Work Text:
Saat Veritas Ratio mengenal Genius Society, ia mengetahui terdapat salah satu anggotanya yang cukup.. menarik. Sosok itu adalah sang member ke-81, Ruan Mei.
Beberapa kali mereka bertemu dalam acara konferensi dan seminar akademik. Di setiap pertemuan, ia melihat bahwa Ruan Mei adalah wanita yang sangat berambisi—berkebalikan dengan perawakan wanita tersebut yang lembut.
Ambisi Ruan Mei lebih banyak dari bintang-bintang di langit. Besarnya membentang seluas yang diizinkan angkasa.
Ratio paham, bahwa tertarik pada sosok seperti itu sudah selayaknya menggantungkan ekspektasi pada deruan angin. Antara pergi berkelana bersama atau jatuh di antah berantah.
Namun apa daya, Ratio jarang sekali bertemu sosok yang sekaliber dengannya—bahkan, Ratio pikir Ruan Mei ada jauh di atasnya. Percakapan mereka adalah obat bagi Ratio dari banyaknya kebodohan manusia di dunia.
Mereka berdua adalah sosok yang memiliki impian besar, tetapi Ruan Mei adalah orang yang tidak akan berhenti meski maut menerkamnya. Hal yang sangat menarik bagi Ratio.
Sebelum mampu memperhitungkan semuanya, Ratio sudah jatuh cinta.
Rasa cinta itulah yang kemudian mengantarkan Ratio untuk berdiri di depan ruang rawat inap Ruan Mei, dengan tubuh berkeringat dan napas tersengal selepas berlari dari lahan parkir.
Ia mengatur napasnya pelan-pelan. Dibalik dinding ini ada seseorang yang dikasihinya, yang sudah lama tidak ia jumpai. Jantungnya berdetak kacau.
Bahkan sekuntum bunga khas Penacony dan satu bungkus kue kering yang digenggam tangan kirinya tidak mampu membuatnya merasa tenang untuk menemui Ruan Mei.
Diketuknya perlahan pintu itu sebanyak dua kali. Menunggu sang pemilik ruang untuk mengundangnya masuk.
“Ratio, kah? Silakan masuk.”
Suara lembut itu menjawabnya.
Pintu pun ia buka. Di depannya, Ruan Mei sedang duduk di atas kasur klinik. Ia sedang santai membaca tablet miliknya. Parasnya polos tanpa riasan. Rambutnya tergerai indah. Ia mengenakan gaun klinik berwarna biru kusam.
Ratio tertegun sesaat, sebelum akhirnya menaruh dan menata barang bawaannya. Bunga ia taruh di vas, kue ia taruh di atas nakas.
“Saya bawa bunga dan cemilan. Semoga kamu suka.”
“Terima kasih, Ratio.”
Hasrat membuatnya ingin memeluk erat Ruan Mei seperti layaknya pada malam-malam yang telah mereka habiskan bersama. Namun, Ratio tidak tahu bagaimana respons sang puan nantinya. Oleh sebab itu, ia mengurungkan niat dan memilih duduk di kursi yang tersedia.
Hening menyelimuti mereka sesaat. Ratio sesungguhnya tidak tahu apa yang ingin ia bicarakan dengan Ruan Mei.
Untungnya, perempuan itu memulai pembicaraan.
“Jadi, ternyata kita kebobolan ya? Hahaha.”
Tawanya ringan, memecah suasana.
Ratio hanya bisa tersenyum lirih menanggapinya.
“Haha, iya. Kondom tidak 100% efektif.” Ujar pria itu.
“Kita sudah pakai kondom, aku pun juga beberapa kali mengonsumsi birth control. Kok bisa ya, berapa besar tuh kemungkinannya?”
“Tidak perlu saya hitung. Saya mungkin sama syoknya dengan kamu saat tahu kabar ini karena kemungkinannya kecil sekali.”
“Kecil sekali, ya?”
Ratio hanya berdeham kecil untuk membalasnya.
“Saya mengetahui kehamilan ini saat sedang menyusun prosiding Genius Society yang terbaru bersama Herta dan Screwllum. Mereka yang pertama tahu. Saya tidak pikir panjang untuk menyatakan keinginan aborsi saya kepada mereka.”
“Screwllum menyarankan beberapa merk pil aborsi. Sedangkan, Herta menyarankan saya pergi ke klinik ini bila pil tersebut tidak bekerja.” Lanjut perempuan itu.
“Ahh.. jadi, pil aborsi tidak bekerja ya?”
“Ya. Bahkan setelah saya minum lebih dari dosis yang dianjurkan, kandungan ini tetap bertahan dan tidak luruh.”
Ruan Mei bercerita dengan tenang. Tablet bacanya ia taruh di kasur. Sekarang kedua tangannya memegang perut bagian bawahnya—rahimnya.
