Actions

Work Header

Take A Chance With Me

Summary:

Tentang perjalanan dan pelajaran cinta seorang Kim Mingyu.

Notes:

Halo semua! Ini adalah cerita yang aku terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, aku juga sudah mempublishnya di ao3 dalam bahasa Inggris. Aku harap dengan menggunakan bahasa Indonesia, perasaan yang ingin aku bagikan bisa sampai ke kalian. Shout out untuk peakykoko karena editan Take A Chance With Me nya membuatku menulis cerita ini!

Jangan lupa dengerin lagu Take A Chance With Me on loop selama baca ini ya! IT'S! A! MUST!

Work Text:

Pernahkah kamu merasakan betapa sulitnya hidup seorang diri di dunia yang luas ini? Bukan karena kamu tidak memiliki teman atau keluarga, tapi karena hatimu yang terbiasa terisi dengan kehadiran sosok yang berharga sekarang terasa kosong dan hanya tersisa debu kenangan yang semakin berkurang setiap harinya, meninggalkanmu dengan sedikit hal untuk diingat. Aku percaya kita semua yang kesepian bisa merasakan kekosongan yang sama, baik itu karena kesulitan hidup sendiri jauh dari keluarga atau merindukan kehadiran seseorang yang pernah mengisi relung hatimu. Aku merasa tidak hidup karena perasaanku telah terenggut dariku dua tahun yang lalu, tapi kini perasaan itu secara perlahan hadir kembali, mengisi pikiranku dan menyebabkan rasa sesak yang memenuhi hatiku, aku merindukan seseorang yang mungkin tidak lagi merindukan diriku.

Perpisahan tiga tahun lalu adalah sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya, kami telah menjalani hubungan yang indah selama lima tahun lamanya meskipun terkadang kami tersandung beberapa kerikil kecil yang mampu membuat kamu terhuyung dan jatuh. Namun tangannya yang terus menggenggam tanganku membuat kami berdua menjadi lebih kuat dan saling percaya bahwa kita bisa saling menjaga. Hingga sebuah batu besar menghalangi jalan kami dan memaksa kami untuk berhenti, menatap batu itu dalam diam.

“Hari ini, ya?”

“Hari ini”

Malam itu kami bersama-sama mendorong dengan sekuat tenaga batu besar yang menghalangi langkah kami, tapi kekuatan yang kami kerahkan tidak cukup untuk membuat batu itu bergeser meski beberapa senti dari posisi aslinya. Keringat telah membasahi tubuh kami, membuktikan bahwa kami telah mencoba sekeras mungkin untuk melawan dan berjuang untuk jalan kami, namun batu itu masih di tempatnya, menghalangi kami.

Bersama dengan dirinya selama lima tahun adalah kenangan yang tidak mudah untuk aku lupakan, wajahnya yang mempesona yang sering ia sembunyikan di ceruk leher saya ketika merasa malu, tangan besarnya yang selalu menggenggam tangan kecilku, tangan yang memberikanku rasa aman ketika duniaku sedang tidak baik-baik saja, tubuh hangatnya yang selalu merangkulku setiap malam, segalanya, segalanya tentang dia yang tidak bisa aku lupakan begitu saja. Terutama senyumnya, senyum yang selalu hadir dan mewarnai kehidupanku yang hitam putih, senyum yang terukir dalam suka maupun duka.

“Semuanya akan baik-baik saja, sayang”

Ah, air mataku kembali jatuh, mengingat semua kenangan yang membuat kami berdua berjanji untuk terus bersama dan berjuang melawan dunia hingga kami tidak bisa melakukan apapun lagi, meskipun kami telah berjuang sekeras yang kami bisa, pada hari itu, tepatnya tiga tahun lalu ketika aku pikir hubungan kami baik-baik saja dan aku yakin tidak ada lagi rintangan, takdir berkata lain kepada kami.

Aku, Jeon Wonwoo, malam itu hanya bisa menangis dalam diam di dekat jendela apartemenku, menatap titik-titik cahaya dari gedung pencakar langit dengan mataku yang bengkak dan merah. Mengingat kembali kenangan kami selama lima tahun, waktu yang kami habiskan bersama yang tenggat waktunya berakhir malam ini. Terbungkus dalam selimut coklat, tubuh hangatnya memelukku seerat yang ia mampu, kesedihannya bisa aku rasakan melalui sapuan lembut tangannya di lengan kananku serta detak jantungnya yang berdenting tepat di telinga kiriku. Perjalanan dan kenangan kami berakhir dengan pelukan hangat dari Kim Mingyu sebelum dia meninggalkanku dan kenangan kami.

 


 

“Wonwoo”

Napasku seketika berhenti dan tubuhku membeku ketika suara familiar yang berasal dari masa laluku memanggil namaku di lobby kantorku saat makan siang. Langkahku kikuk, perasaanku tidak tenang. Aku ingin berbalik dan melihat sosok itu, menyapanya lagi seperti dahulu. Dengan napas panjang aku memutuskan untuk berbalik dan tersenyum kepadanya, aku percaya dia mengerti arti dibalik senyumku; bahwa aku takut.

“Seokmin”

 


 

Tidak biasanya bagiku untuk terbangun pagi sekali dan bersiap di apartemenku untuk bekerja. Jam menunjukkan pukul delapan dan aku sudah berpakaian rapi duduk di sofa biruku dengan sepotong sandwich berisi ayam dan alpukat di tangan kananku. Biasanya aku akan bangun di pukul delapan dan pergi bekerja pukul sembilan, aku selalu melewatkan sarapan. Hari ini aku terbangun pukul tujuh dan selesai bersiap di pukul delapan untuk menonton program TV yang belum pernah aku lihat sebelumnya, berita pagi.

Suaranya masih sama, tegas namun lembut, berat namun menenangkan. Senyumnya masih saja hangat, kobaran matanya penuh ambisi, semangat dan impian yang selalu ia sembunyikan di balik senyum hangatnya saat bersama dengan diriku. Sosok yang telah membuatku gelisah selama dua minggu terakhir dan membuatku seketika merasa merindukannya. Kim Mingyu kembali setelah pergi tiga tahun yang lalu, hadir di hadapanku, di televisi sebagai penyiar berita.

