Work Text:
When you’re a teenager and in your early twenties it seems desperately eternal and excruciatingly painful. Whereas as you grow older you realise that most things are excruciatingly painful and that is the human condition.
Belum selesai Wonwoo mengingat-ingat kutipan Morrissey yang pernah ia baca, ponselnya bergetar menandakan masuknya pesan.
“Sibuk, gak?” tertulis disana.
Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB, tapi tanpa banyak berpikir, Wonwoo pun beranjak dari kasurnya. Meninggalkan pikirannya yang sedari tadi melayang, memikirkan puluhan what could’ve been yang sudah ia kumpulkan sejak kecil.
Wonwoo memarkir mobil tuanya di pinggir jalan dan terlihat rumah sederhana namun terlihat homey. Terlihat, soalnya kalau kata Junhui sih “Cobain deh jadi gue sehari aja,” dan Wonwoo tahu betul apa maksudnya, karena itulah dia disini setelah Junhui mengiriminya pesan.
Bentakan samar-samar terdengar, lalu teriakan, diakhiri dengan bantingan pintu depan, dan Junhui yang berlari ke arah mobilnya.
“Malem, bestie,” sapa Junhui dengan cengiran khasnya, yang selalu membuat Wonwoo merasa bahwa mereka berdua tidak apa-apa. Wonwoo menjawab dengan senyuman, lalu membawa mobilnya melaju tanpa tujuan yang jelas. Terlihat kemerahan di sisi kanan pipi Junhui, tapi Wonwoo tetap diam. Sekali lagi tahu bahwa ini bukan kali pertama ia melihat bunga merah itu mekar di tubuh temannya. Though, that’s not the kind of flower he wants for Junhui.
Junhui menyalakan bluetooth di mobil Wonwoo lalu membiarkan playlist Wonwoo on-shuffle selama beberapa menit, sampai akhirnya sebuah lagu membuat Junhui tersenyum tipis.
Take me out tonight, where there’s music and there’s people
And they’re young and alive
Driving in your car, I never, never want to go home
Because I haven’t got one anymore
Junhui pun bersenandung sambil mengeluarkan satu tangannya, merasakan dinginnya angin malam menyapa kulit pucatnya. Junhui tidak terlihat sedih, ia tersenyum and there’s something in the glints of his beautiful eyes when their eyes met. Wonwoo menjalankan perannya sebagai si pecundang dengan baik, alih-alih menanyakan, ia hanya diam dan tersenyum. Berharap si bawel memberikan jawabannya di akhir perjalanan mereka malam ini.
“Nu, hari ini lebih parah dari biasanya. Aku gak sengaja kena dua kali,” kata Junhui sambil menunjuk pipi kemerahannya. Wonwoo sedih, pipi itu seharusnya menerima kasih sayang, bukan tamparan. Maka, usapan lembutlah yang ia berikan, berharap dapat menghilangkan rasa perihnya, perih Wonwoo dan Junhui. His beautiful beautiful Junhui.
Wonwoo dan Junhui berteman sejak mereka kecil. Cara mereka berteman cukup sederhana. Hanya dengan uluran tangan Junhui saat melihat Wonwoo duduk sendiri di pojok ruangan dan “kamu gak apa-apa diem aja, biar aku yang cerewet,” kata Junhui saat itu.
Wonwoo dan Junhui berteman sejak mereka kecil. Saling tahu seluk beluk keluarga mereka yang rumit. Wonwoo tahu bagaimana orang tua Junhui yang sering kali berkelahi karena hal-hal kecil dan finansial keluarga, namun enggan untuk berpisah karena terlalu sayang satu sama lain katanya. Junhui pun juga tahu rasa kesepian yang Wonwoo rasakan. Mempunyai orang tua yang terlalu sibuk pekerjaan hingga ngobrol pun bisa dihitung dengan jari. Bagaimana ia membantu Wonwoo membeli mobil bekas tua dengan kartu kredit orang tuanya berharap agar dimarahi, namun gagal karena mereka hanya menjawab “Ya, asal Wonwoo senang tidak apa-apa.” Lalu berlalu mengejar jadwal pesawat masing-masing setelah mencium kening Wonwoo cepat.
Wonwoo dan Junhui berteman sejak mereka kecil. Hampir lupa rasanya ketika mereka tidak punya satu sama lain. Menjadi pundak bagi satu sama lain ketika mereka merasa pundak mereka sendiri sudah tidak kuat menahan isi kepala yang sering penuh akan tanda tanya.
Take me out tonight because I want to see people
And I want to see life
Driving in your car, oh, please don’t drop me home
Because it’s not my home, it’s their home
And I’m welcome no more
“Planet A rame terus ya Ju, Planet B udah sebulan sepi. Rekor baru nih,” ucap Wonwoo.
Junhui tersenyum lebar, teringat saat pertama kali ia menyebut kedua rumah mereka planet dan mendapat tatapan bingung dari Wonwoo. “Soalnya rumah kita aneh, Nu. Kita juga aneh, kaya alien.” itu alasan Junhui waktu itu.
“Apa mau tukeran planet aja, Nu? Siapa tahu kamu bosen sama yang sepi-sepi.”
“Engga ah, sama aja,” kata Wonwoo sambil mengelus surai coklat temannya.
“Sama-sama engga kaya di rumah, ya?” Junhui nyengir, membuat Wonwoo terkekeh akan betapa suramnya candaan mereka.
