Actions

Work Header

Carry

Summary:

Rex Lapis, hambamu pasrah pada semuanya.
Baizhu sekali lagi ingin menghilang dari sana.

Notes:

Warnings : no beta, possible typos, possible OOC, crack fic, Hutao loved to poke fun at Baizhu, Changsheng secretly enjoying all the drama, Qiqi is just...Qiqi

Ditulis karena lagi capek, butuh konten Baizhu, mau bawa Baizhu kawin lari

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

CARRY

 


 

***

 


Sebentar lagi pergantian tahun.


Hanya tinggal beberapa hari lagi hingga tahun baru tiba.

 

 

Seperti layaknya anak seusia itu, Qiqi cukup bersemangat menyambut perayaan ini walaupun tak tampak dari raut wajahnya yang memang sudah kaku secara harfiah.

 

 

 

Biasanya pada malam sebelum pergantian hari, Baizhu akan membuat mi panjang umur untuk mereka makan menjelang tengah malam.


Kemudian mereka akan mencari tempat tinggi untuk melihat kembang api dari pelabuhan.

 

 

Biasanya juga, Gui akan ikut makan sebelum ia pulang untuk merayakan bersama keluarganya di rumah.

 

 

Tahun ini Gui diberikan liburan lebih awal oleh Baizhu.


Jadi tak tampak wajah sang Herbalist di meja depan Apotek Bubu siang itu.

 

Yang ada hanya kosong, oh, tidak, ada Qiqi yang mungil sehingga tampak seperti tak ada siapapun yang berjaga dari luar.

 

 

 

Masalahnya adalah, sepertinya kali ini perhitungan Baizhu meleset.


Stok tanaman herbal yang seharusnya cukup setidaknya hingga Gui selesai libur, menipis karena mendadak ada orang yang memang membutuhkan datang kemarin.

 

 

Karena itu Baizhu memutuskan untuk menutup apotek lebih awal dan berencana mengambil sendiri yang ia butuhkan.

 

 

 

Tidak, tidak sendiri tentu saja.

 

 


Ia ditemani Changsheng dan Qiqi.

 

Kalau sendirian, bahaya juga.


Walaupun kemungkinannya kecil dan ia sendiri tak ingin mengakuinya, Baizhu yang bahkan enggan untuk memikirkan ini tetap mempertimbangkan hal terburuk yang dapat terjadi, yaitu jikalau kondisi tubuhnya sewaktu-waktu bisa memburuk kapan saja.

 

 

Ya, dan ia tak bisa membawa karung berisi tanaman itu sendirian.

 


Baizhu sedikit denial dengan mengatakan bahwa ia sudah cukup berumur sehingga punggungnya tak sekuat waktu ia muda, tapi Changsheng dengan sinis mendengus padanya tanpa mengatakan apapun.

 

 

 

Ya sudahlah.

 

 

 

 

 

Jadi, sekarang Baizhu menatap ke atas.


Bingung.

 

 

Ada setangkai Violet Grass di tepian atas tebing.

 

 

 

Baizhu membutuhkannya, tapi ia agak ragu meminta Qiqi mengambilnya.

 

 

Changsheng juga tidak bisa diminta bantuan.

 

 

Berarti opsi terakhir adalah melakukannya sendiri.

 

 

 

"Jangan gegabah. Apa tidak sebaiknya menunggu seseorang untuk dimintai tolong? Lagipula, bukannya kamu bisa meminta bantuan Adventurer's Guild?" ujar Changsheng tepat saat Baizhu akan memegang dahan yang ada di tebing untuk mulai memanjat.

 

Baizhu menatap sekitar, sepi.


Hanya terdengar suara Qiqi yang bermain bersama beberapa ekor burung di sana.

 

 

 

 

"Hei, Changsheng, apa kamu tidak bisa memanjang untuk mengambilnya?" gumam Baizhu dengan masih menatap Violet Grass di atas sana.

