Work Text:
Draco duduk di kursi meja makan sambil melipat kakinya. Membiarkan jendela yang terbuka lebar membawa angin masuk, menerbangkan daun-daun kecil, kadang-kadang mengacaukan halaman buku yang sedang dibacanya. Suasana rumah itu sepi, tapi hangat. Sesekali Draco memandang hamparan rumput liar yang tinggi-tinggi di luar, memikirkan tentang apa yang sudah terjadi, atau mungkin akan terjadi. Malfoy muda mungkin tidak akan pernah menduga, Draco akan meninggalkan Malfoy Manor dan menghabiskan hampir seluruh usianya di sebuah rumah kecil di luar St, Catchpole Ottery, jauh dari kemewahan dan kebanggaan yang selama ini berusaha diraihnya. Tentu saja, tentu saja dia tidak pernah menduga. Tidak pernah ada di bayangannya bahwa Harry Potter, orang yang selama ini—Draco tahu—membencinya, bahkan pernah hampir membunuhnya dengan Sectumsempra, beberapa bulan setelah peperangan dunia sihir terjadi, dia datang ke Malfoy Manor dan mengatakan bahwa dia ingin menikahi Draco.
Meskipun tidak mengerti kenapa, Draco tidak menolak kehadiran Harry. Setelah perang, keluarga Malfoy bebas dari ancaman hukuman penjara dengan mengaku bahwa mereka berada di bawah Imperius Curse, tapi the Ministry of Magic menjatuhi hukuman untuk tidak boleh menggunakan sihir bagi mantan anggota Death Eater untuk suatu periode tertentu. Waktu itu, Harry berinisiatif mengajak Draco ke Dunia Muggle, mereka menghabiskan waktu beberapa bulan di Little Whinging.
Draco tidak tahu sejak kapan Harry Potter terlihat keren sekali di kepalanya. Oh, atau, dia selalu kelihatan keren, selalu kelihatan bersinar, tapi kali ini berbeda. Tidak tahu sejak kapan Harry bisa menjalankan kendaraan Muggle, dia kelihatan sangat keren saat menyetir. Draco hampir lupa tentang kenyataan bahwa dia sedang dihukum untuk tidak menyentuh tongkat sihirnya. Harry mengajaknya melalui banyak perjalanan panjang. Kendaraan muggle itu tidak terlalu efisien, tidak bisa membawanya pergi secepat kilat seperti Bubuk Floo, mereka bisa berhari-hari ada di jalanan, tapi Draco menikmatinya. Menikmati ketika angin kencang menerpa wajahnya melalui jendela, menikmati ketika mereka istirahat di sebuah pos bensin kumuh di pinggiran kota. Lalu Harry akan menciumnya. Di bawah bulan-bintang yang berkilauan, Draco merasakan jantungnya berdegup kencang seperti gadis muda yang baru jatuh cinta.
Draco ingat pada suatu malam pada akhirnya dia bertanya, kenapa Harry bersikap sangat baik padanya seperti mereka tidak pernah bermusuhan saja selama di Hogwarts. Harry terdiam cukup lama saat itu, menatap jauh keluar jendela seperti bingung harus cerita dari mana. Setelah sebuah hembusan napas yang pelan, dia bilang bahwa sejak dulu dia selalu berpikir bahwa Malfoy adalah yang paling cantik, bahkan sejak di tahun pertama. Satu hal yang menutup rasa sukanya itu adalah kenyataan bahwa Draco sering mengganggu teman-temannya, terutama Hermione yang seorang muggleborn. Di tahun ke-empat mereka, Harry sempat beberapa kali berpikir untuk mengajak Draco menjadi teman kencannya untuk Yule Ball. Tapi pikiran itu selalu ditepis karena Ron pasti akan bilang bahwa Harry sudah gila.
