Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-02-11
Words:
1,707
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
42
Bookmarks:
5
Hits:
596

On Rainy Days

Summary:

Rintik hujan yang semakin deras membuat Doyoung semakin tenggelam dalam pikirannya. Pikiran itu selalu berakhir pada satu nama.

Jeong Jaehyun.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Awan gelap yang menyelimuti sejak pagi itu sedikit demi sedikit mulai menurunkan rintik hujan. Rintik hujan yang semakin deras membuat Doyoung semakin tenggelam dalam pikirannya. Pikiran itu selalu berakhir pada satu nama.

Jeong Jaehyun.

Biasanya Doyoung sudah menghubungi Jaehyun, tapi kepalanya sudah disibukkan dengan pikiran tentang laki-laki itu.

Apa sekarang Jaehyun sedang menunggu telepon darinya? Apa Jaehyun mencarinya? Mungkin tidak. Karena sebenarnya Doyoung lah yang selalu mencari Jaehyun di cuaca seperti ini. Jaehyun pun seakan tahu hal itu namun tak pernah sekalipun ia menghubungi Doyoung lebih dulu.

Doyoung menghela nafas berat sebelum mengambil ponselnya dan dengan otomatis menekan nomor yang sudah ia hafal diluar kepalanya itu. Tak perlu menunggu lama saat suara sambungan telepon itu berganti dengan suara yang sangat familiar bagi Doyoung.

“Jaehyun.”

‘Hm?’

“Bisa kesini gak sekarang? Please?”

Entah sejak kapan kebiasaan ini muncul, tapi inilah hal yang selalu Doyoung lakukan terutama di cuaca seperti ini. Dan tanpa bertanya atau mengeluh, Jaehyun akan selalu datang untuknya.

Tak lama setelah sambungan telepon diputus, terdengar suara pintu terbuka. Doyoung bangun dari posisi tidurnya sambil menatap ke arah pintu dan menunggu Jaehyun yang tengah berjalan menghampirinya.

“Jendelanya kenapa dibuka? Emang gak dingin?” Tanya Jaehyun dengan suara lembutnya.

Meskipun hujan membuatnya gloomy, Doyoung sangat menyukai suaranya. Ia selalu membuka jendela kamarnya hanya untuk mendengar lebih jelas suara rintikan itu walaupun ia harus menutupi tubuhnya dengan selimut. Jaehyun menutup jendela itu sebelum duduk disamping Doyoung dan menatapnya. Tatapan hangat yang selalu membuat Doyoung salah paham. Tak ingin tenggelam dalam kesalahpahaman, Doyoung mengabaikan tatapan Jaehyun dan bersandar di bahu laki-laki itu.

“Kenapa dateng lagi?”

“Tadi katanya disuruh dateng.”

Aku minta begitu karena aku tahu kamu pasti bakal dateng. Batin Doyoung.

Ia memutuskan untuk tak mengeluarkan apa yang ia pikirkan karena ia yakin Jaehyun tahu itu. Tak banyak percakapan mengalir di antara keduanya. Doyoung hanya terdiam bersandar di bahu Jaehyun, begitu juga Jaehyun yang terdiam dan membiarkan Doyoung bersandar padanya.

“Kamu udah makan?”

Doyoung yang sedang terpejam menikmati suara rintik hujan itu mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Jaehyun yang kini menatapnya. Lagi-lagi tatapan itu. Doyoung dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah jendela sambil menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Jaehyun pun beranjak menuju dapur menyiapkan makanan untuk Doyoung.

Makan, menonton tv, atau terdiam menatap hujan, hal-hal seperti itu sebenarnya bukan sesuatu yang spesial. Namun semua terasa berbeda bagi Doyoung ketika Jaehyun ada bersamanya. Kehadiran Jaehyun membuatnya merasa menjadi lebih tenang dan nyaman.

Waktu terus berlalu. Matahari yang tertutup awan gelap kini sudah digantikan oleh bulan yang juga mengintip dari balik awan yang masih tak hentinya menurunkan air hujan.

“Pulang sana.”

“Nanti, abis kamu tidur.”

Doyoung selalu bisa tidur dengan nyenyak di pelukan Jaehyun. Dulu Doyoung pernah mengungkapkan itu pada Jaehyun, dan semenjak itu Jaehyun beberapa kali menemaninya tidur.

Awalnya ia merasa senang karena ia bisa tidur dengan lelap dan selalu merasa segar esok paginya, namun akhir-akhir ini, ia merasa tidak nyaman. Tak ada perasaan segar lagi setiap ia bangun pagi. Yang ada hanya rasa kesepian dan hampa. Itu juga yang membuatnya menyuruh Jaehyun untuk cepat pulang hari ini.

Tapi seakan tak memperdulikan perkataan Doyoung, Jaehyun menarik lelaki itu dalam pelukannya. Doyoung berusaha keras melepaskan pelukan itu namun sia-sia. Doyoung pun menyerah dan mulai memejamkan matanya. Tak butuh lama baginya untuk terlelap dalam pelukan hangat itu.

***

Sudah lama sekali rasanya bagi Doyoung tertidur lelap seperti ini. Kehangatan yang ia rasakan sebelum tidur masih terasa jelas. Kehampaan yang biasanya datang di pagi hari kini tak terasa. Doyoung segera menemukan alasannya begitu ia membuka matanya.

Jaehyun.

Laki-laki itu masih memeluknya erat. Doyoung selalu merasakan kehangatan pelukan ini sebelum tidur, namun ini pertama kalinya ia merasakannya bahkan ketika ia sudah bangun.

Doyoung mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding, mengira sekarang bukan waktunya untuk bangun, namun ternyata jarum jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi.

Gerakan kecil Doyoung tadi membangunkan Jaehyun. Jaehyun menatap hangat Doyoung, tatapan yang biasa ia lihat namun begitu asing untuk dilihat sepagi ini.

“Kok masih disini?”

“Hujannya gak berhenti semaleman..”

Rintik hujan memang masih terdengar dari balik jendela. Doyoung beranjak melepaskan dirinya dari pelukan itu. Jaehyun memang membuatnya nyaman, tapi juga selalu membuat jantungnya berdegup kencang. Itu yang membuatnya terus mencari laki-laki itu dan sulit menjauh darinya. Berbeda dengan Doyoung, Jaehyun selalu terlihat biasa saja menghadapinya. Like a friend. Just a friend. Entah karena pikiran itu atau hujan yang tak kunjung berhenti, wajah Doyoung kembali murung.

“Pulang gih sana.”

“It's still raining though? Kamu yakin nyuruh aku pulang ujan ujan begini?”

“...”

Menurut Doyoung, Jaehyun kadang membuat segalanya terasa sulit. Padahal kenyataannya, Doyoung, dirinya sendiri lah yang membuat situasi menjadi seperti ini. Kalau saja ia tak memanggilnya pasti tidak akan begini jadinya.

Jaehyun tiba-tiba bangkit dari tempat tidur lalu berjalan melewati Doyoung menuju kamar mandi. Tak lama kemudian, ia terlihat bersiap-siap untuk pulang.

Padahal masih hujan. Harusnya gak usah ngomong seakan-akan gak akan pulang tadi. Batin Doyoung.

Berbeda dengan ucapannya tadi, melihat Jaehyun yang sedang bersiap-siap itu membuatnya murung.

“Aku pulang.” ucap Jaehyun singkat.

Doyoung hanya menatap Jaehyun yang melangkahkan kakinya menuju pintu dan mengenakan sepatunya. Doyoung selalu merasa kesepian saat ia terbangun, namun situasi sekarang ini ternyata lebih berat baginya.

“Sekarang aku gak akan minta kamu dateng lagi.”

Doyoung tidak mengerti kenapa ia seperti ini. Mulut dan hatinya seakan bekerja berlawanan.

“...Then I won't come.”

Jaehyun dengan tegas menjawab, kemudian ia tersenyum sebelum meninggalkan rumah. Doyoung mencerna jawaban dan ekspresi wajah Jaehyun cukup lama. Senyuman yang Jaehyun berikan sebelum meninggalkan rumah itu terlihat begitu sendu, berbeda dengan senyum yang biasa Doyoung kenal.

***

Hari itu matahari bersinar cukup terang di siang hari dan membuat Doyoung berpikir kalau hujan tidak akan turun untuk beberapa hari. Namun ternyata perkiraannya salah. Selang dua hari hujan kembali turun dengan derasnya. Doyoung yang semula berharap Jaehyun akan menghubunginya akhirnya menekan nomor yang sangat familiar itu.

‘Katanya gak akan nelepon.’

“...”

‘Wanna walk out?’

Doyoung lebih memilih berdiam di rumah ketika hujan turun. Karena itulah Jaehyun yang selalu menghampirinya, tapi kali ini untuk pertama kalinya laki-laki itu mengajaknya keluar. Di tengah keraguan, Jaehyun mengusulkan tempat mereka bertemu. Taman yang tak jauh dari rumah Doyoung.

Kalau saja itu orang lain, Doyoung mungkin sudah menolak ajakan itu sejak awal, tapi sekarang ia mengiyakan ajakan itu dan bersiap untuk keluar rumah.

I'll be waiting.

Kata yang diucapkan Jaehyun sebelum menutup sambungan itu membuat Doyoung terburu-buru. Tak lupa Doyoung membawa payung yang sangat jarang ia gunakan itu sebelum beranjak meninggalkan rumah.

Sudah lama sekali Doyoung tidak menyusuri jalan sambil mengenakan payung seperti ini. Keraguan yang ia rasakan sebelum keluar rumah tadi hilang begitu saja, tergantikan oleh pikiran untuk cepat sampai di taman dimana Jaehyun tengah menunggunya.

Doyoung menghentikan langkahnya di depan taman. Ia berusaha mengingat dimana tepatnya Jaehyun menunggunya. Namun merasa terlalu menghabiskan banyak waktu untuk mengingat, Doyoung akhirnya memutuskan menelusuri seluruh taman untuk mencari Jaehyun.

Baru saja ia berjalan beberapa langkah ketika seseorang menarik tangannya.

