Work Text:
Urumqi adalah ibukota Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang di barat laut RRC. Bandara internasional di sana hanya ada satu, yaitu Diwopu yang mereka injak sekarang. Hotel tempat mereka tinggal sementara telah menunggu. Rencananya, 5 orang dari keluarga Gojo akan menghabiskan liburan di Xinjiang Utara pada Bulan Agustus.
Kota itu tidak seperti yang mereka bayangkan, arsitekturnya banyak bergaya Han China bukan Uyghur yang dikenal luas sebagai etnis asli tempatan. Obyek wisata juga terhitung sedikit. Setelah keluarga Gojo itu makan siang dengan menu Uyghur yang kaya daging ternak dan buah, mereka pergi berjalan-jalan ke museum dan bazaar.
Baik museum dan bazaar menjajakan budaya Uyghur dari banyak aspek. Saat di Grand Bazaar, banyak stand berdiri bersebelahan menawarkan banyak item dibatasi sekat tembok. Pemandangan ini mirip di Turki dan negara Asia Tengah lainnya. Pedagang di sana begitu antusias mempromosikan barang dagangan. Tentu saja pasutri Gojo itu tergiur.
Satoru membeli banyak pakaian dan kerajinan untuk orang rumah sedangkan istrinya mencoba bertanya banyak hal tentang rempah yang ditambahkan dalam makanan Uyghur yang otentik. Putra sulung mereka dan si kembar tidak banyak mengeluh. Mereka datang ke salah satu stand rempah dan penjual memberi mereka kismis gratis.
Setelah selesai, Utahime memanggil anak-anak dan mencari Satoru di stand pakaian. Agenda berikutnya adalah ke Museum Regional Xinjiang. Di sana, pameran dari 12 etnis minoritas Xinjiang dan peninggalan berbagai peradaban masa lampau dilakukan. Anak-anak begitu antusias. Namun, nyali mereka ciut saat melihat etalase yang berisi spesimen mumi. Para mumi itu dikenal sebagai Manusia Loulan dan masih menunjukkan ciri awetnya pembalsaman selama kurun waktu 4.000 tahun.
"Ayah, mengapa mereka matinya diawetkan dan ditaruh museum? Mengapa kita meninggal nanti diabukan dan dikubur?" Pertanyaan Higashi menggelitik Satoru. Dengan sabar ia berjongkok di hadapan putranya untuk menyamakan tinggi tatapan mata. "Setiap peradaban memiliki budaya masing-masing termasuk mengurus jenazah. Budaya mereka adalah mengawetkan jenazah terutama untuk bangsawan, orang kaya. Ini berbeda dengan kita," jelas Satoru.
"Lalu kenapa mereka di sini? Mereka seharusnya di tempat mereka sendiri." Pertanyaan Kita cukup masuk akal di usianya yang baru tiga tahun. "Para ahli menemukan mereka dan para ahli belajar dari mereka. Para mumi ditaruh di museum agar kita bisa belajar terhap mereka," jelas Satoru dengan bahasa sesederhana mungkin.
"Jadi, orang bisa belajar kepada kita walaupun kita sudah meninggal?" Minami menyahut. Satoru mengangguk. "Maka dari itu, kalian harus belajar yang rajin agar bisa berprestasi dan bermanfaat bagi sesama," sambung Utahime. Ketiga mata anak mereka berbinar, mereka begitu antusias menantikan perjalanan berikutnya.
-*-
Esok hari, Satoru menyewa mobil untuk melakukan perjalanan ke Changji. Destinasi mereka adalah Danau Surga. Memang begitu banyak nama Danau Surga di Asia Timur. Tetapi, tujuan mereka ini dikutip sebagai tanah fantasi seperti dalam dongeng anak-anak.
Xinjiang memang beragam. Urumqi adalah tempat orang Mongol Oirat zaman dahulu tetapi sekarang gaya kotanya sangat terpengaruh oleh budaya Han akibat migrasi besar-besaran sejak Dinasti Qing. Namun, memasuki Changji menunjukkan perbedaan lagi. Di sana sangat kental dengan budaya salah satu etnoreligi, Hui Muslim, di tengah dominasi Han. Saat tiba di Kota Fukang, suasana berubah menjadi lebih dingin dengan pemandangan hutan pinus dan gletser di Puncak Bogeda.
