Work Text:
Banyak yang menganggap perceraian adalah kegagalan dari dua sejoli yang tidak mampu menyelesaikan masalah. Tapi bagi Seungcheol dan mantan istrinya, berpisah adalah keputusan terbaik yang mereka ambil. Mereka tidak gagal . Keduanya bersalaman dengan senyum tulus di luar gedung pengadilan dengan kesepakatan merawat anak mereka, Hansol, yang masih balita bersama-sama. Si bocah (yang sepertinya belum paham apa arti perpisahan) juga terlihat santai dalam gendongan ibunya. Ia bahkan melambaikan tangan ke arah Seungcheol yang berjalan pulang ke arah berlawanan.
Ketika semua bersimpati dengan statusnya yang baru saja menjadi duda, Seungcheol justru santai dan tertawa melihat respon orang-orang di sekitarnya.
“Nggak kesepian, beneran!” ucapnya dengan jujur saat rekan kerjanya di kantor bersimpati dengan status pernikahannya, “ Look , I’m still texting my ex-wife like the divorce never happened. Cuma nggak mesra aja. Kita memang nggak pernah mesra, sih.”
Jisoo, rekan kerja Seungcheol mengernyit membaca pesan di ponsel yang disodorkan Seungcheol. Ternyata memang sejak awal lelaki itu dan mantan istrinya tidak terlihat seperti pasangan suami istri. Mereka terlihat seperti teman biasa yang memilih hidup bersama saja: membagi tagihan bulanan menjadi dua, dan (kebetulan) bercinta sampai punya anak.
Semua terasa lancar dan baik-baik saja hingga mantan istri Seungcheol menyampaikan dia harus pindah ke luar negeri untuk sementara ke suatu tempat yang tidak ramah anak-anak. Ini semua ada di luar rencana mereka berdua, terutama Seungcheol, pasca-perceraian beberapa bulan yang lalu.
“Kamu ngurusin apa lagi kali ini?” tanya Seungcheol sambil mengawasi Hansol yang sedang belajar makan dengan rapi.
“ Confidential ,” balas mantan istrinya. Perempuan itu sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper, “Tenang, aku nggak melakukan tindakan kriminal. Aku cuma pergi ke Alaska. Aku nggak mungkin bawa Hansol ke sana, kan?”
Seungcheol setuju. Ia tidak bisa membayangkan istrinya yang hobi bekerja itu harus mengurus Hansol di tempat yang sangat dingin sembari melakukan entah-apa-yang-katanya-rahasia itu.
“ It’s gonna be Hansol’s first Christmas without both of his parents .” nada kekhawatiran terdengar jelas dari pernyataan Seungcheol barusan.
“ Hey, everything will be fine, ” balas mantan istri Seungcheol dengan tenang. “Aku udah kirim email ke kamu. Isinya daftar kebutuhan-kebutuhan Hansol, daftar apa yang dia suka dan nggak suka, meskipun kamu kayaknya udah hafal, ya? Hmm, anything you might need , ada di sana pokoknya. Daftar video di youtube yang Hansol suka juga ada, aku masukin juga semua linknya di dokumen itu.”
Seharusnya Seungcheol tidak perlu khawatir. Toh, semua sudah disiapkan oleh mantan istrinya yang teliti itu. Everything will be fine. Everything will be fine. Semoga.
—
Seungcheol merasa hidupnya tidak kekurangan satu hal pun.
Lelaki itu tahu bahwa dunia ini penuh cela, tidak ada yang sempurna . Namun suara tawa Hansol di hari Sabtu pagi membuatnya berpikir sebaliknya. Ada perasaan menyenangkan yang menyusup ke hati lelaki itu, membuat seluruh tubuhnya dilingkupi perasaan hangat, terutama saat melihat tangan kecil Hansol melambai ke arahnya dan mengajak Seungcheol mendekat.
“ Papa. Papa! Sini!”
Dulu sekali, saat Seungcheol masih lebih muda, ia tidak pernah berpikir untuk menikah dan punya anak. Lelaki itu terlalu mencintai pekerjaan dan kehidupannya sebagai bujang hingga membangun keluarga tidak masuk ke daftar hal dalam hidup yang ingin dia lakukan. Sampai suatu hari, Seungcheol bertemu lagi dengan ibunya Hansol, teman kecilnya, kemudian menikah dan Hansol hadir di antara mereka. Tidak bisa dipungkiri, memiliki Hansol mengubah banyak aspek di kehidupannya. Seungcheol sempat tertatih, tersandung, bahkan sempat jatuh , karena belum terbiasa dengan kehidupan barunya menjadi seorang ayah.
Meskipun begitu, Seungcheol sangat menikmati perannya sebagai orang tua.
Kamera yang biasa ia pakai untuk memotret bangunan unik di sekitarnya perlahan berubah fungsi. Memorinya jadi banyak berisi momen pertama tumbuh kembang putranya: Hansol belajar berdiri. Hansol mulai berjalan. Hansol mencoba makan dengan sendoknya sendiri. Sekolah pertama Hansol. Tangan kecil Hansol yang menggandeng guru di sekolah pertamanya. Hansol yang menangis dalam gendongan ibunya sampai suaranya serak karena kaget melihat badut juga terekam dalam memori kamera Seungcheol.
“ Look! ” Hansol menunjuk televisi yang menampilkan keluarga menghias pohon natal bersama, “Ayo beli pohon, Papa. I wanna put a star on top of the tree! ”
Seungcheol mengelus puncak kepala putranya dengan lembut, “Boleh.” Sebuah senyuman terlukis di bibirnya, melihat Hansol yang bersemangat membuatnya senang. “ Is there anything you want for Christmas ? Papa belum beli hadiah buat Hansol.”
Si bocah berumur empat tahun itu menepuk-nepuk dagunya dengan telunjuk kanan, sebuah gestur yang menunjukkan bahwa ia sedang berpikir. Lagi-lagi Seungcheol tersenyum. Gerakan Hansol barusan mengingatkan dia dengan dirinya sendiri. Keluarganya pernah bilang Seungcheol punya kebiasaan tertentu, salah satunya menepuk dagu dengan telunjuk saat berpikir.
Ada perasaan menggelitik yang menyenangkan saat menyaksikan putra satu-satunya memiliki kebiasaan yang sama dengan dirinya. Rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu cantik yang terbang dalam perut Seungcheol. Tidak pernah ia sangka, melihat fotokopi dari dirinya dengan ukuran mini begitu ternyata menyenangkan.
Seungcheol merasa siap mengabulkan apapun permintaan Hansol di natal tahun ini.
“Seungkwan! I think I want him for Christmas .”
“Seungkwan?” tanya Seungcheol. Perasaannya yang bersukacita tadi langsung berubah secepat kilat jadi sebuah kebingungan. Jika ayah dan anak itu hidup dalam cerita bergambar, mungkin komikusnya sudah menggambar beberapa tanda tanya tebal di atas kepala Seungcheol.
“Yup! I want Seungkwan for Christmas.”
Apa, atau siapa itu Seungkwan? Seungcheol kesulitan menggali informasi yang berkaitan dengan Seungkwan di kepalanya. Ia berusaha memikirkan siapa itu Seungkwan. Tapi Seungcheol benar-benar tidak bisa mengingat apapun perihal nama yang disebut Hansol. Pun dirinya juga tak ingat ada nama tersebut di daftar “ Hansol’s Favorite” yang dikirim mantan istrinya.
“ Who is Seungkwan? Kamu ketemu di mana, Nak?”
Hansol menunjukan wajah kesal karena pertanyaan sang ayah, “ He’s my friend at school , Papa. Papa nggak kenal?”
“Belum kenal,” jawab Seungcheol diplomatis. Setelah ini, ia akan kembali menelusuri data yang dikirimkan mantan istrinya, bisa jadi dia melewatkan bagian tersebut. Dalam kepalanya, ia membuat rencana untuk bertemu guru Hansol di sekolah, daycare, dan art space tempat si bocah belajar menggambar untuk cari tahu soal bocah bernama Seungkwan.
