Actions

Work Header

mimpi yang panjang, janji yang tak lekang

Summary:

Kepada jiwa yang telah menjadi bintang, janji usang kini ia tunaikan, lentera mimpi teguh dinyalakan. "Meski kita mampu berjalan sendiri, aku ingin berbagi dan menghubungkan takdir denganmu."

 

Kru Bajak Laut Topi Jerami berhasil mendapatkan ONE PIECE. Episode baru pun semua orang tapaki. Berdua, Law dan Nami berkeliling dunia. Dia melanjutkan peta. Dia mengenang yang tiada.

Notes:

DISCLAIMER:
ONE PIECE belongs to Eiichiro Oda. I gain no profit from this fanfic.

NOTE:
- Ini karya utamaku untuk #LawNamiVDay di twitter, dengan prompt "soulmates".
- Referensiku dari remahan manga dan satu filler penegasan di anime (kalimat Corazon).

Work Text:

"If soulmates do exist, they're not found. They're made." (The Good Place)

~♡~♡~♡~♡~

Kata orang, tidak ada hal bernama kebetulan. Setiap jumpa dan pisah tentu punya tujuan. Semua kejadian dipengaruhi oleh pilihan.

Pasca pertemuan diam-diam di hutan Zou, Law dan Nami putuskan untuk saling menjauh ... sebab kebetulan dapat menjadi terlalu menakutkan. Mereka kira ini sebatas pemahaman biasa serta ketertarikan sesaat, tetapi ternyata lebih. Ada kenyamanan tak terdefinisi hingga Law tanpa sadar tersenyum di samping perempuan berambut jingga. Ada keakraban abstrak yang membuat Nami merasa tenang di sebelah lelaki bermata emas. Namun, seiring banyaknya cerita, alarm di hati bunyikan tanda bahaya.

Lampau mereka agak serupa ... dengan keterlibatan bajak laut, Angkatan Laut, sosok orang tua, dan pesan cinta yang disusul oleh tembakan. Beberapa aspek dalam alur hidup mereka seirama, termasuk kehadiran Monkey D. Luffy di sana. Bagaimana mungkin muncul seseorang yang cukup sefrekuensi untuk saling mengerti, sekaligus relatif bertentangan tetapi mampu melengkapi?

Tidak. Mereka harus berhenti.

Tuan telah karib dengan sang Kematian. Nona menolak luluh, bagaimana pun mereka tetaplah lawan. Rasa yang tidak diperlukan hanya akan menambah pedihnya kehilangan.

Mulailah mereka bentangkan jarak. Di Wano, Law dan Nami berupaya menghindar, meski tidak bisa berhenti memikirkan.

Kendati Nami tidak mengejar Law yang tersinggung karena tuduhan Shinobu, dia mencemaskan lelaki berambut hitam kebiruan. Ketika Bepo, Penguin, dan Shachi datang untuk sampaikan pesan, mata bulat Nami mencari keberadaan kapten mereka. Ingin bertanya, tetapi ragu.

Kemudian, meski Dokter Bedah Kematian baru menghela napas di tengah pertarungan, dia lekas berteleportasi ke kastel sambil membawa Zeus. Jika Big Mom pergi mencari si awan, pasti Nami yang menjadi sasaran kemarahan. Namun, usai memastikan navigator Topi Jerami bisa melalui masalah, dia tidak menemuinya.

Aliansi resmi berakhir setelah kejatuhan Kaido dan Big Mom. Saatnya melanjutkan petualangan bersama kru masing-masing.

Law dan Nami berpisah tanpa kata, tanpa lambaian tangan. Mereka memilih untuk saling melupakan.

.... Tadinya demikian.

Ketika berjumpa kembali, keadaan jauh di luar dugaan. Kekalahan Law dari Kurohige akibatkan Bajak Laut Hati mengalami titik kritis. Syukurlah para anggota selamat, meski Polar Tang mustahil diperbaiki. Mereka berada di satu kubu lagi. Bertarung bersama, lalu berpesta setelahnya.

