Work Text:
"AAAAARRRGHHHH!"
"Mana!?"
Satu teriakan dari Seokjin dan dalam selang beberapa detik, Namjoon membuka pintu kamar abang satu-satunya itu dengan kasar, kentara khawatir dan terburu-buru. Seokjin yang sedari tadi berbaring dan bergulingan di atas kasurnya sambil memeluk bantal seketika terduduk. Ia menatap botol aerosol pembasmi serangga di genggaman Namjoon.
"Lu kenapa bawa semprotan nyamuk?"
"Terakhir lu teriak-teriak kayak anak gadis gitu biasanya lagi dikejar kecoa terbang. Mana kecoanya?" Pemuda itu masuk ke kamar Seokjin sembari menoleh ke segala arah.
Seokjin melengos.
"Nggak ada kecoa. Gue kira lu belum balik."
"Gue baru buka pintu itu pas denger lu jejeritan."
"Sori, sori. Aman kok. Gimana filmnya? Berapa?" Seokjin akhirnya turun dari ranjang untuk mengambil air mineral di atas meja kerjanya. Namjoon juga sudah melemaskan tubuhnya dari postur bersiaga. Kini terlihat antusias untuk bercerita. Sebelumnya, ia pamit untuk menonton film bertajuk Monster yang sedang tayang di bioskop setelah sebelumnya misuh-misuh karena ketinggalan film yang sama di festival film Jepang dua bulan lalu.
"Delapan! Bagus deh ceritanya dibikin dari tiga POV gitu. Lu pasti suka. Trus yang bikin scoring-nya Ryuichi Sakamoto, beuh."
"Sama Shoplifters bagusan mana?" Seokjin menyebut satu judul film keluaran tahun 2018 dengan director yang sama—Hirokazu Kore-eda.
"Kata gue masih Shoplifters. Di Meta juga skornya masih bertahan 93 dia. Monster masih di 80-an."
"Wih, tinggi juga?" Namjoon memasang tampang I know right? lalu Seokjin menambahkan, "Oke, nanti gue liat deh, mampirin pas weekday balik gawe."
"Nice." Namjoon sudah balik badan dan hampir menutup pintu kamarnya saat berceletuk, "Hoseok juga belum nonton. Ajak aja sekalian."
Keramat.
Namjoon menyebut nama keramat
Seokjin tersedak air minumnya sendiri.
"NYET!?" Namjoon menuju abangnya untuk menepuk—lebih dapat dikatakan menggebuk—punggungnya. Lalu memeluk Seokjin dari belakang untuk diangkat tubuhnya beberapa kali.
"Udah, udah! Gue belum mau koit, hoy!"
Namjoon tidak mengindahkannya. Baru setelah batuk-batuk Seokjin hilang, lelaki jangkung itu berhenti.
"Lu lagi kenapa sih, Jin? Kemaren-kemaren lu kencing di bawah pohon nggak permisi-permisi apa gimana?"
"Sialan, dikata gue ketempelan jin kebon apa!?"
"Ya tadi lu jejeritan, nggak ada angin nggak ada ujan pake keselek segala, heran."
"Elu sih."
"Lah, gue?"
"Nggak napa-napa. Dah ah gue mau mandi." Seokjin melenggang keluar kamar setelah menyabet handuk yang sebelumnya disampirkan di sandaran kursi gimnya—singgasananya. Namjoon menatapnya tidak percaya sebelum menggerutu.
"Dih."
Di bawah guyuran air dingin shower kamar mandinya, Seokjin akhirnya merasa aliran darahnya yang sedari tadi mendidih kian mendingin.
Gawat.
Mendengar namanya diucapkan oleh adiknya saja membuat Seokjin tersedak. Sebelumnya, Seokjin sedang mengingat-ingat peristiwa beberapa minggu lalu dan berakhir malu sendiri sampai menjerit dan membawa Namjoon tergopoh dengan semprotan kecoa di tangannya. Kacau.
Sudah nyaris dua minggu. Semenjak kejadian itu. Kejadian yang membuat Seokjin memikirkan kembali tujuannya hidup di dunia dan mempertanyakan eksistensinya sebagai manusia.
