Work Text:
Dongpyo selalu bertanya-tanya bagaimana rasanya memiliki kisah percintaan seperti di drama-drama yang sering ia tonton. Seperti perasaannya dibalas oleh orang yang selama ini diam-diam ia sukai, diperebutkan dua laki-laki tampan yang populer, oh atau mungkin di sukai oleh laki-laki kaya yang dingin.
Membayangkannya sudah bisa membuat jantung Dongpyo berdegup kencang.
Tapi semua itu memanglah hanya sebatas fiksi yang rasanya tak akan terjadi di kehidupan Dongpyo. Jangankan diperebutkan dua laki-laki, cintanya saja sudah bertepuk sebelah tangan dua tahun lamanya.
Junho, pemuda yang di sebut-sebut sebagai pangeran Hanlim itu dulu pernah dekat dengan Dongpyo di awal semester kelas satu SMA. Tapi kedekatan mereka tak bertahan lama karena Junho dan Dongpyo mendapatkan kelas yang berbeda di kelas dua.
Saat kelas mereka berbeda, Dongpyo baru sadar kalau ia selama ini menyukai pemuda berbahu lebar itu. Kini ia mungkin tak punya kesempatan lagi untuk mendekati Junho. Bertemu saja jarang, kalau pun bertemu pasti Junho dikelilingi oleh teman-temannya yang sama populernya.
“Harusnya aku tahu diri..” Ujar Dongpyo setelah melihat Junho melewatinya tanpa menyapanya karena terlalu asyik berbincang dengan teman-temannya.
Hyeongjun menoleh ke Junho. “Tentang Junho?”
Dongpyo mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya. “Aku tak punya celah sedikit pun untuk mendekatinya. Sepertinya aku harus berhenti menyukainya.”
Hyeongjun menepuk-nepuk punggung Dongpyo. “Ckckck, sudah lupakan si pangeran itu. Masih banyak manusia lain di dunia ini, sobat.” tutur Hyeongjun berusaha menghibur sahabatnya.
“Huh, bagaimana rasanya punya kehidupan seperti di drama romantis yang sering aku tonton ya...” gumam Dongpyo.
“Ya! Sudah cukup, jangan berkhayal terlalu jauh lagi. Apa bertepuk sebelah tangan saja tidak cukup untuk menyadarkan mu?”
“Aish! Mulutmu jahat sekali, aku kan hanya berandai-andai!!” gerutu Dongpyo sambil mempercepat langkahnya menuju kelas.
Namun ia melihat ada kerumunan di depan kelasnya. Dongpyo yang penasaran pun semakin mempercepat langkahnya.
“Oh, itu dia datang!” salah satu dari orang yang berkerumun berteriak setelah melihat kehadiran Dongpyo. Tiba-tiba semua orang menoleh ke arahnya lalu menyingkir seakan memberi jalan untuk Dongpyo.
Barulah di hadapannya terlihat jelas seorang pemuda tinggi dengan buket bunga mawar yang besarnya lima kali lipat dari ukuran kepala Dongpyo. Buket bunga mawar yang besar dan mewah itu sepertinya sangat mahal.
Karena terlalu fokus dengan buket bunga, Dongpyo tidak sadar bahwa pemuda tinggi itu kini melangkah ke arahnya. “Sunbae.” panggilnya sambil menyunggingkan senyum kecil.
Dongpyo terkejut bukan main. Matanya membulat begitu pemuda tadi berlutut di hadapannya. “Apa yang kau—”
“Dongpyo sunbae, aku menyukaimu! Jadilah pacarku!!”
Seakan disambar petir di siang bolong, Dongpyo tak berkutik sedikit pun setelah mendengar pengakuan pemuda di hadapannya. Semua terlalu tiba-tiba. Ia bahkan tak tahu nama pemuda yang kini masih berlutut sambil menyodorkan buket mawar ke arahnya.
Nam Dohyon.
Nama itulah yang Dongpyo lihat dari name tag di seragam pemuda itu.
Suara gaduh teriakan dan tepuk tangan menyadarkan Dongpyo. Ia baru ingat bahwa kini ia tengah ditonton banyak orang. Mereka secara kompak bersorak agar Dongpyo menerima Dohyon.
“Maaf, aku tidak bisa!” teriak Dongpyo lalu berlari menjauh dari kerumunan.
Orang-orang yang berkumpul tadi mendesah kecewa. Kerumunan itu pun perlahan mulai bubar, beberapa dari mereka menatap iba Dohyon. Pasti malu sekali di tolak di depan umum seperti itu.
Hyeongjun yang sedari tadi menonton diantara kerumunan itu masih diam di tempatnya sambil memperhatikan Dohyon. Pemuda itu akhirnya bangkit sambil menatap ke arah Dongpyo pergi tadi.
“Aku tidak akan menyerah!” ucapnya dengan wajah penuh semangat.
Lalu ia bertemu pandang dengan Hyeongjun. “Sunbae, kalau tidak salah kau teman dekat Dongpyo sunbae kan?”
“Eh? I..iya..” jawab Hyeongjun.
“Namanya Nam Dohyon. Anak tunggal dari keluarga kaya raya. Ayahnya komposer lagu yang cukup terkenal sedangkan ibunya desainer baju yang sudah memiliki banyak cabang butik di Korea. Dia kelas satu departemen musik—”
“Aagghh diamlah Hyeongjun!!” omel Dongpyo sambil menutup telinganya.
Hyeongjun pun langsung menutup rapat mulutnya. Ia menghela nafas sambil memainkan sekotak cokelat yang dihiasi pita emas. Cokelat tersebut adalah pemberian dari Dohyon untuk Dongpyo.
Sejak kejadian Dongpyo menolak Dohyon, pemuda tinggi itu tak menyerah begitu saja. Setiap hari ia selalu memberikan barang-barang untuk Dongpyo dengan maksud hati Dongpyo akan luluh jika ia memberikan barang-barang mahal itu.
“Ah, sial..” umpat Dongpyo pelan. “Bagaimana ini? Hampir semua orang di sekolah ini tahu tentang kejadian itu. Bagaimana jika Junho juga tahu??”
“Lalu kenapa kalau dia tahu?”
“Tentu saja aku malu! Mau ditaruh di mana mukaku jika bertemu dengannya nanti??” jerit Dongpyo sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Entah siapa yang merekam kejadian itu dan mengunggahnya di website sekolah. Jadi hampir semua murid dan guru-guru kini mengenal Dongpyo. Setiap ia berjalan di lorong sekolah pasti ada saja yang berbisik sambil melirik ke arahnya.
“Bukankah ini yang kau mau?”
“Apanya?”
“Hidup seperti di drama? Di sukai oleh laki-laki kaya raya dan sekarang semua orang mengenalmu seakan-akan kau adalah pemeran utama di sini.” ucap Hyeongjun sambil tersenyum jenaka.
Seketika Dongpyo tersadar dengan keadaannya sekarang. Benar kata Hyeongjun, keadaannya sekarang mirip dengan drama-drama yang sering ia tonton. Dan ternyata hal ini tak menyenangkan sama sekali.
“Yang ada aku jadi malu dan terbebani oleh kelakuannya!” Dongpyo mengacak-acak rambutnya.
“Kalau memang tidak suka bilang kepadanya secara tegas. Jangan kabur-kaburan terus.” sahut Hyeongjun membuat Dongpyo terdiam.
Benar. Dongpyo harus menolak Dohyon sekali lagi dengan tegas. Jika perlu Dohyon harus membencinya agar tak mengganggu Dongpyo lagi.
“Hei Nam Dohyon!”
