Actions

Work Header

Can I Keep Loving You?

Summary:

Mencintai dalam diam ternyata sulit. Sangat sulit hingga menjawab pertanyaan “Password Wi-Finya apa?” berakhir nyaris tidak bisa berkelit.

Notes:

Disclaimer:

-Cerita ini hanyalah fiksi semata.
-Karakter atau tokoh yang digunakan dalam cerita ini adalah milik Hajime Isayama (Mangaka Attack on Titan).
-Gambar lain pada mood board diperoleh dari pinterest.
-Cerita ini pernah dipublikasi dalam event #FTW2023 #FreedomThroughWords untuk Donasi Palestine yang diselenggarakan oleh @FTW_ficfest.
-Penulis tidak mengambil keuntungan apa pun dari cerita ini.
-Inspired by Song: Caramel by もさを (Mosawo)

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:



 

I've been yearning for you for so long

Being playfully pulled by you like gravity

I want to get close to you, will you be annoyed?

***

 

JIKA ada yang bertanya padaku, “Kriteria perempuan seperti apa yang aku sukai?” pasti aku hanya bisa menjawabnya di dalam hati kemudian mengalihkan pembicaraan. Mengapa demikian? Karena aku terlalu malu untuk mengakui bahwa aku jatuh cinta dengannya pada pandangan pertama.

Dia adalah satu-satunya gadis yang menarik perhatianku sejak upacara penerimaan siswa baru di musim semi. Dan, ternyata kita berdua pun berada di satu kelas yang sama.

Gadis itu memiliki rambut berwarna hitam yang panjangnya sebahu, kulit yang putih dan bersih, wajah yang cantik, senyuman yang manis, dan yang paling membuat hatiku berdesir adalah suaranya yang halus namun tegas. Seakan-akan dia dapat menghipnotisku untuk tunduk pada pesonanya dan membuat pandanganku tak bisa teralihkan darinya.

Gila. Rasanya aku nyaris gila. Ini sudah tahun ketiga sekolah menengah atas omong-omong. Artinya, sudah hampir tiga tahun ini pula aku terjebak cinta dalam diam.

Ingin sekali aku mengungkapkan perasaanku padanya, tetapi aku terlalu pengecut untuk melakukan hal tersebut. Terlalu banyak kemungkinan-kemungkinan yang aku pikirkan. Takut mengganggu, takut ditolak, takut dipermalukan, takut menjadi bahan ejekan, dan takut tidak bisa lagi berteman di saat aku belum betul-betul dekat dengannya.

Aku tidak begitu mengetahui apa yang dia sukai dan apa yang dia benci. Aku tidak begitu mengetahui ada hubungan apa dia dengan lelaki berbadan lebih pendek darinya yang setiap hari selalu mengantarnya ke sekolah. Aku tidak begitu mengetahui akan lanjut kuliah di mana dia setelah lulus dari sini. Aku … entah mengapa terkesan tidak tahu apa-apa tentangnya.

Padahal aku memiliki cukup keberuntungan untuk bisa terus berada di kelas yang sama dengannya, bahkan sesekali dia mengajakku berbicara walau sekadar membahas tugas sekolah, kegiatan klub, dan acara festival. Yah, mengingat dia adalah wakil ketua kelas. Terbilang siswa yang aktif, tidak sepertiku.

Saat aku menceritakan pada abangku tentang kisah cintaku ini, justru aku menjadi bahan tertawaan olehnya. Namun, pada akhirnya dia berkata, “Tembak! Nanti keburu diembat orang! Kalau ditolak, ya, gak apa-apa. Tinggal move on aja. Setidaknya sudah tahu jawabannya, ‘kan? Daripada dipendam terus dan menyesal kemudian, gimana?”

Lantas aku pun berpikir lama sekali. Dan, selama beberapa hari selanjutnya, ucapan dari abangku itu selalu terngiang-ngiang di kepala.

