Work Text:
"Cup, gue capek."
3 kata itu menggoyahkan semua rencana dalam otak untuk sudah dibuat sedemikian matang demi semua orang terlebih untuk orang ini. Sesaat, otaknya tak mampu lagi untuk berpikir, jawaban apa yang pantas untuk menjawab pria didepannya ini. Bagaimana tidak? Dia ini merupakan, sosok yang berbicara melalui gerak otot sehingga menghasilkan paragraf lukisan yang bernilai tinggi. Orang yang menyampaikan pesan-nya melalui kuas yang menorehkan goresan.
Semua memang melelahkan, tapi kalau ujungnya orang yang dia usahakan sedemikian rupa juga sudah enggan untuk berjalan lebih jauh, apakah etis baginya untuk memaksakan kehendak demi embel-embel setia kawan kepada pihak yang lain. For damn sake, no one gives a shit anymore to a friendship if your head is filled with love. Especially the unrequited one.
“Sarah?” Suaranya kecil. Sangat temaram, meredakan segala risau yang menerang.
“Percaya ga percaya, gue putus beberapa minggu yang lalu. Gue udah ga sanggup lagi sama Sarah, Cup. Dia sekarang money oriented banget . Semalem sebelum putus, dia masih bisa tanya apakah gue udah dapet job lagi padahal gue lagi ambruk banget masalah papah yang ga selesai-selesai. Gue kira, 10 juta dollar cair, hubungan gue sama Sarah bakal semakin manis. Nyatanya, dia malah lebih pilih buat mikirin cara buat dapet 10 juta dollar yang lain.”
Satu bulir air mata turun dari persik tubuh. Ia sudah tak kuat lagi untuk merasakan emosi yang terus mencekam dadanya. “Awalnya, gue mau malsuin lukisan cuma demi satu tujuan. Bebasin papah, udah gitu doang. Ga ada rasa ingin kaya pakai duid beginian, Cup. Pengemis juga tau kalau duitnya haram, ga enak buat makan pecel lele Bu Endang.”
Gelak tawa pecah walau bukan berarti bisa menghibur yang bicara. Keduanya berbalas tatap sambil yang satu menguatkan yang lemah.
"Gue tau gue brengsek kalau misal mundur begitu aja, apalagi kalau besok udah eksekusi. Tapi, boleh ga, setelah itu gue keluar dari sini? Dari komplotan."
"Gue ini pengen jadi seniman. Yeah, I'm making art , but it's just a copycat. Dalam otak gue ini Cup, selalu aja bertengkar antara satu opini sama opini yang lain. Cuma karena 'Lo seharusnya ga boleh kayak gini, dosa' dan 'Lakuin aja. Kapan lagi lo bisa gambar, dan gambar lo bisa dijual dengan harga yang bahkan lebih dari aslinya?' "
—dan gue takut kalau suatu saat nanti, lo akan ninggalin gue karena gue ini cuma seniman palsu yang bahkan nama aja ga ada. Alias gue ini ga ada harganya kalau dibandingin lo. Gue takut, kalau suatu saat nanti, lo anggep gue ini nggak worth it lagi buat ditemenin. Jadi buat mengantisipasi sakitnya, gue milih buat kabur duluan. Sorry banget kalau kesannya gue yang jadi pengecut dalam cerita ini, tapi gue udah gak kuat lagi, Cup. Maaf. Cukup papah aja yang ninggalin luka di jantung gue, jangan elo juga.
Ucup menatap pria yang mukanya penuh dengan cat yang bahkan ia tidak tau jenisnya. Hatinya runtuh ketika mata pelukis ini, bahkan sudah tidak seterang warna pada palet. Ia rapuh.
Demi apapun, buta dinamakan buta. Ucup sudah buta kalau ini berkaitan dengan Piko. Buat apa, dunianya terasa bahagia kalau Piko- nya hancur berantakan oleh hal kecil yang memang jawabannya terlihat jelas di depan mata. Untuk apa, Ucup hidup, kalau Piko tersiksa. Oleh karena itu dengan keyakinan penuh, ia akan mewujudkan keinginan temannya ini.
"Oke. Abis ini, kita selesai."
Piko dibuat kaget oleh pernyataan singkat dari Ucup. Mulutnya hendak membantah ketika partnernya ini mulai berbicara terlebih dahulu.
"Lo nanti cari rumah buat kita berdua. Desain semau yang lu pengen. Gimana bentuk studionya, tema bangunannya kayak gimana, berapa kamar yang lo mau, terserah. Pokoknya nanti, setelah misi, lo kasih tau gue, dan setelah itu, kita pamit atau kabur, terserah maunya lo gimana. Masalah uang, ga usah dipikirin. Gue bayar semua. Yang penting lo seneng dan bahagia."
Untuk beberapa menit, tempat itu menyepi. Hanya ada suara alami yang muncul dan memberikan kebisingan yang tenang.
"Tapi, lo ga harus ikut mun–"
"Gue keluar atas kemauan gue sendiri." Ucup memotong perkataan Piko. Suaranya lantang, seolah apa yang baru saja ia katakan adalah kebenaran.
"Sekarang, lo mendingan tidur. Besok is the final act dan gue ga mau ambil resiko lo pingsan." Si terampil perangkat lunak mengeluarkan senyum. " Goodnight , Piko."
"Lo juga. Gue juga ga mau ngangkut lu, apalagi kalau lu pingsan tiba-tiba." Gelak tawa terundang dan seketika ketegangan mulai runtuh.
" Goodnight juga, Ucup."
— dan makasih udah mau selalu ada buat gue dari dulu sampai sekarang, dan gue harap sampai nanti.
