus dibayar oleh seluruh jiwa berharga dari keluarganya.
“Bisakah aku membunuh seorang dewa?” Luruh air kedua pipinya adalah lelehan dari keputusasaan. Apa pun akan Haechan lakukan; berserah, berlutut, apa pun. Demi dapatkan semua jawaban. “Bagaimana caranya membunuh seorang dewa?”
“Kamu jauh-jauh datang kemari hanya untuk itu, Haechan?”
“Mark.” Nama itu dipanggil dengan penuh desperasi. Dan meski kali ini ia sampai harus mati—untuk terakhir kali, Haechan tidak peduli. “Aku mohon.”
“Aku mohon.” Seorang gadis remaja tengah bergelayut paksa di lengan guru yang paling ia percaya dengan sepenuh hatinya itu. “Jadi ayolah, Pak! Aku janji ini jadi terakhir kalinya aku ngerepotin Bapak. Please, ya? Please, please, pleaseee.”
“Enggak,” geleng si lelaki yang dipanggil Bapak itu, ada tertulis keterangan pada kartu identitas yang menggantung di lehernya: Lee Haechan–Guru Musik. Kemudian tangan si gadis yang melingkar di lengannya pun ia lepas dengan pelan. “Ini bukan soal kamu ngerepotin Bapak atau enggak, Bapak gak pernah keberatan buat direpotin kamu. Tapi ini kali ini kalau Bapak bantu kamu, itu sama aja dengan Bapak membohongi orang tua kamu. So, no. ”
“Tapi ‘kan—” si gadis ini memanglah begitu pantang menyerah, ini sudah hampir dua minggu dan ia masih belum berhenti untuk membujuk Haechan sampai sekarang. Ia kemudian berjalan mundur, seiringan langkah kaki Haechan. “—bohongnya juga demi kebaikan, Pak! Demi mimpi besar aku dan masa depanku!”
Haechan tetap tidak goyah. Ketika ia melirik si gadis, sorotnya terlihat kalau ia berminat sama sekali. “Tetap enggak.”
“Bapak!” bentak si gadis agak keras seraya ia hadang jalan Haechan dengan merentangkan kedua tangannya. “Tapi aku harus banget ikut audisinya!!!”
Haechan melipat tangannya di depan dada. “Kalau begitu, silahkan kamu bicara sama orang tua kamu dulu. Dapatkan izin dari mereka, lalu baru kamu boleh minta Bapak buat antar kamu ke sana.”
“Gak bisa….” Kepala tertunduk lemah seraya kedua tangan yang awalnya merentang itu kemudian bergerak turun dengan lesu. “Aku enggak mau jadi polisi….”
“Maksudnya?”
Si gadis kembali mendongak untuk memandang Haechan dengan penuh pengharapan. “Ayah mau aku punya karir di kepolisian juga, Pak. Aku—a-aku…,” suaranya semakin melemah, “...gak mau.” Tangannya kini terkepal kuat di kedua sisi tubuhnya. “So this is my only chance, Pak. My last as well.”
Haechan menghela nafas berat. “Mau Bapak bantu buat bicara sama orang tua kamu?”
“Aku mau Bapak bantu aku ngejalanin rencana awalku,” jawab si gadis tetap keukeuh. Ia sudah paling tahu bagaimana tabiat orang tuanya, maka tidak ada jalan lain lagi baginya selain ini. “Jadi audisinya…, aku bener-bener harus ikut. Gak perlu aku menang, bahkan kalau gak lolos pun gak apa-apa. Tapi aku mau coba—aku harus coba. Paling enggak, aku bisa ketemu sama Mark. That’s…, already more than enough for me….”
Ah, Mark. Salah satu rapper terkenal—musisi paling dihormati dan berada di puncak rantai makanan paling tinggi. Sosoknya begitu digandrungi oleh hampir semua kalangan di dalam negeri bahkan hingga mancanegara. Dia lah salah satu yang sangat menginspirasi salah satu siswi yang Haechan sayangi ini.
Mark Lee.
Bagi Haechan, itu adalah salah satu nama yang paling dihindari. Aneh memang, ketika tidak ada hari tanpa wajah Mark yang bisa dilihat dimana-mana, dan hampir setiap saat bisa didengar banyak orang membicarakan sosoknya, Haechan justru jadi segelintir orang yang paling tidak mau tertarik soal segala sesuatu tentang Mark.
Ada sesuatu dalam diri Mark yang setiap kali Haechan melihat wajahnya—menyelam dalam obsidian kelamnya, rasanya seperti ada yang janggal. Haechan tidak pernah merasa nyaman, ia justru cenderung jadi merasa begitu sangat sedih seolah ia merasa kehilangan. Tidak tahu juga kenapa, padahal sekali pun tidak pernah Haechan bertemu langsung dengan sosok itu.
“Terus gimana?” tanya Haechan penasaran. Ia mengabaikan segala ketidaknyamanan di hatinya begitu nama Mark disebut (secara tanpa sadar mungkin inilah salah satu alasan kenapa ia enggan membantu siswanya kali ini—Haechan menghindar). Kemudian ia kembali bicara untuk memperjelas pertanyaannya, “Kalau kamu udah coba dan gagal, gimana?”
“Aku…, ikhlas,” jawab si gadis itu akhirnya penuh rasa pasrah. “Semua mimpi ini bakal aku lepas, Pak. Aku akan ikut apa pun itu yang jadi kemauan Ayah, dengan tanpa menyisakan penyesalan apa-apa. Karena aku udah mencoba, aku udah berusaha untuk raih apa yang paling aku inginkan sebelumnya.”
“Oke,” ungkap Haechan yang sebenarnya ia juga tidak yakin dengan apa yang sedang dan akan ia lakukan selanjutnya. Ia maju satu langkah lalu tubuhnya jadi agak merunduk untuk memegang si siswi di kedua bahunya. “Kita bicarakan ini lagi nanti di meja Bapak, ya?”
Di kedua netra si gadis berbinar optimis. “Thank you, Pak.”
Haechan mengangguk. “Sekarang kamu kembali ke kelas, gih,” titannya halus. “Bapak masih harus mengiringi lagu buat pengantar tidur siang kelas kecil sekarang.”
Lantas si gadis pun mengedarkan pandangan, dan barulah ia sadar kalau ternyata dirinya sudah mengejar gurunya itu dari gedung SMA sampai berpindah di gedung SD sekarang. Pun secara kebetulan mereka berhenti tepat di depan kelas yang tujuan Haechan. “Ah. Maaf, Pak,” ucapnya sambil membungkuk malu penuh penyesalan.
Haechan mengangguk maklum. Lantas mengusak ringan puncak kepala siswinya itu sebelum kemudian berbalik dan membuka pintu kelas.
“Selamat siang anak-anak!!!!” sapa Haechan ceria begitu satu langkah ia memasuki ruang kelas berisi anak-anak di bawah usia sepuluh tahun itu. “Mau menyanyikan lagu apa siang ini???”
“PAK HAECHAAAAAAN!!!!”
“—Haechaaaaaan!!!”
Teriakan itu hanya menggema dalam mimpinya saja. Lalu dalam sepersekian detik, dunia terasa bagai dijungkir-balik.
“Mark!” Kemudian si empunya nama yang dipanggil itu langsung terperanjat. Matanya melotot kaget, kepalanya sedikit pusing, dan nafasnya terengah. Rasa khawatir pun mendorong munculnya sederet pertanyaan lain, “Kamu baik-baik aja ‘kan? Schedule- nya mending dibatalkan, oke? Kita pulang. Atau mau ke rumah satu aja?”
“I’m okay,” jawab Mark, begitu ia sepenuhnya beradaptasi dengan sekelilingnya; ia baru saja tertidur di mobil dalam perjalanan untuk melakukan live interview di salah satu stasiun TV nasional.. “I just—” lanjutnya lagi, sambil memijat pelipisnya pelan; kepalanya masih sedikit pening. “—i just had a nightmare.”
“Again,” koreksi dari sosok yang merupakan manager Mark. Lalu ketika Mark bereaksi dengan melempar pandangan bingungnya, maka ia mengulang kalimatnya sebagai sebuah penegasan. “You just had a nightmare. Again.”
“Ah—” angguk Mark kecil. “—it’s not a big deal though. No worries.”
“Mark, this it’s not your first time,” ungkap Manager yang kini justru semakin terlihat khawatir. “Ini udah terjadi dari lama, bahkan sejak bertahun-tahun lalu dari di awal aku kerja buat kamu.”
“And I'm still doing well.” Mark berusaha membela dirinya. “Semuanya masih mampu aku atasi kok.”
“But it’s getting worse,” balas si Manager dengan tegas. “Sadar gak? Udah hampir seminggu ke belakang ini, kamu gak bisa tidur barang sebentar aja tanpa ujungnya ngalamin mimpi buruk kayak barusan.”
Mark diam, ia membutuhkan waktu untuk paling tidak sedikit mengurai benang kusut yang berkecamuk dalam kepalanya. Dan berdebat dengan managernya adalah hal terakhir yang dibutuhkan sekarang, ia sedang tidak punya tenaga untuk itu. “Okay so…, Kakak maunya aku gimana?” tanyanya mengalah. “Kecuali pulang dan batalin schedule sekarang ya. That’s a little bit too much.”
“Kita konsultasi ke dokter.”
“No,” geleng Mark. “Nope. Aku gak butuh itu.”
“Kamu butuh,” sanggah si Manager dengan galak. “Selama ini aku selalu percaya setiap kamu bilang kamu gak apa-apa ya, dan gak pernah juga aku mau buat maksa kamu. Tapi ini—” ia kehabisan kata-kata, saking gemasnya dengan Mark yang selama ini selalu begitu keras kepala. “—ini sekarang udah gak bisa dibiarin, Mark.”
“Tapi—”
“—gak ada tapi-tapi!” potong si Manager galak. “Aku gak mau ambil resiko kamu nanti tiba-tiba drop karena kita lalai udah mengabaikan kondisi ini. Gak bisa kamu terus-terusan kayak gini karena mental dan badan kamu pasti punya batasnya ya, Mark. Jangan sok jagoan! Kamu itu bukan dewa!”
Mark meringis dalam hati. Pada kalimat terakhir yang ia dengar, agaknya itu terasa bagai sebuah ironi; Mark isn’t a god—he was.
“Ok. Whatever.” Mark sungguhan sedang tidak dalam mood berdebat. “Kakak atur-atur aja deh, aku tinggal ngikut.”
Lalu hanya tinggal suara radio lah yang menyelamatkan ruang seisi dalam mobil dari keheningan. Pak sopir yang sejak awal memang diam tentu hanya terfokus pada jalanan di depannya, sementara si Manager kini sepertinya tengah sibuk mengatur schedule demi merealisasikan konsultasi Mark dokter yang baru mereka sepakati barusan. Sementara Mark sendiri tidak berani untuk membiarkan kedua kelopak matanya tertutup karena takut ia akan kembali terlelap dan bermimpi, maka seluruh atensinya beralih pada pemandangan yang berada di balik kaca jendela mobilnya.
Mobil van itu melaju dengan tidak terlalu terburu, membelah jalanan ibu kota yang cukup padat. Lalu dilihatnya di antara bangunan yang saling berdempet begitu padat juga gedung-gedung tinggi pencakar langit itu ada banyak titik dimana Mark bisa dengan mudah ditemukan, dalam berbagai versi duplikat yang mungkin ada. Mark ada di mana pun pada hampir setiap media komunikasi visual di berbagai sudut tempat, sebab ia adalah public figure yang digandrungi oleh hampir semua orang.
Semua orang menyebut Mark sebagai cinta pertama mereka. The Nation First Love.
Sayangnya itu justru menambah poin dalam daftar betapa ironisnya hidup Mark sekarang ini; dirinya bagai ada dimana-mana, tapi seperti sosok yang paling ia cari justru tidak mampu menemukannya.
