Work Text:
“Ini adalah kertas pencarian terakhir”
Wriothesley merenggangkan punggungnya seselesai ia menyudahi tugasnya. Ia baru saja mengelem kertas pencarian dari seorang buronan Fontaine ke dinding bata. Ia tidak percaya detektif sepertinya harus bekerja hal seremeh ini. Tapi mau mengeluh bagaimana, tidak ada tugas penting di kantor saat ini, membantu para polisi muda seperti Kiara dan yang lainnya bisa melepas rasa bosannya.
Ia memandang wajah buronan di kertas yang lecak itu. Tertulis nama Arlecchino, seorang ketua mafia yang sudah besar reputasinya. Wajahnya tegas, penuh dengan pandangan tajam. Untuk ukuran seorang wanita, ia memiliki paras yang maskulin dan rupawan, namun dapat mengintimidasi siapa pun. Bahkan Wriothesley tidak sadar bahwa ia menghabiskan batang rokoknya hanya untuk menilai penjahat licik yang tergambar di kertas yang baru saja ditempelinya.
Mengapa semesta memilih menyembunyikan wanita kejam ini? Mungkinkah ia tenggelam di antara kerumunan, atau malah menyembunyikan diri di bawah tanah? Seakan telah mengubur dirinya sendiri hingga tak dapat ditemukan.
Wriothesley tidak akan pernah menyerah hingga menemukannya, meski sudah dua bulan kasus ini berlangsung tanpa ada kemajuan berarti. Semangatnya untuk menjadikan jalur keadilan terus terpupuk, bahkan dalam bayang-bayang kegelapan yang tersembunyi di balik nama Arlecchino.
“Pak Detektif! Woah.. ternyata benar disini.”
Wriothesley menoleh, segera membuang rokoknya sebelum Kiara melihatnya.
“Kiara, ngapain kamu kemari? Kan saya bilang nanti saya menyusul.”
“Bapak nyusulnya kapan? Daritadi bengong aja. Bapak udah ditungguin loh sama anggota lain.”
"Ya, ya. Aku segera kesana, bawel sekali." Wriothesley melambai tangan, mengusir Kiara untuk meninggalkannya.
Kiara hanya terkekeh lalu pergi.
Wriothesley menghela napas. Hari itu berakhir begitu saja hanya untuk menempel semua kertas pencarian ini, sambil membicarakan kekecewaannya. Ini akan terus berlangsung sampai hari berikutnya, memberi siklus yang menyedihkan untuk pekerjaannya. Ia akan menjadi tua kalau terus stres menghadapi masalah ini.
Namun, ia baru menyadari sesuatu. Ia terlalu tenggelam akan rasa kecewa, sampai billboard di sampingnya pun ia tidak kasih perhatian. Billboard yang tidak menampilkan iklan biasa, ataupun tawaran basa basi tidak berarti.
Yang ia lihat adalah sosok pria itu. Wujud yang menyapu frustasi dan membuatnya hampa sejenak. Wajah rupawan yang diukir oleh ciptaan Tuhan dengan sangat indah. Pose sederhana, sibakan rambut panjang sebersih permata, mencium bunga warna azure seindah surainya.
Wriothesley menatap lama, netranya berbinar. Ia tidak pernah melihat lelaki secantiknya, yang sanggup membuat laki-laki lurus pada dirinya berdegup kencang semalaman.
Mereka pernah bertemu. Tidak . Ia pernah dengar suara paraunya dari sambungan telepon. Sudah pernah melihat wajahnya, namun tidak segar seperti penampilannya yang terpancar dalam mahakarya ini. Yang ia pernah lihat adalah foto wajahnya yang lemah, terluka, dan ketakutan. Seseorang menunjukkan fotonya 2 bulan lalu.
Namanya Neuvillette, dia menjadi salah satu saksi kejahatan yang dilakukan oleh Arlecchino. Saudarinya pernah hampir diserang, masih trauma hingga saat ini. Neuvillette menjadi korban penyekapan untuk menggantikan saudarinya.
Kau harus melakukan investigasi melalui dirinya. Tapi, ia adalah seorang model yang kini rehat.
Oh satu lagi, ia tidak bisa melihat.
Tangan Wriothesley terkepal keras sehingga buku-buku jarinya timbul memerah. Laki-laki itu menunjukkan senyum paling indah dengan paras yang tampak sempurna, namun kesempurnaan itu didapatinya dari kegelapan, k arena ia tak bisa melihat. Kenapa Wriothesley tidak pernah menyadari sisi lain pria malang itu sampai saat ini?
Ia merogoh sesuatu di kantungnya, kemudian menyulut rokok. Matanya tak lepas memandangi Neuvillette. Ada kesesalan dalam hatinya.
Bagaimana cara aku bisa membuatmu tersenyum lagi seperti ini?
Apakah dengan aku membakar nyawa Arlecchino dan semua anteknya? Haruskah aku menghakimi perbuatan mereka dengan tanganku sendiri hingga ke neraka?
Aku ingin membawakan cahayamu kembali..
