Work Text:
Itu malam yang dingin. Bulan purnama bersinar terang di langit. Sinarnya bersinar lembut ke dalam hutan, memberikan penerangan untuk sosok gadis mungil di tengah hutan bersalju. Dia seperti seekor kelinci yang sedang tersesat.
Angin berhembus menusuk kulit, membuat orang-orang di luar mati rasa dengan segala rasa sakit yang dirasa. Kaki mungil itu terus berlari di tengah hutan, menjauh dari kejaran orang-orang yang berpakain taktis dengan topeng membaluti wajah mereka selain mata, bertubuh besar dan membawa senjata yang biasa dia lihat saat berkunjung ke pabrik sang ayah.
Mata gadis itu sembab akibat terus menangis. Pipinya terasa kaku seraya hawa dingin membekukan bekas jalur air matanya mengalir. Ia sudah kelelahan. Napasnya terengah-engah, paru-parunya bekerja sangat keras, dirinya bisa saja menyerah dan pingsan karena hipotermia namun ia harus kuat. Dirinya harus sampai di tempat persembunyian yang dibilang sang abang sebelum sebeuah peluru melesat keluar dari dahinya itu, memuncratkan darah ke atas salju dan wajah si gadis. Membuat gadis kecil itu sadar bahwa dirinya harus segera pergi, berjuang menemukan tempat bersembunyi yang jarang dia kunjungi. Sendirian.
Udara di tengah hutan itu semakin sesak. Gadis kecil itu tidak ingat kapan terakhir kali merasa kedinginan yang begitu menusuk dan sakit seperti ini. Ia terus bertanya-tanya berbagai hal, terlebih lokasi persembunyian itu. Di mana? Di mana? Di mana tempat itu? Mata birunya melihat sekitar berharap menemukannya sembari terus berlari saat pengejar semakin mendekat.
Di mana tempat persembunyian itu berada?!
Ia kembali menangis, hampir menyerah tidak bisa mengingat keberadaan tempat persembunyian yang dimaksud. Dia ingin memutar waktu, kembali ke satu jam yang lalu, mendengar nyanyian merdu dari sang ibu saat mengantarnya tidur.
Sayangnya, dirinya tidak berada di negeri dongeng. Ia tidak bisa memutar balikkan waktu. Momen bahagia yang masih dia dapatkan beberapa jam lalu tertinggal jauh di belakang, menjadi sebuah memori.
DOR!
Gadis kecil itu berteriak, menutupi telinganya. Dia berhenti sejenak, tangis semakin pecah. Dadanya semakin terasa sesak. Bukan hanya karena jantunga hampir mencapai batas memompa oksigen ke paru-parunya, melainkan dia merasakan rasa takut yang semakin besar menyelimuti dadanya.
Di mana tempat persembunyian itu? Seharusnya ada di dekat sini! Gadis kecil itu semakin frustasi.
Tempat persembunyian itu berada belakang kastil. Tempat itu biasanya dikunjungi abangnya ketika sedang bermain-main di belakang kastil bersama beberapa tukang pukul lainnya. Ia pernah ikut beberapa kali bersama abangnya menuju tempat persembunyian itu, melihat para tukang pukul berburu. Tempat itu mirip sebuah bunker. Saat berada di dalamnya akan terasa pengap.
Seharusnya gadis kecil itu bisa mengingat di mana lokasi tempat bersembunyi berada. Namun, kalut lebih duluan menyelimuti pikirannya. Membuat segala hal di hutan menyembunyikan keberadaan tempat tersebut.
Suara tembakan kembali meletus. Tapi kali ini suaranya terdengar menuju ke arah yang berlainan. Kemudian seseorang memanggil namanya. Gadis kecil itu mengenali suara si pemanggil. Dengan ragu, ia memberanikan diri untuk menoleh. Tampak serdadu berpakaian hitam sedang menghabisi orang-orang yang mengejarnya. Terjadi pertarungan yang sengit, mereka sama-sama kuat. Apakah serdadu itu....
Belum sempat rasa lega hinggap di hatinya, dua orang dari rombongan yang mengejar, kembali berlari ke arah si gadis, hendak menangkapnya. Spontan gadis kecil itu kembali berlari. Kini mata birunya lebih tajam melihat sekitar, mencari tempat persembunyian. Seharusnya dia sudah lebih dekat dengan bunker itu.
