Work Text:
Telpon.
Enggak.
Telpon.
Enggak.
Sungchan putar-putar pulpennya yang menyelip di antara dua jari dia. Layar di hadapannya menyala, tapi bukan lantas jari-jarinya menggelitik keyboard buat lanjutkan paragraf selanjutnya. Dia pikir, otaknya mungkin bisa duluan mati sebelum layar laptopnya sendiri.
Pikirannya ke mana-mana. Pasalnya sejak pukul delapan pagi tadi, sampai bulan yang beberapa jam lagi bergilir nangkring di langit, pesan pengajuan bimbingannya belum juga ditanggapi. Mau telpon pun dia enggak enak hati.
Keburu pemilik rumah yang ditumpanginya pula mengusir sebab dia tinggal di sana dengan tak tahu diri.
Memang skripsi sialan. Kalau bukan karena tuntutan orang tua dan kepalanya yang siap meledak di setiap sepertiga malam, mungkin Sungchan bisa santai-santai dulu kuliahnya. Enggak masalah kalau selesainya mepet, toh wisudanya juga barengan sama yang lain ujung-ujungnya nanti.
“Datengin lah rumahnya. Repot amat.” Yang barusan menyahut itu Shotaro. Kawan keturunan Jepangnya itu beri saran dengan nada kelewat sewot.
“Sopan ya emangnya kalau gue—”
“Fakta kalau lo pernah makan bareng dan nganter dia balik aja tuh udah enggak sopan masuk di memori banyak orang, bangsat.”
Kali ini Sungchan cuma bisa meringis, sebab pelipisnya pula kena sentil tangan Shotaro yang sedari tadi sudah gatal ingin mengusir. Tengkuknya yang nggak gatal itu digaruk-garuk sembari dia memutar kembali momen-momen yang baru saja disebut sahabatnya. Gimana juga sih kemarin kok dia bisa jalan bareng dosen pembimbingnya sendiri?
Sekali atau dua kali—ah, rasanya ada lebih dari tiga kali Sungchan teringat lagi ekspresi Pak Eunseok saat itu. Bagaimana kedua ujung alisnya nyaris menyatu di tengah berbarengan dengan tangannya yang mengepal diam-diam di perutnya. Shotaro dengan kurang ajarnya bilang kalau dosennya itu kebelet berak, tapi Sungchan tahu pasti urusannya enggak sesepele itu.
Jadi, berlagak sebagai mahasiswa yang sok pahlawan saat itu, Sungchan nekat tanyakan kenapa. Sewaktu dia tahu kalau alasannya adalah asam lambung, dan sumpah mati dia mengerti bagaimana penderitaannya, ia tawarkan makan bersama.
Mana tahu kalau ujung-ujungnya motor dosen mudanya itu kebetulan mogok dan ia terpaksa tinggalkan Shotaro buat antar yang lebih prioritas. Dalam artian, di sini Sungchan enggak mungkin ninggalin dosennya begitu aja, kan? Shotaro mungkin enggak setuju, tapi peduli setan deh pendapat sohibnya itu.
Dan mungkin segelintir mahasiswa yang enggak sengaja bertemu mereka berdua saat itu berbisik-bisik. Ujung-ujungnya jadi estafet berita panas yang menyebar ke seantero fakultas. Enggak sopan masuk memori orang kalau kata Sotaro. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi?
“Bukan salah gue juga. Toh, niat gue baik,”
“Sok pahlawan,”
“Ya terus gue harus gimana sekarang?”
“Mana gue tau. Yang tau pasti situasinya kan kalian berdua.”
Bingung. Sungchan berusaha jalankan kembali sirkuit otaknya yang sebelumnya macet itu—salahkan skripsi dan kawannya yang ngebet banget dia pergi dari rumahnya itu. Layar laptopnya mati tanpa permisi setelah dia diamkan bermenit-menit. Sungchan mau tak mau pikirkan omongan Shotaro lagi.
Situasi, ya? Sungchan bertanya-tanya bagaimana tidurnya malam nanti kalau skripsi di hadapannya belum juga ditangani. Kalau dia sakit sebab pola tidur acak-acakannya terulang lagi, dia bisa mati. Lebih-lebih kalau dia hampiri dosennya hari ini, Sungchan yakin bayang-bayang wajah cantik dan rupawan laki-laki itu semakin bersemayam lama dalam kepalanya.
