Work Text:
Jungkook bahkan tidak ambil pusing untuk mengetuk pintu kamar Jimin. Seperti yang dielukan di chatroom, kekasihnya memang sedang merebahkan tubuh santai. Dua tangan menyangga ponsel, yang mana Jungkook tiba-tiba ingin lihat benda tersebut jatuh menimpa wajah si manis.
“Mana sweater aku?”
Jimin cuma menoleh sekilas dan tidak lanjut bergerak sekalipun Jungkook sudah berdiri tepat di sisi kasur sembari melipat tangan. Ada gurat tak sabar di paras, terlihat dari kerutan kecil pada kening. Jimin yakin salah satu kaki Jungkook pasti sudah menepuk-nepuk lantai juga, menunggunya.
“Di lemari, pilih.”
“Ambil, Kak.”
Jimin menurunkan gawainya untuk diletakkan di perut. Kemudian tangan kanan terulur ke arah pintu almari. “Di sana, Kook. Tinggal ambil.”
“Iya, tinggal ambil. Ayo, Kak.”
Lidah mendecak. “Kenapa, sih? Tinggal jalan puterin kasur terus kamu buka pintu lemari, pilih sweater yang kamu mau. Selesai.”
Satu ujung bibir Jungkook terangkat naik. “Nah, itu tau.”
“Jungkook.” Keluar sudah rengekan itu. Kaki Jimin menjejak seprai sampak sedikit berlipat kusut. “Kan tinggal ambil.”
“Harusnya aku bahkan nggak perlu naik ke kamar. Tinggal ambil sweater-ku yang tadi ada di sofa. Selesai.”
Jimin mengerang sebelum memindahkan ponsel ke sisi tubuh, lalu telentang. Pandangnya tidak lepas dari kekasih yang masih setia tegak mempertahankan posisi yang sama. Jimin mendesah kalah sebelum mengangkat dua tangan. “Tarik.”
“Nggak. Bangun sendiri.”
“Tarik ayo tarik. Makin lama kamu diem, makin lama kamu dapet sweater-nya.”
Bungkamnya Jungkook sempat membuat Jimin menelan ludah. Tapi begitu tangan besar sang kekasih menangkup telapaknya, Jimin langsung mengurai senyum. Begitu berhasil duduk, sebelum Jungkook menjauhkan diri, Jimin langsung tarik cepat pria muda itu sampai oleng dan jatuh di hadapannya.
“Kak—”
“Rewel banget hari ini, kenapa? Biasanya juga nggak pernah protes kalau sweater-nya kupake.”
Jungkook menghela napas, menyamankan posisi bersila di hadapan yang lebih tua. “Heran, Kak. Kakak tau parfum aku apa, sabun mandi aku, shampoo yang kupake. Pokoknya semua wewangian Kakak tau, kenapa secandu itu sama baju-bajuku?”
“Ya.. suka aja.” Jimin memang tidak tahu harus memberi jawaban seperti apa karena Jungkook pun harusnya memang paham.
Mata Jungkook menyipit, keningnya berkerut lagi. Sungguh memancing ibu jari Jimin untuk terulur memberi pijatan ringan. “Kamu kesel karena buru-buru mau pergi?”
“Bukan gitu.”
“Iya, jadi kenapa?”
Pergelangan Jimin ditangkup, dibawa turun untuk Jungkook kecup. Jimin menelan ludah lagi.
“Feromon Kakak, tuh, ketutup. Makin lama makin membaur sama aku dan... sesuka-sukanya aku sama klaim aku atas Kakak, tetep aja wangi Kakak yang aku mau.” Baru sekarang obsidian Jungkook menajam.
“Kamu... mau scenting?”
Tapi nyatanya, Jungkook tetap seperti anak anjing manis. Bagaimana anggukan diberikan itu memancing Jimin untuk mengusak poni Alpha-nya. “Grumpy puppy.”
“Kak.”
Jimin terkekeh kecil. “Adalah hal baru buatku tau kalau kamu bisa benci feromon kamu sendiri.”
“Karena Kakak udah kelewatan. Nggak ada sisa ruang buat aku hidu leher Kakak, badan Kakak, semuanya.” Sembari melayangkan protes, wajah Jungkook sudah mendekati ceruk Jimin.
Napas panas pria itu sempat membuat sang omega bergidik sekian detik. “K-kamu bilang mau pergi.”
“Kapan?”
“Tadi. Kamu minta sweater-nya karena mau kamu pake.” Di sini, Jimin sempat menahan bahu kokoh Jungkook.
“Tapi aku nggak bilang kalau aku mau pergi.”
Sungguh, kalau sudah begini, seratus persen Jimin tidak akan bisa lepas. Satu tamen terakhir ia lontarkan. “Cuddling aja, ya?”
“Kakak yang nawarin buat scenting. Aku mau cium Kakak.”
“Iya, tapi cuddling.” Jimin mundur sedikit, kemudian merentangkan dua tangan. “Sekalian tidur siang.”
Bagaimana salah satu alis Jungkook terangkat naik itu sebenarnya bukan kode bagus tapi Jimin pasrah saja.
“Nggak boleh minta dilepas sebelum aku pingin lepas.”
“Iya, Jungkook. Sini.” Telapak Jimin bergerak mengajak, yang mana satu sekon kemudian tubuhnya sudah diterjang sampai punggungnya jatuh menyentuh kasur lagi.
Lengan serta kaki Jungkook benar-benar berhasil menangkup seluruh tubuhnya. Jimin tidak akan protes soal betapa sesaknya dia karena jujur, didekap erat begitu cukup menyenangkan juga—untuk satu jam pertama.