 

 

 

"Heh, sembarangan. Kamu pikir aku tali?" desis Changsheng yang sebenarnya tidak kesal sama sekali.

 

 

 

"Ya, tali. Boleh juga," Baizhu mengangguk sebelum kembali menatap Changsheng dan bertanya,

 

 

 

"Jadi, apa kamu tidak bisa berubah jadi tali, Changsheng?"

 

 

 

 

"Baizhu, apa kamu mau coba kugelitik lubang telingamu pakai ekorku?"

 

 

***

 


 

***

 

 

Napas Baizhu tercekat saat pijakan yang ia pilih ternyata tidak terlalu padat.


Untunglah tangannya masih kokoh menahan dahan hingga ia tidak merosot ke bawah.

 


Ia tak ingin perjuangannya sia-sia.


Ia sudah berusaha memanjat sedari tadi.


Menghiraukan kondisi tubuhnya, dan apapun itu.

 

 

 

Baizhu semakin bersemangat dan yakin ia akan segera dapat menjangkau bunga itu sedikit lagi.

 

 

 

Hanya sedikit lagi saja-

 

 

 

 

"Hei, kamu baru dua jengkal dari tanah, cepat putuskan mau memanjat, atau turun kalau lelah," kata Changsheng yang mendelik keheranan dengan Baizhu yang sedari tadi hanya terdiam seperti cicak, berpegangan pada dahan dengan dramatis.

 

 

 

***

 

 


 

 

***

 

 

 

 

Dulu sekali, mendiang gurunya memberinya buku.
Sebuah buku dongeng dari negeri asing yang tak pernah mereka kunjungi bahkan ketahui.

 

 

Baizhu kecil yang baru kehilangan orangtuanya dan saat itu mulai belajar membaca, sangat bersemangat membuka lembar demi lembar.
Memperhatikan setiap huruf dan gambar.

 

 

Dongeng tentang Puteri dari Antah Berantah yang dicintai oleh Pangeran.
Yang di mana sang Pangeran kerap menggendong Puterinya dengan romantis seperti seorang pengantin.

 

 

....

 

 

 

Oh tidak, pikiran Baizhu mulai kacau.

 

 

 

Baizhu berhasil menarik lepas tangkai Violet Grass itu dan secara hati-hati menjatuhkannya untuk ditangkap oleh Qiqi di bawah sana.

 

 

Sang zombie kecil memasukkan bunga tersebut ke dalam karung mereka.

 

 

Semua sesuai rencana.

 

Baizhu juga hanya tinggal empat langkah lagi sebelum menjejak tanah.

 

 

 

Tapi manusia hanya bisa berencana.
Bahkan takdir pun sepertinya mempermainkannya.

 

 

 

Kaki Baizhu terpeleset dengan indah dua langkah sebelum ia turun.

 

Ia mengeluarkan suara pekikan kecil, khawatir akan menimpa Changsheng.

 


Oh tentu ular putih itu sudah lebih dulu menyelamatkan dirinya.

 

 

 

Rasa sayang pada Baizhu tak akan bisa mengalahkan insting bertahan hidupnya, terlebih jika ia harus ditimpa bokong milik Baizhu.

Tidak mungkin.

 

 

 

Baizhu memiliki bobot yang bisa dibilang ringan, iya.


Tapi tetap saja, Changsheng akan menjadi ular geprek kalau sampai itu terjadi.

 

 

 

 

BRUK

 

 

 

 

 

Sesuai dugaan, Baizhu terjatuh dengan posisi terduduk.

 


Untung hanya dua langkah dari atas, tapi tetap saja sakit walaupun Baizhu menolak untuk mengakuinya.

 

 

 

 

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Changsheng khawatir.


Ia segera melilitkan tubuhnya untuk naik ke posisinya semula, di leher Baizhu.

 

 

"Iya, tidak apa-apa. Sedikit sakit, lebih banyak malunya," ujar Baizhu jujur sembari tersenyum tak nyaman.

Untung hanya ada mereka bertiga di sana.