Mark dikenal sebagai cinta pertama bagi banyak orang di luar sana, sementara cinta pertama Mark justru tidak mengenalinya.
Kemudian ada satu helaan nafas lelah yang berhasil lolos. Pahitnya fakta yang tengah ia telan bulat-bulat sekarang ini agaknya buat Mark jadi memilih untuk memejamkan matanya karena ia merasa muak melihat wajahnya bisa dengan mudah ditemui dimana-mana, karena ya, what’s the point?
Tapi itu tidak berlangsung lama, Mark kembali membuka matanya begitu ia rasa dirinya sudah hampir kembali jatuh ke alam mimpinya. Tidak, tidak, jangan sampai ia tertidur dan buat managernya jadi ribut kembali. Namun berbeda dari yang sebelumnya, kini mobil van tersebut tengah melaju di jalan jembatan yang melintasi sungai besar sehingga sejauh yang mampu ditangkap oleh pandangannya di balik kaca jendela mobilnya sekarang adalah hamparan langit sore sedikitnya buat Mark bisa jadi lebih tenang dari sebelumnya. Matahari bersinar dan bagai menyorot dengan hangat sehingga langit yang jernih itu jadi berwarna oren keemasan.
Cekrek! Lantas keindahan itu Mark abadikan citranya lewat lensa kamera ponselnya, sekaligus ia berniat untuk memposting hasil jepretan tersebut di akun sosial media miliknya. Tapi sebelum foto itu dikirim, ibu jarinya sibuk mengetik sesuatu di atas layar datar sana.
with the warmth of your love, i'll keep chase you around.
with the depth longing love of mine, don't you forget about me in this time.
“...don’t you forget about me this time.”
Kalimat yang didengarnya itu menghentikan pergerakan Haechan. Ia baru saja selesai mandi dan berganti baju dengan piyama tidurnya, badannya terasa segar dan dirinya sudah sangat siap untuk tidur lebih awal setelah lelah menjalani hari ini yang terasa agak lebih berat dari hari-hari lainnya.
Tapi di saat ia hanya tinggal mematikan televisi di ruang tengah rumahnya yang hangat dan sederhana itu, satu kalimat yang tanpa sengaja didengarnya itu justru membuat tubuhnya membeku seketika.
“Kira-kira apa makna di balik caption-nya nih? Karena kamu ini baru aja posting di instagram story beberapa jam lalu, dan ini langsung buat fans heboh dan netizen lain jadi ikut penasaran.”
Suara dari televisi itu kemudian menyentak kesadaran Haechan sampai buat badannya jadi agak terperanjat. Barusan itu adalah suara dari seorang Presenter, ia baru saja mengajukan pertanyaan pada lawan bintang tamu spesial yang begitu mudah dikenali—sekaligus selalu Haechan hindari; Mark Lee.
Senyum kecil nan menawan adalah hal pertama yang Mark tampilkan, kemudian disusul oleh tawa ringan sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan dari sang presenter. Tapi Haechan tidak mampu memfokuskan perhatiannya pada apa yang mereka (terutama Mark ucapkan) setelahnya, semua bagai gaung yang terdengar kabur di telinganya. Dan tidak hanya itu, melainkan seisi ruang dan waktu di sekelilingnya terasa jadi seperti melambat lalu ikut mengabur setelahnya.
Lantas perasaan itu kembali muncul, perasaan janggal yang begitu asing yang selalu muncul setiap kali Mark masuk ke dalam radarnya—Haechan sendiri tidak mampu untuk memahami ini. Tapi sebanyak ia ingin berhenti peduli, sebanyak itu pula dirinya justru bersikap di luar kendali; matanya tidak mampu beralih dari sosok Mark. Pun Haechan sama sekali tidak mempersiapkan dirinya manakala kamera menyorot wajah Mark sepenuhnya dan Haechan yang masih belum mengalihkan pandangannya, lalu ketika tepat di detik dimana sang artis itu memandang lurus tepat pada kamera maka saat itu pula gelombang besar dari perasaan tak nyaman itu semakin menggulung di dalam hatinya.
Haechan melihat Mari di layar televisi sana; di balik senyum hangat serta sorot kedua mata yang bagi banyak orang katanya itu selalu memancarkan kobaran api semangat itu, anehnya kini Haechan justru hanya mampu melihat ada jiwa yang kosong di sana. Bagi Haechan, Mark tak lebihnya bagai sebuah boneka mahal dan menawan; indah, namun penuh kehampaan yang seperti tengah berada di ujung keputusasaan. Lalu jantung Haechan bagai diremas begitu saja, nyerinya terasa seperti nyata yang entah kenapa mampu ikut meninggalkan sebuah ruang kehampaan juga dalam hatinya.
Ahhhh…. Haechan refleks meremas dadanya—ia belum pernah melalui hal sampai sebegininya sebelum ini. Kemudian gelombang selanjutnya muncul dengan membawa satu perasaan…, kasihan? Juga rasa bersalah? Seperti Haechan bisa merasakan kalau Mark tidak bahagia—ia menderita, dan ada sesuatu yang mendorong dalam diri Haechan hingga membuatnya jadi ingin melakukan sesuatu terhadap itu. Haechan seperti merasa ia bertanggung jawab atas semua itu.
What the hell is wrong with me?
Haechan sama sekali tidak yakin dengan semua gelombang perasaan yang bagai mengguncangnya sekarang. Tapi jelas yakin kalau dengan meraih remote dari atas meja adalah hal yang paling tepat untuk dilakukan.
Klik! Lantas sosok Mark yang tertampil itu seketika menghilang ditelan oleh hitam kelam layar yang dimatikan, dan tergantikan oleh cerminan Haechan sendiri yang terlihat buram membayang. Lalu, tes! Ada setetes air jatuh tepat di atas kaki Haechan. Tes! Tes! Dan tetesan lainnya menyusul begitu kepala Haechan tertunduk sedikit.
Ah.
Instingnya pun kemudian buat tangannya bergerak naik untuk mengusap pipinya, dan di detik itulah baru Haechan menyadari bahwa sedari awal di sana memang sudah basah.
Haechan menangis.
Haechan menangis.
“Kamu baik-baik saja, Haechan?” Haechan biasanya hanya menangis di antara sesi panas keduanya, ketika lelaki cantik sehangat mentari itu meleleh di bawah tiap sentuhan dan ia kewalahan. Haechan tidak pernah menangis setelahnya, ia biasa langsung terlelap karena lelah. Tapi kali ini berbeda, bahu kecil yang tengah memunggungi Mark itu kini terlihat bergetar kecil sehingga memunculkan rasa khawatir. “Ada yang sakit? Apa aku terlalu kasar ya tadi?”
Jejak air mata pun seketika ia usap dan gelengan yang menjadi respon atas sederet pertanyaan itu pun begitu kontras dengan bagaimana jejak kemerahan yang tertinggal kulit pinggul dan pantatnya akibat terlalu keras dicengkram dan ditampar itu dapat dengan mudah terlihat, belum lagi jejak lain yang warnanya makin lama akan berubah makin gelap keunguan itu juga tersebar banyak di leher, di selangka, di dada, dan paha.
“Lalu kenapa?”
“Bukan apa-apa,” jawab Haechan. Meski Mark jadi salah satu alasan kenapa suasana hatinya jadi berkecamuk tapi ini bukan soal seberapa kasar Mark memperlakukannya di atas ranjang—Haechan tidak keberatan soal itu karena ia juga menikmati itu semua, dan Mark pun tidak pernah memaksakan apa yang tidak Haechan inginkan. “Aku hanya tengah sedikit emosional karena pIkiranku agak kacau. Maaf,” lanjutnya kemudian.
Mark menghela nafas. Ia ingin tahu lebih dalam lagi, tapi juga tidak mau memaksa Haechan kalau memang sosok itu enggan bercerita. Lantas hal paling sederhana yang bisa dilakukannya adalah dengan ia yang merangsek mendekati Haechan, lalu memeluk tubuh yang lebih kecil itu dari belakang. Sementara Haechan meleleh begitu saja saat merasakan ada lengan kekar yang melingkar di perutnya; kulit bertemu kulit—sebab mereka berdua sama-sama telanjang di bawah satu selimut yang sama—punggungnya bersentuhan hangat dengan dada Mark.
“Tidak apa-apa.” Hembus nafas Mark menerpa halus di kulit bahu Haechan, yang kemudian ia kecup lembut bahu itu. “Tidak perlu minta maaf.”
Di detik dimana Mark pertama kali mengizinkan Haechan untuk memasuki ruang dalam kehidupannya dulu, tentunya ia sama sekali tidak pernah berpikir kalau ia akan mampu menyimpan rasa peduli yang seperti ini kepada manusia satu itu. Saat itu Mark tidak punya niat apa pun selain mencari kesenangan dengan bermain-main saja, karena jauh sebelum mengetuk pintu kediamannya sambil memohon itu pun, Mark sudah mengenal siapa Haechan; lelaki itu sudah cukup dikenal memiliki “reputasi” sehingga paling tidak Mark sudah bisa menebak kalau dirinya telah jadi target Haechan yang selanjutnya—dan tentu ia merasa tertantang karenanya.
Tapi tidak, semakin lama semakin Mark justru terjebak dalam permainannya sendiri. Haechan begitu penurut dan penuh dengan hal-hal tersembunyi yang berhasil menarik Mark masuk dalam kisah hidup lelaki itu, buat Mark tergerak karena rasa iba sehingga ia berakhir bertekuk lutut, hanyut dan menurut.
“Mark,” lirih Haechan memanggil nama itu, setelah beberapa saat hanya ada dinginnya hening yang mengisi ruang antara mereka. Mark hanya menjawab dengan gumam rendah, dan itu sudah cukup bagi Haechan untuk kembali bicara—ia tahu Mark pasti akan mau mendengarkannya. “Kamu satu-satunya yang aku punya sekarang.”
Kedua kelopaknya yang sudah tertutup itu lantas kembali terbuka dengan perlahan, dan lengannya bergerak secara insting untuk mempererat pelukan demi memungkinkan tubuh keduanya jadi semakin merapat dari sebelumnya. “Iya. Aku satu-satunya yang kamu punya, dan kamu juga satu-satunya yang selalu aku inginkan sekarang.” dan selamanya.
Begitu pun bagi Haechan, padahal awalnya ia pikir kalau dirinya sudah mati sejak lama. Tidak ada ambisi yang tersisa dalam dirinya selama ini kecuali ia hanya ingin membalaskan dendam atas kematian semua keluarganya. Tapi kemudian Haechan justru menemukan Mark sebagai pilihan terakhirnya—memilih satu dari dewa paling terkenal dan terkuat untuk ia mintai pertolongan; untuk dijadikan alat terakhir karena Haechan sudah begitu frustasi dan berada di ujung keputusasaannya.
Saat itu Haechan pikir, tidak masalah jika ia harus mati kalau memang itu adalah harga yang harus dibayar untuk membunuh satu dewa atas nama darah keluarganya. Tapi sekarang seperti ia menemukan kembali setitik harapan untuk kembali merasa hidup, dan ia merasa sangat egois untuk merasakan itu semua; ia ingin tetap berada di sisi Mark untuk waktu yang lama, tapi dendam atas keluarganya tidak bisa dilupakan begitu saja.
“Masih ‘kah kamu mau melakukan semuanya demi aku?”
“Tentu.” Mark tahu kemana pembicaraan ini akan membawa mereka. “Persiapannya sudah hampir selesai, dan selanjutnya aku hanya butuh waktu yang tepat untuk memulai semuanya.”
Haechan menggeliat kecil, sebelum akhirnya ia berbalik untuk menghadap Mark langsung. Kedua netra yang biasa menyorot tegas dan tajam itu kini menembus, balas memandang kedua netra yang terlihat sedikit sembab dan memerah. Kemudian Haechan biarkan tangannya bergerak sesuai insting untuk mengelus pipi Mark dengan lembut. “Rasanya terima kasih saja tidak akan cukup, dan aku tidak tahu bagaimana aku harus membalas semuanya dengan sepadan. Jadi kalau ada yang bisa aku lakukan, tolong kamu bilang ya? Kamu tahu aku bukan manusia bias—”
“Tidak, Haechan,” potong Mark cepat. Ia jelas tidak akan mengambil resiko yang satu itu—resiko untuk kehilangan Haechan. “Dewa hanya bisa dibunuh oleh sesama dewa.”
Dan seperti aku yang menggunakan kamu. “Dewa bisa menggunakan aku untuk itu. Jadi itu sama saja dengan bukan aku yang membunuhnya ‘kan?”
“Haechan..” Mark menggenggam tangan yang masih mengusap pipinya, dan ia tarik untuk kemudian punggung tangan Haechan dicium dengan sayang. “Kamu hanya perlu berjanji padaku.”
“Janji apa?”
Mark tidak langsung menjawabnya secara verbal, melainkan kepalanya bergerak maju untuk mengikis jarak antara mereka. Sementara Haechan menutup matanya dengan perlahan dan menerima dengan senang hati begitu ia merasakan bibir Mark mendarat di atas bibirnya.
Lalu rasanya seperti waktu berhenti berputar untuk sesaat, dan yang Haechan bisa rasakan hanyalah bagaimana hatinya yang menghangat karena Mark menciumnya dengan lambat dan begitu lembut seolah ia menikmati ingin setiap momen ini untuk kemudian disimpan dengan baik dalam memorinya soal bagaimana manisnya Haechan sekarang.
“Tetaplah berada di sisiku, Haechan,” ungkap Mark begitu ciuman mereka terlepas. Kening saling beradu dengan nafas yang berhembus tenang. “Apalagi ketika nanti ketika semuanya telah selesai. Berjanjilah untuk tetap bersamaku, dan jangan pergi kemanapun tanpa kamu izinkan aku untuk berada di dekatmu.”
Mark tahu bahwa tidak akan ada keberhasilan atas satu tindakan besar tanpa sebuah pengorbanan yang besarnya juga sepadan. Ia mampu untuk korbankan banyak hal kecuali satu hal yang baru saja ia suarakan.
“Iya.” Haechan tahu, dia tidak punya banyak kuasa atas garis takdir yang membawa mereka berdua di masa depan nantinya. Tapi dirinya tetapnya seorang manusia dengan segala rasa egoisnya. “Aku janji.”
Mark percaya, Haechan akan menepati janjinya. Haechan tidak pernah berbohong padanya.
Haechan berbohong.
Rasanya begitu memilukan, sampai rasanya ingin menangis. Tapi itu tidak berlangsung lama karena dalam sepersekian detik, dunia terasa bagai dijungkir-balik. Lagi.
“Mark!” Kemudian namanya dipanggil. Lagi. Mark yang kaget pun akhirnya jadi terperanjat. Lagi. Pun kekhawatiran dari nada suara si pemanggil yang tidak lain dan tidak bukan adalah managernya itu pun sama sekali tidak berubah dari sebelum-sebelumnya. ”What now? Kamu mimpi buruk? Lagi?”
Bedanya kali ini, Mark terbangun di kursi studio musiknya. Ia disediakan jadwal libur untuk beristirahat selama seminggu, tapi ternyata berada di penthouse megahnya bukanlah satu hal yang cocok baginya. Dinginnya dari rasa kesepian membuat Mark merasa semakin kehilangan arah, maka itu sebabnya ia pilih untuk mendekam di studionya ini sejak tiga hari lalu.
“Sorry…”
“Gimana sih?” decak Manager tidak merasa puas. “Udah dua kali konsultasi sama dokter nih masih enggak ada efeknya ya?”
Tentu saja iya, sebab konsultasi yang selama ini telah dilakukan hanya ia jalani dengan setengah hati. Mark tidak pernah sepenuhnya berkata jujur pada dokternya, tidak pernah pula ia menurut dengan mengonsumsi obat yang diresepkan untuknya.
Selama bertahun-tahun—bahkan sampai ribuan tahun—Mark telah menjalani kehidupan yang seperti ini, dimana ia terjaga untuk terus mengingat dan mencari Haechan dan terlelap hanya untuk melepas rindu dengan mengenang kisahnya di masa lalu dengan Haechan lewat mimpi-mimpinya.
“Ini udah mendingan kok,” jawab Mark berusaha menenangkan. Kursinya yang semula menghadap layar-layar besar komputernya itu diputar untuk menghadap sang manager yang kini tengah duduk di sofa panjang sambil kedua netranya memicing tajam menatap Mark sehingga ia buru-buru lanjut beralasan, “Ini baru pertama kalinya aku mimpi buruk lagi sejak terakhir kali, Kak. I swear.”
“Oke.” Dan Mark sudah hampir menghela nafas lega kalau saja ia tidak melihat bagaimana managernya itu langsung menghempas beban tubuhnya di sandaran sofa, lalu kedua tangan dilipat di depan dada serta diikuti dengan kaki yang saling bertumpang. Matanya masih menatap Mark, kali ini begitu menelisik. Kalau sudah begini, Mark sudah bisa prediksi ia akan langsung diinterogasi. “Tapi paling enggak, sebaiknya kamu jujur aja sama aku sekarang.”
Nah, ‘kan. Mark berakhir jadi menghela nafas lelah. “Jujur apa?”
“Siapa Haechan?”
Deg! Mark panik, tentu saja. Tapi ia telah melewati banyak kehidupan yang membuatnya jadi begitu ahli dalam mengendalikan diri di situasi begini. “Haechan siapa?”
“Kok malah balik nanya?!”
“Kakak duluan ‘kan yang sebut namanya?”
“Ya aku sebut karena aku tanya!” jawab Manager dengan gregetan. “Dan aku tanya karena aku gak tahu dia siapa!”
“Loh, memangnya aku tahu dia siapa?”
“Mark!!!”
“Apa???”
“Kamu serius mau bersikap kayak gini?” tanya si Manager tak percaya. “Are we gonna pretend like you didn’t call that name every single damn time you had a nightmare?”
Oh, shit. Mark tidak pernah tahu kalau ia suka mengigau nama Haechan. Managernya itu tidak pernah komentar apa pun soal Haechan, jadi Mark pikir semua tetap aman berada di bawah kontrolnya selama ini.
“I-I don’t—no, I m-mean, I—”
“See? You’re stuttering right now,” potong si Manager sukses menyudutkan Mark. “Berhenti berlagak bodoh. Aku udah capek juga selama ini pura-pura bodoh terus di depan kamu.”
“Oke, I’m sorry.”
“Apology accepted. Tapi aku masih harus tahu Haechan siapa.”
“Just—” Mark tahu dia sudah tidak mengelak lebih jauh lagi, tapi juga tidak merasa perlu untuk jujur sepenuhnya. Maka ia menjawab seadanya. “—someone from the past.”
“Penting buat kamu ya?” Kali ini nada bicaranya menjadi lebih lembut. “Berarti banget kayaknya? Sampai bertahun-tahun…, kebawa mimpi terus.”
I can’t live without him. I live only for him. Mark menjerit penuh desperasi. Tapi tentu ia tidak akan sungguhan menyuarakan itu. “Ya…, kurang lebih begitu.”
“Dimana dia sekarang?”
Oh, andai saja Mark tahu. Dirinya jelas tidak akan berada di sini dan terbangun dari mimpinya seperti tadi. “Lagi aku cari, tapi…, memang susah. Jadi belum ketemu sampai sekarang.”
“Kenapa…?” Melihat bagaimana Mark selama ini begitu terlihat emosional di setiap dirinya terlelap dan bermimpi, mau tidak mau jadi buat si manager makin merasa iba sekarang. “Kenapa bisa sesusah itu sampai kamu harus kesiksa kayak gini selama bertahun-tahun…?”
Because God says so.
And I was stubborn.
And we were so in love.
And I am too in love with him.
And we get punished.
Because God says so.
“It’s just…, our fate—I guess?” Jelas tidak mungkin Mark menceritakan kenyataan yang sesungguhnya, ia lebih tahu dari siapa pun kalau dirinya tak lebih hanya akan dicap gila. Tidak mungkin Mark hanya akan dijadwalkan untuk sekedar konsultasi biasa ke dokter saja, ia bisa saja langsung dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa. “Tapi terlepas dari itu semua, aku enggak mau peduli sih. I just have to find him. That’s it.”
“Tapi bertahun-tahun berlalu dan kayaknya tetap nihil, Mark. Kamu malah makin menderita,” ungkap si Manager dengan jujur. “Apa enggak pernah kamu terpikir untuk ikhlas dan berhenti aja?”
Mark menjawab dengan baca yang begitu absolut. “No.” Ia sama sekali tidak ingin dibantah soal ini. “Not in a billion years. Not even in any kind of a lifetime.”
“Why?”
Because Mark doesn’t have much time left.
Pada akhirnya pertanyaan itu berakhir tak terjawab dan menguap di udara begitu saja, sebab Mark tidak ingin menjawabnya. Mark tidak mau mengingat fakta bahwa kehidupannya yang sekarang adalah kesempatan terakhirnya untuk bisa bertemu dengan Haechan, dan kembali bersatu dengan cintanya itu.
Sementara sang Manager pun tidak banyak bertanya lagi setelahnya. Sebanyak yang ia ingin tahu karena dirinya ingin membantu meringankan beban Mark, tapi sebanyak itu pula ia mengerti kalau memaksakan kehendak bukanlah satu hal yang bijak untuk dilakukan.
“Memaksakan kehendak bukanlah satu hal yang bijak untuk dilakukan.” Siapa pun tahu Jungwoo adalah salah satu yang paling tidak pernah serius di kebanyakan waktu, tapi kali ini ia berbicara penuh keyakinan. Kobar di balik sorot matanya adalah penuh untuk mempengaruhi dewa lain untuk jadi satu suara dengannya. “Kita semua tahu itu ‘kan? Jadi untuk apa kita banyak berpikir bijak untuk mengadili Mark? Salahnya sendiri yang memaksakan kehendak sejak awal makanya jadi begini.”
“Jungwoo, berhenti menjadi tidak rasional dan duduk.”
Itu Taeil yang bersuara, dia biasanya tidak banyak bicara tapi kali ini suasananya terasa semakin panas karena ketujuh kepala yang yang bersama-sama tengah duduk melingkari di meja bundar itu sejak tadi tidak berhasil untuk menyamakan pemikiran mereka.
Meski Jungwoo menurut untuk duduk, mulutnya masih enggan untuk berhenti berargumen, “Rasional atau tidak, tapi poin utama dari masalah ini tetap tidak terbantah; Mark bersalah dan Haechan adalah dalang di baliknya, maka mereka berdua harus dieksekusi.”
“Bisa tidak kita singkirkan pembahasan soal eksekusinya? Fokus saja memikirkan soal bentuk hukuman yang lain,” usul Taeil kembali bicara. “Sebelumnya ini sudah dibahas, empat dari tujuh di antara kita sepakat kalau eksekusi itu terlalu gegabah.”
“Tiba-tiba kau jadi vokal begini ya?” sarkas satu suara, yang mana ia adalah salah satu dari dua dewa yang setuju soal hukuman eksekusi. “Ini bukan karena kamu mengincar Haechan ‘kan? Ingin mendapatkannya supaya bisa memanfaatkan kekuatan yang tersegel di tubuhnya, iya? Atau—”
“Yuta. Berhenti di situ.”
“Tidak, Taeyong. Kau yang berhenti.” Yuta sudah dikuasai emosi sejak tadi. “Berhenti bersikap sok bijak dengan menjadi netral sejak tadi. Akui saja, kau juga jelas merasa kecewa dan marah terhadap sikap bodoh Mark.”
“Kecewa dan marah tidak bisa jadi sebuah pembenaran untuk menghakimi yang lain dengan seenaknya, Yuta.” Kali ini Johnny yang bicara. “Tolong kendalikan emosimu sedikit.”