 


 

“Kami sudah kembali, Wonwoo. Dia kembali”

Saat ini berdiri dihadapanku seorang Lee Seokmin, tangannya menggapai tangaku yang lemas, matanya berkaca-kaca penuh dengan harapan dan kebahagiaan.

“Tuhan masih menyayangimu”

Siang hari itu aku terduduk di lantai lobby dalam pelukan Seokmin dan Soonyoung, tangisku terdengar sangat pilu namun tersirat akan rindu.

 


 

Kim Mingyu kembali setelah pergi tiga tahun lalu di malam kami berpisah. Dia pergi dengan sebuah alasan dan keinginan untuk mengejar mimpinya menjadi seorang reporter serta jurnalis, ia berharap bisa menjelajahi dunia, tempat yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Mingyu memiliki ambisi yang tidak bisa aku tahan karena ia selalu terlihat bahagia ketika membicarakannya. Selama kami berhubungan, aku selalu mengatakan kepada Mingyu untuk mengejar mimpinya, pergi menjelajahi dunia dengan kamera yang tergantung di lehernya serta buku catatan di tangannya.

“Tapi aku tidak ingin meninggalkanmu, Wonwoo. Kamu adalah duniaku”

Mendengarnya membuatku hanya bisa tersenyum sembari membelai pipinya dan mengecup bibirnya penuh sayang. Ada kebahagiaan ketika Mingyu memilih untuk tinggal bersamaku daripada pergi untuk mengejar mimpinya, meskipun terkadang aku bisa melihat kilau di matanya ketika menonton berita atau membaca koran di pagi hari. Aku tau, Mingyu sangat ingin berpetualangan dan mengejar mimpinya, dan aku ingatkan sekali lagi, ia selalu menyembunyikannya di balik senyum hangat yang ia tunjukkan kepadaku. Dia tidak ingin membuatku sedih, karena katanya, aku adalah dunianya .

 


 

‘Batu besar’ yang membuat cinta kami semakin kuat hadir pada tahun kedua hubunganku dengan Mingyu. Hari itu di hari minggu yang tenang, aku menemani Mingyu untuk pergi ke rumah orang tuanya karena Mingyu ingin memperkenalkanku kepada keluarganya. Sepanjang perjalanan, Mingyu selalu menggenggam tanganku dan ibu jarinya dengan lembut mengusap punggung tanganku, meyakinkanku bahwa segalanya akan baik-baik saja. Namun aku tetap merasa gelisah dan ketika kami semakin dekat dengan tujuan kami, perutku terasa tidak nyaman, rasanya aku ingin memuntahkan semua isi perutku karena gugup. Orang tua Mingyu tidak tau bahwa anak laki-lakinya menyukai seorang laki-laki dan itu adalah aku, Jeon Wonwoo.

Mengungkapkan diri sebagai gay adalah hal yang tidak mudah saat itu, tidak semua orang bisa menerima jati diriku Mereka yang dulu menganggap dirinya sebagai temanku dan selalu menghabiskan waktu untuk belajar bersama atau mengerjakan tugas saat perkuliahaan sekarang memilih untuk menjauhiku karena takut ‘terinfeksi’. Bagi mereka, aku adalah penyakit. Hanya Soonyoung yang tidak peduli dengan pilihan hidupku dan terus berada di sisiku sebagai teman. Hingga Mingyu hadir dalam hidupku dan mengatakan kepadaku bahwa ia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Jeon Wonwoo. Setelah itu kami berdua memutuskan untuk saling menguatkan untuk melawan hinaan orang lain karena kami adalah pasangan homoseksual yang menjijikkan. Mingyu mengajarkanku untuk menutup telinga kami dari suara-suara jahat di dunia tempat kami tinggal. Mingyu membuat punggungnya sebagai tameng kepada dunia ini mulai menyakitiku, dan hari itu, Mingyu mengorbankan seluruh hidupnya (tak lagi punggungnya) untuk seorang Jeon Wonwoo di depan keluarganya.

Keluarga Mingyu menolak kehadiranku, Mingyu tidak lagi menjadi bagian dari keluarga Kim. Mingyu meninggalkan keluarganya hanya untuk seorang Jeon Wonwoo.

“Sudah aku katakan kepadamu, kau adalah duniaku, Wonwoo”

Keheningan menyelimuti mobil Mingyu, perjalanan pulang dari rumah Mingyu terasa sangat tegang. Masih teringat dengan jelas hinaan yang dilemparkan orang tua Mingyu kepada putra sulung mereka dan kepadaku, bahkan ajaran Mingyu untuk menutup telingaku dari hinaan tak lagi sanggup meredam kerasnya suara orang tuanya yang penuh kekecewaan karena pilihan anak laki-lakinya.

Aku telah merenggut impian Mingyu sebelumnya dan saat itu aku juga merenggut keluarganya, aku, seorang Jeon Wonwoo.

“Mingyu”

Dengan suara lemah dan pandanganku yang terfokuskan pada tetesan air hujan yang membasahi jendela mobil Mingyu, ia mengeratkan cengkraman tangannya pada tangaku dan menatapku penuh.. ketakutan.

“Aku ingin kau berjanji kepadaku Mingyu-”

Aku menarik napas panjang bersamaan dengan air mata yang mengalir di pipiku.

“-jika suatu hari kita tidak bisa lagi berjuang dan melawan untuk hubungan kita, mari kita akhiri saja”

“Baik sayang, tapi ingat ya, semuanya akan baik-baik saja”

Dia memeluk tubuhku yang bergetar karena menangis dan mencium kepalaku dengan penuh cinta. Malam itu Mingyu berjanji kepadaku bahwa kami akan berjuang bersama untuk hubungan kami hingga kami tidak mampu lagi untuk berjuang karena semua hal telah kami lakukan. Kami tidak ingin menantang takdir, siapa kami hingga ingin menantang Tuhan?