 

 

Qiqi sendiri tidak mengatakan apapun, gadis kecil itu hanya berjongkok menatap Baizhu dengan bingung.

 

 

Baizhu menepuk pelan kepala Qiqi.


"Ayo kita pulang sebelum gelap. Semuanya yang diperlukan sudah kita kumpulkan," katanya kemudian.

 

 

 

Qiqi mengangguk tanda mengerti.
Kaki kecilnya melangkah menuju karung mereka dan dengan sigap ia mengangkap karung itu di pundaknya.

 

 

 

Baizhu merasa bersalah karena membiarkan Qiqi membawa karung itu, tentu saja.
Tapi ia tak bisa berbuat banyak.

 

 

Mereka biasanya membagi tenaga, Qiqi membawa separuh perjalanan, dan Baizhu sisanya.

 

 


Kali ini juga sama.

 

 

 

Baizhu akan berdiri sebelum ia merasakan sakit di pergelangan kaki yang membuatnya kembali terduduk di tanah.

 

Ia meringis, melihat kakinya yang tampak terkilir.

 

 

"Kenapa? Terkilir?" tanya Changsheng.
Baizhu tersenyum bersalah, "Sepertinya begitu."

 

 

 

Baru dua detik.


Mereka berdua belum sempat melakukan apapun saat Qiqi menggendong Baizhu di lengannya dengan tangan kecil tersebut.

 

 

 

Baizhu dan Changsheng terdiam.

 

 


Baizhu lebih tampak syok daripada Changsheng, karena, hei, harga dirinya dipertaruhkan di sini.

 

Begitu syoknya mereka hingga tak ada satu pun yang membuka suara karena membeku.

 

 

 

Qiqi begitu kecil, tapi gadis itu membawa karung berukuran sedang di punggungnya dan Baizhu, seorang pria dewasa di tangannya.

 

 

 

Sungguh...

 

 

 

 

Baizhu kembali teringat pada dongeng Puteri yang ia baca sejak kecil.

 

 


Ia mengagumi cerita itu, pada kehebatan Pangeran, pada cinta sang Puteri, pada hubungan mereka.

 

 

Dan pada kekuatan cinta yang membuat sang Puteri begitu bahagia saat digendong Pangeran layaknya pengantin.

 

 

 

Tapi saat ini, ketika semua ini terjadi padanya.

 

 

 

 

Baizhu ingin mengakhiri hidupnya.

 

 

 

 

***

 

 


 

 

***

 

 

 

"Qiqi, tolong turunkan aku?" gumam Baizhu pelan sembari menutup wajah dengan kedua tangan.
Ia bisa merasakan tatapan semua orang yang mereka lewati saat ini.

 

 

Sialnya entah kenapa walaupun Baizhu mencoba berkali-kali membatalkan perintah Qiqi dengan mengatakan 'Aku sangat menyayangimu', kali ini itu tidak berhasil.

 

 

 

Kenapa mesti sekarang?

 

 

 

 

Lupakan masalah harga diri, rasa malu ini begitu besar hingga Baizhu tak sanggup untuk membuka matanya dan menatap realita.


Pegangan tangan Qiqi di tubuhnya begitu erat, hingga jika ia meronta untuk turun, mereka semua pasti akan terluka.

 

 

 

 

 

Rex Lapis, hambamu pasrah pada semuanya.

 

 

 

 

Baizhu sekali lagi ingin menghilang dari sana.

 

Changseng?

 

Oh, ular itu menikmati semuanya dengan cara bersembunyi di balik baju Baizhu, menjadi penonton.

 

 

Ia tak ingin terlibat dengan semua kekacauan dan cerita memalukan yang satu pelabuhan Liyue akan ketahui ini.

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 




 

 

OMAKE

 

 

 

 

***

 

 

 

 

 

"Jadi, ku dengar kamu kemarin digendong Qiqi sampai pulang?"

 

 

 

 

Hutao duduk santai sembari menikmati cemilan yang ia bawa sendiri dari kantornya ke apotek Bubu.

