Chapter Text
Suara gedebuk kencang membuat seluruh atensi yang berada di gelanggang stadion tertawan pada satu pemandangan mengejutkan. Waktu berlalu sangat cepat. Ketika lagu kebangsaan Jepang diputar sebagai penghormatan pada atlet yang mendapatkan medali emas di Olimpiade Tokyo 2020, di tengah-tengah suasana haru biru tersebut, salah satu atlet yang berdiri di podium mendadak tumbang, dan menciptakan suara jatuh yang cukup keras.
Namanya adalah Hinata Shoyo, atlet bulutangkis Jepang yang berpasangan dengan Kageyama Tobio di pertandingan kelompok ganda putra.
Terlalu terkejut dengan kejadian tersebut, seluruh panitia Olimpiade mematung sesaat, sebelum akhirnya tergopoh-gopoh menghubungi pihak medis. Sementara sang rekan bercampur rasa panik menggendong Hinata yang mengerang kesakitan.
Melihat kondisi Hinata pucat pasi dan berkeringat dingin yang seperti menahan rasa nyeri, ekspresi Kageyama mengeras. Kemudian dengan amarah, ia mengumpat dan meluapkan emosi pada beberapa panitia Olimpiade yang hanya diam membeku dan tidak sigap dengan situasi. Para atlet lain yang juga memenangkan medali perak dan perunggu bergidik ketakutan. Mereka tidak menyangka akan menyaksikan sisi lain dari sang atlet kebanggaan Jepang.
Iwaizumi Hajime, asisten pelatih dari tim ganda putra yang melatih Hinata dan Kageyama, buru-buru menghampiri sang anak didik untuk menenangkan ledakan amarahnya. Tandu darurat datang bersama beberapa petugas medis. Hinata dibopong menggunakan tandu keluar dari stadion selagi Iwaizumi berusaha sebisa mungkin menahan Kageyama yang akan meledak lagi.
Di antara kamera-kamera televisi internasional dan wartawan bersertifikasi, seluruh dunia menyaksikan secara langsung betapa kacau balaunya upacara kemenangan pada saat itu.
“Hinata-san harus dioperasi. Kerusakan parah di jaringan ototnya tidak dapat lagi diatasi dengan penanganan medis biasa. Anda sekalian harus siap dengan kemungkinan terburuknya.”
Adalah kalimat yang terus menerus berdengung di kepala Kageyama sekarang.
Setelah dirawat untuk sementara di klinik kampung atlet Olimpiade, petugas medis yang memeriksa Hinata mengatakan jika sang atlet harus dibawa sesegera mungkin ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut, sebab cedera yang diderita tidak mampu lagi ditangani oleh petugas medis yang disediakan panitia Olimpiade.
Mendapat kabar seperti itu, Iwaizumi segera menghubungi Ennoshita—kakak kelas Hinata dan Kageyama sewaktu masih di Karasuno—yang bekerja di rumah sakit besar dan cukup dekat dengan venue di mana pertandingan berlangsung. Kageyama ingin mendampingi, tetapi Iwaizumi melarang sebab ia masih harus tetap bersama kontingen Jepang untuk mengikuti closing ceremony.
Sepanjang upacara berlangsung, Kageyama hanya diam, diiringi dengan ekspresi muram yang semakin menambah tingkat aura kesuramannya. Tidak ada satu pun atlet yang berani mendekat pada Kageyama. Mereka memahami bila lelaki bersurai kelam tersebut butuh waktu untuk menyendiri. Iwaizumi sendiri hanya mendesah frustasi. Ia mengerti bagaimana beratnya kehilangan rekan yang telah berjuang bersama dari awal pertandingan—hingga akhirnya usaha mereka berbuah manis dengan menyabet medali emas dan naik di podium paling tinggi.
Sayangnya, seluruh usaha tersebut harus dibayar dengan mahal; kaki Hinata menjadi tumbal. Maka dari itu, Iwaizumi tidak berani mengusik saat anak didiknya lebih memilih untuk berdiri di ujung daripada ikut riuh menyaksikan megahnya pertunjukan.