Satu meter, dua meter, tiga meter dilewati, gadis itu akhirnya menemukan tempat persembunyiannya. Di sana, tampak tumpukan bebatuan yang pernah dia lihat persis di ingatannya. Di bawah sana pintu bunker berada. Masalahnya sekarang, bagaimana dirinya dapat sampai ke sana tanpa membuat pengejarnya mengetahuinya?
DOR! Tembakan kembali terdengar di belakang. Gadis itu menoleh, melihat satu orang dari pengejarnya ditembak. Kini satu orang yang mengejarnya melawan rombongan yang menembak rekannya. Fokus orang itu teralihkan. Ini kesempatan gadis itu.
Segera dia berlari ke arah tumpukan batu, menyingkarkannya sekuat dan secepat mungkin.
DOR! DOR!
Gadis itu memekik. Dua tembakan yang meluncur ke arahnya meleset mengenai pohon-pohon. Tangan kecilnya yang kedinginan tetap berusaha menyingkirkan batu yang menghalangi pintu masuk bunker dengan gemetar.
TRATATATATAT!
Rentetan tembakan dilepas, membuat gadis kecil itu semakin ketakutan. Orang-orang yang mengejarnya kian tumbang, namun tetap tidak ada habisnya. Masih ada orang-orang yang mengejarnya, menodong laras pistol ke arahnya. Air mata kembali menetes dari pelupuk mata si gadis kecil, ketakutan dengan senjata tersebut. Namun dia harus berani. Dirinya harus kuat, itu yang selalu dikatakan ayah dan ibunya. Tangan kecilnya sedikit lagi menyingkir semua batu yang menghalangi pintu masuk bunker.
BOOM!
"MUDAK!" salah satu orang berteriak.
Sebuah granat meledak. Ledakannya terjadi 30 meter dari posisi gadis kecil itu, membuatnya kembali menutup telinganya dan memekik ketakutan. Keadaan di tengah hutan semakin memanas dan menegangkan. Rentetetan tembakan kembali melesat. Orang-orang yang mengejarnya satu ler satu tumbang kembali. Mengetahui hal tersebut, gadis kecil itu menyingkirkan batu terakhir lalu segera membuka pintu bunker dengan ketakutan kemudian masuk ke dalam, mengunci pintu lalu menuruni anak tangga, menuju ke dalam bunker lebih dalam.
Gelap, tidak ada pencahayaan di bunker itu. Saklar lampu di bunker itu berada di atas kepala si gadis kecil, ia tidak bisa mencapainya. Keadaan di sana sedikit senyap, suara pertarungan di luar setidaknya tidak terdengar jelas olehnya. Membuatnya bisa menenangkan diri sejenak.
Kapan terakhir kali dirinya berada di situasi gelap seperti ini? Bermain petak-umpet bersama abangnya dulu saja tidak pernah segelap ini. Tangannya mulai meraba-raba dinding, mencoba mengingat-ingat di mana letak lemari perlengkapan berburu. Dia bisa bersembunyi di sana.
Beberapa kali dirinya tersandung sesuatu. Mungkin itu kursi atau kotak peluru. Beberapa kali dirinya menyentuh senjata tajam. Gadis itu langsung menjauhkan tangannya. Beberapa kali gadis itu menyentuh senjata api. Tangannya bergedik ketika menyadarinya.
Dulu dia terpukau dengan cara bekerja senjata api setiap kali ikut dengan abangnya melihat beberapa tukang pukul memburu rusa. Suaranya yang keras, letusan yang diciptakan kemudian penampilan senjata itu, terkadang membuat jantung si gadis kecil berdebar. Ingin mencoba menggunakannya. Namun, sekarang senjata itu menjadi salah satu ketakutannya. Takut jika suatu waktu senjata itu bisa kapan saja menodong ke arahnya. Tidak ada memori bahagia yang tertinggal terhadap senjata tersebut, mengingat abang dan ibunya terbunuh karena benda tersebut.
BRUK!
Gadis itu menoleh ke belakang. Suara pintu berusaha didobrak terdengar dari arah sana. Jantungnya kembali memacu cepat. Terdengar percakapan di luar.