Pemuda yang tengah membawa kotak di tangannya terperanjat kaget. Ia tersenyum lebar begitu melihat Dongpyo datang menghampirinya. Dongpyo sengaja datang ke sekolah lebih awal dari biasanya agar bisa bertemu Dohyon. Sepertinya pemuda itu hari ini akan menaruh sepasang sepatu mahal di atas meja Dongpyo.
“Sunbae!” Dohyon menyodorkan kotak sepatu itu ke Dongpyo. “Ini, cobalah, jika kebesaran aku akan membelikan yang baru.”
Padahal Dongpyo sudah memasang wajah galaknya tapi Dohyon tak terlihat takut sama sekali. Dongpyo pun mendorong kembali kotak sepatu itu ke arah Dohyon. “Aku tidak bisa menerimanya.”
“Kenapa?”
“Hei bocah, aku kan sudah menolakmu! Apa satu penolakan saja tidak cukup untukmu??” omel Dongpyo.
Dohyon malah memasang wajah bingungnya. “Aku tidak mengerti kenapa sunbae langsung menolakku.”
“Aku bahkan tidak mengenalmu bagaimana bisa aku menerima begitu saja??”
“Kalau begitu beri aku waktu agar kita bisa saling mengenal.” balas Dohyon.
Dongpyo tertawa sarkas. Ia memutar bola matanya malas lalu bergegas masuk ke dalam kelasnya, tapi Dohyon dengan cepat menahan tangan Dongpyo. “Sunbae, aku sudah memberimu bunga, cokelat, phone case, bahkan sepatu, tapi kenapa kau masih tidak menyukaiku??”
Yang lebih tua langsung menarik paksa tangannya agar terlepas dari genggaman Dohyon. “Kau pikir aku laki-laki matre??”
“Baiklah kalau begitu kita kencan sekali saja!” Dohyon kembali menahan tangan Dongpyo. Ia memasang wajah memohonnya. “Sunbae, tolong berikan aku kesempatan sekali saja!”
Dongpyo ingin membalas tapi tiba-tiba ada beberapa siswa yang melewati mereka sambil berbisik-bisik lalu tertawa pelan. Ah, sudah mulai banyak siswa yang datang jadi Dongpyo harus segera membuat bocah raksasa ini pergi.
“Baiklah.” Dongpyo mendengus. “Besok sepulang sekolah kita kencan.” ucapnya final.
Senyuman Dohyon yang sempat luntur kembali melebar. Ia menutup kedua mulutnya lalu melompat kecil seperti anak kecil yang kegirangan dibelikan mainan kesukaannya.
“Besok ya Sunbae! Janji?”
“Iya janji!”
“Janji??” ulang Dohyon kali ini sambil mengacungkan jari kelingkingnya. Dongpyo melihat sekitar sudah semakin banyak orang yang datang dan kini tengah menontoni mereka. Ia tak punya pilihan lain selain mengaitkan jari kelingkingnya dengan milik Dohyon. “Iya, janji. Puas kau?”
Dohyon tertawa pelan. Bahkan setelah Dongpyo melepaskan jari mereka lalu masuk ke dalam kelas, Dohyon masih berdiri di sana sambil menatap jari kelingkingnya.
“Sunbae, sampai jumpa besok!!” teriak Dohyon sebelum pergi menuju kelasnya.
Bel pulang sudah berbunyi lima belas menit yang lalu. Tapi Dohyon baru bisa keluar kelas karena ada diskusi dengan ketua kelasnya. ia berlari secepat mungkin ke pintu utama gedung, Dongpyo bilang ia kan menunggunya di sana.
Dan benar saja ternyata sosok mungil itu tengah berdiri di depan pintu sambil memainkan ponselnya. Dohyon menghentikan langkahnya sebelum keluar dari pintu. Ia mengeluarkan parfum lalu menyemprotkan cairan harum itu ke tubuhnya, tak lupa ia mengecek apa rambutnya terlihat berantakan karena berlari seperti orang kesetanan tadi lewat kamera depan ponselnya.
“Apa yang kau lakukan?”
