Actions

Work Header

One Day When Jihoon Became Weird

Summary:

Terkutuklah seluruh tanda-tanda dari alam semesta karena membuat seorang Lee Jihoon menimbulkan trauma kepada anggota grupnya.

Notes:

Ini merupakan karya fiksi yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan nyata. Semua karakter adalah milik diri mereka sendiri sedangkan jalan cerita berasal dari buah pikiran saya. Barang siapa dengan sengaja menjiplak karya ini baik sebagian maupun seluruhnya akan mendapat hukuman dari semesta (serius, saya mendoakan kalian dapat karma).

Apabila ada kesamaan pada cerita ini dengan kejadian atau hal lain baik di dunia nyata maupun fiksi, itu hanyalah ketidaksengajaan belaka. Selamat membaca!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Jihoon sedang dalam masalah.

Setelah melalui pemikiran yang panjang dan penuh pertimbangan, produser SEVENTEEN ini memutuskan bahwa ia butuh saran. Berhubung Bumzu melarikan diri sebelum Jihoon bisa bertanya lebih jauh, maka ia memutuskan bahwa Seungcheol merupakan orang yang tepat untuk ditanyai.

“Kamu tahu, aku tidak akan paham maksudmu apa jika kamu tidak mulai bercerita, Jihoon,” Seungcheol tersenyum canggung setelah Jihoon menyudutkannya di ruang latihan lima menit yang lalu. Matanya mengerjap cepat, berusaha menimbang apakah dia harus tetap diam di sudut ruangan atau melarikan diri.

Jihoon merosot, menenggelamkan wajah di antara dua lengan setelah mengerang frustasi. “Aku tidak bisa mengerti, apa sulitnya memberikan apa yang aku inginkan? Kenapa dia bersikap pelit disaat seperti ini?” keluhnya.

“Ummm...”

“Kamu sadar ‘kan Hyung, sebagai manusia kita memiliki kebutuhan yang wajar untuk dipenuhi?”

“Jihoon, kamu bisa mulai bercerita dari awal?” Masih dengan senyum canggungnya, Seungcheol menyentuh bahu Jihoon singkat.

“Dia bilang aku menggemaskan!!! Dia bilang aku seksi!!! Dia—“

“Woaaa,” Seungcheol mengangkat tangan, menghentikan racauan Jihoon yang mulai tidak jelas arahnya. “Konteks, please?”

Jihoon menghela napas dan menggerutu.

“Sebenarnya, siapa yang sedang kamu keluhkan ini?” Seungcheol melirik Jihoon prihatin.

“Soonyoung.”

Seperti sihir, begitu nama pemimpin tim pertunjukan itu disebut, Jeonghan dan Wonwoo masuk ke ruang latihan.

“Ada apa dengan Soonyoungie?” tanya Jeonghan penasaran. Jihoon menggigit bibir, melibatkan Jeonghan dan Wonwoo tidak masuk dalam rencananya.

Seungcheol memanggil Jeonghan dan Wonwoo dengan kibasan tangannya. Jika Jihoon ingin meminta saran tentang Soonyoung, pria Daegu ini yakin dia bukanlah orang yang tepat untuk memberi solusi.

“Jihoon-a, kamu berantem lagi sama Soonyoung?” tanya Wonwoo setelah mereka berempat duduk melingkar di sudut ruangan.

“Tidak,” jawab Jihoon. Dia menghela napas panjang. Niat awalnya bertanya pada Seungcheol adalah agar Soonyoung Protection Squad tidak ikut campur. Sayang sekali mereka sepertinya punya sensor khusus yang mendeteksi jika Soonyoung sedang dalam masalah. Beruntung Seungkwan dan Chan masih ada jadwal lain dan tidak ikut menatap Jihoon dengan tatapan menilai seperti dua anggota lain.

“Lalu, ada apa dengan Soonyoungie?” tanya Jeonghan lagi. Meskipun nadanya lembut dan terdengar biasa saja, Jihoon tahu bahwa Jeonghan khawatir. Soonyoung itu adik kesayangannya, tahu.