 


 

Setelah seminggu sejak kunjungan kami ke rumah Mingyu yang berakhir dengan pertikaian antara Mingyu dan keluarganya, tak ada lagi dering telepon yang selalu diterima oleh Mingyu setiap malam dari keluarganya, mereka benar-benar telah memutus hubungan keluarga. Aku selalu mendengar tangisan lirih atau napas berat dari sisi tempat tidur Mingyu di apartemen kami. Terkadang aku menangis bersamanya dan beberapa kali aku meminta Mingyu untuk ‘kembali’, namun Mingyu akan menggelengkan kepalanya dan mempererat dekapannya di tubuhku.

“You’re my home, Wonwoo”

Aku? Aku hanya bisa menggigit bibir untuk menahan isak tangis dan membalas pelukannya. Air mata kami perlahan mulai habis setelah satu bulan, Mingyu sudah terbiasa melihat notifikasi kosong di ponselnya, dan aku pun tidak ingin mengangkat masalah itu lagi. Kami telah berjanji untuk terus berjuang dan melangkah maju bersama-sama.

Hubungan kami semakin kuat, tatapan merendahkan dari tetangga apartemen kami hiraukan, karena pada dasarnya kami telah menghadapi sesuatu yang lebih buruk dari sekadar tatapan, yaitu peristiwa keluarga Mingyu. Kami melanjutkan hidup kami seperti biasa dengan beberapa perubahan, Mingyu bekerja sebagai ghost writer untuk mencukupi kebutuhannya dan membayar biaya pendidikannya setelah ia memutuskan hubungan dengan keluarganya. Kami menyelesaikan tugas kuliah kami, menyelesaikan studi kami dan mulai bekerja, bersama-sama kami merencanakan masa depan kami dengan lebih matang tanpa tersadar bahwa hubungan kami telah terjalin selama lima tahun. Kini Mingyu bekerja sebagai seorang editor di sebuah perusahaan percetakan dan aku bekerja sebagai akuntan.

Sedikit mengingat kembali ke tahun keempat, adik perempuan Mingyu akhirnya menghubungi Mingyu dan mereka mulai membangun kembali hubungan mereka. Adik perempuannya selalu memberikan kabar tentang kedua orang tua mereka dengan harapan dapat meringankan rasa rindu di hati Mingyu. Setelah itu tidak jarang adiknya datang ke apartemen kami untuk merayakan momen-momen istimewa seperti Natal dan tahun baru. Kembali ke tahun kelima kami, ejekan, hinaan serta pandangan tidak menyenangkan perlahan berkurang. Kami juga sering bertemu dengan pasangan sesama jenis lainnya di tempat umum. Melihat ini membuat aku dan Mingyu yakin bahwa segalanya akan baik-baik saja .

 


 

Segalanya baik-baik saja hingga lima bulan sebelum tahun keenam kami. Adik perempuan Mingyu menghubungi Mingyu pada hari sabtu saat kami sedang menikmati musim panas di taman kota. Adik perempuannya menangis dan kalimatnya tidak jelas, hanya kata-kata ‘Ibu’ dan ‘tidak sadar’ yang bisa aku dengar. Tubuhku menjadi kaku, jantungku berdetak kencang, keringat dingin juga mulai mengalir di dahi serta punggungku. Sore itu Mingyu memohon untuk kembali ke apartemen kami karena bom waktu yang beberapa tahun ini mengancam hubungan kami pada akhirnya meledak.

“Mingyu, Ibumu sakit dan dia memintamu untuk pulang. Bisakah.. untuk saat ini.. kamu memilih kami? Keluargamu dan bukan Wonwoo? -Ayah”

Sebuah notifikasi pesan hadir di ponsel Mingyu setelah tiga tahun ponsel itu kosong tanpa pesan dari orang yang selalu ia panggil ‘Ayah’. Mingyu menunjukkan pesan itu kepadaku. Mingyu berlutut di depanku saat aku terduduk lemas di sofa biru yang ia beli dari hasil kerja kerasnya selama satu tahun. Mingyu dengan lembut mengusap lututku dengan tangannya yang dingin, tidak ada lagi hangat yang biasa aku rasakan. Matanya bengkak, jejak air mata terlihat di pipi tembamnya, bibirnya kering dan terluka karena ia gigit secara tidak sadar, dan untuk terakhir kalinya aku mencium bibir itu masih penuh cinta dan sayang, tanganku bergetar saat mengusap pipinya.

“Hari ini, ya?”

“Hari ini..”

Benteng pertahananku runtuh dan aku menangis sejadi-jadinya, waktu kami hanya tersisa 3 jam sebelum Mingyu meninggalkanku karena pilihannya.

“Wonwoo, aku tidak pernah menyesal karena memilihmu dan berjuang untukmu. Aku tidak pernah merasa sangat bahagia ketika aku bersamamu. Aku juga tidak pernah membayangkan seperti apa hidupku jika tanpamu”

Mingyu menghela napas, air matanya jatuh lebih banyak, suaranya menjadi berat dan tertahan karena ia tidak ingin membuatku mendengar isak tangisnya.

“Sayang, kamu adalah duniaku, dan akan selalu menjadi duniaku. Tapi Ibuku.. dia yang melahirkanku ke dunia ini untuk datang kepadamu, dan aku tidak bisa berbohong kalau saat ini aku merasa takut dengan apa yang sedang terjadi. My dear, maafkan aku atas keegoisanku karena kali ini aku harus memilih keluargaku. Maafkan aku karena aku tidak bisa lagi berjuang untukmu. Maafkan aku karena tidak bisa memenuhi janjiku kepadamu. Maafkan aku karena harus menghancurkan masa depan kita. Maafkan aku karena sangat mencintaimu dan memberikanmu segalanya hingga aku lupa bahwa ada takdir yang tidak bisa aku lawan”

“Mingyu, kita telah berjanji kalau kita tidak bisa lagi melawan takdir, kita akan berhenti, kan? Aku tidak bisa lagi merebut keluargamu dari dirimu karena egoku, Mingyu. Terima kasih atas cinta yang telah kau berikan kepadaku. Terima kasih atas kesempatan yang telah kau berikan padaku untuk dicintai oleh seorang Kim Mingyu dan mencintai Kim Mingyu. Terima kasih karena telah bersedia berjuang bersamaku. Terima kasih karena telah hadir dalam hidupku dan memilihku. Mingyu, sekarang pulang ya?”

