Work Text:
Jeonghan berkali-kali menilik jam yang berada di tangan kirinya. Matanya sesekali berpendar mengamati lalu lalang ramai orang yang tumpah ruah di sekelilingnya, menanti dibukanya pintu masuk ke dalam sebuah tempat ia akan menyaksikan sebuah konser dari seorang musisi yang akhir-akhir ini lagunya sedang Jeonghan suka lantunkan. Meski sebenarnya ia sendiri juga tidak terlalu mengenal artis tersebut, hanya saja lagu-lagu milik artis itu sering kali ia putar untuk menemani kesehariannya belakangan ini, toh sepengetahuannya penyanyi itu memang belum setenar dan sebesar itu namanya. Bahkan konser yang akan ia saksikan ini pun dijual dengan harga yang kelewat murah serta di tempat yang tergolong kecil. Awalnya, Jeonghan ragu untuk membeli tiket konser artis tersebut karena tidak ada teman Jeonghan yang mau menemaninya untuk menonton, namun setelah dipikir kembali sepertinya tidak ada salahnya, anggap saja sebagai suatu cara untuk berkencan dengan dirinya sendiri di akhir pekan, lagipula Jeonghan juga yakin bahwa konser malam ini tidak akan berlangsung terlalu lama.
Beberapa menit kemudian, pintu yang sedari tadi Jeonghan perhatikan baik-baik akhirnya terbuka dengan dua orang petugas yang kemudian berteriak kencang mengumumkan bahwa para pemilik tiket konser sudah bisa masuk ke dalam venue – meski konsernya sendiri belum akan dimulai sampai kurang lebih satu empat puluh lima menit kedepan. Jeonghan melangkah perlahan mendekati pintu tersebut dan menyodorkan tiketnya ke salah satu petugas yang berjaga.
“Terima kasih, silakan ikuti petunjuk tulisan di dalam ya kak, ada petugas kami juga yang siap membantu di dalam.”
Jeonghan memberikan senyum manisnya kepada petugas tersebut lalu berjalan masuk ke dalam venue konser mencari tempat duduknya sesuai dengan petunjuk tulisan yang diletakkan di sepanjang jalan masuk. Seperti dugaannya, tidak banyak orang yang datang malam itu, umumnya diisi dengan anak muda yang datang berpasangan ataupun berkelompok, selebihnya mungkin orang-orang seperti dirinya yang hanya iseng menghadiri konser kecil tersebut untuk mengisi waktu luang sembari bisa mendengarkan lagunya secara langsung. Sejujurnya. Jeonghan sendiri hanya familiar dengan dua lagu dari musisi tersebut, itupun ia juga tidak cukup yakin akan dinyanyikan malam ini.
Ketika Jeonghan berhasil menemukan tempat duduknya, ia kemudian menyadari bahwa sepertinya dewi keberuntungan akhir-akhir ini memang sedang tidak berpihak kepadanya. Pasalnya, setelah beberapa hari terakhir ini Jeonghan merasa bahwa pikiranya sedang kacau dan tidak dapat diajak bekerja sama dengan baik, juga fakta bahwa kejadian-kejadian kecil yang apes belakangan ini menimpanya, kini Jeonghan harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa tempat duduk yang ia dapat ternyata letaknya di bagian sisi panggung membuat ia tidak dapat melihat wajah artis yang akan tampil nanti dengan jelas. Jeonghan hanya bisa menghela nafas, mencoba bersikap ikhlas dan berfokus dengan hal baik-baik saja. Lagian, dia kan hanya ingin menikmati musiknya saja.
Belum lama Jeonghan mendudukkan dirinya, ponselnya berdering. Satu panggilan masuk dari seseorang bernama Seokmin tertulis jelas di layarnya. Dengan sengaja ia mengabaikan panggilan tersebut, sedang tidak ingin diganggu. Namun seperti tebakannya, Seokmin pasti akan mengirim pesan singkat. Halo kak Han, lagi apa? Draftnya sampai mana nih hehe, begitu tulisnya di pesan singkat tersebut.
Jeonghan adalah seorang penulis buku yang tampil dengan nama pena ‘Ahn’. Sebuah anagram dari nama panggilannya, Han. Buku yang ditulisnya memang buku fiksi, kebanyakan bercerita tentang perjalanan orang-orang yang sedang berada di sebuah petualangan hidup untuk bisa keluar dari zona nyaman, entah soal pekerjaan, hubungan, pertemanan, atau bahkan keluarga. Sesuatu yang Jeonghan sendiri merasa bahwa ia sangat buruk dalam melakukannya. Selama ini, Jeonghan mengakui bahwa ia merupakan tipe orang yang lebih senang bermain aman saja tanpa harus memikirkan kemungkinan-kemungkinan risiko yang bisa terjadi. Meski ia sudah banyak belajar, entah secara teori – dengan cara banyak membaca buku dengan topik serupa – atau secara praktik – dengan meminta banyak pendapat dan nasihat dari teman-teman terdekat untuk kemudian ia praktikan – namun faktanya Jeonghan masih meraba-raba untuk dapat melakukan itu semua. Jadi ia pikir, tidak ada salahnya untuk menulis kisah-kisah yang erat kaitannya dengan dirinya sendiri, hitung-hitung sebagai peneman dalaam perjalanannya.
Selama beberapa tahun karirnya sebagai seorang penulis, Jeonghan memang memilih untuk menjalani hidup yang sangat tertutup. Ia tidak pernah mengadakan acara temu jumpa dengan penggemar-penggemarnya, atau bahkan acara penandatanganan buku seperti yang biasanya sering dilakukan oleh penulis-penulis ternama. Tidak ada satupun orang yang tahu bagaimana rupa Ahn sesungguhnya dan bahwa Yoon Jeonghan sejatinya adalah Ahn. Bertahun-tahun ia berusaha untuk ‘menutupi’ identitas aslinya, beruntungnya ia memiliki tim yang menghargai keputusannya tersebut sehingga Jeonghan dapat dengan mudah menjalani kehidupannya seperti biasa.
Ketika berada di suatu acara atau lingkungan yang mengharuskan Jeonghan memperkenalkan dirinya dan apa yang ia lakukan untuk bertahan hidup, Jeonghan akan mengatakan bahwa ia adalah seorang editor lepas. Biasanya, orang-orang tidak akan terlalu tertarik untuk bertanya lebih lanjut, kebanyakan dari mereka pun juga sudah mengerti bahwa Jeonghan pasti bekerja untuk beberapa rumah produksi secara berkala saja. Suatu hal yang ia lakukan untuk melindungi dirinya, untuk bisa berada di dalam gelembungnya sendiri yang sudah terlalu nyaman selama ini.
Jeonghan mengetikkan beberapa kalimat untuk menjawab pertanyaan Seokmin di ponselnya. Intinya ia sedang tidak mau diganggu dan akan memberikan kabar terbaru perihal draft tulisannya di hari Senin mendatang serta memohonnya untuk tidak menghubunginya dulu untuk akhir pekan ini. Seokmin kemudian menjawab, meminta maaf karena telah mengganggunya karena ia pun didesak oleh kepala rumah produksi yang bekerja sama dengan Jeonghan dan berjanji bahwa tidak akan menghubungi Jeonghan sampai minggu ini berakhir.
Ngomong-ngomong soal minggu, Jeonghan jadi teringat bahwa besok ia harus menghadiri sebuah acara perilisan film terbaru dimana teman baiknya adalah salah satu tim produksi disana. Seketika ia menyesal membeli tiket konser malam ini, seharusnya ia habiskan saja untuk beristirahat di rumah dan menonton film-film yang sudah berada di wishlistnya sebelum besok harus bertemu dan bersosialisasi dengan banyak orang. Haruskah aku pergi saja dari tempat ini? Belum sempat Jeonghan memikirkan jawaban untuk pertanyaan di kepalanya itu, tiba-tiba lampu yang menghiasi venue tempat konser berlangsung meredup, tanda bahwa sebentar lagi pertunjukan akan segera dimulai. Jeonghan cepat-cepat membuang pikirannya tadi, mencoba untuk menikmati dulu saja konsernya, kalau memang ia merasa bosan di tengah jalan ia akan pulang ke rumah.
