Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-01-08
Completed:
2024-01-11
Words:
4,694
Chapters:
3/3
Comments:
6
Kudos:
457
Bookmarks:
9
Hits:
9,306

Asing

Summary:

final chapter - part 1 of 'asing' sns au on twitter

link:
asing

Chapter 1: the moon that embraces the sun

Chapter Text


Aman Villas at Nusa Dua, 6.30 PM


“Aduh abang maaf banget ya,”


Setelah melalui banyak halang melintang (re: keluarga besar Hala), akhirnya Hala bisa ‘kabur; sebentar sambil menggiring Senna yang tidak pernah lepas dari sisinya. 


“Santa aja kali Ca, nggak apa-apa kok”

“Kamu nih santai-santai aja! Bisa-bisanya ngomong gitu”


Hala kira dengan tiba-tiba mendapat plus one di acara nikahan Andre akan membuatnya terhindar dari pertanyaan “Mana pacarnya?” atau “Kapan nyusul?” yang kerap kali ditanyakan padanya, tapi ternyata ia salah.


Entah bagaimana obrolan yang dimulai dengan “Kenalin tante ini temen Hala”, bisa berubah narasi menjadi “Ini loh calonnya Hala. Yang kerja di startup , dan mau nikah tahun depan” 


Dan yang tidak Hala habis pikir Senna ngeladenin itu semua dengan muka santai (re: ganteng) dan senyum lebar tanpa dosa sama sekali. Awalnya Hala terharu, karena jujur ia sudah capek, dan melihat Senna yang inisiatif untuk meladeni dan kenalan sama keluarga besarnya bikin hatinya hangat. But things escalated quickly, tau-tau tantenya sudah bahas soal tema pernikahan Hala . Bukannya dia nggak mau, tapi mereka balikan aja belum ini udah ngomongin hal yang kayaknya masih jauh banget.


“Eh- aku ada salah ngomong ya?”

“Bukan gituuu, nanti kalau keluarga aku salah paham gimana?”

“Soal?”

“.... Soal nikah… “

“Ya diaminkan aja ngga sih itu tuh? Do’a bagus loh”


Ya Tuhan, kok bisa sih Senna santai banget menghadapi ini semua? Hala ini perasaannya sudah campur aduk. Senang, ge-er, excited , takut gimana kalau ternyata mereka nggak sampe ke titik itu semua jadi satu. 


“Ya tau, tapi kan kita-”

“Kita belum resmi pacaran gitu?” 


Senna menarik pinggang Hala yang duduk di sebelahnya, menjadi lebih dekat lagi dengannya (if it’s possible, soalnya mereka udah duduk dempetan banget di kursi panjang). Lampu temaram dan alunan musik syahdu turut mendukung suasana menjadi lebih manis.


“I-iya…”

“Aku mau kita samakan persepsi dulu deh… what’s your goal if we get back together?” 


Eh? Bentar deh Hala bingung, rasanya seperti dejavu . Seperti sesi mentoring pelajaran sekolah beberapa tahun lalu dengan Senna. Bedanya kalau dulu Senna duduk di depannya seperti guru, sekarang cowok itu merangkul pinggangnya erat.


“Ini kamu mau nguliahin aku apa gimana sih Senna?”


Hala tidak habis pikir, bisa-bisanya di acara kawinan outdoor dan romantis ini, alih-alih merayunya Senna malah mau ngasih kuliah 2 sks. Dan melihat ekspresi Hala yang setengah sewot malah bikin Senna makin senyum ganteng.


“Kamu nih—” Senna mencubit hidung Hala gemas “Keliatannya aja kayak cowok cool , padahal aslinya kaya bayi… my baby” tangan itu beralih membelai pipi Hala lembut. 


“Senna ih!” Hala menepis tangan Senna, malu juga kalau ada keluarganya yang mergokin mereka ‘mojok’ berduaan gini “ Serius dikit bisa nggak?” 


“Loh pertanyaan aku tuh kurang serius apa, Ca? Maksudnya gini-” tangan Senna kini beralih menggenggam tangan Hala — diusap-usap lagi jarak antara ibu jari dan telunjuknya.


