Work Text:
4 September 2017
Selama hidupnya 22 tahun lebih berpijak di bumi ini, Als pasti bohong kalau berkata tidak pernah sekalipun berpikir untuk pacaran dengan cowok. 22 tahun itu waktu yang panjang. Perasaan dan pikiran seseorang pasti berubah sedikit banyak selama itu.
Tapi bukan itu yang dia maksud.
Waktu SD dan belajar di sekolah swasta Islam dulu, dia kadang berpikir kalau kakak-kakak kelas yang ditunjuk untuk menjadi imam jamaah harian itu mengesankan, tapi ada satu yang membuat jantungnya berdetak kencang. Setiap kakak kelas itu ditunjuk, Als pasti bergegas ke tempat wudlu dan mencari shoft paling depan. Dia kira dulu itu cuma rasa kagum dan keinginan untuk belajar bagaimana menjadi cowok keren dan berwibawa seperti itu.
Tapi waktu itu dia sudah suka dengan seorang cewek. Namanya Rien. Imut-imut dan badannya kecil. Jantungnya lebih dag dig dug ketika melihat perempuan mungil berhati singa itu. Terlihat kuat dan punya aura besar meskipun badannya tidak. Mandiri. Kokoh. Tidak tinggal diam kalau di-bully. Pintar juga.
Jadi waktu itu ia tidak berpikir panjang soal perasaannya terhadap si kakak kelas imam karena lebih fokus mengejar Rien.
Waktu dia berumur 14 tahun dan ibunya sudah meninggal 2 tahun, ayahnya memindahkannya ke Amerika Serikat, tempat dia lahir dan tinggal sampai umur 5 tahun, hingga akhirnya mendiang ibunya keukeuh membawa Als ke Indonesia supaya kenal dengan budaya dari setengah aliran darahnya. Karena ibunya sudah tiada dan dia adalah satu-satunya anak laki-laki penerus keluarga Marcell, ayahnya tidak memberi pilihan soal kepindahannya ke Brooklyn.
Dia diputus oleh Rien karena mereka masih anak-anak, cuma 13 tahun dan 14 tahun. “LDR itu terlalu serius untuk anak seumuran kita, Als,” jelas Rien waktu itu. Dia tetap berteman dengan Rien meskipun tidak lagi pacaran, berkomunikasi lewat Facebook, video call di Skype, atau aplikasi chat sederhana sesuai dengan teknologi akhir tahun 2000an. Lagi pula, dia bertemu kedua sahabat barunya, Janice dan Jason, yang ternyata jago nyanyi dan musik, jadi dia tidak begitu kesepian.
Tapi di tahun kedua dia tinggal di Amerika, dia meminta untuk mencoba LDR dan akhirnya Rien setuju.
Dengan kemampuan mereka semua dalam musik dan Rien yang jago menulis lagu, mereka berempat memilih untuk membuat band yang dinamai The Regiums, nama campuran Bahasa Inggris-Latin yang berarti si (anak-anak) royal, dengan syarat Rien menjadi secret fourth member yang hanya bertugas untuk menulis lagu dan ikut rekaman jarak jauh tanpa harus ikut tampil di panggung.
Band mereka sukses sampai mendapat Grammy untuk kategori Best New Artist di tahun 2013, dua tahun setelah band mereka meluncur, meskipun banyak juga yang nyinyir dan bilang kalau penghargaan itu pasti karena keluarga kaya si Marcell memberi sogokan agar bisa menang. Selain itu sih, semua berjalan lancar. Di sebagian besar waktu mereka berempat masih berteman baik, Als merasa cukup bahagia.
Sayangnya, ada hal-hal tidak enak yang terjadi ketika dia lulus SMA dan selesai tur dunia dengan The Regiums, yang membuatnya begitu trauma (meskipun pada saat itu Als tidak menyadari bahwa itu bukan salahnya). Karena itu Rien langsung meminta putus hubungan, tak peduli penjelasan apa pun yang dia berikan pada pasangan yang dia kira akan sehidup semati.
Jujur saja, dia merasa sakit hati dan pahit soal hubungannya dengan Rien dan juga Jane dan Jason yang memihak Rien. Akhirnya The Regiums bubar, dan prosesnya tidak mulus, meskipun secara publik mereka menjaga kata-kata masing-masing agar tidak saling menjelekkan.
