Chapter Text
"Janji ya, setelah kasus yang kau tangani ini selesai kita berkemah di vila pinggir laut milik mendiang kakek"
Bagaimana mata besar itu berbinar, atau suaranya yang berbalut permohonan, masih terasa sangat nyata di telinga pria yang kini hanya duduk diam di tempat itu. Tempat itu; tempat yang pernah diminta oleh yang terkasih agar mereka kunjungi setelah pekerjaannya di ruang pengadilan selesai. Sayang, semuanya tak pernah terjadi. Jung Sungchan- nama pria itu, pergi ke tempat ini sendirian. Tanpa keberadaan Song Eunseok yang pernah bermimpi memancing dan menikmati teh panas di sini.
Debur ombak menghantam bebatuan menimbulkan suara basah yang tak pernah bisa menyirami keringnya hati Sungchan. Andai, andai saja ia lebih mementingkan Eunseok dibanding klien-klien yang memburu jasanya sebagai seorang pengacara. Andai Sungchan ada di sisi Eunseok lebih banyak, menemaninya lebih sering, menanyakan apakah mereka masih baik-baik saja. Agar ketika nama Sungchan dalam hati Eunseok pelan-pelan mulai digeser oleh orang lain, Sungchan bisa membela dirinya lebih keras dari yang ia lakukan di depan meja hakim.
Sebuah buku lawas yang ia ambil tadi dari bawah rak. Naskah asli dari buku dongeng tulisan kakeknya yang sudah lama berpulang. Kakek dan Eunseok sama; sama-sama menyukai karangan cerita. Itu pula yang menjadi awal mula mereka berkenalan; Eunseok terkesima mengetahui bahwa Sungchan adalah cucu pengarang beberapa fiksi kondang yang ia baca.
Laut Tenggara adalah satu-satunya yang tidak menyimpan mutiara. Kata orang-orang, mereka menukarnya dengan kesaktian bulan. Tiap jelang purnama, putra-putri duyung muncul ke permukaan, membiarkan kulit pucat mereka bermandikan cahaya rembulan.
Mereka tahu aku berada di balik batu, di rumah kayu yang kubangun hanya untuk melihat mereka sepurnama sekali. Saat aku coba mendekat, seluruhnya melompat ke air kecuali satu yang seperti menyengaja terlambat. Si mungil yang pemberani, mengambil roti natal yang aku ulurkan dengan jemari. Namanya Wonbin, dan dia tertarik untuk dapat mendengarkan dan berbicara.
Sungchan menutup buku dalam pangkuan itu, merasakan hawa dingin sore hari mulai menggigit tubuhnya. Kesepian membuatnya merapuh, menjadi sosok melankolis yang memandangi semburat tipis bulan bulat sempurna di langit sana. Eunseok, andai kau di sini pasti kau akan bersemangat membuktikan isi dongeng ini. Mengajakku menunggu duyung datang dengan pancingan kue natal.
Pria itu masuk, membawa serta buku serta hatinya yang sempat tercecer di tanah berbatu tebing itu. Padahal ini sudah genap satu bulan, namun luka akibat kandasnya cinta itu masih terasa nyeri. Ia merasa terbuang, tertinggalkan, oleh Eunseok yang lebih rumit dibanding kitab advokatnya. Entahlah, Sungchan rindu ketika mereka masih amat sederhana. Sesederhana bagaimana mereka menikmati tayangan televisi dengan mug hangat di tangan, mencium aroma wangi dari rambut satu sama lain dengan harapan; mereka bersama selamanya.
○●○●○●○●○●○●
Mengatakan bahwa manusia adalah satu-satunya entitas berakal di muka bumi sungguh pernyataan yang sombong. Ibarat menyatakan 'Tidak ada paus di sini' pada semangkuk air. Manusia tidak tahu apa-apa, tidak tahu sebanyak apa Tuhan menyembunyikan kuasa di selip-selipan semesta yang sunyi.
Kesunyian yang harusnya adalah definisi dari tempat ini; sebuah vila di ambang tebing berbatu di bibir pesisir tenggara yang tak terjamah. Namun semalam tidak demikian. Sungchan seperti gagal tidur mendengar riuh suara nyaring dari bawah sana. Ia kira batas mimpi telah bergeser ke alam nyatanya sehingga ia melindur, tapi bunyi-bunyi lengkingan yang menggema di laut lepas itu benar-benar riil. Hingga ketika fajar menyingsing di ufuk, bumi kembali sunyi. Sungchan yang tidak tidur sama sekali mengintip jendela, dan hanya ada langit merekah oranye di timur seperti biasa.
