Work Text:
‘Duh pasti abis ini gua bakalan diambekin.’ adalah firasat yang Sungchan rasakan selama ia mengendarai motor maticnya menuju rumah sang kekasih.
Jalan raya pada pukul delapan lewat empat puluh tujuh malam terlihat lengang, sangat berbeda dengan isi kepala Sungchan yang kurang lebih—masih—memikirkan si kekasih hati, 'Kalau gua diambekin harus dibujuk kaya gimana nihh? Tapi Eunseok emangnya beneran ngambek? Masa gua bercandain gitu doang langsung ngambek, biasanya juga dia yang bercandain gua. Gak pernah tuh gua beneran sampe ngambek yang bener-bener ngambek.’
"Lagian udah segede ini juga, kaya anak kecil aja masih ngambek-ngambekan." keluh Sungchan tak sadar.
Haduh, mungkin Sungchan perlu diingatkan dengan kejadian tempo hari lalu tentang seorang laki-laki tinggi besar bak gapura kabupaten merengek-rengek minta bolu susu sampai ngambek dan ngancam minta putus kalau gak dibelikan, kira-kira itu siapa sih?
Ya siapa lagi kalau bukan oknum Jung Sungchan. Tapi kalau orangnya gak mau ngaku yaudah, mari kita lupakan soal kejadian tempo hari lalu, lebih baik fokus pada motor matic Sungchan yang sekarang sudah memasuki area komplek perumahan Bukit Nirwana.
Pasti setiap kali Sungchan masuk komplek ini matanya gak bisa gak melihat ke lapangan kecil yang ada di sebelah kiri jalan. Lapangan itu jadi saksi bisu dimana Sungchan dan Eunseok taruhan basket, siapa yang lebih dulu mencetak score lewat garis three point boleh membuat satu pengakuan. Waktu itu status mereka masih mahasiswa tingkat akhir yang sedang dilanda pusing dengan yang namanya skripshit, sedikit too much information, kala itu pertemanan Sungchan dan Eunseok sedang renggang—yang Sungchan ingat itu terjadi karena kesalahan dirinya sendiri yang tidak sengaja menyebut kalimat yang akhirnya membuat sang sahabat tersinggung sampai menjauh tanpa diminta—lalu soal taruhan basket, entah keajaiban atau keberuntungan dari mana, Sungchan berhasil mencetak tiga poin lebih dulu.
Matahari mulai merangkak turun saat Sungchan membuat sebuah pengakuan, “gua minta maaf karena kata-kata kasar gua bikin lo tersinggung. Gua gak bisa kaya gini terus, Seok.” bola mata itu bergerak gelisah sebelum akhirnya menatap pasti ke arah depan, menembus kepada iris coklat milik yang lain.
"Gua gak bisa banget jauh dari lo—gua sayang sama lo—ayo kita pacaran!”
Tempatnya di lapangan komplek, di bawah langit senja, dan masih dengan setelan kemeja hasil bimbingan skripsi dengan dosen pembimbing akhirnya Sungchan menyatakan perasaanya.
Lima belas meter dari lapangan depan komplek ada taman bermain dimana diisi dengan jungkat-jungkit lawas yang sudah berkarat, ayunan seadanya dengan berlapis-lapis tali tambang dan ban karet tak terpakai. Aduh, itu juga sempat jadi saksi bisu dimana kencan manis seadanya Sungchan dan Eunseok. Bermodalkan es krim coklat untuk Sungchan dan es krim rasa mangga untuk Eunseok, dua anak adam itu duduk di masing-masing ujung jungkat-jungkit, saling tatap dengan sudut bibir yang tidak pernah lelah membentuk senyum juga bibir yang terus berceloteh berbagai cerita menarik untuk di dengar.
Melewati taman bermain Sungchan sampai di belokan. Rumah kekasihnya tidak jauh dari sini, Sungchan hanya perlu masuk gang nomor dua dan rumah nomor sepuluh dengan nuansa biru laut bisa Sungchan temukan. Tapi omong-omong soal belokan, belokan ini sempat jadi tempat Sungchan sedikit cekcok dengan Eunseok. Duh, waktu itu sepertinya Sungchan yang marah pada Eunseok sampai Eunseok harus mengejarnya yang naik motor sampai ke belokan ini. Eunseok bahkan nekat berlari dan menghadang jalan, untungnya Sungchan refleks menarik rem. “Udah gila nih orang, minggir gak!” sungut Sungchan.
