Actions

Work Header

Ku Titipkan Rindu Kepada Waktu

Summary:

🌿🌿🌿🌿

🌸🌸🌸🌸

Notes:

Chapter Text

(Jepang, 1916.)

 

Angin. Pohon-pohon bambu terayun merunduk-runduk. Cahaya siang berkilauan di balik rapatnya dedaunan yang bergemerisik. Kibaran lengan haori dan suara langkah sehalus kepak sayap kupu-kupu. Wangi tipis bunga fuji menyerbak di antara pekatnya udara yang beraroma bambu.

Shinobu Kochou hadir bahkan sebelum sosoknya terlihat. Tanpa repot-repot bangun dari bangku panjang paviliun, Tomioka menyapa, "rupanya kau, Kochou."

Shinobu muncul dari jalan setapak di belakang rimbunnya bambu muda yang laksana tirai. Sembari menyunggingkan senyum, ia mendekat tanpa suara.

"Habis latihan?" Ia bertanya. Sehelai daun bambu yang hanyut dalam arus angin tertangkap tangkas di jemarinya sebelum sempat tersangkut di rambut Tomioka.

Jarak mereka hanya sebentangan lengan, Tomioka menyadari bola mata Shinobu jauh lebih ke ungu ketimbang hitam. Sejenak ia kehilangan fokus sampai kemudian benaknya mencerna ujaran Shinobu. "Ya."

"Kau beruntung." Shinobu menjentikkan daun bambu di tangannya. "Aku bawa bekal lebih." Ia duduk di seberang Tomioka dan meletakkan sekotak nasi kepal ke atas meja batu.

Merasa tertarik, Tomioka akhirnya bangkit. Tak cuma bekal makanan, Shinobu juga membawa air minum. Warna ungu muda terlihat samar tatkala ia menuangkan air ke dalam gelas kayu. Tomioka mengulurkan tangan, tapi Shinobu menepisnya.

"Bekalnya boleh, air minumnya jangan."

"Tapi aku haus," kata Tomioka, mencoba memancing iba.

Shinobu tersenyum tipis. "Ini teh bunga fuji. Masih mau minum?"

Tomioka tak bersikeras lagi dan makan jatahnya dengan patuh. Hanya sesekali ia mengawasi Shinobu, pada teh bunga fuji yang kian susut di gelasnya.

Terlepas dari rupa dan warnanya yang cantik, bunga fuji sangat beracun. Tomioka masih ingat rasa dingin yang menjalari punggungnya ketika mengetahui fakta Shinobu dengan sengaja mengonsumsi bunga itu secara berkala.

"Kita hidup di masa perang, Tomioka, jadi sudah sewajarnya tiap orang menyiapkan jurus pamungkas masing-masing," kata Shinobu, saat Tomioka mengutarakan kecemasan dan keberatannya waktu itu. "Ini adalah jurus pamungkasku."

"Apa harus seperti ini?"

"Musuh yang akan kuhadapi..." Sejenak Shinobu terdiam, dan dalam sesaat yang langka itu, Tomioka melihat wajah aslinya. Hanya sesaat, karena Shinobu mengenakan topeng senyumnya secepat dan sealami menghela napas. Sewaktu berbicara, ia tidak melanjutkan kata-katanya barusan. "Kalau aku beruntung, aku akan pulang membawa kemenangan. Kalau tidak, aku tidak akan kembali. Bunga fuji ini adalah janjiku, walau mati sekalipun, aku tidak akan berhenti melawan."

Saat menengadah ke masa kini, melihat pemandangan hutan bambu yang senantiasa hijau teduh tak terusik waktu, rasanya sulit dipercaya, di luar sana perang mengerikan tengah berkecamuk.

Bekal makan siang habis, teh bunga fuji itu pun tak bersisa. Tomioka menatap wajah pucat Shinobu, melihat keringat dingin menitik di keningnya. Pun demikian, Shinobu tetap tersenyum. Seolah-olah ia tidak baru saja menelan racun yang bisa membunuh seorang pria dewasa dengan bobot dua kali bobot tubuhnya. Seolah-olah salah dosis hanya akan membuatnya keluar masuk kamar kecil alih-alih ke liang kubur.