Suara Dongpyo mengejutkan Dohyon. Yang lebih muda tersenyum kecil lalu melangkah mendekat. “Maaf aku terlambat.”
“Tak apa.”
“Kalau begitu ayo kita mulai kencan kita!!” seru Dohyon semangat sambil menarik tangan Dongpyo menuju gerbang sekolah. “Supirku sudah menunggu di depan, pertama-taman kita makan di restoran Italia milik sepupuku, lalu—”
“Sebentar!” Dongpyo menghentikan langkahnya. Mau tak mau Dohyon pun ikut berhenti lalu memasang wajah bingung nan polosnya. “Itu namanya bukan kencan.”
“Lalu bagaimana?”
Dongpyo mendengus geli. “Suruh supirmu pulang duluan. Kita jalan kaki untuk makan tteokbokki di kedai langgananku.” Dongpyo melangkah mendahului Dohyon.
“Tteokbokki?”
“Iya. Akan kutunjukkan kencan yang benar itu seperti apa.”
Dohyon tak bertanya lagi, ia hanya menurut dan mengikuti kemana Dongpyo akan membawanya. Diam-diam Dongpyo menyeringai. Ini adalah strateginya. Ia sudah tahu Dohyon yang anak orang kaya ini pasti akan membawanya ke tempat mahal.
Maka hari ini Dongpyo akan membawa Dohyon ke tempat-tempat yang jarang di kunjungi orang kaya sepertinya. Dalam pikiran Dongpyo, bocah itu pasti akan merengek lelah atau tempat yang ia kunjungi tak nyaman. Lalu selanjutnya Dohyon akan memutuskan untuk pulang dan tak ingin berurusan lagi dengan Dongpyo yang tidak sekelas dengannya.
“Hahaha.. aku cerdas sekali.” gumamnya tanpa sadar ketika mereka tengah makan tteokbokki.
“Apa Sunbae bilang sesuatu?” tanya Dohyon.
“Oh? Tidak kok.. ini.. tteokbokkinya sangat panas.” ujar Dongpyo lalu meniup tteokbokki yang ada di sumpitnya.
Entah karena Dongpyo terlalu lama memikirkan rencananya atau memang Dohyon makan dengan cepat. Tteokbokki di mangkuk Dohyon kini sudah tersisa sedikit. Padahal Dongpyo baru makan tiga suap.
“Kau lapar?” tanya Dongpyo heran.
“Tidak, ini sangat enak!” ucap Dohyon dengan mulut penuh. “Boleh aku tambah?”
“Tentu, ini kan bayar pakai uangmu.”
Dohyon terkekeh pelan. Dongpyo tanpa sadar ikut tersenyum. Baru kali ini ia ikut senang ketika melihat seseorang makan dengan lahap.
Selanjutnya, Dongpyo mengajak Dohyon karaoke di tempat yang sering ia kunjungi bersama Hyeongjun. Dohyon terlihat takjub begitu memasuki ruang karaoke. Nyanyiannya memang tak sepandai Dongpyo, tapi ia terus bernyanyi dengan semangat.
“Hyung, aku ini jago rapp loh!” ucapnya yang entah sejak kapan mulai mengganti panggilan Sunbae ke Dongpyo menjadi Hyung.
Dengan percaya diri ia memilih lagu ‘Turtle Ship’ lalu mulai rapp dengan sangat keren hingga membuat Dongpyo berteriak kagum. Dohyon mengajak Dongpyo melompat-lompat bersama. Mereka tertawa ketika Dongpyo mencoba rapp dengan meniru gaya swag para rapper yang pernah ia lihat di acar televisi.
Setelah karaoke, Dongpyo mengajak Dohyon ke game center. Lagi-lagi pemuda Nam itu menatap kagum sekelilingnya. Kaki panjangnya tak henti melangkah menyelusuri seluruh permainan yang ada di sana. Berbagai permainan ia coba dan dengan mudah ia mengalahkan Dongpyo di permainan basket.
“Hei, ini tidak adil kau punya kaki dan tangan yang panjang!!” protes Dongpyo ketika Dohyon menari-nari sebagai selebrasi kemenangannya.
Dohyon tergelak, ia mengacak-acak rambut Dongpyo dengan gemas. “Hyung kau sangat lucu!” katanya kontras dengan protes Dongpyo tadi.
Tak terasa hari sudah gelap. Mereka menyudahi kencannya dengan makan malam di salah satu restoran. Sambil menunggu pesanannya, Dohyon menatap fotonya bersama Dongpyo dari photo box tadi dengan mata berbinar.
“Hei, lihat kita seperti orang gila tadi.” Dongpyo menunjukkan video yang ia rekam saat karaoke tadi sambil tertawa. Dohyon mencondongkan tubuhnya untuk melihat video di ponsel Dongpyo lalu ikut tertawa sampai memukul-mukul meja.
“Ah, hari ini sangat menyenangkan, Hyung.” ucap Dohyon setelah tawanya reda.
“Iya, hari ini menyenangkan.” celetuk Dongpyo. Lalu beberapa detik kemudian ia tersadar.
Menyenangkan??
Kenapa kencan ini jadi menyenangkan? Bukan kah seharusnya Dongpyo membuat Dohyon jengkel hari ini? Ah, karena terlalu terbawa suasana Dongpyo jadi lupa tujuan awalnya.
“Gawat.” pekik Dongpyo sambil mencengkeram kepalanya sendiri. Ia memasang wajah horror yang membuat Hyeongjun terkejut melihatnya. Pasti hal buruk terjadi saat kencan mereka kemarin.
“Aaaagghh Dongpyo bodoh! Dongpyo bodoh!!” pekik Dongpyo tiba-tiba sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.
“Kau kenapa?” Hyeongjun menatap heran temannya itu. Untung saja lorong menuju kantin saat ini sepi jadi tak ada seorang pun yang melihat tingkah aneh Dongpyo.
“Aku menyia-nyiakan kesempatan!!” rengeknya lalu kembali memukul kepalanya.
Namun tiba-tiba seseorang menahan kedua tangan Dongpyo dari belakang. Dongpyo terkejut lalu menoleh ke belakangnya. Ternyata orang tersebut adalah Dohyon. Ia menatap Dongpyo penuh khawatir. “Apa yang hyung lakukan? Jangan menyakiti dirimu sendiri!!”
“Eh??” Dongpyo tak berkutik apa lagi ketika Dohyon melepaskan tangannya lalu menepuk-nepuk kepala Dongpyo dengan lembut.
“Kepala hyung harus di tepuk-tepuk penuh kasih sayang seperti ini!”
Hyeongjun hampir saja tersedak susu pisang yang sedang ia minum karena pemandangan luar biasa di depan matanya. Ia sebut luar biasa karena kini Dongpyo tidak kabur atau pun menyemprot Dohyon dengan omelan karena seenaknya menyentuhnya.
Memang setelah kencan itu, Dongpyo dan Dohyon jadi lebih sering berinteraksi. Walau hanya sebuah sapaan ketika mereka berpapasan di lorong atau Dohyon yang mampir ke kelas Dongpyo untuk memberikan beberapa camilan dari kantin.
“Jujur saja kencanmu dengannya berjalan lancar kan?” tanya Hyeongjun sambil membereskan tasnya.
Dongpyo menghela nafas lalu menyandang tasnya. “Entahlah.” ucapnya lalu melangkah pergi.
“Dongpyo-ya, tunggu aku!” teriak Hyeongjun.
“Maaf, aku hari ini pulang dengan Dohyon!” teriaknya lalu berlari keluar kelas.
Cuaca hari ini tak begitu bagus. Hujan turun dengan deras dan sialnya ia tak membawa payung. “Aku bawa payung. Tunggu sebentar ya, Hyung.” begitulah isi pesan dari Dohyon.