Semua dimulai saat Hoseok—duh, mengingatnya begini saja membuat Seokjin ingin memakan habis pasta giginya, kalau saja ia lupa adiknya bisa mengamuk akibatnya—menginap di kamarnya di akhir pekan. Hoseok memang seumuran Namjoon. Namun anak itu lebih dekat dengan Seokjin akhir-akhir ini karena Namjoon yang semakin hobi lembur dan sekalinya libur, ia akan menghabiskan waktu dengan pacar yang baru dikencaninya setengah tahun ke belakang.
Biasanya, anak itu menginap di akhir pekan minggu pertama setiap bulannya. Rutinitas setelah bebas dari belenggu tutup buku dengan kondisi sudah gajian. Keduanya akan menghabiskan waktu memainkan gim keluaran terbaru atau bermain tenis atau menonton bioskop dan makan di luar lalu pulang ke salah satu tempat tinggal mereka untuk berakhir menginap. Atau menghabiskan waktu di rumah saja dengan sekadar melanjutkan gim yang belum terselesaikan sambil memesan antar aneka makanan lalu menonton serial.
Jujur saja, menurut Seokjin, Hoseok adalah pemain gim yang buruk. Hoseok juga menyadarinya karena Seokjin terang-terangan mengeluh jika sudah lelah mengajari. Harus berapa kali ia mengulang penjelasan dan tidak jarang kesabarannya habis. Tapi Hoseok terlihat menikmati dan tidak gentar untuk mencoba. Semangatnya membuat Seokjin luluh—permintaan maaf basa-basi Hoseok saat Seokjin terbawa emosi yang ditemani tawa terbahak-bahak juga membuat Seokjin luluh. Jika itu adalah dirinya yang payah bermain, pasti Seokjin lebih baik mencari hobi lain dan menyerah saja.
Kalimat itu sepertinya berlaku juga untuk Seokjin.
Sebenarnya, Seokjin lebih senang berolahraga dengan duduk di sofa seharian sambil bermain gim. Namun, Hoseok senang memproduksi keringat betulan lewat permainan tenis. Entah kerasukan apa, Seokjin lama-lama terbawa juga. Tidak tanggung-tanggung, mereka bisa latihan sampai jam tiga dini hari di lapangan tenis kompleks jika salah satunya iseng berceletuk, "Tenis, yuk?" di tengah malam.
Impaslah, ya.
Masalah dimulai saat Sabtu dua minggu lalu Hoseok menginap di tempatnya. Seokjin dan Hoseok sudah kenal cukup lama untuk saling paham batas privasi di antara mereka. Seokjin tidak suka disentuh. Sedari kecil. Apalagi wajahnya—astaga, ia bisa kehilangan mood seharian bila ada yang kurang ajar menyentuh wajahnya. Hoseok, yang ia tahu, juga seperti itu. Anak itu bukannya anti dengan kontak fisik, ia hanya cenderung sensitif jika tersentuh. Maka, untuk menghindari kelelahan tertawa karena kegelian, Hoseok lebih sering menghindari aktivitas itu.
Itu hipotesis nol-nya.
Sampai pada waktu itu, Seokjin yang baru saja mandi, masuk ke kamarnya sembari asal mengeringkan rambutnya. Ia menyambar PSP dan dengan sembarangan menyamankan diri di ranjangnya. Hanya kali itu berbeda.
Ia berakhir bersandar di dada Hoseok.
Aduh.
Seokjin tidak sengaja, sungguh. Walau tidak sebesar Namjoon, Hoseok adalah orang berukuran besar. Bukan anak kecil setinggi satu meter. Seharusnya Seokjin tahu ada manusia yang sedang berbaring di ranjangnya. Apalagi anak itu berkata bahwa malam ini akan menginap. Kehadirannya bukan tiba-tiba. Bagaimana bisa Seokjin lupa?
Salahkan meeting akhir minggu kemarin sore yang menguras semua energi dalam tubuh Seokjin dan membuatnya terbangun dari tidur—yang sudah seperti pingsan itu—hampir dua puluh jam setelahnya.
Dengan efek sekujur tubuh tersengat, Seokjin refleks menjauhkan kepalanya dan berseru, "Eh? Sorry, gue kira bantal lu!" Lalu Seokjin kembali tersengat walau kali ini bukan efek kaget seperti sebelumnya saat Hoseok berkata 'Sfine, Dude sambil terkekeh. Ia juga sepertinya tidak terlalu terganggu? Tetap menggulirkan laman apa pun yang sedang ditampilkan ponselnya tanpa berjengit akan jaraknya—yang tak berjarak—dengan Seokjin.