“Oh, ayolah? Tidak usah berlagak seolah kau tidak bicara seperti begitu karena pengendalian emosimu bagus,” sambar Jungwoo memberi pembelaan terhadap Yuta. “Aku tahu justru itu malah sebaliknya, kau juga dikendalikan oleh emosimu sekarang.”
Yuta menyeringai. Kedua tangan dilipat di depan dada. “Emosi yang mana kira-kira, hm?” Matanya menyorot angkuh memandang Johnny. “Karena kau menyayangi Mark sebab kalian tumbuh bersama? Atau karena kau juga inginkan Haechan?”
“Yuta—”
“Berhenti sebut namaku seolah hati kalian semua itu tidak munafik. Membantah semua argumenku dan juga Jungwoo ketika faktanya jelas kalau Mark hampir merusak tatanan para dewa dan memicu perang besar terjadi!” Yuta berteriak marah kali ini, dan meski begitu menyakitkan tapi apa yang baru saja diungkapnya memanglah sebuah kenyataan yang menampar setiap dari mereka. “Mark nyaris membunuh sesama kita. Mengabaikan segala rasionalitas dan tanpa ragu menghunuskan pedang tepat di leher Lucas, karena telah dibutakan oleh apa katanya? Cinta? Ha! Yang benar saja!”
“Cinta kepada sosok yang sama sekali tidak sepadan,” tambah Jungwoo, semakin menyembur minyak dalam kobaran api. “Manusia rendahan yang penuh kesombongan hanya karena dia miliki setitik kekuatan dewa yang tersegel di tubuh mortalnya.”
“Oke, cukup! Hentikan.” teriak Doyoung, yang sedari tadi memilih diam karena tidak ingin semakin memperpanas keadaan. Tapi akhirnya ia buka suara juga karena sudah tidak tahan. “Ini sudah keterlaluan. Taeil benar, sebaiknya kita fokus pada alternatif hukuman selain kita mengeksekusi mereka.”
“Emosi.” Tiba-tiba suara itu muncul dengan nada yang begitu datar. Lantas fokus dari keenam dewa lain sepenuhnya teralih pada si pemilik sumber suara, yang begitu berbeda dengan yang lainnya karena memang sejak pertama kali mereka berkumpul ia sama sekali tidak berbicara apapun dan hanya diam mengamati. Ditatap sedemikian rupa agaknya membuat ia terheran dan sedikit tidak nyaman. “Apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?”
“Jaehyun,” decak Johnny. Bola matanya memutar jengah. “Kau sama sekali tidak bersuara sejak tadi, lalu tiba-tiba bicara “emosi” saja begitu? Ya apa maksudnya?!”
“Ah—” angguk Jaehyun kecil. “–iya. Emosi.”
“Emosi apa??!” tanya Doyoung tak sabaran.
“Ya, emosi? Semua perdebatan ini tidak selesai karena kita semua sama-sama dikendalikan emosi.” Kemudian ia menatap Yuta, lalu menunjuknya. “Kau dikendalikan cemburu, Yuta. Kita semua tahu itu.” Selanjutnya, ia menunjuk Jungwoo. “Kau juga, Jungwoo. Aku tahu kau menyimpan perasaan iri.”
“Hey—”
“Dan yang lainnya, yang tidak perlu aku sebutkan satu-satu karena kalian lebih tahu emosi kalian sendiri.” Jaehyun sama sekali tidak menghiraukan protes yang hendak disuarakan Jungwoo. Ia tidak mau peduli, dirinya belum selesai bicara dan tidak suka dipotong. “Begitu juga Mark dan Haechan. Keduanya dikendalikan emosi kan? Yang pada kasusnya memang emosi mereka begitu terikat kuat. Katakanlah kita semua sepakat pada satu kesimpulan, emosi yang paling mengendalikan itu adalah cinta.”
“Lalu?” tanya Taeyong penasaran. “Apa poin dan solusi kamu tawarkan?”
“Sumber penderitaan ini akarnya dari emosi cinta, maka kita tinggal bisa menghukum Mark dan Haechan dengan hal yang sama.”
“Ah!” Doyoung menjentikkan jarinya. Ia terpikirkan sesuatu. “Kalau begitu, berarti kutukan!”
“Kutukan?”
“Iya,” angguk Doyoung. “Kutuk saja supaya mereka terpisah selama beberapa kehidupan.”
“Beberapa kehidupan?” tanya Johnny cukup bingung. “Mark akan jadi makhluk mortal? Begitu?”
Doyoung mengangguk. “Iya.”
“Lalu apa yang akan terjadi selama mereka terpisah?” tanya Taeil penasaran.
Ada hening yang berselang setelahnya, karena mereka sama-sama memikirkan skenario terbaik. Lalu Taeyong jadi yang pertama kali menyuarakan idenya, “Buat saja jadi hilang ingatannya, lalu biarkan mereka saling mencari dan bersatu kembali.”
“Sampai kapan?” tanya Yuta. Menurutnya, ia harus tetap masih berusaha untuk berikan penghakiman seadil-adilnya. “Kita tidak bisa memberikan waktu yang tak terbatas. Itu terlalu mudah bagi mereka.”
“Sampai di kehidupan yang kesepuluh. Bagaimana?” usul Doyoung. “Tidak akan ada lagi kesempatan bagi mereka untuk saling mengingat dan kembali bersatu jika sampai di kehidupan ke sepuluh, keduanya tetap tidak mampu mengingat masa lalu mereka dan bersatu kembali.”
Malam itu, langit terlihat lebih gelap dari pada malam-malam sebelumnya. Semua berlindung di bawah atap-atap yang nyaman, bahkan para hewan bersembunyi di tiap celah yang mampu membuat mereka merasa aman.
Malam itu, di antara langit gelap ada petir berkilat dan saling menyambar. Suaranya menggema terdengar menyeramkan, seiring dengan takdir Mark dan Haechan yang telah ditentukan.
Takdir Mark dan Haechan yang telah ditentukan, terkisah dalam bentuk yang macam-macam.
***
Di kehidupan pertamanya, Mark terlahir sebagai keturunan dari seorang Raja yang begitu berkuasa. Ada beban tanggung jawab yang sudah harus Mark pikul di pundaknya sedari dini, dan seiring pula dengan ia yang tumbuh dan berkembang dengan sebuah beban ingatan soal kehidupan masa lalunya sebelum ini.
Haechan.
Mark ingat semua memorinya secara utuh ketika ia menginjak usia tujuh belas. Mark ingat segala hal tentang Haechan, termasuk pada bagaimana takdir mereka digariskan; Mark ingat Haechan, yang berarti Haechan sama sekali tidak mengingat apa pun soal Mark.
Haechan. Kamu dimana?
Mark terpukul untuk pertama kalinya, sebagaimana semua hal lain di kehidupan itu yang terasa begitu asing dan pertama kali pula untuknya. Mark terpukul sampai ia mengurung diri selama tujuh hari di kamarnya, hingga buat seluruh penjuru istana khawatir karenanya. Tapi kemudian di hari kedelapannya Mark tiba-tiba kembali melangkahkan kakinya keluar, sebab dirinya tersadar jika hanya dengan berdiam saja maka ia tidak akan bisa mencari Haechan, begitu pun Haechan tentu tidak akan bisa menemukannya, terlebih mengingat tentangnya. Maka Mark bangkit setelahnya, ia bertekad akan terus berusaha menjadi versi terbaik dari dirinya sehingga bisa memudahkan dalam pencariannya.
Lalu tahun berganti tahun, Mark sudah berganti gelar menjadi sosok Raja yang terbaik pada masanya. Paling muda dari yang pernah ada, dan paling bijaksana. Banyak orang menyebutnya bagaikan jelmaan dewa yang Mark simpan semua ironi di balik julukan itu hanya untuk dirinya sendiri.
Dan tahun berganti tahun, Mark tetap belum bisa menemukan Haechan. Meski ia tidak kenal putus asa dan sekalipun tidak pernah terpikir untuknya menyerah begitu saja, tapi semua orang sudah begitu menaruh banyak harapan padanya dan buatnya jadi tertunduk lemah tak berdaya; seorang Raja sudah seharusnya memiliki garis keturunan untuk mewariskan tahtanya.
Mark sudah menghindari, bahkan menolak dengan keras berulang kali. Tapi semua hanya mampu bertahan sampai ia menginjak usia tiga puluh lima. Mark dipaksa untuk menyerah, ia harus menikah.
Maka sebagaimana takdir telah menuliskan garis ironis, pada malam sebelum pesta pernikahan Mark dilangsungkan, di sana lah takdir mempertemukannya dengan Haechan.
Mark membeku, ia duduk di kursi singgasananya dengan tubuh yang kaku dan terpaku pada satu sosok penari utama yang kini begitu jadi sorotan oleh seisi tamu undangan yang menghadiri pesta.
Haechan.
Sosok itu menari dengan indah, bagai seluruh jiwanya mengisi tiap lekuk gerakannya. Kakinya bergerak, berpindah, dan meloncat seolah ringan tubuhnya sehalus kapas. Pandangannya mencerminkan emosi yang mampu memikat siapa pun yang melihatnya—termasuk Mark.
Mata keduanya bersirobok, dan kedua pipinya bersemu merah tanpa mampu Haechan kendalikan. Sedikit pun ia tidak pernah berpikir kalau dirinya bisa begitu ditelanjangi oleh tatapan seseorang—terlebih itu dari sosok seagung Sang Paduka Raja.
Haechan.
Mark memanggil nama itu dengan penuh damba dan kerinduan, hasratnya begitu ingin menarik sosok yang dicintai itu untuk kedalam peluknya. Lalu mencium sepenuh hati setelahnya.
“Haechan.”
Kemudian Mark baru bisa memanggil nama itu untuk pertama kalinya, setelah semua pesta selesai dan ia memerintahkan seseorang untuk membawa Haechan ke ruang pribadinya di istana.
“Yang Mulia.”
Bukan Mark, bukan pula panggilan spesial yang bisa Haechan tujukan hanya untuknya. Mark tidak bisa bohong kalau ia sedih mendengarnya, Haechan tidak mengingatnya.
“Jangan,” pinta Mark. Lalu ia melangkah mendekati Haechan yang masih membungkuk dengan kepala yang tertunduk sopan, hingga akhirnya mereka berhadapan. “Jangan panggil aku seperti itu.”
Haechan refleks mendongak, “T-tapi Yang Mulia—”
“Mark,” potong Mark cepat. Lalu mengapit dagu Haechan dengan ibu jari dan telunjuknya supaya wajah itu tidak kembali tertuntuk rendah dan Mark bisa memandangi sepenuhnya. “Di sini hanya ada kita berdua, jadi panggil saja Mark. Ini perintah.”
Agaknya Haechan bingung, nada bicara sang Raja terdengar begitu dingin tapi rasanya justru itu malah menghangatkan hati Haechan. “B-baik Yan—ah. Maksud hamba, baik, Mark.”
Mark tersenyum puas. Oh, betapa ia sangat merindukan suara yang memanggil namanya dengan semanis itu.
Mark tersenyum begitu menawan, dan rasanya mustahil bagi Haechan untuk tidak terpikat sekarang. Terlebih, situasi mereka yang begitu…, dekat.
“Haechan,” panggil Mark lembut, yang tidak seharusnya jantung Haechan berdebar mendengar bagaimana namanya dipanggil selembut itu—seolah ia adalah perhiasan berharga yang begitu ingin Mark jaga.. Pun tidak sampai situ saja, sejurus kemudian Mark kembali menyerangnya hingga jantung Haechan seperti jatuh ke perutnya. “Aku sangat…” sangat merindukanmu. “ ...tertarik padamu.”
“Yang M-mulia…”
Oh, Mark sungguhan sama sekali tidak mau peduli apa pun saat ini. Perangainya memang sudah begini sejak dulu di setiap kali ia menginginkan sesuatu. Ini juga yang membawa mereka pada takdir ironis seperti sekarang. Tapi apakah Mark peduli? Tetap tidak.