Mulai deh, gimana aku bisa fokus kalau kamu kaya gini terus Senna?! teriak Hala dalam hati.


“- orang kalau pacaran tuh goals nya apa sih? Tujuan akhirnya apa?”


Oke. Sepertinya Hala harus mengikuti cara Senna yang sedikit (banyak) kebapak-bapakan. Cara yang juga bikin Hala kepincut pada Senna si kakak kelas yang tidak lelah mengajari dan mengayominya.


“Y-ya… nikah kan? Nggak harus selalu nikah sih karena kan setiap orang beda-beda—  but like happily ever after, together forever?”

“Kalau kamu tipe yang mau nikah apa nggak, Ca?” 


“Hmm… nikah tuh serem nggak sih Abang? I mean, it’s not just about two people falling in love. Kita harus ‘nikahin’ dua keluarga juga, belum lagi nanti masalah yang muncul tuh akan lebih kompleks dari orang pacaran. Jujur aku biasa aja soal itu —  maksudnya kalau nikah ya ayo, tapi kalau nggak juga ya… nggak apa-apa”

“Tapi? Ada tapi nya kan?” tanya Senna sedikit ragu. Jawaban Hala sama sekali tidak terpikirkan dalam otaknya. Kalau Hala bukan tipe yang ingin menikah bagaimana?


“Tapi…”


Hala kini beralih melilitkan tangannya dengan milik Senna, menyandarkan kepalanya pada bahu lebar Senna sambil memandang sepasang pengantin baru yang sedang melakukan first dance.


“... tapi kalau sama kamu kayaknya nggak apa deh. Aku mau aja… sayang banget orang ganteng gini nggak aku nikahin hehehe“

“Bisa aja nih yang lebih ganteng”


Cliche memang tapi jangan bilang Senna ya, Hala tidak pernah membayangkan pernikahan dengan mantan-mantannya yang lain. Tidak pernah sampai kesana. Kalau memikirkan pernikahan, selalu Senna yang ada dalam pikirannya. Hanya Senna.


Bucin banget bangsat! Hala serius memaki dirinya sendiri. Tapi ya gimana, memang itu kenyataannya. 


“Aku serius sama kamu Ca. Aku maunya kalau kita balikan ya udah lanjut terus, no turning back. Makanya aku mau kita beneran mikirin ini mateng-mateng, i don't want this to be just ‘a spur of the moment’ thingy. Aku mau kita kenalan lagi, lebih ngertiin masing-masing lagi. Aku mau selama-lamanya sama kamu. Aku ke kamu gitu Ca, and i hope we’re on the same page”

“Senna… “

“Jadi, pas sodara kamu ngiranya kita mau nikah ya diaminkan aja ngga sih? Manifesting Ca , toh kita memang mengarah kesana kan?”

“Aduh ini mana ya orang yang nikahin Abang Andre tadi? Kayaknya kita bisa deh Senna minta dinikahin juga,” kekeh Hala diikuti Senna.


Tawa keduanya cukup mencuri perhatian orang sekitar yang kemudian hanya ikut senyum dan membiarkan mereka berdua. Oh lovebirds!


“Mulai deh diledekin terus akunya,”

“Abisnya, Senna kamu tau kan otak aku itu kaya ikan. Gampang masuk, gampang juga keluar. Nggak bisa ngobrol serius lama-lama”

“Jangan gitu ah. You shouldn’t take yourself too lightly. Aku mungkin memang lebih pintar di bidang akademik dari kamu, tapi kamu jauh lebih pinter dari aku dalam berbagai aspek lain”

“Contohnya?”

“Kamu supel, gampang beradaptasi. Enak juga diajak ngobrol. Sama siapa aja nyambung — dari orang tua sampe ke tukang dagang sekalipun. No offence, tapi dengan background keluarga kamu, kamu bisa banget kalau mau jumawa. But you’re not. Aku kadang iri sama sifat kamu yang flexibel itu. W ork hard, play hard. Ungkapan itu cocok banget untuk kamu”


Senna bicara jujur. Sifat Hala yang satu itu memang bikin dia iri. Senna itu tipe orang yang berlarut-larut jika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan rencana yang sudah ia buat. Ia akan mulai menyalahkan dirinya sendiri dan merasa gagal, Senna butuh waktu untuk kembali bangkit baru memikirkan langkah selanjutnya. 