Oke?
Dia bilang It's fine. Jadi kalau Seokjin memutuskan untuk melanjutkan bersandar di dada temannya ini seharusnya tidak masalah dong, ya?
Betul, 'kan?
Iya dong?
Oke kalau begitu.
Mari dilanjutkan.
Ah, Hoseok wangi.
Tidak empuk sih. Ya, Hoseok 'kan memang bukan bantal? Dadanya juga tidak bisa difungsikan untuk menyusui anak seperti mamalia pada umumnya. Wajar kalau permukaannya tidak selembut itu. Tapi tetap membuat nyaman.
Aneh.
Dan itu tadi.
Hoseok wangi.
Membuat betah.
Tunggu—
Seokjin lagi-lagi merasakan efek kesetrum saat Hoseok mendaratkan satu telapak tangan di atas kepalanya. Jemarinya menyisir rambut Seokjin dengan tempo malas-malasan. Usapannya terasa sopan menyentuh kulit kepalanya. Seperti tidak peduli pada gejolak yang ia berikan pada diri Seokjin.
Posisi ini, kegiatan ini, normalkah?
Seokjin laki-laki. Hoseok juga sama.
Ini ... normalkah?
Tapi ia kembali mengingat bahwa pertemanan antarwanita pun sudah biasa dengan aneka sentuhan platonik begini—dan Seokjin masih sedikit mempertanyakan keplatonikan ini. Seokjin tidak perlu panik, 'kan? Menikmati kedekatan seperti ini, di bawah temaram lampu tidurnya dengan latar belakang suara gerimis di luar kamar, tidak serta-merta membuatnya naksir sahabatnya sendiri, 'kan?
Karena segala situasi ini ... romantis, by the way.
Astaga.
Memikirkannya saja Seokjin ingin menggigit PSP-nya yang sedari tadi ia mainkan tanpa fokus.
Masih belum terbiasa, Seokjin mulai merasa lehernya sakit, akibat tidak mau melemaskan tubuhnya selayaknya sedang sit up salah postur berkepanjangan. Hingga pada akhirnya ia menyerah. Seokjin menumpukan beban tubuhnya di sana—di dada Hoseok.
Mesin di kepalanya tidak berhenti berputar: Apa Hoseok refleks mengelusnya seperti ini? Apa ia tidak merasa panik seperti yang Seokjin rasakan sekarang? Apa ia sudah biasa melakukan ini? Tunggu, jika itu masalahnya, dengan siapa ia biasa mengelus-elus kepala begini?
Seokjin tiba-tiba sedikit gelisah membayangkan Hoseok mengelus kepala orang lain. Yang bukan dirinya.
Gawat.
"Hos ...?"
"Mm?"
Aduh.
Gumaman Hoseok dengan suaranya yang dalam berbanding terbalik dengan sentuhannya yang terasa ringan.
Seokjin tidak mau ia berhenti.
Oke. Pertanyaan soal siapa partner elus-mengelus bisa ditunda. Sekarang, Seokjin tidak mau banyak berpikir. Ia mau menikmati momen ini. Dan, ya ampun, usapan Hoseok membuatnya mulai ngantuk lagi.
Tidak sadar, Seokjin semakin menyamankan posisi bersandarnya dan sepenuhnya menumpukan berat separuh tubuh bagian atasnya ke dada lelaki di belakangnya.
"Lu pegel, nggak?"
"Aman."
"Kalo berat ... bilang, ya?"
Kekehan ringan Hoseok kembali terdengar.
Seokjin merinding sedikit.
"Nggak akan. Dah, lu lanjut aja game-nya."
"Kalo gue ketiduran gimana ini?"
"Ya tidur aja, coy. Lu 'kan lembur terus dua minggu kemaren. You deserve some rest, asli."
"Kita mau tenis bukannya ...? Bangunin aja gue nanti barang jam satuan."
Seokjin menguap. Ia akhirnya menyimpan gim konsolnya ke atas kasur. Belum sempat gawai itu mendarat, satu tangan Hoseok yang bebas sudah terlebih dulu menyambarnya. Lelaki itu membawanya ke atas nakas samping ranjang, ke tempat yang lebih aman.