“Dia cuma mantan, gak ada apa-apa sama gue yang sekarang! Sumpah demi dewa itu cuma masa lalu, Jung Sungchan! Jangan marah sama gue!” alih-alih menyingkir Eunseok lebih suka mengutarakan pembelaan, biasanya dia dikenal sebagai pribadi yang tenang yang selalu menurunkan ego tapi kalau menyangkut seseorang bernama Jung Sungchan, Eunseok tidak akan mengalah. Termasuk sebuah kesalahpahaman sepele.
"Gue tahu dan gue gak marah sama lo—jadi sekarang minggir!”
“Lo pergi tanpa pamit, itu lo marah sama gue!” tekan Eunseok.
Sungchan mengerang, agak membenci fakta kalau kekasihnya lebih tahu tabiatnya ketimbang dirinya sendiri. "Song Eunseok—demi dunia dan semesta—gua ada bimbingan sama dospem ini udah telat!”
“Jangan bohong lo ya cumi bakar, jadwal bimbingan lo kemarin lusa!” setelah tudingan itu Sungchan terpaksa memutar balik motornya, dan malam itu mereka berakhir di atas single bed milik Eunseok, cuddling dengan mulut Sungchan yang tidak berhenti berceloteh mengenai kekesalannya—cemburu—pasca mendapati sang kekasih sempat chit-chat asik di roomchat kakao.
“Lama banget,” terlalu asik dengan nostalgia singkat ternyata motor matic Sungchan sudah berhenti di pekarangan rumah Eunseok, tepat di sebelah gerobak nasi goreng Pak Tarjo. Begitu mesin motor mati Eunseok datang menghampiri, dari yang Sungchan lihat sih wajahnya datar. Tapi itu justru bikin Sungchan sedikit ketar-ketir. Padahal biasanya juga kekasihnya itu gak banyak berekspresi.
“Maaf, tadi sempet bengong dulu di jalan.” sahut Sungchan sambil menenteng helm kesayangan juga kantung kresek hitam ia mengekor Eunseok, tapi berhenti sejenak di dekat Pak Tarjo si tukang nasi goreng. “Pak, biasa ya kwetiaw goreng sedeng aja pedesnya.”
“Oke Mas, nanti sekalian saya antar sama pesanan punya Mas Eunseok.”
Eunseok sudah duduk di teras rumah—bermain ponsel—ketika Sungchan menghampiri sebelah tangan nenteng helm dan kresek, sebelah lagi merapikan anak rambut yang berantakan. “Nih Yang, dibawa masuk buat Mama sama Papa.” katanya sambil menyodorkan kantung kresek yang dibawa.
“Masuk aja ke dalem, ada Papa di ruang TV.” sahut Eunseok tanpa mengalihkan tatapan sedikit pun. ‘Duh, beneran ngambek dong.’ keluh Sungchan dalam hati, tapi diam-diam sudut bibirnya berkedut menahan senyum. Maka ia putuskan jongkok di depan Eunseok setelah tadi menaruh sembarang helm miliknya, tangan panjang terjulur sampai hinggap di sebelah pipi Eunseok.
“Ngambek?” tanya Sungchan retoris. Eunseok diam—tak menjawab secara verbal atau non verbal—hanya mengerjapkan mata.
'Ngambek guys.’ batin Sungchan menjerit.
Masih dengan posisi yang sama tidak bergerak sedikit pun, kecuali hidung yang terus bernapas dan mata Sungchan yang melirik ke arah pintu rumah yang terbuka lebar. Entah apa yang dipikirkan mungkin Sungchan habiskan dua menit hanya menatap ke sana, sampai tiba-tiba badannya bergerak maju. Mencuri satu kecupan di atas hidung bangir Eunseok, “Ngambeknya nanti dulu, dibawa masuk ini keburu dingin wedang rondenya.” ujarnya kelewat santai. Berbanding terbalik dengan Eunseok yang sempat melotot.