 

 

Gadis itu duduk di kursi kecil di ruang depan yang biasa Baizhu pakai.

 

 

 

Baizhu tidak menjawab, ia hanya berdehem pelan sembari kembali menulis entah apapun itu di buku catatan milik Qiqi.

 

 

 

Hutao mendengar beritanya kemarin malam, dan pagi-pagi sekali ia memutuskan untuk mengganggu Baizhu.

 

 


Tak akan ia biarkan saingan bisnisnya ini hidup dalam kedamaian, dan jika hal ini bisa menusuk kemaluan, maksudnya, menusuk rasa malu Baizhu, maka Hutao akan melakukannya untuk menggoda sang dokter habis-habisan.

 

 

 

"Direktur Hu, bukankah sepagi ini seharusnya ada yang kamu kerjakan?" tanya Baizhu, berusaha mengalihkan topik.

 

"Ya, tentu saja. Aku ini orangnya sibuk, makanya aku ke sini untuk mengganggumu," jawab Hutao santai.

Mulutnya kembali mengunyah cemilannya.

 

 

 

 

Baizhu menutup mata, menarik napas panjang, tangannya ia eratkan ke kuas yang nyaris patah karena menahan perasaan.

 

 

 

"Hei, jangan begitu, kamu terlihat seperti wanita yang kontraksi akan melahirkan. Kenapa sih," gumam Hutao sembari memutar matanya.

 

 

 

 

Baizhu tersenyum, tapi siapapun yang melihat pasti sadar kalau ada urat emosi dahinya.

"Hahaha, Direktur Hu sungguh lucu," tanggap sang dokter, berusaha tetap tenang.

 

 

 

Hutao meremas bungkusan plastik cemilan yang sudah ia habiskan dan memasukkan sampah itu ke saku celananya untuk dibuang nanti.

 

 

 

Gadis itu beranjak dari kursi dan mendekati Baizhu di meja resepsionis.

 

 

 

Karena masih pagi, Changsheng dan Qiqi belum bangun, hanya Baizhu yang sudah sibuk sejak subuh untuk mencatat resep dan entah apa itu di buku Qiqi.

 

 

 

 

Hutao mencondongkan wajahnya, menatap lurus ke arah Baizhu.
Baizhu tidak menyukai ini.

 

 

"Jadi, bagaimana rasanya digendong anak kecil?"


 

 

 

 

Tuh kan.

 

 

 


 

 

 

 

Baizhu meletakkan kuasnya.

 

 

Hutao baru saja pulang setelah puas mengingatkan serta mempermalukan Baizhu pasal kejadian kemarin.

 

 

 

"Ah, seandainya aku melihat sendiri."


"Hei, lain kali kalau seperti itu lagi, bilang aku dong, jadi aku bisa foto."


"Oh, benar, foto! Aku sepertinya harus meminjam kameranya Tabibito untuk momen seperti ini!"

 

 

 

 

Begitu banyak hal yang Hutao ucapkan, Baizhu sudah pusing sepagi ini.

 

 

 

Ia menarik napas panjang kemudian membuangnya.

 

 

Baizhu menatap catatan Qiqi yang baru saja ia perbarui.

 

 


Ia sudah menambahkan hal yang seharusnya sejak dulu sudah ia tulis.
Salahnya karena tak pernah terpikir tentang situasi seperti kemarin.

 

 

 

 

Tampak tinta segar itu terpatri rapi di atas kertas yang terbaca :

 

 

 

 

'Qiqi tidak boleh menggendong Dokter Baizhu apapun yang terjadi, kecuali kalau Dokter Baizhu memintanya.'

 

 

 

 

 

 

SELESAI BENERAN

 

 


 

Notes:

Chenyu Vale tapi tidak ada Baizhu, Baizhunya lagi sama saya makan mi panjang umur.
Saya mau jadi Hutao biar bisa ngajak Baizhu gelud kalo lagi gabut. Huhuhuhu.

Makasih banyak.