"Ntar pengsan lu di court. Dah, diem. Merem."
"Mm."
Hening.
"Merem."
"Hos ...."
"Mm?"
"Your hand feels so nice."
"Mm. Nighty night, Pretty."
Hoseok memanggilnya apa?
Mungkin Seokjin salah dengar. Atau ia sebenarnya sudah masuk ke alam mimpi, Seokjin tidak bisa membedakannya lagi. Kelopak matanya berat. Dan usapan Hoseok terlalu melenakan.
Malam itu, Seokjin tidur nyenyak dan bisa bangun tanpa sakit kepala seperti tidur-dua-puluh-jamnya kemarin.
Kembali lagi ke saat ini, tepat dua minggu setelah tragedi keramat itu, Seokjin merasa aneh. Ia sungguhan ingin bertemu dengan Hoseok cepat-cepat. Namun ia juga tidak tahu bagaimana nanti saat berhadapan langsung dengan Hoseok.
Pelik, memang.
Seokjin tadi mengajaknya menonton Monster—film yang tadi dipromosikan Namjoon—dan anak itu segera mengiakan juga berkata ingin kembali menginap malam ini. Seokjin rasanya kelewat senang. Heran juga, perkara bertemu Hoseok bisa sebegini efeknya. Kendatipun demikian, ia tidak bisa berpura-pura lupa akan apa yang terjadi beberapa minggu lalu. Bagaimana bisa?
Seminggu terakhir ini pekerjaannya kembali menyita waktu dan tenaganya, nyaris sama seperti waktu itu. Semuanya Seokjin lakukan dengan tekun dan ia selalu menghibur dirinya sendiri dengan angan-angan bahwa akhir minggu ini atau minggu depannya lagi akan ia habiskan bersama Hoseok. Ia sudah bekerja keras, mungkin saja Hoseok akan membiarkan Seokjin kembali bersandar di dadanya dan kembali mengelusnya sampai ketiduran. Lagi.
Seokjin berhak mendapatkan itu setelah bekerja dengan giat, 'kan?
Hoseok mau melakukannya lagi dengannya ... 'kan?
Namun saat sudah tiba waktunya begini, tiba-tiba Seokjin terserang panik. Ia mendadak tidak percaya diri. Dan berakhir dengan kembali membereskan kamarnya yang sudah kelewat kinclong untuk ukuran kamar yang akan diinapi oleh temannya. Namjoon tadi sempat berkomentar Tumben lu beberes? saat mau ke toilet dan melewati kamarnya. Seokjin hanya menatap adiknya itu lalu mengangkat bahunya.
Ia betulan tidak punya jawaban, memang.
Sambil mengelap jam mejanya, Seokjin mematut dirinya di depan cermin lemarinya.
Rambut? Oke. Kemeja biru dongkernya juga terlihat serasi dipadankan dengan celana denim tua miliknya.
Bibirnya terlihat pucat.
Sepertinya ada calon jerawat di jidatnya.
Ia juga sudah merasa harus cukuran. Kumisnya sudah mulai bermunculan walau tipis.
Seokjin kehilangan kemampuan menakar waktu. Tidak menyadari ia telah berdiri menatap bayangannya sendiri tak bergerak ratusan detik lamanya.
"Jin ...?"
Satu ketukan di pintu kamarnya dengan kepala yang menyembul familier membuat Seokjin hampir melempar jam digital yang berbentuk pohon Totoro dengan fitur air hujan yang terus mengalir menimbulkan bunyi gemericik kecil di dalam kamarnya.
Itu Hoseok.
Hoseok sudah datang. Memakai chinos berwarna dark sage dengan padanan kaus putih dan kemeja berwarna kunyit dengan lengan tiga perempat sebagai luaran.
Hoseok wangi.
Tercium sampai ke seberang ruangan.
Segar.
"Ngagetin aja lu!? Sini, masuk."
Dengan itu, Hoseok memasuki kamar Seokjin yang sedari tadi memang tidak dikunci. Sepertinya Seokjin terlalu banyak melamun sampai tidak mendengar kedatangan Hoseok. Kamarnya mungil, bukan sebesar rumah tipe 36 seperti kamar tidur orang kaya. Tidak ada alasan suara Hoseok tidak terdengar kecuali ia sedang tidur atau berada di luar kamar.