Setelah putus dengan Rien dan tidak lagi bekerja sama dengan dua sahabatnya yang lain (atau bahkan berteman dan menjalin kontak dengan mereka), pikirannya mulai melayang-layang ke hal-hal yang dia coba pendam bertahun-tahun. Dia punya pacar perempuan beberapa kali, meskipun tidak ada yang langgeng bertahun-tahun seperti dengan Rien, sampai akhirnya dia dengar bisik-bisik teman sekelasnya di Stanford kalau ada cowok yang suka padanya.
Karena ini, Als akhirnya menelusuri kembali jejak-jejak hidupnya dan mulai berani untuk melihat lebih dalam perasaannya pada bocah-bocah laki-laki di hidupnya. Dia rasa mungkin ada beberapa yang tidak sepenuhnya dekat dengan Als hanya sebagai teman. Setelah diingat-ingat, ada banyak ternyata, seperti kakak kelasnya waktu SD, salah satu pianis session musician⁺ yang dibayar untuk membantu merekam album musiknya ketika masih di dalam The Regiums, salah satu lawan lomba debat waktu SMA yang terus-terusan bertemu dengan tim sekolahnya karena merupakan saingan debat kelas kakap, dan salah satu cowok di student body (atau kalau di Indonesia sama dengan OSIS) SMA-nya yang agak flamboyan tapi cekatan masalah administrasi kegiatan-kegiatan sekolah.
Bukannya dia menyalahkan Rien, tapi terkadang dia berpikir; apa kalau selama 4-5 tahun itu dia tidak berpacaran dengan cinta pertamanya, dia kemungkinan akan punya pacar laki-laki?
Jadi, setelah dengar rumor kalau ada cowok yang suka dengannya dari kelas mata kuliah Indigenous Art History*, dia memberanikan diri untuk mendekati cowok itu.
Lucunya, si cowok yang dirumorkan suka pada Als mengingatkannya pada Rien. Atau mungkin, karena dia pacar terlama Als seumur hidupnya, semua orang di hidupnya secara otomatis akan dibandingkan dengan perempuan itu. Entahlah. Als juga tidak paham.
Cowok itu bernama Riley. Badannya kecil dibandingkan Als yang tingginya sampai 189 cm dengan badan lumayan berbentuk (karena sebagai aktor dan musisi Hollywood, dia mau tidak mau harus menjaga paras sebagai aset penting kariernya). Riley juga lumayan suka beropini, tidak tinggal diam dalam diskusi dalam atau luar kelas. Terang-terangan membuka diri sebagai biseksual. Jiwanya membara dan aktif dalam kegiatan-kegiatan baik luar maupun dalam kampus. Jujur, Als lumayan kesengsem, dan akhirnya menembak Riley.
Sayangnya, sama seperti Rien, jiwa membara Riley sering menjadi sumber masalah dalam hubungan mereka karena Riley sering berdebat dengannya, bahkan dalam hal-hal yang tidak penting. Dia tidak mau kalah atau mengalah. Sering juga dia memaksa Als untuk membuka diri sebagai seorang bi (meskipun Als sendiri masih belum yakin, dan ada pikiran mengganjal di kepalanya kalau dia mungkin tidak tertarik dengan siapa pun secara fisik sampai-sampai dia membuka laman AVEN berkali-kali). Karier Als lebih ringkih dari hidup Riley, dan dia tidak bisa secara blak-blakan come out sebagai orang yang tidak hetero. Dia sering dituduh malu terhadap Riley dan tidak berkomitmen, dan akhirnya hubungan itu pun kandas.
Ada lagi laki-laki lain yang membuat Als jatuh hati, yang lebih berwibawa dan tenang dan sangat-sangat maskulin, dengan badan lebih besar dan tinggi dari Als. Namanya Owen, dan laki-laki itu membuat Als merasakan hal-hal yang belum pernah ia rasakan dengan siapa pun. Dia merasa nyaman dan lebih diayomi, dan sebagai laki-laki yang sering harus memenuhi syarat partriarki karena pacar-pacar sebelumnya adalah perempuan dan laki-laki lebih flamboyan darinya, Als langsung kepincut dengan Owen.
Dia kira ada harapan, berhubung laki-laki itu juga secara buka-bukaan merupakan cowok biseksual, tapi ternyata Owen lebih memilih untuk berpacaran dengan salah satu mantan perempuan Als, yang rasanya cukup memalukan dan menyakiti hatinya. Karena perasaan terluka dan terkhianati, Als akhirnya memblokir nomor dan akun media sosial mantannya dan juga Owen.