“Kado lain aja, gimana? Seungkwan is your friend, I think? Papa nggak mungkin bungkus Seungkwan pakai kertas kado and put him under the christmas tree , Nak.” Seungcheol mencoba bernegosiasi dengan Hansol menggunakan nada bicara sehalus mungkin. Berharap putranya berubah pikiran dan mau mengganti permintaan yang sulit diwujudkan itu.
Namun ternyata, penolakan Seungcheol membuat ekspresi Hansol yang kurang menyenangkan menjadi lebih parah. Ia benar-benar terlihat marah dan kesal.
Hansol melipat kedua tangannya dan menatap Seungcheol dengan kilat amarah dari kedua matanya. “Aku mau Seungkwan for Christmas . Here. At home!”
Seungcheol cuma bisa memijat kening melihat anaknya lari masuk kamar dan menutup pintu. Ngambek, rupanya . Ia benar-benar harus introspeksi dan berkonsultasi dengan banyak orang untuk memperbaiki hubungannya dengan Hansol, sebelum semuanya rusak hanya karena kado natal.
—
Banyak orang yang tidak menyukai hari Senin. Mereka terlanjur menikmati waktu istirahat di akhir pekan dan kesal harus kembali bekerja atau belajar setelah liburan berakhir. Hansol yang baru berumur empat tahun pun, tidak suka bangun pagi dan berangkat sekolah.
“Hansol, ayo pakai kaus kakinya, Nak.” Seungcheol mengingatkan putranya yang terlihat tidak antusias menyambut hari. “Ayo Nak, nanti terlambat ke sekolah, lho.”
Bukannya malah semakin cepat bergerak, Hansol justru melakukan hal yang sebaliknya.
“ I don't care.”
“Hansol.”
“ Papa can't get me the present I want for Christmas ,” Hansol menyilangkan kedua tangannya, “kenapa aku harus dengerin Papa?”
Mayday. Mayday. Mayday.
Sebagai lulusan salah satu perguruan tinggi terbaik dunia hingga jenjang S2, Seungcheol yang merasa sudah banyak belajar pun masih kesulitan menghadapi argumen anak balitanya. Masalah seperti ini tidak pernah ia pelajari sepanjang usianya.
“Papa sayang Hansol. Banget. Tapi ada hal yang Papa belum bisa lakukan. Salah satunya kabulkan permintaan Hansol yang ini.”
Hansol cemberut. Bibirnya yang manyun jadi mirip seperti bebek. Sungguh, kelakuan ini mengingatkan Seungcheol dengan kelakuannya di usia serupa saat ia sedang kesal. Memang buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.
“ Mama always gave me anything I wanted.”
“Mama nggak selalu kasih apa yang Hansol mau,” jawab Seungcheol. Ia tahu mantan istrinya menggunakan reward system perihal ini.
“Hansol ingat Hot Wheels warna biru di kamar? Mama belikan itu karena Hansol bikin kebiasaan bersihkan kasur setelah bangun tidur, kan? Bukan dibelikan cuma-cuma karena Hansol mau.”
Jawaban Seungcheol tersebut membuat raut wajah Hansol menjadi jauh lebih muram. Anak berumur empat tahun itu berkaca-kaca dan bibirnya bergetar menahan tangis.
“ But Mama is always by my side, nggak kayak Papa!”
Seungcheol terkesiap, tidak disangka putranya mampu menusuk dadanya dengan pisau tak kasat mata. Tidak bisa dipungkiri, Seungcheol benar-benar sedih dan ia tidak bisa menutupi ekspresi wajahnya yang berubah muram. Hansol langsung membuang muka setelahnya, tidak ingin menatap ayahnya yang memperlihatkan wajah terluka.
“ I just wanted Seungkwan! Why can't I have a friend for Christmas?!”
Jika kekecewaan Hansol diibaratkan ombak, maka perasaan Seungcheol adalah kapal yang sedang melaut dan hancur dihantamnya. Tidak bisa dipungkiri, pengakuan Hansol memberikan dampak yang besar bagi ayahnya. Perasaan Seungcheol terluka, ia merasa gagal menjadi seorang ayah.
