Work Text:
"Meoow~"
Suara dari makhluk lembut berbulu menghentikan langkah kaki gadis berpakaian kebiruan itu. Di tengah dinginnya malam, hanya ada cahaya dari lampu remang jalanan. Furina, sang Archon Hydro yang telah turun tahta, berjongkok dan memancing perhatian hewan kecil itu.
"Miaw? Hei kamu lapar? Oh, sayang sekali. Dari semua bahan makanan yang baru saja kubeli, aku nggak beli apapun yang bisa kamu makan. Maaf ya, tokonya juga barusan tutup."
Furina diam di tempatnya, memandangi kucing berbulu lebat itu dari jarak yang tak begitu dekat.
"Oh! Kamu pasti kesepian, yakan? Mau aku temani sebentar? Tapi jangan cakar aku, oke?"
Furina mendekat secara perlahan, memusatkan seluruh perhatiannya ke makhluk kecil yang tampak tak menghiraukannya.
"Ooh, kucing kecil yang malang. Kamu beruntung karena aku punya waktu luang yang cukup untuk main-main denganmu. Kamu tau, gini-gini aku direktor yang sibuk loh!"
Saat Furina ingin menggapai kucing tersebut dengan tangannya, sekilas memori buruk muncul di kepalanya. Nafasnya tiba-tiba memburu, menghentikan keinginannya untuk mengelus hewan itu.
Gadis itu sendirian.
Di tengah kegelapan malam.
Bersama dengan seekor kucing.
Lalu—
"Merasa nostalgia, Nona Furina?"
Suara familier yang tiba-tiba terdengar di keheningan malam mengagetkan gadis itu.
"HIII—" Furina tersentak. Ia menjatuhkan tubuhnya ke arah samping, membuat kucing yang di dekatnya berlari ketakutan.
Di kursi tak jauh darinya, sosok menakutkan dengan jubah hitam dan kuku tajamnya sedang duduk memperhatikan gerak-geriknya.
"T-The Knave..." lirih Furina saat menyadari identitas sosok itu. Ia menggenggam visionnya erat. Jikalau perlawanan adalah sesuatu yang monster itu inginkan, maka Furina siap menunjukkan kemampuannya.
"Meoow~"
Suara lembut dari kucing itu membuyarkan perhatian kedua wanita yang saling mengunci pandang.
"Oh? Kembali juga kamu?" The Knave mengeluarkan catnip yang ia bawa, membuat kucing itu melompat ke pangkuannya.
"Ha?" Furina merasa dongkol melihat pemandangan yang baru saja terjadi.
The Knave? Monster mengerikan yang berhari-hari menjadi mimpi buruk Furina? Mengelus-elus kucing dengan penuh kasih?
Melihat keheranan Furina, wanita dengan jubah hitam itu membuka suaranya. "Neko— maksudku, kucing ini merupakan kucing peliharaan salah satu anak di House of Hearth. Dia hilang sejak ramalan itu terjadi, jadi anak-anak pikir dia hanyut dan kehilangan nyawa. Setidaknya, itu yang kami pikirkan sampai aku tak sengaja melihatnya berjalan-jalan di sekitar sini beberapa hari lalu."
"A-aah..." Furina mengangguk paham. Ia masih bersimpuh di tempatnya, tak tau apa yang harus ia lakukan.
Helaan nafas dari Harbinger itu terdengar. "Kalau Nona Furina mau mengelusnya, kemarilah. Neko kucing yang cukup ramah."
Furina meneguk ludahnya, menatap The Knave tidak percaya.
Merasakan tidak ada gerakan dari Furina, The Knave kembali berbicara. "Aku tak akan melukaimu."
"...Kenapa aku harus percaya pada omongan Fatui yang pernah hampir m-membunuhku?" Furina menarik kedua sudut bibirnya, meremehkan ucapan wanita itu.
The Knave sedikit mengernyitkan alisnya. Ia mendengus, "hampir membunuhmu? Kalau aku mau membunuhmu waktu itu, kau tak akan hidup sekarang. Kau tak memiliki kekuatan untuk melawan, tak ada yang menghalangiku untuk melakukan pembunuhan. Bahkan kau bisa kembali ke kamar mewahmu tanpa mendapatkan luka fisik, kan?"
Furina meninggikan suaranya, "h-hei! Tapi apa yang kamu lakukan malam itu—"
"Nona Furina," panggilnya. Wanita itu tak menghentikan jemarinya mengelus kucing yang berada di pangkuannya. "Aku tak akan meminta maaf atas apa yang kulakukan padamu selama ini," tegasnya.
Furina membuang wajahnya, "siapa juga yang mau memaafkanmu?"