Satu lagu pembuka – yang Jeonghan sama sekali tidak familiar – dibawakan oleh musisi tersebut dengan sebuah gitar digenggamannya. Orang-orang di sekitar Jeonghan meneriakkan nama musisi tersebut dan dengan antusias ikut bernyanyi, sedang ia sendiri hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama sambil menarik kesimpulan bahwa lagu ini juga tidak kalah enaknya dengan dua lagi yang akhir-akhir ini ia sukai itu.
“Seungcheol!!!! Aaa!! Ganteng banget!!!!”
“Keren banget huhu!!!!”
Jeonghan tertawa kecil mendengar panggilan-panggilan yang diteriakkan para penonton. Sepertinya kebanyakan dari orang yang datang menghadiri konser malam ini lebih tertarik dengan penampilan Seungcheol, penyanyi yang sedang tampil di atas panggung sana, dibandingkan dengan lagu-lagu yang ia bawakan. Meski dari tempat duduknya Jeonghan tidak bisa menangkap dengan jelas bagaimana wajah Seungcheol malam itu, namun Jeonghan mengakui bahwa ada aura bintang yang sangat mempesona terpancar dari pria itu. Jeonghan jadi penasaran. Ia kemudian mencoba mencari tahu dari akun sosial media Seungcheol yang dengan cepat ia cari lewat ponselnya, sayangnya Seungcheol tidak banyak mengunggah foto wajahnya secara jelas sehingga Jeonghan juga tidak dapat menilai secara penuh terhadap rupa Seungcheol sesungguhnya. Namun satu hal yang Jeonghan tahu setelah ia selesai menyaksikan konser tersebut, bahwa lagu-lagu Seungcheol akan banyak menghiasi playlistnya untuk beberapa waktu kedepan.
“Selamat ya untuk perilisan film barunya.”
“Terima kasih, Jeonghan. Senang rasanya kamu bisa hadir malam ini.”
“Nggak akan aku lewatkan, aku kan juga mau mendukung teman baikku.”
“Terima kasih banyak ya, aku juga suka sekali bunganya.”
“Sama-sama.”
“Ayo, kita ketemu yang lain. Sekalian aku kenalkan kamu dengan tim-tim lainnya.”
Jeonghan mengikuti ajakan Changkyun – teman baiknya yang mengundang Jeonghan untuk datang ke acara gala perilisan film terbarunya – melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan khusus yang berisi tamu-tamu undangan VIP dan orang-orang dibalik layar berlangsungnya film tersebut. Ada beberapa wajah yang sudah Jeonghan kenali disana, ia kemudian melemparkan senyum simpul dan sesekali menyapa mereka sembari memberikan pelukan singkat sebelum kembali mengekor Changkyun yang berjalan semakin masuk ke dalam ruangan tersebut. Jeonghan dan Changkyun sudah berteman selama kurang lebih lima tahun, pertemanan mereka terbentuk ketika pada suatu masa Changkyun berkunjung ke rumah produksi buku yang bekerja sama dengan Jeonghan untuk mendiskusikan salah satu karya penulis yang diangkat ke layar lebar dengan Changkyun berperan sebagai salah satu produsernya. Kala itu, Jeonghan tidak menyangka bahwa pertemuan singkat mereka di lobby kantor rumah produksi akan terus berlanjut menjadi sebuah jalinan persahabatan yang cukup erat hingga sekarang, bahkan Jeonghan mempercayakan Changkyun sebagai salah satu orang yang mengerti soal identitas Jeonghan sebagai penulis ‘Ahn’. Tentu, jika sedang berada di acara-acara seperti ini, Changkyun akan selalu melindungi privasi Jeonghan dengan memperkenalkan Jeonghan sebagai editor lepas sesuai permintaannya.
“Guys, kenalin ini temanku. Jeonghan namanya.”
Beberapa pria di hadapan mereka yang semula sedang asik mengobrol seketika menghentikan percakapan mereka dan memfokuskan perhatiannya kepada Changkyun dan Jeonghan. Dua diantara tiga orang yang ada didepannya, Jeonghan merasa benar-benar asing, Changkyun memperkenalkan mereka sebagai seorang penyunting naskah dan yang satunya lagi adalah penata musik yang sama-sama banyak berperan dalam film mereka.
“Salam kenal. Jeonghan.”
“Such a pleasure to meet you, Jeonghan. Changkyun banyak bercerita soal kamu, aku dengar kamu editor hebat. Tidak tertarik untuk masuk ke dalam dunia perfilman?”
Jeonghan hanya tertawa kecil dan menjawab seadanya dari sapaan-sapaan penuh basa-basi tersebut. Perhatiannya justru tertuju pada sesosok laki-laki yang berdiri di tengah, yang sebenarnya sedari tadi juga ikut memerhatikanya. Laki-laki yang sangat familiar baginya, yang akhir-akhir ini suaranya banyak mengiringi hampir setiap kegiatan yang ia lakukan.
“Oh kenalin juga ini Han, ini-“
“Seungcheol.”
Jeonghan memotong kalimat Changkyun begitu saja, menyebutkan nama Seungcheol dengan begitu mudahnya. Membuat semua orang disana ikut mematung keheranan.
“Eh-eh, M-maksudku, Seungcheol kan? Siapa yang nggak kenal Seungcheol, lagunya banyak diputar akhir-akhir ini. Salam kenal.”
Tangan Jeonghan diulurkan dengan canggung, mencoba untuk mencairkan suasana agar Changkyun dan teman-temannya tidak menaruh curiga dengan sikap Jeonghan yang barusan. Jeonghan sendiri juga tidak mengerti mengapa ia berlagak demikian, mungkin karena ia tidak menyangka akan bertatap muka sedekat ini dengan salah satu musisi kesukaannya yang baru saja semalam ia saksikan pertunjukannya – meski tidak dapat melihat dengan jelas wajah musisi tersebut – atau mungkin karena Jeonghan tidak pernah berpikir bahwa penyanyi dihadapannya ini memiliki paras yang begitu rupawan, serupawan suaranya.
“Ah, aku jadi malu. Salam kenal, Jeonghan, aku Seungcheol.”
“Salam kenal.”
“Seungcheol ini ikut kontribusi mengisi soundtrack film, kalau tadi kamu perhatikan cuplikan lagu yang ia bawakan sempat diputar di beberapa adegan.”
Jeonghan mengangguk-anggukkan kepalanya. Mencoba mengingat-ingat adegan yang dimaksud oleh Changkyun, sejujurnya ia tidak bergitu memerhatikan lantunan lagu pengiring filmnya, Jeonghan terlalu hanyut dibawa oleh alur cerita yang ada.
“Jeonghan pasti tidak akan ingat, kan aku sudah bilang ceritanya terlalu luar biasa bagus sampai orang-orang juga tidak akan memerhatikan lagunya.”
“Aku ingat kok, sedikit.”
Jeonghan menimpali, membuat Seungcheol tertegun. Pria itu kemudian melempar senyum penuh arti kepada Jeonghan yang juga dibalas dengan senyuman manis khas seorang Yoon Jeonghan.
“Either way, aku sudah cukup puas dengan hasilnya. Ayo, kita makan, aku belum makan sama sekali sejak pagi. Jeonghan, ayo. Kamu nggak buru-buru kan?”
Sumpah, niat Jeonghan sebelum akhirnya berangkat meninggalkan apartemennya sore tadi, hanya ingin mengikuti acara perilisan film tersebut sebentar saja. Mengikuti acara dari awal, berbincang sebentar dengan Changkyun dan teman-temannya dibalik layar lalu akan mengundurkan diri terlebih dahulu untuk kembali pulang. Namun kini, setelah takdir mempertemukannya dengan Seungcheol secara kebetulan, ada perasaan ingin tinggal lebih lama yang perlahan muncul dari dalam diri Jeonghan.
“Ayo, Jeonghan. Kayaknya di luar juga lagi hujan, kita makan aja dulu.”
Sungguh Jeonghan tidak peduli apakah benar memang di luar sana sedang turun hujan atau tidak, satu ajakan dari Seungcheol sudah cukup untuknya kemudian memantapkan diri ikut melangkah menuju area makan bersama.