Aku bingung, benar-benar bingung. Lantaran untuk mengungkapkan perasaan, setidaknya aku harus memiliki alasan yang masuk akal, bukan? Aku juga harus mempertimbangkan waktu, tempat, dan suasananya juga. Belum lagi aku tidak yakin dengan nyaliku yang sangat cupu ini.

Sesulit inikah untuk mengaku suka?

Sesusah inikah untuk mengaku cinta?

Aku hanya bisa berharap dan berdoa pada Sang Penguasa Semesta agar aku diberikan kesempatan, keberanian, dan … kelancaran. Aku tidak berani muluk-muluk untuk mengharapkan jawaban yang sesuai keinginan, khawatirnya aku tidak mempunyai energi untuk bangkit dari keterpurukan dan sulit menerima kenyataan.

Wahai gadis impianku, Mikasa Ackerman … bolehkah aku terus menyukaimu?

Bolehkah aku mencintaimu?

Seharusnya begitu. Seharusnya itu yang kuutarakan padanya, ‘kan?

Hingga akhirnya kini aku disadarkan pada kenyataan bahwa gadis yang kusukai tengah berada di ruang tamu rumahku. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri, padahal kami seharusnya mengerjakan tugas kelompok bersama-sama.

Hal yang membawa kesadaranku kembali ke permukaan adalah saat dia bertanya padaku.

“Eren, password Wi-Finya apa?”

“Belum jadian.”

“Hah?”

Begitulah yang terjadi. Secara tidak sadar aku mengucapkan kata “belum jadian” yang mana sangat tidak nyambung dengan pertanyaannya.

 


 

I can never tell you how happy I am

About our little secret

***

 

SEBAGAI perempuan, terkadang aku merasa cukup peka bila terus diperhatikan oleh seseorang. Namun, aku berusaha untuk tidak terlalu berlebihan saat memberikan reaksi sebab aku tak ingin berakhir disalahpahami.

Aku menjaga jarak, itu sudah pasti. Tetapi, aku juga tidak bersikap seakan aku tak mau berteman sama sekali. Tentu saja bukan. Terlebih aku adalah wakil ketua kelas selama tiga tahun berturut-turut. Mana bisa aku berlaku semena-mena terhadap orang lain, ‘kan?

Lantas terkadang aku pun merasa situasi yang kualami ini cukup lucu.

Dia … lelaki berambut hitam dengan tinggi badan yang sangat ideal alias lebih tinggi dariku, berwajah tampan, mempunyai senyuman yang teduh, cukup sopan, dan juga pintar, ternyata sering tersipu malu ketika kami saling bertatapan.

Separuh kewarasanku rasanya hilang terbawa angin. Hatiku ingin menjeritkan pertanyaan dan juga pernyataan secara bersamaan, “Sebenarnya dia kenapa? Tetapi, dia lucu sekali.”

Sulit bagi hati mungilku untuk mengabaikan sesuatu yang terlihat lucu.

Rasa-rasanya, aku jarang melihat dia yang seperti itu saat sedang menatap orang lain atau bahkan berinteraksi dengan teman lainnya di kelas.

Rasa-rasanya, dia hanya bersikap seperti itu terhadapku.

Hanya saja, apakah benar begitu adanya?

Tetapi, mengapa? Memangnya kenapa dia bersikap berbeda terhadapku?

Apakah dia menyukaiku?

Hahaha, bodoh sekali wahai diri ini. Dari mana kesimpulan yang serampangan ini datang? Jangan-jangan isi pikiranku sudah terkontaminasi dengan isi novel roman picisan yang kupinjam dari pacar abangku.

Hanya saja, aku jadi terus memikirkan tentang kejadian ini sepanjang waktu dan terkadang aku merasa sedikit canggung bila harus berada di dekatnya.

Soal perasaan, jawabannya tidak mudah omong-omong, sangat tidak pasti. Tidak seperti mengerjakan deret aritmatika atau bahkan menghafal urutan tabel unsur kimia yang memang sudah ada ketetapannya. Banyak sekali faktor yang kurasa bisa menjadi bagian dari kesimpulan perihal perasaan.

Alhasil, aku menceritakan hal ini pada pacar abangku, tepatnya saat aku mengembalikan novel yang kupinjam.

