Actions

Work Header

Cause I believe that we were supposed to find this (We would've been timeless)

Summary:

“The letter that you gave me back then,”
“I regret that i never wrote back to you,”

Kertas yang dahulu menjadi patah hati terbesar Hazel mendatanginya kembali, kertas yang sudah berumur itu masih kokoh meskipun jangka hidupnya yang panjang, tulisannya semasa SMA masih jelas, tinta bolpoin masih merekat di atas kertas.

“Sorry it took me this long to write something back to you,”

Notes:

Selamat datang kembali dalam karya gue, ini adalah alesan gue tidur pagi semingguan ini, hope u guys enjoy ittttt<3<3

Fyi!
Hao as Hazel
Jiwoong as Jerico
Taerae as Tristan
Haruto as Hashi
Keita as Kinan
Zihao as Ethan

The rest of the characters are oc hope this helps!!

Chapter 1: Story of a romance torn apart by fate

Chapter Text

Air garam berkali-kali menabrak batuan yang duduk di atas pasir, angin membawa surai coklat hangat terbang ke berbagai arah, kedua netra memicing sembari mempelajari lukisan awan di atas kepala. Mentari perlahan pamit dari semburat jingga dan violet yang sebentar lagi hilang ditelan langit gelap, sentuhan pada bahu kanannya menarik Hazel kembali ke bumi.

 

“Just sit back and enjoy the moment will you?”

 

“No, i’m a wedding planner i can’t just sit back and enjoy,”

 

“Zel sumpah lo gak liat tuh mempelai sama keluarga dan temen-temennya? They are practically drunk,

 

“Gak bis-” Sebuah pesan pada in ear membawa langkah Hazel menjauh dari Tristan, langkahnya menghampiri kawasan belakang acara, tertutup dekorasi dan bunga. Beberapa individu siap menyalakan batang nikotin yang diapit kedua bilah bibir, sebelum,

 

“Maaf, smoking area sudah kami siapkan khusus di samping exit , mohon untuk tidak merokok di luar area tersebut.”

 

Tegurannya dibalas permintaan maaf kembali dari beberapa individu yang bersangkutan, satu korek api jatuh ke lantai, Hazel mengambilnya dahulu sebelum pemiliknya.

 

“Makasih.”

 

“Sama-sama.”

 

Tatapannya membawa Hazel ke sebuah tempat, kakinya masih berpijak pada pasir Nusa Dua tempat kliennya mengucap janji suci pagi ini, pantulan pada kedua irisnya berbisik sesuatu kepada relungnya, suatu hal yang Hazel tidak tahu ada dalam memorinya.

Lidahnya kelu, tidak dapat mengeluarkan sepatah kata, tubuhnya seperti beku walaupun sore ini suhu terasa hangat, semua memori dalam otak dirombak Hazel, mencari sebuah ingatan yang dapat menjelaskan tatapan lelaki di hadapannya.

 

“Zel, kitchen, now!”

 

Refleks menguasai tubuh, mengikuti perintah sesuai in ear , meninggalkan lelaki dengan tatapan seribu pertanyaan dalam benaknya.

 

“Gue kira ada sesuatu yang urgent, ternyata lo cuman mau minta pendapat tentang dessert?

 

“Ini penting tau! Lo gak inget nyokap mempelai perempuannya yang perfeksionis parah?”

“Lagian, what took you so long?

 

“Gak ada apa-apa, mas mas yang mau nyebat tadi cuman gue tegur doang,”

By the way, lo megang guest list gak?”

 

“Kenapa?”

 

“Gue mau mastiin sesuatu,”

 

Tristan menatapnya penuh skeptis, namun pertanyaan dalam benaknya ia tepis jauh-jauh, memberi Hazel tablet berisikan file excel berisi guest list.

Jerico Elramdan.

Nama tersebut berdengung pada kedua telinga Hazel, menariknya ke dalam sebuah tempat jauh yang tidak dirinya ketahui.