Sesuatu menggeletar di sanubari, namun Tomioka menguburnya dalam-dalam.

"Apa kau tahu, Tomioka, Hashira sebelum kita pernah menjadikan tempat ini sebagai tempat rahasia?"

"Hutan ini?" Membiarkan perhatiannya teralih, Tomioka menyahut sangsi. Hutan bambu ini memang sepi dan tidak bisa sembarangan dimasuki orang, tapi tempat rahasia? Rasanya mustahil. Siapapun tahu hutan bambu ini adalah tanah pribadi milik Ubuyashiki Kagaya.

"Ah ralat, lebih tepatnya tempat menyimpan rahasia," seakan-akan bisa membaca pikiran Tomioka Shinobu mengubah kata-katanya.

"Di sini?" Tomioka masih tak percaya. Sesuatu di wajahnya membuat Shinobu tergelak. Tomioka menahan rasa ingin sapu muka dengan telapak tangan, risau kalau-kalau ada nasi menempel di ujung hidung.

"Kalau tak percaya, sini." Shinobu mendadak bangkit dan pergi ke pojok paviliun. Sambil berjongkok, ia memanggil Tomioka yang masih ragu dengan lambaian tangan.

Lantai paviliun itu terbuat dari bata kelabu yang disusun horizontal mengikuti pola melingkar. Setiap batu tertata apik dari tengah sampai ke ujung, akan tetapi hanya bata di pojokan itu saja yang lain daripada yang lain. Alih-alih horizontal, ia diletakkan secara vertikal.

Shinobu tersenyum lebar melihat kernyit dahi Tomioka. Tangannya menarik bata itu pelan-pelan, sampai Tomioka melihat sebuah lubang sedalam 30 senti di baliknya.

Lubang itu tidak kosong. Ada sebuah kotak panjang berbahan besi diletakkan di sana. Seperti tempat penyimpanan surat atau dokumen, tetapi saat dibuka, kotak itu tak berisi apa-apa.

"Kau yakin ini punya Hashira sebelum kita?" ujar Tomioka. Shinobu manggut-manggut dan mengembalikan kotak itu ke tempatnya.

"Dari mana kau tahu? Bisa saja itu punya Oyakata-sama," kata Tomioka lagi, namun anehnya Shinobu menggeleng pasti.

"Karena, Tomioka, kakakku yang diam-diam membuat lubang penyimpanan ini."

Tomioka menatap Shinobu lama sekali sampai gadis itu tercekikik geli.

 

🌿

 

Selang waktu beberapa minggu setelah hari itu, Tomioka kembali bermalas-malasan di paviliun di tengah hutan bambu setelah intensnya latihan jurus Pedang Air.

Baru beberapa saat rebah di bangku, Tomioka teringat lagi pada lubang penyimpanan di bawah lantai. Entah apa yang menggerakkan hatinya kemudian, hingga ia beranjak dan mengecek isi kotak besi di dalam lubang.

Sepucuk surat tertinggal di sana.

Dari kata-kata Shinobu, selain dirinya, cuma Tomioka yang tahu tempat rahasia ini, jadi apa itu berarti surat ini ditinggalkan Shinobu untuknya? Mengabaikan debaran aneh di dadanya, Tomioka membuka lipatan surat dengan tak sabar. Namun sayang apapun yang ia harapkan kandas demi melihat apa yang tertera, atau lebih tepatnya lagi, tergambar di atas kertas.

Ia melihat lukisan pemuda gondrong jabrik bermata juling dan bermulut segitiga, memakai haori sama persis dengannya, melompat ke sana kemari di gang-gang pasar sambil mengayun-ayunkan pedang dari air dan membuat seisi pasar kocar-kacir mengungsi karena kebanjiran.

"... Memangnya aku juling?" Merasa tak puas Tomioka melipat kasar surat itu, memasukkannya lagi ke dalam kotak lalu menutup lubang dengan bata. Sambil mendengus ia kembali rebahan dan terlelap setelah setengah jam menghayal memiting leher seorang gadis pendek jahil tak tahu diri.