Mingyu mengangguk dan memelukku, menarikku hingga aku jatuh di pangkuannya. Malam itu Mingyu mengemas barang-barangnya dan meninggalkanku terduduk diam di dekat jendela apartemen kami, menatap gedung pencakar langit di malam hari dengan mataku yang bengkak dan merah. Aku tidak bisa lagi menangis, aku kelelahan. Otakku hanya bisa memutar kembali kenangan bersama Mingyu selama lima tahun seperti sebuah film. Hingga kehangatan tubuh Mingyu dan selimut coklat merangkulku erat untuk yang terakhir kalinya.

“My dear, my love, Jeon Wonwoo”

 


 

Sekarang Mingyu telah kembali setelah pergi selama tiga tahun dari negara ini. Tidak ada yang berubah dari penampilan Mingyu yang sekarang sedang melaporkan kecelakaan lalu lintas di televisi. Wajah tampannya semakin matang, tapi pipi tembamnya yang selalu menjadi kesukaanku masih terlihat sama. Suaranya masih sama, tegas namun hangat. Matanya masih penuh ambisi dan gairah. ‘Mingyu itu’ masih sama dengan ‘Mingyu ku’ sebelumnya, tetapi ‘Mingyu itu’ tidak lagi ‘Mingyu ku’.

Dua minggu yang lalu Seokmin secara tidak sengaja bertemu denganku ketika aku pulang dari makan siang bersama Soonyoung di kantor. Seokmin adalah teman baik Mingyu, mereka berdua sama-sama memiliki impian yang sama. Dua minggu yang lalu Seokmin memberitauku bahwa dia dan Mingyu telah kembali ke Korea, Mingyu telah kembali. Aku yang telah melupakan rasa rindu selama dua tahun kembali menangis sejadi-jadinya siang hari itu hanya karena mendengar kabar kepulangan Mingyu.

Malam itu, di sebuah kafe di dekat kantor dan ditemani oleh Soonyoung si sahabat terdekatku, Seokmin bercerita tentang; Kehidupan Kim Mingyu .

“Kondisi Ibunya sangat buruk, selama enam bulan keluarga Mingyu harus berjuang bersama untuk kesembuhan Ibunya. Mingyu benar-benar seperti tubuh tanpa jiwa, dia meninggalkanku dan kondisi Ibunya tidak membaik, bahkan dia harus berhenti dari pekerjaannya hanya untuk merawat ibunya. Sampai setelah berjuang selama enam bulan di Korea, mereka memutuskan pergi ke tempat yang lebih baik untuk perawatan Ibunya. Aku kira kau sudah tau tentang kepergian Mingyu dari Minseo. Kesehatan Ibunya membaik, dia bisa membuka matanya dengan sempurna dan berbicara pelan-pelan. Tapi Mingyu masih sama, masih hanya tubuh tanpa jiwa karena dia meninggalkan jiwanya di ‘rumah’. Hubungan Mingyu dan keluarganya juga membaik, mereka menjadi keluarga yang harmonis dan bahagia lagi meskipun Mingyu masih seperti hantu. Hingga kebahagiaan itu hanya berlangsung selama tiga bulan, Ibunya meninggalkan Mingyu selamanya”

Aku meremas tangan Soonyoung sekuat yang aku bisa karena aku mampu merasakan kesedihan Mingyu pada saat itu terjadi, perasaan ditinggalkan oleh orang yang dicintai pasti lah terasa sangat berat. Seokmin menatapku sejenak sebelum melanjutkan ceritanya.

“Mingyu butuh enam bulan untuk kembali menjadi Mingyu yang kita kenal, Won. Dua bulan setelah kematian Ibunya, Mingyu menetap di Singapura meskipun Adik dan Ayahnya telah kembali ke Korea, dan disanalah aku bertemu dengannya lagi. Kamu pernah memberitauku setelah kita selesai dengan studi kita bahwa aku telah menggapai impianku sebagai wartawan kan? Aku langsung teringat dengan perkataanmu ketika Mingyu bercerita tentang kisah hidupnya dan membuatku memutuskan untuk membantu Mingyu menggapai angannya, angan yang kita semua tau. Perjalanan dan petualangan kami dimulai dari Asia ke Amerika Utara, kami telah mengunjungi lima benua, Mingyu menjadi jurnalis lepas sesuai keinginannya. Hanya ada satu negara yang selama petualangannya tidak ingin dia kunjungi, Korea. Mingyu tidak ingin pulang karena dia masih belum siap, dia bilang kepadaku bahwa dia akan kembali setelah menemukan apa yang dia cari”

“Apa yang dia cari, Seokmin?”

“Cinta”

 


 

Aku terus menatap televisiku yang sekali lagi menampilkan Mingyu dalam setelah hitam dan dasi merahnya. Mingyu telah kembali dari petualangannya, yang berarti dia telah menemukan cinta yang dia cari, dan itu bukan aku, bukan Jeon Wonwoo. Aku bukan lagi cintanya. Setelah dua minggu berjuang melawan pikiranku karena cerita Seokmin, hari ini aku mencoba untuk benar-benar melepaskan Mingyu. Aku tekan tombol merah untuk mematikan tayangan di televisi dan bersumpah untuk tidak menghidupkannya lagi hingga aku benar-benar melepaskan Mingyu.