“Masuklah, Emangnya lo gak mau nyapa Papa?” Eunseok lebih dulu bangkit, menarik kantung kresek hitam di tangan Sungchan lalu melengos masuk ke dalam rumah.
‘Masih ngambek ya? Tahu gitu sekalian gue cium aja tuh bibir sampe bengkak’ pikir Sungchan penuh penyesalan.
Teras rumah Eunseok itu luas bahkan Sungchan pernah sekali guling-guling di atas sini—sebenarnya itu terjadi tempo hari lalu, waktu itu Eunseok baru pulang kantor di sambut dengan Sungchan yang duduk di teras rumah. Eunseok bisa lihat dahi kekasihnya itu penuh dengan kerutan berlapis, bibir maju lima centi tapi matanya melotot. Waktu ditanya kenapa, si Jung langsung guling-guling di atas teras. Beneran guling-guling seperti anak kecil umur lima yang gak dibelikan mainan, bedanya ini Jung Sungchan laki-laki dewasa umur dua tujuh. Guling-guling di teras rumah pacarnya masih dengan pakaian kantor sambil mendumal, “mau bolu susu lembang!” terus menerus.
Teras yang luas itu sekarang diisi dua kursi single dengan meja kecil di antaranya. Dan meja kecil itu sekarang digunakan sepasang kekasih untuk menampung sepiring nasi goreng dan kwetiaw, di bawah kaki meja ada mangkuk bekas wedang ronde yang Sungchan beli untuk Eunseok.
“Yang, ada betadine gak?” tanya Sungchan tiba-tiba di sela suapan kwetiaw gorengnya. Dibalas dengan delikan aneh oleh Eunseok, “buat apa?”
“Ada gak? Kalo ada mau minta, tapi kalo gak ada ya gak usah.”
Eunseok menaruh sendoknya di atas piring, matanya memindai Sungchan dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Kenapa?” tanyanya balik.
“Kok malah balik nanya sih Yang, ada betadine gak nih?”
Eunseok tidak menjawab tapi badannya bangkit berdiri dan menghilang di balik pintu rumah, tidak lama—mungkin berselang dua sampai tiga menit—pemuda itu kembali dengan betadine di tangan. Eunseok persis memergoki kekasihnya tengah menarik celana training hitam sebatas dengkul, oh, Eunseok bisa lihat ada luka merah yang terlihat baru di dengkul Sungchan.
“Jatoh dimana?” Sungchan mendongak kaget, lebih kaget lagi setelah tahu ia ditatap tajam oleh Eunseok. “Tadi sempet meleng dikit di jalan pas buru-buru, yaudah terus jatoh.”
Eunseok rasanya ingin memberi toyoran keras di kepala Sungchan, bisa-bisanya cowok itu malah menyengir lebar. Maka daripada tambah kesal Eunseok melengos masuk ke dalam rumah, dia butuh kapas serta rifanol untuk membersihkan luka Sungchan.
“Lagian... udah tahu lagi bawa motor, bisa-bisanya meleng.” cetus Eunseok tak habis pikir. Dia masih membersihkan luka di dengkul Sungchan dengan kapas yang telah basah oleh cairan kuning, “tetesin betadinenya.”
Sambil menuruti perintah Sungchan menyahut pelan, “buru-buru Yang, takut wedang ronde yang lo mau habis.”
Gerak tangan Eunseok spontan berhenti dia tiba-tiba mendongak, menatap Sungchan yang entah sejak kapan mengerucutkan bibirnya. “Tolol ih.” komentar Eunseok.
“Ya dari pada lo ngambek—”
“Gue gak ngambek.” sambar Eunseok. “Cuma kesel dikit sama kelakuan lo yang kadang kaya tai.”
Berbeda dengan Sungchan yang lebih suka berdebat dengan isi kepala hingga berakhir tak melakukan sesuatu, Eunseok lebih kepada orang yang ceplas-ceplos, lembutnya jujur dan spontan. Dan Sungchan sama sekali tidak bermasalah dengan sifat Eunseok yang satu itu, bukankah jujur lebih baik? Toh, ia sudah terbiasa dengan mulut Eunseok yang ceplas-ceplos.
“Ya maaf...” Sungchan terkekeh pelan, meringis sedikit saat Eunseok sengaja menekan lukanya dengan kapas. “Gua kan cuma bercanda, mau godain lo doang, jahil gitu. Balas dendam dikit soalnya lo yang sering jahilin gua.”
“Lo tuh—” Eunseok mau memaki, masih mau mengatakan bego atau tolol tapi hati nuraninya menang melawan ego. Berakhir dia kembali ke atas kursi, duduk tenang dengan menyuap nasi goreng yang masih tersisa banyak.
Terkadang Eunseok masih tidak menyangka kalau ajakan pacaran Sungchan enam tahun lalu yang ia setujui dengan persentase keyakinan sebatas 45% ternyata malah bertahan selama ini. Orang-orang menilai hubungan mereka yang awet pasti berujung pada pernikahan. Duh, jujur kalau soal menikah Eunseok masih abu-abu dengan itu. Bukan berarti ia tidak ingin menikah, ia ingin, tapi keinginannya itu masih kalah dengan ego yang lebih mementingkan karir.
Soal menikah, meski masih abu-abu dengan pertanyaan kapan mau menikah satu-satunya yang tidak pernah abu-abu adalah wajah Sungchan yang selalu memenuhi isi kepala setiap kali otaknya membayangkan hal-hal yang berbau pernikahan. Mungkin kalau ditanya “dengan siapa kamu mau menikah nanti?” Eunseok akan menjawab dengan yakin. Satu-satunya nama yang terlintas di otak dan hatinya. “Jung Sungchan.”
Sungchan itu aneh. Orangnya menyebalkan, cerewet dan banyak tingkah kalau dia mau. Usianya sebaya dengan Eunseok, bedanya mau bertambah usia pun wajah Sungchan masih lekat dengan vibe anak kecil. Muka bocah tapi proporsi badannya jelas-jelas menunjukkan dia bukan lagi remaja tanggung yang pikirannya cuma tentang game dan main. Yah meski tidak bisa ditampik kalau kenyataannya Sungchan masih gemar bermain game di sela waktu luangnya—dulu Sungchan maniak game tapi setelah fakta kalau Eunseok lebih berbakat, dia menyerah.
Dibanding persamaan sifat, kesukaan atau hobi nyatanya Eunseok punya segudang perbedaan dengan Sungchan. Ibarat sisi mereka itu bertolak belakang tapi anehnya mereka tidak pernah meribetkan perihal perbedaan, justru Eunseok merasa tidak ada yang lebih cocok dengannya dibanding Sungchan. Terlalu banyak waktu yang mereka habiskan bersama dan terlalu saling bergantung sama lain hingga tidak bisa dipisahkan.
Makanya setiap kali kata pernikahan diucap, Eunseok dengan otomatis akan membayangkan bagaimana jadinya jika nanti ia menikah dengan Sungchan.
“Seok...” panggilan dari Sungchan sedikit membuyarkan lamunan Eunseok.
“Hm?”
“Pernah gak sih lo mikir atau ngebayangin soal pernikahan?” nasi goreng atau kwetiaw mereka telah habis, bahkan piring beserta sendok kotornya sudah berada di wastafel dapur. Sekarang mereka hanya duduk diam ditemani dengan playlist milik Eunseok yang disetel dengan volume pelan. Dari pendengaran Sungchan, mostly lagu yang diputar berbahasa Jepang.
“Akhir-akhir ini gua jadi sering mikirin itu,” Sungchan seolah tidak membutuhkan respon dari Eunseok, terus melanjutkan. “Gimana rasanya ada di tengah-tengah resepsi megah, gimana rasanya punya temen hidup yang bakal nemenin gua di sisa umur, atau ngebayangin gimana rasanya ngebagi tagihan listrik, tagihan wifi, tagihan air dan tagihan lainnya.”
“Kayanya seru, iya se-seru itu.” ada jeda saat Eunseok lihat Sungchan menyandarkan punggung pada kepala kursi, dan ia tertangkap basah tengah memandangi kekasihnya sendiri ketika Sungchan menoleh tanpa aba-aba. Memberi dan menatapnya lekat. “Lo tahu gak sih Yang... dari semua hal seru yang gua bayangin itu, wajah lo selalu ada di sana.”