"Cantiknya. Ayah, Bunda, ayo foto!" seru ketiga anak Gojo antusias sambil melompat. Cagar Biosfer Bogeda memang seperti Alpen Swiss yang layak disebut dongeng. Pasutri Gojo itu segera mengambil ponsel untuk memfoto ketiga anak mereka di depan Taman Cerita Rakyat Kazakh. Di belakang mereka ada yurt yang mirip dengan miliknya Orang Mongol. Tidak lupa setelah itu mereka mengunjungi salah satu yurt untuk menonton pertunjukan Etnis Kazakh.
Alunan instrumen khas, nyanyian dari tenggorokan, teh bercampur mentega, dan keramahan mereka adalah hal yang beriringan dengan tempat seindah itu. Tidak lama setelah itu, mereka bertolak ke Danau Surga yang membutuhkan waktu hampir sejam. Setiba di tepi danau, sudah banyak turis berdatangan. Mereka berfoto dengan latar danau, gunung, dan es sebagai latar belakang.
"Di danau ini, Ibu Ratu mandi bersama dengan peri-peri mereka," seru Kita. "Pantas saja secantik ini, seperti mutiara," sahut Minami. Higashi tersenyum, "ayo kita mendekat ke tempat kayak kuil itu. Kita akan melihat danau dari dekat." Ajakan Higashi disambut anggukan oleh kedua adiknya. Mereka berlari kecil untuk memastikan orang tua mereka tidak tertinggal.
Satoru menggapai tangan istrinya dan menggenggam erat sepanjang perjalanan. Ia menyunggingkan senyum dan dibalas dengan hal serupa oleh istrinya. "Terima kasih sudah meyakinkanku ada tenpat secantik ini di dunia." Utahime tertawa, "kau harus percaya kepadaku untuk hal ini. Liburan keluarga itu beda dengan perjalanan bisnis atau pun darmawisata, tahu."
Sang suami harus mengaku kalah. Mereka mendampingi anak-anak di danau sebelum memutuskan untuk mandi di salah satu resort air panas sebagai relaksasi. Perjalanan mereka masih panjang untuk daerah yang seluas Iran itu.
-*-
"Kakak, besok kalau besar mau kayak gimana?" tanya Kita kepada Higashi yang tangannya sibuk menyentuh reruntuhan bangunan di Kota Urho. Putra pertama pasutri Gojo itu terdiam tetapi tangannya berfokus mengelap butiran pasir gurun yang tersisa. "Aku tidak tahu sebetulnya. Tetapi, satu hal yang pasti," bocah itu berhenti lalu mengusap tangannya yang penuh pasir ke telapak tangan adiknya yang masih bersih. "Bunda bilang kita harus jadi orang yang baik dan bermanfaat. Jadi, itu saja dulu." Jawaban Higashi sebetulnya kurang memuaskan adiknya itu namun Kita tidak protes.
"Kalau Kakak masuk sekolah, jangan lupa ceritakan liburan kita ke semua orang. Ini adalah liburan kemauan Bunda," saran si putri sulung. Sebuah jempol menjadi respons sederhana Higashi. Mereka terus mengamati reruntuhan Kota Hantu sembari mendengar pasir bernyanyi dari Gurun Gurbatunggut.
Beberapa jam kemudian mereka bertolak ke Danau Sayram, sebuah air mata terakhir Samudra Atlantik dalam Benua Asia. Sebuah penginapan baru mereka pesan karena sepertinya Urumqi telah mengeyangkan kelima Gojo itu dengan makanan yang penuh daging dan rempah.
Sebuah tikar beserta bahan makanan digelar di sekitar danau. Rumput masih segar, bunga liar bermekaran. Belum lagi pinus masih bergoyang dengan wangi hutan yang memanjakan. Utahime ditemani kedua putrinya menyiapkan bahan makanan sedangkan dua pria di keluarga mereka memotong beberapa ranting kayu untuk bahan bakar. Piknik itu begitu sederhana, hanya daging kambing ditemani jus dari beri. Matahari yang mereka tunggu untuk kembali ke peraduan tidak kunjung turun. Agenda berikutnya adalah beristirahat di dalam penginapan sembari menunggu makan malam dengan kuliner Kazakh yang juga sangat karnivora.
-*-
Di hari berikutnya, Minami beranjak dengan malas. Mereka bangun saat subuh menuju ke Nalati. Namun, ia hanya tidur dan bermalas-malasan. Baru saat ia bertemu dengan pohon yang berbuah ekspresinya berubah kegirangan.
"Ada lavender. Cantik," seru Minami girang. Ia sontak berlari mengingat perutnya telah penuh seusai sarapan di dalam mobil. Kita dan Higashi juga tidak kalah. Melihat anak-anaknya berlari, Utahime merasa senang. Tanpa ia duga, tangan besar suaminya mengalung di pundaknya.
"Ternyata anak-anak sama saja. Mereka bahagia melihat diri mereka sendiri bebas," ucap Utahime. Suaminya mengiyakan, "aku berharap mereka akan selalu seperti ini. Mereka bahagia dengan pilihan mereka sendiri." Sambungan dari suaminya serasa melegakan tetapi bukan itu eksistensi dunia yang sesungguhnya. "Tapi kau tahu, dunia tidak bekerja seperti itu. Mereka bisa bahagia tetapi mereka harus merasakan emosi yang lain agar hidup mereka berarti." Istrinya benar dan Satoru menurut. Ia merendahkan wajahnya ke tengkuk istrinya dan menciumnya, bertahan seperti itu hingga waktunya beranjak ke destinasi wisata berikutnya.
-*-
Altai adalah salah satu pegunungan di Asia Tengah. Banyak negara yang berbagi wilayah itu. Tujuan pertama mereka adalah ke Kabupaten Burqin tepatnya di Wuchaitan. Wuchaitan terkenal dengan bantaran Sungai Hu'erci yang kontras. Satu sisi ada bioma hutan gugur iklim sedang yang didominasi pohon birch sedangkan sisi yang lain adalah bioma gurun pasir dari formasi Yardang. Kontras yang tercipta di situ membuat anomali sekaligus mempercantik bentang alam di situ. Keluarga itu tidak lama di Wuchaitan, mereka meneruskan perjalanan ke desa berikutnya.
Desa tujuan kali ini adalah Desa Hemu, desa yang diyakini terletak di bagian paling utara Xinjiang. Setiba di desa, mereka disambut dengan rumah penduduk dari kayu yang nampak damai. Tidak hanya itu, banyak ternak berkeliaran dan membuat Kita sangat antusias. Akhirnya, seorang pria lokal menghampiri mereka dan mengundang untuk mengunjungi museum yang juga dibangun dari kayu.
Pria itu beretnis Tuva yang dipercaya sebagai keturunan Genghis Khan di barat. Museum itu menyediakan informasi tentang gaya hidup nomaden pastoralis Etnis Tuva selayaknya etnis padang rumput lain yang sangat bergantung pada ternak mereka. Tidak hanya itu, keluarga Gojo juga mencoba pakaian tradisional mereka yang lebih mirip Etnis Mongol dan Kazakh lalu berfoto. Setelah puas di museum, mereka berencana berjalan mengelilingi desa dengan mengendarai kuda.
Desa Hemu sangat rupawan layaknya peri yang didambakan anak-anak dengan paras cantik dan warna-warni. Warna itu berasal dari hutan birch yang akan mulai mengering bulan depan, gletser dari puncak gunung yang menjadi sumber air, ataupun jembatan Hemu yang terkenal. Semuanya indah.
Terakhir, keluarga itu menuju Danau Kanas dan Padang Rumput Naren. Setelah itu, lengkap sudah perjalanan mereka. Padang rumput, gurun, sungai, danau, gunung bersalju maupun banyaknya orang-orang ramah yang mereka temui menambah sulaman memori.
-*-
Agustus ke Februari adalah waktu yang lama, melewati tahun. Musim panas yang lembab dan menyengat berpindah ke musim dingin yang memasuki tahap akhir. Matahari datang lebih lambat dan pulang lebih awal menciptakan efek gloomy dan kekosongan. Namun, itu tidak terjadi di sini.
Utahime sengaja bangun lambat karena efek musim dingin yang membuat mengantuk. Saat setengah sadar, ada yang menggoyangkan pinggulnya.