Cedera hamstring tingkat tiga.
Ucapan Ennoshita—yang ditunjuk secara khusus sebagai dokter fisioterapi yang menangani Hinata—masih menjadi belati yang menghujam dada Iwaizumi.
Bagaimana bisa ia tidak menyadari jika sejak dulu Hinata menderita cedera hamstring?
Cedera tersebut pada awalnya masih tergolong ringan, tetapi ada dugaan bila jaringan otot pada kaki Hinata mulai robek ketika pertandingan final. Hinata yang memilih untuk bertahan demi kemenangan, secara tidak sadar memberi dampak buruk pada kakinya sendiri.
“Butuh waktu bertahun-tahun—paling cepat lima tahun—bagi Hinata untuk memastikan cederanya sembuh. Dengan resiko; Hinata tidak boleh lagi diikutkan dalam pertandingan apapun. Sederhananya, Hinata harus pensiun.“
Kageyama yang ikut mendengarkan diagnosa Ennoshita hanya mampu terdiam kaku bagai manekin. Berbagai informasi yang mendadak masuk dalam kepalanya begitu banyak.
Cedera hamstring, otot yang robek, dan Hinata yang terpaksa menggantungkan raket.
Seluruh informasi tersebut terlalu cepat, sedangkan Kageyama tidak siap. Hatinya merasa kacau balau. Ada rasa sakit, kecewa, dan kehilangan. Kageyama tidak ingin kehilangan rekan satu-satunya, yang dapat mengimbangi kecepatan bermainnya, serta satu-satunya atlet di antara para atlet bulutangkis yang dapat memahami dirinya luar dan dalam. Ia tidak ingin, Kageyama tidak rela. Tetapi, dirinya bisa apa jika melawan takdir Tuhan?
Merasa pikiran-pikiran negatif mulai mengambil alih kewarasan, Kageyama cepat-cepat menggelengkan kepala. Kemudian kakinya melangkah dengan suara pelan dan mendudukkan diri di kursi samping ranjang, sementara pemuda bersurai oranye masih terbaring lemah dan belum siuman.
Sambil memindai wajah damai sang rekan, ingatan Kageyama mengenang saat-saat pertandingan final.
Hinata adalah sosok yang pantang menyerah. Bahkan ketika mereka merasa terdesak di babak final akibat serangan lawan yang terus menerus menjebol pertahanan.
Siapa yang paling lama berdiri di lapangan, itulah yang terkuat.
Prinsip yang selama ini dirinya dan Hinata anut saat bertanding. Babak pembuka, kedua, semifinal, hingga final akan mereka menangkan. Seluruhnya. Hingga medali emas khas Olimpiade dikalungkan di leher masing-masing, Kageyama dan Hinata akan bertarung habis-habisan.
Dan Tuhan menjawab segala harapan yang mereka panjatkan setiap malam.
Di set ketiga, akhirnya Kageyama dan Hinata mendulang kemenangan dengan skor 21-19. Podium tertinggi jatuh pada pihak Jepang. Tidak lama lagi, emas akan ada dalam genggaman. Namun sekali lagi, dibalik kemenangan pasangan Kageyama dan Hinata, ada sesuatu yang harus dikorbankan. Tidak, bahkan uang sekali pun tidak akan dapat menggantikan sosok matahari mungil sebagai rekannya dalam bertanding.
“Ka-Kage ... yama ...”
Jari-jari kecil Hinata bergerak, mengusik genggaman Kageyama pada tangan mungil tersebut. Diiringi dengan kelopak mata yang terbuka pelan-pelan, menampakkan kembali sepasang iris sewarna madu yang bergulir menuju sosok di samping ranjang. Bibir pucat Hinata membentuk sebuah lengkungan lemah, dalam hati benar-benar lega bahwa sosok yang dilihatnya pertama kali adalah Kageyama Tobio.
“Kage ... yama ...”
Kageyama tercekat. “Hi-Hinata! Ka-kau sadar!”
“Uh ... ini ... di rumah sakit?”