“Terjadi komplikasi dan janin masih hidup bahkan setelah saya mengonsumsi lebih dari dosis. Akhirnya, saya harus menjalani prosedur kuret untuk meluruhkan kandungan ini.”
“Begitu ya.. maaf saya tidak ada di sisimu selama kau menjalani hal tersebut. Bagaimana kondisimu sekarang?”
“Masih sedikit letih. Tapi saya sudah baikan, kok.”
Setidaknya Ruan Mei aman dan sehat—pikir Ratio.
“Ratio, coba kamu perhitungkan, perkirakan saja dengan kasar di kepalamu. Berapa besar kemungkinan saya bisa hamil, kemudian berapa besar kemungkinan anak ini kuat menahan pil aborsi sampai saya harus dikuret?” Perempuan itu bergumam—out loud.
Sejenak Ratio tidak dapat menghitung. Padahal, menghitung adalah kegiatannya sehari-hari.
“Maaf.. aku mendadak tidak bisa menghitungnya.” Ratio berucap sembari mencoba membuat suaranya tidak terdengar getir.
“Hahaha, tidak apa-apa. Saya juga tidak bisa kok—tapi coba kamu pikirkan probabilitasnya. Bukankah angkanya sungguh kecil dibandingkan dari seluruh angka yang pernah kita jumpai selama ini?”
Pria itu hanya menatap sang puan. Menunggu apa yang Ruan Mei ingin sampaikan.
“Hal itu membuat saya berpikir. Wah, hebat sekali ya anak kita di rahim saya ini? Ia berjuang sekuat tenaga untuk melawan kehendak ibunya. Dia pasti sangat ingin untuk hidup. The happenings of life creation is such a miracle, don’t you think so? Sayang sekali, ibunya egois dan memintanya untuk tiada. Padahal, mungkin dia bisa punya mimpi besar seperti saya atau kamu.”
Ruan Mei berucap dengan nada datar.
Ratio merasa darah dingin mengalir di jantungnya saat mendengar kontradiksi Ruan Mei. Tangannya mencengkram lututnya erat—ia setengah menahan tangis, saking dinginnya tubuhnya saat ini.
Wanita ini. Sedikit terbesit di kepala Ratio bahwa wanita ini adalah sosok yang kejam dan keji—yang juga ia cintai karena ambisinya. Hatinya berkecamuk merasakan berbagai hal yang berkontradiksi.
Ruan Mei melihat nyawa seluruh makhluk hidup di level yang sama, tidak ada yang lebih berharga maupun lebih rendah dari yang lainnya. Termasuk, darah dagingnya sendiri. Seistimewa apapun itu bagi orang lain, bagi Ruan Mei hanya dilihat daya gunanya saja.
“Saya paham.” Balas Ratio. Sang pria sudah tahu mimpi dan ambisi Ruan Mei luar dan dalam. Ratio paham, bahwa memiliki anak darah daging sendiri bukanlah keinginan Ruan Mei—dan itu tidak akan membawanya mencapai mimpinya.
“Ya. Kamu tahu sendiri, kebanyakan perempuan berhenti mengejar ambisinya ketika mereka berkeluarga. Mereka menanggung beban mengandung, melahirkan, dan menyusui. Itu bukan peran yang bisa dilimpahkan kepada orang lain—terlebih lagi laki-laki.” Ujar Ruan Mei.
Ratio mendengarkan.
“Perempuan yang dibantu oleh pasangannya pun tidak bisa bersandar sepenuhnya kepada pasangan. Toh, jabang bayi tersebut masih menggunakan tubuh ibunya selama 9 bulan, kurang atau lebih. Tidak bisa dengan leluasa dipindahkan. Itu terdengar seperti penjara bagi saya. Saya tidak bisa mengorbankan itu, meski hanya 9 bulan lamanya. “
“Saya ingin menghargai kehidupan manusia. Dan untuk anak ini.. entah beruntung atau naas sekali nyawanya turun ke rahim saya. Sebenarnya.. saya juga takut, Ratio. Saya takut anak ini tidak mendapat cinta yang selayaknya didapatkan oleh seorang anak. Karena saya tidak mampu untuk itu.”
“Saya tidak bisa menjamin kesejahteraan hidupnya di masa mendatang. Maka dari itu, saya pikir lebih baik baginya untuk tiada. Bukankah ada banyak orang di semesta ini yang setuju bahwa tidak lahir sama sekali jauh lebih baik daripada menjalani hidup ini, Ratio?”
Ratio tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa mendengarkan dan mendengarkan. Jemarinya bermain satu sama lain, mencoba menghilangkan ketegangan.
Ruan Mei tidak biasanya berbicara banyak hal seperti ini. Mungkin, Ruan Mei membutuhkan katarsisnya tersendiri.
“Saya.. bisa mencoba memahamimu, Ruan Mei.”