Ada laki-laki lain yang membuat dia jatuh hati lagi. Namanya Benjamin. Sayangnya, laki-laki itu bertopeng malaikat sedangkan di balik pintu, dia sering kasar terhadap Als dan memaksanya untuk berhubungan badan meskipun pada saat ini dia sudah bilang terang-terangan kalau dia biromantik aseksual. Dia hanya bisa jatuh cinta dengan semua gender, tapi tidak ada hasrat untuk berhubungan intim dengan siapa pun.
Butuh kerja keras untuk lepas dari laki-laki itu, karena Ben hampir 10 tahun lebih tua darinya sehingga lebih berpengalaman. Dia juga kebetulan manajer Als (atau mungkin memang direncanakan) setelah The Regiums bubar, dan punya akses macam-macam ke urusan karier dan finansial hidupnya. Pada akhirnya, dia berjanji pada diri sendiri untuk menimbun perasaannya terhadap pria mana pun.
Tapi kemudian dia bertemu laki-laki pirang itu.
Tinggi, maskulin, berotot; kalau Als jujur, badan pria itu agak mengintimidasi (atau mungkin dia masih waspada dengan laki-laki yang bisa mengalahkannya secara fisik). Warna rambutnya mirip emas yang berkilap. Laki-laki itu tidak berlagak seperti orang-orang lain yang biasanya langsung heboh dengan Als karena dia selebritas Hollywood dan keturunan keluarga Marcell. Dia bersikap kasual dan tenang terhadap Als, mungkin bahkan sedikit abai dengannya, layaknya Als bukan orang penting yang harus disorot terus menerus.
Als belum pernah melihatnya sama sekali di pemotretan lain atau runaway show⁺⁺ sebelum-sebelumnya. Kemungkinan besar dia baru saja jadi model, atau dia bukan model serius dan ambisius seperti kebanyakan model yang Als temui di kariernya. Mungkin karena itulah pria pirang kemarin tidak terlalu peduli dengannya meski dengan statusnya sebagai selebritas terkenal.
Bukan fisiknya yang membuat Als penasaran (lagi pula dia aseksual), tapi sikap tak acuhnya yang jujur saja membuat Als merasa tertantang untuk mengambil perhatiannya. Situasi dan perasaan baru bagi Als untuk tidak dielu-elukan atau dikecam berat sebelah mata seperti itu. Jarang sekali ada orang yang memperlakukannya seperti orang biasa, tanpa teriak atau keukeuh menelusuri kehidupan pribadinya untuk disebarkan ke publik.
Als menggelengkan kepalanya sedikit.
Pikirannya kembali ke masa kini, memfokuskan diri untuk memperhatikan sekitarnya. Dia sedang berdiri di depan kasir sebuah kafe artisan terkenal di L.A.
Mungkin rasa bersalah lah (atau keinginan untuk mengalihkan pikirannya dari macam-macam masalah hidup akhir-akhir ini) yang membuat Als mendekati kasir kafe ini, memesan minuman paling mahal yang ada di papan menu di atas mesin kasir tersebut.
Selain itu, di meja kasir tersebut ada banyak bungkus cookies yang dia siapkan untuk dibeli dan disalurkan ke model-model lain di studio pemotretan nanti.
Kemarin dia bertingkah sombong dan meledak-ledak terhadap hal-hal kecil, sampai-sampai fotografernya memberhentikan sesi pemotretan. Manajer baru Als (bekerja dengannya kurang lebih masih hanya 5-6 bulan terakhir) kemarin menelepon untuk mengatakan bahwa ada masalah penjadwalan meeting meskipun seharusnya bisa direncanakan dan dinegosiasikan dengan baik, dan mantan pacarnya juga menelepon tiba-tiba untuk minta putus (alasannya karena sebenarnya sudah punya tunangan yang membolehkan open relationship⁺⁺⁺ sebelum sampai ke pelaminan, tanpa pernah bilang pada Als).
Meskipun lumrah kalau Als patah hati dan marah, bukan berarti dia seharusnya bertingkah semena-mena sampai mengganggu jadwal kru dan model-model lain yang harusnya tidak perlu melakukan pemotretan dua hari.
Pikirannya kembali pada laki-laki berambut pirang itu sembari menunggu pesanan minumannya selesai dibuat oleh sang barista. Jujur, dia tidak yakin si laki pirang itu akan suka minuman yang dia beli meskipun minuman itu paling mahal. Als tidak paham juga masalah perkopian karena tidak suka kopi dan lebih suka menu Choco Shakes, tapi dia berharap menu paling mahal setidaknya rasanya enak.
"22 of our Signature Choco chips Cookies and one Iced Caramel Special Arabica Beans Latte for 'AJ', right?"**
Als mengangguk.
"That will be 157.95."***
Als membalikkan penutup tas lempangnya untuk mengambil dompet dan mengeluarkan 8 lembar uang 20 dolar untuk ditaruh di meja kasir. Setelah itu, ia langsung mengalungkan pegangan dari dua paper bag cokelat di depannya ke pergelangan tangan kanannya dan berbalik.
"Uh, Sir, the change?"****
Als menoleh ke belakang sedikit untuk berkata dari bahunya, "It's all right, you can keep it."*****
Si kasir kemudian berkata thank you, sir, dan Als memberi senyuman kecil sebelum bergegas keluar agar tidak terlambat untuk hadir di studio pemotretan. Dia sudah menyusahkan model-model lain dan kru pemotretan kemarin. Dia tidak perlu menyusahkan mereka lagi hari ini kalau ingin dimaafkan ketika menyebarkan jajanan di tangannya nanti.
Di luar kafe itu, ia langsung menunggangi motornya dan memasang helm sebelum menghidupkan mesin dan berangkat ke gedung studio. Untungnya lokasi studio tidak terlalu jauh, dan parkiran motor bangunan itu juga tidak berada terlalu dalam di belakang gedung parkir layaknya bangunan lain.
Memang tempat parkir motor di sini tidak sebanyak di Indonesia di mana kendaraan roda dua lebih lumrah.
Setelah selesai parkir, Als berlari kecil ke pintu depan gedung, namun langkahnya jeda di depan pintu kaca tersebut. Pipinya memerah sedikit karena ingat mendorong pintu tersebut meskipun ada tulisan 'Pull' di pegangannya. Ia tidak lupa harus dibantu membuka pintu oleh laki-laki pirang kemarin. Als akhirnya menunduk sedikit untuk melihat bungkusan paper bag di tangannya di mana kopi artisan yang baru dia beli tergantung.
Ia menarik napas dalam dan kemudian mendorong pintu tersebut dari luar, berhubung di pegangan bagian luar tertulis 'Push'. Kemudian, dia mendekati meja resepsionis gedung, mencoba bertingkah lebih sopan dari kemarin.
"Selamat siang, aku Albert Jay Marcell. Di sini untuk pemotretan Louís Bordeaux line," sapanya dalam bahasa Inggris.
Perempuan di meja resepsionis itu memberikan senyum profesional sambil menanyai informasi lainnya untuk diketik di data pengunjung di komputer, sampai akhirnya ia diberi kartu akses ke bagian dalam gedung dan lift. Als mengatakan terima kasih dan bergegas ke pemindai kartu tamu. Penutup besi gerbang tersebut berputar sampai ia bisa melewatinya. Als kemudian menempelkan kartu tamu ke pemindai di dekat pintu lift.
Saat berada di dalam lift, Als mencoba tenang meskipun belakang telapak kakinya terus mengetuk lantai tanpa ia sadari karena gelisah dan tidak sabar. Ketika mendengar bunyi ding, ia cepat-cepat berjalan ke studio yang ia datangi kemarin.
Als tiba-tiba merasa gugup dan tidak yakin, kakinya berhenti berpijak sebelum ia masuk terlalu dalam ke area pemotretan. Bibirnya ia gigit sedikit, sedangkan matanya bergerak dari satu sisi ke sisi lain sambil mencerna situasi di depannya. Dia menarik nafas dalam lagi sebelum menggerakkan kakinya dengan langkah kecil.
Di sekitarnya, ia melihat orang-orang memberinya pandangan mulai dari penasaran sampai kesal. Ada yang sedikit menutupi pandangan mereka, ada juga yang blak-blakan.
Matanya menyusuri lagi situasi sekitar sampai ia tiba di sebuah meja dalam area pemotretan tersebut. Meja itu ditempatkan lumayan jauh dari pintu masuk studio dan berada cukup terpencil di ujung ruangan.