"Nona Furina, aku tak akan meminta maaf, tapi aku sebagai seorang yang lahir di tanah Fontaine dan memiliki keluarga di sini sangat berterima kasih atas pengorbanan yang telah kau lakukan."
Furina tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut The Knave. Meski begitu, ia tetap diam, menunggu wanita itu berkata lebih jauh.
Dan heningnya Furina berhasil memancing The Knave untuk kembali berbicara.
"Penyeranganku waktu itu juga bukan salahku. Aku percaya bahwa kekuatan gnosis bisa menyelamatkan Fontaine. Jika kau sebagai Archon Hydro tak bisa memanfaatkannya dengan benar, maka aku akan merebut gnosis itu dan menyelamatkan Fontaine dengan tanganku sendiri. Aku bahkan memohon pada Nona Tsaritsa secara personal untuk menggunakan gnosis itu sebelum menyerahkannya sebagai tugas atas nama Fatui Harbinger."
Furina masih tak bergeming dari tempatnya.
"Dua kali perjamuan minum teh kita juga sebagai bentuk perasaan bagaimana aku ingin mempercayaimu, seorang Archon untuk menyelamatkan wilayahmu, wargamu. Aku yakin seluruh warga Fontaine juga ingin menyuarakan hal yang sama, menanyakan dan memastikan apa yang akan kau lakukan demi menjamin masa depan mereka. Hanya saja sayangnya tidak semua memiliki kuasa untuk menanyakannya sejauh apa yang kulakukan."
The Knave menjeda kalimatnya, ia menunjukkan senyuman sangat tipis di wajahnya. "Dan meski begitu, kau tetap tak mau menjawab pertanyaanku. Kau berhasil menjaga rahasia itu demi menyelamatkan Fontaine. Seandainya sedikit saja ada kelemahan dalam dirimu, Fontaine tak akan terselamatkan. Oleh karenanya, aku sangat bangga dan berterima kasih pada Archonku, Furina de Fontaine yang sangat kuat, karena telah menyelamatkan negeri yang indah ini bersamaan dengan kehidupan dan senyuman penduduk di dalamnya."
Isakan Furina terdengar di indra pendengaran The Knave. Gadis itu masih memunggunginya, namun terlihat bahwa punggungnya bergetar dan tangannya mengusap wajahnya beberapa kali.
"A-aku bukan A-Archon... Aku n-nggak pernah menjadi seorang Archon... Knave... Jangan katakan itu padaku..." Furina terisak.
The Knave membiarkan gadis itu menenangkan diri. Tangisan ialah pertanda kelemahan seseorang. Ia tau kalau siapapun tak akan membiarkan orang lain melihat mereka dalam kondisi yang lemah.
Wanita itu selalu menganggap kalau Furina adalah Archon yang lemah. Bahkan terlalu lemah untuk seseorang yang menjabat sebagai seorang Archon. Meski begitu, saat ini ia menyadari kalau Furina juga merupakan sosok yang sangat kuat, sosok yang menanggung dosa dewa pendahulunya selama ratusan tahun dan berhasil menyelamatkan sebuah negeri.
Setelah tangisan Furina mulai mereda, The Knave kembali berbicara. "Nona Furina, kau masih mau mengelus Neko?"
Furina yang mendengar itu terkekeh meskipun air matanya belum mengering, "baiklah."
Gadis itu mendekat ke arah sang Harbinger dan duduk di sampingnya. Ia mengulurkan tangannya, mengusap kucing yang masih tenang di pangkuan The Knave.
"Mau memangkunya?" tawar The Knave.
Furina menggeleng, "sepertinya dia udah nyaman di pangkuanmu, Knave."
"Arlecchino."
"Hm?" Furina mendongak menatap heran ke arah The Knave.
"The Knave adalah title resmi sebagai Fatui Harbinger. Nona Furina bisa memanggilku Arlecchino untuk percakapan informal seperti ini."
Furina mengangguk, ia membiarkan dirinya mengelus Neko selama beberapa saat. Gadis itu menenangkan diri sebelum kembali membuka pembicaraan lain dengan Arlecchino.
"Aku juga berterima kasih padamu." Ucapan yang tiba-tiba dari Furina membuat Arlecchino mengalihkan perhatian kepadanya.
"Malam itu... Kupikir semua akan berakhir. Aku yakin kalau kamu pasti langsung menduga bahwa gnosisnya nggak ada di tanganku. Dan aku sebagai Archon justru memohon agar kamu nggak membunuhku. Aneh kan? Aku takut kalau kamu akan menyebarkan fakta bahwa aku bukan seorang Archon, membuat rahasiaku terbongkar, dan akhirnya menggagalkan pengorbanan dan rencana yang telah kulakukan selama 500 tahun terakhir demi menyelamatkan orang-orang Fontaine."