Hazel menatap kedua sepatunya, kemana pasir Nusa Dua yang sedang diinjaknya tadi? Kedua netra menelusuri kawasan baru, Hazel berada di tengah lapangan sekolah. Dan sekarang Hazel mengutuk dirinya sendiri mengapa kapabilitasnya untuk mengingat sebuah memori sangatlah lambat.

Tidak diberi waktu yang lama untuk meregistrasi perubahan disekitarnya, Hazel mendapati sebuah lelaki dengan seragam sekolah melangkah mondar-mandir menelusuri lorong, langkahnya tergesa-gesa, kacamatanya sedikit miring, dan sebuah kertas digenggamnya.

Memicingkan kedua matanya dalam upaya mengetahui identitas lelaki tersebut, seorang lelaki lebih tinggi, dengan seragam berantakan dan rambut berkeringat memasuki penglihatannya, langkah lelaki itu juga tergesa-gesa namun bukan karena alasan yang sama, sepatu dan kaos dalam seragamnya menjadi indikasi lelaki yang lebih tinggi berlari menghampiri lorong.

Jarak yang memisah lapangan dan lorong membuat Hazel tidak dapat mendengar percakapan kedua lelaki di lorong, lelaki yang lebih tinggi meninggalkan lorong setelah menerima kertas yang digenggam lelaki berkacamata, yang ditinggal mengusap kedua netranya, berlari entah ke mana.

Entah tarikan dari mana dalam dirinya, Hazel jatuh ke dalam cerita kedua lelaki di lorong, ingin tahu lebih detail apa yang baru saja terjadi, lantas Hazel ikut berlari ke lorong meneriaki lelaki berkacamata.

 

“Hey!”

 

Sembari berlari lelaki berkacamata itu menoleh ke belakang, kedua netra merah, menahan bulir air mata yang terancam keluar, Hazel terdiam.

 

“Hazel?”

 


 

“Zel! Hello? Earth to Hazel? Stop bengong Zel kita masih kerja?”

 

Tristan melambaikan satu tangannya di depan wajahnya, raut wajah bingung dengan sedikit khawatir, melihat ke bawah, kakinya kembali menginjak pasir Nusa Dua, kedua netra membelalak, apa yang baru saja terjadi?

 

“Tris, tadi gue gak di sini?”

“Tadi gue ada di sekolah, gatau sekolah siapa,”

“Tadi gue gak di Nusa Dua,”

 

“Apaan sih Zel? Lo gak apa apa? Dari tadi lo di sini, lo bengong dari tadi, gue sampe ngira lo kerasukan malah,”

 

“Tadi gue jelas-jelas enggak di sini Tris, i feel like i’ve been teleported somewhere,

“Kayak SMA gue dulu,”

 

“And you’re sick,”

 

“Enggak Tris lo harus percaya sama gue, gue kayak—”

 

“Kata gue juga apa Zel, lo tuh jangan lembur terus, sekarang lo jadi halusinasi gini kan? This is why you have to have a work life balance lifestyle,

 

Tristan membawanya menuju ruang staf, membantunya duduk di salah satu bangku di sudut ruangan, dan memberinya air minum, sembari memandangnya dengan tatapan khawatir campur emosi, entah karena ocehan aneh Hazel barusan, atau karena habit buruk Hazel yang sekarang mengancam kesehatannya, kesehatan mental lebih tepatnya.

Senyuman dan ucapan terima kasih membanjiri percakapan, kembali memuji pilihan karangan bunga dan makanan yang lagi lagi sukses membuat klien senang hari ini, seperti biasa Tristan dengan perkataan manisnya yang busuk untuk ibu mempelai perempuan, sarkasnya kasat mata bagi orang-orang, namun tidak bagi Hazel.

Beberapa ketukan pada pundak kirinya mencuri Hazel dari percakapan bersama keluarga klien, meninggalkan Tristan dengan senyuman mematikan yang pastinya akan berubah menjadi ocehan akan kurangnya solidaritas Hazel karena meninggalkannya bersama keluarga klien.

Seorang pria mencarinya, ucap salah satu stafnya, dalam perjalanan menuju lokasi arahan karyawannya, Hazel mengambil beberapa brosur usahanya, kapanpun dan di manapun selalu mencari kesempatan dalam kesempitan untuk promosi kepada calon klien yang mungkin saja tertarik untuk memakai jasanya.

Semua brosur dalam genggamannya tidak ada harga dirinya, saat Hazel mengetahui siapa lelaki yang menunggunya, lelaki sama yang lighternya Hazel ambil tadi, lelaki yang sama di lorong sekolah itu.

 

“Hi,” Mulai Hazel kikuk.

 

“Hello,”

“It’s Hazel, right?”

 

“Iya,”

“Jerico ya?”

 

“Iya,”

 

Balasan Jerico diikuti oleh sunyi yang mengisi ruang di antara kedua individu, Hazel memainkan brosurnya, tidak bisa menahan canggung yang menyelimuti dirinya dan Jerico.

 

“Ryan, dia yang hari ini nikah, dulu temen saya pas kuliah,”

 

“Ah iya,”

 

“So today was your work?”

 

“I wouldn’t say that exactly,”

“Sebagian besar ide kreatif dari kedua mempelai, dan masih banyak staf yang bantu, i’m just helping them a little bit,

 

“Bagus lho,”

“Saya enggak tahu sebanyak itu kerjaannya untuk nyiapin pernikahan,”

 

“Hehe iya… But i like it,

“Jadi gak capek-capek banget,”

 

Basa-basi belaka seakan menjadi upaya keduanya agar tidak membahas topik yang mengisi tenggorokan masing-masing, membuat dada terasa sesak akan rasa asing yang seharusnya tidak ada di antara mereka. Namun tampaknya Jerico dan Hazel masih ingin menolak fakta yang terpampang di depan keduanya.

 

“We should talk again later,”

“Maybe we could grab some drinks?”

“I know a nice place near here,”

 

“I would like that Jer,”

“But for now i can’t,”

“There’s still work to do,”

“Maaf,”

 

“No problem,”

“Mungkin lain kali.” Senyuman pada wajah Jerico menjadi penutup interaksi keduanya malam ini, Hazel sepertinya sudah bisa mendengar ocehan Tristan saat ia mengetahui siapa yang ia temui tadi.

 


 

“Lo ketemu siapa tadi?”

 

“Jer-”

“Jerico,”

 

“JERICO SMA?”

 

“iya…” Jawabannya lemas, Hazel seakan sudah menyerah sebelum perang mulai, jika perangnya bersama Tristan sebaiknya Hazel menyerah saja sepertinya.

 

“Astaga, Jerico temen SMA yang nolak lo waktu itu?”

“Kok dia bisa di Bali sih tiba-tiba?”

 

I don’t know Tris, lo aja bingung apalagi gue”

 

“And dia ngajak lo ngopi? Anjing lah, tu cowok mau apa sih?”

 

He’s just a friend from high school, emang apa salahnya kalau ngopi bareng sih?”

 

“Ini mah lo yang seneng diajak ngopi sama dia,”

 

“Fuck you.”

 

Pengumuman pilot mengisi pesawat, perintah mengenakan sabuk diikuti oleh penumpang, dua puluh menit lagi mereka akan mendarat di bandar udara Soekarno Hatta, dan Tristan berterima kasih Hazel mendarat di Jakarta lebih dahulu dari pada menyetujui ajakan Jerico bertemu.