Alangkah terkejutnya Nami ketika tangan tan bertato DEATH menepuk pundak. Menepilah mereka dari riuh pesta serta persiapan perang.

"Kamu ingin membuat peta dunia, 'kan, Nami-ya?" Seperti biasa, Trafalgar Law tidak berbasa-basi.

"Iya, Torao-kun. Ada apa?" ucap Nami lugas.

"Aku ingin berkeliling dunia, untuk Cora-san juga." Law menggantung kata-kata, Nami berusaha menebak percakapan berjalan ke arah mana. Bahkan bagi Law sendiri, jeda ini amat menyiksa. Sukar dia akui ... bahwa pada momen antara hidup dan mati, Nami adalah orang yang Law ingat selain krunya.

"Aku sadar sesuatu. Kamu tidak ada hubungannya dengan tujuanku. Tetapi ...," ditatapnya Nami tatkala meneruskan, "meski kita mampu berjalan sendiri, aku ingin berbagi dan menghubungkan takdir denganmu, Nami."

Navigator muda terkesiap. Warna merah jambu merambat ke pipi. Badannya bergerak sendiri untuk memeluk Law—yang dipeluk salah tingkah. "Boleh, tapi Luffy yang akan jadi Raja Bajak Laut," Nami tertawa kecil, "setelah itu, aku ingin bersamamu."

"Siapa pun yang mendapatkan ONE PIECE ... nanti kita berdua akan berkeliling dunia," tukas Law seraya memeluk Nami lebih erat.

Jalan di depan semestinya berbeda, tetapi mereka memilih untuk bersama. Berdua, merencanakan petualangan keliling dunia. Lantas, mereka melanjutkan cerita yang terhenti di Zou.

Dua orang yang lelah saling menjauhi kini memilih untuk membuka diri. Seutuhnya. Selengkap-lengkapnya. Mereka masih "orang luar" bagi yang lain. Pun tidak ada keuntungan logis yang bisa didapat. Namun, semua terasa begitu natural. Mereka biarkan kisah itu menganga, diselimuti rasa tanpa nama.

~♡~♡~♡~♡~

Tiga tahun kemudian ....

"Mugiwara-ya masuk koran lagi. Oh, ada Zoro-ya juga."

Mendengar celetukan Law, Nami meletakkan buku di meja dan langsung duduk di sebelahnya. Sekecil apa pun berita tentang para nakama tetaplah berharga. Nami tidak mau ketinggalan kabar.

Dibacanya berita tentang Luffy terlihat di laut perbatasan Amazon Lily. Pada halaman lain, Zoro dan Mihawk minum bersama di bar. Judul berita sangat bombastis daripada peristiwa yang mungkin terjadi.

Pirate King Datang ke Wilayah Pirate Empress, Mungkinkah Wacana Reformasi Shichibukai?

Pertemuan Dua Generasi Pendekar Pedang Terhebat

"Pasti Luffy ingin mengobrol santai dengan Rayleigh. Amazon Lily tempat yang pas karena Sabaody terlalu ramai. Zoro pasti tersesat dan ditemukan Mihawk," komentar Nami.

Seluruh kru Topi Jerami tercatat sebagai legenda, bersama sejumlah bajak laut lain di era mereka. Usai menemukan ONE PIECE dan pencapaian yang mengiringinya, mereka menapaki episode baru.

Luffy melanjutkan hidup sebagai orang paling bebas di dunia. Zoro melatih Momonosuke sambil menyempurnakan jalan pedangnya sendiri. Nami melanjutkan bertualang untuk menyelesaikan peta dunia. Usopp menjadi penulis kondang. Sanji kembali ke Baratie, dan beberapa bulan lalu membangun cabang atas namanya.