Loh, tunggu dulu. Cantik dan rupawan? Perut Sungchan seperti digelitik puluhan kupu-kupu tak kasat mata yang menari-nari di dalamnya. Ada suara dari debar jantungnya yang berpompa kencang dan getar dari jari-jarinya yang bergemeletuk di atas meja. Pikirnya lagi—sumpah, dia kebanyakan mikir hari ini—apa sopan dia begini?
“Jangan bengong, goblok,”
“Ya Tuhan, bisa enggak berhenti ngatain gue?”
“Lama sih mikirnya. Kalau mau samperin ya samperin sekarang, keburu malem.”
Oh, jadi kesimpulannya, situasi kali ini masih sopan masuk di akal, ya?
Kembali lagi ke awal juga, persetan kata Shotaro dan orang-orang nanti terutama. Sungchan buru-buru kemasi barangnya dan sore itu dia melaju lebih kencang dari biasanya.
Mau ketemu Pak Eunseok jadi satu dari banyak hal yang berlari-lari di pikirannya.
Sungchan ingat kalau apartemen Pak Eunseok ada di lantai delapan dan ia harus menyusuri koridor di sebelah kiri sebanyak lebih kurang dua puluh langkah untuk sampai di kediamannya.
Laki-laki kelahiran September itu tekan bel pintunya, seperti biasa—seperti pertama dan kedua kalinya ia berkunjung ke sana. Enggak ada yang tahu soal fakta ini karena Sungchan anggap enggak ada pentingnya. Tetapi mungkin sekarang iya. Karena sekali dua kali, pintunya pasti akan langsung terbuka dan dia disambut senyum yang terpampang di wajah yang lebih tua, dibarengi kacamata yang bertengger di wajahnya.
Kali ini bedanya kentara sekali. Sungchan enggak enak hati tekan belnya lagi setelah tiga kali berturut-turut dia belum lekas dapat jawaban. Pikirnya dosen pembimbing dia itu mungkin pergi, tapi intuisinya sebut dia ada di sini.
Rasanya kurang sopan masuk tanpa permisi, tapi di lain sisi, tangannya malah bergerak sendiri. Kenop pintunya diputar dan kagetnya lagi, Sungchan bisa buka dan temui dosennya yang tengah berdiri di hadapannya; poni rambutnya terlihat lepek dan kacamatanya absen entah ke mana hari ini.
Bukan seperti Pak Eunseok yang selama ini dia kenal.
“Pak, maaf tadi—” cicit Sungchan, takut-takut sebab bagaimanapun juga dia sudah sembarang masuk.
“Sungchan, masuk aja gapapa.” suara laki-laki yang lebih tua itu enggak lagi bikin Sungchan berpikir yang macam-macam, seperti marah misalnya. ”Maaf ya saya lagi kayak gini.” sambung Eunseok, kali ini lebih lembut.
Sungchan enggak bicara lagi. Dia mengekor yang lebih tua dan dudukan diri di sofa empuk depan televisi. Sementara pria kenamaan Eunseok itu masih tetap berdiri. Satu tangannya berkacak pinggang dan jemari dari tangannya satu lagi memijat pelipis, tampak linglung.
“Pak, ada yang bisa dibantu—Eh, Pak!”
Layaknya adegan klise dalam sebuah drama—sebetulnya enggak sopan sekali berpikir begini di tengah situasi seperti ini—Sungchan lantas berdiri. Refleknya juara di saat-saat seperti ini, dan badan Pak Eunseok yang nyaris jatuh karena hilang keseimbangan tadi menempel pada miliknya natural sekali.
Segala sesuatu di dunia ini bak berjatuhan pada perangai baiknya kala itu. Dalam bentuk lain dari yang ia sangka-sangka, dan kebetulan ada pada dosen pembimbingnya sendiri. Bercanda sekali.
Sungchan rasakan kedua tubuh mereka menyatu dan barulah ia sadar kalau dosen pembimbingnya itu demam. Pak Eunseok demam. Dan Sungchan merutuki dirinya sendiri karena masih berani datang walaupun pesannya saja sudah jelas enggak dibalas. Mungkin alasannya karena ini. Kalau saja Shotaro di sini, pasti kawan gilanya itu sudah berceletuk panasnya bisa buat masak mie.
“Pak, maaf, ini Pak Eunseok demam. Kayaknya perlu dibawa ke rumah sakit deh,”
“Engga perlu, Sungchan. Nanti juga mendingan sendiri.”