 


 

Takdir ya. Aku tidak pernah tertawa karena takdir yang telah aku jalani, tetapi hari ini aku benar-benar ingin tertawa karena takdir seolah mengejek diriku. Di hadapanku sekarang berdiri sosok Kim Mingyu, ia berdiri di depan apartemenku yang pada awalnya adalah apartemen kami berdua, kepalanya tertunduk, mengamati sepatu loafer hitamnya, dan kemeja biru langit masih melingkari tubuhnya.

“Kim Mingyu”

“Jeon Wonwoo”

“Bisakah aku meminta waktumu untuk berbicara?”

Mingyu duduk di sofa biru dan tangannya mengusap sofa itu dengan lembut, sofa yang ia beli setelah bekerja keras, sofa kebanggannya, tempat dimana kami saling mendekap saat menonton film, tempat ia menulis arsip artikelnya, tempat ia menjatuhkan makannya, dan tempat kami berpisah. Takdir, apa maksud ini semua? Kerinduan ini sangat menyiksaku.

“Ibuku.. meninggal”

Dia berbisik lirik sembari meminum coklat panas yang kusajikan sebelum dia melanjutkan kisahnya yang sudah aku ketahui sebagian dari Seokmin dua minggu lalu. Tatapan Mingyu berubah saat ia bercerita tentang kondisi Ibunya, ia dengan jelas menunjukkan kesedihan yang masih menggerogoti hatinya.

“Sampai aku bertemu dengan Seokmin dan kamu memulai petualangan kami”

“Tau tidak, Wonwoo? Dalam dua tahun aku sudah mengunjungi lima benua, menulis cerita yang tidak semua orang tau, mendokumentasikan hal-hal yang sulit ditemukan, berjalan jauh untuk mencari harta di tempat-tempat yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya, dan..”

“.. menemukan sesuatu yang aku cari dalam petualanganku”

Pandangan Mingyu beralih ke bingkai foto tepat di samping televisi, bingkai fotoku yang diambil oleh Mingyu tanpa sepengetahuanku ketika berjalan di jalan yang sunyi tapi damai di Jepang empat tahun yang lalu.

“Kamu.. menemukannya? Sesuatau yang kau cari, itu cinta kan?”

Ini aku yang bertanya.

Mingyu tertawa lembut dan menyisir rambut pendeknya dengan jari-jarinya, tawanya masih sama, sudut matanya membentuk beberapa garis, taringnya terlihat, dan pipinya yang tembam terbentuk. Mingyu terdiam sejenak dan mengeluarkan scarpbook ungu tua dengan tali putih yang mengikat dari dalam tas kerjanya. Mingyu berdiri dan mendekatiku, dia berlutut di depanku, meletakkan scrapbook nya di pangkuanku, matanya yang coklat terus menatap mataku, tatapan yang sudah lama tidak kulihat, tatapan penuh cinta.

“Iya, dan maukah kau mendengarkan ceritaku tentang cinta, Wonwoo?”

Aku mengangguk perlahan, agak ragu tentang apa yang dimaksud Mingyu, dan aku hanya bisa bersumpah dalam hatiku bahwa jika cerita ini akan menyakitiku, maka aku akan memutuskan untuk membenci Tuhan karena telah mempertemukan kami kembali.

“Singapura, Asia. Tempat pertama aku memulai petualangan, patung Merlion, tujuan wisata utama. Aku belum menemukan cinta yang aku cari disini, tetapi Singapura membuatku terkesan karena negara ini sangat bersih, kamu tau tidak kalau mereka tidak mengizinkan orang untuk meludah sembarangan? Unik dan menarik, aku memutuskan untuk menulis artikel pertamaku tentang aturan ini”

“India, Asia. India itu sangat berwarna, kebetulan aku datang saat perayaan Holi. Festival warna, cinta, dan musim semi. Merayakan cinta Radha dan Krishna. Selama perayaan Holi, mereka semua menyiapkan bubuk warna atau air berwarna yang akan mereka gunakan untuk menyerang satu sama lain. Aku masih ingat dengan jelas ketika seorang Ibu memegang pipiku dengan bubuk berwarna merah dan tertawa bahagia setelahnya. Kami menari bersama dikelilingi oleh anak-anak dan remaja yang melempar bubuk warna atau menyemprotkan air mereka. Walaupun kameraku basah dan sedikit kesulitan membersihkan bubuk warna dari rambutku, aku merasa begitu bahagia karena aku menyadari bahwa kebahagiaan dan cinta bisa datang hanya dari bermain atau menari dengan tetangga sekitar. Lihat! Wajah Seokmin sepenuhnya tertutup warna, tapi tawanya begitu lepas dan bahagia. Aku akan mengingat Holi pertamaku yang terjadi dua tahun lalu”

“Masih di Asia, aku harus kembali ke Singapura untuk mengirim barang-barangku ke Korea karena aku memutuskan untuk hidup nomaden. Kali ini aku mengunjungi Indonesia karena dekat dengan Singapura. Aku pergi ke kota Yogyakarta, lihat, Seokmin dan aku naik delman dan itu sangat menyenangkan. Aku bisa menikmati kehidupan dengan tenang di Yogyakarta, kota yang tenang dan ramah. Oh! Ini adalah candi, nama candi ini adalah Candi Prambanan, menurut legenda setempat, candi ini dibangun atas perintah seorang putri, aku lupa namanya, sebentar, oh ini dia, Roro Jonggrang. Roro Jonggrang meminta seorang pemuda untuk membangun seribu candi dalam satu malam”

“Candi sebesar ini? Seribu candi dalam satu malam? Itu tidak mungkin, Mingyu”

“Tapi pemuda itu menyanggupi, Won. Dia memanggil makhluk-makhluk astral untuk membantunya. Tetapi sang putri ingin menggagalkan rencananya sebagai balasan atas kematian Ayahnya yang telah pemuda ini bunuh. Hingga akhirnya sang putri yang berani itu dikutuk menjadi patung karena membuat pemuda keji itu marah”

“Cinta yang tidak bisa dipaksakan, berakhir menyedihkan”

Mingyu tersenyum kepadaku dan dengan lembut mengusap punggung tanganku yang tengah meraba foto patung Roro Jonggrang di scrapbook Mingyu.