Rasa sukanya itu sempat luntur beberapa kali. Harry tidak tahu bagaimana pasti menggambarkan perasaannya tentang Malfoy. Kadang-kadang dia sangat suka, kadang-kadang sangat benci. Selain karena sikap sombong Malfoy, Harry betul-betul benci ketika tahu bahwa Draco menyelinap untuk membunuh Dumbledore. Meskipun hubungan mereka membaik setelah perang, Harry masih berpikir bahwa dia tidak bisa menyukai Draco seperti dulu lagi sampai akhirnya Draco tidak muncul lagi di sekolah di tahun terakhirnya. Selain karena perasaannya yang gelisah ketika tidak lagi mendengar kabar Malfoy setelah perang, obrolan tidak sengaja Harry dengan Moaning Myrtle juga mendorongnya untuk pergi ke Malfoy Manor untuk mencari Draco. Harry tertawa. Itu benar, tadinya Harry hanya datang untuk mencari tahu kabar Draco. Waktu pertama kali melihat Draco setelah sekian lama tidak bertemu, Harry sadar bahwa dia masih sangat, sangat menyukai Draco. Di hadapan Narcissa Malfoy, Harry tidak sengaja bilang akan menikahi Draco.
Setelah cerita panjang lebar, Harry beralih pada Draco. Itu mengejutkan bahwa Draco tidak menganggapnya gila ketika datang tiba-tiba ke rumah keluarga Malfoy untuk melamar anak laki-laki pewaris keluarga satu-satunya. Harry pikir Draco membencinya, Harry pikir Draco akan langsung mengusirnya. Waktu Harry mengajaknya liburan ke dunia Muggle, Harry pikir Draco tidak akan pernah mau ikut dengannya. Draco sendiri tidak bisa menjawab dengan tegas. Tentu saja dia terkejut. Harry si pahlawan dunia sihir ini punya banyak pilihan dalam hidupnya. Draco tidak percaya bagaimana Harry menciumnya, mengatakan bahwa Draco sangat cantik ketika orang-orang yang pernah mengelilingi Harry adalah Ginny Weasley yang populer, atau Cho Chang yang supercantik itu, atau mungkin Hermione yang manis dan setia.
Draco selalu mendorongnya, membuang muka seolah-olah tidak suka, lalu mengatakan bahwa Harry sudah gila. Wajahnya yang putih pucat itu mudah sekali memerah. Draco menggigit bibirnya lumayan keras, tidak sadar bahwa Harry memperhatikannya seperti seekor singa yang lapar. Dia tidak pernah tahu Draco terlihat sangat menggemaskan ketika tersipu malu.
Semakin hari, Harry semakin menyukainya. Selama liburan mereka, Harry berhasil membujuk Draco untuk bercinta dengannya beberapa kali. Mereka pertama kali melakukannya di dalam mobil, di sebuah parkiran kosong di tepi pantai. Draco tidak pernah merasakan jantungnya berdegup sekencang itu sebelumnya. Keluarga Malfoy adalah keluarga yang terhormat, mereka menjunjung tinggi keperjakaan sebelum menikah. Draco tidak percaya dia memberikannya pada Harry begitu saja.
Harry kelihatan luar biasa keren malam itu, Draco tidak bisa melawannya. Sakit, perih, nikmat, takut: semua perasaan itu berputar-putar di kepala Draco, dia tidak bisa melakukan apapun kecuali menahan diri supaya tidak menangis. Lalu Harry akan mencium puncak kepalanya, mendekap tubuhnya. Saat itu, Draco merasakan perutnya dipenuhi dengan ribuan kupu-kupu yang berterbangan.
Tidak lama setelah pulang dari liburan itu, Draco menerima lamaran Harry. Tentu saja, Narcissa dan Licius tidak terlalu setuju dengan keputusan Draco, terutama setelah Draco mengatakan bahwa dia ingin melepaskan nama Malfoy dan keluar dari Malfoy Manor. Pandangan Draco tentang muggle yang banyak berubah membuat Narcissa yakin bahwa Harry adalah pengaruh yang buruk, tapi di dalam hatinya yang terdalam dia mengakui bahwa Draco tidak pernah terlihat sebahagia itu sebelumnya. Bagaimanapun, Harry adalah penyelamat nyawa Draco dan Narcissa akan melakukan apapun untuknya. Meskipun Lucius tidak senang, mereka benar-benar menikah dan secara resmi Draco akhirnya telah menjadi seorang Potter.
Suara langkah kaki kecil menuruni tangga telah membangunkan Draco dari lamunannya yang panjang. Buku ramuan sihir di pangkuannya hanya sempat terbaca sedikit. Kaki-kaki kecil melompat-lompat riang, duduk di pangkuan Draco seperti itu adalah tempat paling nyaman di dunia. Draco tersenyum, mengelus kepala Albus lembut meskipun kedatangan tiba-tiba anak itu membuat buku ramuannya jatuh ke lantai.
