Actions

Work Header

the perks of being a rockstar’s boyfriend

Summary:

“artisku kenapa tiba-tiba nggak mood tampil gini?”

“belum dicium gyuvin.”

or, gyuvin just want to get his job done, and ricky wants his daily kisses because he is a clingy boyfriend. it doesn’t matter though, gyuvin likes him that way.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

sudah ada enam panggilan suara tidak terjawab di notifikasi ponsel gyuvin ketika shen quanrui berdiri di hadapannya seperti malaikat yang baru menemukan jalannya ke bumi. rambut ricky berkilau dari keringat dan bass-nya masih ia bawa di punggung. di belakang panggung pentas seni dengan penerangan yang seadanya, ricky tidak berhenti terlihat seperti bunga tidur yang jadi nyata.

 

“meng,” panggil gyuvin. nadanya lembut dan kontras dengan dentuman pengeras suara yang memekakkan. ”kamu bukannya harusnya tampil dua puluh menit lagi?”

 

ponsel gyuvin bergetar lagi di saku celana. namun, di hadapan gyuvin saat ini ada ricky yang mencebikkan bibirnya persis seperti kucing merajuk. ricky menuntut atensi dan apalah gyuvin kalau bukan remaja biasa yang terlampau payah kalau berurusan dengan cinta. jadi gyuvin mengabaikan ponsel itu sekali lagi untuk mengikis jaraknya dengan ricky. kalau ricky lelah dan minta disayang-sayang, telapak tangan gyuvin siap jadi penopang.

 

pipi ricky lebih lembut dari bakpau manapun yang pernah gyuvin pegang. ricky masih cemberut dengan wajah di tangkupan tangan gyuvin dan lengan ricky yang melingkar di pinggang gyuvin. gyuvin pikir ricky mirip sama dimsum yang kemarin mereka habiskan berdua.

 

“capek,” kata ricky. “banyak orang. nggak suka. aku nggak kenal.”

 

“mau aku bantu kenalin ke temen-temenku nggak, sayang?”

 

ricky menggeleng. “nggak mau. capek. gyuvin nggak bisa temenin aku aja di panggung?”

 

permintaan nggak masuk akal, gyuvin tau. kepala divisi humas seperti dia jelas nggak punya urusan untuk ada di atas panggung. tapi ini ricky yang minta dan sejenak gyuvin betulan berkontemplasi untuk nego pada jeongwoo si kepala divisi acara andaikata dia nggak punya cukup akal sehat. 

 

gyuvin ketawa pelan. “nggak bisa dong, meng. artisku kenapa tiba-tiba nggak mood tampil gini?”

 

“belum dicium gyuvin.” intonasi ricky mendayu dan lesu seolah sumber tenaganya betul-betul bergantung pada gyuvin seorang. 

 

semua orang suka ricky yang ganteng dan percaya diri di atas panggung. yang nggak mereka tau adalah bagaimana ricky sebetulnya nggak begitu menikmati seluruh puja yang ia dapatkan kecuali mata gyuvin ada di antara sekian banyak tatapan manusia yang memperhatikan. gyuvin boleh tampak lebih diperbudak oleh cinta, tetapi ricky juga remaja yang sama bodohnya kalau sudah terlanjur suka, maka di sinilah mereka. di belakang panggung pentas seni sekolah dengan lampu yang samar-samar adanya, gema dari pengeras suara dan redu redam percakapan di keramaian, dan ricky yang enggan membiarkan gyuvin pergi untuk kembali bertugas sebagai panitia inti yang punya kewajiban. 

 

jemari ricky kecil dan menjepit kaus gyuvin yang sudah basah kuyup hasil mondar-mandir. baju panitia itu sudah penuh peluh tetapi ricky nggak peduli dan tetap mau peluk. tangan gyuvin berpindah mengelus leher belakang dan puncak kepala ricky ketika si kucing itu memilih menyenderkan dahi dan kepala di pundak gyuvin.

 

“gyuvin wanginya ganteng,” ujar ricky. 

 

“ricky wangi stroberi.” lalu gyuvin daratkan satu ciuman ringan di pelipisnya. “udah dicium. sekarang balik ke panggung, ya? anak aku nyariin kamu, tau. masa artisnya kabur buat pacaran?”

 

gyuvin nggak bohong kalau dia bilang dia mau mati karena gemas sebab sekarang ricky semakin mengecil lantas menenggelamkan diri di pelukannya. 

 

“maunya pacarannnnn.”

 

“iya, aku juga maunya pacaran sama meng kecil,” gyuvin terkekeh. ”tapi kan kucingku ini harus tampil ganteng dulu di atas panggung? lagu apa kemarin? lagunya maliq, ya?”

 

“gyuvin harus nonton,” perintah ricky. 

 

“gyuvinnya selalu nonton, kok.”

 

“kalau aku nggak lihat gyuvin di kerumunan nanti aku turun panggung.”

 

“iyaaa nanti aku print foto kamu terus aku angkat tinggi-tinggi di tengah penonton.”

 

pada yang satu itu, ricky tertawa. “kayak dukung idol kpop.”

 

“genre musik kamu kan emang kpop?” balas gyuvin. ”kesayanganku pop.”

 

ricky nggak menyangka pacaran sama virgo berarti harus dengar gombalan nggak nyambung kayak gini. “asbun banget ih anjing ya.”

 

gyuvin nyengir hingga matanya berbentuk bulan sabit. “ya udah, kucing pop.”

 

“aku ngeong di panggung,” ricky mengancam. 

 

“oke berarti balik ke panggung sekarang, ya.”

 

“aaaaa nggak mauuu???”

 

terus dua lengan ricky yang udah mengikat perut gyuvin itu rasanya makin erat. kepalanya menggeleng kuat tanda penolakan berat.

 

gyuvin pun nggak menyangka kalau ricky akan semanja ini waktu jadi pacarnya. nyatanya, gyuvin juga pernah termakan omongan kalau ricky itu dingin karena beda strata dari mereka semua dan rumornya cuma betah main sama yang setara. siapa yang akan kira kalau ricky lebih suka digonceng vario gyuvin dan terima-terima aja kalau gyuvin cubit pipinya di depan kelas dan selalu mau gyuvin berikan dia afeksi walau bentuk sayangnya cuma cium pipi serta satu kotak susu stroberi. 

 

waktu gyuvin melihat layar ponselnya lagi, sudah ada sembilan panggilan terabaikan dan sepuluh menit terlewatkan.

 

“sepuluh menit lagi naik panggung, loh,” peringat gyuvin. “aku harus apa biar ricky mau tampil?”

 

“kan tadi aku udah minta cium, gyuvinnya gombal mulu.”

 

“bibir aku bau rokok, meng. tadi sebatang ditawarin anton.”

 

harusnya gyuvin sudah paham ricky itu keras kepala. “tetep mau dicium.”

 

“tadi udah dicium kan?”

 

“kurang lah!” protes ricky. “minimal satu muka.”

 

gyuvin nggak gombal jika ia bilang ia bisa habiskan satu jam setiap hari hanya untuk memuji lekuk-lekuk wajah ricky. ketika ricky memundurkan kepala, gyuvin kembali raih kedua pipinya dan daratkan kecupan di dahi. lalu di pelipis, di bawah pelipis dan sedikit terhalang poni, dan di sisi satunya lagi. ricky memejamkan mata tatkala bibir gyuvin mampir di kelopaknya yang bertabur riasan jingga.

 

ricky suka gyuvin yang selalu menyentuhnya dengan hati-hati dan tidak tergesa tidak peduli sesedikit apapun detik yang mereka punya. beban di kepala ricky melebur begitu gyuvin mencium spasi di antara kedua alisnya, turun hingga ke pangkal hidungnya dan puncak hidungnya lalu singgah di situ lebih lama dari spot-spot lain yang telah ia kecupi. ricky yakin foundation make up yang dia pakai sudah crack dan luntur tetapi gyuvin nggak protes apa-apa saat cium kedua pipinya berulang kali. garis rahang ricky nggak luput dari presensi ciuman gyuvin, kembali ditelusur dari ujung ke ujung di kedua sisi. berikutnya, dagu ricky. lalu gyuvin pindah ke titik paling jauh yaitu puncak kepalanya yang sedari tadi tak gyuvin sentuh. 

 

gyuvin berikan pelukan kencang di akhir dan mengusak rambut ricky.

 

all done, princess. dicium satu muka.”

 

ekspresi ricky seolah-olah dia dikhianati. “belum ih, gyuvin.”

 

gyuvin menikmati ini semua. ricky yang merengek dan banyak minta. ricky yang selalu menuntut untuk dicinta. ricky yang sekarang matanya berkaca-kaca karena gyuvin pura-pura nggak memahami apa yang dia pinta. 

 

“katanya satu muka?”

 

“ada yang ketinggalan...” rengekan ricky persis kayak kucing yang mengeong melas. 

 

“apa yang ketinggalan?” tanya gyuvin balik. 

 

saat ricky memilih untuk diam sembari merengutkan wajah, gyuvin meninggalkan satu ciuman di dahinya lagi. 

 

verbal consent, sayang.” gyuvin berujar lembut. “apa yang ketinggalan, aku tanya?”

 

“bibirnya,” cicit ricky pelan. “bibirnya belum.”

 

“ricky mau dicium di bibir?”

 

“mau...” cicit ricky. “yang lama...”

 

bassist band sekolah ternyata manja. gyuvin mengabulkan. lengannya menarik pinggang ricky lebih dekat, nggak peduli gimana bass di punggung ricky menindih dan terasa berat. dari jarak seminim ini, intimasi yang sudah ada meningkat berkali-kali lipat. bibir ricky oranye pucat seperti buah peach dan gyuvin akan selalu dengan senang hati mengubahnya jadi merah stroberi. waktu kedua bibir mereka bertemu, ricky terkesiap kaget dan menarik napas. dua tangannya yang kaku di pundak gyuvin kian melemas begitu gyuvin menekan bibir tebal mereka berulang-ulang. ricky sepenuhnya meleleh waktu gyuvin hisap bibir bawahnya dan tinggalkan gigitan pelan, sebelum akhirnya dia ketuk mulut ricky lagi supaya membuka sehingga gyuvin bisa libatkan lidah mereka. 