Junhui sering berpikir, kalau rumah, kenapa tidak membuat nyaman? Seperti Junhui yang selalu sedih karena pulang dengan keributan orang tuanya, Wonwoo juga sedih karena selalu pulang dengan rumah yang kosong. Kalau rumah, kenapa mereka tidak merasa disambut? Ketika kedua orang tua mereka lebih sibuk dengan urusan mereka sendiri dan membiarkan anak-anaknya begitu saja. Lalu Junhui dan Wonwoo pun sadar, kedua planet itu bukan rumah mereka, dan rumah bagi kedua pasang orang tua itu juga bukan Junhui dan Wonwoo. Benar kata Junhui, mereka berdua itu sepasang alien aneh.
“Tapi engga apa-apa sih, Nu. Rumahku di mobil kamu aja.”
“Yee bayar dong, cantik,” canda Wonwoo yang dilanjutkan dengan cubitan ke hidung Junhui. Sialnya, karena Junhui ini sepertinya titisan kucing, ia pun digigit.
And if a double-decker bus crashes into us
To die by your side is such a heavenly way to die
And if a ten ton truck kills the both of us
To die by your side
Well, the pleasure, the privilege is mine
“Nu, ayo minggat,” kata Junhui simpul saat mobil berhenti di lampu merah, tersenyum lebar sambil sedikit berjoget menyanyikan lagu kesukaanya.
“Ayo, mau kemana kita? North Blue? Atau ke East Blue aja biar kamu bisa mampir makan ke Baratie?” Canda Wonwoo dengan referensi animasi kesukaan Junhui. Mereka pun tertawa, sambil melihat lampu-lampu malam dan merasakan angin berhembus. Tenggelam dalam rasa hangat, Junhui mengulurkan tangan kanannya untuk menggenggam tangan kiri Wonwoo, membiarkan Wonwoo menyetir dengan satu tangan.
“Kalau sama Nu, kemana pun engga masalah sih. Soalnya Nu rumahnya Junhui.”
Wonwoo tersenyum, mengeratkan tangan mereka seakan menjawab, “Sama kok, Ju. Kamu juga rumahnya Nu.”
Mobil melaju lambat, memasuki underpass gelap yang entah arahnya kemana.
Take me out tonight
Take me anywhere, I don’t care, I don’t care, I don’t care
And in the darkened underpass I thought, “Oh God, my chance has come at last”
But then a strange fear gripped me and I just couldn’t ask
Namun bertahun-tahun bersama, mereka juga tahu bahwa mereka tidak bisa begitu saja meninggalkan planet mereka. “Mereka nyebelin, tapi aslinya sayang sama Junhui.” kata Junhui saat itu, sambil memeluk kucing oranye milik Wonwoo di kamarnya. “Mereka cuma engga bisa ngerti,” sambung Junhui lagi, melepaskan pelukannya dari kucing itu dan alih-alih memeluk tuannya yang sejak tadi mengelus rambutnya lembut.
Junhui adalah anak tunggal, keajaiban yang sudah lama ditunggu setelah ibunya mengalami keguguran. Maminya berubah menjadi lebih protective, tidak ingin kehilangan anak manisnya. Sedangkan papinya ingin memberi kebebasan agar anaknya bahagia. Namun, entah sejak kapan mereka berubah menjadi pemarah, saling berselisih paham karena perbedaan pendapat. Bukan berarti mereka menjadi dingin, masih banyak kalimat-kalimat sayang dan kecupan-kecupan kecil yang ia dapat, sayangnya ia mendapatkan itu saat orang tuanya tidak di satu tempat yang sama. Selebihnya, Junhui merasa pusing karena harus mendengar orang tuanya berselisih hingga pita suara keduanya sakit.
Pun sama dengan Wonwoo. Hidup di keluarga yang serba berkecukupan, Wonwoo tidak perlu mendengar keributan tentang finansial keluarga. Untuk ulang tahunnya yang ke-17, mama dan papanya membelikan dia Playstation model paling baru agar bisa bermain dengan Junhui. “Titip Wonwoo ya, Junhui sayang,” ucap mamanya, sambil beranjak dari kamar Wonwoo membawa koper besar untuk kegiatan business trip-nya. Tidak ada roti, lilin, bahkan ucapan. Hanya kado dan kalimat, “Mama sama papa habis ini pergi. Wonwoo ditemani Junhui ya.”
Wonwoo dan Junhui sadar, mereka tidak bisa meninggalkan planet mereka, dan di dalam terowongan gelap yang terasa lebih panjang dari biasanya ini, ditemani dengan sayup-sayup lagu yang sejak tadi didendangkan Junhui, dengan tangan yang masih saling menggenggam satu sama lain, Wonwoo menoleh ke arah Junhui. Dan Junhui, oh his beautiful Junhui, yang terlalu baik hati selalu memberi apapun yang Wonwoo minta, tersenyum ke arahnya dengan kilatan mata yang begitu indah, seakan tidak pernah redup ketika menatap mata Wonwoo. Kilatan yang sejak tadi ia cari jawab— Oh.
Oh, there is a light and it never goes out
There is a light and it never goes out
There is a light and it never goes out
Wonwoo pun teringat lanjutan dari kutipan yang ia coba ingat-ingat sebelum menjemput Junhui.
Most of us continue to survive because we’re convinced that somewhere along the line, with grit and determination and perseverance, we will end up in some magical union with somebody. It’s a fallacy, of course, but it’s a form of religion. You have to believe. There is a light that never goes out and it’s called hope.”
— Morrissey
Harapan akan rumah, yang mungkin saja sudah terkabul. Harapan akan mereka berdua, yang sudah mantab akan terus bersama.
“I love you, Nu.”
Dan Wonwoo pun tersenyum.
— fin.