“Benar, cinta yang tidak bisa dipaksakan”

“Kali ini Flinders Range, Australia. Sebuah keputusan impulsif Seokmin. Ketika kami menetap di Indonesia, Seokmin memberitahuku kalau ia ingin pergi ke Australia sesaat setelah menangis menonton film berjudul Cargo , film yang menceritakan cinta seorang Ayah yang terinfeksi virus Zombie dan hanya memiliki empat puluh delapan jam untuk menyelamatkan nyawa anak kecilnya dari dirinya yang akan berubah menjadi Zombie. Istrinya telah meninggal akibat virus yang sama, dan dia terinfeksi karena gigitan dari Istrinya, sedih bukan? Seokmin dan aku segera berangkat ke Australia dan memilih Flinders Range sebagai tujuan kami, lokasi syuting film Cargo karena tempat itu sungguh indah. Kami berjalan tanpa tujuan dan menikmati pemandangan indah di sekitar kami, matahari terbenam hari itu begitu memukau, lihat foto ini. Ingin sekali aku membawamu ke sana, Wonwoo”

“Setelah berpetualang di savana, Seokmin dan aku pergi ke Melbourne untuk menikmati pertandingan tenis. Oh iya, cerita yang aku tulis di benua ini menjadi artikel pertama yang aku terbitkan dengan bantuan kantor Seokmin. Aku senang sekali karena akhirnya bisa melakukan yang aku sukai satu persatu”

 


 

“Paris, Prancis, Eropa. Kota cinta, Paris. Aku mengerti kenapa Paris dijuluki kota cinta. Selama dua minggu aku tinggal di Paris, di setiap sudut kota, aku bisa melihat berbagai pasangan berbagi cinta mereka, berpegangan tangan menyusuri Sungai Seine atau berdiri di bawah menara Eiffel. Ini adalah foto patung Napoleon di Les Invalides, ada cerita menarik di balik foto ini. Pada suatu sore, aku pergi hanya untuk menemani Seokmin meliput, dan aku berhenti di depan patung ini. Aku terdiam sejenak untuk menikmati patung Napoleon sampai seorang pria tua mendekatiku. Awalnya dia berbicara dalam bahasa Prancis, tetapi karena aku tidak mengerti, aku hanya menjawab dalam bahasa inggris yang ternyata pria tua itu juga bisa berbicara dalam bahasa inggris. Pria tua itu kemudian mengajakku untuk kembali mengamati patung Napoleon sembari bercerita tentang kisah pahlawan itu”

“Cerita tentang apa, Mingyu?”

“Napoleon dan Istrinya, Josephine. Beberapa hari setelah pernikahan mereka, Napoleon terpaksa pergi dan meninggalkan Istrinya untuk berperang melawan Italia dan Austria. Ada banyak rumor yang mengatakan bahwa masing-masing dari mereka memiliki hubungan terlarang dengan orang lain, tetapi menurut beberapa sumber, Napoleon mengatakan bahwa ia percaya akan cintanya dan Josephine. Napoleon sering mengirim surat kepada Josephine, salah satunya aku tulis di artikelku”

 

I write you, my beloved one, very often, and you write very little, You are wicked and naughty, very naughty, as much as you are fickle. It is unfaithful so to deceive a poor husband, a tender lover!

 

Adieu, adorable Josephine; one of these nights your door will open with a great noise, as a jealous person, and you will find me in your arms.

 

Aku tersenyum kecil membaca surat Napoleon yang dikirimkan untuk Josephine, Mingyu pun tertawa bersamaku dan membalik halaman berikutnya yang menampilkan foto coklat panas dengan beberapa kue serta dua pria tua yang duduk di hadapan Mingyu.

“Ini Antoine, dan ini Pierre. Antoine memulai percakapan kami sementara Pierre bergabung di tengah-tengah percakapan. Mereka sudah bersama selama empat puluh tahun”

“Bersama?”

“Iya, Wonwoo. Antoine dan Pierre adalah sepasang kekasih dan mereka berencana untuk menikah tahun ini, dimana keduanya berusia enam puluh tujuh tahun”

That’s… beautiful"

Jantungku berdetak begitu cepat, dengan lembut kuraba foto Antoine dan Pierre di scrapbook Mingyu, aku tidak bisa menahan senyumku saat aku melihat senyum mereka dan tangan mereka yang saling menggenggam satu sama lain, cincin perak terlihat jelas di jari kedua kekasih itu. Aku tidak bisa membayangkan perjuangan mereka selama empat puluh tahun dan seberapa kuat cinta mereka untuk satu sama lain. Aku merasa iri.

 


 

“Pulau Zakynthos, Yunani, Eropa. Kamu tau tempat ini/”

“Kapten Yoo Shi Jin!”

“Benar. Aku memaksa Seokmin untuk pergi ke Yunani, lebih tepatnya tempat ini, tempat lokasi syuting drama favoritmu, Descendants of the Sun”

“Kamu mengingatnya, Mingyu?”

“Lebih tepatnya, aku tidak pernah melupakannya, Wonwoo”

Suaraku tercekat saat pandangan kami bertemu, aku bisa melihat cinta di mata Mingyu saat dia mengatakan bahwa dia tidak pernah melupakanku. Meskipun ada harapan di mataku mengetahui bahwa Mingyu tidak pernah melupakan diriku, harapan untuk kami membangkitkan kembali hubungan yang sudah lama mati, tetapi beberapa detik kemudian aku tersadar dan kembali ke kenyataan bahwa Mingyu dan aku telah selesai, bahwa batu besar itu masih belum bisa kami singkirkan.

“Mengapa, Mingyu?”

Mingyu hanya tersenyum mendengar pertanyaan dariku. Dia merapikan rambutku, matanya, sekali lagi matanya menatapku penuh cinta dan dia tidak pernah memutuskan kontak mata kami. Tangannya membalik halaman scrapbook nya. Bab tentang Eropa sudah ia ceritakan, dan sekarang kami memasuki Afrika.