“Kenapa buru-buru banget sih?”

Doyoung menoleh ke belakang dan mendapati Jaehyun tersenyum padanya. Tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Doyoung, keduanya mulai berjalan perlahan. Tangan mereka mulai dibasahi tetesan hujan dari payung keduanya, namun tak ada salah satupun dari mereka yang berniat melepaskan tautan tangan itu.

“Kirain gak akan keluar.”

“Tadi katanya disuruh keluar..”

Keduanya kini hanya terdiam seraya berjalan menyusuri taman yang tidak begitu besar itu. Genggaman tangan mereka terlepas setelah cukup lama dibasahi tetesan hujan. Rasa hangat di tangannya yang tiba-tiba hilang itu terasa aneh dan membuat Doyoung mengepal tangannya, namun gagal ketika Jaehyun kembali menautkan jarinya diantara jari-jari Doyoung.

“Let's go home.”

Jaehyun dan Doyoung berbalik lalu melangkahkan kakinya keluar dari taman. Seperti biasanya, mereka menghabiskan waktu bersama di rumah Doyoung, lalu tidur bersama. Sebelum tidur Doyoung mengatakan bahwa ini terakhir kalinya ia menelepon Jaehyun. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Jaehyun saat itu, ia hanya memeluk lelaki di hadapannya itu erat-erat, membiarkannya terlelap dalam pelukannya.

Keesokan harinya Doyoung terbangun sendiri oleh cahaya matahari yang bersinar terang dari luar jendela kamarnya.

***

Lima hari berlalu setelah terakhir kali Jaehyun mengunjungi Doyoung. Rintik hujan kembali turun setelah lima hari. Doyoung mengambil ponselnya, namun kali ini bukan untuk menekan nomor seperti biasanya, melainkan untuk mematikan ponsel.

Untuk pertama kalinya Doyoung mengabaikan kebiasaannya.

Hari selanjutnya pun awan gelap masih menyelimuti langit bahkan sampai malam tiba. Doyoung berusaha mengabaikannya dengan menyibukkan dirinya di depan laptop. Tak lama terdengar suara rintik hujan dari luar jendela kamarnya, membuat konsentrasinya buyar begitu saja.

Suara dering ponsel Doyoung terdengar tepat saat ia menutup laptopnya. Di layar ponsel itu muncul nama familiar namun terlihat asing di situasi sekarang ini. Jaehyun. Pertama kalinya laki-laki itu menghubunginya lebih dulu. Bahkan di tengah malam seperti ini. Masih dipenuhi tanda tanya, Doyoung mengangkat telepon itu.

‘Doyoung.’

“Ada ap–”

‘I miss you..’

Jantung Doyoung berdegup kencang. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Namun ia juga tidak berani untuk meminta Jaehyun mengulang kata-katanya, Doyoung takut kalau ia ternyata memang salah dengar.

“Kamu dimana..?”

‘Sebentar.’

Dan sambungan telepon pun terputus. Telepon yang diawali dengan banyak pertanyaan itu berakhir dengan tanda tanya yang semakin bertambah. Doyoung benar-benar bingung dan masih tak percaya. Pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepalanya itu membuatnya merenung sambil menatap rintik hujan yang turun semakin deras.

Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Doyoung bergegas menuju pintu dan mendapati Jaehyun yang sedang terengah-engah dan mengatur nafasnya. Baru saja Doyoung hendak menanyakan pertanyaan yang sejak tadi memenuhi kepalanya, namun kalah cepat oleh Jaehyun yang tiba-tiba memeluknya dan mendorongnya pelan ke dinding. Jaehyun menatap Doyoung dalam-dalam. Wajahnya semakin mendekat sebelum mengecup singkat bibir Doyoung.

“Why didn't you call me?”

“I said that was the last–”

Jaehyun kembali mencium bibir Doyoung sebelum ia menyelesaikan kata-katanya. Berbeda dengan kecupan singkat di awal tadi, kali ini Jaehyun menautkan bibirnya dan mencium Doyoung lebih dalam. Jaehyun memeluk pinggang kecil Doyoung yang disambut juga oleh Doyoung yang kini melingkarkan tangannya di leher Jaehyun. Tanpa melepaskan tautan keduanya, mereka melangkahkan kaki menuju tempat tidur. Jaehyun merebahkan Doyoung di tempat tidur dan menempatkan dirinya diatas Doyoung. Jaehyun melepaskan tautan bibirnya dan menatap Doyoung yang tengah mengatur nafasnya.

“Just like your habit where you always call me every rainy day, I also have one.”

“...”

“I can't sleep without you now.”

Jaehyun yang selalu menemani Doyoung tidur. Jaehyun yang membuat Doyoung tidak bisa tidur tanpanya kini datang dan mengatakan kalau ia tak bisa tidur tanpa Doyoung.

Doyoung pun menarik Jaehyun mendekat. Lebih dekat, lebih dalam dari malam-malam sebelumnya. Bersama suara rintik hujan.

Notes:

Segala trope dicobain, tetep aja ujung ujungnya friends to lovers lagi😅 enjoy anyway!