"Gue dari tadi manggilin elu di pintu tapi lu cuekin gue?" Hoseok melenggang memasuki kamar Seokjin sembari
"Biasanya juga lu langsung masuk. Centil amat segala manggil-manggil ngetok-ngetok segala?" Pipi Seokjin agak panas. Menyadari bahwa barusan ia kelewat memperhatikan penampilannya seperti orang mau kencan.
Idih, kencan.
"Abisan lu keliatan lagi serius gitu bengongnya. Banyak pikiran lu?"
Iya. Mikirin elu.
"Biasalah. Cabut sekarang?"
"Ayo. Filmnya mulai tiga perempat jam lagi. Keburulah, ya?"
"Yaudah ngebut kita. Lu apa gue yang bawa motor?"
"Gue aja. Lu yang bawa ntar bengong di jalan, nyusruk ntar kita yang ada," ujar Hoseok santai sembari menaruh tasnya di lantai di samping meja kerja Seokjin.
Seokjin mendecak malas walau akhirnya ia menurut juga. Benar, bisa bahaya jika di jalan ia melamun. Terlebih, ia melamunkan orang yang ada di boncengannya. Kacau.
Ia sedang menunggu Hoseok di pintu kamarnya saat lelaki itu berjalan melewatinya lalu menoleh. Tanpa bicara, Hoseok membetulkan kerah kemeja flanel Seokjin yang terlipat ke dalam.
Saat anak itu berkata Dah, yok! Seokjin masih sibuk menenangkan jantungnya yang barusan sempat berhenti disusul dengan debaran kencang. Setelah lelaki itu kembali berjalan menuju teras rumah, Seokjin menutup pintu kamar dengan sedikit gemetaran.
Hoseok tidak perlu tahu.
"Namjoon tai!" adalah kalimat sapaan Seokjin saat kembali ke rumahnya. Ia menyimpan dua kotak berisi martabak telur dan martabak jagung keju yang tadi adiknya pesan untuk dibawa pulang sesaat setelah film selesai.
"Gimana, bagus, 'kan?" Lelaki berbadan besar itu berjalan dari arah dapur, membawa botol minuman soda berukuran besar rasa sarsaparila untuk mereka bertiga.
"Sedih, anjis! Gue kira bakal film bocil rebel aja atau bahas fenomena bully di sekolah gitu. Lah, kok gue mewek?" Hoseok menanggapi. Namjoon terkekeh geli.
"Asli, gue juga mikir gitu. Emang Koro-eda nih masalah idupnya berat kayaknya. Bikin film kayak gituan. Gue sempet emosi ke gurunya di awal."
"Gue sama kepseknya anjirlah nampak tiada berguna. Si bangke layer-nya banyak bener."
"Asliii. Lu mewek juga nggak?" tanya Namjoon pada abangnya yang tengah duduk terkapar sembari menatap nanar ke langit-langit ruang tengah mereka.
"Kaga ada, ya."
"DUSTA BENER LU! Boong, Nam. Gue pas lagi mata netes-netes, ini orang sebelah gue ampe kursinya goyang-goyang sesenggukan ngabisin tisu gorengan!"
"Anjirlah!" Namjoon dan Hoseok terbahak. Seokjin sudah mulai menggarap martabaknya. Ketiganya lalu terlibat dalam obrolan panjang nan seru, masih mengenai film pemenang penghargaan festival film Cannes yang baru saja mereka tonton. Sampai satu-satu dari mereka berpamitan untuk mandi dan masuk kamar.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi.
Hoseok masih membasuh dirinya di kamar mandi saat Seokjin kembali mengalami krisis di dalam kepalanya. Ia tidak bisa diam. Rasanya salah tingkah. Seokjin membereskan seprainya yang sudah licin, mengganti air mineral di atas meja kerja menjadi jus jeruk, kemudian menggantinya kembali dengan air mineral. Lalu menata figurin di headboard ranjangnya yang sudah rapi.
"Belum ngantuk lu?"
Satu sapaan Hoseok yang memasuki kamarnya membuat Seokjin terkesiap. Ia seketika berdiri dengan sikap sempurna seperti kepergok membaca majalah dewasa oleh kedua orang tua. Karena jawaban dari Seokjin tidak kunjung didapatkannya, Hoseok menggelengkan kepala dan melenggang menuju tasnya untuk mengeluarkan tablet.