Wriothesley berceloteh dalam kesunyiannya sendiri. Hati kelabunya begitu keras ingin mencengkram siapapun yang melukai lelaki malang itu. Ia ingin melukai, menumpah darah dalam genggamannya sendiri sebagai ganti dua mata Neuvillette yang telah mereka raib.
Asap rokok mentol mulai mengepul pekat di udara, menyatu dengan kegelapan malam. Wriothesley berusaha meredam amarah yang berkobar di dalam dirinya, menyadari bahwa tindakan impulsif tidak akan membawa keadilan yang sejati.
"Kasus ini memang sangat memilukan untukmu, bukan?" gumamnya dalam kesunyian malam, pandangannya mencerminkan rasa sedih. "Namun, membawa diri ini terlalu jauh hanya akan menciptakan lingkaran kekerasan tak berujung. Aku takut suatu saat nanti kau yang akan terluka oleh tanganku sendiri."
Perlahan, Wriothesley meniupkan asap rokoknya lagi ke udara, seakan melepas tekanan di dadanya. Ia tahu bahwa sebagai seorang detektif, tanggung jawabnya adalah menegakkan hukum dengan cara yang benar, bukan dengan menjadi bagian dari kekerasan yang ia benci.
"Hati saya mungkin ingin membalas, tetapi itu bukan jalan yang benar," pikirnya. "Mungkin ada cara lain untuk membawakan cahayamu kembali.”
Selanjutnya ia mengeluarkan HP-nya dari kantung celana, ia mengetik sesuatu di layar dengan lincah. Nomor dihubunginya.
“Halo. Ya, ini Wriothesley.” Tatapannya lurus, mengunci pada kedua mata Neuvillette yang tertutup dan bulu matanya yang panjang itu. “Aku menghubungimu kembali. Nada bicaramu semakin lembut saja semakin hari. Ya, maaf kalau aku menggodaimu, tapi aku serius.
Aku tahu kau menolak kehadiranku untuk bertanya tentang kasus itu. Aku mengerti.
Tapi aku tidak datang sebagai detektif. Sungguh. Jangan senewen, aku bisa merasakannya.
Aku ingin bertemu dengannya sebagai teman. Tidak ada mantel detektif, hanya hati seorang teman yang ingin memahami.”
Wriothesley sambil menyandarkan dirinya pada dinding, merenungi langkah baru yang diambilnya. Ia yakin bahwa dengan mendekati Neuvillette sebagai teman, hubungan mereka bisa menjadi lebih mendalam dan mungkin membuka pintu pada rahasia yang selama ini tersembunyi.
Dengan tekad seperti ini, ia merasakan perbedaan dengan beban percakapan mereka. Rasa yang hangat, dan membuka pintu baru dari perasaan yang Wriothesley tidak sadari. Rasa ingin tahu dan keinginan untuk memahami lebih dalam tentang Neuvillette sebagai individu, bukan hanya sebagai subjek kasus, mendorongnya untuk membuka pintu ke dunia personal yang mungkin belum terjamah.
Oh, ini sangat berbahaya. Ternyata, membelot dari kasus sudah jadi keahliannya .
Ia tersenyum dengan setiap ucapan yang Neuvillette katakan padanya. Kepalanya hanya mengangguk-ngangguk mengungkapkan pengertiannya. Setiap ucapan dari Neuvillette memberikan arti baru pada pertemuan mereka. Wriothesley, yang selama ini terbiasa dengan ketegangan dan misteri, menemukan kedamaian dalam setiap kata yang diucapkan teman barunya itu. Ada sesuatu yang istimewa dalam kehadiran Neuvillette yang mampu mengubah dinamika hubungan mereka.
“Baiklah. Terima kasih atas pendapatmu, Neuvillette. Aku akan datang ke rumahmu? Oh, tidak. Bagaimana kalau kencan? Aku mau ajak kau malam minggu ini mendengarkan orkestra klasik dan makan malam. Hey! Aku tidak menyimpan maksud lain, sungguh. Aku tidak bertanya tentang kasus itu, tapi aku pasti akan terus mencari tahu tentang Arlecchino.
Percaya padaku.”
Tidak ada jawaban di seberang sana. Hanya helaan napas yang menggelikan pendengaran Wriothesley.
“Kau setuju jika aku ajak kencan? Bagus! Neuvillette kau harus sering tersenyum bersamaku. Aku ingin melihatnya. Itu jadi obatku agar tidak menyerah dalam kasus ini.
Hey, bahkan kau cemberut bisa jadi motivasiku, tenang saja. Hahaha..”
Wriothesley memberikan lambaian pada Kiara yang muncul lagi dengan tergesa-gesa dari arah lain, menyuruhnya cepat kembali.
Wriothesley tidak menyudahi percakapannya dengan Neuvillette, sambil meninggalkan posisinya. Ia selesai mengagumi karya bisu di billboard kota itu, tetapi tidak berhenti memuja wujud nyata Neuvillette yang berbicara di teleponnya.
.
.
.
.
.
.
END.
