Actions

Work Header

My Lovely Rival

Notes:

Pada awalnya, Beomgyu sangat membenci Yeonjun, orang yang ia sebut sebagai rival-nya itu. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ditambah dengan intensitas kebersamaan mereka yang semakin tinggi, mulai tumbuh perasaan di antara mereka.

Chapter 1: Their Childhood

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

 

Moodboard My Lovely Rival

—♡—

Apa yang ada di pikiran kalian jika mendengar kata ‘Sekolah’?

Membosankan? Melelahkan? Membuat pusing?

Mungkin itu adalah jawaban yang ada di pikiran murid-murid pada umumnya. Namun, tidak bagi Beomgyu. Menurut murid SD Negeri 1 Semarang ini, sekolah adalah hal yang menyenangkan. Bahkan, setelah begadang di malam harinya untuk urusan tertentu, kantuk yang ia rasakan akan langsung hilang begitu menginjakkan kaki di sekolah.

“Hei, Beomgyu! Pinjem PR matematikamu, dong!”

“Gyu, bisa ajarin tentang sistem pernapasan diafragma, gak? Aku belom paham materi itu buat ulangan nanti, huhuhu.”

“Eh, kamu dicariin Miss Jennie tuh, Gyu.”

Kalimat-kalimat tersebut adalah kalimat yang biasa didengar Beomgyu setiap berada di sekolah. Meskipun begitu, ia tetap senang berada di sekolah. Justru itu adalah alasan Beomgyu kerasan berada di sekolah.

Kecuali satu manusia bernama Yeonjun.

“Beomgyu, nanti siang kamu sama Yeonjun ke ruang latihan khusus olim, ya. Udah ditunggu sama dosen dari UNNES.”

“Gyu, kamu udah tau belom kalo Yeonjun juara lomba IPS se–”

“Yeonjun sama kamu jadi perwakilan–”

Yeonjun, Yeonjun, dan selalu Yeonjun.

Beomgyu kesal karena bukan hanya dia yang menjadi sorotan di SD-nya. Si Yeonjun itu selalu menandinginya dalam menjadi murid terbaik di SD. Ia hanya sekadar kenal nama dan bertemu setiap ada keperluan lomba. Namun, ia tidak pernah berinteraksi secara proper dengannya. Mana sudi ia berinteraksi dengan murid yang berpotensi membuatnya tidak menjadi kesayangan guru lagi.

Beomgyu pikir, kebenciannya terhadap Yeonjun sudah tidak bisa tertandingi lagi. Akan tetapi, kejadian di akhir tahun ajar kelas 4 itu membuat Beomgyu semakin membencinya.

“Beri tepuk tangan yang meriah untuk juara murid teladan se-kota Semarang, Yeonjun Alvaro!!!”

Benar sekali, alih-alih Beomgyu Wardana yang selalu menjadi perwakilan olimpiade matematika, justru Yeonjun Alvaro yang selalu menjadi perwakilan di olimpiade IPS lah yang menjadi perwakilan murid teladan dari SD Negeri 1 Semarang.

"Lah, bukannya kemarin yang digadang-gadang jadi wakil murid teladan tuh Beomgyu, ya?"

"Bukannya Yeonjun Alvaro ini anak olim IPS, ya?"

"Keren juga anak olim IPS bisa juara murid teladan, wow!"

"Katanya cuma anak pinter mat yang pasti pinter semua mapel lain, ternyata gak juga ya. Anak pinter IPS bisa-bisa aja, tuh."

"Kamu tau gak sih, katanya guru kita lebih suka sama Yeonjun."

"Katanya Beomgyu tuh—"

"Yeonjun keren ba—"

Cukup sudah semua obrolan tidak berbobot yang membuat emosi Beomgyu semakin memuncak. Ia sudah tidak tahan untuk terus bersikap biasa saja. Sejak itu lah, bendera peperangan mulai dikibarkan oleh Beomgyu.