“Dia... dia...” Jihoon menggigit bibirnya ragu. Apakah bijak menceritakan masalahnya pada banyak orang seperti ini? Tapi Bumzu sudah melarikan diri jadi Jihoon tidak punya banyak orang yang bisa memberikannya saran.

“Cerita saja. Kami pasti bisa memberikan solusi,” Wonwoo menaikkan kacamatanya yang merosot.

“Sonyoung sudah tujuh bulan tidak melakukan seks denganku.”

“Oke, aku tidak punya solusi.”

Wonwoo nyaris mencium lantai karena celananya ditarik Jihoon setelah ia berdiri untuk percobaan melarikan diri.

Geez, santai, Bung!” seru Wonwoo sambil memperbaiki posisi celananya. “Sungguh, aku tidak bisa memberikanmu solusi, Jihoon. Aku perjaka! Satu-satunya yang mendekati senjataku adalah ini!” Wonwoo melambaikan kedua tangannya.

“Makanya aku tidak membicarakan ini denganmu,” jawab Jihoon.

“Terus apa yang membuatmu berpikir aku bisa memberikan solusi, Jihoon?” desis Seungcheol. “Satu-satunya yang bukan pemain tunggal dalam grup kita hanyalah dirimu dan Soonyoung, itupun karena kalian sepasang kekasih. Apa kamu berniat mengejekku?”

Jihoon mengusak rambutnya kesal. “Aku tahu! Tapi aku tidak punya orang lain untuk ditanyai. Bumzu Hyung melarikan diri begitu Soonyoung dan seks berada dalam satu kalimat. Aku butuh solusi!!!”

Seungcheol, Jeonghan, dan Wonwoo saling bertukar pandang. Jihoon sangat jarang meminta saran karena dia cukup pintar untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Tentu mereka dengan senang hati ingin membantu, tapi pengalaman mereka terkait seks terbatas pada video dan film rekomendasi Bumzu Hyung. Mereka sama sekali tidak bisa memberikan saran, oke?

Seungcheol menyenggol Jeonghan, memintanya mengambil alih. Orang yang disenggol memberikan isyarat bahwa dia tidak ingin, namun erangan kecil Jihoon berhasil membuat Jeonghan menyerah.

“Hmm... memangnya kenapa jika kalian tidak...” Jeonghan mengatupkan bibir kemudian berdehem. “Maksudku, apakah kalian rutin melakukan—“

“Yoon Jeonghan!” seru Wonwoo.

“Apa?!”

“Aku sungguh tidak ingin tahu detail kehidupan ranjang dua sahabatku!” seru Wonwoo. Wajahnya sudah merah sempurna.

“Aku setuju,” bisik Seungcheol.

“Tapi Jihoon kita minta solusi!” ujar Jeonghan berusaha membela diri. “Bayangkan betapa tertekannya dia sampai meminta saran pada perjaka seperti kita!”

Wonwoo dan Seungcheol mengerang. Begitu juga Joshua dan Seokmin yang baru melewati pintu ruang latihan. Empat kepala menoleh serentak pada dua orang yang baru masuk ruangan dengan tangan membawa kopi hasil titipan. Sebelum Jihoon sempat angkat suara, Joshua sudah meletakkan bawaannya di lantai kemudian menarik Seokmin keluar.

“Aku sungguh tidak ingin mendengar kelanjutan pembicaraan kalian. Anggap saja aku dan Seokmin tidak pernah mendengar apa-apa,” detik berikutnya, mereka telah hilang entah kemana.

Empat orang yang masih menyudut itu saling tatap. Jeonghan kembali berdehem dan menyenggol bahu Jihoon. “Ehm, bisa dijelaskan, Jihoon?”

Sang produser mengerucutkan bibir. “Ini semua salahku.”

Jeonghan mengangkat sebelah alisnya. “Ooookeee...?”