“Perjalananku dengan Seokmin di Afrika relatif singkat karena Seokmin harus kembali ke Korea dan aku… saat itu bukan waktu yang tepat bagiku untuk kembali ke Korea. Ini adalah suku Zulu, mereka berada di provinsi KwaZulu-Natal, Afrika Selatan. Zulu berarti surga atau langit. Saat itu mereka menyambut kedatanganku, Seokmin dan tim Seokmin dengan penuh kegembiraan dan kemeriahan. Mereka menari dan menampilkan tarian tradisional mereka. Mereka tidak pernah berhenti tersenyum karena senang memiliki kami sebagai teman baru mereka. Suku Zulu dikenal sebagai pejuang, mereka pernah memenangkan pertempuran melawan Inggris. Ada cerita sedih tentang suku ini, Wonwoo. Mereka menghadapi sebuah diskriminasi pada abad ke sembilan belas meskipun mereka dikenal sebagai suku pejuang”

“Dua minggu kemudian Seokmin dan aku pergi mengunjungi suku San, suku San adalah suku tertua di dunia. Mereka juga salah satu suku yang masih berburu dan mengumpulkan makanan. Aku sempat mengikuti mereka mencari makanan dan itu benar-benar menyenangkan. Itu adalah hal yang belum pernah aku pikirkan sebelumnya, Won”

Kini tanganku bergerak untuk merapikan rambut hitamnya, dan aku tersenyum saat ia memalingkan pipinya untuk menempel dengan telapak tanganku, matanya bersinar seperti anak anjing yang meminta perhatian. Tangan kanan Mingyu dengan lembut mengusap lutut kananku dan tanpa sadar aku mendekat untuk mencium lembut bibirnya, seketika melupakan fakta bahwa selama petualangan yang diceritakan Mingyu kepadaku mungkin ada cinta lain yang akhirnya telah ia temukan, dan cinta itu mungkin adalah pasangannya yang baru. Aku bisa merasakan lagi bibir yang tak pernah mencium bibir, wajah serta tubuhku selama tiga tahun kebelakang ini.

Air mataku jatuh dan membasahi tangan Mingyu saat ia menangkup wajahku, beberapa tetes air mata ada yang jatuh langsung tepat ke sebuah foto dimana Mingyu duduk di antara anak-anak suku San, ia memeluk dan dipeluk. Dalam foto itu, Mingyu tertawa begitu lepas dan tulus, matanya berkilau-bersinar, aku bisa melihat bahwa akhirnya dia telah menemukan cinta yang ia cari di bab keempat petualangannya.

“Mingyu, I miss you

Mingyu memelukku dan menarikku ke pangkuannya, mengulang adegan tiga tahun yang lalu sebelum ia pergi, hanya saja saat ini Mingyu telah kembali.

 

Chapter 5, North America.

Malibu, Los Angeles.

Date: TBA.

Note: This is a place where Wonwoo and I will hold our wedding.

 


 

Aku menatap gedung pencakar langit dari jendela apartemenku tanpa sehelai benang yang menempel di tubuhku, hanya Mingyu dan selimut coklat yang membuat tubuhku tetap hangat. Mingyu meletakkan dagunya di bahu telanjangku dan aku akhirnya kembali bisa merasakan suhu tubuhnya yang hangat dan keringat lengket di dadanya yang melekat dengan punggung telanjangku. Mingyu terus mencium pelipisku, lalu turun ke pipi, ceruk leher, dan bahuku. Kecupan yang ia berikan masih selembut tiga tahun yang lalu. Di apartemen yang sama, kami berbagi cinta lagi setelah merindukan satu sama lain dan menyakiti satu sama lain begitu lama untuk kebaikan kami sendiri.

“Kau ingat apa yang kau katakan saat kita berjanji satu sama lain, Won?”

Aku menggelengkan kepala dan berbisik dengan sedikit keraguan karena tidak sepenuhnya mengingat pertanyaan Mingyu.

“Kau bilang jika suatu hari bukan lagi kerikil yang menghalangi jalan kita tetapi sebuah batu besar yang menghalangi dan kita tidak bisa lagi berjuang untuk hubungan kita maka kita harus berhenti. Kau ingat?”

Aku mengangguk, samar-samar mengingat perkataan yang aku ucapkan saat menangis di pelukannya di dalam mobil yang berhenti di bahu jalan saat kami dalam perjalanan pulang dari rumah orang tua Mingyu.

“Masalahku dan petualanganku mengajarkanku banyak hal. Kepergian Ibuku sendiri tidak bisa menyingkirkan batu besar itu karena pada dasarnya batu besar itu bukan berasal dari penolakan keluargaku, tapi dari hal-hal yang terlalu takut kita ungkapkan karena takut melukai satu sama lain. Kekejaman dunia terhadap kita membuat kita lebih suka menutup mata terhadap keinginan kita. Kita tidak bisa menghindari batu besar itu, karena kita sendiri juga tidak ingin menjadi kejam dan egois ketika dunia sudah jahat kepada kita, Won”

Aku merapatkan pelukanku dan mengeratkan genggaman tanganku pada Mingyu, merasakan detak jantungnya yang sedikit lebih cepat dari sebelumnya.

“Ada keinginan dan harapan yang kau kunci di dalam hatimu karena kau takut akan menyakitiku. Ada ambisi dan impianku yang aku sembunyikan karena tidak ingin meninggalkanmu. Semua itu melebur menjadi satu dan kita terjebak, kesehatan dan kepergian Ibuku menjadi jalan keluar untuk pergi dan mengajarkanku bagaimana caranya belajar memahami diriku sendiri, untuk kita. Dan kau juga akan mengerti apa yang kau inginkan bersamaan denganku yang mulai menggapai mimpiku”

"My love, Wonwoo. Why can't we, for once, say what we want, say what we feel?"

