Work Text:
tentang latihan jadi manusia, mahito belajar satu dan dua hal. menangis ketika lihat hal-hal sedih, tertawa ketika dengar guyonan yang katanya lucu, dan jangan takut untuk teriak ketika hal yang menakutkan terjadi.
mahito belajar kalau manusia tidak serumit yang ia kira. tapi juga tidak sesederhana yang ia harapkan. tentang seimbangkan emosi, akal, dan tindakan; mahito masih catat satu-satu hal yang harus ia hafal.
toh, ini kali pertamanya disebut manusia.
ia belajar kalau memesan sepotong roti lapis di tengah keramaian bisa buat jantungnya berdetak lebih cepat, dan keringatnya jadi bercucuran. tapi saat pelayan di balik kasir menunggunya dengan sabar, rasa cemasnya juga ikut reda. lucu, ya?
ia juga belajar kalau manusia suka sekali renungkan tentang mimpi. di hari pertamanya masuk sekolah menengah, ia dengar 'teman-temannya' sebut ingin tumbuh jadi orang yang bermanfaat, jadi nomor satu di dunia, dan jadi orang-orang hebat lainnya.
kalau kalian tanya mimpi mahito jadi apa, jawabannya selalu sama: jadi manusia. biasa saja pun tak masalah.
"kalau mas kento, waktu kecil ingin jadi apa?"
namanya nanami kento. di kehidupan sebelumnya, nanami kento gugur di medan perang dengan bawa wibawa yang luar biasa kerennya. di kehidupan sebelumnya, mahito yang buat nanami kento kehilangan nyawa.
nanami kento di kehidupan sekarang tidak ingat. tidak apa. tuhan sedang baik dan biarkan pria ini akhirnya bisa istirahat.
mahito tetap ingat karena takdir buatnya begitu. tidak apa. ini hukumannya.
"saya? hm, mungkin pilot," nanami kento menimang jawabannya.
"wah, standar sekali," decak mahito.
suara tawa nanami kento hiasi ruang privat yang mereka pesan. tujuh bulan lalu, nanami kento diminta suguru untuk jemput kenalannya di bandara. empat bulan lalu, mahito diusir dari apartemennya dan menumpang tinggal di bawah atap rumah kento. tempat yang paling dekat dengan tempatnya bekerja paruh waktu, ucap mahito dulu.
beberapa jam yang lalu, rumah kento mati listrik. karena bisa ganggu pekerjaan mereka berdua, kento ajak mahito untuk sewa kamar di penginapan terdekat.
dua kamar, sebenarnya. mahito hanya sedang bosan karena tugas magangnya telah selesai, dan memilih merusuh di kamar kento.
"kalau aku," mahito memulai lagi. "aku mau jadi orang baik."
kento tutup layar laptop ketika ia selesaikan laporannya untuk hari ini. kacamatanya dilepas, tatapannya fokus menatap mahito yang duduk bersila di hadapannya. satu cangkir keramik berisi kopi hitam diaduknya pelan.
"orang baik yang ketika diberikan pilihan apapun, tetap pilih hal yang benar," mahito menerawang. "orang baik yang tidak kutuk orang lain atau keadaan ketika neraka jatuh ke dunia. orang baik yang mimpinya sediakan tempat paling aman untuk anak-anak bisa tumbuh dewasa,"
"terdengar seperti hal yang melelahkan,"
"aku tahu. tapi orangnya sungguhan ada, lho."
usianya dua puluh dua, itu yang kento ingat dari ucapan suguru. enam tahun di bawah mereka. habiskan waktunya di luar negeri untuk sekolah, dan kembali pulang untuk lanjutkan hidup walau tanpa dukungan keluarga.
cukup muda untuk punya mimpi paling tinggi yang pernah ada, dan belum cukup tua untuk rasakan lebih banyak mimpi yang nanti akan dipatahkan dunia.
"semoga beruntung, kalau begitu," balas kento. "tanpa semua kriteria yang kamu sebut pun, mahito sudah jadi orang paling baik yang pernah saya kenal."
malam ini, rambut panjang mahito yang biasanya digerai bebas sedang diikat menjadi satu. tanpa halangan, kento bisa lihat telinga mahito yang semakin lama semakin merah. lalu, ia dengar mahito tertawa lepas.
ucapannya aneh, ya? mungkin benar kata shoko; ia harus lebih banyak berbincang dengan anak muda, cari tahu apa yang sekarang mereka suka. mungkin, semua caranya sudah kadaluarsa.
"mas kento bisa aja," ungkap mahito, masih tertawa. "nanti kalau aku sungguhan suka, gimana?"
kento hanya membalas dengan tertawa kecil. mungkin kalau mahito lima tahun lebih tua, kento akan balas ucapannya dengan serius. tapi, mahito masih dua puluh dua. terlalu muda, masih terlalu sering bercanda. mungkin kalau usia mereka lebih dekat, semuanya bisa jadi baik-baik saja.
"sudah larut, mau di sini sampai kapan?"
setelah diam cukup lama, mahito hanya menaikkan bahunya. ia menatap kento dengan jenaka lalu berucap, "sampai mas kento resmi dua puluh delapan!"
lima belas menit lagi, nanami kento tiba di usia yang tidak pernah ia lalui. di kehidupan sebelumnya, hidup nanami kento tidak bisa lewati tahun ke-dua puluh tujuh. entah akal-akalan siapa, di putaran kehidupan sekarang, mahito punya kesempatan untuk lihat nanami kento bertambah tua.
"oh? tahu dari mana?"
mahito ingat karena itu bagian dari hukumannya. seperti bagaimana ia ingat kata-kata terakhir nanami kento untuk itadori yuuji (yang mungkin belum lahir di kehidupan ini). usianya hanya dua puluh tujuh, mahito ingat betul.
"dari om suguru. titip salam, katanya." sebuah kebohongan, tentu saja.
"suguru bakal marah kalau terus-terusan kamu panggil 'om', mahito."
"gakpapa. biar sadar diri."
lalu, tengah malam datang. mahito rayakan nanami kento sengan bersulang minuman soda rasa jeruk nipis. layanan ruangan yang ia pesan juga datang tepat waktu. tidak ada alkohol karena kento tidak akan izinkan, tapi penuh dengan variasi roti lapis yang harusnya dimakan sebagai sarapan.
usia nanami kento hari ini dua puluh delapan. takdir buat mahito hadir untuk lihatnya bertambah tua.
mungkin, tahun depan, kalau takdir masih izinkan, mahito akan sungguhan hadiahkan kento dengan tiket liburan ke kuantan.
kalau diberikan kesempatan, mahito juga ingin lihat akhir dari versi dunia yang sudah bosan sakiti nanami kento, dan buatnya bisa hidup lebih lama.