"Kau bodoh? Tembak saja. Paling hanya dikunci biasa."
"Ya karena itu kita tendang saja."
"Bodoh kau. Ini hanya anak kecil, jangan membuang waktu. Minggir!"
DOR! DOR!
Gadis itu memekik kembali. Buru-buru berlari menuju suatu sudut, masih meraba letak lemari perlengkapan. Setelah beberapa detik mencari, gadis itu menemukannya. Segera dia membuka pintu lemari, berhimpitan dengan berbagai perlengkapan di dalam lemari itu kemudian menutupnya.
BRAK!
Dua orang berbadan tinggi dan besar, lengkap dengan senjata berhasil masuk ke dalam bunker. Mereka menuruni tangga, berbelok masuk lebih dalam, salah satu mereka menekan saklar lampu bunker kemudian tanpa menunggu lama keduanya bisa langsung menebak di mana si gadis kecil itu bersembunyi. Mereka menyeringai ke satu sama lain, menurunkan senjata.
"Oi, gadis kecil," panggil salah satu dari mereka. Perlahan mereka mendekati lemari tersebut. Si gadis kecil merapatkan diri ke sudut lemari, menutup mulut dengan kedua tangan. Berusaha tidak membuat suara. Jantungnya kembali berdebar. Ia kembali menangis. Tubuhnya gemetar ketakutan.
Langkah kedua orang di luar terdengar semakin mendekat, semakin jelas. Lemari itu terasa semakin sempit, terlebih ketika cahaya-cahaya yang sempat menyelinap masuk ke dalam dihadang oleh dua tubuh yang besar, mereka berdiri persis di depan pintu lemari.
Gadis kecil itu kehabisan ide. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia sangat ketakutan. Dirinya lemah jika hendak menyerang kedua orang di luar. Mereka dapat mudah menghabisinya nika tertangkap.
"Kalau kau ingin bermain petak umpet, seharusnya kau memilih tempat bersembunyi yang lebih baik." Seringai dari kedua orang itu semakin melebar, kekehan hampir keluar dari mulut mereka saat salah satu di antara mereka mengatakan lelucon itu. Itu hanya lelucon sarkasme, sayangnya memang tidak ada tempat persembunyian yang bagus untuk gadis kecil itu untuk bersembunyi.
Selama pengejaran mereka, melihat gadis kecil itu berlari seperti melihat seekor kelinci kabur belasan serigala. Begitu kecil, rapuh, lincah dan mudah untuk dilumpuhkan kapan saja. Beberapa dari mereka ada yang sengaja melesetkan tembakan-tembakan hanya itu mendengar jeritan ketakutan si gadis kecil. Terlebih wajahnya. Melihat wajah ketakutan dari gadis kecil itu merupakan kesenangan dari orang-orang seperti mereka. Orang-orang yang membalaskan dendam terhadap keluarga Otets.
Melihat penderitaan keluarga ini, bagi mereka merupakan penambah kenikmatan duniawi mereka untuk sementara sebelum mereka menghancurkan Bratva. Keluarga itu mengambil sesuatu yang berharga dari mereka, keluarga itu harus mendapatkannya juga. Ini baru adil.
Pintu lemari kayu itu dibuka oleh kedua orang tersebut. Si gadis kecil kembali memekik. Pekikan yang terdengar seperti sebuah lonceng kemenangan untuk dua orang pemburunya. Gadis kecil itu berusaha menyudutkan tubuhnya lebih dalam ke sudut lemari. Mereka mengeluarkan pistol. Ini hanya anak kecil, tidak perlu berlebihan menembakinya. Moncong laras pistol teracung lurus ke arah si gadis kecil. Tubuhnya bergetar hebat, seperti seekor kelinci yang terpojok oleh segerombolan serigala. Mata birunya berkaca-kaca ketakutan.
"Jangan ketakutan begitu, gadis kecil. Lihat sisi baiknya. IIbu dan kakak laki-lakimu akan segera menemuimu, jadi jangan khawatir." Pelatuk ditarik. Gadis kecil itu menatap nanar.