“Bagaimana denganmu, Ratio? Apa yang kamu pikirkan tentang berkeluarga? Apa yang kamu pikirkan tentang.. anak kita—apakah kamu merasa emosional?”
Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Ruan Mei. Veritas Ratio butuh beberapa waktu untuk menjawabnya.
“Saya.. tidak punya rencana pasti tentang keluarga. Itu bukan sesuatu yang saya rencanakan—tetapi saya merasa.. kehadirannya juga tidak sepenuhnya buruk. Saya bisa melihat bahwa itu tidak sepenuhnya disruptif terhadap hidup saya.”
“Apakah ada kemungkinan kamu berpikir seperti itu karena kamu bukan yang mengandung?”
“Benar. Saya bisa berpikir seperti itu karena saya laki-laki dan tidak memikul beban perempuan.”
“I see.”
Ruan Mei menunduk pelan, menarik napas, kemudian mencoba meraih gelas berisi air di atas nakas. Ia sedikit kesulitan mencapainya sehingga akhirnya Ratio membantu Ruan Mei untuk meneguk air putih itu.
Kedua tangan sang lelaki bersandar di bahu wanita. Seolah mencoba mencari tempat untuk berlabuh.
Ratio kemudian duduk di kasur. Badan menghadap sepenuhnya ke Ruan Mei. Gelas air yang sudah habis diminum ia letakkan kembali di nakas.
“Ruan Mei, saya belum menjawab pertanyaanmu yang selanjutnya. Tentang.. anak.”
Ruan Mei menengok ke arahnya, melihat Ratio dari mata ke mata.
Ratio memegang tangan Ruan Mei erat.
“Sesungguhnya, sebelum berbicara tentang anak, saya ingin menyampaikan bahwa saya sudah jauh lebih dulu mencintaimu. Kamu sepenuhnya dengan ambisimu—adalah hal terindah yang pernah saya lihat di jagad raya ini. Apapun yang kamu lakukan membuat saya terpikat. Saya rasa saya sudah jatuh cinta cukup lama.”
“Saya bisa melihat diri saya berkeluarga denganmu. Saya bisa melihat dirimu di puncak karier dengan saya yang merawat anak di sampingmu atau mungkin tidak merawat anak sama sekali, apapun itu tidak apa-apa. Lagipula, sejak bertemu denganmu mimpi saya bertambah satu—yaitu melihatmu bahagia.”
“Ada anak atau tidak, saya tidak terlalu peduli. Apapun yang kamu putuskan terhadap saya, saya terima sepenuhnya sebagaimana saya juga sepenuhnya mencintaimu. Saya ingin bersamamu.”
“Apapun yang saya putuskan?” Tanya wanita itu.
“Apapun.”
Ruan Mei menarik napas perlahan. Ruan Mei sudah membulatkan pikiran yang bersemayam di otaknya selama ini. Ia kemudian menepuk pahanya, mengisyaratkan Ratio untuk mendekat.
“Kemarilah, peluk saya dan dengarkan saya baik-baik.”
Ratio bergegas memeluknya. Sedikit lebih erat dari biasanya—melepas rindu telah lama tak bertemu.
“Saya mengetahui, kamu menghormati tetapi juga sedih dengan pilihan saya. Saya bisa melihat kesedihan dari bahasa tubuhmu. Bilamana saya memilih mempertahankan anak kita, kamu mungkin akan kelabakan sejenak tetapi kamu juga akan menerimanya dengan tangan terbuka. Saya tahu kamu bisa menjadi orang tua yang baik. Saya bisa melihat itu pada dirimu. Kamu memiliki empati kepada orang lain—kepada nyawa lain. Itu yang tidak saya punya.” Ucap Ruan Mei sembari mengelus surai lelakinya dengan pelan.
“Maka dari itu, saya pikir.. kita harus menghentikan kebiasaan kita. Waktunya kita kembali menjadi kolega biasa.”
Pelukan Ratio semakin erat. Wajahnya ia benamkan di pundak Ruan Mei, seolah ingin masa bodoh dengan apa yang diucapkan barusan.
“Veritas Ratio. Dengarkan saya baik-baik.”
“Kamu bisa memahami saya, saya bisa memahami kamu. Akan tetapi, kita tidak memiliki idealisme yang sama. Saya takut, dengan adanya hubungan ini kita justru akan saling menghalangi.”
“Saya sampai detik ini tidak bisa merasakan cinta. Bahkan ketika kamu mendekap saya seperti ini. Mata saya tidak berbinar, jantung tidak berdegup kencang, telapak tangan pun tidak berkeringat karena gugup.”