"Putri duyung menikmati cahaya bulan, huh? Sejak kapan negeri dongeng menyentuh dunia nyata?" Gumamnya mencari rasionalitas. Sebelum ia niat kembali ke ranjang dan coba tidur, sebuah lengkingan nyaring berbunyi lagi secara misterius. Kali ini entah mengapa terdengar amat dekat dengan indera. Sungchan benar-benar tidak peduli lagi ia berada di alam apa ketika dia bergegas meraih lampu portabel di nakas lalu bermantel untuk keluar. Membelah kegelapan yang masih belum kalah oleh pagi pukul lima.
Pasangnya air laut membuat debur ombak menghantam karang lebih kencang, cipratan airnya sampai ke tanah yang Sungchan injak. Walau begitu ia tetap turun, perlahan-lahan mencari pijakan batu untuk sampai ke pesisir. Nyatanya tidak perlu keberadaan Eunseok untuk membuktikan apakah pesta malam rembulan itu betul-betul ada, Sungchan tiba-tiba berangkat sendiri untuk melihat apakah ada bekas-bekas dari keajaiban semalam.
Sebelum lelaki itu berhenti dan malu akan titel pengacara yang ia sandang, pandangan matanya menangkap objek yang tidak berani ia bayangkan itu. Di bawah sana, entitas manusia separuh ekor tengah bergerak di antara bebatuan. Berwarna seperti perak bulan yang berkilau. Terlihat sangat nyata di tengah kabut subuh yang menghalangi penglihatan Sungchan, pria yang kini menutup mulut akibat tidak percaya.
Merinding jujur saja. Tapi bagaimana pun, Sungchan juga pria yang pernah menjadi anak-anak. Rasa penasaran akan bagaimana wujud asli dari manusia separuh ikan yang menemani masa kecilnya membuat laki-laki itu kian mendekat ke bawah, tidak peduli basah air mulai mengenai mantel dan sandal rumahnya. Sungchan betul-betul meragukan kewarasannya saat ia sudah amat dekat dengan punggung telanjang makhluk itu, siap mati sia-sia jika ternyata dia bisa menggigit atau apa.
"Hei, ck!ck!"
Berjongkok sembari berdecak seperti itu, Sungchan tahu tidak seharusnya memanggil putri duyung seperti kucing jalanan, tapi siapa sangka, dia menoleh.
Dia diciptakan seperti manusia; mata, bibir dan seluruh helai rambutnya yang sedikit panjang. Terlihat seperti anak laki-laki, tapi di sisi lain juga perempuan -cantik. Tiga hal yang sangat 'ikan' dari dirinya adalah gurat insang pada leher, selaput pada jemarinya, serta tentu saja ekor perak bulan yang mirip dengan warna mutiara. Makhluk itu diam sampai Sungchan merangsek mendekat, dan dia mendesis berbahaya.
Ganggang kelp adalah musuh bagi putri duyung, tanaman alga yang lebih mirip hutan itu menjerat ekor mereka sampai 'macet' tertinggal rombongan. Itu yang terjadi pada si perak bulan yang kini tengah diamati Sungchan - sama sekali tidak terancam dengan desisannya. Mungkin tadi duyung ini berusaha terlalu keras, ujung tangkai ekornya luka berdarah akibat gesekan dengan batu karang.
"Oh, kau terluka. Bisakah aku membantumu melepaskan diri?"
Tentu pertanyaan Sungchan sia-sia, makhluk itu tampak tidak dapat mencerna apa yang dia ucapkan dan justru menggeliat makin brutal agar terlepas dari jeratan ganggang, memperburuk lukanya. Kasihan, batin Sungchan. Sayang sekali ia tidak membawa sesuatu untuk membujuk si duyung muda yang tampak sedikit keras kepala itu.
"Apa ya? Biskuit natal?," Sungchan bergumam sendirian. "Kakek bilang ada duyung kecil bernama Wonbin yang menyukai- "
Keajaiban memutus monolog Sungchan, duyung itu membeku dan menoleh kemari. Membuat Sungchan terkejut dan bingung luar biasa, kata kunci apa yang menyentuh sinyal si makhluk bawah laut.
"Biskuit? Natal? Biskuit natal kah? Kau mau biskuit natal?" Katanya mencoba berulang-ulang. Sembrono karena sesungguhnya sedang tidak ada biskuit apapun di vila. Putri duyung itu berkedip beberapa kali dengan mata bulatnya yang polos, sebelum akhirnya membuka mulut untuk bersuara sangat kecil.
"Wonbin"
Pria yang biasa bicara menggunakan otot seperti Sungchan jelas tidak mendengar bisikan kecil itu. Dia mendekat barangkali si perak bulan mau bicara lagi.
"Wonbin" ulangnya, secara magis paham bahwa pria asing itu ingin ia bicara lagi. Sungchan membatu, sadar bahwa putri duyung ini mengatakan 'Wonbin'.
"Ah, kau... Wonbin?" Putri duyung yang dapat mendengar dan berbicara, dengan berani meraih kue natal dari tangan kakek Sungchan.