Hazel berargumen bahwa jahat untuk kabur sebelum bertemu Jerico, namun sembari mengambil koper di tempat pengambilan bagasi Tristan membungkamnya dengan,

 

“Dia juga jahat pas nolak lo dan langsung deket sama temen lo waktu itu,” Lagi-lagi Tristan dan argumennya yang tidak pernah salah sasaran, Hazel semakin yakin bahwa Tristan salah karir, seharusnya ia bekerja sebagai pengacara saja, uangnya mungkin akan lebih banyak dari penghasilannya sekarang.

 

Wajah Hazel cemberut, tidak ingin mengakui kebenaran dari perkataan Tristan, egonya terlalu tinggi untuk itu, Tristan memberinya senyuman tipis, kacamatanya ikut naik sedikit.

 

“Zel, sometimes God sends someone back into your life to see if you're still dumb!”

“Makanya jangan sampe lo luluh sama taktik basi Jerico.”

 


 

“Jadi untuk vendor-nya Kak Dania kamu update terus ya biar gak keteteran sama yang lain,”

“Kalau Kak Carol dia jadi fitting-nya minggu depan ya, biar gak tabrakan sama fitting-nya Kak Runa,”

“You got that Kale?”

 

Yup, jangan lupa siang ini ada meeting sama Kak Anne untuk bahas hard sketch dan venue,

 

“Oke,”

 

“Kak Anne yang….?”

 

“Kak Anne yang rambutnya sepundak, suaminya mirip Nicholas Saputra!”

 

“Okay, thanks Kale.”

 

Kata Hashi ini kafe paling trendy yang lagi hits dikalangan anak muda, kalau Hazel boleh memutar waktu, dia lebih memilih kafe yang family friendly, dari pada harus terkepung oleh anak muda yang tampangnya dan cara berpakaiannya menambah sekat akan perbedaan umur mereka dengan Hazel, lain kata, Hazel merasa seperti dinosaurus yang tersasar siang ini.

Kaleila, sang asisten sempat memberitahu bahwa Kak Anne salah satu klien yang lebih easy going, mungkin klien idaman untuk beberapa wedding planner, namun tidak begitu menyenangkan untuk Hazel, karena klien easy going berarti lebih banyak kerjaan yang harus Hazel lakukan, khususnya di segi membuat keputusan.

Hazel menemukan meja kliennya, Kaleila tidak hiperbola saat mengatakan bahwa calon suami Kak Anne mirip Nicholas Saputra. Hard sketch berupa inspirasi pernikahannya nanti, adat, dan tanggal sudah mereka lalui, ternyata Kak Anne salah satu klien yang asik, topik obrolan seakan tidak ada habisnya jika mereka sudah berbincang. Beberapa fakta yang Hazel pelajari hari ini adalah Kak Anne akan menikah dengan adat Sumatra Barat dan memiliki adik kecil yang selalu menjadi korban atas perintah tiada hentinya.

 

“Sebenernya aku mau mamah papah aku ikut meeting siang ini, tapi mereka ada acara jadi gak bisa,”

“Jadi aku nyuruh adekku yang dateng hari ini,” Senyuman Kak Anne menghiasi wajah cantiknya, bertolak belakang dengan raut wajah Hazel yang mengikuti presensi lelaki yang baru saja ikut duduk bersama mereka, lelaki sama yang Kak Anne katakan adiknya.

“What took you so long?”

 

“Tadi macet,”

 

Hazel masih mengarahkan pandangannya ke bawah meja sedari tadi, masih belum menemukan keberanian dalam dirinya untuk menghadapi sirkus pemberian semesta yaitu hidupnya.

 

“Hazel, this is Jerico, my little brother,”

“Jerico, this is Hazel, my wedding planner.”

 


 

“Tumben hari ini diem aja Jer?”

“Abis liat hantu apa gimana?”

 

Sial Anne dengan kemampuan mencium hal tidak beres dari jarak minimal lima meter.

 

“What are you talking about?”

 

“I’ve known you since you were born,”

“You really think you can fool me?”