—♡—

“Taehyun, aku denger kamu taun ini mau lanjut di kelas olim IPA, ya?” tanya Beomgyu kepada teman sekelasnya yang baru di kelas 5 ini, Taehyun Dirgantara namanya.

“Iya, kamu wakilin mat lagi, Gyu?” tanya balik Taehyun.

“Iya dong, jelas.”

Mengetahui fakta tersebut, membuat Beomgyu memiliki rencana untuk menjadikannya murid terbaik di sekolah.

"Permisi Pak Jeonghan, apakah bapak ada waktu?" izin Beomgyu begitu sampai di depan pintu ruang guru.

"Iya, nak Beomgyu. Ada apa?" balas tanya Pak Jeonghan. Beliau adalah pembina kelas olimpiade untuk mata pelajaran IPA.

"Ini pak, saya mendapat info dari Bu Irene kalau kelas IPS mau difokuskan untuk kelas 4 saja. Jadi, anak-anak kelas 5 disarankan untuk pindah ke kelas IPA," dusta Beomgyu. Namun, untuk masalah Bu Irene ia tenang saja karena beliau adalah tantenya yang selalu mendukungnya.

"Oh, begitu. Baiklah, nanti saya akan berdiskusi dengan ketua pembinaan olimpiade mengenai masalah ini. Terima kasih infonya, Beomgyu!" balas Pak Jeonghan.

"Sama-sama, Pak!" seru Beomgyu dengan senyuman liciknya.

Rencana Beomgyu pun berhasil. Alhasil, di olimpiade tahun tersebut, Yeonjun tidak menjadi salah satu perwakilan karena kalah saing dengan Taehyun yang memang sudah memiliki persiapan lebih matang sejak kelas 4. Akhirnya, Beomgyu menjadi satu-satunya murid di SD-nya yang selalu mewakili olimpiade dari kelas 4 hingga kelas 5.

—♡—

Kelulusan SD sudah berlalu. Kini, Beomgyu sudah memasuki tingkat SMP. Tentunya ia masuk ke sekolah unggulan lagi karena nilai ujiannya yang tinggi. Taehyun kembali menjadi teman satu sekolahnya. Sayangnya, ia juga kembali berada di sekolah yang sama dengan seorang Yeonjun Alvaro.

Beomgyu tidak mau terlalu memikirkan fakta yang tidak menyenangkan itu. Akan tetapi, orang tuanya justru membuat transportasi antar jemput untuknya dan ‘teman-teman’ yang rumahnya dekat dengannya. Ayah Beomgyu khawatir karena lokasi SMP Beomgyu cukup jauh dari rumahnya, jadi ia membuat antar-jemput ini supaya anaknya tetap bisa nyaman bepergian.

Masalah utamanya adalah Yeonjun Alvaro menjadi salah satu ‘teman’ yang diikutkan antar-jemput itu. Selain mereka, tentu ada Taehyun Dirgantara. Lalu, ia juga mendapat teman-teman baru, yaitu Soobin Cakrawangsa, Kai Hadinata, dan Hanbin Suryana. Mereka semua mulai mengenal satu sama lain dengan baik dan menjadi sahabat, tak terkecuali Yeonjun.

“Kalian kelas apa aja?” tanya Kai penasaran. Mereka sedang dalam perjalanan menuju SMP di hari pertama sekolah.

“Aku kelas 7A, nih. Ada yang sama, gak?” tanya balik Hanbin.

“Wih, sama! Aku juga kelas 7A!” seru Soobin.

“Aku juga kelas 7A, loh,” ucap Taehyun pelan.

“Eh, kita bertiga sekelas, dong! Asyik!!!” seru Hanbin.

“Ih, enak banget udah pada dapet temen sekelas. Aku yang nanya malah belom,” ucap Kai sedih.

“Emang kamu kelas apa, Kai?” tanya Beomgyu.

“Aku kelas 7C!!!” seru Kai.

“Loh, aku juga 7C! Kenapa gak bilang dari tadi?!” balas Beomgyu.

“Ih, masak?! WAHHH, ASIKNYA!!!” seru Kai.

“Kalo kamu kelas apa, Jun?” tanya Taehyun kepada Yeonjun yang sedari tadi diam saja duduk di kursi depan sebelah supir.

“Oh? Aku kelas 7D.”

“Yah, kamu kepisah di lantai 2 sendiri, dong,” ucap Soobin.

“Haha, iya,” balas Yeonjun pelan.

Percakapan mereka pun terhenti begitu tiba di depan gerbang SMP Negeri 2 Semarang, SMP mereka.

—♡—

Kehidupan sekolah Beomgyu saat SMP tidak seseru saat SD. Ini karena ia kalah saing dengan adik kelasnya untuk menjadi wakil di olimpiade matematika. Yeonjun dan Taehyun pun tidak terlalu fokus di olimpiade lagi, mereka beralih untuk fokus di ekstrakurikuler dance bersama Hanbin. Sementara itu, Soobin dan Kai menjadi rekan di ekstrakurikuler band.

“Gyu, kamu seriusan gak mau ikut join band aja?” tanya Kai.

“Iya, loh. Bukannya kamu jago main gitar, ya?” giliran Soobin yang bertanya.

“Ah, gak dulu, deh. Aku mau jadi murid biasa dulu di SMP kali ini,” jawab Beomgyu.

Sebenarnya tidak hanya sekali ini ia ditanyai seperti itu oleh teman-temannya setiap pulang sekolah. Namun, karena ia gagal lolos seleksi ekskul padus, lalu merasa tidak cocok saat mencoba ikut latihan perdana paskibra, ditambah lagi harapan utamanya di olimpiade mat juga harus pupus, ia akhirnya menyerah.

“Kalo ikut dance aja gimana, Gyu? Bareng kita bertiga ini,” tawar Hanbin.

“Gak juga, deh. Aku gak sejago kalian dance-nya,” balas Beomgyu.

“Ah, jangan gitu, Gyu. Aku inget kok, kamu pernah nari lagu AKB48 di depan kelas 8D pas itu,” ucap Taehyun.

Oh, iya. Mereka sekarang sudah beranjak naik kelas 8. Taehyun, Hanbin, dan Yeonjun menjadi teman sekelas di kelas 8F. Lalu, Soobin dan Kai sekelas di kelas 8A. Sementara, Beomgyu sendirian di kelas 8D. Mungkin itu menjadi alasan ia tidak ikut ekskul apa-apa, dan kebetulan teman-temannya yang memiliki minat sama juga berada di kelas yang sama.

Jika kalian bertanya tentang Yeonjun, anak itu menjadi lebih pendiam sejak SMP. Bagaimana tidak? Setiap mereka berangkat dan pulang, Yeonjun selalu memilih untuk duduk di kursi depan.

“Jun, sini, loh. Duduk sebelahnya Hanbin! Mumpung si Taehyun sama Kai lagi ada kumpul ketua ekskul!” seru Soobin suatu hari.

“Ayolah, Jun. Kita sekarang sekelas dan satu ekskul, masak kamu mau duduk depan terus?” sahut Hanbin.

Belum sempat Yeonjun menjawab, Beomgyu sudah lebih dulu menyela.

“Jangan-jangan Yeonjun diem-diem punya pacar, ya??? Hayooo, ngaku!!!” seru Beomgyu.

Jika sudah begitu, Yeonjun tidak ada pilihan selain mengiyakan saja perkataan temannya itu. Kegiatan ‘Mari menggoda Yeonjun Alvaro’ yang dipelopori oleh Beomgyu Wardana, lama-kelamaan menjadi hal yang biasa terjadi di antar-jemput itu.

Notes:

Halo!!! 👋🏻👋🏻 Ini adalah AU TXT pertamaku di AO3! 🥳🥳🥳 Kalau mau interaksi langsung sama aku, bisa kunjungi X-ku yaaa 🤗🤗🤗 @just_uptome