“Lo ada di kepala gua sewaktu gua bayangin gimana rasanya waktu bangun tidur ada wajah lain yang tidur satu kasur, ada wajah lo yang serius setiap kali gua bayangin kita berunding soal tagihan rumah tangga, atau wajah lo yang selalu tercetak jelas setiap kali terbayang adegan erotis malam pertama pernikahan.”
“Lo pernah gitu juga gak, Seok?” tanya Sungchan. Kali ini laki-laki itu sungguh bertanya karena setelah kalimat tanyanya selesai bibirnya terkatup rapat, benar-benar menunggu respon dan jawaban dari Eunseok.
“Pernah apa?” cuma dua kata itu yang keluar dari mulut Eunseok di antara banyaknya kalimat yang lebih jelas.
“Pernah gak sih lo mikir kalau di antara milyaran orang di dunia, yang terbayang di kepala cuma gua kalau ditanya perihal masa depan?” Eunseok sedikit sadar kalau Sungchan yang ia tatap sekarang berkali-kali lipat lebih rupawan dengan wajah seriusnya. Cahaya lampu teras malah menambah kadar ketampanannya sampai Eunseok tak sadar jantungnya berdesir. Iya ini, ini salah satu alasan kenapa Eunseok cinta mati sama orang yang lebih sering tampil cengengesan ketimbang serius begini.
"Pernah gak sih lo mikir kayak; kalau gua gak mau menjalani masa depan tanpa lo, atau pernah gak lo ngerasa masa depan gak akan jadi masa depan kalau gak sama gua.”
“Karena gua pernah, Seok. Selalu.” Eunseok dibuat kaget saat tangannya yang ada di atas meja disambar oleh sang kekasih, digenggam erat. “Gua selalu mikir, gak akan pernah mau melihat masa depan kalau bukan sama lo—karena apa ya, masa depan gua gak akan lengkap aja kalau gak ada lo. Itu bukan masa depan kalau gak ada lo di sana, Seok."
“We spend too much time together.” Eunseok bersuara. “Lo gak sendiri saat lo bilang gak bisa lihat masa depan tanpa gue, me too. Justru rasanya bakal aneh kalau gak ada lo di sana.”
“People say that we are platonic soulmate, hubungan cinta yang gak melibatkan tendensi romantis seperti nafsu dan birahi.” Eunseok bawa telapak tangan Sungchan untuk rasakan sentuhan dari ibu jari yang mengusap-usap punggung tangan sang kekasih. “Mungkin kita emang platonik—tapi gue gak bisa jauh dari lo. Mulut gue emang suka jahat waktu ceplas-ceplos tapi gue gak pernah berniat bikin lo tersinggung apalagi sakit hati. Gue sayang banget—atau bahkan udah cinta mati ya sama lo???”
Sungchan tertawa. “Siapa yang bilang kita platonik? Mereka belum tahu aja gimana nafsunya kita kalau sama-sama liat badan telanjang—ARGH!” tawa digantikan dengan ringisan karena Eunseok dengan tedeng aling menendang kaki Sungchan di bawah sana.
“Mulut lo dijaga, di dalem ada Papa!” sembur Eunseok.
“Ya gak sampe ditendang juga dong Yang kaki gue, bekas jatoh tadi nih!” sungut Sungchan. “Mau kemana, Seok? Gitu doang ngambek?” tanyanya terpaksa mendongak karena Eunseok tiba-tiba bangkit.
“Ikut gue—”
“Mau kemana?” sambar Sungchan.
“Kamar. Mau kasih pelajaran sama mulut lo!” selanjutnya Sungchan dipaksa bangun pun diseret bagaikan seekor kambing yang dipaksa menaiki anak tangga.
“Yang, ada Papa sama Mama di bawah—” udahlah Jung Sungchan lebih baik kamu diam jika tidak ingin besok datang ke kantor dengan bibir bengkak.
“Ayo,”
Masih di bawah kukungan Eunseok ada Sungchan yang mendelik bingung. “Apa? Di bawah ada Papa sama Mama kalo lo ngajak—ARGH! Brengsek SONG Eunseok!!” raut wajah bingung itu pias digantikan dengan ringisan pilu.
“Tolol, gue gak ngajak lo ngewe.” decak Eunseok.