Dongpyo mendengus. Ia menatap langit yang di penuhi dengan awan kelabu. Membiarkan ujung sepatunya basah terkena cipratan air hujan. Ia bertanya-tanya apa Dohyon masih lama karena tubuhnya kini mulai kedinginan.
“Dongpyo?”
Jantung Dongpyo rasanya hampir jatuh ke perut begitu mendengar suara dari arah belakang. Ia segera menoleh dan ternyata benar sesuai tebakannya, suara yang indah itu adalah milik Junho.
“Ju..Junho..” gagapnya terlalu gugup.
Junho menyunggingkan senyuman manisnya. Ia membuka payung yang ada di tangannya. “Tak bawa payung?”
Dongpyo mengangguk cepat.
“Mau ke halte bersamaku? Payungku cukup besar.” tawar Junho ramah.
Dongpyo mengerjapkan matanya. “Hmm mau, terima kasih Junho.” ucapnya mencoba menahan nada bicaranya agar terdengar natural.
Dongpyo pun mengikuti langkah Junho menuju halte. Menerobos derasnya hujan dengan payung biru langit milik Junho. Terlalu bahagia karena ia rasa keberuntungan hari ini tengah menghampirinya.
Tapi di sisi lain seseorang menatap mereka dengan wajah kecewa. Dongpyo tak sadar bahwa Dohyon sudah datang di belakangnya sambil membawa payung dan minuman hangat yang ia beli di kantin.
“Dohyon-ah, maaf aku pulang duluan karena ada urusan mendadak.” kata Dongpyo melalui aplikasi chat. Tangan Dohyon menggenggam erat payungnya lalu melangkah masuk kembali ke dalam gedung sekolah.
Bagi Dongpyo hujan telang membawakannya keberuntungan. Entah bagaimana ia dan Junho bisa dekat kembali seperti awal semester kelas satu dulu. Bahkan akhir pekan ini Junho mengajak Dongpyo untuk ikut bergabung bermain bersama teman-temannya.
Dongpyo senang bukan main. Ia bahkan tak bisa tidur malamnya karena tak sabar menunggu hari esok. Tapi ternyata semuanya tak berjalan sesuai bayangan Dongpyo.
Dongpyo merasa asing dengan sekitarnya. Ia tak bisa bersikap apa adanya. Ia lebih banyak diam mendengarkan obrolan Junho bersama teman-temannya yang tak begitu ia mengerti.
Hari berlalu dengan amat lambat. Tak seperti saat ia kencan dengan Dohyon. Ah iya, Dongpyo jadi teringat Dohyon. Sudah beberapa hari ini ia tak melihat batang hidung bocah itu. Dohyon bahkan tak membalas pesan dari Dongpyo.
Sebenarnya Dongpyo senang jika Dohyon kini sudah tak mengejarnya lagi. Tapi bukankah semua ini terlalu tiba-tiba?
“Dohyon menjauhiku.” ucap Dongpyo ketika ia dan Hyeongjun tengah makan siang bersama di kantin. Mata Dongpyo menatap tajam punggung Dohyon yang duduk tak jauh darinya.
Hyeongjun tertawa pelan. “Kau sekarang merasa kehilangan ya?”
“Bukan!! aku hanya heran saja!” sangkal Dongpyo.
“Kalau begitu tanya saja padanya.”
Saran itu memang terdengar mudah, tapi ternyata sulit untuk di lakukan. Dongpyo terus berusaha mengajak Dohyon bicara padanya. Tapi semua usahanya tak berjalan lancar. Bocah raksasa itu jago sekali menghindar dari Dongpyo.
Setelah dipikir-pikir kenapa sekarang keadaannya seperti terbalik? Awalnya Dohyon yang selalu mengejar-ngejar Dohyon, tapi kali ini Dongpyo lah yang mengejar-ngejar Dohyon.