 

mulut ricky asam dari jus jeruk bawaan makanan konsumsi dan sedikit manis dari permen yang selalu dia kunyah karena disediakan di kantong celananya. gyuvin selalu ketagihan dibuatnya. dari sekian banyak kegiatan mereka yang ini, gyuvin tau lidah ricky paling sensitif di bagian bawah agak samping, maka dia daratkan tekanan di sana agar ricky tak betah tahan desah. ricky melenguh, cengkramannya berpindah ke rambut belakang gyuvin yang sudah lepek seharian. remang lampu balik panggung dan resiko ketahuan yang tidak bisa mereka pungkiri justru buat ricky makin kecanduan. telapaknya mendorong kepala gyuvin mendekat dan ciuman mereka jadi jauh lebih dalam sampai gyuvin mampu menyentuh baris-baris gerahamnya. 

 

ricky nggak akan mengelak kalau tangannya gemetar parah. sekujur tubuhnya, malah. ciuman dengan gyuvin selalu berhasil mencabut tiap sekuens napasnya satu persatu. titik-titik yang gyuvin raih selalu presisi dan penuh afeksi. 

 

“gyuvin!—hhhh,” ricky nggak punya kuasa kecuali mendesah ketika gyuvin putuskan untuk lepas tautan bibir mereka dan beralih ke spasi kosong di ceruk lehernya. 

 

just like a puppy he is, gyuvin licks and bites. a small licks and bites that will leave no trace but surely able to leave ricky breathless in a haze. gyuvin tau kalau dia nggak boleh tinggalkan jejak apa-apa, tapi dia nggak tahan. 

 

“gyuvin,” rengek ricky lagi. “bibir lagi.”

 

diperintah ricky dengan lembut begini, gyuvin nggak masalah kalau eksistensinya direduksi jadi sekadar anjing penurut. kali ini gyuvin gigit bibir ricky atas bawah sampai ricky nggak sengaja selipkan paha ke selangkangannya—yang mana bikin paha gyuvin juga ada di posisi yang sama di tubuh ricky. satu tekanan ke celah itu dan ricky mendesah hingga mendongakkan kepala, memutus ciuman mereka lagi. 

 

gyuvin nggak bodoh untuk paham kalau mereka hampir melewati batas yang nggak seharusnya mereka lampaui di ruang publik. 

 

“udah,” titah gyuvin final. 

 

gyuvin menyaksikan ricky yang lidahnya masih sedikit keluar dan rentetan saliva entah milik siapa di sekitar dagunya. jempol gyuvin membersihkan bekas itu sebelum dia jilat sendiri. gestur yang seharusnya menjijikkan kalau ricky nggak kepalang sange dan malah makin ingin lebih, tapi kan mereka di belakang panggung pensi.

 

“gyuvin,” ricky membenarkan posisi bass-nya di punggung. “nanti mau lagi.”

 

“nanti pasti aku kasih lagi,” janji gyuvin. “sekarang kamu ke minji, ya. terus tampil. just own the stage like you usually do, kucing.”

 

you own me, though.” 

 

gyuvin terkekeh. “i know, bayi.”

 

ricky cium pipi gyuvin sebelum berbalik badan dan pergi, hanya untuk berputar lagi menghadap gyuvin yang masih memandanginya hingga hilang dari jarak pandang. suara ricky kecil waktu bertanya, “do you think i’ll do well?

 

you will. you always do.” ucapan gyuvin terdengar seperti kepastian yang ricky butuhkan.

 

“gyuvin tonton aku.”

 

“iya, sayang.”

 

promise me?

 

”janji,” gyuvin lambaikan tangannya. senyum gyuvin menenangkan, kayak jangkar yang ricky perlukan di tengah kepalanya yang terombang-ambing. “i will be there, my rockstar.”

 

okay,” ricky tersenyum. lega. “okay. dadah gyubing.”

 

ricky berlari ke panggung dan gyuvin berlari ke kerumunan penonton. ada sebelas panggilan yang gyuvin abaikan dan hanya ia respon dengan satu pesan, “ricky aman ya, otw panggung.” panggilan-panggilan itu bisa gyuvin lewatkan namun nggak dengan ricky yang kini bersinar dihujani cahaya lampu sorot dan sorak sorai riuh namun matanya berhasil menemukan gyuvin di ujung kerumunan. 

 

gyuvin acungkan jempolnya dan ricky tercengir lebar sekali seiring musik dimulai. his rockstar, indeed.

Notes:

GYUICKY JANGAN PUTUS GYUICKY.... BANGKIT GYUICKY.... PIMPIN NEGERI INI LAGI.....