"Mau nonton apa dulu gitu nggak, sambil nunggu ngantuk?"
Hoseok menoleh ke arahnya sembari jemarinya mulai menari di atas layar tabletnya. Sepertinya mulai mencari film untuk dijadikan latar belakang suara. Paham benar jika Seokjin tidak bisa tidur jika tidak ada keramaian di sekelilingnya. Belum mendapat jawaban, Hoseok menaikkan satu alisnya, dan jantung Seokjin rasanya merosot sampai ke kaki.
"You good, bro?"
"No. Not really."
"Gawat. Pantesan dari tadi lu ngelamun terus. Lagi ngawang kali ya nyawa lu? Mau gue bawain apa dari dapur? Teh anget? Susu murni? Namjoon kayaknya belum molor deh, sebentar gue cek du—"
"Guemautidursenderandidadalulagisambildieluskepalanyabolehnggak!?"
"Hah?"
"..."
"Apa tadi? Coba bilang lagi pelan-pelan yang jelas." Tangan Hoseok yang memegang tablet sudah menggantung di sisi tubuhnya. Lelaki itu berjalan mendekat ke arah Seokjin dengan senyum menyebalkan yang dikulum.
Seokjin mendengus kesal.
"You heard it."
"Nggak jelas. Coba diulang yang bagian lu mau kelonan sambil dielus gue, coba?"
"Tsk. Dah ah. Gue mau tidur."
Baru saja Seokjin berbalik hendak membaringkan tubuh di ranjangnya sendiri, Hoseok meremas lengan atasnya. Dan kalimat selanjutnya membuat Seokjin antara ingin menenggelamkan wajahnya di bantal atau ingin meninju wajah Hoseok yang terlihat jahil malam ini.
"Boleh, Jin. Sebentar gue benerin bantalnya dulu. Lu pilihin filmnya nih."
Hoseok menyerahkan tabletnya pada Seokjin, yang segera Seokjin terima lalu masuk ke laman HBO-nya tanpa harus tanya Hoseok soal password-nya. Ia sudah hafal di luar kepala.
Ada atmosfer yang berubah dari dinamika hubungan keduanya malam ini. Seokjin jelas merasakan itu. Sedari tadi mereka nonton bersama. Malah dari sebelumnya juga. Keduanya lebih berhati-hati saat akan bersentuhan—dan Seokjin sama sekali tidak terganggu dengan ini. Ia menginisiasi menyentuh punggung bawah Hoseok saat keduanya mengantre, membiarkan Hoseok membersihkan pipinya yang terkena cemong saus gorengan. Yang terakhir adalah, membiarkan dirinya memeluk Hoseok dan menjatuhkan kepala di dagu lelaki yang menyetir dengan agak ugal-ugalan karena Namjoon tidak sabar ingin menyantap martabaknya. Semuanya terasa seperti alami. Sealami tadi, sewaktu Hoseok membetulkan kerah kemejanya sebelum mereka berangkat.
Mungkin selama ini begitu, namun Seokjin baru menyadarinya saja?
Seokjin juga tidak tahu.
Kini, wajahnya menghangat sampai ke leher dan telinga. Berdua saja di kamar dengan cahaya temaram dan gerimis yang sama seperti beberapa minggu lalu, membuat Seokjin kikuk berada di sekitar Hoseok. Ia dapat melihat Hoseok juga bergerak rikuh di sekelilingnya—anak itu hampir tersandung kakinya sendiri saat mengambil selimut baru dari lemari Seokjin. Leher bagian belakangnya juga terlihat berwarna merah jambu.
Pertanyaannya sekarang adalah, Hoseok juga merasakannya, 'kan?
Atau Seokjin hanya sendirian di sini?
"All set. C'mere now?" ujar Hoseok sembari menepuk pahanya. Lalu berdeham dua kali.
Oh.
Kedua tulang pipinya yang tinggi juga bersemu. Masih terlihat di tengah pencahayaan yang redup. Ini tidak sehat bagi Seokjin. Membuatnya tidak berhenti menatap takjub.