Suara ketikan tombol-tombol keyboard laptop milik Jeonghan terdengar cukup keras, seakan menandakan bahwa pria itu sedang dilanda rasa frustasi yang luar biasa. Memang, bisa dikatakan begitu, Seokmin tidak berhenti melontarkan pertanyaan soal draft tulisan Jeonghan sejak pagi meski Jeonghan sudah mengatakan bahwa ia baru bisa mengirimnya ketika sore atau malam hari nanti, pasalnya Jeonghan masih harus menambahkan beberapa hal serta mengoreksi bagian-bagian yang menurutnya kurang pas. Namun lelaki cerewet satu itu rasa-rasanya memang pantang menyerah, atau mungkin juga ia takut akan tekanan yang diberikan oleh atasannya hingga kemudian Jeonghan memutuskan untuk menghubungi kepala rumah produksi mereka dan memintanya untuk bersabar sampai nanti malam.
Kini Jeonghan sedang berada di sebuah kafe yang memang sering ia kunjungi tiap kali ia merasa bahwa pikirannya sedang tidak bersahabat atau suasana apartemennya tidak cukup kondusif untuknya melanjutkan tulisannya. Terlebih sekarang ia sedang dikejar deadline yang berhasil membuatnya hampir saja putus asa. Namun bagaimana pun Jeonghan adalah seorang penulis yang bertanggung jawab atas tulisannya, baginya ketika ia sudah memulai sesuatu apapun caranya ia harus bisa menuntaskannnya dengan sempurna.
Jeonghan terlalu larut dalam kegiatannya untuk melanjutkan rangkaian kalimat yang membentuk sebuah kisah di hadapannya sampai ia tidak sadar bahwa ada seseorang yang memerhatikannya dari arah meja kasir. Pria itu sebenarnya sudah menyadari kehadiran Jeonghan bahkan sejak ia melangkahkan kakinya ke dalam kafe tersebut, awalnya ia merasa tidak asing dengan postur tubuh Jeonghan sampai ia kemudian sendiri menyadari bahwa orang tersebut adalah sesosok laki-laki yang ia jumpai semalam.
“Hai.”
Seungcheol menyapa Jeonghan yang terlihat sangat fokus dengan pekerjaannya, terbukti dari betapa terkejutnya Jeonghan melihat penampakan Seungcheol dengan segelas kopi di tangannya sedang berdiri sambil tersenyum ke arah Jeonghan.
“Oh! Seungcheol!”
Jeonghan sedikit menutup layar laptopnya, bertindak was-was. Ia tidak ingin Seungcheol mengetahui hal-hal yang sedang ia tulis, pria itu kan tidak mengerti kalau Jeonghan adalah Ahn, penulis terkenal dengan ribuan eksemplar buku berhasil terjual dan banyak diidolakan oleh muda-mudi.
“Halo, Jeonghan. Ketemu lagi.”
“H-hai... kamu… kok bisa disini?”
Pertanyaan Jeonghan memang terkesan aneh atau bahkan tidak sopan, namun seingat Jeonghan semalam Seungcheol bercerita bahwa rumahnya jauh sekali dari daerah kafe ini. Jadi pikirnya, cukup ajaib untuk Seungcheol bepergian jauh hanya untuk datang ke kafe tersebut.
“Aku memang sering kesini, jauh sih memang dari rumah tapi aku terlanjur suka sama kopinya. Dulu aku sempat kerja di daerah sini, jadi sudah terbiasa kesini.”
“O-oh…”
“Kamu sendiri? Ah, apartemen kamu dekat ya.”
“Iya, selain itu aku juga sering kesini.”
“Untuk bekerja ya?”
“Ah, iya. Biasanya kalau suntuk, aku kesini.”
Seungcheol bisa merasakan adanya jarak yang memang sengaja Jeonghan ciptakan antara mereka. Apa alasannya, Seungcheol sendiri tidak tahu. Bukan, bukan jarak yang dibuat karena Jeonghan merasa tidak nyaman, lebih ke bentuk jarak yang biasanya tercipta ketika seseorang sedang melindungi sesuatu dari sentuhan luar. Meskipun begitu, Seungcheol tidak terlalu mengambil pusing, lagipula tujuannya kesini juga hanya sekedar mencari ketenangan di tempat yang memang nyaman untuknya.
“Aku boleh duduk disini? Nggak akan ganggu kok. Aku bawa buku untuk dibaca.”
Jeonghan yang semula terlihat tegang, kini perlahan mulai melunak. Seungcheol yang awalnya ia pikir akan banyak mengajaknya mengobrol dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan menyelidik soal dirinya, ternyata hanya ingin mencari ketenangan tersendiri.
“Boleh.”
Seungcheol kemudian dengan cepat menarik kursi yang berada di sisi sebelah kanannya, berseberangan dengan Jeonghan yang membuatnya dapat melihat dengan jelas wajah Jeonghan dari dekat. Semalam, mereka memang bertemu dan banyak mengobrol namun karena situasi yang kurang kondusif ditambah dengan lampu venue yang memang temaram, membuat Seungcheol tidak sempat menaruh perhatian lebih terhadap paras Jeonghan. Sekarang, setelah ia bisa mengamatinya dengan jelas, Jeonghan ternyata begitu manis dan rupawan.
“Lagi baca buku apa?”
“Oh, ini, cuma kumpulan puisi sih. Rekomendasi temanku, ini, kamu udah baca?”
Jeonghan mencoba mengamati judul yang tertera di sampul buku yang digenggam Seungcheol. Ketika Matahari Sedang di Ujung Barat. Jeonghan sudah membaca buku itu beberapa bulan yang lalu sampai tuntas, seingatnya kumpulan puisi yang dirangkum dalam buku tersebut banyaknya berisi tentang cara manusia untuk belajar bersikap ikhlas dan mencoba untuk bisa bangkit. Sangat kontradiktif dengan Seungcheol yang beberapa hari belakangan ini ia kenal, ditambah dengan pesonanya sebagai musisi dengan lagu-lagu yang selalu penuh dengan kata positif dan ajakan untuk selalu melihat sisi baiknya sebuah kehidupan.
“Kamu… suka buka itu?”
“Iya, sejauh ini aku suka. Kamu sendiri gimana?”
“Iya, lumayan oke kok.”
Seungcheol hanya mengangguk sebagai balasan, ia kemudian kembali memfokuskan dirinya ke buku yang ada di hadapannya. Jeonghan sendiri juga kembali melanjutkan pekerjannya. Menit-menit hingga jam-jam berlalu, masih belum ada sepatah katapun yang keluar dari mulut masing-masing. Seungcheol masih asyik tenggelam dalam kata-kata indah yang dirangkai sedemikian rupa di dalam buku yang dibawanya itu, sedangkan Jeonghan juga masih larut dalam konsentrasi maksimalnya untuk bisa menyelesaikan draft tulisannya sesuai dengan janji yang telah ia berikan tadi. Meskipun keheningan menyelimuti mereka, namun baik Seungcheol maupun Jeonghan sama-sama tidak merasakan adanya rasa canggung dan aneh hadir di antara mereka, justru keduanya merasakan kenyamanan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Menurut Jeonghan, dengan adanya Seungcheol di hadapannya, membaca buku dengan mata berbinar dan bibir yang sesekali terlihat cemberut. Sedangkan bagi Seungcheol, entah mungkin dirinya yang terlalu gila atau semuanya hanya halusinasi belaka, namun suara jari jemari Jeonghan yang bersentuhan dengan keyboard laptopnya berhasil menjadi sebuah lullaby untuknya yang memancarkan kehangatan, bahkan lantunan musik yang diputar di speaker kafe pun kalah menarik untuknya.
Hingga kemudian Jeonghan menyadari bahwa hari ternyata semakin gelap, langitpun mendadak mendung dengan gemuruh petir yang mulai terdengar dari kejauhan. Seungcheol yang sedari tadi meletakkan kepalanya di atas meja sambil membaca bukunya juga ikut tersadar bahwa mereka sudah lama sekali menghabiskan waktu di kafe itu.
“Lah udah sore banget ternyata.”
“Iya, nggak kerasa.”
“Iya, aku keasikan baca deh hahaha.”
“Seungcheol, kayaknya habis ini aku mau pulang. Mau hujan juga, aku nggak bawa payung.”
“Mau aku antar?”
“Nggak usah, apartemenku deket kok, jalan kaki sepuluh menit juga sampai.”
“Tapi nanti kalau hujan di tengah jalan kan kamu jadi basah.”
“Makanya aku harus cepetan pulang? Hahaha, nggak perlu repot-repot, Cheol.”
“Serius?”
“Iya, omong-omong terima kasih ya sudah menemani aku kerja.”
“Aku juga terima kasih karena dibolehin duduk disini. Maaf kalau kamu keganggu.”
“Nggak sama sekali, justru jadi lebih nggak kerasa suntuknya. Aku duluan ya, hati-hati nanti, Seungcheol.”
“Eh, Jeonghan!”
“Ya?”
“Kalau boleh, apa bisa aku simpan nomor kamu?”
Jeonghan terperanjat seketika, sama sekali tidak menyangka bahwa Seungcheol akan mengajaknya untuk bertukar kontak. Awalnya ia sempat ragu untuk memberikan nomornya, karena bagaimanapun mereka baru saja berkenalan kemarin. Namun pada akhirnya Jeonghan pun mengetikkan beberapa nomor di layar ponsel milik Seungcheol dan kemudian menerima pesan sapaan dari Seungcheol untuk mengkonfirmasi nomor miliknya.
“Terima kasih, Jeonghan. Semoga pekerjaan kamu cepat selesai dengan lancar, ya.”
Satu senyuman manis menutup perjumpaan mereka sore itu, Seungcheol melangkah ke arah tempat mobilnya terparkir dengan hati penuh. Matanya masih memandangi ponselnya lekat, tersenyum kecil ketika satu pesan masuk dari Jeonghan di ujung sana.
Jeonghan: aku simpan nomornya ya
Sejak pertemuan mereka sore itu yang ternyata berlanjut dengan pertukaran pesan singkat sepanjang malam, hubungan yang terjalin antara Seungcheol dan Jeonghan semakin berkembang. Pertemanan mereka yang mulanya sederhana, perlahan bergerak ke arah yang lebih kompleks. Di sela-sela waktu luang mereka, Jeonghan akan menyempatkan diri untuk mengirim pesan singkat ke Seungcheol entah sekedar untuk menyapanya atau menanyakan soal kegiatan Seungcheol akhir-akhir ini, Seungcheol sendiri juga tidak kalah rajin membalas semua pesan-pesan yang masuk dari Jeonghan bahkan sering kali mengajak Jeonghan untuk pergi keluar, meski sekedar duduk berdampingan di sebuah kafe dengan Jeonghan yang masih sibuk berkutat dengan draft tulisannya seperti saat ini.
“Kamu nggak bawa buku hari ini?”
“Nggak, lagi nggak mood baca.”
“Terus mau ngapain?”
“Nggak ngapa-ngapain, nemenin kamu aja nulis disini.”
Ada semburat warna merah muda di kedua belah pipi Jeonghan, entah Seungcheol menyadarinya atau tidak namun Jeonghan cepat-cepat memalingkan mukanya menjauh dari Seungcheol.
“Aku kayaknya bakal lama disini, sudah dikejar deadline yang semakin mepet. Kamu kalau mau pulang dulu, boleh kok nanti.”
“Nggak papa, aku temani sampai selesai.”
“Kamu nggak ada jadwal?”
“Nggak ada, rangkaian konserku udah selesai semua. Sekarang aku lagi istirahat sebentar.”
“Ngomong-ngomong soal konser, sebenarnya waktu itu aku pernah datang ke konser kamu sekali.”
Seungcheol terbelalak. Ia terkejut dengan pengakuan Jeonghan barusan, sebab sejauh ini yang ia pahami, Jeonghan tidak terlalu menikmati musik-musiknya atau mungkin Jeonghan memang bukan tipe orang yang rajin mendengarkan musik saja. Jadi ketika mengetahui fakta bahwa Jeonghan pernah menonton penampilannya, Seungcheol senang bukan main. Bukankah itu tandanya karyanya cukup penting untuk Jeonghan hingga membuat pria itu rela menonton konsernya?
“Oh iya? Kapan?”
“Waktu itu, satu hari sebelum kita ketemu di acara launching film Changkyun. Makanya aku kaget waktu ketemu kamu di acara itu.”
“Ya ampun! Kamu datang malam itu? Kenapa nggak bilang dari awal?”
“Hahaha waktu itu momennya nggak pas, maaf kalau nggak bilang dari dulu.”
“Nggak perlu minta maaf, aku justru berterima kasih. Kamu enjoy konsernya?”
“Enjoy kok, jujur aku awalnya cuma tahu dua lagu aja tapi waktu pulang aku jadi suka banyak lagu lainnya sampai masuk ke playlist aku.”
“Beneran? Jeonghan, terima kasih.”
“Hehe, aku memang jarang dengerin lagu. Tapi kalau sekalinya suka biasanya aku putar terus.”
“Kalau laguku termasuk yang kamu suka sampai selalu didengar nggak?”
“Iya. Rata-rata aku suka semua lagu kamu.”
Seungcheol tersenyum lebar. Salah satu senyum paling tulus yang pernah ia keluarkan sepanjang hidupnya. Semuanya terjadi begitu saja, secara natural. Percakapannya dengan Jeonghan, reaksinya soal Jeonghan yang tiba-tiba saja mengatakan bahwa ia diam-diam menganggumi lagu-lagu milik Seungcheol. Mereka belum lama mengenal, namun rasanya ada sebuah tali yang tidak terlihat selama ini mengikat mereka hingga rasanya ia telah lama berteman baik dengan Jeongan.
“Makasih ya, Jeonghan.”
“Sama-sama, aku juga selalu suka deh sama lirik-lirik di lagu kamu itu. Itu ciptaan kamu sendiri?”
Seungcheol menggeleng sambil menyeruput kopi di hadapannya. Jeonghan mengalihkan perhatiannya dari pekerjaan di hadapannya sejenak, menunggu jawaban keluar dari mulut Seungcheol, mengantisipasi cerita yang mungkin akan Seungcheol bagikan perihal proses lirik dari lagu-lagu miliknya dibuat.
“Semua itu buatan timku di agensi, aku nggak banyak kontribusi soal lirik.”
“Aku kira buatan kamu, soalnya kan kamu selama ini cerita kalau suka baca, siapa tahu kamu terinspirasi untuk nulis lirik juga.”
“Aku juga suka nulis kok Han, suka banget malah. Biasanya kalau lagi senggang atau bahkan nggak senggang pun aku tulis aja apa yang ada di dalam kepalaku.”
Sebelum Jeonghan bisa menimpali lebih jauh, Seungcheol merogoh sebuah buku dari tas ranselnya. Kalau dilihat dari luarnya, buku itu seperti buku jurnal yang memang sudah using. Bukan karena usia, namun karena terlalu sering dibuka dan digunakan. Jilidannya sudah mulai berantakan dengan beberapa sampulnya yang mengelupas, terlihat sekali kalau buku itu pasti tidak pernah jauh-jauh dari Seungcheol.
“Ini, kebanyakan aku tulis semuanya disini.”
Jeonghan hanya menganggukkan kepalanya. Sebagai seorang penulis, sebenarnya Jeonghan cukup penasaran dengan karya tulisan Seungcheol. Jeonghan yang memang tumbuh erat dengan karya-karya seni berbentuk tulisan hingga kini pun menggeluti dunia tersebut sebagai sumber penghasilannya tentu ingin bisa menyelam lebih dalam mencari tahu tentang apa yang Seungcheol ungkapkan lewat goresan pena ataupun pensil tersebut. Namun ia tidak mau terlalu lancang dengan meminta Seungcheol untuk membaca isi buku tersebut, siapa tahu sifatnya memang rahasia.
“Kalau begitu, kenapa kamu nggak coba buat lirik untuk lagu-lagumu?”
“Beberapa kali aku udah pernah coba, aku tunjukkan ke tim dan produserku tapi mereka nggak setuju sama liriknya. Ujung-ujungnya pasti pakai lirik yang mereka ciptakan, biar sesuai sama konsepku katanya.”