Iris Hinata bergulir memindai ruangan serba putih yang terasa asing. Seingatnya terakhir kali, ia masih berada di dalam stadion dan mendengarkan lagu kebangsaan Jepang sedang diputar.
“Jangan bangun dulu, boke! Kau baru sadar, jadi jangan banyak bergerak,” omel Kageyama saat menyaksikan Hinata berusaha memposisikan diri untuk duduk, sambil tangannya bergerak sigap membantu sang rekan menyamankan posisi.
Setelah itu, suasana menjadi hening. Tidak ada satu pun kata yang keluar baik dari Hinata maupun Kageyama, hanya terdengar desau lembut dari pendingin ruangan dan bunyi statis dari alat monitor jantung. Kageyama tidak tahu apa yang harus dia ucapkan, sementara Hinata masih sedikit linglung akibat efek obat bius. Tetapi, melihat pemuda bersurai kelam tersebut tidak berbicara sama sekali, rasanya sedikit canggung bagi Hinata.
Ini adalah pertama kalinya ia melihat Kageyama semenjak terakhir tidak sadarkan diri dan Hinata belum sekalipun berbicara dengan rekannya tersebut setelah pengalungan medali. Sebab yang Hinata ingat hanyalah dirinya yang berusaha menahan nyeri luar biasa agar tidak ketahuan cedera. Ugh, rasanya mengerikan, pikir Hinata seraya menggeleng pelan. Bahkan, ia masih ingat sensasi bagaimana ototnya terasa robek saat pertandingan sedang berlangsung.
“Operasimu berhasil. Kau harus banyak istirahat sekarang.”
Kageyama memecah keheningan antara mereka.
“Kageyama ... aku—”
“—jangan,” potong Kageyama cepat. “Jangan katakan apapun.”
Suara Kageyama terdengar bergetar, walau samar-samar. Hinata tahu, suara tersebut adalah rasa kekecewaan implisit dari Kageyama. Hinata tidak tahu apakah dugaannya benar atau tidak, tetapi dilihat dari reaksi sang pemuda raven, sepertinya Kageyama telah mengetahui bagaimana situasi dan kondisi sebelum dirinya dioperasi.
Tatapan Hinata menyendu, hingga tidak sadar, titik-titik air mata mulai menggenang di pelupuk mata.
Jauh sebelum ini, sedari awal Hinata mendapatkan cedera pertamanya, dokter yang menangani telah mewanti-wanti momen di mana cedera yang dideritanya akan menjadi semakin parah. Walaupun tindakan operasi berhasil dilakukan, kecil kemungkinan bagi Hinata untuk dapat terjun kembali dalam laga perbulutangkisan. Butuh bertahun-tahun untuk memastikan cedera Hinata benar-benar sembuh total. Sehebat apapun teknologi medis di zaman sekarang, mustahil dapat menyembuhkan cedera parah dalam sekali kedipan mata. Dan ketika masa-masa rehabilitasi tersebut, Kageyama—mau tidak mau—harus dipasangkan dengan atlet lain, demi mengisi kekosongan eksistensinya.
Sungguh mengesalkan, pikir Hinata miris, sambil tangannya mengusap air mata yang jatuh.
Salah satu tangan Hinata yang bebas mengeratkan genggaman pada selimut yang menutupi tubuh hingga kusut, melampiaskan kekesalannya pada seonggok benda tidak berdosa. Hinata benar-benar mengutuk dirinya yang begitu lemah. Kelewat lemah sampai harus mengalami cedera dan menyusahkan hampir semua orang. Terutama pada sang asisten pelatih, Iwaizumi, yang harus mengganti formasi tim.
Situasi seperti ini juga pernah dialaminya ketika turnamen Interhigh SMA. Pada saat itu, Hinata mengalami demam sangat tinggi. Suhu tubuhnya terdeteksi hampir empat puluh derajat, tetapi ia memaksakan diri tetap ikut berlaga. Sayangnya ketika set kedua sedang berlangsung, Hinata tumbang akibat kejang secara tiba-tiba. Kacaunya kondisi lapangan membuat wasit yang sedang bertugas memberi keputusan bahwa Hinata dan rekannya harus mundur dari pertandingan dan kemenangan telak diraih oleh tim lawan.