Hoseok sudah bersandar di headboard ranjang Seokjin. Tubuhnya yang sudah wangi aroma sabun yang sama. Juga sudah memakai kaus santai dengan motif KAWS yang adalah kado ulang tahun dari Seokjin beberapa tahun lalu dipadukan dengan celana jersey longgar berwarna hitam.
Ia terlihat jinak untuk dipeluk.
"You coming or nah?" Pertanyaan Hoseok yang diikuti dengan bibirnya yang digigit ragu, menyadarkan Seokjin dari lamunannya.
Ia bergerak dengan sembrono, nyaris menimpa Hoseok seperti atlet WWF, membuat keduanya terkekeh. Geli sendiri dengan kerikuhan ini.
"Jadi nonton apa kita malem ini?" tanya Hoseok. Tangannya mulai bergerak menyisir rambut Seokjin yang seketika memejamkan matanya. Menikmati.
Ia sungguh merindukan ini.
Sudah dua minggu!
"Damn, this is good ...."
"Mm?"
"Your chest. Your touch."
Oh?
Hoseok berdebar.
Kencang.
Seokjin merasakannya.
Lalu jawaban Hoseok yang nyaris tak terdengar harus membuat Seokjin menahan cengiran lebarnya.
"I'm glad then."
Aduh, imutnya.
Seokjin menahan napas saat Hoseok merunduk untuk menghirup aroma rambut Seokjin dan mengusapkan ujung hidung bangirnya di puncak kepala Seokjin berkali-kali. Membuat Seokjin bergerak semakin menyamankan diri di pelukan Hoseok.
Rasanya penuh.
Seokjin merasa tidak sendiri.
"Gue belum sempet nyari tadi. Apaan, ya? Lu mau nonton apa?"
"Mm? Apa aja ... gue ngikut." Hoseok tidak berhenti mengecup puncak kepala Seokjin sembari satu tangannya tidak berhenti menyisir. Seokjin terkekeh. Ia kembali menggulirkan laman HBO di atas perutnya dan ditahan oleh pahanya yang Seokjin tekuk dan difungsikan sebagai standee tablet. Heran dengan kelakuan temannya yang satu itu sekaligus senang disentuh di sana-sini oleh Hoseok.
Apa jangan-jangan love language Seokjin selama ini adalah physical touch? Dan baru ia sadar dua minggu lalu?
Astaga.
Love, katanya.
Memikirkannya saja membuat merinding.
Sampai pintu kamarnya dibuka disusul Namjoon yang masuk sembari menunduk, sibuk dengan ponselnya.
Seokjin dan Hoseok tidak terganggu sedikit pun akan kehadirannya. Tidak ada dari mereka yang berjengit atau berusaha menjauhkan tubuh. Hoseok masih menyisir rambut Seokjin pelan.
Terlalu nyaman.
"Lu biar sedih sebelum tidur, gue kirimin nih thread dari Twitter soal trivia-trivianya Yori-Minato. Asli sih ini bikin mata panas kayak—" Namjoon menggantung kalimatnya saat mendongakkan wajahnya. Mendapati posisi kelewat intim dari abang dan sahabatnya
"Share ke gue, Nam."
"O—kay? What is happening here?"
"Hah?"
"Am I interrupting something here or ...?"
Seokjin dan Hoseok saling berpandangan.
"Lu berdua ... ngapain ...?"
"Ini gue sama Hoseok lagi mau nyari film buat dibawa tidur sih. Tapi baca trivia juga asik kayaknya."
"Mewek lagi tau rasa," gerutu Hoseok main-main sembari mencubit hidung Seokjin.
"Aduh! Bawel lu." Seokjin membalas mencubit Hoseok di hidung. Lelaki itu bisa menghindar dan mengakhiri pertikaian kecil mereka dengan kecupan untuk kesekian kali di puncak kepala Seokjin. Membuat Seokjin memejamkan mata sembari tersenyum-senyum puas.
Lupa akan adanya Namjoon yang menatap dua orang di hadapannya tanpa berkedip.
Apa-apaan dua manusia ini!?
"Udah dikirim, Nam?" Pertanyaan Hoseok membuat Namjoon terenyak. Seperti tidak baru saja memperlihatkan kemesraannya dengan abang temannya sendiri.
"U-udah barusan gue kirim ke wa."
"Thanks, man."
