Actions

Work Header

To Make a Surprise

Summary:

Zoro sering mengeluh seorang diri. “Bosan. Untuk apa menikah kalau makan saja selalu sendirian?”

Notes:

Disclaimer:

-Cerita ini hanyalah fiksi semata.
-Karakter atau tokoh yang digunakan dalam cerita ini adalah milik Eiichiro Oda (Mangaka One Piece).
-Gambar lain pada mood board diperoleh dari canva.
-Cerita ini pernah dipublikasi dalam event #FTW2023 #FreedomThroughWords untuk Donasi Palestine yang diselenggarakan oleh @FTW_ficfest.
-Penulis tidak mengambil keuntungan apa pun dari cerita ini.
-Cerita ditulis bertepatan dengan ulang tahun Zoro di bulan November ^^

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

SALAH satu keinginan kecil pria bernama Roronoa Zoro tatkala mulai hidup berkeluarga adalah bisa melakukan segala aktivitas sehari-hari bersama dengan dia yang dicinta. Namun, ternyata realitas menampar keras.

Istrinya, Nico Robin, sama sibuknya dengan dirinya sehingga untuk memasak makanan bersama saja nyaris tidak pernah. Jangankan memasak, sekadar duduk berdua di hadapan meja makan pun jarang sekali mereka lakukan. Hal yang masih mereka lakukan bersama-sama hanyalah tidur di ranjang yang sama, di bawah selimut yang sama, dan di waktu yang sama pula. Selain itu … saling berucap maaf karena jadwal mereka selalu bertabrakan.

Alhasil, Zoro sering mengeluh seorang diri. “Bosan. Untuk apa menikah kalau makan saja selalu sendirian?”

Terkadang Zoro merasa iri ketika melihat para pelatih kendo yang lain didatangi oleh istri mereka sambil membawakan bekal makanan dan berakhir makan bersama. Sementara ia hanya bisa mencari spot yang paling nyaman dan aman untuk menjaga perasaannya sendiri. Zoro takut berakhir terlalu dengki dan membenci situasi yang tengah ia alami.

Saat Zoro pulang ke rumah di malam hari, Robin pun masih terlihat sibuk sekali di hadapan komputernya. Jemarinya menari-nari di atas papan ketik, entah sedang menuliskan apa, paling-paling hasil penelitian atau kewajiban lainnya sebagai dosen sejarah.

Daripada mengganggu, Zoro akhirnya bersikap mandiri dalam hal apa pun selayaknya masih tinggal seorang diri.

Terkadang Zoro merasa sedih.

Apakah memang seperti ini pernikahan yang dialami oleh pasangan yang sama-sama memiliki karier?

Apakah tidak bisa sebentar saja mereka sama-sama duduk berdua, bercengkerama, seperti yang keduanya lakukan sejak masih SMA?

Akan tetapi, kalau dipikir-pikir lagi, mengapa semakin bertambah usia justru Zoro semakin sentimental saja, ya? Ia sendiri pun tidak begitu mengerti.

Tatkala matanya menatap kalender yang menggantung di perbatasan tembok dapur, ia melihat sebuah tanggal yang diberi tanda berwarna merah. Namun, Zoro tidak begitu memedulikan hal tersebut, ia tahu persis peringatan apa yang akan berlangsung di hari itu. Namun, sepertinya hari itu tidak akan ada bedanya dari hari-hari yang biasanya. Akhirnya, Zoro melenggang ke arah kulkas untuk mengambil botol air mineral dan membawanya menuju ke ruang tengah.

Diraihnya remot televisi, ditekannya tombol kanan dan kiri untuk mencari siaran yang menarik hati. Hanya saja, tak ada satu pun yang berhasil mengenyahkan kepenatannya sehingga ia memilih untuk merebahkan diri di sofa dan memejamkan matanya. Ia berharap, semoga segala pikiran tidak keruan dapat enyah dengan segera.

Menit demi menit pun berlalu, dan pria yang dikenal ahli menggunakan tiga pedang sekaligus ini berakhir terhanyut ke alam mimpi.

