Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-01-14
Words:
607
Chapters:
1/1
Kudos:
11
Bookmarks:
1
Hits:
188

It's Over

Summary:

“Kamu kenapa aku tanya.”

“Aku gak papa?”

“Kok malah balik nanya. Jawab yang bener, kamu kenapa?”

Work Text:

Jihoon menatap pacarnya bingung. Perpaduan antara Kwon Soonyoung dengan ketenangan adalah sesuatu yang baru bagi Jihoon. Anak itu selalu nampak antusias dan bersemangat di mana pun ia berada, apalagi jika ada Jihoon dalam jarak pandangnya. Ia tidak akan berhenti cari perhatian, meskipun faktanya Jihoon selalu memperhatikan. Terutama saat terjadi perubahan signifikan seperti saat ini, Jihoon tidak bisa untuk tidak bingung, atau cenderung khawatir.

Soonyoung hanya mengaduk-aduk bubur ayamnya malas sembari sesekali menyuapkan satu suapan kecil, nampak tidak bersemangat dan tidak nafsu makan. Padahal kemarin-kemarin ia sendiri yang merengek pada Jihoon untuk sarapan bubur ayam di tempat langganan keduanya.

“Kamu kenapa?”

“Hah?”

Soonyoung berjengit akan pertanyaan tiba-tiba dari pacarnya, semakin memperlihatkan bahwa selain anak itu tidak bersemangat, nyatanya ia juga tidak fokus dan tidak memerhatikan sekitarnya dengan baik, yang mana bukan tipikal Soonyoung sekali.

“Kamu kenapa aku tanya.”

“Aku gak papa?”

“Kok malah balik nanya. Jawab yang bener, kamu kenapa?”

“Hehehehehe, keliatan banget ya, Yank?”

Jihoon menghela napas. Benar memang ada yang tidak beres dengan pacarnya ini.

“Jangan balik nanya mulu Soonyoung, jawab yang bener.”

“Aku lagi overthinking aja.”

“Kenapa?”

“Aku tuh, beneran nggak pantes buat kamu ya, Jihoon?”

Baiklah, Jihoon benci ini. Soonyoung yang memanggilnya dengan hanya nama pertanda anak itu sedang serius. Dan topik yang akan dia bawa jujur saja membuat ia kesal.

“Kamu tuh, bisa nggak sih gausah dengerin omongan orang lain?”

“Tapi omongan orang-orang ini suka masuk akal, Jihoon. Aku bahkan mulai ngerasain secara nyata.”

“Ini gara-gara dinner sama Papa minggu lalu?”

Soonyoung terdiam. Sesendok bubur yang mulanya akan ia masukkan ke dalam mulutnya, ia letakkan kembali ke dalam mangkok. Tatapannya menerawang jauh pada awan-awan putih yang bergerak perlahan di langit cerah pagi ini.

“Jihoon, aku sebenernya udah terbiasa buat nggak dengerin omongan orang yang ngerendahin aku atau yang ngomong macem-macem soal hubungan kita. Tapi jujur nggak gampang buat aku abai gitu aja kalau yang ngomong papamu.”

Suaranya tercekat di akhir kalimat, butuh waktu beberapa detik sebagai jeda sebelum Soonyoung bisa melanjutkan perkataannya.

“Dari awal aku tau kalau kita tuh jauh beda, Jihoon. Tapi aku udah kepalang sayang sama kamu makanya aku nekat aja, ternyata perasaanku berbalas, kamu juga sayang sama aku kan? Makanya kita bisa pacaran, bisa sejauh ini. Ternyata pacaran sama kamu beneran bisa nerbangin aku sampai awang-awang, sampai aku lupa daratan.”

Soonyoung menghela napasnya berat sebelum melanjutkan.

“Dari awal aku percaya diri meskipun kita beda, Jihoon, aku bakal berjuang sekuat tenaga buat bisa setara sama kamu. Aku nggak mengindahkan omongan orang-orang yang berusaha buat nginjek-injek aku dan mengolok-olok hubungan kita yang nggak setara ini. Aku akan fokus buat upgrade diri supaya aku yang kecil ini suatu saat bisa setara sama kamu. Sampai minggu lalu aku ketemu sama Papamu, rasanya semua jelas, Jihoon. Buat setara sama kamu jelas butuh waktu selamanya buatku. Karena pada dasarnya, ini bukan hanya tentang aku dan kamu.”

Pandangannya mengabur, jari-jarinya mengepal erat di atas meja. Ada luapan emosi yang ingin ia tumpah ruahkan, tapi ia tidak bisa menumpahkannya begitu saja. Tidak ketika Jihoon hanya bisa menatapnya dengan pandangan kosong, menatap pada dirinya yang berada di ambang putus asa.

“Seminggu ini aku beneran mikirin semuanya. Mikirin omongan papamu, mikirin omongan orang-orang, mikirin omongan ayah dan ibuku juga. Semuanya nggak ada yang cocok sama ide bersikerasku. Bukan aku nggak mau berjuang lebih keras lagi, Jihoon, tapi sisi idealisku ini mulai kalah sama sisi realistis yang mulai mengambil alih.”

Jihoon menghela napas berat, ia dongakkan kepalanya, menghindari tetes tetes air mata yang siap jatuh kapan saja sebelum ia kuatkan diri untuk mengucap sepatah kata.

“Terus kamu maunya gimana?”

Soonyoung berikan senyuman setulus hati, dengan sirat getir dan kelegaan yang entahlah, sulit ia jabarkan dengan kata-kata.

“Kita udahan aja ya, Jihoon.”