Work Text:
“Jadi begini cara Pak Eunseok bilang makasih ke saya?”
Eunseok terkekeh. “Ini cuma salad, Sungchan.”
“Ini sayuran—”
“Saya cuma kasih balasan yang sepantasnya aja,” Eunseok tancapkan garpu dalam genggamannya pada potongan brokoli di piring. Air wajahnya senang sampai detik di mana brokolinya sudah satu senti mengapung tepat di depan bibir Sungchan. “Memang balasan apa lagi yang lebih pantas buat orang yang udah merawat saya sampai sehat selain, ya, makanan sehat?”
“Makanan sehat kan enggak cuma sayur,” protes Sungchan, tapi toh dia tetap buka mulutnya dan lahap irisan brokoli tadi layaknya bocah penurut. “Enggak enak rasanya begini. Pahit.”
“Mau pakai mayonaise?” balas Eunseok antusias. Piringan kecil di sampingnya diraih, tapi Sungchan keburu tahan tangannya sambil geleng-geleng kepala.
“Nanti merusak cita rasa mayonaise gimana?”
“Enggak akan,” Eunseok menyahut lagi, menceramahi. “Mayonaise bisa sedih kalau enggak dikonsumsi.”
Sungchan melongo tak percaya. “Lebih sedih juga saya dipaksa makan sayur.”
Yang sebenarnya terjadi adalah usaha Eunseok yang mati-matian menahan gelak tawa. Pertama, karena ketidakmampuan mulut Sungchan untuk berhenti mengomentari tiap jenis sayur yang ditelannya. Kedua, karena sifat penurut Sungchan yang sama sekali enggak sinkron dengan perkataannya. Ketiga, sisa-sisa makanan yang tertinggal di bibir Sungchan buat pemuda itu seperti anak bandel usia lima.
Eunseok menunggu sampai Sungchan benar-benar selesai dengan kegiatannya menelan sayuran dengan terpaksa. Yang lebih tua itu mengirim sinyal kalau mulut Sungchan sedikit belepotan dengan gestur tangan. Sementara yang diberi sinyal menyahut kebingungan.
“Udah saya telen, Pak.” kata Sungchan, yakin.
Eunseok hanya bisa tertawa. Kali ini hasratnya enggak bisa ditahan lagi, sebab pemandangan bola mata Sungchan yang membesar dan kedua alisnya yang mengerut terlihat lucu. Pada situasi dan masa ini, Sungchan bisa lakukan apa saja yang orang lain anggap lumrah dan sederhana; dan selama mereka berdua masih hidup berdampingan seperti sekarang, Eunseok akan mendapati hal-hal yang dilakukan mahasiswanya itu bagai senda-gurau yang enggak kenal zaman lucunya.
Juga bagaimana Sungchan enggak punya banyak pertanyaan seperti pria-pria yang pernah ia temui sebelumnya. Perihal satu atau dua hal yang dia suka dari mereka, atau alasan-alasan kenapa mereka bisa buat dia bahagia. Narsistik sekali, pikirnya. Sedangkan di sini, Sungchan cukup tertawa saja dan Eunseok bisa tahu kalau pemuda itu bahagia karena melihatnya bahagia.
Satu lembar tisu akhirnya diraih Eunseok, dan untuk pertama kali dalam sejarah pertemuan mereka, Sungchan diam membisu. Bibirnya cuma diusap pakai tisu, dan otaknya total membeku. Tapi tunggu, Sungchan enggak akan anggap tindakan tadi cuma-cuma, sebab di balik lembaran tipis itu, ada jemari milik Eunseok yang halus di genggamannya.
Deskripsi tadi enggak akan muncul kalau Sungchan enggak terus pegang tangan dosen pembimbingnya di sela-sela tindakan angelic-nya. Salahkan suasana—musik jazz sedari tadi mengalun disertai iringan piano—atau Sungchan yang modus aja. Doanya semoga enggak ada yang dirugikan di sini.
“Pak Eunseok,” suara itu terlantun begitu halus sampai-sampai Eunseok mengira namanya telah jadi bagian dari lirik lagu yang mengalun di kupingnya. “Saya izin pegang tangannya sebentar, boleh?”
Syukurlah enggak ada yang rugi di sini. Eunseok anggukan kepala dan dalam hatinya ia memekik riang gembira. Rasanya seperti jatuh cinta ketika remaja. Perbedaannya cuma mereka berdua sama-sama sudah dewasa.
