Actions

Work Header

Tak Diundang

Summary:

Mefilas memutuskan untuk menyewa sebuah unit apartemen kecil di Tokyo. Sayang, terkadang semesta suka bercanda.

Notes:

Sebetulnya jarang banget (dan ga jago) nulis fanfict tapi karna butuh konten ya saya coba jalani. Mohon maaf bila terasa janggal dibaca, dan selamat menikmati <(_ _)>

Work Text:

Sinar mentari pagi yang lembut menembus celah tirai jendela, menyinari remang kamar gelap di sebuah unit apartemen kecil sebagai satu-satunya sumber cahaya di sana. Kamar yang sederhana, hanya berhiaskan beberapa perabotan esensial seperti kasur dan satu set komputer. Ruangan lainnya pun sama sederhananya, dengan sebuah televisi yang sering dinyalakan kalau anak yang tinggal di apartemen seberang sedang datang bertandang.

Pria dengan rupa paruh baya yang tinggal di unit apartemen tersebut menggeliat perlahan sembari menarik kembali selimutnya, tidak menghiraukan semburat fajar yang menerpa wajahnya. Berharap melanjutkan mimpinya yang terpotong, Ia kembali memejamkan matanya. Ah, hari Minggu yang cerah. Amat cocok untuk bersantai dan bermalas-malasan.

Ding-dong

…Kalau saja tidak ada suara bel yang menginterupsi dari pintu depan. Dengan wajah kusut, pria yang rambutnya sama kusutnya itu beranjak dari kasurnya yang empuk dan nyaman. Ia berjalan menuju pintu depan dengan setengah menyeret kakinya sembari menghela nafas. Suara bel itu tak kunjung berhenti.

"Iya, sebentar," sahutnya, berusaha mengontrol nada suaranya agar tak terdengar jengkel.

Orang macam apa yang bertamu di hari Minggu pukul 7 pagi?

Setelah menyiapkan senyum bisnisnya yang biasa, Ia pun meraih gagang pintu. Yang menyambutnya di balik pintu tersebut adalah seorang pria dengan rambut belah samping yang disisir rapi dan wajah yang… lumayan familier? Hal pertama yang muncul di benaknya adalah kenalannya yang memiliki wujud persis sama dengan pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Bedanya, pria ini terlihat lebih berwibawa dengan setelan hitam beraksen emasnya, kontras dengan kemeja putih sederhana yang seringkali dikenakan oleh kenalannya itu. Tunggu sebentar…

"Selamat pagi. Aku Zō-"

Brak!

Reflek, Ia membanting pintu di depan wajah tamu tersebut.

Anjiiiiiing tahu dari mana dia alamat ini??

Ia membatin, panik. Keringat dingin membasahi tengkuknya. Berusaha menenangkan dirinya, Ia bersandar ke pintu, berharap cemas sang tamu akan pergi meninggalkannya sendirian.

Nahas.

Kali ini bukan hanya suara bel, Ia juga dibombardir dengan suara ketukan pintu yang kian lama kian lantang rasanya.

"Buka pintunya, Mefilas."

Ah, agaknya hari ini akan jadi hari Minggu yang panjang.

Kedua pria itu duduk berhadapan dengan sebuah meja kecil di antara mereka. Di atas meja tersebut terlihat dua cangkir kopi dan dua porsi kue yang nampaknya belum disentuh sama sekali. Hening. Satu-satunya suara dalam ruangan itu hanyalah jam yang terus berdetik dan debaran jantung Mefilas yang tak karuan. Pria yang duduk di hadapannya hanya melayangkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan tanpa sepatah kata pun.

Pikiran Mefilas melanglang jauh, berandai-andai kalau saja Ia tidak bersikeras menetap di sini. Seharusnya Ia segera mengepak barang dagangannya, berpamitan dengan anak yang tinggal di unit apartemen seberang, dan bergegas angkat kaki dari bumi. Pulang kampung, mungkin. Ah, benar juga. Sudah berapa lama Ia tidak pulang ke planet kampung halamannya?

"Jadi, kau tinggal di tempat seperti ini?"
Di luar dugaan, pria itu memecah keheningan terlebih dahulu, membuyarkan lamunan Mefilas.

"Saya anggap itu sebagai pujian,"
Mefilas menjawab sambil tetap tersenyum. Senyum tertekan.

"…Tn. Zōffy?"
"Zōffy saja," tanggapnya dengan wajah datar.

Astaga, tiga orang ini sudah tampangnya serupa tabiatnya pun sama.

Mefilas memijit keningnya perlahan.
"Jadi, ada urusan apa sampai Anda repot-repot datang kemari, Zōffy?"
"Langsung ke intinya saja," Zōffy menjawab dengan lugas. "Aku ingin tahu lebih banyak tentang manusia."

Mefilas tertegun. Ia sama sekali tidak menyangka jawaban seperti itu yang akan Ia terima. Zōffy? Orang yang beberapa waktu lalu berniat untuk menghancurkan sistem tata surya dengan senjata pemusnah massal? Yang tak acuh akan umat manusia? Ingin tahu lebih banyak tentang manusia? Zōffy yang itu??

