Work Text:
Written by: @nighttskiees
Day 1
“Hallo, Aku mau minta izin buat ambil 60 detikmu yang berharga selama 6 hari ini yaa. Jangan pikirin hal aneh soal angka 6, aku bukan pengikut setan, jadi kamu gak perlu takut. Kalau aku emang pengikut setan, mungkin kamu sudah kujadikan tumbal untuk membuatku kaya. Oke, sounds creepy! Lupain aja soal setan ini hehe. Tapi yang jelas di hari pertama ini kamu pasti baca surat ini dengan mikir “siapa pagi–pagi sudah mengirimkan surat mengenai setan?”. Aku akan jawab itu mungkin nanti, lets see we only have 60 seconds. Jadi, sebelum itu aku mau jelasin tentang kamu dulu. Kamu itu orang yang paling lancang yang pernah aku tahu, soalnya kamu tiba-tiba berhasil bikin aku ngerasain apa yang Dilan rasain buat Milea. Aku gak suka sama filmnya, tapi aku rasanya bener bener tau apa yang Dilan rasain. Pemilihan film yang cukup cringe buat memperkenalkan kamu di hidup aku, tapi at least harusnya kamu paham. Sekarang soal aku, aku mau mengumpamakan film yang lain lagi, jadi aku pilih Harry Potter, maaf atas perbedaan pemilihan film, aku harap kamu gak protes. Jadi, di film Harry Potter ini kamu adalah Harry dan aku adalah salah satu murid di kelasmu yang gak ada dalam cerita. Jadi, mungkin sekarang kamu sudah cukup tahu tentang presensi aku di hidupmu, yang mana tidak signifikan. Hari pertama cukup itu aja yang mau aku sampaikan. Aku yakin kamu cuma habiskan enam puluh detik untuk baca ini. Kalau lewat 60 detik, nanti kamu bisa minta kompensasi, hehe. Sampai jumpa di enam puluh detik esok hari.”
Mingyu mengernyit, tanda kebingungan itu muncul atas dasar tulisan ‘iseng’ yang telah dikirimkan ojek online itu ke rumahnya jam 7 pagi di hari Minggu, yang mana akan membuat Ibunya membangunkannya yang telah berjanji akan tidur sampai matahari di atas kepala.
“Dapet apa Mas? Pagi-pagi udah ada yang ngirimin?” Ucap si ibunda yang sedang berada di dapur yang mendapati Mingyu dengan raut bingung, dan muka bantal yang sangat terlihat sebel.
“Gak tahu nih, bu. Orang iseng kali yaa, Mingyu mau balik kamar yaa!” Ucap Mingyu yang akan beranjak ke kamarnya di lantai dua.
“Mas, bentar deh,” panggil Ibu yang membuat Mingyu berhenti dan menoleh, “Mumpung kamu udah bangun, cepet mandi ya. Tolong anterin Ibu beli bumbu dapur, habis semua. Ibu mau bikin Gulai gak bisa.”
“Ibu, Mingyu kemaren kan udah bilang mau tidur sampe siang, capek banget bun, kemarin habis dari nikahannya Hao. Anak-anak langsung ngajakin main.”
“Ibu mah tau, kamu kalau udah bangun, udah gak bisa tidur lagi. Kamu gak usah alasan yaa” Sergah si ibunda cantik yang masih sibuk dengan telur dadarnya di dapur.
“Iya deh deh bu, apasih yang engga buat ibu. Sejam lagi ya, nanti Mingyu turun.”
“Makasih, Mas Mingyu, anak lanangnya Ibu paling ganteng.”
“Ya kan, anak lanangnya ibu cuma satu.” Ucap Mingyu yang buru-buru naik setelah dihadiahi senyuman oleh ibu.
Mingyu menaiki anak tangga, surat cokelat dengan goresan tangan yang tidak ia kenali itu masih berada di tangannya. Mungkin memang tidak masalah untuk menyimpannya, atau mungkin ada titik harapan yang Mingyu rasakan.
***
Day 2
“Hallo, ini enam puluh detik keduaku. Aku harap kamu gak masalah buat baca surat ini setiap hari. Enam puluh detik keduaku akan aku dedikasikan untuk menjelaskan secuil informasi mengenai tujuanku meminta enam puluh detik itu. Jadi, dimulai dengan aku yang mengenalmu mungkin dari jauh, dan aku memujamu mungkin juga dari jauh. Aku tidak pernah ingin mendekat apalagi mengikat, aku jelaskan nanti ketika waktunya tiba. Aku cuma ingin kamu tahu aku bukan manusia beruntung yang bisa hadir dalam setiap langkahmu, dan lagi aku sangat jauh darimu jarak dan juga perasaan. Aku tidak bisa menggapaimu, bukan salahmu. Semua ini tidak akan pernah menjadi sebuah kesalahan untuk mu, karena semua ini cuma tentang aku dan perasaan bodoh yang sialnya gak ilang-ilang. Oke, Sorry for the bad words! Aku mau lanjutin tentang sekarang aku di mana? Yang jelas aku jauh dari kamu, jadi kamu gak perlu takut. Tolong biarkan jarak ini selalu ada, jangan lakukan apa – apa dengan jarak ini ya. Aku sudah suka dan mencintai jarak ini layaknya perasaanku ke kamu. Coba saja dulu aku lebih jelas mengutarakan ini semua pasti sekarang kita... tidak jangan pernah ada kita. Aku selalu sebel atas pengandaian tanpa ujung yang membuatku lebih menderita ini. Gak peduli dulu dan sekarang seperti apa tapi aku dan kamu gak akan pernah menjadi kita. Tidak akan. Sudah enam puluh detik, aku selesaikan tulisan ini ya. Sampai jumpa esok hari, jangan lupa sarapan, karena bubur ayam biasanya hanya ada pagi hari.”