“Terakhir kali kami berhubungan, aku tidak sengaja memancing Soonyoung hingga dia lepas kendali. Sungguh, aku sama sekali tidak menolak karena dia jarang sekali memegang kendali penuh. Tapi Soonyoung tidak suka dan menolak untuk menyentuhku lagi,” Jihoon memeluk kakinya sendiri. Rautnya semakin sedih seiring kalimatnya berakhir.

Seungcheol mencubit pahanya sendiri untuk mencegah gambaran tak senonoh mengenai dua adiknya tercipta. “Kamu sudah coba minta maaf? Soonyoung pasti memaafkanmu, Jihoon.”

Saran itu dibalas Jihoon dengan gelengan kepala. “Aku sudah berulang kali bilang maaf! Tapi kita ada persiapan comeback dan latihan konser hingga kesempatan banyak berlalu. Tujuh bulan! Aku tidak percaya dia sungguh-sungguh menghentikan seks hanya karena aku memanggilnya hyung saat kami bercinta!”

“Woaa, TMI!!” seru Wonwoo dan Seungcheol histeris.

“Memangnya kenapa?”

Pertanyaan itu bukan dari Jeonghan yang sedang terperangah, melainkan dari Mingyu yang berdiri tanpa dosa di tengah pintu masuk, mengabaikan Jun dan Minghao yang mencoba menariknya kabur. Wonwoo, Seungcheol, dan Jeonghan menatap Mingyu tidak percaya. Seruan ‘kenapa-tanyakan-itu’ tercetak jelas pada wajah mereka.

“Karena itu fetish-nya. Fetish kami dan aku tahu dia akan lepas kendali tapi aku tetap menggunakannya,” jawab Jihoon.

“Ah, aku rasa aku baru saja menanyakan hal yang tidak seharusnya,” ucap Mingyu setelah menyadari apa yang sedang mereka bicarakan.

“Kamu benar dan tidak seharusnya kita tahu apa yang Soonyoung Hyung dan Jihoon Hyung lakukan di waktu privat mereka!” Minghao menarik paksa tubuh besar Mingyu hingga tiga orang itu hilang dari ruang latihan.

“Aku tidak mengerti kenapa dia begitu menyesal. Tidak bisa bangkit dari kasur selama seminggu bukanlah masalah besar bagiku!” Jihoon masih menggerutu. Tiga orang lainnya tertawa canggung. Mereka sama sekali tidak ingin informasi tentang apa yang membangkitkan libido Soonyoung maupun Jihoon. Mereka juga tidak ingin lagi tahu alasan Jihoon berdiam di kamarnya selama dua minggu penuh dan tidak pergi ke studio beberapa bulan lalu.

“Maksudku, apa aku kurang enak dipandang? Aku rutin latihan, tubuhku masih sama bentuknya. Bokongku bahkan lebih bulat dari sebelumnya. Apa aku masih kurang menarik perhatian? Aku tahu Soonyoung lebih suka rambutku pendek karena aku tampak lebih menggemaskan, tapi aku tidak kalah menarik dengan rambut panjang!”

“TMI, Jihoon. TMI!” seru Wonwoo frustasi.

Jihoon tahu mereka kesal, tapi Jihoon jauh lebih kesal. “Apa ini masuk akal? Apa dia tidak akan menyentuhku lagi? Apa Soonyoung sudah tidak mencintaiku lagi?!”

Semakin lama racauan Jihoon semakin aneh dan Jeonghan tidak bisa mendengar bocoran kehidupan seks mereka lebih jauh. Oleh karena itu, dengan keberanian dan dorongan frustasi Seungcheol di bahu, Jeonghan buka suara.