Meskipun diisengi, Tomioka tidak kapok mengecek isi kotak rahasia setiap kali ia mampir ke paviliun itu. Selain lukisan parodinya, Shinobu juga sering meninggalkan surat-surat pendek berisi lelucon garing seperti 'janganlah menuntut ilmu, sesungguhnya ilmu tidak bersalah' atau 'kalau kau jelek jangan takut mencintai, karena yang seharusnya takut adalah orang yang kau cintai'. Sekali waktu ia bahkan menyimpan resep lengkap jahe tsukudani dan salmon tumis kecap, berikut tips-tips kesehatan juga cara tokcer meluruskan rambut gondrong jabrik untuk pria kaku berusia dua puluhan.

Namun, ada kalanya surat yang ditinggalkan Shinobu bernuansa suram. Seperti saat ia pergi pada sebuah misi melacak keberadaan Iblis Bulan yang disinyalir sebagai Douma. Tomioka menemukan segulungan perkamen formula aneka racun pemusnah iblis yang telah disempurnakan berikut pesan agar Tomioka memberikan perkamen ini pada murid Shinobu, Kanao Tsuyuri, andai Shinobu tak kunjung pulang.

Pendek kata, Shinobu menitipkannya wasiat. Selama berhari-hari Tomioka tak dapat tidur dengan nyenyak, sampai terdengar olehnya berita kepulangan gadis itu ke Kastil Kupu-kupu; hidup, tanpa kekurangan suatu apa.

Lebih dari tiga bulan tidak bertemu, Tomioka berpapasan dengan Shinobu secara tak sengaja di sebuah kedai makanan. Shinobu terlihat sehat, meski tampak pucat dan lebih kurus. Ia mengernyit demi melihat isi nampan makan siang Tomioka.

"Kalau tak ada salmon kecap kau tak bisa makan ya?"

"Kau sendiri, pagi siang malam makan jahe tsukudani," balas Tomioka.

Shinobu duduk di sebelahnya, dan benar saja, ada sepiring jahe tsukudani di antara menu santap siangnya.

"Ini bagus untuk pencernaan, tahu!" Shinobu mendengus sembari mengelap sumpitnya dengan saputangan.

Membicarakan misi yang diemban adalah hal biasa di pertemuan antar Hashira, akan tetapi jika misi itu menyangkut Iblis Bulan Douma, semua Hashira secara kompak tidak mengungkit atau berkata apa-apa pada Shinobu. Semua orang punya lukanya sendiri, jadi meski khawatir, Tomioka memilih diam.

Dedaunan ginko runtuh menghujani jalanan begitu mereka meninggalkan kedai, mewarnai kelamnya cuaca musim gugur dengan warna kuning ceria.

"Ah, indah sekali. Di sana aku juga sering melihat hujan daun ginko," kata Shinobu tiba-tiba.

Di sana yang dimaksudkan Shinobu ini tentunya daerah di mana ia tempo hari ditugaskan, jadi Tomioka cuma berkomentar "begitukah?"

"Hm. Melihat pemandangan seperti ini, aku selalu berpikir... Andai perang usai, aku ingin pergi keliling dunia." Shinobu menangkap sehelai daun ginko dan memuntir-muntirnya di jemari.

"Kalau kau, Tomioka? Apa yang mau kau lakukan?"

Sejujurnya Tomioka tidak pernah berpikir ia bisa mencapai umur ke 30. Setiap kali pergi menunaikan misi ia selalu mengira itu akan jadi tugasnya yang terakhir. Ia hidup hanya untuk hari ini, bangun esoknya pun hidup hanya untuk hari itu. Ia tidak punya mimpi. Tujuannya pun cuma sekadar membasmi sebanyak mungkin iblis untuk mengurangi beban rekan-rekan seperjuangannya.

"Ah, itu," ia berpikir-pikir, mencari bahan obrolan. "Bikin rumah. Berkebun. Pergi mancing?" karangnya seraya mengedikkan bahu.

"Menikah? Punya anak?" goda Shinobu. Tomioka tertegun. Melihatnya bengong salah tingkah, Shinobu tertawa.

"Jangan-jangan kau sudah punya calon ya? Siapa? Apa aku kenal?" cecar Shinobu.

"... T-tidak..." kilah Tomioka, mendadak gagu. Merasa jengah, ia mempercepat langkah.

"Eh, jangan malu-malu!" Gelak tawa Shinobu terdengar di sepanjang perjalanan mereka pulang ke Kediaman Ubuyashiki.