Dia pun bertanya, apakah aku pernah merasa berdebar-debar saat melihat lelaki itu? Apakah aku terus memikirkan lelaki itu sepanjang waktu? Apakah aku pernah memimpikannya? Apakah ada perasaan ingin mengetahui lelaki itu lebih dari yang kuketahui saat ini?

Sungguh, aku sedikit kewalahan saat harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Lantas aku diberi tahu bahwa sepertinya aku menyukai lelaki itu.

Tentu saja aku mengelak pada awalnya. Namun, seiring berjalannya waktu, aku merasa bahwa aku sudah mulai terbiasa dengan ini semua.

Mungkin, aku mulai menaruh hati padanya.

Mungkin, aku menyukainya.

Mungkin … Eren Jaeger adalah lelaki pertama yang membuatku merasa bingung, aneh, penasaran, namun sedikit denial.

Aku tidak ingin hubungan kami berakhir sangat canggung. Mengingat dia sendiri sepertinya cukup segan saat aku berada di sekitarnya.

Jujur saja, aku tidak tahu akan sampai berapa lama situasi dan kondisi yang seperti ini harus aku dan dia jalani. Seharusnya salah satu dari kami mengambil tindakan, bukan?

Tetapi, aku juga tidak cukup nekat untuk bertanya, “Eren, apakah kau menyukaiku? Apakah kau ingin berpacaran denganku?”

Wah, rasanya gila. Bagaimana kalau pada akhirnya nanti aku jadi dianggap aneh karena terlalu percaya diri?

Lebih baik aku diam saja sampai benar-benar lulus dari sini. Aku takut segalanya menjadi runyam sebab di tahun ketiga sekolah menengah atas ini, hubungan kami pun tak ada peningkatan.

Hanya saja, tiba-tiba situasi ajaib pun tercipta. Aku berakhir satu kelompok dengannya untuk tugas seni rupa, dan dia mengajakku untuk ke rumahnya yang kebetulan berjarak lebih dekat dari sekolah serta memiliki cukup banyak peralatan yang dibutuhkan, mengingat abangnya adalah mahasiswa seni.

Sesampainya di rumah lelaki yang suka mencuri pandang padaku ini, aku ingin mengabari orang tua serta abangku bahwa aku akan terlambat pulang ke rumah akibat tugas yang diberikan oleh guru. Namun, sialnya kuota paket dataku telah habis. Aku pun lupa mengisi pulsaku semalam. Tetapi, saat di perjalanan menuju ke rumahnya, dia sempat berkata bahwa aku boleh memakai Wi-Fi jika butuh untuk mencari referensi tugas.

Alhasil, aku bertanya kepada sang empunya rumah yang anehnya sedang terhanyut dalam pikirannya sendiri.

“Eren, password Wi-Fi nya apa?”

“Belum jadian.”

“Hah?” responsku secara spontan.

Aku bingung, apa korelasi pertanyaanku dengan jawaban yang dia berikan? Apakah password Wi-Fi di rumahnya memang seperti itu? Mengingat di beberapa kafe pun ada yang menggunakan password Wi-Fi unik, seperti: tekandisini, enteraja, mautahuya, dan sebagainya. Tetapi, saat aku mencoba memasukkan password tersebut, koneksi internetnya tetap tidak terhubung.

Tatkala aku menoleh, raut wajahnya terlihat sangat terkejut, bahkan berubah warna menjadi merah hingga ke telinganya.

Sontak dia menutup wajah dengan kedua tangannya seraya berkata, “Maaf. Maaf aku kurang fokus.”

Melihat dia yang panik seperti itu membuat hatiku menjerit bahagia. Ah, senangnya … sepertinya memang betul kalau dia menyukaiku. Dan, aku akan menjadikan hari ini sebagai bagian dari rahasia kecil kami berdua.

 

Fin.

 

Notes:

Terima kasih kepada siapa pun yang telah membaca cerita ini.
Silakan tulis kritik, saran, atau apa pun di kolom komentar, ya ^^