Laki-laki berambut pirang yang ia lihat kemarin sedang duduk sambil berkutat dengan ponselnya. Als mengetukkan belakang telapak kakinya ke lantai beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri mendekati laki-laki itu. Ketika dia sudah berdiri sekitar satu meter dari meja tersebut, Als berhenti, memilih untuk menunggu dilihat dari pada mengganggu apa pun itu yang si pirang sedang dikerjakan di ponselnya. Pria itu terlihat cukup sibuk dan berkonsentrasi pada layarnya.
Setelah berdiri cukup lama, Als sadar sepertinya si pirang tidak ingin mengajak berbicara duluan, atau dia saking konsentrasinya sampai tidak tahu Als sedang berdiri di situ. Akhirnya Als memilih untuk merogoh tas kertas berwarna cokelat di pergelangan tangannya. Dia mengambil minuman yang baru dibeli untuk laki-laki pirang itu. Kemudian ia menaruh gelas plastik berisi es kopi tersebut di depan si pirang.
Si pirang mengernyitkan alisnya dan kemudian menoleh ke atas untuk menatap muka Als.
"Hai," Als menyapanya sebelum menyadari ia sudah membuka mulut.
Laki-laki pirang itu tetap menatapnya dengan muka bingung tanpa membalas.
"Aku nggak tahu minuman apa yang kamu suka, jadi aku hanya minta baristanya untuk membuat minuman rekomendasi."
Si pirang masih saja melihat mukanya dengan alis mengernyit.
"Minuman permintaan maaf," lanjutnya dengan grogi sambil berharap si pirang tersebut cepat-cepat membalasnya.
Als menunggu cukup lama dengan kegugupan yang semakin meningkat, tapi akhirnya si pirang itu menoleh ke bawah lagi untuk melihat gelas plastik yang ada di depannya. Laki-laki itu tidak tampak senang ketika pandangannya jatuh ke minuman tersebut.
Apa dia begitu marah karena dibuat kerja dua hari dan tidak diberi terima kasih ketika membantu Als untuk membuka pintu kemarin?
Als terus mengetuk-ketuk belakang telapak kakinya dengan gugup, menunggu reaksi dari laki-laki tersebut. Raut mukanya terlihat ragu, dan bahkan mungkin curiga. Untungnya, salah satu tangan kekarnya akhirnya sedikit demi sedikit terulur untuk memegang gelas plastik yang sudah ditaruh di meja.
"Asal bukan semacam frappe aneh-aneh itu, aku bisa minum."
Oh.
Oh, sial.
Minumannya adalah frappe aneh-aneh itu.
Als tetap mencoba berpikir positif. Mungkin itu candaan saja. Mungkin dia masih mau minum dan memaafkan Als. Mungkin Als masih punya kesempatan untuk berteman dengan pria pirang itu.
Jadi dia melepaskan nafas panjang agar lebih tenang. Setidaknya si laki-laki pirang masih mau menerima minumannya.
Tapi tangan kekar pria itu masih tidak bergerak untuk mendekatkan gelas tersebut ke mulutnya. Pandangannya juga tidak senang atau tertarik dengan minuman yang Als berikan. Tanpa disadari, Als mulai merasa sedih lagi.
Mata biru langit si pirang bergerak untuk menatap ke atas pada muka Als kemudian turun lagi untuk mengobservasi minuman itu. Als melihatnya menelan ludah dengan kening sedikit dikerutkan layaknya ia takut untuk meminum isi gelas tersebut.
Als menggigit bibirnya lagi sambil menunggu, berharap pria pirang itu mau meminumnya sebagai tanda Als sudah dimaafkan. Untungnya tangan si pirang bergerak untuk mendekatkan dan mengangkat gelas plastik es kopi itu dari meja. Dia secara pelan-pelan meletakkan bibirnya ke lubang minum di ujung penutup gelas. Matanya bergerak lagi ke atas untuk menatap Als. Tanpa sadar Als mulai tersenyum.
Pria itu tiba-tiba mengerutkan wajahnya dalam-dalam seakan-akan minuman itu menista nenek moyangnya sampai tujuh turunan. Kepalanya berpaling sedikit ke samping dan tangannya langsung menjauh agar gelas minuman itu tidak lagi berada dekat bibirnya.
Memang semua itu terjadi kurang dari satu detik sebelum pria pirang itu meluruskan wajahnya agar tampak netral, tapi Als sudah terlanjur lihat. Rasanya hatinya jatuh ke lantai karena kecewa dan malu atas reaksi si pirang.
"Kamu nggak suka ya?" tuturnya dengan suara kecil.
Laki-laki itu terlihat kasihan ketika menatap mukanya lagi. Si pirang akhirnya menghelakan napas.
"Dengar, aku berterima kasih atas minumannya dan niatan baikmu. Aku cuma suka kopi hitam. Itu saja."
Als tiba-tiba ingin menangis. Banyak sekali yang terjadi tidak sesuai keinginannya akhir-akhir ini.
"Lagi pula, bukan aku saja yang harus kamu minta maaf."
Als secara otomatis celingak-celinguk ke sekitarnya sambil menggaruk kepalanya karena grogi dan bingung.
"Ya, aku tahu. Aku hanya ingat kamu membantu membukakan pintu kemarin."
Ia merasakan pipinya hangat. Pasti mukanya memerah.
Salah satu alis cokelat muda di muka pria itu tiba-tiba naik. Sepertinya dia tidak menyangka Als ingat dengannya karena insiden pintu kaca sehari lalu.
Bagaimana mungkin Als lupa? Dia masih merasa malu kepalang karena hampir menjebol pintu kaca gedung ini kemarin. Saking kesal, sedih, dan frustrasinya Als setelah pembicaraannya dengan manajer dan (mantan) pacarnya, dia sampai tidak melihat tulisan ‘Pull’ di pegangan pintu tersebut ketika pulang. Rasanya ingin jatuh ke lantai dan menangis bersenggukan hanya karena tidak bisa membuka pintu.
Memang Als beruntung si pirang berlari kecil mendekatinya kemarin untuk membantunya membuka pintu. Bisa-bisa harinya yang sudah bobrok jadi makin parah kalau benar-benar merusak pintu itu di depan banyak orang. Tapi tetap saja, ketika si pirang melihat wajahnya yang kusut dengan mata memerah dan basah, yang bisa Als pikirkan hanyalah betapa malunya dia dan betapa dia ingin lari agar bisa menangis sepuasnya di dalam kondominiumnya tanpa dilihat siapa pun.
"Dan, eh... aku juga beli banyak cookies untuk seluruh kru," dia mulai berkata cepat dan gagap tanpa menyadarinya, "meskipun sekarang rasanya agak bodoh."
Laki-laki itu menghela nafas lagi dengan muka ragu, tapi masih simpatik.
"Yang paling penting niatnya," tuturnya pada Als dengan suara lembut. Rasanya Als menjadi lebih tenang karena itu.
Als berbalik lagi untuk melihat area sekitar di mana para model lain dan kru pemotretan berada. Ada banyak yang terlihat masih kesal dan tidak suka padanya. Dia pikir tidak mungkin untuk mengubah pemikiran mereka terhadap Als kalau dia bukan tipikal model dan selebritas kelas atas yang sombong dan semena-mena. Dia murung lagi dengan rasa kecewa dan bersalah.
"Dengar," pria itu berkata lagi, menarik perhatian Als agar dia menatap si pirang kembali, "cobalah untuk... tulus. Masalah mereka memaafkanmu atau tidak, itu urusan mereka. Yang penting kamu berusaha."
"Baiklah," Als akhirnya menurut.
Ia menghela nafas panjang untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi orang-orang tersebut. Hal ini tidak akan mudah. Bahkan mungkin akan ada beberapa orang yang ketus padanya karena masih marah dibuat kerja dua hari dan diperlakukan tidak sopan.
Ia mulai akan berjalan, namun alisnya naik tiba-tiba karena teringat sesuatu. Dia pun membalikkan badannya.
"Omong-omong, aku nggak tahu namamu."
Laki-laki pirang itu mengernyitkan dahinya lagi seakan ia bingung dan kaget. Butuh beberapa waktu sampai dia membuka mulutnya dengan suara tidak begitu yakin.
"Eh, namaku James."
Als tidak sanggup menahan rasa… gembira, mungkin. Dia tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Hai, aku Albert."
Lagi-lagi pria itu (kini dia kenal dengan nama James) hanya menatapnya dengan bingung sebelum pandangannya jatuh pada tangan terulur Als. Dahinya mengernyit lagi.
Apa dia salah mengartikan kata-kata sopan James? Apa James sebenarnya tidak mau berbicara dengan Als? Apa harusnya Als tidak mengganggunya?
Ah, salah lagi.