Seungcheol memang seorang musisi yang dikenal dengan lagu-lagunya yang penuh dengan semangat dan sisi positif, entah itu urusan percintaan, pendewasaan diri, ataupun kehidupan pada umumnya saja. Tipe-tipe lagu yang memang cocok dibawakan di acara-acara kejuaraan ataupun iklan-iklan produk agar semua orang termotivasi untuk membeli. Begitu pula dengan persona yang Seungcheol miliki sebagai seorang selebriti, meskipun Seungcheol masih tergolong sebagai artis yang belum terlalu besar namanya namun ia dikenal sebagai pribadi yang supel dan ramah membuat hampir seluruh kalangan selebriti baik penyanyi, aktor, model, sampai ke penata busana pun banyak yang mengenal baik dirinya. Semua itu dikarenakan oleh imegenya yang selama ini dibangun begitu rapi dan seksama oleh agensinya, Seungcheol yang selalu riang, jenaka, positif, tampil dengan kostum-kostum yang cerah, ikut berpartisipasi di acara-acara hiburan yang seru, dan selalu menyelipkan pesan positif di setiap album yang dirilisnya.
Walaupun semua itu sesungguhnya jauh dari jati diri Seungcheol yang sebenarnya, hati kecil Seungcheol juga berusaha untuk banyak bersyukur karena berkat personanya yang diciptakan begitu elok oleh manajemen yang menaunginya, Seungcheol bisa mengenal banyak orang dan mendapatkan kesempatan untuk mencicipi berbagai macam pengalaman hidup yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Berkat itu semua juga, Seungcheol dapat dipertemukan dengan Jeonghan.
“Kamu nggak pernah coba lagi untuk ajukan mereka?”
“Aku jadi nggak pede untuk nawarin lirik buatanku lagi Han, mungkin baiknya aku ngikut kata-kata mereka aja.”
Jeonghan berpikir sejenak, ia mencoba untuk memberanikan diri meminta izin kepada Seungcheol untuk membaca tulisan-tulisan di dalam buku jurnal milik Seungcheol. Meski nanti bisa saja permintaannya itu ditolak, yang terpenting ia sudah mencoba.
“Kalau boleh, aku mau baca tulisan-tulisanmu.”
“Boleh, ini.”
Buku jurnal berwarna merah itu disodorkan ke arah Jeonghan. Seungcheol hanya mengamati dengan seksama tatkala Jeonghan perlahan membuka jurnal miliknya, nampaknya pria itu mencoba berhati-hati agar tidak semakin merusak bentuk bukunya.
“Nggak papa, udah jelek juga lagian bukunya.”
“Tapi kan sayang kalau rusak.”
“Santai aja, Jeonghan. Kan bukan dokumen negara yang penting-penting banget gitu.”
Jeonghan tertawa kecil, ia melanjutkan gerakannya membuka lembar demi lembar buku jurnal milik Seungcheol. sesuai dengan apa yang Seungcheol ceritakan di awal tadi, tulisan Seungcheol memang jau sekali dari persona yang selama ini ia tampilkan untuk khalayak publik. Jika selama ini lirik-lirik lagu yang ada di dalam album-album miliknya kebanyakan berisi tentang perasaan-perasaan bahagia, jatuh cinta, semangat menjalani hidup dan berbagai macam emosi menyenangkan lainnya, justru tulisan yang berada di depan Jeonghan kali ini menggambarkan kondisi yang bertolak belakang dengan itu semua. Ada rasa kesepian, kebingungan, pencarian akan suatu jawaban yang dapat Jeonghan rasakan tiap kali ia membaca beberapa tulisan Seungcheol, Jeonghan bahkan dapat menemukan adanya perasaan yang hampir serupa dengan tulisannya selama ini, rasa keinginan untuk bisa keluar dari apa yang selama ini mengekang mereka.
“Bagus banget, tulisan kamu.”
“Coming from a copywriter himself, terima kasih Jeonghan.”
“Serius, tapi ini bagus. Bukannya apa-apa, malah jauh lebih bagus dari lirik-lirik yang dibuat agensi kamu.”
“Beneran?”
“Iya, jujur kebanyakan lirik yang dibuat sama produser kamu terlalu mainstream deh kadang, maaf ya ampun jangan diaduin aku.”
“Hahahaha nggak akan kok, soalnya kadang aku juga ngerasa begitu.”
“Kamu beneran nggak ada kepengen lirik-lirik ini jadi lagu? Nggak usah lewat agensimu, kamu kan bisa bikin lagu sendiri terus upload aja di sosmed kamu pasti banyak yang suka juga.”
“Mau sih, kadang aku juga kepikiran begitu. Tapi, karena aku masih terikat kontrak sama agensi kesannya kurang etis aja kalau tiba-tiba aku keluarin lagu sendiri jauh banget lagi imagenya sama yang selama ini dibangun.”
“Sayang banget, padahal potensial banget untuk bisa terkenal. Aku juga pasti akan suka banget kalau lagu kamu yang pake salah satu lirik di buku kamu ini bisa sampe rilis.”
“Suka sama liriknya atau suka sama suara penyanyinya? Atau suka sama penyanyinya?”
“Apaan sih.”
Ada semburat warna merah muda sempat terlukis di pipi Jeonghan, pertanyaan Seungcheol barusan cukup membuatnya salah tingkah. Kalau boleh jujur, belakangan ini semenjak mengenal Seungcheol dan terus menjalin hubungan pertemanan yang lebih dekat lagi, Jeonghan memang merasakan benih-benih rasa ketertarikan yang mulai muncul di dalam hatinya. Seungcheol, pria tampan dengan suara yang menawan nyatanya berhasil memikat hati Jeonghan, terlebih kini setelah mengenal lebih dalam kepribadian lelaki itu Jeonghan merasakan magnet cinta semakin menariknya lebih erat ke dalam jeratan hati seorang Choi Seungcheol meskipun ia sendiri tidak tahu apakah lelaki itu juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. Jeonghan juga tidak mau ambil pusing, ia memilih untuk memendam perasaan yang ia miliki itu sendiri dan mengagumi Seungcheol dalam diam.
“Bercanda hahaha.”
“Ngomong-ngomong kalau agensi kamu nggak ngebolehin jadi lagu juga, kenapa nggak coba publikasi aja tulisan-tulisan kamu ini jadi puisi kayak buku yang kamu baca?”
“Kamu emang sepengen itu liat tulisan aku dibaca banyak orang?”
“Ya nggak gitu juga sih, maksudku karya sebagus ini sayang aja kalau cuma didiemin.”
“Nggak sih Han, lagipula aku nulis juga buat aku sendiri aja biar perasaan aku lega, nggak mau banyak orang yang tahu juga soal sisi aku yang begitu.”
Jeonghan sempat terpaku mendengar jawaban Seungcheol, memahami bahwa tulisan Seungcheol di dalam buku jurnalnya itu bisa dikatakan sebagai sisi ‘gelap’ Seungcheol sebagai manusia yang sebenarnya tidak ingin ia tunjukkan kepada orang lain.
“Terus, kenapa aku dibolehin baca?”
Ada seringai kecil menghiasi ujung bibir Seungcheol sebelum menjawab pertanyaan Jeonghan.
“Nggak papa, aku udah terbiasa sama kamu akhir-akhir ini, lagipula aku rasa personality kita juga nggak jauh beda makanya aku nyaman-nyaman aja kalau kamu baca tulisanku. Kamu juga nggak akan tiba-tiba sebar bebas tulisanku itu kan?”
“Ya nggak lah, gila aja. Lagian gimana caranya juga, tapi ngomong-ngomong kalau semisal ada orang lain yang baca tulisan kamu ini gitu entah sengaja ataupun nggak sengaja, gimana?”
“Jujur nggak masalah juga, asal orang itu nggak tahu kalau yang nulis aku. Paham nggak sih? Kayak oh tiba-tiba nemu tulisan ini gitu terus oh ya udah aja.”
“Paham-paham, pokoknya orang lain nggak boleh tahu ya kalau yang nulis kamu.”
“Iya begitu.”