Sebulir air mata kembali menetes di pipi Furina. "Aku takut kalau ramalan itu benar-benar terjadi atas kesalahanku dalam memainkan peran seorang Archon. Lebih dari itu, aku takut akan kehilangan seluruh warga Fontaine. Aku takut, Arle, aku takut. Bagaimana jika kamu akan merusak rencana ini. Bagimana caraku agar bisa mengamankan rencana ini darimu, seorang Fatui Harbinger nomor empat yang— yang bahkan nggak bisa kubayangkan sebesar apa kekuatanmu. Aku takut, Arle!"
Furina mengentikan kegiatannya mengelus Neko. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Arlecchino sambil mencengeram erat lengan wanita itu.
"Aku takut rencananya akan gagal. Apalagi saat di persidangan, aku bersikeras membuktikan kalau aku adalah Archon yang asli. Saat itu, aku benar-benar membencimu. The Knave, jika ada yang memiliki dugaan kuat tentang identitasku sebagai Archon palsu, maka kamu lah orangnya. Gara-gara pernyataanmu, traveler menuduhku di hadapan orang-orang. Memaksaku untuk membeberkan rahasia yang kujaga selama ratusan tahun, demi melindungi orang-orang yang tega menuduh dan mencemoohku, serta memberikanku tekanan yang luar biasa hebatnya."
Nafas Furina tersengal. Ia bisa merasakan emosi terpendamnya meluap saat ini. Namun Furina hanya memerlukan sedikit waktu untuk kembali menenangkan dirinya. Cengeramannya pada tangan Arlecchino melemah, berganti menjadi sebuah pelukan kecil.
"Meski begitu, gara-gara dugaanmu, persidangan itu bisa terjadi." Furina berkata dengan nada yang lebih positif.
Gadis itu mengusap genangan air mata di pelupuk matanya. "Terima kasih, Arle. Berkatmu, rencananya bisa terjadi hari itu. Berkatmu, aku nggak perlu lagi menunggu bertahun-tahun untuk menyelesaikan peranku. Rencana Focalors adalah menyuruhku untuk diam menjaga rahasia bahwa aku bukanlah Archon, maka aku diam dan nggak membiarkan siapapun selama 500 tahun ini untuk berani meragukanku. Siapapun, kecuali kamu, Arle. Selamat, kamu jadi orang pertama yang memiliki informasi kuat kalau aku bukan Archon. Dan aku berterima kasih, karena kamu udah menjadi salah satu kunci paling penting untuk mengakhiri penderitaanku."
Meski dengan air mata yang masih berlinang, Furina mendongakkan wajahnya, menatap tepat ke arah Arlecchino sambil tersenyum lebar. "Makasih, Arlecchino. Oh, aku juga minta maaf, meskipun kamu punya niat baik, tapi aku membuatmu terlihat seperti orang jahat di mataku."
Arlecchino terkekeh selama beberapa detik, membuat Furina tertegun. Ia tidak menyangka kalau wanita yang minim ekspresi itu bisa mengeluarkan kekehan seperti manusia pada umumnya. Bahkan setelah Arlecchino berhenti, wanita itu mendongak menatap langit dan memamerkan senyuman yang cukup lebar untuk Furina bisa menyadarinya. Senyuman yang tulus, sarat akan kelegaan, bukan senyuman diplomatis penuh kepalsuan yang sebelumnya sering dipamerkan padanya.
"Syukurlah..." lirih Arlecchino. "Kupikir Archonku akan membeciku seumur hidup," lanjutnya.
Furina mendengus, "aku bukan orang yang pendendam, tau. Dan kuingatkan sekali lagi, aku bukan Archon." Gadis itu melepaskan genggamannya pada lengan Arlecchino dan menegakkan badannya. Ia kembali pada aktivitas mengusap bulu lembut Neko.
"Mau kau ulangi berapa kalipun, aku akan tetap menganggapmu sebagai Archonku, pahlawanku, dan penyelamatku." Arlecchino mengangkat dagu Furina untuk kembali menatapnya, namun Furina dengan cepat menghindarinya.
"B-Berhenti ngomong gitu. Malu-maluin." Dengan wajah yang memerah, Furina semakin menunduk dan mengusap Neko lebih intens. Hal itu justru membuat Arlecchino tersenyum.
"A-Ahem. Kenapa namanya Neko? Nggak kaya nama kucing Fontaine aja," tanya Furina mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Karena kucing itu kubawa dari Inazuma. Di House of Hearth juga terdapat kucing lain dari Liyue, Mondstadt, dan Sumeru yang kubawa pulang setelah melakukan kunjungan diplomasi," jawab Arlecchino.
