Chapter Text
Treng... Treng... Treng...
Bunyi bel masuk telah berbunyi, itu menandakan bahwa seluruh siswa di wajibkan untuk mengikuti upacara. (Karena hari Senin)
Muhaimin, yang sering di panggil imin. Dia mencari keberadaan kedua temannya tersebut, yaitu Anies dan Ganjar.
Dia melihat ke arah kanan dan melihat Anies yang memakai atribut lengkap, karena dia menjadi petugas upacara hari ini.
Anies datang mendekati imin, "mas, itu mas Ganjar belum Dateng ya?" Tanya Anies sambil membenarkan dasinya.
"Iya tuh, dia kayak telat deh hari ini." Ucap Imin sambil menghela nafasnya.
"Yaudah, ayo mas ke lapang, baris." Ajak Anies, Imin mengangguk dan mengikuti Anies.
————————————————
Sementara itu di sudut pandang Ganjar...
"Asu! Kenapa aku bangunnya telat sih!" Batin Ganjar, dia sedang berlari menuju sekolah.
Lalu saat dia berhenti di depan gerbang pintu sekolah, dia melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang sama sekali di sekitarnya.
Akhirnya dia mulai memanjat tembok pagar sekolah, lalu akhirnya dia berhasil menyelinap masuk kedalam sekolah. Tetapi tiba-tiba ia di teriaki oleh satpam penjaga sekolah itu, akhirnya dia mendatangi satpam itu dan akhirnya diam dan di tegur.
Dari arah lapangan, Anies yang sedang berada di pinggir lapangan melihat ada Ganjar yang sedang di tegur.
Dia menatap ke arah Ganjar dan terkekeh, "Nanti aku samperin mas Ganjar ah, ajak mas Imin juga kali ya?" