Chapter Text
Luffy benci berdebat dengan kakeknya. Apalagi jika itu menyangkut tentang masa depannya. Garp selalu saja memaksa Luffy untuk memasuki Akademi Militer yang dibenci Luffy. Mereka berdua akan berdebat tanpa akhir dan baru akan berhenti jika salah satu dari mereka sudah merasa lapar.
Tapi berbeda dengan perdebatan hari ini. Garp membawa-bawa nama ayah Luffy bahkan membandingkannya dengan Luffy, yang saat ini menjabat sebagai pasukan elit di marinir.
Hal ini membuat Luffy menggeram marah. Dia tidak suka dibanding-bandingkan. Selain itu ayahnya bahkan membebaskannya untuk memilih masa depannya sendiri.
Garp sepertinya tidak melihat kemarahan yang sedari tadi ditahan oleh Luffy. Dia masih mengoceh tentang bagaimana Luffy akan menjadi marinir yang baik.
"Kamu itu, buat apa kamu milih kuliah? Lebih bagus kalau kamu masuk akademi militer daripada masuk dunia perkuliahan. Apalagi jurusan yang kamu pilih tidak mendukung."
Cukup. Luffy tidak tahan lagi. Dia tidak sanggup lagi menahan semua perkataan pedas dari kakeknya. Dia bergegas bangkit dan meraih handphone serta kunci motornya di meja lalu pergi dari hadapan Garp.
"LUFFY MAU PERGI KEMANA KAMU? KAKEK BELUM SELESAI BICARA."
Tanggapan Luffy hanya bantingan pintu yang membuat lelaki tua itu terlonjak dari tempat dia duduk. Dia bisa mendengar suara motor yang melaju meninggalkan pekarangan rumah itu.
"Dasar bocah kurang ajar." Garp bergumam sambil mengelus dadanya.
Luffy berhenti melajukan motornya begitu dia sampai di pantai favoritnya. Dia tersenyum tipis pada penjaga parkiran yang sudah mengenalnya sebelum pergi menuju bibir pantai yang cukup dekat dengan laut.
Duduk di atas pasir, sesekali ombak akan mengenai kakinya. Tapi Luffy tidak peduli, justru itu menenangkannya dari rasa marah yang menetap pada dirinya.
Memejamkan matanya, Luffy menghirup aroma laut yang familiar. Dulu sebelum ayahnya menjadi pasukan elit, dia sering membawanya kesini. Luffy ingat ayahnya pernah berkata jika Laut selalu menenangkan pikirannya.
Saat itu Luffy tidak mengerti, apa maksud perkataan ayahnya. Tapi sekarang dia bisa mengerti. Amarah yang dia rasakan sebelumnya perlahan mulai mereda begitu dia mencium aroma laut bersamaan dengan perasaan dari ombak yang sesekali menyentuh kaki telanjangnya.
Rasanya begitu damai sampai Luffy tidak sadar jika dia sudah berada disana cukup lama. Dia baru tersadar dari lamunannya saat seseorang menyentuh bahunya dan membuatnya terlonjak sedikit.
Menoleh ke samping, Luffy bisa melihat seorang pria yang mungkin sedikit lebih tua darinya. Hal pertama yang menarik perhatian Luffy adalah kantung matanya yang gelap dan tato yang menghiasi punggung tangan pria itu.
“Maaf, kayaknya kamu perlu minggir. Airnya udah mulai pasang.”
Oh, dan suaranya dalam. Buat Luffy sedikit tergagap saat menjawab perkatan pria itu.
“A-ah iya.”
Dengan linglung Luffy mengambil sepatunya lalu bangkit berdiri. Saat akan berjalan, bahunya ditahan oleh tangan pria itu lagi.
“Kamu keliatan banyak pikiran. Mending kita diem dulu sana, mau?” Pria itu menunjuk salah satu warung yang menjual es kelapa. Luffy yang masing gelagapan hanya bisa mengangguk.
Dia sedikit panik saat pria itu menggenggam tangannya dan menariknya, pria itu melihat kepanikan dan segera melepas genggamannya pada tangan Luffy.
Dan jika Luffy bisa jujur sedikit, dia ingin tangan itu kembali menggenggam tangannya.
“Maaf, saya gak bermaksud. Kamu keliatan linglung banget jadi saya takut kamu tiba-tiba jatuh.”
“Ah iya, gapapa mas?”
Lelaki itu tersenyum, “Trafalgar Law.”