Chopper menginisiasi persatuan dokter dari berbagai ras dan negara. Robin membangun ulang Ohara, menjaga warisan buku-buku tersisa bersama Saul. Franky tetap menjadi tukang kayu, tetapi juga memperdalam teknologi pada Dr. Vegapunk. Brook kembali menjadi seorang superstar. Jinbe menjadi aktivis anti diskriminasi. Vivi dikenal sebagai ratu yang sukses menggaungkan nama Alabasta ke seluruh dunia.

Semua memang berpencar, tetapi Raja Bajak Laut menegaskan, Topi Jerami selamanya Topi Jerami.

"Aku bisa membayangkannya, Nami," gumam Law.

Nami mengangguk cepat. "Begitulah media. Kita saja digosipkan menikah. Hahaha."

Ya, Law dan Nami belum menikah. Meski mengembara berdua dan tidur di ruangan yang sama, tidak ada cincin di jari manis mereka.

Saat Topi Jerami mencapai pulau terakhir, Bajak Laut Hati masih mengarungi samudra. Sejak awal, Law tidak pernah benar-benar menginginkan ONE PIECE. Dalam hati, dia akui Topi Jerami layak mendapatkannya. Kemudian, sama seperti kru mantan aliansi, Bajak Laut Hati berpencar demi tujuan masing-masing.

Sesuai janji, Law menjemput Nami ke Coco, meminta izin untuk mengajaknya berkeliling dunia. Butuh waktu nyaris setahun guna mempersiapkan transportasi. Franky dan Dr. Vegapunk berkolaborasi ciptakan kendaraan sekaligus tempat tinggal mereka—Franky menamainya Orange Heart. Bentuk dasarnya mirip bus bertingkat supaya bisa melaju di darat, tetapi tersedia mode transformasi bagian bawah agar mirip kapal untuk perjalanan air. Mereka berdua sepakat tidak memasang atribut bajak laut kru mana pun, tetapi Nami meminta Law menulis nama Corazon.

Selama tinggal bersama, Law dan Nami lumayan rukun. Terkadang berbeda pendapat, tetapi dapat menyelesaikannya tanpa harus bertengkar hebat. Saling menghargai privasi, sebab sesekali mereka butuh waktu sendiri. Mewarnai kehidupan satu sama lain dengan nuansa baru.

"Oh iya, dua bulan lagi Shachi menikah," tutur Law.

"Siapa calonnya? Kita harus datang. Aku kangen North Blue," tanggap Nami sebelum mendesah, "Teman-teman kita sudah mulai menikah. Aku merasa tua hahaha, tapi kalau kamu memang tua, sih."

Pernikahan pertama yang mereka hadiri adalah Franky dan Robin di Water 7 tahun lalu—serta reuni kru Topi Jerami. Law ingat Nami menangis haru saat memandang kedua mempelai. "Rumah asal Robin adalah pohon, dan Franky adalah tukang kayu yang dapat merawat pohon terkuat di dunia," bisik Nami kala itu.

Di tengah perjalanan, mereka menyempatkan diri untuk mengunjungi teman-teman yang berkeluarga; Baby 5 dan Sai serta Gotti dan Lola. Dulu, mereka tidak mendengar kabar pernikahan karena fokus mengincar Yonkou. Usopp berkata akan menikahi Kaya, tetapi belum menentukan waktu yang pas.

Akan tetapi, mereka paham bahwa menikah bukanlah kewajiban. Pun sepertinya tidak semua kawan akan menikah. Yang terpenting adalah setiap orang menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.

Tidak bisa mengelak dari fakta, Law mencubit hidung perempuan yang lebih muda enam tahun darinya itu. Tidak mau kalah, Nami balas menggelitiki pinggang Law. Dua orang adu gelitik sampai berguling di sofa.

~♡~♡~♡~♡~

Ini adalah tempat terakhir dari rangkaian perjalanan panjang. Tempo hari Law tuntas membantu Nami mengumpulkan data. Seperti biasa, mereka saling memberikan waktu sendiri.

Berkeliling dunia merupakan janji Corazon padanya yang mustahil ditepati. Ingatan masa kecil membanjiri kepala. Hati yang tak terlihat berdenyut nyeri.

Beberapa bulan perjalanan bersama Corazon memberi makna mendalam. Pria yang lebih optimis bahwa Law dapat bertahan hidup. Sosok yang hadirkan keajaiban walau harus menukarkan hidupnya demi Law. Seseorang yang menyayangi bocah menyedihkan tanpa batas.

Topi bulu bertotol ada di kepala Law sekarang. Bukan topi yang dia pakai sejak di Punk Hazard, tetapi topi usang dan agak kekecilan. Satu-satunya barang yang dia bawa dari tragedi Flevance ... dan Corazon.

Cora-san, dengan ini aku sudah mengelilingi dunia. Ternyata dunia bahkan tidak seluas kebaikan hatimu.

Meski Law berdialog imajiner dalam hati, tenggorokan turut tercekat. Corazon akan selalu menjadi titik lemahnya.

Kamu benar. Tidak ada lagi penyakit dan tempat yang mampu mengekangku. Aku bertahan hidup. Kamu kubawa ke mana pun melangkah. Kehendak D yang kamu bilang sudah kuungkap. Dan, dunia menjadi tempat yang lebih baik, setidaknya di sekitarku. Terima kasih ... untuk kehidupan yang kamu selamatkan, untuk hati yang kamu cegah supaya tidak beku total, untuk mimpi dan tujuan, untuk segalanya.

Cora-san, aku bertemu banyak orang. Bepo, Penguin, dan Shachi menemaniku merintis Bajak Laut Hati. Mugiwara-ya dan krunya membantuku membalas dendam. Eustass-ya lebih bodoh dari Mugiwara-ya, tetapi bertarung bersamanya cukup menyenangkan. Aku juga uh ... bertemu seseorang. Dia .... Senyuman Nami seketika terbayang, Law mendadak gugup tanpa alasan jelas.

Muka Law berubah merah, kontras dengan topi putihnya. Dia letakkan tangan kanan di dada yang bertato hati, meneruskan cerita dalam bahasa sunyi. Law tahu bahwa Corazon mengerti.

Cora-san, aku telah melampaui usiamu ... dan semakin lama kian jauh. Walau kini sudah lebih tua beberapa tahun, aku masih tidak bisa memahami seindah apa hatimu.

Sosok Corazon tiba-tiba muncul di hadapannya, tersenyum, lalu menghilang bersama angin sebelum Law sempat bereaksi. Dia patri momen sekejap tersebut di lubuk hati. Entah itu Corazon sungguhan atau ilusi tersebab rindu, Law bahagia melihat penyelamatnya sekali lagi.

Trafalgar D. Water Law melepas topi, mendekapnya di dada, dan tersenyum memandang angkasa. Titip salam untuk ayah, ibu, dan adikku. Berbahagialah kalian semua di surga. Di sini, kalian senantiasa hidup dalam hatiku.

~♡~♡~♡~♡~

"Bell-mère, akhirnya petaku selesai," cerita Nami kepada foto Bell-mère di meja kerjanya.

Peta dunia berukuran besar terletak di meja. Rampung sudah. Skala peta dunia tidak memungkinkan untuk mengabarkan bentang alam secara detail, tetapi kartografer muda ini puas. Toh dia sudah membuat peta-peta berlingkup lebih kecil; peta negara dan daerah.

Pikiran Nami melambung ke masa kanak-kanak, ketika menceritakan mimpi kepada sang ibu angkat. Kondisi mereka memang miskin, tetapi Bell-mère percaya Nami mampu mewujudkannya. Kini, angan-angan anak kecil itu menjadi nyata.

Kilasan petualangan hadir seperti rol film. Masa kelamnya. Titik balik ketika dia bertemu dengan para nakama. Setiap tempat yang mereka singgahi bersama. Satu persatu orang yang dia jumpai. Harta karun. Rasa takut, tetapi keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja. Perkembangan hingga melegenda sebagai Ratu Cuaca.