“Ah, Jihoon, tentu Soonyoung mencintaimu. Kalian sudah berkencan hampir 12 tahun, apalagi kamu adalah cinta pertamanya. Tidak mungkin dia berhenti mencintaimu. Bahkan menurutku dia semakin mencintaimu dari hari ke hari,” Jeonghan mengusap bahu Jihoon, mencoba menenangkannya. “Mungkin saja dia memang tidak memiliki waktu karena... kamu tahu... kita ada latihan koreo untuk comeback dan konser, belum lagi jadwal pribadinya?”

Jihoon menatap Jeonghan dengan tatapan yang begitu menyedihkan hingga mereka iba. “Soonyoung tidak pernah absen menyentuhku lebih dari tiga bulan, Hyung. Sesibuknya kami, setidaknya akan ada satu kesempatan untuk melepaskan nafsu berdua! Bahkan meskipun itu hanya hal sekecil ciuman memabukkan yang membuatku lupa bernapas—“

“T.M.I!!!” seru Wonwoo memotong penjelasan Jihoon sambil menutup telinganya yang terasa panas.

“Intinya, aku hanya ingin disentuh! AKU INGIN SOONYOUNG MENIDURIKU!!!” Jihoon berteriak frustasi sambil mengangkat tangannya ke udara. Cukup keras hingga mengejutkan trio maknae yang baru saja masuk ke ruang latihan.

“Hm... uh...” mata ketiganya membesar atas teriakan Jihoon barusan. Seungcheol melambaikan tangan pada mereka, berusaha membuat mereka pergi yang ditanggapi oleh Chan.

“Kami akan tunggu di luar hingga kalian selesai,” Chan menyeret Hansol dan Seungkwan keluar.

Jihoon mulai mengeluarkan suara-suara aneh yang terdengar seperti kucing menangis dan tiga temannya di dalam ruangan mulai merasa takut.

“Jihoon, jangan begini. Aku yakin Soonyoung akan bergerak setelah jadwal kalian lebih lowong,” kali ini Seungcheol mencoba menenangkan Jihoon. “Omong-omong, mengapa kamu begitu ingin melakukan... ‘itu’?”

Jihoon berhenti mengeluarkan suara sedihnya dan menatap Seungcheol lama. “Aku rindu.”

“Oke, harusnya aku tidak menanyakan hal itu,” Seungcheol menggosok belakang lehernya lelah.

Melihat raut wajah teman-temannya, Jihoon menghela napas panjang. “Kalian tidak mengerti. Seks bersama Soonyoung itu...” Jihoon menangkup pipinya yang mulai memerah. “...dia itu...”

Jihoon tidak melanjutkan kalimatnya, namun raut wajahnya cukup memberikan gambaran mengenai apa yang sedang produser itu bayangkan.

“Kamu benar. Kami tidak mengerti karena kami ini perjaka,” Wonwoo menggerutu. “Menurut pandanganku yang tanpa pengalaman ini, akan lebih baik jika kamu minta saja langsung pada Soonyoung jika kamu se-desperate itu.”

Jihoon menatap Wonwoo seolah temannya itu baru saja mengucapkan hal yang tidak masuk akal. “Kamu pikir aku tidak mencoba? Aku sudah meminta, menggoda, bahkan menyerangnya saat dia tidur, tapi dia masih tidak mau menyentuhku lebih jauh! Kenapa?!”

Sungguh, Wonwoo dan Jeonghan bisa merasakan aura frustasi yang menguar dari Jihoon, membuat mereka iba dan jadi ingin mempertanyakan motif Soonyoung. Semua anggota SEVENTEEN tahu bahwa dalam hubungan sosial, Jihoon tidak suka mengungkapkan maksudnya terang-terangan. Apalagi jika menyangkut perasaan. Untuk meminta Soonyoung menemaninya saat sakit saja, semua anggota harus memaksa Jihoon mengaku. Sekarang dia terang-terangan mengeluhkan perasaannya? Keduanya mengusap bahu Jihoon untuk menenangkannya. Seungcheol, yang merasa terabaikan dan tidak berguna, menepuk-nepuk lutut Jihoon sebagai bentuk simpati.