“Saya tidak bisa melihat kamu berada di masa depan saya. Bahkan saya juga sudah dengan semena-mena menggugurkan keturunanmu. Saya tidak mempertimbangkan kamu sebagaimana kekasih mempertimbangkan satu sama lain. Hubungan ini terlalu timpang—kita hanya kolega yang saling memenuhi hasrat seksual. Saya tidak bisa lebih—dan kamu sudah terlanjur cinta kepada saya. Saya tidak ingin melimitasi potensi-potensi kebahagiaan di hidupmu hanya karena ego saya. Saya tidak mau menyakiti kamu lebih dari ini.”
“Saya minta maaf, Veritas. Saya dengan sungguh harus menolak cintamu kepada saya. Kamu harus bahagia—tapi tidak dengan saya.”
Pria bernama Veritas Ratio itu terdiam semu. Genggamannya tetap erat di tubuh puan.
“Ratio..”
Ratio menghela dan menghembuskan napas, sekali, dua kali. Pikirannya kalut dengan perhitungan dan emosi. Akan tetapi, ya, ia sudah tahu jawabannya—kemana angin membawanya. Ia sudah tahu sejak lama.
Angin itu berhembus terlalu kencang—ia yang manusia biasa tidak mampu mengikutinya.
Ia sudah jatuh di antah berantah.
Dengan getir, ia menjawab.
“Baiklah, Ruan Mei. Aku akan setuju untuk berpisah. Namun.. biarkan aku berbaring bersamamu untuk yang terakhir kalinya.”
Air muka Ruan Mei melembut.
“Baik.. kemari, berbaringlah bersamaku.”
Mereka pun tidur, berdua. Dengan Ratio yang mendekap dada Ruan Mei erat, kedua tangan di pinggang puan, kaki bertautan. Kecupan-kecupan kecil ia taburkan di leher perempuan itu—mencoba mencicipi wangi dan rasa si puan untuk terakhir kali.
Dan pada tidurnya di siang itu, Veritas Ratio bermimpi bahwa ia menggendong seorang anak perempuan yang pintar dan cantik. Tawa anak itu kencang dan menggelora. Senyumnya manis, persis parasnya seperti Ruan Mei.
.
Ratio dibangunkan oleh dua suara. Yang satu, milik Ruan Mei. Dan satu lagi, milik seorang yang tak dikenal.
“Tuan, mohon maaf jam kunjung sudah akan habis.”
“Ratio.. bangun..”
Ratio bergegas bangun. Ia berdiri tersentak dari posisi sebelumnya—sadar bahwa ini sudah waktunya untuk pergi, untuk berpisah.
“Baik, suster. Saya izin rapi-rapi sebentar ya.” Ujarnya sambil mengusap-usap mata.
“Baik, Tuan.”
Pria itu pun membenahkan pakaiannya yang kusut. Kemudian, ia merapikan barangnya sebelum bergegas pergi. Akan tetapi, langkahnya terhenti di depan pintu.
Memahami situasi, Ruan Mei berucap kepada sang suster.
“Suster, tolong beri kami waktu untuk berdua sejenak ya.”
“Baik, Nyonya. Untuk Tuan, saya bermaksud menyampaikan bahwa gerbang pengunjung akan tutup 5 menit lagi. Saya izin meninggalkan ruangan. Terima kasih.”
Suster pun sudah pergi.
“Jadi.. tinggal 5 menit ya.” Ucap Ruan Mei.
“Ya, 5 menit.” Balas Ratio.
“Ini terakhir kalinya. Would you like a goodbye hug?” Tangan Ruan Mei membentang, seperti mengajaknya untuk mendekam kembali di pelukan yang sudah harus ia tinggalkan. Polos sekali, ajakannya.
Ratio menguatkan tekadnya.
“I’m.. I’m terribly sorry.. I think from this moment onwards, I must reject every of you. I have to reject every single thought I have about you. Aku harus belajar melepaskanmu dan itu sudah aku lakukan semenjak aku bangun. Jadi, Ruan Mei.. I guess this is a goodbye, then? Penuhi mimpiku, ya? Bahagialah.”
Tangan Ruan Mei turun, kemudian jatuh di pahanya.
“Saya paham. Please do whatever you must do. Jatuh cintalah pada orang lain, Veritas—pada orang yang tepat.”
“Akan aku coba.”
Langkah kaki si laki-laki bergegas pergi, membuka pintu geser sebelum berbalik untuk menutupnya.
“Oh ya, apakah kita akan bertemu kembali?”
Tanya perempuan itu, nadanya kelewat datar untuk suasana ini.
Ratio mendengus sedikit, ia ingin sekali mengeluarkan sarkas tapi sungguh dia tidak sanggup. Mimik wajahnya pun melembut dan dengan tenang, ia membalas:
“Mungkin tidak, Ruan Mei. Ini adalah terakhir kalinya saya melihatmu dan begitu pula sebaliknya.”
“Baik.”
Pria itu pun menutup pintu dan pergi tanpa menengok kembali.