Untuk hari kedua ini sangat bertepatan dengan Mingyu yang akan berangkat ke kantor, sehingga ia yang langsung menerima surat itu. Di luar pagar rumahnya, kebingungan yang sama datang kembali.
Dia sudah bertanya dengan Ojek Online yang mengantar suratnya itu, tapi dia tidak bisa membagikan informasi apapun ke Mingyu karena si pengirim nampaknya sudah mewanti-wanti si driver Ojek Online untuk tidak membagikan apapun informasi tentangnya. Selain itu, driver ojek online tadi juga diberi tambahan tip dan diancam untuk diberikan bintang satu.
Terlalu ekstrim, tapi mungkin dapat diterima.
Mingyu merasa surat yang dia terima sangatlah terlihat tidak berbahaya. Maksudnya, mengagumi seseorang adalah hal lumrah, dan Mingyu tahu rasanya itu. Tahu betul apa yang orang dibalik surat ini rasakan.
Sebuah degup jantung tak beraturan ketika orang itu ada di dekatnya, sebuah senyum simpul saat Mingyu berhasil menemukannya di kerumunan, dan sebercik kesedihan karena ternyata senyum orang itu muncul karena ada tangan yang menggandengnya erat di tengah kerumunan.
Mingyu paham dan tahu betul rasanya, jadi mungkin menghargai perasaan si pengirim surat dengan menyimpan dan membacanya merupakan satu hal yang setidaknya Mingyu bisa lakukan.
***
Day 3
“Hello, ini hari ketiga dan semoga harimu indah ya. Kurang tiga hari lagi. Sekarang aku mau cerita tentang pertama kali perasaan ini tiba-tiba muncul. Aku gak tahu kapan tapi mungkin ketika kamu pertama kali memamerkan gigi taringmu yang lucu itu ke temanmu dan aku gak sengaja melihatnya. Mungkin, itulah pertama kali aku merasakan ada yang aneh dengan diriku sendiri. Dan setelah beberapa bulan menyelami perasaanku sendiri akhirnya aku bisa membuat kesimpulan bahwa mungkin aku sudah jatuh seenaknya ke kamu. Aku rasa itu sudah terlampau lamanya sejak pertama kali keanehan itu aku rasakan tepat di jantungku. Maksudku, mungkin surat-surat ini tidak perlu, biarkan ini jadi memori yang tersimpan rapi dalam ruang kecil di otakku. Tapi, sudah aku katakan kamu boleh saja mengabaikan ini dan kamu bisa menggunakan enam puluh detikmu yang berharga itu untuk memilih lagu di spotify atau menyalakan radio. Aku ingat kamu dulu pernah menyarankan stasiun radio yang memainkan berbagai macam jenis musik setelah kamu lihat lagu – lagu di ponselku.
Kamu bilang itu stasiun radio favoritmu, jadi sampai sekarang pun aku masih mendengarkannya. Kalau kamu lupa kamu suka 105.00fm, katamu di radio itu suka putar lagu-lagu dari berbagai generasi. Hari ini sampai sini dulu, coba nyalakan radio itu kadang lagunya mengingatkan aku sama kamu.”
Mingyu sudah hafal dengan kebiasaan yang ada selama 2 hari kebelakang, jadi sebelum berangkat dia sudah menunggu ojek online itu datang, dan benar saja belum 5 menit dia menunggu si ojek itu datang dengan membawa surat dengan amplop coklat.
Mingyu mengerutkan alisnya setelah membaca kalimat terakhir yang diungkapkan si pengirim. Dia mengingat kanal radio itu, kanal radio kesukaannya saat SMA.
Satu fakta yang bisa Mingyu simpulkan adalah si pengirim merupakan temannya, atau bahkan seseorang yang berada di sekitarnya saat masa SMA. Sekarang tolong maafkan kemampuan mengingat Mingyu yang berada di bawah rata-rata itu, karena dia tidak bisa mengingat siapa saja yang tahu akan kanal radio favoritnya itu.
Tapi sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar, jadi sangat wajar kalau dia lupa. Mingyu pikir bahwa si empunya surat tidak ingin identitasnya diketahui. Tapi, jauh di dalam kepala Mingyu mulai mempersempit kemungkinan tentang siapa orang yang tahu kanal radio favoritnya itu.
Tapi demi apapun, sel-sel otak Mingyu menolak untuk bekerjasama sehingga membuatnya untuk menyerah dan kembali menjalankan hari seperti biasanya.
***
Day 4
“Hallo yang ke empat kali. Maaf ya sekarang pagimu ditemani surat–suratku tapi pagiku juga aku habiskan dengan menulis surat ini kok, jadi impas, hehe. Sekarang, aku ingin kamu tahu kalau aku masih mengingat setiap memori tentangmu, jangan menganggapku aneh. Aku sudah mencoba untuk melupakanmu tapi kamu gak tahu diri selalu muncul di memoriku. Maaf, gak bermaksud bilang kamu gak tahu diri, cuman aku sebel aja gak bisa lupa sama semua tentang kamu. Aku kira kalau aku kubur dalam – dalam memori tentangmu, memori itu akan hilang, nyatanya dia malah berkembang jadi pohon gede banget yang setiap helai daunnya tersimpan memori soal kamu. Dan aku, malah dengan senangnya selalu kembali ke pohon itu untuk mencari kenyamanan. Kamu ngerti kan rasanya duduk di bawah pohon dengan semilir angin sepoi-sepoi yang lewat terus ada suara dari sungai sama burung yang beterbangan, nyaman banget sampe rasanya gak mau ke mana-mana. Kaya gitu rasanya inget-inget kamu. Mungkin karena itu, rasanya susah banget lupain kamu, tapi aku harap surat – surat ini bisa bikin aku lega akhirnya perasaan itu sudah aku sampaikan ke kamu. Jadi, aku minta doanya biar aku lupa sama perasaan ini, dan sama kamu. Hari ini sampai sini saja, aku harap kamu bahagia selalu. Sampai jumpa esok hari”.