Jatuh cinta. Konsep milik dunia yang keduanya masih sulit bisa percaya. Alasannya sesederhana kontras jabatan dan status mereka. Enggak bisa dibilang sederhana, sih. Namun anggapan dari sana-sini masih bisa sekali buat keduanya maju mundur. Tinggal nanti, siapa yang duluan—atau mungkin bersama-sama, sepakat buat enggak jadi pecundang.
“Pak Eunseok,” panggilnya lagi, membuka kesadaran, “habis ini saya anterin pulang, ya.”
Sampai kediaman Eunseok pun, Sungchan tetap genggam tangan Eunseok seolah benda itu adalah ujung tali yang terikat di balon—yang bisa terbang sewaktu-waktu kalau dia lepas. Mereka saling mengangguk, seperti bicara “sudah, terima kasih. kamu boleh pulang,” beberapa kali sampai Eunseok masuk ke gedung apartemennya dan pastikan Sungchan benar-benar pulang.
Yang paling tidak masuk akal malam itu adalah merah di kedua pipi Eunseok yang tak kunjung hilang.
Keesokan harinya, dan esoknya, lalu esoknya lagi, mereka enggak bertemu. Selain karena Eunseok yang sibuk dengan urusan mengajarnya, Sungchan juga rajin begadang selesaikan skripsinya. Bahkan kalau si virgo itu menginap di tempat Shotaro lagi—yang hobi menagih pizza sebagai bayarannya—pemuda itu kerap dicecar pertanyaan seperti, “Tumben enggak sama Pak Eunseok lagi. Putus?”
Padahal hubungan mereka enggak seperti itu. Atau mungkin belum. Sungchan juga enggak berani menafsir yang tidak-tidak, sebab sekedar kirim pesan saja dia kadang masih sungkan. Walaupun sendirinya enggak bisa bohong kalau terasa hampa.
“Cih, lebay amat,” Shotaro berceletuk di sampingnya.
Sungchan masih nungguin dia lanjut bicara. “Ngatain gue?”
“Ya iya,” balasnya, datar. “Kenapa enggak langsung tembak aja. Bukannya sama-sama suka?”
“Pala lo habis kejedot meja?”
Kalau Shotaro tega, dia pasti sudah kepalkan tangannya dan urut kepala Sungchan sampai sohibnya itu memohon diberi ampun. Tapi dia mengerti, kok, kekhawatiran yang dirasakan Sungchan itu. Lebih-lebih lagi dengan kondisinya yang sedang stres skripsi.
“Ngasih tau aja sih,” Shotaro beri jeda sejenak, susun kalimat di otaknya supaya enggak jadi perkara. “Soal sopan atau enggak, itu terserah kalian berdua yang menilai. Tapi perasaan manusia, kan, gampang berubah-ubah, ya. Jadi, enggak ada salahnya jujur dari sekarang.”
Konon katanya, ceramah Shotaro lebih tajam dari paku kotak pemilihan suara. Malam itu, sampai pagi harinya, Sungchan enggak bisa tidur karena mungkin—dia takut—perasaannya berubah esok hari, jadi ia putuskan untuk tetapkan malam ini.
Di kampus, Sungchan temui Eunseok setelah jam mengajar selesai. Ia sengaja tunggu sampai segelintir mahasiswa hilang dari pandangan, dan parkiran khusus dosen sepi tak ada siapa-siapa. Baru kemudian ketika sosok yang ditunggu-tunggunya datang, ia memutuskan akan bicara.
“Pak Eunseok,” sapanya usil, “udah enggak rewel lagi, nih, motornya?”
Eunseok menggeleng. “Udah sembuh dia.”
Kalau saja Eunseok tahu, selama satu minggu itu, Sungchan bisa habiskan tiga season series yang sedang ditontonnya, dan hampanya enggak sepadan dengan selama waktu yang sama dia enggak bisa dengar suara Eunseok. Jadi wajar saja kalau otaknya sempat macet di tempat untuk sekedar balas bicara.
“Enggak pulang, Sungchan?”
Dia baru sadar kalau mungkin tatapannya sudah menyerempet intimidasi. Seperti majikan yang tuntut penjelasan dari anak buahnya, perkara hal-hal yang berjalan enggak sesuai keinginannya.
“Habis ini pulang,” jawabnya singkat. Tangannya memanjang dari jok belakang sampai pegangan motor, sampai-sampai Eunseok yang tadinya mau colokkan kunci dibatalkan. “Pasti dia seneng sekarang bisa anter majikan ke mana-mana.”
“Nanti dia ngambek lagi kalau kamu pukulin, Sungchan,” ceramah Eunseok, kecil-kecil dan lembut kala tangan Sungchan dia singkirkan dari jok depan yang dipukuli. Dasar mahasiswa enggak tahu diri. Bisa saja Shotaro berbisik demikian kalau dia di sini.
“...Maaf,” balas Sungchan setelah beberapa saat. Eunseok lepaskan genggamannya tangannya, dan ia lantas merengut. “Motornya biar istirahat aja bisa, kan?”
Eunseok terlihat bingung. Sungchan dipandangnya hati-hati: dari rambutnya yang enggak lagi tertata rapi, kantung matanya yang semakin kentara hitam, sampai bibirnya yang mencebik seperti anak kecil ngambek.
“Kamu yang istirahat, Sungchan,” tukas Eunseok, sambil bawa tangannya buat bawa Sungchan berdiri tegak dengan sentuhan di kedua pundaknya, “sebentar lagi langitnya gelap.”
Di atas sana mendung. Sedari tadi juga matahari ogah nongol karena awan-awan hitam betah berlalu-lalang. Alasan tadi jadi enggak masuk akal dalam kepala Sungchan. Kecuali satu: cintanya ditolak.
Pulang-pulang ia langsung tergeletak lemas di sofa Shotaro. Sampai Shotaro pun ikutan iba dan tawarkan mac and cheese yang barusan dibuatnya. Mana dia tahu kalau sohibnya itu sebetulnya belum juga sempat nyatakan cinta.
(Kalau tahu mungkin Sungchan dapat bogem di kepala.)
Sungchan percaya kalau cinta itu bukan cuma teori tentang dua insan yang saling berbagi rasa yang sama aja. Lebih dari itu ada eksistensi hukum di dunia yang sebut beberapa di antara kita enggak pantas jadi satu. Entah sebab paham yang telah lama ada—termasuk dari mereka yang koar-koar anggap itu semua dosa—atau sesederhana kepercayaan kalau dunia enggak adil aja.
Pada dasarnya, kita semua memang selalu dituntut jadi sempurna, bahkan saat segala-galanya yang kita dapat di dunia enggak ada yang instan dan kerap kali penuh luka. Memang enggak adil. Sama aja dengan baju Sungchan yang sekarang kusut setelah tadi dia sendiri yang ribet setrika. Alasannya karena club bukan selera dia, dan daripada menari-nari di antara kerumunan orang banyak di sana, lebih baik dia sandarkan kepala di meja.
Sungchan tengok sekelilingnya lewat sela-sela dua botol kosong yang masih berdiri tegak di depannya. Enggak ada yang spesial dari dunia malam bahkan ketika hatinya dirundung duka—masih perihal cinta ditolak yang belum pasti juga. Yang ada malah lagu-lagunya sekarang lebih bikin bosan dari biasanya. Sungchan tebak-tebak kenapa Shotaro ngotot bawa dia ke sini kalau jaminan musik enak di telinga aja bahkan enggak ada.
Sialan memang. Sungchan berakhir telan sisa es batu dari gelas lemonade miliknya. Iya, pemuda kelahiran September itu enggak mabuk, kok. Kesadaran ada di batas paling warasnya manusia, sekalipun kondisinya bak benda yang ditelantarkan oleh pemiliknya, sia-sia.
Entah sial atau beruntungnya, kesadaran dia tadi yang juga bawa dia sekarang di posisi ini. Menganga ketika dari jarak tiga meter yang jelas dilihat dengan mata kepalanya sendiri, ada Eunseok berjalan dengan satu gelas—yang ia duga—vodka. Sungchan enggak begitu paham sebab dia pun enggak suka minum. Kalau kebanyakan cola aja udah cukup buat dia mengeryit enggak suka, gimana lagi sama minuman beralkohol.
Kembali lagi, Eunseok ada di sana. Berdiri tiga meter di depannya. Sungchan ragu apakah dia harus sapa, tapi bisa aja dosennya itu sama dengan dia: butuh distraksi dari kegilaan dunia. Jadi opsi menyapa bisa jadi buat dosennya enggak nyaman nantinya.
Sungchan, Sungchan. Kekhawatiranmu hobi sekali berenang-renang di kepala.
“Sungchan?” lihat sendiri, kan, kedatangan Eunseok di samping temat duduknya bahkan sampai dia sendiri enggak bisa duga.
“Pak Eunseok di sini?” Sungchan menggaruk tengkuknya, beri senyum tipis manusia di sampingnya sembari dia posisikan duduknya.
“Kamu bisa lihat sendiri,” timpalnya, selagi gelas yang ia bawa ditaruh di atas meja. “Pantes ya, dari tadi siang saya hubungi kamu, tapi kamunya enggak jawab.”
Sungchan cuma balas dengan air wajah yang kalau dibunyikan jadi “hah?” Ruangan ini sekarang adalah lautan dan kesadarannya mengapung butuh pertolongan. Setiap angin yang berhembus adalah bisikan untuk ambil tekat di luar kepala. Dan wangi dari parfum manusia di sampingnya adalah satu alasan besar dia bisa gila.
“Sungchan? Kamu baik-baik aja, kan?”
Ludah yang ditelan Sungchan jadi terasa lebih pahit dari biasanya. Ada bibir dari milik sang pembicara yang kelihatan lebih manis untuk ditelannya. Sungchan enggak tahu harus berbuat apa. Sementara alunan musik yang berbunyi kencang perlahan-lahan hilang dalam pendengarannya. Bersamaan dengan itu, Sungchan dapati bibir keduanya menyatu.
Semua terjadi begitu saja. Seperti lampu di lorong-lorong tua yang terus berkedip sampai hilang cahayanya tiba-tiba. Tahu-tahu Sungchan mengecap manis dari bibir pria di hadapannya. Eunseok, yang di waktu yang sama masih cari-cari jawaban lewat heningnya Sungchan, putuskan tutup kedua matanya.
Ini bukan sebuah pentas drama di mana kedua pemeran utamanya telah sampai di ujung cerita. Gorden merah raksasa yang lambat-laun menutupi keduanya enggak ada. Di sini, di tengah sorak sorai manusia yang tak pandai bercerita; sibuk telan mentah-mentah perih hidupnya lewat minuman yang bikin menderita; ajaib bahwa masih ada kejujuran yang dimanifestasikan lewat kecap dari ciuman yang beroperasi bersama bisingnya suara.
Seperti ekspektasi Sungchan, ada manis yang kentara di lidahnya sana. Potongan visual Eunseok yang pejamkan matanya nyata; bukan reka adegan dari film-film yang ditontonnya. Proyeksi laki-laki yang meraup oksigen sedalam-dalamnya di depan dia, adalah yakin sekali, apa yang selama ini mereka sebut manusia setengah malaikat. Atau mungkin malaikat itu sendiri.
Bodohnya, Sungchan lupa kalau dia cuma manusia. Dia adalah manusia. Bodoh adalah nama tengahnya. Bodoh kadang kelakuannya.
“Maaf,” ungkapnya, suaranya parau sampai di telinga Eunseok, “I think I’m drunk.”
Sementara itu, Eunseok terkekeh, seolah yang terjadi barusan enggak ada apa-apanya. Dan Sungchan ingin sekali mencium senyumnya yang dibarengi dengan bulan sabit dari kedua matanya lagi. Cara yang lebih tua membuat Sungchan jatuh cinta begitu simpel, bahkan ia yakin kalau sosoknya enggak perlu berbuat apa-apa lagi selain, ya, cukup berada di sana.
Malam itu Sungchan dapati pipinya sendiri bersemu. Sampai di ujung telinga ketika dia permisi ke toilet untuk netralkan detak jantungnya yang sedari tadi berlomba-lomba keluar dari dada. Besok pagi dia harus nyatakan cinta. Harus. Enggak boleh ditunda-tunda.
Dari: Shotaro
Ya udah. Tinggal bilang aja yang semalem cuma kebetulan. Kasih tahu kalau kebetulan lo jatuh cinta sama dia. Jangan lupa juga bilang kebetulan lo pengen jadi pacarnya. Gitu aja kok repot.
Brengsek. Sungchan telan ludahnya kasar. Semalam ia yakin sekali kalau hari ini sudah saatnya. Tapi sampai di sini, di kediaman Eunseok dengan alibi bimbingan skripsi, nyali Sungchan jadi ciut lagi. Sumpah mati dia bisa dengar suara Shotaro yang sebut dirinya pengecut di belakang kepalanya.
Ia cuma bisa meringis. Terlebih kalau Eunseok benar-benar membiarkannya pergi; tanpa ada niat ajak bicara soal yang semalam. Bukan maksud Sungchan enggak mau memulai, tapi kalau-kalau pamitnya hari ini dibalas iya semudah balikkan telapak tangan, artinya dia ditolak lagi, bukan?
Atau mungkin itu semua cuma ada di kepala dia?
“Sungchan, nanti bab empatnya—”
“I lied to you last night,” serbu Sungchan, rahangnya mengeras di balik sana, “I wasn't drunk last night. I was just trying to make up whatever I did and I know it was— it is shitty. So, I’m sorry for everything.”
Eunseok enggak langsung tanggapi penjelasannya. Bohong kalau dia enggak kesal karena ciumanku seperti enggak dianggap apa-apa, sementara dia semalam sampai merutuki dirinya sendiri kalau-kalau cintanya hilang lagi.
Namun ada sesuatu dari cara Sungchan menatapnya. Sekarang ini, pandangannya enggak kunjung lepas dari milik Eunseok. Sampai yang lebih tua itu dibuat membeku di tempatnya berdiri. Yang dia tahu pasti, Sungchan enggak lagi bermain-main di sini.
“I forgive you for lying to my face,” ini Eunseok, dan segala murah hatinya; juga Eunseok dan segala kekukuhan hatinya yang berkata, “but I don't want you to regret that thing we did last night, though.”
Ada kita di sana. Keterlibatan enggak hanya dia, Sungchan, tapi juga Eunseok di dalamnya. Yang entah bagaimana buat hujan kehilangan eksistensinya di dunia. Mereka berdua, punya dunia sendiri yang dibangun lewat cinta yang diselimuti harapan-harapan di tepinya; yang sampai sekarang belum terucap lewat kata.
“Enggak,” kata Sungchan. Dia angkat penutup kepala dari hoodie Eunseok supaya hujannya enggak dapat izin basahi rambut laki-laki di depannya. “Enggak pernah nyesel juga jatuh cinta sama Pak Eunseok.”
Dewi cinta seperti sedang menghujam jantung mereka berdua waktu itu. Apa-apa yang terjadi setelahnya adalah keinginan yang sama-sama telah lama ingin mereka tebus. Dari kecupan lembut di kening, pelukan yang hangat di sekujur tubuh, sampai ciuman singkat yang enggak bisa lagi diberi harga. Semuanya pernah jadi mimpi yang mereka takuti enggak akan jadi nyata.
Eunseok tangkup pipi Sungchan dengan kedua telapak tangannya. Dan enggak butuh waktu lama buat senyum mereka merekah jadi tawa. Tidak ada alasan lagi buat keduanya untuk sembunyikan bahagia yang sudah setengah jalan berseri di wajah. Rasanya lega. Seperti diberi kabar baik di ujung hari yang jelek.
Yang lebih tua lebih dulu kembalikan senyum sebelum bicara. “Saya juga—” Eunseok berucap, sama lembutnya dengan gerakkan ibu jarinya yang menggelitik pipi, “—cinta sama kamu.”
Antisipasi balasan cinta enggak pernah terlintas di kepala Sungchan. Pun kalau wujudnya bakal terucap dari bibir yang semalam diciumnya. Dan semua ini membuat Sungchan sungguh, sungguh berbunga-bunga.
Oh, panjang umur dewi cinta dan pekerjaannya yang mulia. Ini bukan lagi soal beruntung enggaknya nasib mereka berdua, tapi kenyataan bahwa di antara cabang-cabang realita yang digariskan Tuhan untuk mereka, ada satu titik—atau mungkin dua, tiga, dan seterusnya—di mana mereka saling jumpa. Sebuah garis lega di antara sesaknya pahit dunia.
Enggak perlu jadi manusia paling menderita buat bersyukur bahwasanya mereka diberi kesempatan bersama. Barangkali, ini bukan seperti angin yang datang dengan durasinya yang sementara—bisa jadi ada kita di antara mereka yang abadi; selamanya.
Fin.