“Bolehkah aku memberikan sebuah ciuman, Haechan?”
Sementara Haechan terperangah. Tidak pernah sedikit pun ia bayangkan bahwa sosok agung seperti Mark yang seorang raja ini akan meminta izin untuk menyentuhnya…, meminta izin kepada sosok rendahan seperti dirinya. Maka setelah dipikir lagi, siapalah Haechan untuk menolak?
“Silahkan Yang Mulia,” angguk Haechan kecil, dan pasrah. Ia sendiri tidak mengerti kenapa tubuhnya merespon baik setiap perlakuan Mark terhadapnya.
Lantas tanpa membuang waktu, Mark langsung menangkup wajah Haechan mendaratkan ciuman tepat di bibirnya. Awalnya hanya ringan, sebab Mark hanya ingin menyalurkan kerinduan yang entah sekian lama. Tapi kemudian ciuman itu makin memberat dan dalam sering dengan Haechan yang membalas ciumannya.
Maka detik di mana tangan Haechan bergerak naik melingkar di leher Mark, maka detik itu pula Mark kehilangan semua pertahananya.
Ciuman itu berakhir jadi bagai pintu gerbang bagi keduanya, dimana izin lain menyusul setelahnya; untuk meninggalkan jejak cinta di leher, untuk membuka pakaian mereka setelahnya, untuk mencium bagian lain dari tubuh yang ingin diciumnya, untuk menjamah seluruh bagian yang bisa dijangkaunya.
Malam itu Haechan mengizinkan apa pun yang Mark ingin lakukan terhadapnya, dengan sebuah imbalan kenikmatan yang tidak pernah ia bayangkan akan mampu diterimanya. Haechan merasa ia disentuh dengan penuh sayang, dicintai sebegitu banyak.
Tapi mereka berdua bukanlah apa-apa. Mark dan dirinya adalah dua sisi dari dunia yang terlalu berbeda, dan tidak pantas untuk bersanding seperti sekarang. Lagi pula Mark besok akan menikah, ada tanggung jawab besar yang dikokohkan sedari akar sehingga kuasanya akan tetap tak tergoyahkan di masa depan nanti.
Sementara Haechan, ia tentu tidak termasuk dalam masa depan Mark itu. Maka setelah semuanya selesai, manakala langit pagi masih kelam tanpa cahaya, Haechan melarikan diri dari hangatnya dekap Mark tanpa suara.
Lantas begitu matahari menyongsong menyinari kamar yang jadi saksi bisu di semalam itu, Mark terbangun dengan hanya ditemani dingin dari kesedihan dan kekecewaan.
Haechan meninggalkan Mark, dan tidak pernah kembali lagi ke sisinya.
Haechan tidak mengingatnya.
***
Di kehidupan yang lainnya, Mark lahir sebagai sosok cerdas yang kembali mengemban tugas dengan tanggung jawab yang besar. Kesuksesannya begitu cemerlang dan semua orang mengakui kemampuannya. Sayangnya, tidak sedikit pun ia merasa bangga atas semua itu karena harga yang harus ia bayar adalah dengan Haechan yang membencinya.
Mark adalah seorang yang ditugaskan jadi pemimpin atas pendudukan di satu tanah yang kekayaan alamnya melimpah, sementara Haechan adalah sang penduduk asli yang tidak menerima kedatangan Mark dengan senang hati.
“Tembak! Ayo!” Haechan menantang dengan satu senapan di tangannya yang mengarah tepat pada Mark di beberapa langkah di hadapannya. Situasi mereka terdesak, pilihannya hanya ada dua; membunuh atau dibunuh. “Berhenti jadi pengecut dengan terus menggertakku sejak tadi!”
Takdir begitu mempermainkannya, kali ini Mark begitu ingin mengutuknya sampai mati. Bagaimana bisa mereka mengatur Haechan untuk mati di tangan Mark seperti ini? Haechan tidak mengingatnya, sementara Mark selalu mengingat bahkan sampai ke tiap detailnya. Lalu takdir mengharapkan apa? Mark membunuh Haechan yang begitu ia cintai sampai ke nadi?
“Kamu yang tembak aku.” Mark tetaplah jadi Mark; sebagaimana ia yang memohon secara diam-diam pada para dewa agar Haechan lah yang dihapus ingatannya (karena ia tahu, menjadi lupa akan terasa jauh lebih mudah), maka kali ini pun lebih rela hidupnya berakhir di tangan Haechan. “Tembak dan biarkan aku jadi simbol kemenanganmu atas tanah ini. Jadilah pahlawan dan jangan pernah biarkan dirimu mati di tangan lawan.”
“Orang gila.” Dan Haechan juga inginnya begitu—seharusnya ia sudah membunuh Mark dengan menarik pelatuk sedari tadi. Tapi ia tidak bisa. Semua orang mengenalnya sebagai penembak jitu, ia punya harga yang berani dibayar oleh musuhnya sampai ratusan juta hanya untuk kepalanya saja. Lalu kekuatan itu bagai hilang begitu saja begitu pistolnya mengarah pada Mark, tangannya tiba-tiba bergetar dan ia sama sekali tidak berani untuk menembak sosok penjajah yang dibencinya itu. Lantas ia meludah dengan frustasi. “Sinting!”
Lalu suara ribut terdengar mendekat ke arah mereka, sehingga keduanya saling berpandangan dengan panik. Itu suara sepatu saling beradu dengan permukaan tanah dan Mark paling mengenali suara itu. Bala bantuannya datang, dan mereka tentu akan mengepung mereka—membunuh Haechan.
No, shit.
“Haechan!” desak Mark dengan membentak. “Tembak!!!”
Dor!
Tapi tembakan itu jauh meleset dari targetnya. Tubuh Haechan entah kenapa seperti dilumpuhkan dan ia ambur di atas tanah dengan tubuh bergetar. “Tidak—” ia menutup kedua telinganya yang tiba-tiba berdengung kuat. Pikirannya makin kacau karena ia sendiri tidak memahami dengan apa yang terjadi pada tubuhnya sendiri. “A-aku tidak—aku tidak bisa,” jeritnya frustasi. “M-mark…, t-tolong.”
Fuck.
Mark kemudian mendekat ke arah Haechan, lalu berdiri di depannya dengan posisi siaga untuk melindungi. Berdasarkan perhitungannya, ia punya cukup amunisi untuk menghabisi mereka semua yang akan datang. Tentu Mark hafal, karena ia sendiri lanh yang memberikan pelatihan dan menyusun strategi untuk situasi seperti ini.
Maka begitu target mulai muncul dan masuk lantang pandangnya, Mark tanpa ragu menembak cepat dan jitu.
Dor! Dor! Dor-dor!
Lalu suara itu lah yang kemudian mengisi hening di malam itu. Satu persatu tubuh tumbang dan tergeletak tak berdaya, hingga semua habis tak tersisa.
“Kamu aman,” ucap Mark dengan nafas terengah. Lantas ia berbalik dan berjongkok tepat di hadapan Haechan yang memandangnya tak habis pikir. “Sekarang lari dan jangan buat dirimu sampai bisa terdeteksi selama beberapa hari. Mereka akan tahu kalau semuanya adalah kamu yang bunuh.”
“M-mark—ya Tuhan. K-kamu—”
“Cepat lari!”
Haechan berdiri, tapi kemudian— dor!
“Mark!”
“Shit,” umpat Mark, ia lah yang terkena tembakan di lengan. Instingnya bergerak mengalami sekeliling, dan ketika akhirnya ia menemukan siapa si penembak maka netra Mark pun membola kaget. “Lari, Haechan. Come on! Just leave me!”
Dor!
Mark tertembak lagi, kali ini di kaki. Haechan sudah bersiap untuk membantu tapi Mark justru malah mengarahkan pistol ke kepalanya. “Lari Haechan, atau aku akan menembak diriku sendiri sekarang.”
Sebab Mark tahu, si penembak itu adalah salah satu dari yang terbaik yang dimiliki oleh negaranya. Targetnya adalah Mark, ia pasti telah ketahuan membantu Haechan dan statusnya kini telah berubah jadi pengkhianat yang harus langsung dibinasakan.
Maka Mark tidak punya pilihan lain. Kalau Haechan yang di bawah alam sadarnya saja sampai tidak mampu membunuh Mark, maka mana bisa ia sampai hati untuk biarkan dirinya mati terbunuh tepat di depan mata Haechan sekarang juga? Tidak, tidak. Meski Mark tidak bisa mendapati Haechan mengingat mereka kembali, tapi paling tidak ia tidak inginkan Haechan menyimpan kenangan menyakitkan dalam memorinya di kehidupan mereka yang sekarang. Itu tidak boleh terjadi.
“Aku akan kembali,” ucap Haechan dengan bergetar. “Aku berhutang nyawa padamu, Mark.”
Mark menggeleng. “Tidak usah. Pergi saja dan jangan pernah menengok ke belakang lagi.”
Haechan berjalan mundur. Menjauh. “Aku akan tetap kembali.”
Dor!
Satu tembakan ini mengenai bahunya, tapi Mark tersenyum. “Kau harus kembali,” balas Mark. “Demi mimpi untuk membebaskan tanahmu ini.”
Haechan menangis. Kakinya berlari semakin menjauh, meninggalkan Mark jauh di belakang—tanpa sedikit pun menoleh, seperti yang Mark inginkan. Haechan menangis. Jauh lebih deras dari apa yang seharusnya ia rasakan.
Dor! Dor!
Haechan menangis, dengan hati yang bagai teriris. Padahal tidak seharusnya ia sakit sampai sebegininya, hanya demi orang yang selama ini selalu dia benci di hampir seumur hidupnya. Kenapa rasanya seperti ia ikut kehilangan jiwanya? Seperti direnggut seluruh nafasnya? Haechan tidak mengerti. Haechan menangis, dan ia tidak tahu bagaimana caranya berhenti.
Dor!
Tembakan terakhir, dan Mark ambruk di atas tanah. Tubuhnya berlumur darah, dan tidak ada satu pun yang menemaninya kecuali dingin malam dan langit yang pekatnya makin pekat.
Haechan pergi dan meninggalkannya, tapi tak apa. Itu semua karena memang Mark yang menginginkannya.
Ingatlah aku dalam salah satu kenangan terbaikmu, Haechan. Aku cinta kamu.
Mark panjatkan doa sambil tersenyum kecil, kemudian kelopaknya tertutup damai.
Di kehidupan ini. Haechan tidak mengingatnya lagi.
***
Di kehidupannya yang lain di kemudian hari, Mark begitu ingin membenci Haechan. Ia ingin mengutuknya karena telah melupakannya dan rasanya seperti ia tidak akan pula mengingatnya karena lelaki itu telah memilih untuk bahagia…, sendirian.
Mark adalah seorang dokter spesialis anak, lalu satu dari sekian banyak anak yang menjadi pasiennya adalah muncul seorang gadis cantik yang pintar. Di pertemuan pertama kali, gadis yang hanya diantar oleh ibunya itu seperti mengingatkan Mark pada sosok yang begitu ia rindukan.
Cantik sekali. Senyumnya semanis Haechan.
Lalu sepertinya itu memang sebuah mantra yang menarik Haechan kepadanya, sebab di beberapa bulan kemudian sang gadis tersebut kembali datang dan kini lengkap dengan didampingi Ibunya yang cantik dan ayahnya yang—
“Haechan?”
“Eh?” Si Ayah yang namanya tiba-tiba dipanggil itu pun terkejut, sementara si anak dan ibu hanya tersenyum kecil. “Iya, saya Haechan. Haha. Aduh kaget sedikit karena Pak Dokter tahu nama saya.”
“Iya. Haha,” tawa Mark begitu kering dan kaku. Tidak biasanya ia praktik dengan sikap yang seperti ini. Perawat yang biasa menemaninya itu bahkan sampai terheran-heran. “Tadi saya sempat baca biodata pasien sekilas.”