Surat ke empat Mingyu, membawa memori kecil miliknya terbang jauh ke masa-masa SMA. Dimana masa yang tidak akan terulang dan selalu akan menjadi memori paling berharga di hidupnya.
Kalian harus tahu kalau Mingyu masa SMA adalah Mingyu yang diidam-idamkan semua orang dari berbagai generasi, adik kelas, sepantaran, kakak kelas, sampai alumni, jatuh atas pesonanya. Si social butterfly yang akan bersikap friendly kepada semua orang tanpa terkecuali. Mulai dari guru, kepala sekolah, sampai tukang kebun sekolah, semuanya. Semua orang akan mengenal si Kim Mingyu ini.
Kim Mingyu, si kapten tim basket sekolah yang tidak hanya sekali membawa pulang piala basket, dan sering dipanggil di akhir upacara atas prestasinya yang menggunung itu. Pertandingan basket, lomba nyanyi, lomba pidato, sampai lomba catur. Semua orang bingung sebenarnya setiap harinya Kim Mingyu ini mengkonsumsi apa?
Dengan segala image yang sudah tersebar, maka tidak sedikit orang yang menaruh hati padanya. Sikap friendly yang dia memiliki mengantarkan dia ke puluhan pernyataan cinta yang selalu dibalas dengan kata maaf. Semua orang dia biarkan untuk berada di ruangan penuh atas permintaan maaf.
Dan yang paling menakjubkan adalah permintaan maaf Mingyu kepada Ketua OSIS paling cantik, pemilik ranking satu paralel, dan pernah memenangkan olimpiade science. Momen tersebut adalah momen bersejarah untuk semua orang di sekolah itu, karena siapa yang berani-berani menolak Karina, si Ketua OSIS cantik.
Momen tersebut juga yang akhirnya membuat semua orang sadar bahwa Kim Mingyu ini mungkin memiliki pasangan. Akhirnya, pernyataan cinta untuknya berkurang dan membuat hidup Mingyu tidak dipenuhi oleh kata maaf lagi.
Ada banyak surat-surat yang dikirimkan padanya saat itu selalu membawa Mingyu pada masa dimana dia harus memberikan banyak ungkapan maaf ke orang lain.
Perasaan nostalgia ini muncul sampai ingatannya tertuju pada satu orang, dan mengingatnya begitu sangat nyaman seperti duduk di bawah pohon dengan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya.
Tepat seperti definisi si pengirim surat ini.
***
Day 5
“Hallo yang ke lima kali, sudah lima hari dan besok adalah hari terakhir. Hari ini sedikit spesial karena aku sempatkan beli bubur ayam favoritku. Aku harap kamu termasuk jajaran tim bubur diaduk karena bagaimana bisa kamu menikmati semua topping bubur tanpa diaduk, sangat tidak masuk akal. Aku tahu kok kamu berada di sisi bubur tidak diaduk karena akan merusak estetika ketika dimakan, tapi aku berani sumpah kamu pernah nyicipin bubur diaduk punyaku, tapi mungkin kamu lupa. Dan itu gak apa apa. Aku sebenarnya pengen kamu paham apa yang aku rasain, gimana kalau aku pake bubur diaduk untuk ngeibaratin perasaanku ke kamu. Jadi gini, di satu suap itu kamu bisa rasain ayam, cakwe, usus, ditambah gigitan kerupuk, tapi di lain sisi kamu harus liat bentukannya yang jelek, kaya liat kamu sama yang lain. Terus akhirnya menurunkan selera makan, tapi aku pilih buat lanjutin makan, soalnya aku suka. I love the feeling of loving you, Kim Mingyu. Aku cuma pengen kamu tahu aja, and it is enough. Mungkin kamu penasaran siapa pengirim surat ini, tapi saranku kubur saja rasa penasaranmu karena aku tidak akan mengatakan aku siapa. Jika dikatakan pun mungkin kamu gak akan ingat. Jadi, sekarang nikmati saja bubur itu sebelum menjadi dingin. Jangan lupa berdoa. Sampai jumpa esok hari.”
Lucu, pikir Mingyu. Dia bukanlah orang yang memakan bubur dengan diaduk, tapi lihatlah dia sekarang. Berusaha mengaduk sedikit bagian bubur untuk mengetahui rasanya. Menurut Mingyu ini tindakan konyol, tapi entah kesurupan setan dari mana, dia tetap berusaha mengaduk sebagian bubur itu.
Melihat tampilan bubur itu, Mingyu merasa aneh tapi dia tetap menyendokkan bubur itu dan melahapnya dengan takut. Mungkin ia takut keracunan. Setelah mengunyah beberapa kali, dia akhirnya paham mengapa orang bisa menyukai bubur diaduk. Bukan tampilannya melainkan perpaduan ayam, kacang kedelai, kecap asin, cakue yang dapat dirasakan di dalam satu suap.
“Mas Mingyu, makan bubur kenapa sambil senyum-senyum?” Ucap adik perempuannya, Minji, yang duduk di hadapannya di meja makan. “Ibu, Mas Mingyu keliatannya kesurupan, semalem kan dia lembur, pas pulang kayanya ketempelan deh.”
“Hush, aneh-aneh aja.” Ucap Ibu yang datang, dengan membawa bungkus bubur ayam yang lain.
“Ibu, bentar deh. Ini kok bisa ada bubur ayam pagi-pagi?” Tanpa mengindahkan pertanyaan adik perempuannya, Mingyu menanyakan hal yang sebenarnya sudah mengganggunya dari dia membaca surat di kamarnya dan Ibunya memanggil untuk sarapan bubur karena memang ada kiriman dari Maminya Seokmin.
“Iya, semalem kan Maminya Seokmin telpon Ibu, katanya Seokmin ulang tahun jadinya mau bagi-bagi sarapan gitu. Kamu temennya ultah malah gak diucapin.” Ucap Ibu.