 

“It’s nothing,”

 

“Deron sampe nanya lo kenapa, biasanya lo kritis sama urusan penting kayak gini tapi tadi pas lagi meeting sama wedding planner-nya lo pasif banget?”

 

“Kalau rencana wedding planner-nya udah bagus ngapain perlu gue kritik lagi?”

 

“Minimal kasih saran lah?!”

 

Tatapan Jerico kepada Anne tegas, seperti enggan untuk memberitahu alasan sebenarnya untuk kelakuan pasifnya hari ini, Anne tidak mau kalah, karena sejatinya mereka berdua memiliki darah yang sama.

 

“Lo enggak suka sama wedding planner -nya ya?” Dan Anne menyimpulkan alasan yang tidak bisa lebih jauh lagi dari faktanya.

 

“Hah?”

 

“What are you talking about?”

“How did you even come up with that conclusion?”

 

“Ya lagian selama meeting tadi muka lo galak banget ke Hazel,”

 

Jerico hampir saja membalas Anne dengan argumen basi lagi, namun argumennya kembali ditelan, tidak ingin mengambil resiko Anne mengetahui siapa Hazel sebenarnya. Tatapan Anne masih melekat pada Jerico, upaya terakhir untuk memaksakan Jerico mengaku dan berkata jujur, sama halnya dengan ego Anne, Jerico juga memiliki ego yang tidak jauh beda dari kakaknya.

 


 

“Pelan-pelan minumnya besok masih kerja,” Hashi menahan satu tangan Hazel, tempo meminum Hazel malam ini cukup mengkhawatirkan, entah setan macam apa yang merasuki raganya kali ini.

 

“ANJING!”

“ANNE KAKAKNYA JERICO???”

“YANG BENER AJA?”

(RUGI DONG!)

 

Please jangan ngegas Nan, kuping gue sakit,” Ujar Hashi yang sedari tadi kupingnya dibantai oleh suara Kinan di sampingnya yang sepertinya tidak mengerti konsep volum suara dalam ruangan.

 

“Jerico yang di Nusa Dua kan?” Tanya Ethan.

 

“Yup,”

“Gue malu banget, rasanya kayak mau ngubur diri pake aspal,”

 

“Kalo gini jadinya mending gue nyuruh lo ngopi aja sama dia di Bali, biar lo gak malu gini,” Tristan memasang muka sedih, rasa bersalah mengisi relungnya sedikit. Jika boleh jujur keadaan Hazel sekarang menjadi hiburannya dan anak-anak kantor.

 

“Thanks a lot Tris, semoga aja gue gak ketemu dia lagi.” Terima kasih Hashi karena kali ini dia yang akan mengurus acara Kak Anne.

 


 

Tristan pernah mengatakan ‘Kalau jadi orang jangan gak enakan.’ dan pesan itu selalu Hazel buang jauh-jauh, dalam kerasionalan dirinya prinsip itu tidak berlaku jika sedang bekerja, argumennya adalah karena kita dibayar untuk direpotkan oleh klien. Alasan ini dipakai untuk menjustifikasi kehadirannya dalam gedung kantor kliennya.

Persetan sekuriti pada gedung-gedung kantor yang mengisi Jakarta Selatan, untuk masuk sebagai tamu saja susahnya minta ampun. Puji Tuhan lift sore ini tidak penuh, jika iya Hazel sudah menangis di lantai sepertinya.

 

“I didn’t expect to see you here,”

 

“I’m sorry?”

 

Dan jika Hazel berkata pada dunia bahwa ia sudah tidak mau lagi hidupnya dijadikan permainan maka takdir akan menentang argumennya.

Karena untuk yang ketiga kalinya Hazel bertemu dengan Jerico.

 

“Ada meeting sama klien,”

“Kamu?”

 

“I work here,”

 

“Ah…”

 

“Maaf kalau kesannya lancang, tapi boleh saya tagih agenda kita waktu di Bali itu?”