Kalau yang bersangkutan tak sedang menatap tajam ke arahnya sekarang, Ia pasti sudah tergelak. Yang benar saja, jangan bercanda.

"Li- Ultraman bahkan rela memberikan nyawanya hanya untuk menghidupkan kembali seorang manusia yang rapuh dan lemah. Aku penasaran, apa sebenarnya yang istimewa dari umat manusia, sampai-sampai Ia terpikat pada mereka," lanjut Zōffy, tanpa menghiraukan Mefilas yang masih mematung.

Mefilas pun sejujurnya tak mengerti. Baginya, manusia hanyalah satu dari sekian banyak entitas berakal yang kebetulan memiliki kultur yang Ia nikmati. Tidak lebih, tidak kurang.

"Saya mengerti, tapi… Apa hubungannya dengan saya?"

"Memangnya di bumi ini, siapa lagi makhluk planet lain yang lebih mengerti manusia dan budaya mereka daripada dirimu?" Zōffy balik bertanya sambil tersenyum tipis.

Entah mengapa Mefilas merasa lebih terancam melihat senyumnya dibanding wajah datar dan tatapan tajamnya. Keringat dingin kembali mengucuri seluruh tubuhnya.

Mampus. Habis sudah.

"Jadi," Zōffy berkata seraya mengulurkan tangannya. "Mohon bantuannya untuk beberapa waktu ke depan, Mefilas."

Dengan ragu-ragu, Mefilas menyambut uluran tangan tersebut sambil tetap bersusah payah mempertahankan senyumnya.

"Oh, satu lagi. Tidak usah terlalu formal denganku."

"Usir dia, Ultraman."

Izakaya favorit Mefilas ramai seperti biasa.  Di sampingnya duduk seorang pria yang memiliki wajah serupa dengan tamu yang mengunjunginya siang tadi.

Pria itu menggeleng perlahan.

"Tidak bisa, Mefilas. Itu salah satu syarat darinya agar aku bisa tinggal dengan Kaminaga di Bumi."

"Maksudmu sekarang ada dua kriminal dari Planet Cahaya di sini??"

"Lebih tepatnya, satu narapidana bebas bersyarat."

Mefilas memijit keningnya, sebal. 

"Kenapa tak kau suruh dia tinggal denganmu saja?"

"Apartemen Kaminaga tidak muat ditinggali 3 orang."

"Bukan urusanku."

Ultraman mengangkat bahunya. 

"Ya, pada akhirnya itu kemauannya. Mengingat statusku sebagai seorang napi, memangnya aku bisa apa?"

Sambil berdecak kesal, Mefilas meraih acar rakkyo yang Ia diamkan sejak tadi dan mulai memakannya. Sembari mengunyah Ia merenungi kalimat kenalannya barusan. Dipikir-pikir lucu juga. Mereka sampai repot-repot menghidupkan kembali seorang kriminal hanya agar Ia bisa menjalani hukumannya. Memang baiknya tidak usah berurusan dengan Planet Cahaya, merepotkan.

Kedua pria itu terdiam, sibuk tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.  Kembali menyesali keputusannya untuk pindah dari kafe internet ke apartemen, Mefilas menghela nafas panjang. Sisi baiknya, setidaknya Ia bisa membagi biaya sewa bulanannya dengan Zōffy.

"Kalau tak suka, tolak saja," ujar Ultraman memecah keheningan di antara mereka berdua. 

"Kalau bisa juga sudah kutolak sejak awal," Mefilas mendengus kesal. "Kau pikir dia mau terima "tidak" sebagai jawaban?"

"Kalau untukku sih iya," Ultraman menenggak minuman di genggamannya. "Zōffy tidak seburuk itu. Dia hanya sedikit tegas."

"Dia hampir membumihanguskan sistem tata surya, Ultraman." 

"Aku tak bisa menyangkal yang satu itu. Tapi daripada dirinya, aku lebih menyalahkan sistem planet kami." 

Terdengar dering dari ponsel Ultraman yang Ia letakkan di atas meja. Sebelum sang pemilik meraihnya, Mefilas sekilas melihat pesan yang dikirimkan ke ponsel tersebut. Daftar belanja. 

"Omong-omong, baru kali ini aku melihatmu sekesal ini, Mefilas. Menarik juga melihat sisi lain dari dirimu," Ultraman tersenyum tipis.

Yang diledek hanya menatapnya balik dengan raut muka masam. 

"Sudah larut, aku duluan," ucap Ultraman sambil membaca pesan di ponselnya. "Ada diskon yang harus ku kejar."

Mefilas berjalan terhuyung ke apartemennya. Bukan, bukan karena Ia mabuk. Miras bumi tidak cukup kuat untuk membuatnya mabuk. Sebuah fakta yang sesungguhnya Ia sesali, berhubung saat ini justru itu yang Ia butuhkan. Ia merogoh saku, mengecek ponselnya yang bergetar. 

"Aku akan menggunakan wujud ini mulai besok." 

Pesan singkat dengan lampiran foto seorang pria dengan setelan hitam beraksen emas. Mefilas langsung mematikan ponselnya.

Ah, persetan. Urusan hari esok biar dirinya di hari esok yang urus.