Chapter Text
"Aku tidak pernah mendapat surat cinta, tapi jika kamu memberikan satu kepadaku, mungkin aku akan tertarik." Ucapnya dengan nada menyebalkan, Enmusubi yang sedang duduk di hadapannya hanya bergidik geli.
"Sejujurnya aku tidak peduli denganmu ataupun masalah percintaanmu, jadi biarkan aku menyelesaikan sketsa boneka santet ini." Ucapnya sambil merapikan kembali boneka milik Kidoumaru yang tidak sengaja disenggol oleh sang pemilik.
"Kalau misalnya ada yang memberimu surat cinta, bagaimana?" Tanya Enmusubi tanpa memalingkan mata dari buku sketsanya, ia sangat butuh referensi untuk komik horor yang ia buat, dan kebetulan ia berteman dengan Kidoumaru. Yang hobi membuat boneka berbentuk tak lazim.
"Hm, entahlah." Karena tidak ingin mengganggu temannya itu, Kidoumaru memilih untuk bermain game di handphone-nya dengan mode senyap. Sehingga yang terdengar hanyalah suara gesekan pensil dan penghapus milik Enmusubi.
"Kenapa kamu tiba-tiba ingin banting setir menjadikan komikmu komik horor? Seingatku bukannya proyekmu kemarin itu tentang cerita romansa?"
"Kamu tahu yang namanya akulturasi? Nah, komik ini sama dengan itu. Memang awalnya mereka ingin aku membuat komik romansa, tetapi mereka kemudian memintaku untuk melakukan improvisasi dengan menambah genre yang bertolak belakang, tanpa menghilangkan dasarnya. Sehingga mau tidak mau aku harus mencampurkan kedua genre itu." Jawab Enmusubi dengan panjang dan lebar, kemudian menutup buku sketsanya.
"Akulturasi kan tentang budaya?"
"Ya, kan masih mirip artinya. Sudah dulu ya, terimakasih sudah meminjamkan boneka santet milikmu, aku akan kembali ke kelasku."
"Berhenti mengatakan maha karyaku sebagai boneka santet-"
Sraakk, suara sekumpulan kertas yang jatuh memotong ucapan Kidoumaru dan menarik perhatian satu kelas, dengan Kidoumaru yang hampir saja mencubit kedua pipi milik Enmusubi.
Setumpuk surat yang kebanyakan didominasi oleh warna merah muda jatuh berserakan di lantai dari dalam loker seseorang. Sepertinya karena pintu dari loker itu sendiri tidak mampu menahan puluhan surat yang dijejali di dalamnya.
"Itu loker milik siapa?" Tanya Enmusubi setelah berusaha keras menahan cengkeraman tangan Kidoumaru. Yang menerima pertanyaan pun melihat ke arah belakang, "Oh, itu loker dia." Pas sekali setelah Enmusubi bertanya, sosok pemilik loker berisi tumpukan surat itu berlari masuk ke dalam kelas. Laki-laki yang ditunjuk adalah Youko, yang langsung merapikan surat-surat itu dan menaruhnya kembali ke dalam loker miliknya.
Selain karena bunyi kencang dari jatuhnya surat-surat itu, anak-anak di kelasnya tidak menaruh perhatian satupun. Ini sudah menjadi kejadian biasa, jadi mereka sudah tidak kaget lagi.
Langit sudah berubah warna menjadi jingga, sebagian besar dari mereka sudah menempelkan kepalanya dengan meja. Menunggu suara bel surgawi berbunyi, dengan suara guru muda yang terus menerangkan materi termokimia sejak satu jam yang lalu.
"Untuk hari ini kita belajar sampai disini saja. Untuk tugas, nanti akan saya kirimkan ke grup kelas. Silahkan disiapkan." Perkataan guru dengan name tag bertuliskan Enenra di kemejanya itu sukses menghilangkan rasa kantuk dan jenuh dari sebagian murid kelas 11-2.
Kidoumaru pun duduk kembali setelah semua murid memberi salam, ia pun mengambil buku-bukunya untuk dimasukkan ke dalam loker. Kidoumaru tidak pernah membawa pulang buku pelajarannya, yang ia bawa pulang hanyalah buku mata pelajaran yang memiliki pr. Maka dari itu ia bisa dengan santai membawa perlengkapan menjahitnya.
Ngomong-ngomong soal menjahit, Kidoumaru sudah terbiasa dimintai anak kelasnya untuk menjahit kembali atau menambal barang-barang mereka. Walaupun terkadang ia dengan iseng menambah desain khas miliknya. Tentu saja dibayar, jika orang yang meminta tolong tidak membayar maka akan tetap ia tolong, tetapi yang dihasilkan akan semakin kacau dan sesuai dengan keinginannya sendiri yang bisa dibilang tidak lazim.
Ada tiga buku cetak dan empat buku tulis yang akan ia masukkan ke dalam loker, sampai ia melihat ada secarik surat yang tidak sengaja terhimpit diantara buku-buku itu.
Karena penasaran, ia memutuskan untuk membawa pulang surat itu ke rumah.
Hai, aku tahu ini rasanya kurang sopan, tapi aku selalu memperhatikanmu setiap hari.
Memang, pada awalnya aku tidak pernah melihat dan memperhatikanmu, tapi lama kelamaan kamu malah semakin menarik perhatianku.
Maka dari itu, bolehkah aku mengatakan bahwa aku menaruh perasaan padamu? Maaf jika surat ini kesannya aneh, aku tidak pernah menulis surat seperti ini seumur hidupku.
Kidoumaru mulai membaca surat itu dengan seksama, dengan raut wajah yang semakin mengkerut seiring ia membacanya. Namun ia langsung berpikir, mungkin saja surat ini ditujukan untuk anak kelasnya, Youko. Namun bukannya menaruh di lokernya, sang penulis malah meletakkan surat itu di dalam loker milik Kidoumaru yang kebetulan bersebelahan.
"Tidak mungkin ini surat untukku, tidak ada namaku dan pengirimnya pula. Juga tidak mungkin orang aneh yang dimaksud disini itu, aku, apalagi maha karyaku."
Maka dari itu, ia berencana untuk meletakkan surat itu kembali ke tempat yang seharusnya, yaitu loker Youko pada besok pagi.
"Lho tidak dikunci, pantas saja surat-surat itu bisa membludak begitu saja." Ucapnya setelah membuka pintu loker sebelah. Surat-surat di dalam loker itu justru bertambah semakin banyak. Menyulitkan Kidoumaru untuk menaruh surat itu ke dalam karena loker itu sudah penuh sekali.
Di tengah usahanya, terdengar suara langkah kaki dari arah luar pintu, sosok itu pun membuka pintu kelas dan perhatiannya langsung tertuju kepada Kidoumaru yang berjongkok di depan loker miliknya.
"... Kidoumaru?"
Kidoumaru yang mendengar namanya dipanggil pun langsung menengok ke arah sumber suara, ia pun bernapas lega kemudian berjalan ke arah Youko, "Ini, sepertinya ada fans-mu yang salah meletakkan surat ini ke dalam lokerku." Ia kemudian memberikan surat itu kepadanya dan pergi meninggalkannya begitu saja karena ia harus pergi ke membuka pintu ruangan ekskul handcrafts.
Youko yang tadinya diam membisu kemudian melengos sambil menggerutu. "Kidoumaru bodoh, padahal itu surat untukmu ..."