"Hos?"
"Oit?"
"Sukses jadi nih?"
"On the way-lah."
Seokjin yang mulai tenggelam dalam utas trivia kiriman Namjoon soal film yang tadi ia tonton, mendongakkan wajahnya. Menatap Namjoon dan Hoseok bergantian.
"Sukses apaan?"
"Adalah, mau tau aja lu," jawab adiknya.
"Gue refund ke emak baru nyaho lu."
"Ampun! Dah ah, gue pamit undur diri. Lu berdua lanjut deh. Titip abang gue, Hos!"
"Aman ...."
Saat Namjoon sudah menghilang di balik pintu kamar Seokjin yang tertutup, Seokjin menolehkan kepalanya untuk menatap Hoseok.
Barusan itu, Namjoon mengedipkan satu matanya sebelum keluar dari kamar. Seokjin yakin tidak salah lihat.
"Apaan tadi sukses sukses?"
"Nggak ada apa-apa, Seokjin, elah."
"Lu berdua rahasia-rahasiaan di belakang gue, ya? Pundung aja nih gue?"
"Najis. Bukan apa-apaan kok. Lu udah deh goleran yang bener lagi kayak tadi. Masih mau gue sayang-sayang, 'kan, ampe bobo?"
Seokjin nyaris tersedak ludahnya sendiri.
Sambil menggerutu Sok imut lu, ia menurut untuk kembali bersandar di dada Hoseok.
"Emang imut terus gue mah."
"Dah nih. Lagi, elus-elusin guenya."
"Hadeh, bakal sukses besar kalo gini gue."
Masih abstrak. Struktur kalimat Hoseok tidak lengkap. Tapi Seokjin mulai paham.
Debaran jantung Hoseok yang ia rasakan di belakang kepalanya membuatnya mengerti.
Ini membuatnya nyaman.
Kalau kenyamanan Seokjin adalah tolok ukur kesuksesan Hoseok, jelas anak itu akan berhasil.
"Gacor sih lu kata gue, Hos."
"Gitu?"
"Mm. Jangan berenti."
"I won't."
"Kemaren dua minggu gue berasa sakau mau diginiin lagi. Tapi bingung mintanya."
Ya sudahlah.
Keluarkan saja semuanya.
Terlanjur.
"Serius lu?"
"Mm."
Seokjin merasa kepalanya dikecup lagi.
"Besok-besok kasih tau gue aja. Bilang mau kelon. Ngebut ntar gue dari kantor."
Kacau.
Seokjin mengangguk. Berlagak sibuk dengan layar di hadapannya. Rasanya campuraduk. Tapi debaran di belakang kepalanya membuatnya tenang.
Ia tidak sendiri di sini.
"Sukses selalu dong lu?" goda Seokjin tanpa menoleh.
"Sukses bagi Si Rajin, kayak tagline di bawah buku sidu."
Seokjin terkekeh.
"Seneng gue kalo bisa bikin lu nyenyak. Nagih. Kemarenan sih sempet panik sendiri, takutnya lu nggak nyaman sama yang terakhir."
Seokjin berdecih sembari menggumamkan Mana ada gue nggak nyaman sama lu?
Diambilnya telapak tangan Hoseok yang tengah menyisir rambutnya untuk dikecup sekilas oleh Seokjin. Lalu disimpan kembali di atas kepalanya supaya Hoseok kembali melanjutkan tugasnya.
Entah apa ini. Seokjin yakin mereka perlu sesi mengobrol yang lebih dalam soal terminologi "sukses-suksesan" ini. Namjoon mungkin tahu sesuatu. Tapi Seokjin ingin dijelaskan oleh Hoseok sendiri.
Atau mungkin ia tidak butuh penjelasan apa pun.
Kesimpulannya, betul, Seokjin memang tidak suka disentuh. Kecuali oleh Hoseok.
Hoseok berbeda.
Hoseok wangi.
Sentuhannya sopan. Bisa membuatnya lelap. Namjoon juga terlihat tidak keberatan. Hoseok juga membuat Seokjin tidak merasa panik sendirian.
Untuk sekarang, itu saja sudah lebih dari cukup.
"Nighty night, Pretty," bisik Hoseok lirih di dekat telinga Seokjin.
Oke.
Mereka harus mengobrol besok pagi.
***