Hari itu, Seungcheol menepati janjinya untuk menemani Jeonghan sampai selesai menyelesaikan pekerjaannya meskipun Jeonghan sudah berulang kali mempersilakan Seungcheol untuk pulang terlebih dahulu karena masih banyak hal yang harus ia tuntaskan. Seungcheol tentu menolak keras walau beberapa kali Jeonghan mendapati pria itu secara tidak sadar memejamkan matanya karena sudah kelewat lelah menunggu Jeonghan yang sedari awal asik mengetik. Tentu menyadari hal itu, Jeonghan kemudian memutuskan untuk menyudahi kegiatannya dan mengajak Seungcheol untuk meninggalkan kafe tersebut.
“Jeonghan.”
“Ya?”
“Aku mau ajak kamu makan malam dulu, mau nggak? Tapi kalau kamu masih ada urusan lain nggak papa sih, aku antar kamu pulang aja.”
Jeonghan tersenyum geli melihat Seungcheol yang terlihat gugup dan salah tingkah ketika menawarkan ajakan makan malam, tidak seperti Seungcheol yang biasanya ia kenal dengan rasa percaya diri selangit.
“Kalau aku nolak, terus kamu makan malam sama siapa?”
“Ya sendiri, atau mungkin pulang makan mie instan.”
“Mie instan nggak sehat, yuk makan dulu.”
Jawaban Jeonghan barusan berhasil membuat Seungcheol tersenyum lebar. Ia kemudian cepat-cepat membantu Jeonghan membawa beberapa bawaan yang ada di tangan Jeonghan dan menunjukkan letak mobilnya di parkir. Jeonghan dengan senang hati mengikuti langkah Seungcheol. Malam itu, hotpot di hadapan Jeonghan bukan satu-satunya hal yang hangat mengisi perut Jeonghan namun melihat senyum Seungcheol dan bisa menghabiskan waktu berdua dengan pria itu juga berhasil memberikan kehangatan tersendiri di hati Jeonghan.
“Terus ya gitu, pokoknya kalau memang lagi rame banget aku biasanya suka bantuin. Kalau lagi holiday season gitu biasanya rame.”
“Oh iya? Tapi kakak kamu itu emang sekolah masak? Atau otodidak?”
“Awalnya otodidak sih, karena tiba-tiba banget aja dia tuh suka baking padahal di keluarga aku nggak ada yang hobi baking sama sekali tapi terus untuk mempertajam skillnya ya dia sekolah biar bisa ada sertifikat juga gitu.”
“Mau dong kapan-kapan cobain, atau mampir ke tokonya.”
“Boleh banget, nanti aku kirim beberapa ya buat kamu dan temen-temen di agensi kamu juga.”
“Asik. Keren deh, Jeonghan.”
Jeonghan kembali mengunyah makan siang di depannya. Seungcheol menghubunginya semalam, mengajaknya untuk ikut menjajal salah satu restoran jepang yang baru saja dibuka beberapa bulan yang lalu. Jeonghan yang memang sedang senggang tentu menerima ajakan itu dengan senang hati.
Tidak terasa enam bulan sudah sejak perkenalan pertama kali mereka di malam acara perilisan film salah satu teman Jeonghan kala itu. Enam bulan juga Jeonghan akhirnya berhasil menyelesaikan draft tulisannya yang sudah dinanti-nanti oleh tim produksinya itu. Rencananya, akhir pekan ini ia akan bertemu dengan seluruh tim yang akan terlibat dalam proses percetakan dan penerbitan bukunya setelah nantinya Jeonghan mungkin akan menambahkan beberapa hal sebagai pelengkap ceritanya.
Enam bulan juga Seungcheol dan Jeonghan merajut hubungan pertemanan yang kian dekat dan mesra. Meski tidak ada ungkapan perasaan yang eksplisit dari mulut keduanya, namun sepertinya baik Jeonghan maupun Seungcheol sama-sama memahami bahwa ada perasaan ingin memiliki sebagai kekasih tersimpan erat di dalam hati mereka masing-masing.
“Oh ya Seungcheol, ngomong-ngomong aku boleh pinjam buku jurnalmu sebentar? Kamu bawa nggak?”
“Bawa kok, buat apa?”
“Mau baca aja sih, itupun juga kalau dibolehin.”
“Boleh-boleh aja, santai aja. Nanti ya, bukunya ada di mobil.”
“Oke! Oh ya, kamu gimana ada rencana liburan nggak akhir tahun ini?”
“Belum ada, paling kayak biasa nanti ke rumah orang tuaku terus ke rumah kakakku juga, aku mau ketemu anjingku udah lama nggak ketemu.”
“Kamu punya anjing?!”
“Iya, namanya Kkuma. Bentar aku tunjukin fotonya.”
Bentuk-bentuk obrolan yang mengalir di antara kedua insan tersebut kini terkesan lebih alami, yang semula mungkin masih dihiasi rasa canggung dan penuh hati-hati kini berjalan dengan lancar dan natural begitu saja, dihiasi dengan berbagai macam topic pembicaraan dari yang serius sampai hal-hal ringan seperti barusan.
“Lucu banget! Kok nggak tinggal sama kamu aja?”
“Kasian nanti dia kesepian kan aku jarang di rumah, kalau di rumah kakakku dia ada temannya karena kakakku juga kerjanya fleksibel dan punya anjing lain juga.”
“Iya juga sih, huhu pengen ketemu deh.”
“Nanti ya kapan-kapan aku ajak kamu ketemu dia, eh atau mau ikut liburan nanti ke rumah kakakku?”
Ajakan yang rasanya begitu personal itu membuat Jeonghan cukup kebingungan menjawabnya. Mungkin saja kalau ini bukan Seungcheol, jantungnya tidak akan berdebar sebegitu kencangnya seperti sekarang ini. Tapi berhubung ini Seungcheol, pria yang diam-diam secara perlahan berhasil mengisi relung hatinya belakangan ini, membuat Jeonghan merasa sah-sah saja kalau ia mengharapkan yang lebih.
“B-boleh sih, tapi liat nanti ya siapa tahu aku ada jadwal lain.”
“Santai aja, kabar-kabar terus aja.”
Sejak tawaran itu Seungcheol ucapkan, Jeonghan tidak bisa berhenti memikirkan skenario-skenario manis yang mungkin saja bisa terjadi kalau nanti ia ikut Seungcheol berkunjung ke rumah kakaknya. Mungkin saja liburan akhir tahunnya kali ini jadi liburan yang paling berkesan untuknya selama ini. Jeonghan jadi kesal sendiri, sebab ia bertingkah layaknya remaja puber yang sedang dimabuk cinta, bahkan sedari tadi ia maish belum bisa fokus menuliskan beberapa kalimat dan paragraph sebagai tambahan untuk draft tulisannya.
“Ayo Han, fokus!”
Jeonghan bolak-balik mengamati tulisan milik Seungcheol di buku jurnalnya, memilih kalimat mana saja yang sekiranya tepat menghiasi cerita dari novelnya. Benar, Jeonghan memang sengaja menyelipkan beberapa hasil karya Seungcheol ke dalam bukunya nanti. Karena menurut Jeonghan, tulisan sebagus ini seharusnya bisa dibaca oleh banyak orang meskipun nantinya Jeonghan akan menyamarkan nama pencipta tulisan tersebut, persis seperti yang pernah Seungcheol katakan bahwa tulisannya boleh saja dinikmati oleh banyak orang, asal mereka tidak akan pernah tahu kalau dialah orang dibalik tulisan tersebut.
Dari sekian banyak tulisan yang Seungcheol torehkan di bukunya, ada satu bagian yang berhasil memikat hati Jeonghan, bahkan membuatnya untuk bertekad menyelipkan tulisan tersebut di akhir novelnya nanti. Selain karena memang sejalan dengan alur cerita yang ia tulis, tulisan Seungcheol itu seakan-akan dapat berbicara dan mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendam. Meskipun hanya berupa sebuah paragrag singat, namun bisa membuat siapa saja yang membacanya – termasuk Jeonghan – pasti akan ikut terhanyut dengan rangkaian kata yang ia pilih.