“Ibu, beneran semalem yang telpon maminya Seokmin?”
“Yaa, iya toh. Kan Ibu masih sering keluar sama maminya, jadi masih save nomornya. Gak kaya kamu yang lupa sama temen.” Canda ibu.
“Bu, gak gitu. Emang sama-sama sibuk aja, makanya susah buat kumpul lagi.” Ini benar, Seokmin dan Mingyu adalah teman dekat semasa SMA, ditambah Hao. Namun karena kehidupan adalah tentang prioritas, jadi akhirnya mereka jarang untuk bertemu. “Tapi, bu ultahnya Seokmin itu Februari, sekarang udah July.” Memang ingatan Mingyu itu jelek, tapi dia masih mengingat betul tanggal ulang tahun sahabatnya itu, karena mereka hanya bertemu ketika salah satu diantara mereka ulang tahun. Jadi, hanya setahun 3 kali.
“Kamu salah inget paling, le. Kan udah lama gak ketemu.” Jelas Ibu “Yowes, sekarang makan aja itu buburnya. Terus nanti bilang makasih langsung. Kamu hari ini kerjanya dari rumah kan?”
“Iya, bu. Tapi nanti keliatannya mau ketemu Seokmin, mau bilang makasih.”
Seokmin jelas tahu siapa dibalik pengirim surat ini. Meskipun si pengirim bersikeras untuk tidak berusaha menemukannya, tapi rasa penasaran Mingyu itu semakin besar, karena ternyata informan dari si pengirim adalah sahabat dekatnya.
Di kamar, Mingyu berusaha untuk menghubungi Seokmin. Setelah panggilan ketiga, akhirnya Seokmin.
“Pagi, ganteng.” Ucap Seokmin di ujung sana.
“Najis, Seok.” Balas Mingyu dengan nada sebal.
“Santai, dong. Masih pagi. Apa kabar nih bro Mingyu, udah lama banget gak ketemu.” Seokmin benar-benar terdengar sangat menyebalkan sekarang.
“Seok, lo ulang tahun februari, dan kita udah ketemu. Terus sekarang, mami ngirimin bubur buat sekeluarga katanya lo ulang tahun?” Ucap Mingyu yang sudah sebal.
“Yah si mami kenapa bilang ultah gue dah, kagak itu kucingnya Wonwoo melahirkan makanya syukuran.”
“Seok, lo pikir gue percaya gitu? Wonwoo, kembaran lo kan udah gak tinggal di sana karena udah nikah? Otomatis kucingnya juga dibawa?”
“Ya, meskipun udah dibawa kan kucingnya tetep keluarga, Ming. Jadi, yaa kan harus ngerayain.”
“Seok?”
“Ya, Ming?”
“Lo, tau kan?”
“Tau apaan?”
“Gak usah pura-pura gak tau deh.” Mingyu sebenarnya sudah cukup sebal. Mingyu tahu Seokmin berusaha menutupi sesuatu.
“Ini gara-gara mami deh salah ngomong. Okedah, lo bisa gak keluar makan siang? Gue lagi ambil cuti nih.”
“Gue lagi WFH sih.”
“Emang jodoh dah.”
“Sama lu?”
“Idih, najis lo, Ming. Gue masih sayang banget sama Kak Shua.”
“Ya, tadi lo bilang?”
“Bukan sama gue, lah. Pokoknya nanti gue share alamatnya, ntar kesitu aja.” Ucap Seokmin yang langsung menutup telepon. Dan tidak beberapa lama kemudian, dia mengirimkan sebuah alamat cafe.
***
Di siang hari yang terik itu, Mingyu akhirnya membawa dirinya untuk datang dan mencari tahu. Sebenarnya, Mingyu memiliki perasaan aneh yang terus mendorongnya untuk mengetahui seseorang di balik surat-surat yang diterimanya.
Dengan lagu yang mengalun di cafe yang cukup sepi itu, ditemani segelas Latte, Mingyu menunggu. Pikirannya ke mana-mana, berusaha menggali setiap detail memori masa lalu yang sebenarnya sebagian besar sudah ia lupakan itu.
Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar, jadi jangan salah kan Mingyu karena melupakan hal yang sebenarnya memang tidak harus diingat, tapi Mingyu mau mengingatnya. Mingyu bersedia untuk mengingat, jadi dia terus-terusan berdoa agar Seokmin bisa bekerja sama dengannya.
Sudah tiga puluh menit Mingyu menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda Seokmin akan datang. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan, tidak ada apapun yang menandakan dia akan datang.
Mingyu sudah berpikiran buruk bahwa dia hanya dibodohi Seokmin, sampai ada seorang lelaki berambut panjang masuk ke cafe tersebut. Mingyu duduk agak sedikit jauh dari pintu masuk, sehingga dia tidak melihat jelas orang yang masuk itu. Namun, saat pria itu menatap Mingyu, ada raut kaget yang jelas terpampang di rupa cantiknya itu, yang sayangnya tidak dilihat Mingyu.
Mingyu juga terdiam saat melihat sosok dia, memori masa SMA itu akhirnya berputar kembali ke otaknya. Ada seseorang disana. Rambut panjangnya menjuntai begitu indah, senyum manisnya seakan membuat seluruh dunia hanya terpaku padanya, mata yang bersinar bak berlian dan laku indahnya akan membuatnya menjadi seorang penguasa kerajaan.
Sebelum Mingyu, bisa memproses siapa orang itu, si dia tiba-tiba putar balik dan keluar dari cafe, meskipun salah seorang pegawai cafe itu ada yang menyapanya. Tapi, Mingyu masih dalam lamunannya.