Kepala batu. Pertama asam lambung, sekarang demam dan ogah-ogahan dibawa ke rumah sakit. Sungchan jadi ngomel sendiri.
“Mendingan juga belum tentu sembuh,” Sungchan angkat kedua kaki dalam genggamannya ke sofa dan arahkan badan empunya agar badan yang lebih tua itu bisa berbaring. “Tunggu di sini sebentar ya, Pak. Nanti saya balik lagi.”
Sungchan pergi dan betulan kembali. Yang dipanggil-panggil Pak Eunseok itu terperangah: ekspektasikan mulutnya sendiri menyanggah, tapi mahasiswanya beri dia kebaikan dengan cuma-cuma. Aksinya hari ini bisa dibilang kelewat ramah.
Dan ia hanya bisa diam ketika telapak tangan mahasiswa semester akhir itu menyentuh kepalanya. Dengan telaten yang lebih muda itu mengelap poninya yang lepek untuk menaruh kain yang sudah direndam air hangat ke atas keningnya. Pipi dan lehernya berturut-turut dipegang untuk memastikan suhu badannya.
Di sisi lain, Eunseok rasakan jantungnya berdetak tak karuan, kendati justru wajah Sungchan yang terlihat kelewat merah bak tomat.
“Pak Eunseok kenapa ketawa?” tanya laki-laki Virgo itu, bingung. Ia sendiri tahan hasratnya tak ikut menyunggingkan senyum saksikan proyeksi di depan matanya.
“Ah, gapapa. Barusan keinget hal lucu,”
“Selucu muka saya?”
“Selucu muka kamu, Sungchan.”
Gila. Sungchan lantas nyengir tanpa ba-bi-bu. Peduli setan pengertian lucu yang dimaksud, tapi hatinya hangat tahu ada manusia yang gamblang tunjukkan ia terhibur dengan eksistensinya. Pun tipis-tipis salurkan bahagia dengan senyum manisnya.
Sore menjelang malam itu, Sungchan temui binar di dua netra yang ditatapnya. Tak masuk akal bahwa laki-laki di depannya sedang diuji sakit bersama dengan kesempurnaannya figurnya. Jadi, sebut Sungchan tak tahu diri—dia sudah lagi tak peduli—ia tembakkan pertanyaan atas rasa penasarannya; mengharap konfirmasi.
“Pak, maaf kalau enggak sopan. Tapi saya boleh nanya sesuatu?”
“Silahkan,” Eunseok balas tanpa jeda, intonasi ramah masih terselip di sana.
“Uhm… Anu… Pak Eunseok udah punya istri?”
Hening sebentar. Sungchan mendadak takut kalau-kalau setelah ini tak ada lagi pintu yang sudi terima presensinya. Lebih-lebih lagi milik Pak Eunseok. Terutama milik Pak Eunseok.
“Belum,” tapi jawaban yang lebih tua seakan mengamini doa-doanya. “Ah, I don't think I'll ever have one, Sungchan.”
Ia tak sepenuhnya paham dengan kalimat yang barusan mengudara. Yang ia punya cuma asumsi, dan dua-duanya mengarah pada ia punya peluang. Ujung bibirnya yang berkedut pinta sunggingkan senyum itu ditutupi dengan anggukan di kepala.
Ruangan persegi yang mereka tempati mendadak enggak lagi terasa panas. Yang terakhir kali lewat adalah semilir angin dari jendela yang setengah terbuka. Merah di pipi dua insan di sana saat itu pula masih menyala; bak musim salju datang tiba-tiba. Satu-satunya suara bergema dan asalnya dari sepasang jantung manusia di dalam yang saling berpacu.
“Sungchan,” Eunseok berdeham, loloskan serak di tenggorokannya. Sekiranya ini kali pertama ia sebut nama sosok di depannya dengan gugup.
“Iya, Pak?” Sungchan jawab kelewat cepat, skala kesopanan tak dihitung lagi.
Dan yang lebih tua tersenyum sampai lemak di pipinya berkumpul pada satu sisi. Permisi, yang barusan manis sekali. Hati-hati, kali. Gimana kalau sampai ada yang mati?
Sisipan kalimat-kalimat tadi dari Sungchan yang enggak bisa tahan diri lagi. Yang selanjutnya terjadi di luar prediksi, dan demi apapun di dunia ini, waras Sungchan mungkin akan hilang kendali.
“Pertemuan kita selanjutnya nanti, gantian saya yang traktir, ya?”
Fin.