Selama menjadi dokter residen, Trafalgar Law sama sekali tidak pernah berpikir untuk terlibat dalam hubungan asmara. Hell, bahkan untuk sekadar untuk tertarik pada seseorang pun tak pernah terlintas di pikiran Law.
Kehidupan menjadi dokter residen sudah cukup menyita waktunya. Seringkali dia bahkan harus menginap selama dua hari di rumah sakit. Sehingga membuatnya sering menghabiskan waktu liburnya dengan beristirahat.
Walau begitu, terkadang Law akan keluar saat pikirannya sudah mulai penuh. Seperti saat ini, dia berada di salah satu pantai yang cukup dekat dengan rumah sakit tempat dia bertugas. Berteduh di salah satu tenda, Law akhirnya menghela nafas. Terpaan angin laut dan suara debur ombak membuatnya memejamkan mata.
Hari ini hari yang cukup sulit bagi Law. Dia sudah berjaga di IGD dari kemarin pagi, dan tadi pagi rumah sakit mereka menerima korban kecelakaan beruntun. Membuatnya begitu sibuk.
Tapi walaupun rasa lelah telah menguasai tubuh Law, dia enggan untuk kembali ke rumah dengan pikiran yang penuh. Sehingga akhirnya memutuskan untuk pergi ke pantai sebentar.
Berada disana selama satu jam, dan selama satu jam itu pula Law mengamati satu laki-laki yang duduk di bibir pantai. Awalnya dia mengabaikannya, menganggapnya hanya anak muda biasa yang menghabiskan waktu di pantai. Tapi begitu dia melihatnya tidak bergerak sedikitpun saat air perlahan mulai pasang, membuat Law mau tak mau menghampirinya. Khawatir jika dia tiba-tiba terbawa arus.
Saat langkah kakinya mendekatinya, Law bisa melihat jika laki-laki berbadan mungil itu sedang melamun. Pantas saja dia tidak sadar dengan air yang membasahi sebagian kakinya.
Saat Law menepuk bahunya lelaki mungil itu terlonjak. Segera mengambil sikap defensif yang membuat Law mengernyit sejenak.
“Maaf, kayaknya kamu perlu minggir. Airnya udah mulai pasang.”
Lelaki mungil itu sedikit tergagap, sekilas Law bisa melihat rona merah di pipinya. Tapi Law hanya menganggap itu sebagai perasaan malu karena terciduk sedang melamun di dekat air.
“A-ah iya.”
Lelaki yang terlihat lebih muda dari Law itu segera mengambil sepatunya dan memakainya. Setelah itu dia bangkit, namun Law yang melihatnya masih linglung segera menahannya.
“Kamu keliatan banyak pikiran. Mending kita diem dulu sana, mau?” Law berkata sambil menunjuk tenda tempat dia duduk sebelumnya.
Lelaki yang masih linglung itu hanya mengangguk. Law secara tidak sadar menggenggam tangannya dan menariknya untuk pergi. Tapi dia kemudian berbalik begitu merasakan jika lelaki itu tidak bergerak.
Law melihat lelaki muda itu terlihat panik dan saat sadar kemana arah tatapannya Law segera melepas genggaman tangannya pada lelaki mungil itu.
“Maaf, saya gak bermaksud. Kamu keliatan linglung banget jadi saya takut kamu tiba-tiba jatuh.”
“Ah iya, gapapa mas?”
Law mengulas senyum. “Trafalgar Law.”
Lelaki itu ikut tersenyum. Yang menurut Law senyumnya begitu menyilaukan. Sama seperti matahari.
“Ooh, aku Luffy, Monkey D. Luffy. Trafo - trao - ah Torao!”
Law mengernyit mendengar nama yang disebutkan oleh Luffy.
“That's Trafalgar.”
“Traof, ah susah. Torao aja!”
Law berusaha untuk bersabar dan tetap tersenyum. “Kalau begitu panggil saya Law aja.”
Tapi saat melihat Luffy menggeleng senyum Law segera memudar, terlebih Luffy dengan seringai lebarnya tetap kukuh dengan nama panggilan yang ia berikan pada Law.
“Aku maunya manggil Torao.”
Protes yang ingin Law lontarkan ia tahan saat melihat senyum secerah mentari terulas di wajah Luffy. Menghela nafas kalah, dia segera berjalan mendahului Luffy menuju tempat dia duduk sebelumnya.
“Ayo, saya takut badan kecil kamu kebawa arus kalau makin lama disini.”
Dia tidak melihat ekspresi kesal Luffy, dan teriakan protes dari Luffy hanya dia tanggapi dengan kekehan kecil.
“AKU GAK KECIL LOH MAS.”