Sebuah anggukan mungil, dan Sungchan mengusap wajahnya tidak percaya. Ia sudah pernah melihat banyak keajaiban seperti terpidana mati yang tiba-tiba diampuni hanya tujuh menit sebelum eksekusi, atau selain itu. Tapi ini adalah sesuatu yang lain; sebuah dongeng yang menjadi nyata di pelupuk mata Sungchan. Putri duyung setelah menikmati malam rembulan, menepi dan berbicara dengan ucapan yang dapat dipahami manusia. Atau sebetulnya... itu semua bukan dongeng sama sekali?
○●○●○●○●○●○●
Memang, belum ada seseorang di internet yang membuat panduan 'Hal yang harus kau lakukan jika bertemu putri duyung', tapi yang jelas bukan apa yang dilakukan Sungchan saat ini; membawanya pulang.
Sumpah, tidak ada yang tahu betapa sulitnya mendaki bebatuan untuk kembali ke atas sembari membopong manusia setengah ikan dengan ekor menjuntai berdarah-darah plus kau membawa lampu nakas. Poin aman dari aktivitas tersebut adalah Wonbin si duyung diam total saat dibawa. Dia memang tidak mengucapkan sepatah kata apapun lagi setelah 'Wonbin' tadi. Tidak mengangguk, tidak menggeleng, dia hanya berkedip. Sangat lugu untuk terdampak penculikan yang dilakukan sembarang manusia asing berkaki panjang seperti Sungchan. Niat Sungchan baik, demi Tuhan. Ia ingin mengobati Wonbin.
Baiklah, sekarang ini dia. Keberadaan Wonbin di bathtub telah mengubah pengacara muda nan handal menjadi laki-laki tolol yang mondar-mandir dengan buku dongeng di tangannya. Mencari bagian mana lagi dari kisah ini yang menunjukkan cara kakeknya mengatasi Wonbin. Tidak ada, karena kakeknya memang tidak pernah sembrono menggotong putri duyung masuk ke dalam rumahnya. Sungchan menyesal, harusnya dia ceburkan ulang saja Wonbin ke laut, pasti ada bapaknya di bawah. Sungchan menoleh ke belakang, beradu dengan tatapan Wonbin.
"Bagaimana ini? Apa aku menelpon Eun-"
Jemari yang masih lancar menekan tombol dial itu berhenti seketika, batal dari rencana menghubungi seseorang yang gemar membaca komik fantasi itu. Oh Tuhan, bagaimana bisa Sungchan lupa lagi bahwa mereka sudah putus?
Lelaki muda itu jatuh ke lantai, mengalami gegar mental karena kembali mengingat bahwa ia dan kekasihnya sudah lama berpisah. Jujur saja selama mengurus Wonbin tadi Sungchan sama sekali tidak mengingat Eunseok. Dan kini dia hampir saja menelpon laki-laki itu untuk meminta bantuan cara mengatasi putri duyung. Demi Tuhan, kenapa patah hati seawet ini rasanya? Malu menangis di depan Wonbin si duyung, Sungchan keluar dari kamar mandi lalu ganti bersedih di sofa.
Obat dari tangis adalah tidur. Salahkan juga keberisikan kawanan duyung mandi sinar rembulan yang semalam membuat Sungcahn tak tidur. Pria itu jatuh kalah oleh kantuk, melupakan fakta bahwa dia punya sesuatu - atau seseorang di bak mandinya. Entah berapa lama dia didiamkan, tiba-tiba sesosok seperti manusia utuh keluar dari sana, berjalan kecil menggunakan kaki yang masih meneteskan darah. Dia mendekat kemari, ke dekat kaki Sungchan yang tertidur di sofa. Menunggu manusia ini sampai bangun.
Mungkin Sungchan tidur dua atau tiga jam, karena matanya berkabut begitu dia bangun. Namun ia masih dapat melihat jelas bahwa ada seseorang berdiri tegak di ujung kakinya, berambut sedikit panjang, berkulit pucat seperti warna bulan dan juga dia telanjang.
Apa? Telanjang?
"AAAA!!!!"
Sungguh, Sungchan kaget setengah mati. Fakta bahwa seseorang yang kini berdiri dengan kaki itu adalah Wonbin putri duyungnya sungguh tidak bisa ia percaya. Dia betul-betul seperti manusia utuh, dan kebugilannya saat ini menjawab pertanyaan tidak sopan di kepala Sungchan apakah dia perempuan atau laki-laki; dia laki-laki.