“Dapat kau bocah!” teriak Dongpyo begitu ia berhasil menarik tangan Dohyon. “Hei, kenapa kau menjauhiku?? jangan bilang kau sedang mencoba tarik ulur denganku??”
Tanpa Dongpyo sangka Dohyon malah menghempaskan tangannya sampai genggaman Dongpyo terlepas. “Tarik ulur? Bukannya hyung yang hanya mempermainkanku?”
Sorot mata Dohyon terlihat berbeda. Ia terlihat marah dan juga kecewa. Tapi Dongpyo masih tak mengerti apa salahnya, maka ia kembali menarik tangan Dohyon sebelum pemuda tinggi itu pergi lagi.
“Apa maksudmu? Aku tak sejahat itu sampai tega mempermainkan mu.”
“Kalau begitu kenapa kau pulang lebih dulu bersama laki-laki lain padahal kau sudah janji pulang bersamaku hari itu?” tanya Dohyon.
Dongpyo terdiam. Genggaman tangannya perlahan melemah dan akhirnya lepas begitu saja. “Kau... melihatnya?”
Dohyon mendengus lalu tersenyum masam. “Iya, tepat di depan mataku.” ucapnya lalu melangkah pergi. Meninggalkan Dongpyo yang masih mematung di tempatnya.
“Dohyon.. ma—” Dongpyo menghentikan ucapannya. Ia menggigit bibirnya lalu membalikkan tubuhnya. Melangkah ke arah yang berlawanan dengan Dohyon.
Bakan kah sejak awal memang ini yang Dongpyo inginkan? Dekat dengan Junho dan tak lagi di ganggu oleh Dohyon. Namun sepertinya semua keinginan awal Dongpyo kini bertolak belakang dengan apa yang ia rasakan sekarang.
Ia tak bisa bebas menjadi dirinya sendiri jika bersama Junho. Ia selalu menahan dirinya agar terlihat pantas di hadapan Junho. Sedangkan saat bersama Dohyon, ia bisa menjadi dirinya sendiri. Ia tak takut Dohyon akan memandangnya sebagai orang aneh atau lainnya.
Padahal dulu Dongpyo memberikan jarak yang jauh untuk dirinya dan Dohyon. Karena Dohyon dari keluarga kaya raya, pasti Dongpyo yang biasa-biasa saja tak akan pantas bersanding dengan Dohyon. Tapi begitu mengenal Dohyon lebih jauh, jarak itu seakan tak pernah ada.
Suara dentingan piano menyadarkan Dongpyo dari lamunannya. Ia baru saja pulang setelah mengikuti kelas tambahan menari hari ini. Bel pulang sudah berbunyi dua jam yang lalu, seharusnya tak ada orang lain lagi sekolah selain kelasnya.
Dentingan piano itu berubah menjadi alunan musik yang indah dari arah ruang musik. Tanpa sadar Dongpyo mendekat ke arah ruang musik dan mengintip dari balik celah pintu untuk melihat siapa yang memainkan piano tersebut.
Tak ia sangka ternyata orang tersebut adalah Dohyon. Walau pemuda itu kini tengah duduk memunggunginya, tapi Dongpyo bisa langsung mengenalinya. Perlahan ia membuka pintunya lebih lebar agar ia bisa masuk.
Mungkin Dohyon terlalu menghayati permainan pianonya sampai tak sadar bahwa Dongpyo kini sudah duduk di salah satu kursi di ruangan tersebut. Begitu jemarinya berhenti menekan tuts terakhir, suara tepuk tangan terdengar.
“HUWAAAA!!” Dohyon berteriak heboh saking terkejutnya.
Ia menoleh ke belakang dan mendapati Dongpyo sudah duduk di belakangnya sambil bertepuk tangan dengan riang. “Hyung sejak kapan—”
“Kau kaget ya?” Dongpyo tertawa terbahak-bahak.