Seungcheol memang lebih banyak menghabiskan waktu bekerja di luar rumah dibanding mantan istrinya yang kerja dengan sistem working from anywhere . Tidak sedikit milestone dalam hidup Hansol yang terlewat karena kesibukannya. Untungnya, mantan istri Seungcheol cukup baik dalam mendokumentasikan banyak hal dan kooperatif dalam mengkomunikasikan perkembangan putra mereka yang sempat terlewat olehnya. Namun tetap saja, jika dibandingkan dengan ibunya Hansol, absennya Seungcheol dalam kehidupan anak itu membuat adanya jarak di antara mereka.
Lelaki itu tidak pernah merasa segagal ini sepanjang hidupnya.
Seungcheol is not giving enough. He’s not doing enough. He wants to be enough. He wants to be more than enough for his son.
“Hansol,” Seungcheol langsung mensejajarkan dirinya dengan tinggi sang anak dan berusaha menatap matanya dalam-dalam meskipun Hansol memilih untuk melihat apapun selain wajah ayahnya, “ I know you’re disappointed. Papa minta maaf karena nggak bisa ada buat Hansol setiap hari, beda sama Mama.”
Hansol masih membuang muka. Namun, elusan lembut Seungcheol di bahunya membuat anak itu perlahan mau mendengarkan ayahnya bicara.
“ I will try to make it up to you, Nak . I promise ,” Seungcheol betulan tulus. Ia hanya mau menghapus rasa kecewa putra tunggalnya. “Tapi pagi ini, Hansol pakai dulu kaus kakinya, kita berangkat ke sekolah, ya?”
Sunyi adalah orang ketiga di antara percakapan kedua lelaki itu. Hansol tidak merespon bujukan ayahnya.
“Kalau Hansol mau pakai kaus kaki dan berangkat ke sekolah, Hansol bisa ketemu Seungkwan and your other friends . Nanti kenalin Papa ke Seungkwan, gimana?”
Seperti sebuah kata ajaib, ekspresi wajah Hansol langsung berubah berbinar-binar saat mendengar Seungkwan disebut oleh ayahnya. Hansol mengangguk. Ia bergegas mengambil kaus kaki bergambar Spider-Man yang sempat dilempar ke sudut ruangan dan langsung memakainya dengan sigap.
Momen ini membuat Seungcheol takjub. Ada rasa penasaran yang muncul ke permukaan tentang bocah bernama Seungkwan. Anak seperti apa yang berhasil membuat Hansol-nya menjadi penurut seperti itu? Apakah mungkin dia punya ilmu sihir?
Seungcheol lantas menepuk dahinya. Rasanya, ia harus lebih banyak berdoa dan meminta mukjizat Tuhan dibanding memikirkan hal seperti tadi.
—
Seungcheol betul-betul serius introspeksi dan berdoa memohon keajaiban setelah insiden Hansol melempar kaus kakinya tempo hari.
Dirinya mencoba untuk meluangkan waktu lebih sering bersama putra tunggalnya. Ia mengambil jatah working from home sebanyak yang dia bisa. Selain itu, Seungcheol juga berdiskusi dengan mantan istrinya melalui email (yang dibalas satu sampai dua hari kerja karena perempuan itu terlampau sibuk dan di tempatnya susah sinyal). Ada banyak hal yang berubah di luar rutinitasnya, dan setiap menitnya dinikmati oleh Seungcheol sebagai pengalaman baru yang menyenangkan. Mungkin karena ia melakukannya bersama Hansol, buah hatinya.
Meskipun belakangan ini pekerjaan Seungcheol sedang gila-gilanya dan ia lelah luar biasa, lelaki itu masih berusaha menjadi ayah yang baik dengan membuat aktivitas menyenangkan bersama Hansol. Mereka bangun agak siang hari ini dan belanja ke supermarket setelahnya. Hari itu, Hansol boleh duduk di troli dan memilih buah untuk jadi camilan minggu ini. Diberikan kesempatan untuk in charge membuat anak berusia empat tahun itu bersorak senang. Jarang-jarang ia bisa duduk di dalam troli bersama barang belanjaan mereka yang lain. Setibanya di bagian sayur dan buah, Hansol bersemangat menunjuk jeruk clementine yang ukurannya kecil dan bisa dimakan orang dewasa dengan sekali lahap.
“ Orange! Papa, aku mau orange!” Hansol bukan tipikal anak yang banyak energi dan suka heboh saat melihat sesuatu yang membuatnya senang. Melihat semangat putranya saat menunjuk buah jeruk membuat Seungcheol mau tak mau ikut tersenyum lebar. Jangankan sebungkus jeruk, dunia juga akan Seungcheol usahakan jika Hansol mau.
(Seungcheol akan usahakan, namun bukan berarti langsung dikabulkan. Tidak semua permintaan Hansol bisa ia berikan, sih. Misal, kado natalnya yang mustahil itu.)
“Papa… susah.”
Sore hari setelah berbelanja dan makan siang di restoran, ayah dan anak itu sibuk berkompetisi di dapur apartemen mereka. Dapur mungil itu penuh dengan aroma jeruk, hasil dari lomba mengupas buah yang diinisiasi oleh Seungcheol. Hadiahnya adalah, bagi yang berhasil mengupas kulit jeruk dengan rapi tanpa terputus diperbolehkan makan kulit ayam lebih banyak di kunjungan bulanan mereka ke restoran cepat saji selanjutnya.
Seungcheol merasa kompetisi ini cukup adil. Karena dia sendiri cukup payah dan belum berhasil mengupas kulit jeruk tanpa putus. Lebih lagi, jeruk yang ia kupas terlalu kecil untuk ukuran tangannya. Lelaki dengan kesabaran setipis tisu dibagi sepuluh itu kesulitan untuk tidak mengumpat di depan anaknya.
“Iya, susah. Papa juga belum bisa ini, Nak.”
“Susah tapi Papa senyum-senyum. Papa pura-pura ya?”
Tawa sang ayah meledak setelah mendengar pertanyaan anaknya barusan.
Meskipun kesulitan dan ingin berkata kasar, Seungcheol senang bisa menghabiskan waktu di akhir pekan dengan putranya sampai lupa bahwa ia yang ambisius itu sedang berkompetisi. Kondisinya adalah, keduanya merapatkan kursi makan dan duduk berdempetan. Ada sepiring jeruk berwarna oranye di tengah meja makan dengan dominasi warna putih, membuatnya terlihat seperti miniatur matahari. Tubuh mungil Hansol yang menempel dengan kulit lengan Seungcheol mengirimkan kehangatan hingga ke sanubari. Ia betulan serius menepati janjinya untuk menghabiskan waktu berdua lebih sering.
“ Ugh.”
Seungcheol tersenyum tipis mendengar Hansol yang menggerutu namun pantang menyerah membuka kulit jeruk tanpa terputus. Tangannya mengusap rambut sang anak dengan sayang. Memori tentang Hansol yang melempar kaus kaki tempo hari kembali hadir dalam pikirannya. Ia sendiri masih kecewa hingga saat ini dan rasanya sulit memaafkan diri sendiri. Menurutnya, di usia yang tidak lagi muda Seungcheol tidak sepatutnya membuat kesalahan seperti itu.
“Aku udah maafin Papa. Hansol sayang Papa.” ucap putranya.
Hatinya seperti diremas kuat saat Hansol memaafkannya dalam waktu singkat, tepat sebelum anak itu turun dari mobil dan masuk ke gerbang sekolah. Mungkin Hansol cukup peka melihat ayahnya lebih banyak diam dan memperlihatkan wajah yang sedih sepanjang perjalanan menuju sekolah. Namun hal tersebut sama sekali tidak diprediksi oleh seorang Seungcheol.
Hansol menerima kekurangan Seungcheol. Hansol memaafkan absennya Seungcheol dalam kehidupannya beberapa tahun belakangan. Sejak saat itu, Seungcheol berjanji untuk lebih sering menghabiskan waktu dengan putranya dan melibatkan Hansol pada setiap kesempatan yang ia punya. Mungkin, permintaan mustahil Hansol adalah sebuah momen yang membuatnya sadar bahwa ia hanyalah manusia biasa.
Seungcheol jadi teringat seminggu pertama setelah ia bercerai dengan mantan istrinya. Dia dan perempuan itu menganggap perceraian bukan kegagalan, namun jauh di lubuk hati Seungcheol, ia cukup kecewa dengan diri sendiri. Menikah adalah salah satu keputusan hidup paling rumit yang pernah Seungcheol dan mantan istrinya ambil. Meskipun keduanya sudah berusaha untuk mempertahankan hubungan itu, ternyata mereka belum bisa mengambil jalan tengah dan memutuskan perpisahan adalah yang terbaik.
Ternyata Seungcheol juga bisa gagal, gagal mengambil jalan tengah. Namun setelah dipikir kembali, kegagalan inilah yang membuat Seungcheol mulai belajar lebih banyak. Salah satunya mencari waktu lebih sering untuk berduaan dengan Hansol.
Omong-omong, sampai akhir pun belum ada di antara duo anak dan ayah itu yang berhasil mengupas kulit jeruk tanpa terputus.
“Okay, buddy . Let’s wrap up . Kalo kebanyakan makan jeruk, kita nggak akan makan malam.” Seungcheol membersihkan tangannya dengan tisu setelah mengupas jeruk clementine . Dimakannya sebutir jeruk terakhir dalam sekali lahap.
Buah memang (lagi-lagi) jatuh tidak jauh dari pohonnya. Melihat cara ayahnya melahap sebutir jeruk dengan sekali makan, Hansol langsung meniru cara tersebut. Kedua pipinya menggembung karena ukuran sebutir jeruk masih terlalu besar untuknya.
“Eh, buddy, makannya sepotong-sepotong aja. Kalau begitu, nanti tersedak.”
Bel apartemen mereka berbunyi saat Seungcheol mengingatkan Hansol untuk makan pelan-pelan. Sang ayah jadi bertanya-tanya, siapa yang bertamu ke tempat mereka menjelang waktu makan malam?
“ Buddy , mau lihat siapa yang tekan bel di depan?”
Hansol mengangguk sembari mengulurkan kedua tangannya, menunjukkan gestur ingin digendong. Tubuh anak balita itu sudah tidak ringan lagi namun Seungcheol tidak menolak. Digendongnya Hansol sembari berjalan ke depan pintu, kemudian mengintip tamu yang berkunjung melalui lubang pintu.
Ada seorang lelaki dewasa berwajah asing menunggu. Seungcheol belum pernah melihat lelaki itu sebelumnya.
“Nak, kamu sembunyi di kamar dulu, ya,” Seungcheol berbisik, “Papa nggak tahu siapa tamunya. Takutnya orang jahat.”
Kedua bola mata Hansol langsung melebar.
“OK, Captain .” Kaki-kaki kecilnya berlari masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.
Anak itu sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Jika ada orang asing yang datang ke rumah, Hansol akan bersembunyi sampai diberi sinyal oleh kedua orang tuanya untuk keluar kamar. Hansol juga paham, jika ada hal berbahaya yang terjadi ia harus segera telepon uncle Jisoo alias teman ayahnya melalui ponsel.
Setelah dirasa aman, Seungcheol baru berani membuka pintu.
“Selamat malam.” Pria asing di depan pintu tersenyum lebar. Ia membawa beberapa kotak makan susun berwarna oranye, mengingatkan Seungcheol dengan jeruk yang barusan dihabiskan bersama Hansol.
“Saya Mingyu, dan ini anak saya Seungkwan. Kami baru pindah ke unit sebelah. Salam kenal.”
Seungkwan?
“Halo, Oom!” Si bocah yang hanya setinggi betis ayahnya itu melambaikan tangan dengan senyuman lebar terpatri di wajah bulatnya, “ I’m Seungkwan! Nice to meet you.”
Seungcheol si tuan rumah menyambut sapaan ramah Seungkwan dan ayahnya, Mingyu, dengan senyum yang lebar dan secerah matahari pagi. Ia lantas memanggil Hansol dengan semangat, “ Buddy, kita kedatangan tamu!”
Mungkin, ini jawaban dari doa-doa yang Seungcheol panjatkan setiap malam.
—