Hala tersenyum. Internet persona yang dia bangun emang begitu sih, work hard play hard- girlboss vibe is it? Ya memang tidak beda jauh dengan sifat aslinya. Tapi kalau sama Senna bawaannya pengen di sayang-sayang terus, karena ya gini Senna selalu mengayomi dirinya, selalu tau apa yang harus dilakukan untuk menenangkan hatinya.


“Senna… coba kasih tau aku hal yang berubah dari kamu selama kita pisah?” Hala cepat-cepat bersuara lagi.


Tak ingin percakapan mereka malam ini berakhir begitu saja


“Hmm… you wouldn't like this one. Aku sempat ngerokok,”

“APAAN?”

“Sempet kan. Sekarang udah nggak, udah setahun berhenti”

“Kok bisa?”

“Ya bisa aja. I need distraction, Ca. I can’t multitask- like you. Aku kan S2 sambil kerja ya, stress banget mana patah hati juga. Makin aja kepikiran — makin stress — jadi ya pelariannya ke rokok. Tapi sekarang udah nggak kok.”

“Terus kenapa berhenti?”

“Loh gimana sih? Ini kamu mau aku terus ngerokok gitu?”

“Ya nggak gitu konsepnya Mas Agus.” Hala melirik jutek ke arah Senna.

“Hahaha, ya gimana ya — kaya yang aku bilang waktu itu— aku mau ketemu lagi sama kamu dengan versi Marsenna yang lebih baik dari sebelumnya. Ini bukan lebih baik, malah lebih buruk dong? You don’t like smokers , apalagi asapnya. Lagian aku tuh ngerokok bukan karena butuh — pengen gitu — karena ya untuk pengalihan isu aja,”

“Cieee, so I'm the hot issue that won’t leave your mind huh? Naksir banget ya Abang sama Aca”

“Ngga tau sih kalau soal isu, tapi kamu HOT, iya betul-”

“SENNA!”

“Loh kan bener, aku bicara fakta!”

“Tau ah kesel!” kesel sama salting memang beda tipis.


Kenapa sih setiap Hala mau ngegodain Senna balik, cowok itu selalu bisa memutar balikkan keadaan? Hala kan mau juga bikin Senna salting!


“Ngga usah ngambek” Senna yang tiba-tiba berlutut di depan Hala cukup membuatnya kaget

“Eh- Senna ngapain?!”

“Jangan panik Ca… I'm not proposing — yet. But… shall we dance?”

“You don’t dance”

“Kalau aku bilang, aku pernah ikut kelas slow dance kamu percaya ngga?”

“Bohong!”

“Like I said, I need disctractions! Sama kaya Muay Thai, kaya ngerokok- ” 

“Senna… “

“Ayo Ca, pegel loh ini”

“Lead the way, sir” 


Biarlah Hala jadi bulan-bulanan Andre, Rafa, atau bahkan sepupu-sepupunya yang kini sibuk merekam first dance -nya dengan Senna. Berdansa dalam dekapan Senna bermandikan cahaya bulan? This night couldn’t be better. 


@sonofthesun Tweeted:

Gue nggak punya daddy issues, tapi sifat kebapakan senna bikin gue pengen manggil daddy…. 🥹


@sonofthesun Tweeted:

Gila sedikit gapapa, TAPI SENNA BISA SLOW DANCE? PLEASE BANGET WHAT A PLOT TWIST 😭


@masagus Tweeted:

That went well? Keluarganya welcome banget, nggak kaya orang berduit di sinetron hahaha. Semoga lancar kedepannya ya Aca 🙏

⤷ @masagus Replied:

Anddd who would’ve thoughts kebodohan gue yang nggak bisa bahasa india dan terjebak (re: ketipu)  ikut dance class kepake malam ini? 😂