"Demi Tuhan manapun yang benar, tunggu di situ"
Berdirinya Wonbin tiga jam di dekat kaki Sungchan akhirnya membuahkan hasil. Inilah awal dari Sungchan betul-betul merawatnya seperti manusia. Sungchan menyambar sembarang kaos hitam di kapstok lalu memakaikannya ke tubuh Wonbin semata-mata agar dia tidak polos begitu. Ukuran baju Sungchan yang besar sudah cukup menenggelamkan Wonbin sampai separuh paha, jadi Sungchan tidak perlu pusing mencelanainya dengan apa. Sungchan bekerja cepat; luka di kaki Wonbin ia bebat dengan perban anti air, sembari memikirkan rupanya betul anggapan bahwa putri duyung akan menjadi manusia ketika mereka kering. Wonbin tak ada bedanya sama sekali dengan lelaki remaja di jalanan kota.
Jam menunjukkan pukul dua belas siang. Kini sebuah meja kecil di ruang makan diisi oleh dua orang. Sungchan, mendudukkan Wonbin di hadapannya persis seperti ia mewawancarai klien. Berdasarkan beberapa aktivitas yang ia lakukan pada pemuda itu seperti mengobatinya, memberinya minum, lalu menyisir rambutnya, Wonbin memahami bahasa manusia, kendati tetap nyaris tidak berbicara. Dari buku tulisan kakeknya, Sungchan tahu beliaulah yang pertama mengajak bicara Wonbin dengan bahasa manusia. Dan kosa kata yang terkahir dipelajari Wonbin adalah 'membeli', 'marah', dan 'kuning'.
"Wonbin" Kata Sungchan sedikit tegas entah karena apa. Nyatanya Wonbin tetap menatapnya bulat-bulat seperti anak ikan polos.
"Apa kau kenal siapa ini?" Gambar pria sepuh di galeri ia paparkan, kakeknya yang sudah wafat tiga tahun lalu. Sungchan mengamati mata Wonbin berbinar, jawabannya sudah jelas. Pria yang bahkan membuat rumah untuk mengamati mereka mandi sinar rembulan.
"Kakek"
Untuk pertama kalinya setelah 'Wonbin', Wonbin bicara lagi. Suaranya kecil namun cukup dicerna jelas oleh Sungchan yang sekarang bersikap seperti ayah yang bangga. Duyungnya bisa bicara.
"Iya, Wonbin. Ini kakek. Kakek baik kan? Dia pernah memberi apa padamu?"
Hening.
Diamnya Wonbin membuat Sungchan berkonklusi bahwa mungkin saja Wonbin lupa cara bicara bahasa manusia, sudah terlalu lama sejak kakeknya tak lagi melawat laut. Dia pasti lupa.
"Kue?" Dikte Sungchan.
"Iya... kue"
Ada yang bisa melihat air mata bangga Sungchan? Baiklah, dia akan mundur dari advokasi dan banting setir menjadi pelatih duyung. Wonbin terlihat tidak terancam terhadapnya jadi dia terus lanjut.
"Lalu, apa lagi? Apa yang Kakek katakan kepadamu?"
Wonbin diam. Tidak paham.
Baiklah, satu hari ini akan digunakan Sungchan untuk menebak kalimat apa saja yang bisa digunakan Wonbin untuk berkomunikasi. Buku dongeng Kakek ditulis bertahun-tahun yang lalu, saat Wonbin masih digambarkan sebagai duyung yang 'kecil mungil'. Sungchan yakin Wonbin mengetahui lebih banyak kata dari pada ini, hanya mungkin saja terlupa. Dan entah mengapa, Sungchan bersemangat ingin mendengar itu semua.
○●○●○●○●○●○●
Setelah mengantongi uang ratusan juta won dari kasus terakhirnya -kasus yang juga membuat asmaranya kandas-, agaknya pantas bagi Sungchan untuk rehat sejenak dari dunianya yang pelik. Satu minggu adalah waktu yang ia pilih untuk cuti, sekaligus melarikan dari dari patah hati besar-besaran yang menimpa hidupnya. Ia pikir, rumah pinggir laut yang tak tersentuh keramaian akan menjadi spot yang cocok untuk dia menenangkan diri. Tapi semua berubah sejak keputusannya membawa masuk seekor putri duyung yang terdampar di bawah sana.
Hari pertama itu hanya Sungchan lalui dengan mengobati kaki Wonbin dan mencoba konversasi sederhana dengannya. Lebih seperti Sungchan bermonolog panjang lebar tentang benda-benda di sekitar mereka sementara si manis hanya menyimak. Saking sibuknya memomong Wonbin, pria itu sampai lupa bahwa mereka belum makan apapun hingga petang. Pukul enam sore baru dia beranjak ke dapur dengan Wonbin mengintilinya di belakang. Terpincang-pincang karena kakinya yang luka.
"Duduk di situ, Wonbin" tunjuk Sungchan pada kursi di konter dapur. Butuh 2 menit bagi Wonbin mencerna kalimat perintah itu sebelum dengan patuh duduk di lantai bawah kursi.