"Ada banyak??" Furina terlihat sangat antusias.
Arlecchino mengangguk, "lain kali kalau Nona Furina berkenan mengunjungi House of Hearth, akan kupersilahkan untuk bermain dengan kucing-kucing itu sepuasnya."
"O-Oke! Kalau gitu, gimana kalau besok? Kamu besok ada acara? Besok pagi? Aku akan pulang dan tidur untuk sekarang, terus besok aku bisa bangun pagi."
Arlecchino bangkit dari kursinya sambil menggendong Neko. "Baiklah, besok aku akan mengosongkan seluruh jadwalku demi Nona Furina."
"Yay! Oh, kamu juga bisa berhenti ngobrol pakai kalimat formal gitu, Arle. Obrolan kita udah bukan sebagai Archon dan Harbinger lagi, kan. Panggil aku Furina aja udah cukup."
Arlecchino berpikir sejenak sebelum membuka suaranya, "akan kucoba. Tapi ngomong-ngomong, kenapa 'Arle'?"
"Y-Yah. Nama 'Arlecchino' kepanjangan sih. 'The Knave' cuma butuh dua suku kata, dan dipanggil 'Knave' pun bisa, tapi 'Arlecchino'?" Furina menggeleng. "Mending 'Arle'. Uh— Ah, maaf, kamu nggak suka ya?"
Arlecchino menggeleng pelan, "kamu bebas memanggilku apapun, Furina. Aku senang mendengarnya darimu." Wanita itu tersenyum tipis.
Furina terdiam menahan senyumnya yang ikut mengembang, entah karena melihat senyum tipis Arlecchino atau mendengar wanita itu menyebut namanya tanpa embel-embel Nona. Atau mungkin karena keduanya?
"Sampai ketemu besok pagi. Kamu bisa pulang sendirian, kan?"
Pertanyaan dari Arlecchino membuyarkan pikiran Furina. Gadis itu langsung mengangguk beberapa kali.
"Y-Ya! Aku bisa pulang sendiri, apartemenku deket kok. Uh, oke, kalau gitu sampai ketemu besok, Arle!" Furina melambaikan tangannya sambil berlari kecil menuju tempat tinggalnya. Sesekali, ia bahkan melompat-lompat ria dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya.
Sementara itu, Arlecchino yang masih berdiri menggendong Neko melirik tajam ke semak-semak yang tak jauh darinya.
"Mau sampai kapan kalian sembunyi di sana?"
"Lyney, gara-gara kamu banyak gerak tiap liat Ayah senyum sama Nona Furina, kita jadi ketauan, kan."
"Gak, gak. Ekormu yang banyak gerak waktu Nona Furina meluk lengan Ayah."
"Emm... Maaf, mungkin ini gara-gara helmku keliatan dari semak-semak. Waktu liat Ayah sama Nona Furina mesra-mesraan, aku jadi malu soalnya. Uhm, makanya aku pake helm."
Bisikan dari ketiga 'anak' Arlecchino terdengar jelas ditengah sunyinya malam. Wanita itu berdehem keras.
"Lyney, Lynette, Freminet!"
"YES, SIR!" Ketiganya langsung kompak berdiri dari persembunyian mereka.
Arlecchino menghela nafasnya lelah, "siapkan jamuan berbagai kue untuk besok. Pastikan jangan sampai kehabisan kue edisi terbatas kesukaan Nona Furina. Malam ini cukup sampai di sini, Neko ketemu dan sekarang kita pulang."
Arlecchino berjalan mendahului ketiga anak tersebut.
"Pada akhirnya, bukan kita yang nemuin Neko, tapi Neko yang nemuin calon pasangannya Ayah," celetuk Lyney. Arlecchino diam dan terus melangkahkan kakinya.
"L-Lyney..." Freminet mencoba mengkode Lyney kalau Ayah mereka masih bisa mendengarkan.
"Jadi, kira-kira kapan kita mulai bisa manggil Nona Furina sebagai 'Ibu'?"
"L-Lynette...?" Freminet semakin gelisah dengan celetukan kedua kakaknya yang kompak tidak peka akan lirikan tajam dari Arlecchino.
"Ehem!" Kedua kembar itu membatu di tempatnya saat menyadari ekspresi Arlecchino.
"E-eehh... M-Maaf, Ayah!" / "Salah Lyney." Ucap keduanya bersamaan.
"Hah?" Protes Lyney kepada adik kembarnya.
"Maaf, Ayah. Harusnya aku bisa nyadarin mereka tadi," ucap Freminet.
-THE END-