Albus tertawa kecil, dia kelihatan sangat—sangat mirip dengan Harry. Meskipun Draco yang berjuang mengandungnya selama sembilan bulan, anak ini malah lahir sebagai versi kecil dari Harry. Draco jadi sedikit kesal kalau mengingatnya. Granger—yang sekarang sudah menjadi Weasley—pernah bilang bahwa Albus sangat mirip dengan Harry karena Draco memikirkan Harry setiap saat waktu sedang mengandungnya, Draco menolak mentah-mentah dibilang seperti itu. Meskipun begitu, wajahnya memerah malu memikirkannya.
“Papa, mau ke kota lagi!” celoteh bocah itu. Albus baru saja lancar bicara dan itu membuat Draco kadang-kadang sampai lelah membalas ocehannya.
“Kemarin ‘kan sudah,” Draco membetulkan cara duduk anak itu.
“Di sini bosan,” Albus cemberut. “Bibi penjual roti bilang, aku harus minta adik sama Ayah supaya tidak bosan.” Draco merasa malu sendiri mendengarnya.
“Sudah bilang sama Ayah?”
Albus mengangguk semangat. “Katanya sebentar lagi lahir.”
“Itu Ayah bohong,” Draco tidak sabar untuk memukul kepala Harry kalau sudah pulang ke rumah nanti.
“Ayah bohong?!” Albus membuat wajah terkejut yang menggemaskan. “Aku saja tidak pernah bohong!”
“Albus anak pintar, tidak pernah berbohong,” puji Draco sambil mencubit pipi anaknya.
“Memangnya siapa yang suka berbohong?” Harry tiba-tiba muncul melalui pintu dapur, tersenyum lebar ketika Albus melompat-lompat ke arahnya. Draco mendengus kesal. Harry tidak memedulikannya, dia berjalan mendekat untuk mencium kening Draco penuh sayang.
“Ayah! Ayaah!!” Albus menggoyang-goyangkan kakinya heboh di gendongan Harry. “Kata Papa, aku tidak akan dapat adik.”
“Ehh?” Harry membuat nada kecewa. “Papa jahat ya, tidak mau mengabulkan permintaan anaknya.”
Albus mengangguk setuju. “Iya! Papa pelit!”
“Ha?!” Draco mencubit perut Harry kesal. “E-enak saja! M-mana boleh bilang begitu pada Albus!” bisiknya di telinga Harry.
Harry tertawa mendengarnya. “Ayolah, sayang,” katanya. “Albus sudah cukup besar untuk jadi seorang kakak.” Albus berteriak setuju, lalu Harry mengangkat gendongannya tinggi-tinggi.
Draco menghembuskan napas berat. Dia terdiam, memerhatikan Harry dan anak mereka yang tertawa-tawa riang di gendongannya. Mereka itu kompak sekali, kadang-kadang Draco merasa berbeda sendiri di rumah itu. “Baiklah,” Draco berujar kecil. “T-tapi … tapi kali ini biarkan aku yang memilih nama untuk anak kita,” katanya.
“Setuju,” balas Harry cepat. “Kau tidak boleh menarik kata-katamu ya, sayang.” Harry tertawa nakal, Draco jadi kesal dan malu sendiri melihat ekspresi wajahnya.
Melihat wajah cemberut Draco, Harry tertawa kecil. Dia berjalan mendekat, memeluk pinggang Draco supaya mendekat. Draco terdiam di pelukannya. Sepanjang hari ini, dia memikirkan banyak hal: tentang apa yang sudah terjadi dan tentang apa yang mungkin terjadi. Pelukan Harry terasa sangat erat dan Draco diam-diam tersenyum karenanya. Jika dipikirkan, Draco masih tidak menyangka. Dia menghabiskan hampir seluruh masa remajanya untuk membenci dan bermusuhan dengan Harry. Sekarang, mereka sudah menikah dan punya seorang anak, mungkin akan bertambah satu. Draco tidak mengerti, takdir kadang-kadang terasa lucu. Dia tidak tahu harus berekspektasi seperti apa. Yang jelas, dia berharap kebahagiaan itu akan tetap ada dan keluarga mereka akan tetap bersama-sama sampai maut memisahkan.