"Tidak, Wonbin. Duduk di kursinya. Seperti ini" Sungchan mencontohkan bagaimana duduk di atas kursi yang ia maksudkan. Berhasil, Wonbin bisa.
"Hm, karena ini sudah terlambat, mungkin kita akan masak yang mudah seperti steik salmon dengan lada" Sungchan kembali bermonolog, memeriksa isi kulkas lantas meletakkan sepotong filet salmon dan gilingan merica ke meja konter depan Wonbin. Sengaja memaparkan benda-benda itu.
"Pertama-tama, kita panaskan pan dengan minyak zaitun serta rosemary" Sungchan persis pembawa acara memasak di televisi. Apa itu minyak zaitun dan rosemary ditunjukkan dulu kepada pemirsa. Pemirsa adalah Wonbin.
"Lalu kita pan-sear bawang putih serta salmon- loh, kemana- astaga Wonbin?! Kau memakannya?!"
Baiklah, salmon mentah dimakan Wonbin tanpa rasa bersalah. Akhirnya Sungchan makan nasi dengan kimchi saja, tak lupa mengajari Wonbin cara menggunakan sendok. Pada pemuda dari alam lain itu, Sungchan mengatakan bahwa dia boleh di sini sampai lukanya sembuh. Setelah itu dia akan Sungchan lepaskan lagi ke laut.
Saat makan tadi, kulit di sekitar lengan Wonbin tampak kering dan sedikit terkelupas. Dia terlalu lama berada di daratan. Oleh Sungchan, bathtub besar yang sudah ada Wonbin di dalamnya diisi air mengalir sampai penuh, membuat si manis itu tersenyum untuk pertama kalinya. Cantik, batin Sungchan.
Dan ini dia proses yang paling Sungchan tak sabar amati; bagaimana keping sisik perlahan timbul di paha dan betis Wonbin yang semula adalah kulit biasa, warnanya keperakan. Pelan-pelan mengubah sepasang kaki itu menjadi juntaian sirip ekor yang memesona. Masih tampak anggun bahkan ketika kaos hitam Sungchan di tubuh Wonbin berwarna hitam dengan lambang band metal.
"Ekormu..." gumam Sungchan tidak tahu hendak mengatakan apa. Ini terlalu magis, keberadaan Wonbin serta transformasi yang ia alami dari duyung menjadi manusia kemudian menjadi duyung lagi. Sungchan perlu menceritakan ini pada anak-anak para tahanan yang pernah menjadi kliennya, masih ia kunjungi dengan baik hingga kini.
Dengan ringkas, Wonbin dimandikan oleh Sungchan. Nyaris anak itu menjilat busa sabun beraroma bunga yang manis di kulitnya, segera Sungchan cegah. Sungchan mandi juga, mengajari Wonbin beberapa aktivitas bebersih diri. Sebersit pertanyaan muncul di kepala pria muda itu; memangnya akan selama apa Wonbin tinggal di rumah ini bersamanya sebagai manusia?
Pertanyaan itu tidak sempat terjawab ketika dering notifikasi penting di ponsel Sungchan berbunyi; seniornya di kantor. Cepat-cepat dia berpakaian, tak lupa menghanduki Wonbin agar dia kering lebih cepat.
"Wonbin, nanti langsung turun sendiri seperti kemarin, bisa ya?"
"Bisa" katanya, pintar sekali. Layak mendapat sebuah usakan sayang di pucuk kepalanya.
Pria seperti Sungchan isi pembicaraannya selalu penting. Entah berapa lama dia bersambungan dengan seniornya melalui telepon, dia tidak awas mendengar bunyi ventilasi terdobrak oleh kucing-kucing liar pesisir. Tahu-tahu saja kamar mandinya ribut dan ia baru ingat bahwa ia menyimpan sesuatu-seseorang di dalamnya. Bergegaslah Sungchan masih dengan ponsel di apitan telinga dan bahunya.
"Oh Tuhan, Wonbin?!"
Lupakan liburan yang tenang, sudah berapa kali Sungchan dibuat kaget oleh apa yang Wonbin lakukan, atau apa yang terjadi pada Wonbin. Wonbin Wonbin Wonbin. Kali ini tiga ekor kucing mengerubungi pemuda duyung itu, satu yang paling besar dan berwarna oranye menggigit ekor ikannya yang belum kering sempurna. Saat Sungchan masuk, Wonbin sudah mimbik-mimbik karena takut.
Benar, Wonbin hampir dimakan kucing.
○●○●○●○●○●○●
Hari kedua, Sungchan memiliki ide cemerlang selagi ia memiliki jadwal rapat penting bersama timnya via online. Wonbin ia putarkan video percakapan singkat sehari-hari di youtube melalui tablet milik Sungchan. Hasilnya luar biasa, di siang harinya Wonbin sudah bisa mengatakan kalimat seperti "Kak Sungchan, kapan kita jalan-jalan ke taman?", dan "Kak Sungchan sedang apa?"