“Ada yang bisa menjelaskan kenapa anak-anak duduk berbaris di lorong?”

Speak of the devil.

Keempatnya menatap Soonyoung yang baru saja masuk ke ruang latihan.

Nappeun namja,” bisik Jihoon. Matanya memancarkan rasa... kesal?

Soonyoung menggunakan kaos tanpa lengan warna hitam yang dilapisi kemeja kotak-kotak merahnya, dipadu celana jeans pas di badan karena dia baru saja menyelesaikan jadwal pribadi. Rambutnya masih tertata meskipun make up yang ia gunakan telah dibersihkan.

“Lelaki jahat,” ulang Jihoon lebih keras.

Soonyoung terbata, jelas tidak menyangka akan dikatai begitu tatap muka dengan Jihoon. Kekasihnya yang tengah dikelilingi teman satu grupnya dengan tatapan iba dan menghakimi.

“Kalian lihat? Ini sungguh tidak adil! Kenapa dia tidak menyentuhku meskipun penampilanku sebaik ini?” Jihoon menepuk pahanya yang tampak karena ia memakai celana pendek. “Aku yang membentuk tubuh itu tapi dia menolak menyenangkanku!” Kali ini Jihoon menunjuk Soonyoung penuh dendam.

“Apa?” Soonyoung kehilangan fokus. “Jihoon-a, kamu barusan bilang apa?” tanyanya sambil mendekati kerumunan di pojok. Seungcheol menarik Jeonghan dan Wonwoo untuk berangsur mundur dan memberikan pasangan itu ruang.

“Kenapa kamu berpakaian sebaik ini tapi tidak mau menyenangkanku? Aku butuh belaian, Young!”

CTAKK!!!

“Aaaahhhh!” Jihoon meringis sambil mengusap dahinya yang baru saja disentil Soonyoung. Ia berniat mengungkapkan sumpah serapah, namun raut wajah Soonyoung yang serius membuat suaranya tersangkut di tenggorokan.

“Sudah berapa hari kamu tidak tidur?”

Oke, ini jauh di luar skenario. Soonyoung yang marah tidak masuk dalam rencana!!!

“A... apa yang kamu katakan? Jangan mengalihkan pembicaraan, Kwon Soonyoung,” jawab Jihoon terbata. Diliriknya Seungcheol yang sedang merangkak tanpa suara untuk kabur keluar ruang latihan.

“Kamu mengeluhkan keinginan terpendam pada teman segrup jelas hal yang mustahil terjadi tanpa alasan. Aku tahu kamu paham apa alasan sebenarnya dan kamu bilang mengerti, Jihoon. Jadi jelaskan padaku kenapa kamu tiba-tiba mengungkap urusan ranjang kita setelah beberapa minggu yang lalu kamu sendiri menolak aku bertindak lebih jauh, sayang?”

Aduh, Jihoon benar-benar salah langkah. Padahal biasanya Soonyoung itu tidak begitu memikirkan alasan-alasan, namun tampaknya dia merasa keadaan cukup genting hingga ia berpikir.

“Jangan pikir untuk berbohong karena aku tahu dan aku tidak suka, Jihoon. Langsung saja ke intinya,” Soonyoung menyela sebelum Jihoon bisa mengungkapkan omong kosong.

Ditatap oleh Soonyoung yang sedang berdiri, dengan raut serius yang menunjukkan bahwa ia tidak ingin main-main, urat lehernya tercetak samar karena mengatupkan rahang, bibir lembutnya mengatup hingga membentuk garis lurus. Tuhan, jika saja Jihoon sedang berdiri, dia pasti akan langsung berlutut karena tidak tahan.

“Bumzu Hyung bilang pasangan yang lama tidak berhubungan badan itu artinya akan berpisah karena sudah bosan bersama,” tanpa halangan, Jihoon mengungkap alasan dasar ia uring-uringan sejak tadi. Ia berani sumpah melihat pelipis Soonyoung berdenyut seiring dengan katupan rahangnya yang makin kuat.