Meskipun Mingyu masih berdiri di ketidakjelasan, dia berusaha untuk keluar dan mengejar laki-laki tadi. Tapi, Mingyu dan kecerobohan memang tidak bisa dipisahkan. Dia tidak sengaja menabrak salah satu barista yang akan menyajikan minuman ke salah satu meja, sehingga membuat gelas yang ada di nampan itu pecah.
Dan mungkin memang takdirnya begitu, Mingyu mungkin akan rasa penasarannya yang satu ini akan berakhir abadi. Meskipun ada seseorang yang ia rasa merupakan si pengirim, tapi rasanya tidak mungkin.
Siang itu, akhirnya Mingyu mengganti rugi gelas pecah dan minuman yang tumpah akibat ditabrak tadi. Setelah, itu dia keluar cafe, dan menuju ke arah mobilnya dengan perasaan sebal dengan diri sendiri. Mungkin, lelaki tadi adalah si pengirim surat.
Mingyu mengusuk rambutnya frustasi. Tapi, sebenarnya buat apa dia frustasi, bukannya memang awalnya dia tidak peduli dengan surat-surat ini. Jika ingin dideskripsikan, jauh di dalam hati Mingyu sangat familiar dengan ini semua. Dia ingin ingat, dia ingin semua pekerja yang ada dalam otaknya itu bekerja keras.
Akhirnya karena sudah putus asa, Mingyu kembali menghubungi Seokmin.
“Gimana, Ming? udah ketemu kan? Udah inget dong pasti.” Ucap Seokmin di seberang telepon tepat setelah dia mengangkat panggilan Mingyu
“Apasih Seok? Lo ke mana deh udah gue tungguin lama juga.”
“Ming, sumpah lo gak ketemu? Yang bener aja deh, Ming. Gue ngorbanin hadiah honeymoon gue dan lo sia-siain gitu aja? Capek banget.”
“Seok beneran deh, gue gak paham lo ngomongin apaan. Lo mau ngerjain gue”
“Hadeh, Ming. Ini gue lagi sibuk banget mau persiapan. ini kesempatan terakhir lo yaa Ming. Plis kalo lo mau tau, besok dateng ke nikahannya Bang Seungcheol. Inget kan lo sapa dia? Emang lo gak diundang sih tapi dateng aja nanti gue minta ijin ke dia, demi kebahagiaan kita bersama”
“Tapi Seok, gila banget kali gue dateng ke nikahan orang tapi gak diundang.”
“Lu plus one gue, besok jemput gue. Jam 4 sore, di rumah mami.” Tanpa menunggu jawaban dari Mingyu, Seokmin langsung mematikan sambungan teleponnya.
Mingyu masih merasa aneh, dari semua sebab akibat yang terjadi di hidupnya saat ini, ini paling aneh. Pertanyaan mendasar yang memenuhi otak Mingyu saat ini adalah “Kenapa gue harus peduli?”
Jadi memang kenapa Mingyu harus peduli, kenapa dia bersikeras untuk peduli. Ini semua hanya tentang selembar kertas tiap pagi yang mungkin memang tidak ada artinya. Harusnya memang tidak ada artinya kan? Kenapa dia harus pusing sendiri? Mingyu juga cukup frustasi dengan dirinya sendiri, kenapa dia harus peduli.
Dalam satu sisi yang ada di dalam benak Mingyu sebenarnya ada sebuah harapan yang sebenarnya juga tak disadarinya. Alam bawah sadarnya mungkin bekerja sempurna atas pengharapan tersebut sehingga mampu mendorong Mingyu untuk bisa mengerahkan effort berlebih seperti ini.
Hari ini sia-sia. Dia tidak bertemu siapapun orang yang berada dibalik surat-surat paginya. Tapi Mingyu sudah punya sekelebatan bayangan tentang pemilik tulisan-tulisan itu.
***
Day 6: Mengapa?
“Hallo, Kim Mingyu. Gak kerasa udah enam hari dan bodohnya aku gak nanyain kabarmu. Oke, aku akan tanya sekarang. Bagaimana kabarmu? Aku harap kamu sehat dan bahagia. Setelah ini gak akan ada surat misterius yang akan menghantui pagimu, aku sedih karena pagiku akan kosong tanpa nulis surat untukmu. Tapi aku sudah janji hanya akan meminta waktumu enam hari, jadi ini adalah surat yang terakhir. Surat terakhir ini akan menjadi hal terakhir yang akan aku berikan ke kamu. Aku juga selipkan kamu gelang, dulu aku lihat kamu suka pakai gelang tapi kalau sekarang tidak suka kamu bisa simpan atau kasih ke orang. Gelang itu aku buat sepuluh tahun yang lalu, aku kira saat pertemuan terakhir di sekolah kamu akan datang tapi ternyata tidak. Jadi, aku simpan lagi gelang itu. Sekarang aku lega sudah kasih gelang dan penjelasan panjang mengenai perasaanku ke kamu dan sekarang kamu juga akan lega karena pagimu tidak akan aku ganggu lagi. Meskipun aku gak tahu apakah kamu benar-benar membaca surat ini atau gak yang jelas selamat kamu telah terbebas dari kertas-kertas ini. Sampai jumpa, Mingyu.”
Mingyu memandangi gelang yang sudah bertengger di tangan nya itu sembari memperhatikan bandul ‘M’ yang juga menghiasi gelang itu. Mingyu merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Mingyu terdiam sampai akhirnya sekelebat memori datang menyapa.
Seorang dengan rambut panjang dibalut seragam khas SMA, putih abu – abu, yang duduk di sebelah bangkunya sedang memandangi gelang yang sama yang sedang dia pakai sekarang. Mingyu tersenyum setelah memori itu datang.
***
Jam 4 tepat Mingyu sudah bertengger di mobilnya, di depan rumah Seokmin.
“Eh, Ming. Udah siap aja lu? Udah inget?” Sapa Seokmin yang sekarang sudah masuk ke dalam mobil Mingyu.
“Seok, Bang Seungcheol nikah sama sapa?” Tanya Mingyu
“Liat ntar, kan juga ketemu.”
Jadi, semalaman Mingyu memikirkan tentang sebuah posibilitas yang bisa terjadi. Mingyu mengingat Seungcheol, kakak kelas mantan ketua OSIS dengan sejuta pesona. Kelulusannya membuat sebagian besar orang merasa sakit hati karena tidak ada lagi sosoknya di sekolah. Seungcheol, seorang yang disiplin tapi selalu murah senyum yang selalu menampakkan lesung pipi sedalam palung. Seorang dengan prinsip yang sangat kuat, ditambah segala prestasi yang diraihnya. Membuat semua orang selalu menanyakan dulu ibunya mengidam apa, karena jelas saja mereka merasa sedikit iri dengan semua itu.
Namun, Mingyu tidak pernah iri. Tidak pernah, sampai momen ternyata Seungcheol bisa melukis senyuman indah di wajah seseorang. Seungcheol rupanya juga bisa membuat tawa nyaring yang sarat akan kebahagiaan. Serta, Seungcheol mampu menghapus semua air mata yang keluar dan merubahnya menjadi senyuman yang disusul dengan pelukan hangat. Berakhir mereka tertawa bersama.
Dan Mingyu, Mingyu berdiri di sana. Di jarak yang dimana dia tidak terlihat oleh pasangan itu, tapi dia dapat melihat jelas mereka. Mingyu tersenyum sedih. Ada susu kotak dan peralatan P3K yang dia bawa, karena dia dengar si cantik katanya jatuh ketika sedang berlari. Namun, mungkin memang bukan Mingyu yang ditunggunya. Bukan Mingyu. Dan tidak akan pernah menjadi Mingyu.
Mingyu pun memberikan susu kotaknya asal ke orang lain, dan mengembalikan P3K kembali ke UKS. Tanpa pernah tau apa yang sebenarnya mereka berdua ucapkan pada saat itu.
***
Hanya butuh 30 menit untuk sampai ke venue pernikahan Seungcheol, setelah masuk Seokmin langsung menghilang meninggalkan Mingyu yang sedang berdiri canggung di tengah-tengah orang yang tidak dia kenal sama sekali itu. Beberapa ada, Mingyu mengingat beberapa kakak kelas yang hadir, teman OSISnya. Tapi, Mingyu masih belum menemukannya. Tempat pelaminannya pun juga masih tidak ada orang.
Mingyu memutuskan untuk berkeliling sejenak. Dengan konsep garden party, Mingyu mengagumi setiap dekorasi yang mendukung kelangsungan pernikahan ini. Dalam hatinya masih berharap sesuatu yang mungkin bisa terealisasi, atau bahkan menjatuhkannya sampai dasar. Mingyu hanya perlu berjudi sekarang dengan terus mencari.
BRUKK!! Seseorang menabrak Mingyu dari belakang dan menumpahkan minuman yang dia bawa. Mingyu menatap sosok yang menabraknya itu. Mingyu menatap matanya. Sebuah mata yang selalu membuat Mingyu betah untuk ke sekolah pagi hari karena selalu ada dia berlalu lalang di pintu gerbang. Rambutnya tidak sepanjang dulu, tapi tetap panjang.
Si dia pun juga merasa kaget dengan kehadiran Mingyu.
Tanpa sempat memberikan kata-kata atau menahannya, si dia langsung pergi dengan berucap, “I’ll come back.” Mingyu termenung, segala kenangan SMAnya langsung berputar di otaknya. Mingyu masih merasa sama dengan luapan perasaan ini, Mingyu merindukan luapan ini, sangat rindu.
“Udah nemu kan lu, Ming?” Tepukan dari belakang membuatnya harus kembali lagi ke sini. Dan Mingyu hanya mengangguk tanpa berucap apa-apa. Jantungnya berdegup sangat cepat, rasanya dia bisa membalikan semua meja yang ada di pesta pernikahan ini. “Gue pergi dulu yakkk!” Ucap Seokmin yang pergi meninggalkan Mingyu yang masih bingung dengan kemeja basahnya.
Semua hal yang ada di sekitar Mingyu layaknya bayangan imajiner. Mingyu berusaha sekeras mungkin untuk tetap berdiri, dengan keadaan jantung yang mengalami turbulensi. Dia masih berdiri di tempat yang sama, tidak berpindah sedikit pun, takut nanti ketika dia kembali, akan mencari Mingyu.
Namun, tidak ada jaminan bahwa dia akan kembali. Tidak pernah ada jaminan akan hal itu. Tapi Mingyu masih sama seperti dulu. Mingyu masih menempatkannya pada posisi nomor satu meskipun sudah ada beberapa orang yang pernah singgah di hidupnya. Mingyu masih tidak bisa menghilangkan satupun memori yang ada di benaknya. Mingyu masih sayang, rasanya masih sama. Dan Mingyu berani bersumpah bahwa rasanya akan terus sama.
“Ini, pake. Lengket kalau pake baju itu terus.” Dan akhirnya pandangnya menemukannya di hadapnya. Dengan rambut tergerai panjang dan setelan hitamnya, dia terlihat sangat memukau meskipun bukan dia pemeran utama hari ini.
Mingyu menatap kaos yang ada di tangannya, bingung. “You don’t know Seungcheol, do you?” Mingyu hanya mengangguk. Kemampuannya dalam merangkai kata tiba-tiba menghilang begitu saja. Padahal sebelum berangkat tadi, dia sudah bersiap untuk menodong penjelasan.
“Yaudah, ganti sama ini, terus pulang aja gak papa.” Ucapnya santai sambil memamerkan senyuman yang mana Mingyu berjanji untuk berterima kasih kepada ayah ibunya yang merawatnya sampai dia bisa menyaksikan senyuman paling indah setelah sepuluh tahun lamanya.
“Gak mau.” Ucap Mingyu tiba-tiba
“Udah tau caranya ngomong?” jawabnya yang hanya dihadiahi senyuman tipis dari Mingyu yang sebenarnya masih merangkai kata-kata yang benar sesuai tatanan bahasa. “Kenapa gak mau ganti? Lengket baju kamu.”
“Nanti kamu lari lagi.” Kerja saraf otak Mingyu sedang mengalami penurunan sekarang. Si Dia tertawa, melihat tingkah laku Mingyu yang sama seperti puppy.
“I’ll be right here, promise. Nanti kalau udah ganti kamu bisa langsung pulang aja, gak perlu pamitan sama Seungcheol. Kan gak kenal.”
“Gak mau.” Mingyu... sudah gila.
“Gak mau apa lagi sekarang?” Mingyu harus berterima kasih kepada tuhan karena kesabaran dia berada di level yang paling tinggi untuk berrusan dengannya
“Gak mau pulang.”
“Kenapa?”
“Nanti kamu ilang.”
“Kim Mingyu.” Ucap si Dia yang langsung mengembalikan semua kewarasan Mingyu kembali ke tempatnya semula.
“Mau itu, mau kamu panggil namaku setiap hari. Aku mau ngelakuin apa aja buat denger kamu panggil namaku lagi. I can wait for another decade just to hear it over and again.” Kalimat terpanjang Mingyu akhirnya keluar sore itu.
“Kamu ganti dulu yaa, aku gak kemana-mana.”
Akhirnya Mingyu menurut, menuju ke kamar mandi terdekat dengan kecepatan yang cukup mengesankan karena tidak sampai 5 menit dia sudah kembali ke tempat semula.
“Kak Han,” Jeonghan. Di jantung Mingyu bak terjadi pesta kembang api, Mingyu hanya berharap bahwa gemuruhnya tak sampai ke pendengaran si Kakak cantik karena Mingyu selalu berdoa untuk bisa menyebut nama itu lagi.
Yang dipanggil Kak Han pun menoleh, tersenyum melihat kaos kekecilan yang sedang Mingyu kenakan saat ini, “Meskipun ini paling gede, tapi masih kekecilan yaa buat kamu.”
“Ayo, aku anterin ke mobil.” Lanjutnya
“I don’t want to go home.”
“Kamu kaosan aja, gak enak diliat tamu yang lain, meskipun Seungcheol pasti ngebolehin sih.”
“Kak..”
“Sama aku, Mingyu.” Sama aku... Mingyu
Telak, akhirnya Mingyu mau menuruti perkataannya. Dia mengekor dari belakang, sampai “Mingyu, aku gatau mobilnya yang mana. Jangan jalan di belakang.” Mingyu menurut lagi dan akhirnya berjalan berdampingan menuju mobil milik Mingyu.
Di depan mobilnya akhirnya Kak Han berucap, “Udah ya, sekarang pulang gak papa kan?”
“Aku mau kompensasi.” Ucap Mingyu tiba tiba. “Kompensasi apa?” Tanya Kak Han.
“Di surat pertama bilang kalau aku bacanya lebih dari satu menit aku boleh minta kompensasi.” Menurut Mingyu inilah satu-satunya kesempatan yang dia punya dan dia akan memanfaatkannya sebaik mungkin.
“Aku yakin waktunya cuma satu menit buat baca.”
“Kak Han, aku tiap malam baca surat itu lagi dan lagi. Aku juga selalu ingat kata-kata di dalamnya, belum juga overthinking aku semalaman yang mikir kamu yang bakalan nikah sama Bang Seungcheol. Itu semua gak cuma satu menit kak, jadi aku mau kompensasi.” Kesabaran Jeonghan memang harus diacungi jempol, siapa yang mengira bahwa sepuluh tahun ini tidak merubah apa pun dari Mingyu-nya. Masih adik kecil menggemaskan.
Jeonghan menarik napas panjang, “Jadi, mau apa?”
“Mau kamu jawab semua pertanyaan aku boleh?” Pinta Mingyu dengan hati-hati, “Tapi kalau kamu gak mau jawab semua gak papa.”
“Oke.”
“Kenapa baru sekarang kak?”
“Closure, Mingyu. Aku butuh itu, sepuluh tahun tapi kamu masih ada di otakku rasanya bikin gila. Banyak orang yang datang tapi kamu gak pernah ilang dari sana. Gak ada satu pun orang yang bisa gantiin kamu, dan aku gak suka fakta dimana aku gak akan bisa dan gak akan pernah jadi orang yang spesial itu.” Panjang, dan cukup menohok batin Mingyu karena kakak cantiknya mau melupakannya. “Jadi, sekarang kamu maunya apa Mingyu?”
“Kak, yang punya hak nanya kan aku disini.” Ucap Mingyu yang dihadiahi lirikan sinis Jeonghan. “Kamu kenapa dulu gak pernah bilang?”
“Malu? And why would I say love to someone's boyfriend?” Jawab Jeonghan yang bisa disimpulkan bahwa kesabarannya mungkin sudah diujung tanduk. “Aku gak pernah pacaran sama siapa-siapa waktu SMA kak, apalagi waktu udah kenal kamu.”
“Soonyoung?” ucap Jeonghan, yang akhirnya Mingyu ingat tragedi Soonyoung, “Shit, i even still remember his name” Lanjutnya yang terlihat sedikit sebal.
“Kamu ngira aku sama dia pacaran?” Tanya Mingyu “Semua orang di sekolah juga paham kalau kalian pacaran.” Jawab Jeonghan “Aku gak mau pernyataan aku bikin perkara di hubungan kalian. Jadi, aku diem. Ngejauh, tapi begonya kamu kenapa selalu ngedeket ke aku padahal kamu ada Soonyoung, bikin aku tambah susah.”
“Kak, He wasn’t. Aku gak pernah pacaran sama dia. There was a situation yang bikin aku harus ngaku, aku udah bilang ke semua orang kalau kita gak pacaran. Tapi gak ada yang percaya, jadi yaudah aku biarin aja. Toh gak ada yang peduli." jawab Mingyu enteng.
"Ada, Mingyu. Emang kamu pikir kamu berhenti dapet confession itu gara-gara apa kalau bukan itu." Mingyu melongo, benar juga. Sejak saat dia membantu Soonyoung, tidak pernah ada lagi perlakuan spesial untuknya.
"Tapi kamu juga sama Bang Seungcheol, kak. You look happier with him. Aku iri. On the last day kamu sekolah aku sengaja gak masuk, gak mau sakit hati liat kamu nanti gandengan sama dia. Hari sebelumnya aku liat kamu pelukan sama dia waktu kamu jatuh." Ujar Mingyu yang juga tidak mau kalah.
"If you have eyes, kamu pasti sadar sama siapa aku keliatan lebih bahagia."
"Gue dibutakan api cemburu kali."
"Yaudah, sekarang pulang yaa?" Nada Jeonghan melembut, berusaha membuat Mingyu lebih tenang juga.
"Kenapa dari tadi ngusir mulu?" Rupanya Mingyu masih kesal dengan situasi ini.
"Mingyu, cuman 6 hari. Aku janji cuma 6 hari, setelah itu udah. Jadi, kamu ada di depanku sekarang itu bukan bagian dari apa yang aku mau.”
“Emang bukan aku yang kamu mau kak?” Maafkan kepercayaan diri Mingyu yang tiba-tiba melonjak drastis ini.
“Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar, mungkin aku bukan lagi orang yang kamu sayang dulu, dan kamu mungkin juga bukan orang yang aku sayang, Gyu. Banyak yang berubah.” Jelasnya pada Mingyu yang sekarang kepalanya sudah sekeras batu.
Mingyu sekarang mencoba meraih tangan Jeonghan dengan lembut. Diusapnya beberapa kali, lalu pada akhirnya menautkan jemari mereka berdua. Jeonghan hanya terdiam dengan aksi Mingyu kali ini. Hanya Tuhan dan dia yang tahu apa yang ada dalam benaknya kala itu.
“Would you let me try kak?” Dengan menggenggam tangan Jeonghan erat, Mingyu menatapnya dengan dengan tatapan teduh. Hening menyelimuti mereka berdua. Mingyu tidak masalah dengan hening ini, karena dia bisa memandangi mata indah Jeonghan dengan jarak yang begitu dekat.
Dengan jangka waktu satu menit, Jeonghan merasa bahwa waktunya berputar terlalu lama tapi jeonghan merasa nyaman dengan kehangatan yang ada di tangannya, dan berakhir mengalir sampai ke seluruh tubuhnya.
"Perubahan apapun yang ada di kamu, as long as it is you, aku bakal terima. Aku mungkin bakalan mati dalam penyesalan kalau gak manfaatin kesempatan ini." lanjutnya masih dengan posisi yang sama dan matanyapun juga tidak berpaling sama sekali dengan mata Jeonghan.
"Mingyu..." ucap Jeonghan seraya meletakkan tangannya yang bebas ke arah tautan jemari mereka "aku gak tau!" dan berusaha melepaskan tautan itu. Menghilangkan semua kehangatan yang ia rasakan.
"Kamu gak pernah jadi apa yang aku harapkan ada di masa depanku." lanjutnya sambil masih memegang tangan Mingyu, "pengharapan kehadiran kamu di hidupku itu gak pernah ada, Mingyu. Surat-surat itu cuma jadi bagian penutup buat aku, biar aku gak gila. Kamu yang disini ini gak pernah ada di setiap doaku, karena selama ini aku mikirnya kamu udah gak pernah inget aku." Tautan tangannyapun sudah terlepas, hanya jejak kehangatan yang tertinggal.
"Inget setelah hari dimana kamu gak masuk? aku nanya ke kamu, kamu di mana. malah aku dapet balesan yang begonya sampe sekarang masih aku inget." Ucap Joenghan sembari menghirup napas dalam "lo gak perlu gangguin gue lagi deh kak, cukup urus diri lo sendiri tanpa perlu adanya gue lagi di hidup lo"
"Aku dulu udah mau bilang apa yg aku tulis di surat-surat itu, tapi rasanya liat kamu aja gak kuat, jadi aku langsung lakuin apa yang kamu minta." Ternyata otak bodoh Mingyu sudah ada sejak dulu. "Jadi, kalau kamu mau aku, do it right. Jangan jadiin surat-surat itu harapan buat kamu soalnya bagi aku surat-surat itu bagian terakhir dari kamu di hidup aku."
Mingyu masih terdiam, otaknya sibuk merutuki kelakuannya yang tidak masuk akal itu. Bodoh. Kenapa dia bisa bodoh seperti itu? Mungkin dia akan malu saat akan menatap cermin nanti. Ya Tuhan boleh tidak Mingyu merubah masa lalu. Tolong!
"Aku masuk dulu ya, Seungcheol bisa ngamuk nanti kalau groomsmen nya ilang satu." Jeonghan menepuk punda Mingyu dua kali untuk mengembalikan kesadarannya. "So, see you when i see you." Senyum Jeonghan yang terpancar, membuat akal sehat Mingyu kembali sempurna.
Jadi, sebelum Jeonghan berbalik menjauh tangannya mencengkram tangan Jeongan. Jeonghanpun menoleh, wajahnya mengekspresikan tanya "Do i still have a chance?" Mingyu dan kegigihannya memang patut diacungi jempol.
"See you next time, then"
Dan disinari cahaya oranye sore kala itu, Jeonghan pergi dengan kelegaan hati yang paling dalam.
Sementara Mingyu, ia sedang memanjatkan doa agar si kakak cantik selalu bahagia dalam setiap langkahnya.