“Ah, iya.” Haechan mengangguk kecil. “Saya kira kita kenal atau Dokter pernah bertemu dengan saya.”
Mark berdehem. “Kenapa memangnya kalau kita pernah bertemu?” pancingnya hati-hati.
“Ya tidak enak aja…., Dokter ingat saya, tapi sayanya malah tidak ingat pernah bertemu. Haha.”
Di kehidupannya yang ini, Mark begitu ingin membenci Haechan. Tapi ia tidak bisa, tentu ia tak sanggup melakukannya. Haechan terlihat bahagia, mempunyai keluarga kecil yang hangat dan penuh cinta, sebagaimana yang selalu ia damba dan selalu ia ceritakan di antara obrolan soal masa depan yang selalu ingin mereka miliki dulu.
Kali ini Haechan tidak meninggalkannya, melainkan Mark lah yang mengalah dan pergi menjauh darinya.
Haechan bahagia, meski ia tidak mengingatnya.
***
Di kehidupan yang lain, untuk pertama kalinya Mark pikir ia terlahir dalam keadaan yang tidak berdaya. Sebagai sulung dari lima bersaudara yang juga ditinggalkan oleh sang kepala keluarga entah kemana, buat Mark pada akhirnya sudah banyak menanggung beban tanggung jawab yang besar. Tidak banyak waktu dan tenaga yang ia miliki sejak pertama kali seluruh ingatannya kembali, sehingga ia hampir tidak punya waktu untuk mencari Haechan di kesehariannya karena keluarga telah menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
Lalu sampai di satu hari tepat dimana ia menginjak usia dua puluh, Mark melihat wajah Haechan untuk pertama kali. Indahnya masih sama, sesuatu dalam dirinya tetap mampu memikat jiwa siapa saja.
Mark pertama melihatnya di layar televisi, diperkenalkan sebagai salah satu personil dari kelompok penyanyi pendatang baru yang langsung menarik banyak perhatian orang. Sayangnya kondisi Mark menahan dirinya untuk mampu langsung meraih Haechan, dunia mereka terlalu berbeda dan rasanya hampir mustahil bagi Mark untuk bahkan berada di satu tempat yang sama dengan Haechan.
Ada sederet pekerjaan yang harus Mark lakukan untuk membiayai ibu dan adik-adiknya, ada berlipat tanggung jawab yang harus Mark selesaikan untuk membebaskan keluarganya dari kemiskinan.
Maka hari demi hari, bulan demi bulan pun terlewati. Mark hanya mampu menjangkau Haechan sebatas pada menerima kabar dari apa yang disampaikan dari berita-berita di radio dan televisi.
Tapi kemudian satu kabar muncul, bahwa grup musik Haechan terpaksa harus dibubarkan karena katanya mereka tidak banyak memberikan keuntungan bagi perusahaan. Terlepas dari bagaimana grup tersebut begitu menarik perhatian dan populer di awal kemunculannya, nyatanya kemunculan grup lain yang lebih baru dan lebih fresh disebut sebagai pemicu utama yang membuat mereka jadi kalah saing. Tak lama setelah kabar itu berlalu, lantas Mark benar-benar kehilangan jejak Haechan. Lelaki itu bagai menghilang di telan bumi, dan Mark sama sekali tidak bisa banyak mencari di tengah tekanan ekonomi yang semakin mencekik hidupnya kali ini.
Saat itu, Mark pikir untuk pertama kalinya ia merasa seputus asa ini.
Putus asanya juga tidak cukup hanya soal itu, sebab pada akhirnya Mark juga sampai harus ambil keputusan untuk ambil pekerjaan yang tidak semua orang akan memandangnya baik karena itu. Tapi sekali lagi, sejak awal Mark sudah merasa tidak berdaya dan begitu putus asa. Penilaian orang lain pada akhirnya tidak akan mampu menghidupi ia dan keluarganya yang mungkin bisa mati kelaparan kapan saja.
Golden Hour Hotel. Kamar 268.
Ya. Mark mengambil langkah sebagai Pekerja Seks Komersial. Ini sudah berjalan selama hampir satu tahun lamanya, dan Mark sudah sama sekali tidak peduli apa pun lagi. Ia hanya hidup untuk menghidupi keluarganya, dan kalau sang takdir masih mengasihinya maka mungkin dirinya akan tetap diberi kesempatan untuk bertemu dan kembali bersatu dengan cintanya.
“M-mark—ahh.”
Bersatu dengan cintanya.
Mark tertawa dalam hati. Percayanya ia pada takdir agaknya terlalu berlebihan. Karena memangnya, apa sih yang bisa diharapkan? Takdir 'kan memang akan selalu bermain-main dengan hidupnya, sebagaimana di kamar 268 Hotel Golden Hour ini dimana ternyata ia menerima panggilan dari sosok yang selama ini sangat begitu ia rindukan.
Menyatu kembali dengan cintanya.
Haechan kini mengambil alih kontrol, ia berada di atas Mark dan mengatur tempo semaunya—sebanyak ia butuh untuk mengejar nikmatnya. Haechan suka memegang kontrol dan berkuasa, karena hidupnya selama ini selalu berada di bawah tekanan suami kaya rayanya yang penuh kuasa; Haechan dikontrol sedemikian rupa atas landasan cinta yang sebenarnya tak lebih dari obsesi belaka.
Sementara Mark sama sekali tidak keberatan, ia tidak berani untuk banyak memikirkan suatu hal yang belum tahu akan jadi seperti apa di masa depan. Lagi pula ini sudah lama sekali sejak mereka saling menyentuh secara intim dan tentunya ini akan jadi sebuah kebohongan besar kalau Mark bilang ia tidak menikmati ini.
Sayangnya, di esok pagi Mark harus bangun dengan kenyataan pahit. Haechan meninggalkannya sendiri, dengan setumpuk uang yang Mark tiba-tiba tak begitu berarti dan ia pikir sudah tidak dibutuhkan sama sekali.
Mark ingat betul, semalam Haechan bilang nama Mark terdengar begitu sexy dan pas dilidahnya untuk didesahkan. Haechan bilang, ia akan mengingat Mark untuk seumur hidupnya. Mark adalah orang pertama yang mampu beri rasa aman dan nyaman baginya, bahkan di pertemuan pertama mereka malam itu.
Di balik sorot mata sayu dan lelahnya, Haechan sungguhan terlihat begitu meyakinkan; janjinya untuk tidak akan melupakan Mark seperti memang akan ia tepati.
Nyatanya Haechan ingkar.
Lantas ia bangkit dari ranjangnya dengan perasaan kecewa, lalu ia menyalakan televisi untuk mencari penghiburan tapi hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah berita duka. Katanya, telah ditemukan korban yang diduga bunuh diri dengan menenggelamkan diri bersama mobilnya ke dalam sungai.
Nyatanya memang takdir bisa jadi sekejam itu, karena hanya dengan bermodal firasat pada akhirnya Mark nekat untuk mencari tahu soal berita itu. Lalu ternyata sosok yang semalam masih hangat di balik sentuhan kulitnya itu tahu-tahu dalam sekejap sudah mendingin dan tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan lagi.
Ternyata Haechan tidak ingkar.
Haechan benar-benar mengingat nama Mark untuk seumur hidupnya, sampai nafas terakhirnya.
Dalam duka dan pilu di kehidupannya kali ini, Mark harap semoga ini terakhir kalinya Haechan meninggalkannya.
Haechan tetap melupakannya, untuk kesekian kalinya hingga Mark terbiasa dengan rasa kecewanya.
***
Kemudian Mark menjadi sedikit lebih berani di kehidupan lainnya. Ia adalah sosok yang sangat populer, banyak sekali dikenal orang karena tulisannya begitu memikat hati hampir semua kalangan.
Mark ada penulis. The best seller of all time.
Bukunya membuat banyak orang jatuh cinta, pada alur dan pada karakter yang selalu Mark jadikan sebagai pemeran utama.
“Jadi siapakah Sang Muse?” tanya seorang pembawa acara dengan antusias, di satu hari di antara rangkaian Book Signing Event yang Mark selenggarakan. “Karena kita semua ini begitu penasaran loh, siapa sosok di balik tokoh “Sang Surya” di series novel yang sangat kita cintai itu.”
Ini adalah pertanyaan klasik, Mark sudah menerimanya sebanyak yang ia sampai tak mampu menghitungnya lagi. Pun semua orang sama sekali tidak berekspektasi sedikit pun, karena sebesar rasa penasaran mereka terhadap jawabannya maka sebesar itu pula rasa kecewa mereka di setiap kali Mark menolak untuk memberikan jawaban.
Mark tersenyum. Kali ini karena ia pikir tulisanya sudah rampung diselesaikan dan bukunya mungkin juga sudah begitu banyak tersebar di luar sana, maka tidak ada salahnya kalau kali ini ia bertindak berani.
“Dia…,” jawabnya sengaja menggantung, dan itu sukses buat semua terperangah karena untuk pertama kalinya Mark seperti berminat untuk memberi kejelasan soal misteri ini. Maka tidak ada satu pun yang tidak memiliki antisipasi tinggi. “...adalah seseorang yang selalu aku temui dalam mimpi.”
Lalu semua orang seperti tidak bisa sembunyikan ekspresi kecewanya, banyak di antaranya yang mendesah lesu karena Mark tetap tinggalkan jawaban tak pasti yang meninggalkan misteri. Tapi si pembawa acara juga dikenal sebagai salah satu yang terbaik dan handal, pun ia diam-diam adalah penggemar berat dari semua mahakarya Mark.
“Oh…, menarik sekali ya,” komentarnya sebagai sebuah pembuka. “KIra-kira seseorang dalam mimpi itu memang nyata? Atau memang hanya sosok yang…, imajiner saja?”
“Nyata.”
“Siapa…?!” Suara itu menginterupsi, yang sumbernya dari salah satu teriakan penggemar di kursi penonton. Lalu disusul oleh teriakan lain yang terdengar lebih gregetan. “Namanya! Sebut namanya, Kak!”
Beruntungnya suasana tetap bisa dikendalikan dan kondusif, sebab Mark menanggapi dengan santai. “Kalian ingin tahu namanya?”
“YA!!!” jawab semua orang dengan antusias.
“Haechan.” Satu-satunya yang aku cari, yang selalu aku cintai. “Namanya, Haechan.”
Lalu nama itu berhasil menjadi headline berita populer karena paling banyak dibicarakan di beberapa jam setelahnya. Seisi penjuru bagai dibuat geger dan makin penasaran tentang Mrk sangi penulis buku terkenal dan muse misteriusnya yang bernama Haechan. Tapi begitu esok harinya ketika kediaman Mark sudah begitu dikerumuni oleh para reporter yang ingin menggali lebih dalam untuk kemudian mengangkat kisah tersebut jadi headline berita populer lain, sang penulis telah terlebih dulu pergi dan menghilang tanpa jejak yang bisa diketahui.
Mark bersembunyi, di tempat yang hanya bisa dirinya dan Haechan ketahui. Ada banyak petunjuk yang ia tulis di setiap cetakan karya yang ia hasilkan, dan kalau semua itu ternyata sampai pada Haechan sekaligus bisa dia lihat bagaimana sikap beraninya kemarin, maka seharusnya Haechan akan mencari Mark.
Maka Mark menunggu. Ia menunggu sampai waktunya habis di kehidupan itu. Tapi Haechan tidak menemukannya.
Haechan lagi-lagi tidak mengingatnya, terlebih mencari keberadaannya.
***
Takdir Mark dan Haechan yang telah ditentukan, terkisah dalam bentuk yang macam-macam. Mark sudah terbiasa menelan kecewa, tapi ia tidak akan menerima apapun lagi bentuknya kalau itu bukan berakhir dengan dirinya dan Haechan yang akan kembali bersama.