Wonbin menyerap ilmu pengetahuan tidak seperti makhluk apapun di muka bumi. Dia cepat belajar dan tidak pernah lupa. Hari ini agenda Sungchan adalah mengajari Wonbin hal-hal sederhana seperti membuka-tutup botol, dan juga meletakkan barang ke tempatnya tanpa terguling, serta berpakaian sendiri. Wonbin tampak menyukai aroma kamper lebih dari seharusnya. Dia berlama-lama menempelkan hidungnya ke lengan baju Sungchan yang ia gunakan. "Wangi", katanya.
Menggeledah lemari Sungchan, Wonbin menemukan item yang ia yakin namanya bukan baju, yang ini sangat kecil.
"Itu beanie. Mendekat ke sini, Wonbin"
Anak manis nan taat itu menuruti apapun yang diperintah Sungchan, termasuk saat kepalanya dipasangi beanie oleh lelaki itu.
"Ta-da! Won-beanie kita sudah siap!" Sungchan berkelakar lantas tertawa oleh guyonannya sendiri. Wonbin terlihat kaku tidak bisa bergerak dengan benda di kepalanya, matanya terus melirik ke atas untuk melihat bagaimana penampakan beanie tadi. Syukurlah Sungchan segera mengambilkannya cermin. Wonbin yang sudah lucu semakin lucu dengan kupluk itu, dia harus kembali ke lautan sambil mengenakan ini.
Gerimis turun malam pukul delapan. Wonbin duduk anteng di depan Sungchan yang sedang mengupaskannya telur rebus. Luka di kakinya akibat terjerat belum kering, dan dia harus punya luka baru akibat digigit kucing.
"Semalam bisa tidur?" Tanya Sungchan. Hanya satu kamar yang sudah dibersihkan malam kemarin, dan tentu saja Wonbin menggunakannya. Sungchan tidur di depan perapian, secara ajaib tidak lagi begadang karena mengingat mantan kekasihnya.
"Tidak" jawab Wonbin. Dia belum pernah tidur di daratan dan ditutup kain seperti itu, biasanya dia tidur mengapung di air.
"Tidak bisa? Kenapa? Kau rindu ibumu ya?" Tanya Sungchan, menyerahkan sebutir telur rebus ke tangan kanan Wonbin. Mereka bicara tentang ini kemarin, bahwa Wonbin tinggal bersama ayah, ibu, serta adiknya Sohee. Terjerat atau terdampar sudah biasa bagi mereka, yang tidak biasa adalah dibawa pulang oleh manusia lalu dirawat seperti ini.
"Kak Sungchan kenapa tidak tidur dengan aku?" Tanya Wonbin, membuat Sungchan terkejut betapa Wonbin bisa membuat susunan kalimatnya sendiri.
"Boleh. Wonbin mau tidur ditemani?"
"Nau"
"M. Mau"
"Mau"
Baiklah, Sungchan memang tidak pernah mengasuh satu adik pun selama ia tumbuh dewasa. Tapi bagaimana ia menyisir rambut panjang Wonbin sebelum tidur, mengoleskan pada tangannya losion, serta menyimpan rapi-rapi pemuda itu di balik selimut benar-benar menunjukkan dia perawat yang hebat. Pria garang di pengadilan, namun luwes di rumah? Bagaimana bisa dia diputuskan oleh seseorang?!
"Kak, itu siapa?"
Malam sudah pukul sebelas sementara dua makhluk bernafas itu belum terpejam. Wonbin tanpa tedeng aling-aling menunjuk ke potret lelaki yang menjadi gambar latar di ponsel Sungchan. Foto Eunseok tersenyum manis pada liburannya bersama Sungchan ke LA tahun lalu.
"Oh ini" Kata Sungchan, baru menyadari bahwa ia belum mengganti wallpaper ponselnya. Sejauh ini belum ada sesuatu yang lebih indah dari Eunseok. Tapi saat ia menoleh, tatapannya bertemu dengan mata bening sesosok makhluk yang bahkan berkilau di tengah malam gelap. Wonbin menyimpan galaksi tata surya di matanya yang indah, dan ia hanya menggunakan itu untuk menatap Sungchan.
"Ini pacarku" -mantan.
Sudah Sungchan duga, Wonbin akan- "Pacar itu apa?". Tapi tidak mengapa, menjelaskan sesuatu kepada Wonbin adalah hobi baru Sungchan. Ia masih punya banyak hal yang bisa ia paparkan kepada Wonbin di masa depan -andai mereka bertemu lagi-, harum taman bunga, rasa buah mangga, dan matahari tenggelam di musim gugur. Pasti sangat menyenangkan memiliki Wonbin menemaninya menikmati semua itu. Wonbin yang gampang kagum akan membuat segala hal sederhana dalam hidup jenuh Sungchan kembali menjadi istimewa.