Sungguh tidak adil, tetapi memang begitu kenyataannya.
Menyaksikan Hinata menangis dalam diam, tidak ada yang bisa Kageyama lakukan; ia tidak mempunyai kalimat-kalimat sakti yang dapat membuat perasaan seseorang membaik. Selama ini, Kageyama hanya terbiasa berteriak pada Hinata. Maka dari itu, sungguh tidak pantas apabila ia mengucapkan sesuatu yang berapi-api pada orang dengan kondisi psikologis seperti Hinata sekarang; sangat rapuh bagai kaca tipis yang sebentar lagi akan retak dan pecah.
“Hinata ...”
Tungkainya ditegakkan, Kageyama berdiri, kemudian diraihnya tubuh ringkih tersebut, dan didekap dengan lembut. Tangan besar Kageyama mengusap surai oranye Hinata dengan hati-hati, berharap agar perasaannya tersampaikan melalui tindakan pada sang rekan seperjuangan.
Ini bukan salahmu; kau tidak bersalah; Hinata adalah sosok yang hebat; kita bisa mendapatkan emas berkatmu.
Dari isakan, perlahan-lahan berubah menjadi tangisan keras. Kedua lengan Hinata refleks memeluk leher sambil membenamkan wajah pada bahu Kageyama, meminta topangan yang disambut oleh Kageyama dengan semakin mengeratkan pelukan.
“Jangan meminta maaf,” bisik Kageyama lirih. “Aku yang seharusnya minta maaf. Seharusnya aku sadar bahwa kakimu cedera, tetapi ambisi membuatku buta keadaan. Padahal kita adalah rekan, sudah seharusnya aku menahami kondisimu.”
“Tidak, tidak.” Merasa sedikit lebih baik setelah menangis beberapa menit, Hinata melepas pelukan. Tatapan matanya terdistraksi sesaat pada kemeja putih Kageyama yang basah akibat air mata. “Kageyama bermain dengan baik. Di sini aku yang salah. Permainanku sangat lemah dan banyak celah.”
“Jangan mengatakan—”
“Meski begitu, aku tetap ingin mengatakan ini.” Tatap mata Hinata kini berubah. Iris karamel tersebut perlahan-lahan mulai menemukan kilauannya kembali. Bahkan Kageyama sempat berhalusinasi melihat kobaran api imajiner di sana, meski masih tertinggal sedikit kesedihan. Setidaknya bagi Kageyama, Hinata terlihat lebih baik dari sebelumnya. “Jangan berhenti, Kageyama. Hingga waktu menyuruhmu untuk berhenti, selama itu, jangan pernah berpikir untuk berhenti.”
Kalimat yang tidak diduga Kageyama akan keluar dari bibir Hinata. Pemuda tinggi tersebut terhenyak sebentar.
“T-tentu saja, boke! AKU TIDAK AKAN BERHENTI!” tandas Kageyama cepat.
Suaranya begitu keras. Terlalu keras hingga mereka terlonjak kaget, bahkan Kageyama sendiri. Sederet ucapan dari Hinata seolah mampu menarik keluar seluruh emosi yang Kageyama pendam selama ini. Reaksi impulsif rekannya tersebut membuat Hinata menerbitkan senyum tipis di bibir, sangat tipis sampai Kageyama tidak sadar.
Kageyama telah kembali.
Hinata sedikit khawatir dengan kondisi emosi Kageyama yang tidak pernah stabil, terutama saat pemuda tersebut tahu jika rekan oranyenya harus berhenti bermain di laga. Tetapi, sepertinya Hinata tidak perlu terlalu khawatir.
“Jangan keras-keras, Bakageyama! Ini rumah sakit, tahu!”
“Pokoknya setelah ini, kau harus terus melihatku ...”
Seandainya saja, pasangan bermainnya bukan seorang Kageyama Tobio, mungkin—
“Kau harus terus melihatku, boke! Jangan sedetik pun kau berani mengalihkan pandangan!”
—mungkin tidak akan seperti ini akhirnya.