Di kehidupan sekarang, Mark hanya memiliki satu lagi kesempatan terakhirnya. Mark telah berakhir di kehidupan kesepuluhnya, sebagai seseorang yang jauh lebih terkenal hingga popularitasnya mendunia.
Mark harus menjangkau Haechan sejauh yang ia bisa, lalu ia tidak akan biarkan Haechan lepas dan pergi dari jangkauannya dengan begitu saja seperti yang sudah-sudah.
Tetaplah berada di sisiku, Haechan.
Itu adalah janji yang pertama Haechan sanggupi. Mark ingat, Haechan berjanji untuk menepatinya.
Haechan, tolong tepati janjimu.
“Haechan, tolong tepati janjimu.” Mark tidak suka berputus asa, jadi paling tidak ia membutuhkan satu hal pasti untuknya berpegangan sehingga ia mampu untuk tetap tegar nantinya. “Kamu harus menepatinya.”
“Janji apa?”
Mark tahu Haechan sedang bercanda, tapi menurutnya ini waktu yang tidak tepat jadi ia merenggut, “Haechaaan,” protesnya kemudian. “Aku serius.”
Tawa renyah yang kemudian lolos dari mulut Haechan, agaknya bisa membuat Mark jadi tidak tahan untuk merajuk lebih lama lagi. Di tambah kini tangannya mengusak lembut surai Mark, dimana posisinya sekarang lelaki itu tengah berbaring di pangkuannya. “Iya, aku ingat.”
“Ingat apa?”
“Ingat janjinya.”
“Memang janjinya bagaimana?”
“Aku akan tetap berada di sisimu.” Tangannya kini mengusap kening Mark lembut, lalu bergerak turun menangkup sebelah sisi wajahnya untuk kembali mengusap di pipinya. “Walau mungkin besok nanti akan ada yang memisahkan kita. Tapi percayalah aku akan selalu bersamamu—” kini tanganya kembali berpindah, menyentuh dada kiri Mark. “—di sini.”
Takdir mereka telah diputuskan, keduanya sudah tahu itu. Tidak lama lagi keduanya sungguh akan dipisahkan, dan bertaruh atas cinta mereka di sepuluh kehidupan.
Tangan Haechan diraih Mark lalu diremas kuat tak ingin lepas, seolah genggaman itu adalah hal terakhir yang mampu membuat mereka berdua untuk tetap bersama.
“Tidak. Itu saja tidak akan cukup bagiku, Haechan.” geleng Mark kecil. Lantas tanpa melepas tangan Haechan dari genggamannya, ia pun bangkit dan memposisikan tubuhnya untuk duduk tepat di samping sang pujaan. “Meski nanti ada yang memisahkan kita, kamu harus tetap kembali padaku. Berada di sisiku.”
Mark tahu dirinya egois dan begitu pula Haechan yang menginginkan sama besarnya, sehingga mungkin itu lah yang membuat Haechan jadi sama sekali tidak bisa menutupi kesedihan di balik sorot mata teduhnya.
“A-aku—” Pupil Haechan bergetar ragu. Selama ini hidupnya selalu tidak pernah berjalan sesuai dengan apa yang ia inginkan; sudah sangat terbiasa dipermainkan, dikecewakan, dihancurkan. Satu-satunya dimana dirinya merasa aman adalah ketika ia berada dalam pelukan Mark, yang sebentar lagi juga ia akan dipisahkan dengan itu. Dan optimisme adalah salah satu yang sering kali tidak ia mampu kuasai, seperti sekarang ini. “—k-kita mungkin berakhir se—”
Kalimat itu tidak sempat terselesaikan, sebab Mark terlanjur membungkamnya dengan sebuah ciuman.Rasanya masih tetap sama; manis dan penuh cinta. Haechan merasa ia begitu berharga.
Aku mencintaimu. Keduanya berbisik pilu di dalam hati, saling berbalas cium menyalurkan emosi. Mereka saling mencintai.
Sedikit pun Haechan tidak mengira, bahwa dirinya yang ia pikir sudah mati sejak lama ternyata masih bisa mendamba hingga rela jatuh sebegini dalamnya. Dalam belenggu jiwa Mark, raga yang Haechan pikir sudah tidak bernyawa ini ternyata mampu hidup kembali untuk mencinta.
Semua itu pada akhirnya buat Haechan runtuh juga, lelehan air mata sudah tak bisa dibendung lagi seiring dengan kedua kelopak matanya yang menutup perlahan.
“Jangan terlalu banyak menangis lagi setelah ini,” pinta Mark lembut, begitu ciuman mereka terlepas. Kedua tangan menangkup sisi wajah sambil ibu jari mengusap jejak air mata kekasih hatinya—padahal ia tak kalah terlihat menyedihkannya karena matanya pun ikut basah juga. “Kamu hanya perlu untuk kembali mengingat aku. Mengingat kita.”
Tidak ada kalimat yang mampu terucap setelahnya, melainkan Haechan mengangguk dengan pasti dan menarik Mark ke dalam pelukannya. Tangisnya pecah lagi, jatuh pasrah membasahi bahu Mark seraya ia balas memeluk erat sambil diusap halus puncak kepala Haechan meski dengan tangan yang bergetar.
Meskipun Haechan memang menjawab tanpa suara, tapi ia telah bersumpah dengan seluruh jiwanya; janjinya kepada Mark akan ditepatinya. Ia akan mengingat Mark, mengingat kisah mereka berdua.
Haechan tidak akan lupa.
Haechan lupa.
Panik mulai merayap di hatinya begitu semakin disadari kalau dirinya memang tersesat. Lantas pandangannya beredar mengamati sekelilingnya, asing. Sejauh matanya memandang, hanya ada koridor yang seperti tak berujung serta beberapa orang yang terlihat sibuk kesana-kemari dengan ekspresi serius sehingga sering kali Haechan tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk bertanya karena segan.
“Ahhh…, sial.”
Semoga ini bukan pertanda buruk, pikirnya agak berlebihan. Pasalnya, berada di tempat ini pun memang bukanlah sesuatu yang ia rencanakan sejak awal. Tapi Haechan tidak punya pilihan lain, karena ternyata rasa sayangnya—pada sang siswa yang katanya ingin mengejar mimpinya sebagai seorang penyanyi idola itu—jauh lebih besar daripada rasa enggannya. Maka Haechan berakhir memutuskan untuk mau membantu; menyetir ke pusat kota selama kurang lebih tiga jam demi mengantar sang siswa tersayang menuju salah satu gedung stasiun televisi nasional.
Lalu karena kru dari acara mengetahui kalau Haechan lah wali dari salah satu peserta mereka yang menonjol dan begitu menarik perhatian, maka ia diminta melakukan sesi interview untuk ditampilkan di penayangan episodenya nanti. Haechan tentu tidak mampu untuk menolak, dan meski prosesnya tidak lama tapi itu tetap membuatnya gugup sehingga ia langsung melangkah cepat ke toilet setelahnya.
“Duh. Emang bodoh banget…”
Haechan kembali mengeluh, frustasi pada dirinya sendiri karena bisa-bisanya ia sampai lupa dan sama sekali tidak tahu harus ambil jalan kemana untuk kembali ke studio dimana audisi pencarian bakat tadi tengah diselenggarakan.
Lantas sekali lagi, Haechan mengedarkan pandangan dan mental pun tak lupa ia persiapkan. Lalu begitu ia lihat ada seorang dengan pakaian bertuliskan “CREW” beserta pernak-pernik alat kerjanya, maka dengan cepat ia hadang orang tersebut. “Permisi, boleh saya—”
“—aduh maaf,” potong sang crew itu tanpa ragu langsung menolak Haechan. “Soalnya ini tentang Mark. Saya harus buru-buru banget. Maaf ya.” Lalu pergi berlari cepat meninggalkan Haechan yang membeku seketika.
Oh, no. Ini kayaknya memang pertanda buruk, pikirnya yang jadi makin berlebihan dari sebelumnya. Meski Haechan juga tahu kalau tidak seharusnya ia merasa begitu paranoid atas sesuatu hal yang sudah sangat jelas begitu absurd; melihat—terlebih bertemu langsung dengan Mark. Itu jelas tidak mungkin terjadi. Tapi di sisi lain juga Haechan tidak bisa pungkiri, ia takut.
Sebagaimana alasan utamanya dulu, satu hal yang paling membuat Haechan enggan membantu muridnya itu adalah karena keterlibatan Mark. Haechan sangat menghindari sosok itu, fakta ini tetap tidak berubah bahkan sampai sekarang. Terlebih setelah kejadian aneh beberapa waktu lalu dimana ia sampai menangis tanpa alasan hanya karena melihat Mark di layar televisi—like, for God’s sake, he’s just appeared on a fucking screen—dan Haechan sudah sebegitu tidak nyaman dan terganggunya. Haechan tidak bisa—ia tidak menyukai eksistensi Mark.
“Oke, tenang. Haechan, jangan lebay,” monolognya kemudian. Berusaha optimis dan menekan segala gelisahnya. Lantas lanjut bicara seolah ia merapal mantra. “Kamu gak akan mungkin ketemu sama Mark. Kamu cuma perlu kembali ke tempat audisi tadi dan menunggu sambil menonton sampai selesai, lalu pulang. Oke, tenang.”
Kemudian muncul lagi satu orang, dengan pakaian dan atribut yang sama seperti sebelumnya. Tapi kali ini instingnya justru bergerak untuk melangkah mengikuti crew tersebut, sebab ia kapok dan jadi malas bertanya. Pikirnya, crew tersebut pasti tidak akan berada jauh-jauh dengan lokasi audisinya dan ketika nanti Haechan sudah menemukan orang lain yang sekiranya terlihat sedikit lebih santai maka barulah ia akan kembali bertanya.
Di dua menit setelahnya, Haechan mulai merasa cukup familiar. Ia bisa lihat ada beberapa label penunjuk arah dengan logo dari ajang pencarian bakat tersebut tercetak jelas di sana. Oke, ini berarti Haechan hanya tinggal mencari label yang menunjukkan ke arah ruang tunggu dimana ia sebelumnya diarahkan untuk menunggu di sana.
Ruang Tunggu Artis ➞
Haechan panik bukan kepalang, terlebih ketika ia menyadari crew yang diikutinya ternyata berbelok sejalan dengan penanda arah tersebut. Maka tentu saja kakinya buru-buru melangkah ke arah yang berlawanan. Ia berjalan cepat dalam langkah-langkah yang kecil makin menjauh, dengan adrenalin yang entah kenapa tiba-tiba berpacu. Pandangannya mengedar gelisah, dan pada akhirnya dengan terpaksa (karena tidak mau merepotkan apalagi menghambat proses audisi), Haechan pun merogoh saku untuk mengambil ponselnya untuk menghubungi sang murid.
Maka selanjutnya fokus Haechan teralih secara utuh pada layar di genggaman, ibu jarinya berulir di atas permukaan datar tersebut dan tinggal selangkah sebelum dirinya menekan opsi dial. Tapi—
Bruk! Bahu Haechan tiba-tiba disenggol cukup keras hingga ponselnya nyaris terjatuh begitu saja andai ia tidak bergerak cepat untuk menangkapnya.
“Maaf. Saya—”
“Iya, tidak apa-apa,” potong Haechan tanpa sempat menoleh. “Saya juga yang sal—”
“Haechan?!”
Si empunya nama yang dipanggil jelas langsung menoleh cepat, kaget namanya tiba-tiba dipanggil. Tapi ternyata kagetnya tidak cukup sampai situ saja, sebab kejutan lain langsung datang menampar seluruh realitanya begitu ia lihat siapa kini sosok yang berada tepat di hadapannya.
Mark. He is Mark Lee.
Haechan terperangah; matanya membola sempurna dan bibirnya menganga kecil. “A-a—” tapi sebanyak apa pun kata yang berkerumun di kepalanya, ia justru jadi sama sekali tidak bisa berbicara banyak selain dengan terbata, “—Mark—?!”