"Pacar itu..." Sungchan berpikir. "orang yang kau pilih untuk selalu ada di sisimu. Melakukan banyak aktivitas bersama seperti makan, bekerja, tidur dan -tidak Wonbin, kau dan aku tidak berpacaran" Sungchan buru-buru menambahkan saat wajah lugu Wonbin perlahan berbinar. Dibilang begitu si manis langsung kecewa.
"Aku mau pacar, Kaak~" Wonbin mendadak rewel membuat Sungchan panik, selimut mereka jadi berantakan karena pancalan kaki Wonbin. "Aku mau pacaran"
Benar kan? Harusnya Sungchan jangan membawa putri duyung satu ini ke dalam vila. Karena dia sukses membuat pengacara muda brilian macam Sungchan memijit kepala karena pening. Andai Wonbin tahu alasan Sungchan mengasingkan diri ke tepi laut sini juga adalah karena dia baru saja kehilangan pacar.
"Wonbin, pacar tidak bisa didapat begitu saja," Sungchan coba menjelaskan seolah Wonbin berumur lima. "kalian harus cocok dulu"
"Aku dengan Kak Sungchan cocok tidak?" Tanya Wonbin memelas, sama sekali tidak tahu apa itu cocok. Mungkin artinya adalah menggerakkan kaleng kopi instan beberapa kali dulu sebelum diminum agar gulanya larut.
Bergaul dengan Wonbin menaikkan pahala kesabaran Sungchan di hadapan malaikat pencatat amal.
"Wonbin... Wonbin kan ikan... kemarin hampir saja dimakan kucing"
Tuturnya prihatin dengan harapan Wonbin paham. Diingatkan tentang tragedi kemarin membuat perasaan Wonbin tidak enak, tidak suka. Sehingga dia diam saja dan tidak mengatakan sepatah kata pun. Sungchan jadi mengira Wonbin marah.
"Oke, oke. Wonbin Kakak foto ya? Lalu dijadikan wallpaper seperti orang pacaran begitu" bujuknya. Ia menyiapkan kamera mode malam, mencari sudut terbaik untuk menangkap potret Wonbin yang sempurna terutama matanya, juga bibirnya. Ah, juga hidungnya, pipinya, semuanya. Wonbin adalah nama dari keindahan baru yang Sungchan tidak siap menerimanya. Dalam sekali klik, gambar Wonbin berbaring tidak melakukan apa-apa sudah tertangkap dalam layar canggih Sungchan.
"Coba lihat, foto siapa ini?" Sungchan menunjukkan hasilnya pada Wonbin yang kini beringsut mendekat ke arahnya, membuat mereka jadi terlalu dekat.
"Ih, aku..." decak Wonbin takjub bagaimana gambar dirinya bisa berada di ponsel Sungchan, tadi ada juga foto pacar Sungchan dan juga Sungchan itu sendiri. "Ada foto mamaku tidak, Kak?"
"......"
"....."
"Tidur, Wonbin"
○●○●○●○●○●○●
Hari ketiga atau keempat dari perjalanan luka yang membuat Sungchan dan Wonbin bersama.
Sungchan seperti sedikit salah langkah kemarin. Bagaimana dia menyetelkan Wonbin video percakapan, lalu kamera ponselnya yang hebat, serta dirinya sendiri yang tidak pernah lepas dari gawai canggih, ternyata membuat Wonbin penasaran. Tadi pagi mereka memutar tayangan National Geographic bersama di tablet, dan sejak itu Wonbin tidak bisa berhenti. Kapan pun dia punya kesempatan, dia akan datang ke Sungchan dan menggunakan mata polosnya itu untuk merayu "Kak, aku nonton ya?", berikut tengadah tangan memohon kewelasan Sungchan agar sudi kiranya memberikan dia ipad.
Baiklah, Sungchan memang jadi bisa rehat sejenak dari memomong Wonbin. Tapi melihat anak itu di depan layar seharian juga terasa meresahkan. Wonbin memang hanya menonton apapun yang disajikan rekomendasi -berhubung dia tidak bisa searching. Tapi dia benar-benar menonton segalanya; benda-benda dilindas mobil, khotbah rohani mingguan, dan terakhir Sungchan lihat Wonbin menonton aespa.
"Wonbin, Kakak mau pakai tabletnya ya?" Sungchan beralasan. Ada mungkin sudah empat jam penuh Wonbin di depan layar dan Sungchan jadi khawatir apa saja yang akan Wonbin tiru dan lakukan dari seluruh tayangan tadi.
"Kak! Ini ada orang dipukuli!"