Sayangnya kebersamaan itu semakin sulit mereka bagi. Perang kian memanas, tak jarang masing-masing Hashira menjalani misi panjang bahkan sampai ke pelosok negeri. Dalam waktu-waktu yang panjang inilah Tomioka kerap terpikir pertemuan terakhirnya dengan Shinobu. Sejak jadi Hashira, untuk pertama kalinya ia kembali berandai-andai. Jika kedamaian akhirnya terwujud, jika manusia akhirnya terbebas dari teror iblis, apa yang ingin ia lakukan.

Tomioka menyambangi paviliun hutan bambu begitu misinya usai. Ia tidak menjumpai Shinobu; gadis itu masih berkutat dalam misinya sendiri. Sebagai gantinya, setumpuk surat menanti Tomioka di kotak penyimpanan. Sewaktu dibaca, ternyata isinya catatan perjalanan Shinobu selama berdinas.

"... setiap musim hujan, bunga-bunga ajisai bermekaran di sepanjang lereng gunung di mana jalur kereta api Hakone Tozan melintas. Benar-benar luar biasa!" tulis Shinobu di satu surat. "Kalau ke Kanagawa, jangan lewatkan kesempatan ini!"

"... sampai di Higashiibaraki, tepatnya di pantai kota Oarai. Ada kuil yang sangat terkenal di sini, Kuil Oarai Isosaki, dengan tiga gerbang torii di tiga lokasi berbeda. Salah satu gerbang torii itu dibangun di atas karang di tengah laut. Bisa melihat torii di antara deburan ombak besar saat matahari fajar naik ke langit benar-benar pengalaman yang tak terkatakan. Aku bisa membayangkanmu berlatih Teknik Pernapasan Air Kesebelas di sana, Tomioka," tulis Shinobu di surat lainnya.

Tomioka membolak-balik tiap surat, berulang-ulang membaca catatan perjalanan itu. Di sebuah gang di kota Nara, ada seorang kakek nelayan yang menjual onigiri salmon yang sangat enak. Di Yamanouchi, ada mata air panas yang sering jadi tempat berendam monyet-monyet salju. "Hidup lagi capek-capeknya, giliran ketemu onsen masih harus berebut pula dengan monyet," keluh Shinobu di dalam surat. Tomioka sampai tertawa membacanya.

"Suatu hari nanti, kalau ada waktu, apa kau mau pergi keliling dunia bersamaku?"

Tomioka tertegun kala ia tiba di penghujung surat. Rasa hangat seketika merekah di dadanya.

"Ya, aku mau," jawabnya tanpa pikir panjang. Saat sadar, ia tersipu-sipu sendiri. Apa gunanya mengoceh sekarang, yang dengar cuma angin. Harusnya nanti, begitu ia bertemu Shinobu. Dengan hati ringan, Tomioka menyimpan kembali surat-surat itu ke kotak penyimpanannya.

 

🌿🌿

 

Shinobu tidak pernah kembali.

Misinya kali itu mengantarnya langsung ke hadapan Iblis Bulan Douma. Ia bahkan tak meninggalkan jasad untuk dikebumikan. Yang tersisa darinya hanyalah sebuah hiasan rambut, beberapa potong baju, sekotak obat dan racun pemusnah iblis, dan setumpuk kertas surat yang baru ditulisi hari dan tanggal.

Tomioka memilah barang peninggalan almarhumah, merasa kebas. Sehelai jaket Hashira milik Shinobu ia pilih untuk digunakan sebagai memento dalam prosesi pemakaman.

Kala jaket diambil, serobekan kertas melayang keluar dari lipatannya. Tomioka memungut kertas itu demi mengenali tulisan Shinobu di atasnya.

'Ku titipkan rindu kepada waktu,
agar senantiasa ia menyertaimu.
Ku ingin rasa ini abadi untukmu,
karena langkahku di kehidupan ini takkan pernah sampai kepadamu.'

"Shinobu..." bisik Tomioka parau. Sobekan kertas itu ia lekatkan ke dadanya. Airmata mengaburkan pandangannya, mimpi dan kenangan demi kenangan terbayang di tiap tetesan yang jatuh.

 

🌿🌿🌿