Ingin Nami pulang ke Coco untuk bercerita di pusara Bell-mère, bareng Nojiko. Dia tidak cuma membuat peta, tetapi kenangan-kenangan yang tak terlupa. Lalu, tiba-tiba Nami teringat partner dalam berkeliling dunia.

Ketukan pintu sadarkan Nami. Ah, siapa lagi?

"Masuk saja, Law."

Law masuk membawa sekotak salad buah dengan ekstra jeruk dan sebungkus onigiri. Terdapat label di bagian depan kotak, pasti Law membeli ketika keluar. "Kupikir kamu belum makan," tukasnya, lalu melihat peta dunia di meja, "Petanya cantik, Nami. Selamat."

Bangkit dari kursi, Nami memamerkan peta negara yang selesai ia gambar beberapa jam lalu. "Terima kasih. Ini kepingan terakhir. Aku akan merilis atlas di hari reuni dengan para nakama."

Dengan hati-hati, Nami menyimpan peta-peta di lemari khusus. Law juga meletakkan makanan di meja untuk snack. Lantas, perempuan itu merentangkan tangannya pertanda minta dipeluk—yang tentu saja lekas terpenuhi.

"Merayakan kita," lirih Nami, mengetahui bukan cuma dia yang selesai pada titik ini.

"Ya. Kita." Law mengusap lembut rambut bergelombang Nami, "Nanti kalian jadi meninggalkan ONE PIECE seperti Gol D. Roger?" sambungnya.

"Iya. Dunia itu dinamis, Law. Bagaimana jika ada kekacauan di generasi-generasi mendatang? Setidaknya, akan ada orang yang bermimpi karena ONE PIECE. Mimpi akan menggerakkan mereka untuk berjuang manifestasikan, niscaya harapan takkan pernah padam. Lagipula, setelah banyak kehebohan di era kita, laut jadi lebih menyenangkan."

Nami melepas pelukan untuk menarik tangan Law ke luar. Mereka pergi ke atap Orange Heart. Dua bonsai tangerine menghiasi bagian belakang. Pagar pembatas setinggi tiga kaki mengelilingi atap kendaraan. Ada lingkaran besar di tengah—ketika mode kapal, tiang layar keluar dari sana. Di sisi depan beralaskan karpet berwarna gradasi kuning-jingga karena Law dan Nami gemar memandang langit berbintang

Sekarang, di horizon tampak langit biru, permukiman terdekat warga, ladang bunga, pantai dan laut di kejauhan. Semilir angin terbangkan helaian rambut. Dunia memang tidak berujung, tetapi tempat ini dapat dianggap puncak destinasi.

Masih berpegangan tangan, Nami menoleh ke arah Law, "Ngomong-ngomong, kamu tidak ingin tahu apa itu ONE PIECE?"

Law menggeleng. Dia tidak perlu tahu. Peran ONE PIECE di hidupnya telah mengantar ke dia saat ini. Dan, Law merasa cukup.

"Hei, Nami ...," suara Law sedikit bergetar akibat luapan emosi yang menggelora, "aku mencintaimu."

Pandangan Nami seketika buram karena air mata, tetapi dia menjawabnya. "Aku mencintaimu, Water Law."

Kata cinta terucap untuk pertama kali—dan mungkin terakhir. Kalimat yang amat berat karena mengandung kenangan sedih, tetapi juga sarat akan kasih, asa, dan kehidupan baru yang diperjuangkan oleh pengorbanan orang tersayang.

Mereka telah wujudkan impian, tuntas menggali misteri atas keberadaan, serta membuat pilihan demi pilihan. Di kepingan memoar dan peta terakhir, dua orang yang saling menghubungkan takdir resmi berdamai dengan luka yang takkan pernah kering.

Tidak apa-apa. Mereka memilih untuk bersama. Melanjutkan hidup, menjadikan satu sama lain sebagai rumah.

Ah, air mata dan ciuman sama-sama hangat.