Dohyon yang malu sekaligus tersadar bahwa seharusnya ia sedang marah dengan Dongpyo bergegas untuk pergi, tapi dengan cepat Dongpyo menahannya.
“Dohyon-ah!”
Yang lebih muda pun menoleh. Menatap wajah memelas pemuda mungil yang kini menggenggam tangannya dengan erat.
“Maaf. Maaf untuk yang kemarin. Aku tak bermaksud mempermainkan mu, aku sangat menyesal jadi maafkan aku.” lirih Dongpyo.
“Jangan marah... jangan jauhi aku lagi...” lanjutnya sambil menundukkan kepalanya.
Dohyon menghela nafas. Ia menarik Dongpyo untuk duduk bersebelahan dengannya menghadap piano. Jemarinya kembali menekan tuts hitam putih dengan lihai.
“Ini lagu yang ayahku ciptakan saat ia jatuh hati pada ibuku.” ujarnya sambil menoleh sekilas ke Dongpyo. “Ayah bilang aku juga harus memainkan lagu ini di depan orang yang aku sukai.”
Lagu yang Dohyon mainkan sekarang lebih indah dari lagu yang sebelumnya. Saat Dongpyo menutup matanya untuk menghayati lagu tersebut, ia kembali membayangkan kencannya bersama Dohyon.
“Aku suka.” ucap Dongpyo.
“Aku juga suka lagu ini—”
“Bukan lagunya.” Dongpyo membuka matanya lalu menatap Dohyon. “Aku menyukaimu, Dohyon-ah.”
Seketika sepuluh jemari Dohyon menekan tuts piano dengan asal hingga menimbulkan bunyi yang sangat aneh. Perlahan pemuda itu menoleh ke arah Dongpyo. Seluruh wajah hingga telinganya memerah.
“Apa aku salah dengar?” tanyanya memastikan.
Dongpyo terkekeh ia hanya menggeleng sebagai jawaban.
“Hyung menyukaiku? Maksud hyung... hyung punya perasaan yang sama sepertiku juga???” Dohyon menggenggam kedua tangan Dongpyo erat lalu ia angkat sebatas dada.
“Iyaaa... aku menyukaimu, Nam Dohyon.” ulang Dongpyo sambil tersenyum manis.
Mulut Dohyon terbuka tutup, tak tahu harus berkata apa. Ia melepas genggamannya lalu menutup mulutnya untuk menahan teriakannya. “Hah... berarti sekarang kita jadian? Ini hari pertama kita?? oh, bukan, seharusnya aku menembak hyung lagi di tempat yang lebih romantis—”
“Apa maksudmu?” gerutu Dongpyo. Ia menggeser duduknya lebih dekat dengan Dohyon lalu mencubit pipi Dohyon gemas. “Seperti ini saja sudah cukup, tidak perlu berlebihan.”
Yang lebih muda terkekeh. Tangannya terulur untuk merengkuh tubuh kecil pemuda tersayangnya. “Iya, seperti ini juga sudah cukup. Terima kasih hyung sudah menerima perasaanku.” bisiknya saat merasakan Dongpyo membalas pelukannya.
“Kalau begitu bisa kah kau lanjutkan lagu yang tadi?” Dongpyo melonggarkan pelukannya untuk menatap wajah Dohyon.
Dohyon segera mengindahkan permintaan Dongpyo. Ia melepaskan pelukannya, menegakkan tubuhnya lalu jarinya kembali menari di atas tuts hitam putih. Dongpyo pun menyandarkan kepalanya di bahu lebar Dohyon. Menikmati alunan lagu dan waktu yang terasa berjalan lambat sejak ia melangkah masuk ke dalam ruang musik.
Kisah cinta Dongpyo yang tiba-tiba berubah seperti alur drama yang sering ia tonton akhirnya berakhir indah. Dongpyo harap dirinya akan menemukan lebih banyak kebahagiaan lainnya bersama Dohyon di hari-hari berikutnya.
(.)