“Terus kamu percaya?”

Jihoon mengangguk.

Sudah berapa hari kamu tidak tidur, Jihoon?” Soonyoung mengulangi pertanyaannya, kali ini dengan penekanan di seluruh kalimat. Jihoon menelan salivanya yang tiba-tiba berkumpul di mulut.

Tuhan, Soonyoung yang tegas begini seksi sekali!

“A... aku lupa,” cicit Jihoon.

Lee Jihoon tahu bahwa Kwon Soonyoung paling tidak suka jika dia lupa tidur dan makan. Cukup pengalaman lalu saat ia lupa makan mengantarkan Jihoon pada kehidupan seperti anggota militer. Harusnya dia tahu Soonyoung akan marah jika dia sampai lupa tidur.

Jadi Jihoon sungguh tidak menyangka Soonyoung akan menghela napas, melepas kemeja dan menggulungnya menjadi buntalan, kemudian memaksa Jihoon berbaring di lantai.

“Tidur, jagiya,” ucap Soonyoung sambil mengusap-usap pucuk kepalanya.

“Tapi kita ada latihan—”

“Ssst, tidur.”

Tidak butuh lama, Jihoon tiba-tiba merasa pusing. Seluruh energinya menguap dan ia merasa sangat lelah. Samar-samar Jihoon bisa merasakan Soonyoung mengecup pipinya sebelum akhirnya ia jatuh dalam tidur tanpa mimpi.

.

.

.

.

.

.

“Kalian mulai saja latihan tanpaku. Aku butuh bicara dengan Kye Bumzu.”

Sebelas orang anggota SEVENTEEN mengangguk patuh, termasuk sang general leader yang memimpin anggota lainnya masuk ke ruang latihan, kemudian menutup pintu dan menghela napas lega setelah melihat Jihoon tidur nyenyak di sudut ruangan dan Soonyoung menghilang dengan langkah terburu.

“Aku bersumpah akan membuat perhitungan pada Bumzu Hyung karena sudah membuatku trauma,” Wonwoo masih menutup telinganya yang tercemar pembicaraan tak senonoh dari sahabatnya tadi.

Jihoon di sudut ruangan menggeliat seperti kucing, memeluk tubuhnya sendiri. Seungkwan merasa iba dan menyelimuti Jihoon dengan jaketnya, menepuk-nepuk bahu Jihoon hingga sang produser kembali lelap.

“Ya, aku akan melakukan hal yang sama,” ucap Seungcheol.

Mari kita akhiri cerita ini dengan Bumzu yang mendapat silent treatment selama dua pekan penuh dari anak-anak asuhnya, ditambah gerutuan tak berujung dari Jihoon sepanjang mereka bekerja, serta ancaman tak putus dari Soonyoung tiap harinya.

 

 

 

.

.

.

.

.

.

 

 

 

Bonus:

“Soonyoungie, ada apa dengan punggungmu? Kamu pelihara kucing?” Jeonghan menunjuk punggung Soonyoung yang penuh bekas cakaran, tidak sengaja terlihat saat dia membuka jaket bertudungnya ketika mereka hendak latihan.

Soonyoung tidak menjawab, namun wajahnya memerah. Begitu juga Jihoon yang sedang berdiri di dekat speaker ruang latihan.

Seisi ruangan hening.

“Jadi itu sebabnya dinding apartemen kita terus bergetar kemarin malam!!!” seru Chan heboh.

“T.M.I!!!!” teriak Wonwoo sambil menutup telinga.

“Ya Tuhan,” Seungcheol mengusap wajahnya lelah.

 

**^^*Tamat*^^**

Notes:

Saya sudah terlalu lama tidak menulis fanfiction. Tolong maafkan kesalahan ketik atau sebagainya yang luput dari penglihatan saya. Kritik, saran, atau sekedar komentar tanpa makna sangat ditunggu dari pembaca. Sampai jumpa di lain cerita~

Series this work belongs to: