Work Text:
Ramai situasinya. Hinata menatap siapa saja yang berlalu lalang. Aroma ini masih ia ingat dengan jelas. Kota di mana ia lahir dan tumbuh, bertemu dengan banyak sepasang mata yang menatapnya utuh. Kala itu, lebih tepatnya tiga tahun lalu, Hinata berhasil melepas semuanya. Melepas apa-apa yang menurutnya belum pantas untuk dipunya, tapi mimpi dan semua cita-cita tetap ia bawa.
Begitu pula dengan gadis berambut kuning. Berlari melewati manusia lain. Diedarkan pandangannya, langkah itu terus bergerak semakin cepat. Hitoka merindukan mataharinya. Napasnya tersengal. Parkiran yang begitu luas, akhirnya Yachi bisa sampai. Di sana, jarak beberapa meter di hadapannya, ada Hinata. Kata selamat datang, adalah yang pertama. Di sisi lain, di antara banyaknya jiwa, Hinata tahu siapa yang paling bersinar, terang, seakan jauh tak tergapai. Namun, Ketika kedua lengannya terbentang, sendu itu runtuh. Lari datang menghampiri, semakin dekat lalu pecah. Rasa khawatir itu hancur bahkan habis tak bersisa. Di dalam dekapan Hinata yang merengkuh hangat, Hitoka tahu bahwa keduanya telah pulang. Rumah kadang bukan hanya tentang bangunan, bukan?
“Makasih.”
“Untuk?”
“Karena udah ada di sini.”
Pemuda itu tertawa. Diciumnya puncak kepala si semesta. “Memang sejak kapan aku pergi? Bukannya aku selalu ada di sini? Jauh di dalam lubuk hati?”
Pada akhirnya, sampai kapanpun, Hitoka akan selalu kalah. Untuk Hinata, ia rela mengaku kalah.