Sungchan langsung sigap memeriksa tayangan apa itu, dan rupanya video yang sedang ditonton Wonbin adalah Recap Fifty Shades of Grey (2015). Kontan Sungchan menyambar tablet dari tangan Wonbin lalu melemparnya ke bawah sofa. Berdebar-debar pengacara muda itu mengusap wajahnya dengan harapan akan diampuni Tuhan.
"Sini, sini, Wonbin"
Si manis yang tidak tahu apa-apa itu kaget setengah mati saat pundaknya tiba-tiba digeret ke depan oleh Kak Sungchan. Selama dirawat, Wonbin tidak pernah keluar rumah, dan ini tiba-tiba saja Kak Sungchan membawanya keluar pintu menuju halaman. Rumput hijau membuat kakinya geli, langsunglah ia bergelantungan di bahu Sungchan.
"Wonbin, coba kau petik bunga-bunga kecil di rumput ini ya? Semuanya sampai habis. Nanti jika sudah selesai tunjukkan ke Kakak"
Wonbin harus menyentuh rumput setelah tayangan yang ia saksikan tadi kan? Atau lebih tepatnya Sungchan ingin Wonbin beraktivitas fisik selain di depan gadget.
Itu dia yang menjadi awal mula pemandangan si mungil dengan topi bundarnya membawa keranjang mengumpulkan bebungaan di taman. Tiap tangkai yang berbeda akan dia hirup dulu wanginya dalam-dalam, ia simpan sebagai memori karena tidak banyak yang bisa dia cium saat sudah kembali ke laut nanti. Sinar matahari sore membuat kulitnya hangat, dan ide bahwa bunga-bunga ini akan ia berikan kepada Kak Sungchan membuat hatinya merekah senang. Wonbin berjalan kesana kemari diikuti gerombolan kupu-kupu dan lebah yang menyadari bahwa pemuda itu makhluk istimewa.
"Yay! Selesai" pekiknya senang. Dia menyimpul kumpulan bunga itu menjadi satu menggunakan daun seperti yang ia lihat di internet. Wonbin melakukannya dengan sangat baik, bunga besar-besar berwarna merah ia kumpulkan di tengah, dan yang kecil-kecil berwarna kuning dan putih di bagian tepi. Kak Sungchan pasti akan sangat senang dan memuji Wonbin habis-habisan.
Dia berjalan kembali ke rumah seperti hampir menari karena terlalu bersemangat. Namun sesampainya di dalam, Wonbin tersentak oleh suara Sungchan yang entah kenapa bicara keras-keras.
"No, don't push me away like that. Please..."
Sungchan adalah pria yang selalu necis, dia suka rapi. Tapi saat ini dia tampak berantakan dengan rambut tak tertata dan kemeja diguling asal. Pembicaraan di telepon itu juga mencetak raut masam di wajah tampan Sungchan. Wonbin yang tidak pernah melihat pemandangan ini hanya bisa berdiri membatu di ambang pintu dapur, masih menggenggam bunga petikannya. Instingnya mengatakan bahwa dia belum boleh bicara apapun saat Kak Sungchan masih seperti itu.
"Ya, aku tahu. Tolong jangan begini. Kau sahabatku sebelum menjadi kekasihku, biarkan aku tetap tahu jika kau kesulitan"
Pandangan Wonbin mengikuti Sungchan yang berjalan risau ke sana ke mari, sama sekali tidak menangkap keberadaan Wonbin. Diabaikan seperti itu entah kenapa membuat Wonbin sedih sedikit. Ia datang membawa bunga dan berekspektasi Sungchan akan menerimanya dengan riang. Tapi lelaki itu kini sibuk dengan hal lain dan tampak muram.
"Eunseok? Eunseok? Jangan tutup- AH!!"
Wonbin terkejut bukan main melihat Sungchan seperti nyaris membanting ponselnya ke lantai. Di saat yang bersamaan akhirnya membuat eksistensi Wonbin disadari Sungchan. Si manis melambaikan bunganya dengan sumringah pada pria itu, tapi sayang sekali fokus Sungchan sudah kembali pada layar, mengetik dengan cepat hal-hal yang tidak akan Wonbin pahami selamanya.
"Kak. Ini bunganya" Wonbin mendekat, dengan baik hati mengulurkan buket kecilnya pada Sungchan. Ia tahu pasti Sungchan akan berkata 'terima kasih', itu yang Sungchan ajarkan padanya jika seseorang berbuat sesuatu yang manis untukmu.
"Taruh situ" Kata Sungchan sembarang saja, masih belum teralihkan dari ponsel. Ke mana arah 'situ' yang ia maksud pun tidak benar-benar Wonbin pahami di mana.
Urusan orang dewasa memang pelik, sementara hati Wonbin masih terlalu lunak untuk bisa mengerti. Pemuda itu menaruh bunga rangkaiannya di atas meja. Pergi gontai menuju mana pun yang tidak ada Sungchan di sana.
○●○●○●○●○●○●tbc○●○●○●○●○●○●○