Kalimat abangnya kembali menggema di dalam kepalanya. Pergi ke bunker itu! Tapi sekarang, jika bahkan bunker tidak dapat menjamin dirinya selamat, kepada apa dia harus berlari? Ke mana dirinya harus kabur lagi? Ke tempat apa yang akan menjanjikannya sebuah keselamatan?
Itu malam yang dingin. Bulan purnama bersinar terang di langit saat suara dua tembakan meletus. DOR! DOR!
Jeritan ketakutan dari gadis kecil terdengar lantang. Darah kental mengucur ke lantai, bersamaan dengan tubuh kedua orang di depannya. Kepala mereka bolong, dua peluru menembus kepala mereka masing-masing, terjatuh di dekat si gadis kecil.
Di tengah ketakutan dan kebingungan, di gadis kecil ragu-ragu melihat ke ujung tangga. Ada seseorang di sana. Seorang wanita. Paras wajahnya tegas, matanya menatap tajam. Gadis kecil itu mengenali wanita tersebut. Ia memakai baju serba hitam lengkap dengan senjata di pinggangnya. Wanita itu menurunkan pistol.
"T-Tet...Tetya..." ucapnya gemetar. Ia sudah menganggap wanita itu sebagai bibinya.
Sosok itu melangkah mendekat. Matanya masih menatap tajam. Jika gadis kecil itu cukup dewasa, ia dapat menginterpretasikan arti sorot mata itu sebagai sorot penuh kebencian dan marah. Sosok itu menghela napas, seakan mengontrol emosi. Seketika tatapan tajam miliknya sirna, digantikan tatapan yang selalu diberikan kepada gadis kecil itu, tegas. Ia berjongkok di depan lemari di antara mayat dua orang yang dia tembaki.
"Apakah mereka ada melukaimu, Maria?" Sosok itu bertanya kepada si gadis kecil itu, Maria.
Air mata kembali mengumpul di pelupuk Maria. Ketakutannya meluap begitu saja dengan isak tangisnya. Kekalutannya menghilang begitu saja ketika mengingat bahwa dirinya masih memiliki tempat untuk berlindung, sosok yang akan melindunginya. Tetya-nya, Tetya Natascha akan selalu melindunginya.
Melihat kondisi Maria, Natascha berkesimpulan gadis itu baik-baik saja. Dia hanya kedinginan dan ketakutan—seperti dirinya dulu. Kejadian malam ini juga hampir mengingatkannya terhadap masa lalunya. Maria kehilangan keluarganya, orang-orang yang selalu berada di sisinya saat ayahnya sibuk. Jika sudah seperti ini, terlebih mengingat gadis ini telah menjadi pewaris tunggal berikutnya di umur yang masih belia, Natascha sedikit memikirkan nasib Maria ke depannya. Gadis ini serapuh kaca, dia harus melakukan sesuatu.
Di tengah pikirannya, Natascha memutuskan untuk memikirkannya lain waktu. Yang pasti dia harus melatih gadis ini untuk menjadi lebih kuat.
Natascha mengulurkan tangan. "Ayo, kita pulang, Maria."
Tanpa ragu, Maria segera menerima uluran tangan Natascha kemudian memeluknya erat. Tubuhnya masih bergetar.
Natascha mendengus. "Kau merepotkan, kau tahu," ucapnya pelan. Segera ia menggendong Maria, mengambil jaket yang ada di bunker untuk menyelimutinya pada tubuh kecil gadis itu kemudian mereka berdua keluar dari bunker.
Itu malam yang dingin. Bulan purnama bersinar terang di langit. Salju semakin turun dengan deras. Sinarnya bersinar lembut ke dalam hutan, memberikan penerangan untuk Natascha melihat rombongan pasukan dan juga Sergei yang masih berusia belasan tahun berlari ke arahnya. Tampaknya mereka berhasil menghabisi lawan. Wajah mereka terlihat lega dan senang mengetahui dirinya berhasil menyelamatkan nona kecil keluarga ini. Seakan tahu semuanya sudah berakhir, Maria di dalam pelukan Natascha tidak gemetar lagi. Ia malah semakin merapatkan wajahnya di ceruk leher Natascha.
Lengannya mengalung erat di leher Natascha, ingin bersama orang yang menyelamatkannya. Orang yang akan melatihnya dengan keras dan sayangnya menjadi sosok yang harus dia habisi di masa depan.