Tanpa sadar, tangannya sedikit turun dengan jari-jarinya melengkung ke dalam telapak tangan. Ada rasa kecewa lagi, ditambah sakit hati yang masih dia alami karena mantan pacarnya yang baru kemarin membuatnya merasa terhina dan marah dengan alasan putus konyolnya. Belum lagi, perasaan frustrasinya karena masalah pertemuan dengan produser eksekutif yang seharusnya dijadwalkan oleh manajernya yang masih tidak pasti kapan akan dilakukan.
Mungkin James kasihan dengannya setelah melihat wajahnya murung lagi. Akhirnya pria pirang itu mengulurkan balik tangannya untuk menyalaminya.
Als lagi-lagi tidak bisa menahan kelegaan dan perasaan senangnya sampai dia tersenyum lagi. Mungkin kalau dipikir-pikir, memalukan sekali tersenyum lebar dan bahagia hanya karena seorang asing bersedia bersalaman dengannya, tapi Als tidak begitu peduli. Setidaknya ada hal-hal kecil yang berjalan mulus di beberapa hari terakhir. Lagi pula dari kemarin dia ingin sekali berkenalan dengan James, entah secara pasti apa yang dia rasakan terhadap laki-laki itu selain penasaran dan rasa bersalah.
Dia tidak punya banyak teman dekat akhir-akhir ini. Maklum saja dia begitu senang dapat satu orang yang bisa menjadi teman baru.
Entah kenapa, Als melihat mata James melebar dan ada kemerahan di pipi putihnya sembari menelan ludah seakan-akan dia sekarang yang malu dan grogi dengan Als.
Huh.
Apa... apa Als terlalu narsisistik kalau menduga James mungkin tertarik padanya?
Atau ini hanya keinginan semu Als karena baru saja patah hati oleh mantannya?
Banyak orang yang bilang lesung pipinya membuatnya terlihat menarik, tapi rasanya Als menganggap dirinya terlalu tinggi kalau berpikir orang yang belum pasti suka laki-laki tiba-tiba suka padanya hanya karena itu.
Ah, lupakan. Jangan terlalu berharap aneh-aneh. Nanti kecewa sendiri. Lagi pula dia butuh waktu untuk berpikir jernih setelah hubungannya yang baru kandas kemarin.
Tapi Als tetap saja merasakan tatapan James ketika mengelilingi studio pemotretan untuk memberikan jajanan satu-satu kepada sesama model lain dan juga krunya. Ia juga tidak bisa menyangkal kalau James terlihat malu-malu namun juga lega dengan pipi agak memerah lagi, sama seperti Als sendiri, ketika Als duduk lagi di hadapannya dan mulai berbincang ringan bersama.
Als juga bisa melihat kalau James sepertinya menunggu-nunggu waktu istirahat pemotretan agar Als mendekatinya untuk bicara panjang lebar lagi sambil tertawa kecil beberapa kali. Mereka mungkin berbicara tentang mantan Als yang baru saja memutuskannya kemarin karena sudah punya tunangan (James bereaksi seakan dia marah untuk Als, namun juga mencoba menghiburnya dengan lawakan tentang mantannya dan bagaimana bodoh cewek itu karena sudah menyiakan Als).
Atau mungkin mereka berbincang tentang mereka berdua yang ternyata sama-sama lulusan Stanford, tapi karena Als begitu sibuk dengan kariernya dan jurusan ganda saat kuliah, ia tidak pernah jalan-jalan di sekitar Bay Area⁺⁺⁺⁺ (James menawarkan untuk menjadi 'pemandu wisata' katanya, agar bisa membawa Als untuk berkeliling tempat-tempat wajib dikunjungi. James lahir dan besar di sana, jadi dia tahu betul tempat paling terpencil pun di Bay Area).
Mungkin juga mereka berbicara tentang James yang sebenarnya benci pekerjaan peragawan dan ingin mendapat lowongan teknik biomedis, setidaknya magang kalau memang tidak dapat pekerjaan pegawai penuh (Als menawarkan rekomendasi dengan networking beberapa orang yang dia kenal dari perusahaan dan mitra bisnis keluarga Marcell, agar James lebih mudah dapat posisi insinyur sesuai gelarnya ketika lulus).
Entahlah. Als juga tidak tahu. Yang dia tahu hanya perasaan dag dig dug ketika pulang ke kondominiumnya, apalagi saat melihat kontak di layar ponselnya dengan nama James Dennison.