Selanjutnya Mark terlanjur menarik Haechan ke dalam pelukan, tanpa peduli ia yang bahkan baru mengucapkan sepatah kata. “Ahh—” lalu tangan yang melingkari bahu Haechan itu memeluk makin erat. “— Haechan…, I miss you. So much.”
Kedua kelopak mata Haechan berkedip-kedip cepat dengan lucu, ia tidak bisa berbuat banyak selain diam membeku. Tidak mudah untuk mencerna situasi yang tiba-tiba terjadi padanya sekarang ini, tapi Haechan bisa merasakan kalau tubuhnya justru merespon dengan baik sikap Mark. Aneh.
Mereka berada dalam posisi itu selama beberapa menit, dan Haechan seperti sama sekali tidak punya kuasa untuk menolak. Segala gelisah dan takut yang ia rasakan sebelumnya seolah menguap entah kemana dengan begitu saja, sehingga kini bahkan tangannya malah bergerak naik untuk balas pelukannya.
And It’s warm. Tidak hanya dirasakan oleh tubuh Haechan saja, tapi hatinya juga. Ini seperti pelukan itu adalah sesuatu yang memang harus terjadi, rasanya begitu pas dan menenangkan bagai Haechan akhirnya pulang setelah sekian lama. Is that even possible? Haechan main tidak mengerti terhadap dirinya sendiri.
Kenapa sih? What the hell is wrong with me?
Maka di detik selanjutnya, baru Haechan tersadar sepenuhnya kalau tidak ada sedikitpun hal yang tengah terjadi di antara mereka berdua sekarang adalah sesuatu hal yang normal dilakukan.
“Mark…,” panggil Haechan pelan, kemudian tangannya berusaha mendorong tubuh lelaki itu dengan pelan. “M-maaf…”
“A-ah, enggak—harusnya saya yang minta maaf.” Mark melepaskan peluknya dengan kikuk, dan berat hati. “Apa saya bikin kamu gak nyaman? Maaf.”
Iya. Harusnya Haechan menjawab iya , dengan keras dan tegas. Tapi respon yang ia berikan justru malah mengkhianati dengan menunjukkan sebuah gelengan kecil, lalu menjawab dengan pelan, “Enggak kok. Saya cuma—kaget. Sedikit.” Tubuhnya Kalimat itu keluar tanpa melewati proses pengolahan terlebih dulu di dalam otak Haechan. “T-tapi saya pikir, kamu sepertinya sudah salah orang…?” lanjutnya kemudian.
“Kenapa?” Adalah respon spontan yang Mark berikan. Tapi kemudian menggeleng cepat, begitu sadar kalau reaksinya mungkin memang terlihat janggal kalau dilihat oleh orang lain. “Maaf, maksud saya, enggak. Saya gak salah orang. Tapi sebelum ke sana, boleh saya bertanya dulu?”
“Apa?”
“Kamu—” Mark menelan ludahnya, basahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa begitu kering. Jantungnya berdegup dengan gugup. “—apa kamu…, mengenal aku?”
“Tentu. Kamu Mark,” jawab Haechan, yang langsung buat jantung Mark seperti jatuh merosot ke perut. Hatinya mulai dilingkupi oleh berbagai antisipasi dari lanjutan kalimat yang Haechan ucapkan, “Sekarang ini, hampir enggak ada orang yang enggak mengenal artis sepopuler kamu, Mark.”
Ah. Lalu harapan Mark mulai terkikis sedikit demi sedikit. Ada kecewa yang sudah begitu familiar ia rasakan, Mark sudah seperti sudah hafal pada skenario apa yang mungkin tertulis tentang mereka pada kehidupan ini. Tapi menjadi putus asa dan menyerah begitu saja bukanlah pilihan yang ingin Mark ambil sekarang.
Mark lantas memegang kedua bahu sosok di hadapannya yang masih sangat ia rindukan itu. “Haechan,” panggilnya lembut, begitu ia rasa dirinya tidak menangkap adanya tanda penolakan. Kemudian tangannya bergerak naik untuk menangkup kedua sisi wajah Haechan. “Look at me.”
Haechan menurut, ia luput pada fakta kalau Mark mengenal namanya ketika bahkan ini adalah pertemuan pertama bagi keduanya. Entah mengapa tapi tubuhnya bagai tersihir mantra—lagi dan lagi mengkhianati apa yang ia pikir seharusnya dirinya lakukan. Haechan memandang Mark, membalas pada bagaiman kedua jelaga hitam itu telah memandangnya duluan. Lalu perasaan itu muncul kembali, kali ini jauh lebih jelas dan kuat dari sebelumnya ketika Haechan memandangi sorot mata itu di balik layar televisi beberapa waktu lalu.
Hampa…, seolah kehidupan di sana telah lama kehilangan jiwanya.
Dan Haechan benci pada bagaimana hatinya menjadi pilu melihat semua sorot mata sendu itu. Dadanya sesak, dan ia sadar kalau seharusnya ia melarikan diri dari semua kejanggalan ini.
“Lepas.” Tapi sama seperti yang sudah terjadi sebelumnya, tubuhnya bagai terkena mantra sehingga ia jadi tidak berdaya jika itu tentang Mark. Maka begitu dengan mulutnya yang minta supaya Mark melepaskannya, segala hal lain dalam diri Haechan justru sama sekali tidak melakukan apa pun untuk mendorong sosok itu menjauh darinya. “Lepas, Mark…” ulangnya lagi, yang justru terdengar semakin melemah, seolah ia menjadi ragu apakah itu adalah hal yang sungguhan ia inginkan?
“Enggak,.” geleng Mark. Pandangannya tetap tidak dialihkan barang sedetik pun. Ibu jarinya bergerak mengusap halus pipi Haechan, sebagai gesture yang menenangkan dan meyakinkan kalau ia tidak akan melakukan hal yang mengancam. “Aku gak bisa lepas sebelum kamu jawab pertanyaan aku dulu.”
“Apa lagi?”
“Kamu yakin enggak mengenali aku?” tanya Mark sekali lagi. Penuh harap. “Enggak mengingat sedikitpun tentang aku, hm?” Mengingat semua tentang kita.
Haechan menggigit sudut bibirnya. Ia jelas tahu jawabannya adalah, tidak. Tapi kenapa rasanya seperti satu kata itu tertahan di ujung lidahnya?
Sial. Mark ini sebenarnya apa?
“Haechan…” panggil Mark kemudian, agaknya ia menjadi sedikit lebih tidak sabaran karena tak kunjung mendapatkan jawaban.
“Enggak,” jawab Haechan cepat. Sepenuhnya mengabaikan nyeri yang muncul di sudut hatinya ketika akhirnya menyelesaikan semua kalimatnya. “Ini pertama kalinya kita bertemu. Jadi gak mungkin aku mengingat kamu, lebih dari siapa kamu yang selama ini dibicarakan orang-orang.”
Kini semua harapan Mark pupus seketika, hingga tak bersisa. Pegangannya terlepas, kedua tangan itu jatuh kembali ke sisi tubuhnya dengan lemas.
“Maaf…,” ucap Haechan lemah. Ia sendiri bahkan tidak mengerti kenapa harus dirinya meminta maaf ketika tidak ada kesalahan apa pun yang dilakukannya. Iya ‘kan?
Tapi rasa bersalah itu nyata adanya, sampai buat dadanya terasa semakin sesak dari sebelumnya. Kedua tangan Haechan terkepal hingga buku jarinya memutih, menekan segala gejolak emosi yang sama sekali tidak mampu ia pahami.
“No. It’s ok,” angguk Mark kecil, sambil tersenyum maklum. “Ini memang aku yang—” ia sama sekali enggan untuk mengakui ini, “a-aku yang salah. I’m sorry. My bad.”
“Okay,” balas Haechan pelan. Ia sempat menangkap senyum Mark barusan, dan sesuatu dalam dirinya buat ia ingin menangis. Meski Haechan pikir ia sepenuhnya sadar kalau dirinya tidak bersalah, tapi rasanya tetap seperti ia telah melukai Mark begitu saja. Maka melihat senyum yang masih bisa Mark tunjukkan untuknya, entah mengapa itu justru terlihat begitu menyakitkan di matanya sekarang. Haechan sama sekali tidak sanggup untuk terjebak dalam situasi ini lebih lama lagi. “Kalau gitu, tidak ada yang harus kita bicarakan lagi ‘kan? Boleh saya pergi?”
“Ah, iya. Tapi—” Menyerah bukan sebuah pilihan. “—apa boleh kita bertemu lagi setelah ini?”
Haechan terbelalak. Ia sama sekali tidak mengira Mark akan melakukan ini. “Maaf?” tanyanya memastikan kalau ia tidak salah mendengar ucapan lelaki itu.
“Aku tertarik sama kamu,” ungkap Mark tegas, tanpa ragu. Kalau Haechan tidak mengingatnya—mengingat janji kalau Haechan akan tetap berada di sisinya, maka Mark sendiri yang akan memastikan supaya janji itu tetap Haechan tepati. “Tolong izinkan aku untuk berada di dekat kamu, Haechan.” Supaya di kehidupan ini, di kesempatan terakhir yang kita miliki, paling tidak kamu tetap bisa berada di sisiku.
Ini tidak masuk akal. Mau bagaimana pun Haechan memikirkan situasi di antara mereka berdua, tidak ada satu pun di antara itu semua yang bisa diterima oleh logikanya. Mark adalah sosok yang bahkan tidak pernah ia kenal itu justru jadi satu-satunya orang yang paling selalu ia hindari, karena dengan alasan yang Haechan juga tidak bisa pahami lelaki itu seperti punya pengaruh terhadap hati dan emosi yang ia miliki.
Tapi kemudian tiba-tiba saja lelaki itu bilang ia tertarik pada Haechan, dan meminta izinnya untuk mendekatinya. Bagaimana bisa? Dan bagaimana mungkin juga Haechan mau untuk membolehkannya begitu saja?
“Mark, this is ridiculous,” jawab Haechan tak habis pikir.
“I know.” Tapi Mark tidak peduli. He got nothing to lose. “Tapi enggak ada salahnya untuk kamu kasih kesempatan, ‘kan? It won’t hurt anyone to try. I promise.”
Dan Haechan pasti sudah gila karena sempat terbersit dalam kepalanya untuk sungguhan memberi Mark kesempatan. Entah itu memang Mark dan segala sisi misterius dalam dirinya yang bagai punya kekuatan sihir untuk mengendalikannya, atau kah ternyata itu adalah suatu hasrat dalam diri Haechan yang telah lama tersembunyi dan mulai merebak keluar dan mempengaruhinya dari bawah alam sadar? Entah. Haechan tidak berminat untuk memahami lebih dalam soal itu.
“Enggak.” Maka itulah yang jadi keputusan Haechan pada akhirnya. Meski dipikir dengan dangkal pun, terlibat dengan seseorang seperti Mark Lee yang begitu populer itu tetaplah sebuah hal beresiko besar. Haechan tidak siap untuk itu. “Maaf, Mark. Tapi aku gak bisa.”
“Tapi Haechan—”
“Maaf,” potong Haechan. Kakinya melangkah mundur dan ia sama sekali tidak ingin terlibat lebih jauh dalam dari ini. “Aku pergi. Maaf sekali lagi.” Lalu dengan begitu, Haechan berbalik dan melangkah pergi tanpa sedikit pun memberi kesempatan Mark untuk menahannya sama sekali.
Mark diam terpaku, seolah tubuhnya dibekukan oleh dinginnya penolakan dan perasaan dilupakan. Tidak banyak hal yang bisa dilakukannya selain memandangi bagaimana punggung Haechan itu kini bergerak menjauh jadi semakin kecil, hingga akhirnya hilang dalam pandangan.
Haechan meninggalkannya untuk yang kesekian kali.
Haechan melupakan Mark lagi, di kesempatan mereka yang terakhir kali.
Haechan tidak mampu menepati janji.