Ada kalanya kemudian aku menyadari
Bahwa nyatanya memang sulit untuk kuhindari
Perasaan-perasaan yang menghantui
Minta untuk selalu dibawa pergi
Lalu aku kemudian merelakan
Untuk tidak lagi terkekang
Menatap matamu yang penuh kebebasan
Rasanya ingin ikut denganmu melayang terbang
-sc
“Lagi ngapain lo?”
“Anjir ngagetin aja, kapan sampai?”
“Barusan aja. Ngapain?”
“Ini lagi bacain review orang-orang.”
“Review apa?”
“Novel.”
“Novel apa? Bagus?”
“Iya kata orang-orang bagus. Gue juga udah beli sih tapi baru baca beberapa chapter awal, emang bagus banget sih menurut gue tapi gue takut halu plus takut bias karena penulisnya emang kesukaan gue makanya gue cari ini review orang-orang, nggak taunya emang pada bilang bagus.”
Seungcheol mendekatkan dirinya ke salah satu teman dekatnya yang sedari tadi asik mengamati ponsel di genggamannya, penasaran dengan buku baru yang dimaksud oleh Wonwoo tersebut.
“Lo coba beli deh Cheol, ini beneran banyak banget diomongin orang-orang.”
“Emang iya?”
“Coba buka aja itu sosmed lo, pasti seenggaknya lewat sekali deh di timeline.”
Mengikuti saran Wonwoo, Seungcheol akhirnya membuka sosial media miliknya. Dan benar saja, belum ada lima menit ia menggeser-geser halaman beranda tiap sosial medianya, obrolan soal novel baru karya penulis Ahn muncul begitu saja menghiasi layar ponselnya. Banyak orang yang membicarakan soal novel ini, kebanyakan dari mereka memuji betapa ciamiknya jalan cerita dari novel tersebut, yang kemudian Seungcheol ketahui bercerita tentang perjalanan seseorang yang sedang mencoba untuk keluar dari zona nyamannya dengan mulai berkenalan dengan banyak orang dalam hidupnya dan ikut mencoba hobi-hobi yang dimiliki kenalan-kenalannya tersebut.
Bersembunyi di Keramaian, judul yang dipilih untuk menghiasi sampul depan novel itu ternyata berhasil menarik perhatian Seungcheol. Meski Wonwoo memang sudah meyakinkannya bahwa ia pasti akan senang dengan novel tersebut, namun jujur saja Seungcheol masih memerlukan pendapat lain tentang buku ini, terlebih ia tidak terlalu familiar dengan penulisnya.
“Ini ada kayak acara meet and greet atau ngobrolin soal bukunya waktu launching nggak sih?”
“Nggak akan ada.”
“Maksud lo?”
“Nggak akan ada acara begituan, penulisnya katanya nggak suka acara-acara begitu. Dia hidupnya tertutup banget, nggak ada yang tahu muka dia kayak gimana sampai sekarang, nama Ahn aja itu ada yang bilang nama samaran.”
“Oh iya?”
“Iya, tapi buku-bukunya selalu bagus. Semuanya tuh kayak cerita tentang perjalanan keluar dari kehidupan yang bosen, hampa gitu deh. Per judul karakter dan latarnya beda-beda ya, tapi kalau ditarik garis lurus itu karakternya semuanya struggling karena satu hal yang sama sih.”
“Kok menarik ya.”
“Udah gue bilang juga apa, beli aja. Mumpung masih banyak banget stoknya, gue yakin lo akan suka kok.”
Dalam perjalanan pulang menuju kediamannya, Seungcheol mengarahkan kemudinya ke salah satu toko buku yang beberapa kali pernah ia kunjungi sebelumnya. Tanpa basa basi, ia langsung bertanya dengan petugas disana tentang buku milik penulis Ahn yang baru saja rilis, untungnya mereka masi punya beberapa stok untuk dijual. Kalau nggak buruan ini bisa sold out mas kayaknya hari ini, ujar kasir ketika Seungcheol menanyakan antusiasme pembeli terhadap buku tersebut. Berarti memang benar, buku ini memang sedang naik daun. Meskipun demikian, Seungcheol sebenarnya tidak mau menaruh harapan terlalu besar terhadap jalan ceritanya, takutnya mungkin saja selera orang-orang berbeda dengannya, mungkin bisa saja ia menganggap bahwa buku berjudul “Bersembunyi di Keramaian” itu tidak lebih dari sebuah buku biasa yang ia baca di penghujung tahun tanpa memberikan kesan yang membekas untuk dirinya.
Namun semua anggapan itu hilang begitu saja tatkala Seungcheol memulai untuk mengalihkan seluruh konsentrasinya terhadap buku yang berada di genggamannya saat ini. Satu bab dilalui, Seungcheol semakin dibuat tenggelam oleh kisah pemeran utama novel tersebut – Samudra Cendana – yang tampil dengan kepribadian dinamis dan latar kehidupan yang cukup pelik. Pemilihan kata yang dipakai oleh penulis buku itu benar-benar tepat penggunaannya sehingga tidak terkesan berlebihan, meski beberapa adegan memang terkesan sangat berat dan mungkin bisa saja sulit untuk dipahami.
Seungcheol juga suka soal bagaimana ada penyelipan beberapa kalimat yang menjadi ‘kata kunci’ di setiap awal babnya, sebelum ceritanya dimulai. Ngomong-ngomong soal kalimat itu, ada sebagian dari rangkaian kata yang dituliskan di novel itu terasa begitu familiar baginya. Mungkin hanya perasaannya saja, toh Seungcheol juga tidak terlalu menghiraukannya. Ia justru masih asik terlarut dalam jalan cerita yang begitu mengasyikkan, rasanya seperti sedang bermain roller coaster dengan medan yang memicu adrenalin, pembaca seperti Seungcheol dibuat merasakan bagaimana emosi mereka juga ikut naik turun seiring dengan bergantinya babak kehidupan yang dilalui Samudra Cendana.
Terlalu fokus dengan novel barunya tersebut, Seungcheol bahkan tidak menyadari bahwa ia sudah sampai di bab epilogue dari cerita kehidupan Samudra. Kalau ia tidak salah ingat, Wonwoo tadi sempat bercerita kalau penulis Ahn menyelipkan satu paragraph seperti puisi singkat di bagian akhir bukunya, yang katanya seakan-akan itu adalah puisi yang Samudra tulis ketika ia kemudian berhasil berdamai dengan dirinya sendiri dan menerima orang-orang baru dalam hidupnya.
Setelah kemudian Seungcheol berhasil menyelesaikan seluruh bab yang ada di novel tersebut, matanya kemudian fokus membaca satu paragraph puisi singkat yang dimaksud Wonwoo tadi. Hampir mati dibuatnya, Seungcheol terkejut ketika membaca puisi singkat tersebut yang tak lain adalah hasil tulisan di buku jurnalnya. Ia bahkan dengan terburu-buru membuka buku jurnalnya itu untuk mencari tulisan yang ia maksud lalu mencocokkannya dengan puisi yang tertulis rapi di novel terkenal tersebut. Seungcheol kemudian juga menyadari bahwa beberapa kalimat yang digunakan di setiap awal bab dalam novel itu diambil dari beberapa hasil karya di buku jurnal miliknya, pantas saja rasanya begitu familiar untuknya.
Heran dan juga penasaram, Seungcheol membalikkan halaman novel ke satu halaman yang berisi tentang profil singkat penulis Ahn. Tentu, tidak banyak yang bisa ia dapat dari informasi tersebut, mengingat Ahn memang benar-benar tidak mau diketahui identitas aslinya. Merasa sia-sia, Seungcheol kemudian mencoba membaca halaman yang berisi ucapan terima kasih yang biasa disematkan oleh penulis di bagian belakang juga, mencoba mencari tahu siapa sesungguhnya Ahn ini dan bagaimana bisa ia menuliskan hal yang sama persis dengan tulisannya.