Robin yang sudah bersiap-siap untuk tidur merasa heran saat tak mendapati suaminya di kamar. Dibukanya pintu kamar dan ia pun melangkah ke ruang tengah. Televisi dalam keadaan tidak menyala, namun anehnya Zoro masih memegang remotnya. Melihat hal tersebut membuat Robin geleng-geleng kepala. Ada saja tingkah pria kesayangannya ini.

Kemudian Robin mengambil remot dari genggaman sang pria dan mencoba untuk membangunkan Zoro dengan cara berlutut sembari mengelus kepalanya. Lantas sosok yang sedang tidur pun terusik hingga netra mereka saling bertemu.

“Capek, ya? Kenapa gak langsung tidur di kamar?”

“Hmmm? Tadi aku mau nonton, tapi siarannya gak ada yang bagus,” jawab Zoro sambil menggeliat.

Robin masih berlutut sambil berpangku dagu di pinggir sofa menatap sang suami. Namun, tiba-tiba saja Zoro duduk dan menarik Robin hingga ia berada tepat di pangkuannya.

“Kenapa?”

Zoro menggeleng kepala. “Cuma pengin lihat kamu dari dekat. Kayaknya sudah lama juga kita gak punya waktu buat ngobrol, ‘kan?”

Seketika Robin tersenyum usai mendengar ucapan Zoro. Ia pun mendekatkan dahinya dengan dahi Zoro, serta menempelkan ujung hidung mereka. “Maaf, ya. Aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri.”

Selanjutnya Robin memeluk Zoro dan menepuk-nepuk punggungnya. Ia tahu bahwa sang suami terlihat sangat kesepian. Ia mengerti bahwa dari raut wajahnya, Zoro seperti orang yang sedang banyak pikiran. Ia paham bahwa dirinyalah salah satu penyebab mereka ada di situasi yang kurang menyenangkan.

Hanya saja, Robin memiliki misi. Robin mempunyai sesuatu yang harus dijalani. Robin menyimpan sebuah rahasia yang harus dijaga sendiri saat ini.

Akan tetapi, rahasia itu tidak bisa benar-benar disebut rahasia lantaran ada beberapa orang yang Robin percayai turut andil dalam persiapannya.

Lantas Robin mengajak Zoro untuk pindah ke kamar serta bersiap kembali menuju ke alam mimpi.

 


 

BEBERAPA hari setelah kejadian Zoro tertidur sambil memegang remot televisi, hari yang sesuai dengan tanggal bertanda merah di kalender pun tiba.

Dengan seribu satu alasan, Robin ucapkan kepada Zoro yang intinya adalah dirinya tidak bisa pulang karena seorang profesor memberikannya pekerjaan untuk menjadi pemandu pameran benda bersejarah di sebuah museum. Banyak hal yang harus Robin persiapkan bersama tim yang ditugaskan.

Alhasil, Zoro hanya bisa mendengus pasrah sambil merebahkan diri di sofa. Tanpa semangat pun ia menonton acara ragam yang ternyata sama sekali tak dapat membuatnya tertawa. Aneh sekali, padahal pembawa acaranya sampai tertawa terpingkal-pingkal. Zoro akhirnya menarik kesimpulan bahwa dirinya tidak satu frekuensi dengan orang kebanyakan.

Dan, tak lama kemudian Zoro tertidur dengan televisi yang masih menyala.

Tanpa Zoro sadari, di depan pintu apartemennya sudah dipenuhi oleh segerombolan orang yang saling berusaha menahan diri untuk tidak berisik dan berakhir menggagalkan misi yang Robin jalankan hingga saat ini.

Lantas Robin menuju ke ruang tengah lebih duluan untuk mematikan televisi serta membangunkan Zoro. Sambil memberikan kode kepada rekan-rekan seperjuangannya menggunakan emoji jempol di WhatsApp, Robin pun mengucapkan, “Selamat ulang tahun, Sayang.”

Seketika Zoro tersenyum dan mencium kening Robin. Namun, Zoro terkesiap saat mendapati teman-temannya muncul di ruang tengah mereka dan menyanyi untuk dirinya dengan nada yang sedikit tidak beraturan.