Aku mengangguk mendengarkan perkataan dan keinginan Mingyu, aku menyandarkan tubuhku di dadanya. Mingyu memintaku untuk mengatakan hal-hal yang selama ini aku rasakan sendiri dan aku sembunyikan darinya selama kami menjalin hubungan. Aku mengusap lengannya yang memeluk pinggangku dengan lembut.

“Aku hanya tidak ingin mengekangmu untuk terus bersamaku, Mingyu. Aku tau kau punya banyak impian yang ingin kau kejar, tapi kau selalu menyembunyikannya di balik senyummu dan kau selalu memilihku. Kau hanya memikirkan bagaimana memastikanku agar tetap bahagia tanpa mengingat kebahagiaanmu sendiri. Selama ini aku merasa seolah-olah aku telah merampas semuanya darimu, kebahagiaanmu, mimpimu, dan keluargamu”

“Aku tidak bisa berbohong, Mingyu. Aku bahagia, sangat bahagia bisa dicintai begitu dalam oleh seseorang seperti dirimu, tapi aku juga sedih karena aku menyaksikan pengorbanan dirimu untukku karena kau takut kehilanganku. Aku juga takut, Mingyu sayang. Aku takut kau yang akan kehilangan dirimu sendiri, dan karena egoku menang melawan nuraniku, ia menguasai diriku untuk terus membuatku diam dan tidak mengatakan apapun yang kurasakan karena aku juga takut kehilanganmu”

Dengan penuh senyuman, Mingyu mencium pipiku berkali-kali dan sekarang giliranku untuk meminta Mingyu mengungkapkan semua keinginan yang ia sembunyikan dariku. Aku menutup mata sembari menikmati irama detak jantungnya yang stabil dan menenangkan.

“Aku ingin sekali menjelajahi dunia ini, mengunjungi pulau-pulau kecil nan eksotis yang hanya sedikit orang tau, berbincang dengan penduduk setempat dan mempelajari budaya mereka. Aku ingin petualanganku ini menjadi cerita yang bisa kubagikan dengan orang lain. Aku tidak ingin memaksamu untuk ikut dan tetap berada di sisiku ketika aku berpetualangan. Tapi aku yakin akan satu hal bahwa aku akan kembali ke tempat dimana seharusnya aku berada, yaitu bersamamu”

“Kau benar Wonwoo, aku terlalu takut meninggalkanmu. Aku tidak ingin kau merasa bahwa aku tidak memilihmu. Percayalah, Wonwoo, namamu selalu ada dalam rencana masa depanku. Tapi sekali lagi, aku takut kau akan pergi ketika aku pergi karena lelah menungguku. Maafkan aku Wonwoo karena aku masih belum bisa sepenuhnya percaya kepadamu”

“Roro Jonggrang mengajarkanku bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Keluarga Khan di India mengajarkanku untuk menikmati setiap kebahagian yang datang meskipun itu hanyalah kebahagiaan kecil. Antoine dan Pierre mengajarkanku bahwa masih ada harapan untuk kita berdua. Perjalananku ke Australia membuka imajinasiku apabila kisah dalam film Cargo itu merupakan sebuah kisah nyata, betapa menyedihkannya bagi seorang Ayah untuk berjuang melawan dirinya sendiri demi keselamatan Anak semata wayangnya. Suku Zulu dan San membuatku tersadar akan cintaku kepada mimpiku. Pulau Zakynthos meyakinkanku bahwa sejauh apapun aku pergi, hatiku tetap kembali kepadamu, Wonwoo. Dan Malibu, aku ingin petualanganku di Malibu menjadi petualangan pertama kita setelah kita mengucap sumpah suci kita untuk tetap bersama, dama suka dan-”

“-duka”

Aku tersenyum seraya memutar tubuhku agar bisa mencium Mingyu dengan baik.

 


 

Setelah menghabiskan malam bersama dan memulai perjuangan kami untuk hubungan kami lagi, kali ini kami berjanji untuk menjadi lebih terbuka dalam komunikasi. Aku akan memberitahu Mingyu tentang apa yang kurasakan serta Mingyu yang akan memberitahuku apa yang ia inginkan. Kami tidak lagi takut akan kemungkinan-kemungkinan yang belum terjadi. Kami saling percaya untuk tidak menyakiti atau meninggalkan satu sama lain.

Petualangan kami dimulai dengan meminta restu Ayah Mingyu lagi. Kami sudah siap menerima keputusan terburuk yang akan terjadi jika Ayah Mingyu masih menolak kami, Mingyu juga telah berjanji untuk tidak meninggalkan keluarganya lagi hanya untukku, aku memintanya untuk terus memilih keluarganya karena saat ini adalah giliranku untuk berjuang demi Mingyu, berjuang untuk memenangkan hati keluarganya.

Ekspektasi kami tidak sepenuhnya salah, Ayah Mingyu memang masih belum bisa menerima hubungan kami, tetapi setidaknya dia tidak melayangkan amarah seperti beberapa tahun lalu dan memutuskan hubungan keluarga dengan Mingyu. Sekarang aku hanya bisa berdoa agar waktu bisa membantuku.

Mingyu masih bekerja sebagai penyiar berita di stasiun televisi, terkadang dia akan kembali pergi dan berpetualangan, sedangkan aku tetap setia menunggunya di rumah.

"Mingyu, why can't you, for once, disregard the world and run to what you know is real?"

Dan dinamika hubungan kami jauh lebih menyenangkan karena komunikasi kami lebih terbuka. Tidak ada lagi mimpi yang disembunyikan di balik senyuman Mingyu, tidak ada lagi ego yang melawan. Batu besar itu sejatinya perlahan-lahan telah terkikis oleh air mata yang Mingyu dan aku keluarkan untuk menangisi keadaan kami dahulu, kini kami sedang berjuang sedikit lebih keras lagi untuk sepenuhnya menghancurkan batu itu.

In the end, we only regret the chances we didn’t take. I’ll be your safety net, so why not raise the stakes? I can hear your heart from across the room, pulsing through my veins, I know you need this too.

 


 

Fin