“Terima kasih aku ucapkan untuk seluruh keluargaku, Mama, Papa, dan Kakak yang selama ini sudah menjadi supporter terhebat untukku, tanpa kalian semua aku mungkin tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Terima kasih juga untuk tim kreatif, tim produksi, tim redaksi, dan seluruh tim di rumah produksi yang sudah membersamaiku selama beberapa tahun terakhir ini, semua ini dari dan untuk kalian. Ucapan terima kasih spesial juga aku berikan kepada seseorang yang beberapa bulan terakhir ini menjadi teman dekatku sampai kemudian sering kali menemaniku mengerjakan draft tulisan novel ini, terima kasih sudah menjadi salah satu dari bagian terbaik yang menghiasi perjalanan penulisan novel ini, you know who you are and im so thankful for you. Dan yang terakhir, terima kasih sebanyak-banyaknya untuk kalian semua, pembaca setia Ahn. Semoga yang satu ini, tidak mengecewakan.”
“Ahn… Ahn… Ahn, Han, Han… Jeonghan!”
“Hai, maaf aku telat. Habisnya kamu ajakin ketemuan dadakan banget.”
“Nggak papa, aku juga impulsif. Agak nggak ada kerjaan aja jadi bingung, sekalian pengen ketemu. Udah lama nggak ketemu kita.”
“Iya, maaf ya. Kemarin-kemarin aku sibuk banget emang, pokoknya terakhir kali kita ketemu itu aku kan langsung submit kerjaan aku ke bos aku terus langsung meeting mulu pokoknya.”
“Sekarang? Udah selesai?”
“Udah! Udah beres semuanya.”
“Bagus lah kalau gitu.”
“Kamu sendiri gimana? Jadi kapan album barunya mau rilis?”
“Kayaknya masih pertengahan tahun depan deh, kemarin ketemu sama tim di agensiku masih banyak yang harus dibenahi.”
“Yah, sedih banget.”
“Memangnya kalau sudah rilis, kamu mau dengerin?”
“Ya pasti dengerin lah! Urusan cocok atau nggak belakangan deh, yang penting aku coba dengerin dulu. Aku kan mau jadi teman yang baik, support kamu terus.”
“Makasih ya, Han”
Seungcheol tersenyum memandang Jeonghan yang mengangguk mengiyakan kalimat Seungcheol. Pertemuan mereka hari ini, Seungcheol yang pertama kali menginisiasi. Tidak lain dan tidak bukan tentu tujuannya untuk menanyakan hal yang sejak kemarin menjadi pertanyaan terbesar sepanjang hidupnya. Perihal apakah benar Jeonghan adalah penulis Ahn yang selama ini karyanya digemari banyak orang. Namun Seungcheol merasa kalau ia bertemu dengan Jeonghan dan menanyakan hal tersebut begitu saja kepada Jeonghan, takutnya nanti menganggu kenyamanan Jeonghan. Toh sebenarnya ia juga susah seratus persen yakin kalau Ahn sama dengan Jeonghan, ia hanya ingin membuktikan kepada pria itu bahwa ia berhasil memecahkan teka-teki tersebut – yang sebenarnya sama sekali tidak diminta untuk dipecahkan.
Kesempatan kali ini juga akan digunakan Seungcheol untuk menyatakan perasaannya terhadap Jeonghan. Selama ini, ia masih ragu dengan benih-benih rasa yang mulai tumbuh di dalam hatinya itu, ragu karena Jeonghan adalah orang baru di hidupnya, takutnya mereka tidak cukup mengenal baik satu sama lain untuk bisa saling mencintai dan memahami, takutnya nanti kegagalan datang menghalangi sampai kemudian memisahkan mereka, satu hal yang amat Seungcheol hindari. Namun hari ini, dengan tekad yang bulat Seungcheol akan mengungkapkan semuanya, persetan dengan bagaimana nanti Jeonghan akan bereaksi. Yang terpenting, Seungcheol ingin Jeonghan tahu bahwa ia dicintai begitu besar oleh seseorang yang betul-betul mengaguminya selama ini.
“Ngomong-ngomong Han, aku punya rekomendasi buku bagus buat kamu. Novel baru, kemarin aku juga direkomendasiin sama temanku.”
Jeonghan agak tegang seketika, cukup was-was dengan pergerakan Seungcheol yang sedang mencari letak novel tersebut di dalam tasnya. Intuisinya mengatakan bahwa Seungcheol pasti akan mengeluarkan novel terbaru miliknya, meski sedikit bagian dari hatinya berharap bahwa feelingnya kali ini salah. Pasalnya, tadi Jeonghan berangkat dengan perasaan senang dan penuh ketidaksabaran bertemu dengan Seungcheol yang sudah beberapa minggu terakhir ini tidak bertukar kabar dengannya karena aktivitas mereka, berharap bahwa pertemuan mereka hari ini tidak lebih dari sekedar momen-momen yang biasa mereka habiskan selama ini. Namun kini, jantung Jeonghan berdegup kencang sekali tatkala matanya menangkap novel miliknya disodorkan oleh Seungcheol ke hadapannya, persis seperti apa yang nuraninya sudah rasakan tadi.
“W-wah… kamu udah baca?”
“Udah, makanya aku saranin kamu buat baca juga.”
Jeonghan mengangkat novel itu dari meja, masih dengan debaran jantung yang tak karuan dan berusaha mati-matian agar tidak terlihat canggung dan gugup di depan Seungcheol. Meski sebenarnya ia paham, Seungcheol pasti sudah tahu bahwasanya ia adalah penulis Ahn.
“Coba buka deh Han, itu bab awal aja udah menarik banget.”
Dengan gerakan lambat dan penuh kehati-hatian, Jeonghan membuka novel yang ia tulis tersebut. bersiap-siap akan kemungkinan terburuk yang mungkin saja bisa terjadi. Barangkali Seungcheol akan marah kepadanya karena menyelipkan tulisannya begitu saja ke dalam cerita yang ia tulis. Namun betapa terkejutnya Jeonghan ketika secarik kertas post it yang ditempelkan tepat di halaman pertama bab satu justru menyambutnya. Jeonghan membaca tulisan yang tertera di kertas tersebut, ketika sampai di ujung kalimat, mata Jeonghan mulai berkaca-kaca.
“Thank you for including me in your best part. So, would you be my forever best part?”
Ketika Jeonghan menurunkan buku dari pandangannya, ia menangkap kehadiran sekotak perhiasan terbuka lebar di depannya dengan sebuah cincin di dalamnya. Air mata yang semula berada di pelupuk matanya kini turun begitu saja membasahi pipinya.
“Seungcheol…”
“Jeonghan, aku tahu mungkin ini rasanya terlalu buru-buru banget tapi aku nggak maksa kamu untuk bisa bales perasaanku. Yang penting, aku mau kamu tahu kalau aku sayang sama kamu Han, lebih dari sayangnya seorang teman, aku sadar beberapa bulan terakhir ini kita kenal ada perasaan lebih yang mulai muncul di hatiku ke kamu. Kalau memang dibolehin, aku mau tunjukkin ke rasa sayangku ke kamu, mulai dari sekarang. Cincin ini anggap aja sebagai promise ring dari aku ke kamu.”
Alih-alih menjawab kalimat yang dilontarkan Seungcheol, Jeonghan justru bangkit dari duduknya dan menghampiri Seungcheol. Seungcheol yang dibuat terkejut dengan tindakan Jeonghan barusan malah semakin dibuat terkejut tatkala Jeonghan menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Seungcheol. Pria itu tidak lagi memperdulikan tatapan mata pengunjung kafe yang memandang mereka dengan berbagai pandangan. Yang terpenting saat ini adalah ia ingin Seungcheol dapat juga merasakan perasaan dan isi hatinya selama ini.
“Han…”
“Aku juga sayang sama kamu, lebih dari sayang ke teman. Kata siapa aku nggak mau balas perasaan kamu, aku selama ini juga ngerasain yang sama kok.”
“Jeonghan…”
“Tapi pelan-pelan ya Cheol, nggak segampang itu buat aku bisa jalin hubungan apalagi sama orang yang baru aja kenal. Pelan-pelan ya sama-sama kita saling kenal dan saling paham satu sama lain.”
Seungcheol kembali menarik Jeonghan ke dalam pelukannya. Ia meninggalkan kecupan-kecupan singkat di pucuk kepala Jeonghan, tanda terima kasihnya kepada pria itu karena telah menerima pernyataan cintanya yang kelewat picisan tersebut.
“Thank you, Jeonghan. Aku sayang banget sama kamu, Han.”
“Aku juga, terima kasih untuk semuanya, Seungcheol.”