“YA gAk uSAH LU sundul pake dengkul JUGA si JANTAN!”
“Serius bentar bisa gak?” tiba-tiba wajah Eunseok merendah sampai di depan wajah Sungchan, yang ditatap kelewat lekat mendadak lupa cara bernapas.
“H-hah?”
“Ayo nikah. Lo sama gue. Kita nikah.” bibir tebal Eunseok menyentuh dahi Sungchan.
“Ayo saling pandang wajah satu sama lain sewaktu bangun tidur.” bibir tebal Eunseok mampir di dua mata Sungchan.
“Ayo kita berunding soal tagihan rumah tangga.” bibir tebal itu sampai di hidung mancung Sungchan.
“Ayo wujudkan imajinasi paling erotis yang lo punya, sama gue. Kita jalanin bareng-bareng.” bibir tebal itu berakhir mencumbu bibir Sungchan. Intens, dalam tapi tidak melupakan kesan lembut yang memabukan.
Telapak tangan Sungchan menangkup wajah Eunseok saat sesi bibir mereka berakhir. Keduanya sama-sama tersenyum lebar.
“Merry me please, Jung Sungchan?” bisik Eunseok tepat di telinga sang kekasih.
Dan Sungchan melepaskan desahan lembut menyusul kepalanya yang mengangguk semangat. “Yes. Let’s get merried, Song Eunseok.”
Bibir mereka kembali bertemu, merajut kasih dalam deru napas paling lega. Little did Sungchan know; Eunseok selalu suka bagaimana cara Sungchan menciumnya, bagaimana cara Sungchan membuatnya meleleh hanya lewat sentuhan tangan atau bagaimana cara Sungchan membalikkan meja—mengambil alih kendali ketika Eunseok sudah semakin terbuai.
Semua yang ada pada Sungchan, Eunseok selalu suka.
"Tapi Seok," pagutan bibir tiba-tiba terlepas. Eunseok sedikit dibuat kesal, apalagi rengkuhan tangan Sungchan pada pinggangnya dirasa mulai mengendur.
"For the God sake, Jung, gue hampir ngaceng nih!" cuma satu yang Eunseok sayangkan dari Sungchan—kekasihnya itu nyebelin banget!
Sungchan terkikik, semakin banyak kerutan di dahi Eunseok semakin besar pula niat jahilnya sampai telapak tangannya bergerak turun; menyapa pusat tubuh sang kasih.
"Tadi katanya gak ngajak ngewe—"
"Ngomong sama tongkat lo yang berdiri tegak itu." ejek Eunseok.
Sekali lagi Sungchan cuma ketawa. Tapi dia berhenti jahil dan sengaja menurunkan Eunseok duduk ke atas kasur. Tangannya bertengger di bahu sang kasih, tatapannya kembali serius.
"Tapi Seok, kita gak bisa tahun ini." kata Sungchan tiba-tiba, terlalu ambigu sampai Eunseok mikir keras apa konteksnya.
"Hah?"
"Nikahnya gak bisa tahun ini Seok," sahut Sungchan frustasi. "Tahun ini udah ada Bang Jaehyun yang nikah, mau gak mau kita tahun depan—"
"Emangnya kenapa?" tanya Eunseok. "Emangnya ada peraturan lo gak boleh nikah di tahun yang sama kaya sepupu lo itu?"
"Adat istiadat keluarga gue gitu, Seok."
"Si Jaehyun Jaehyun itu nikah kapan?"
"Akhir tahun,"
"Gampang." Eunseok beranjak turun, mendekati meja dimana komputernya disimpan. Sungchan melihat kekasihnya itu membuka loker paling bawah dan kembali mendekat dengan sebuah benda di tangan. "Mana tangan lo," pinta Eunseok tiba-tiba.
Sungchan gak paham tapi tetap menyodorkan tangannya.
Yang tidak diduga ternyata Eunseok sematkan sebuah cincin ke jari Sungchan.
Eunseok tersenyum puas, lantas memandang Sungchan dengan alis naik turun. "Kita duluan aja. Bulan depan nikah, oke gas?"
Kata orang, jodoh adalah cerminan diri. Mungkin itu benar. Kalau Sungchan aneh, ternyata Eunseok bisa lebih lebih dari itu.