Happy birthday, Zoro! Happy Birthday, Zoro! Happy birthday, happy birthday … happy birthday, Zoro!”  

“Cepat tiup lilinnya!” teriak Luffy. “Gak sabar nih mau makan kue buatan Robin sama Sanji!”

Zoro mengernyitkan keningnya dan menatap Robin untuk meminta penjelasan.

Lantas Robin pun menceritakan segalanya. Ternyata, selama ini Robin sibuk bukan hanya karena penelitian atau mengerjakan tugasnya sebagai dosen, tetapi ia juga mencoba meluangkan waktunya untuk belajar membuat kue dari Sanji, demi bisa membuat pesta ulang tahun yang spesial dari biasanya.

Hanya saja, Robin rupanya harus mengorbankan waktu kebersamaan mereka yang cukup singkat hingga berakhir semakin singkat, dan membuat sang suami menjalani hari tanpa semangat.

“Jangan marahin Robin, woi! Effortnya luar biasa dia. Harus bersyukur punya istri serba bisa macam Robin!” ujar Sanji.

“Siapa juga yang mau marahin Robin? Sok tahu!” respons Zoro.

“Ini kado dari kita,” ucap Nami dan Usop bersamaan.

“Aku gak bawa kado, ya, maaf. Habisnya Robin mendadak kasih tahunya,” ucap Luffy sambil memotong kue ulang tahun Zoro.

Sontak Zoro menyentil dahi Luffy dan membuat si makhluk pemakan segala ini mengaduh kesakitan.

Kemudian mereka pun menghabiskan waktu bersama sambil bermain monopoli dan yang kalah berakhir membantu Robin mencuci piring.

Akhirnya Zoro sengaja mengalah demi bisa berlama-lama dengan sang istri, berdua saja di penghujung hari ulang tahunnya.

“Aku sempat sedih, karena aku pikir bakal sendirian hari ini.”

Robin tersenyum seraya berkata, “Aku gak akan tega lihat kamu sendirian di hari spesialmu. Maaf, ya, sudah bikin kamu sedih.”

Zoro menggeleng. “Gak apa-apa kalau pada akhirnya kamu bikin kejutan buat aku. Gak apa-apa kalau pada akhirnya kamu menghabiskan waktu bareng aku. Terima kasih banyak, Sayang,” ujar Zoro sambil mengecup kening Robin dan memeluknya.

Namun, ternyata aksi lovey dovey keduanya ditonton secara langsung oleh teman-teman mereka.

“Masih ada kita di sini, loh. Tunda dulu mesra-mesraannya, bisa kali, ya?” ucap Sanji.

Dan, yang lainnya hanya tertawa saja.

Seketika Robin tersipu dan membuat Zoro lekas mendekapnya.

Setelahnya, mereka semua kembali ke ruang tengah. Kembali bercengkerama, bernostalgia tentang masa-masa SMA, dan menjawab panggilan telepon dari Chopper yang memohon maaf karena tidak bisa datang lantaran ada operasi darurat di rumah sakit.

Dalam hati Zoro yang terdalam, ia merasa bersyukur akan kehadiran teman-temannya di hari lahirnya. Zoro sama sekali tak menduga hal ini akan terjadi. Mungkin bila bukan karena Robin, maka ia tak akan mengalami hal semacam ini. Mungkin bila bukan karena Robin, maka ia akan melewati hari ini selayaknya hari lain yang tak begitu berarti. Dan, mungkin bila bukan karena Robin, ia tak akan pernah ada di sini saat ini.

“Thank you for the surprise,” bisik Zoro tatkala yang lain tengah sibuk merecoki Luffy yang kalah bermain ular tangga.

“You need to know that I have another surprise. I will tell you later!”

Zoro seketika membelalakkan matanya tak percaya.

Kira-kira apa kejutan lain yang akan Robin berikan untuknya, ya?

 

Fin.

 

Notes:

Terima kasih kepada siapa pun yang telah membaca cerita ini.
Silakan tulis kritik, saran, atau apa pun di kolom komentar, ya ^^