"Bunda, Bunda, bangun..." Itu suara si kembar. Mau tidak mau wanita 32 tahun itu terbangun dan menyapa kedua putrinya. "Ada apa, sayang-sayangnya Bunda?" tanyanya lembut. Kita menarik tangan ibunya kemudian, "ayo ke ruang bermain, Bunda." Utahime mengikut, Minami juga mengekori kakaknya.
Sebenarnya, rasa kantuk akibat berhubungan badan semalam masih ada tetapi tidak apa-apa. Tubuhnya juga sedikit ngilu. Untungnya Satoru sudah mengganti pakaiannya. Sekarang yang terpenting adalah Nyonya Gojo itu akan memberikan banyak kesempatan untuk anak-anak dengan menghabiskan waktu bersama.
Tangan Utahime meraih kenop pintu dan tidak lama ada suara, "Happy Birthday!" Siapa yang tidak tercengang. Ruang bermain anaknya dihias dengan menggunakan pita dan balon warna-warni. Jangan lupa ada Petrus Pomerol French Red Wine yang harganya selangit. Suaminya berada di ujung ruangan sambil tersenyum simpul. Rupanya ia telah mempersiapkan semua ini.
"Bunda, ini dari kami. Tolong dijaga baik-baik, ya?" ucap Higashi sambil menyerahkan sebuah album. Utahime kemudian duduk untuk menyejajarkan posisinya dengan anak-anaknya.
"Hari ini, 18 Februari 32 tahun lalu, lahir bidadari dari surga yang membuat kehangatan di rumah kami. Dia adalah Bunda kami yang cantik dan lembut, Utahime Gojo," ucap Utahime terharu, matanya sudah berkaca-kaca. Keluarga memang tempat segalanya untuk pulang.
Higashi mendekati ibunya dan memamerkan hasil kerjanya, "ini Higashi yang tulis Bunda. Besok mau belajar menulis Kanji dengan Om Yuta." Utahime tersenyum sambil mengelus rambut putranya. Dilihat-lihat, putra sulungnya memang versi mini suaminya. Rupanya sama dengan Satoru saat kecil. Hebatnya dirinya sudah biss menulis Hiragana sebelum memasuki TK.
"Kami juga menempel gambar. Lihat, ini foto liburan kita pakai bajunya orang Sibo dan Salar," sahut Minami. Kita juga mengiyakan dan membimbing Bunda menuju halaman berikutnya. Tidak lama ada tangan besar yang merangkul pinggang Utahime, milik Satoru. "Anak-anak, ucapkan terima kasih kepada Bunda lalu kita peluk Bunda sama-sama seperti ini." Instruksi Satoru kompak dilaksanakan anak-anak. Mereka kemudian berpelukan dan bertukar cerita tentang banyak hal hingga jam sarapan tiba.
-*-
Sepasang pasutri itu menatap langit sore yang menggelap. Mereka saling bersandar satu sama lain dan berpelukan. Kehangatan gestur adalah interaksi mereka melampaui verbal dan tulisan. Utahime lalu beranjak dan menempatkan tangan kecilnya di pipi suaminya agar mata mereka saling bertatapan.
"Satoru, terima kasih telah membawaku melihat dunia dan merasakan kebahagiaan hingga ini," ungkap Utahime. Satoru memegang tangan istrinya, hangat yang ia rasakan. "Hime, aku pernah bermimpi dan berdoa untuk menaklukkan dunia tetapi tidak bisa," balasnya. Bohong. Satoru bisa mendapatkan apa saja yang diinginkan sejak kecil. Tidak mungkin dunia yang sempit ini tidak bisa ia taklukkan.
"Aku tidak bisa menaklukkan seluruh dunia karena duniaku hanya ada dirimu," lanjut Satoru. Istrinya terkekeh, "tidak ada anak-anak?" Pancingan Nyonya Gojo itu membuat sang tuan merajuk dan merebahkan dirinya di kasur. "Jangan merusak suasana dong. Aku pingin romantis," keluhnya. Utahime tertawa dan ia ikut berbaring di samping suaminya.
"Maaf, Sayang, maaf. Terima kasih banyak, ya," sogok Utahime dengan pelukan. Satoru tertawa dan mereka pun berpelukan.
TAMAT
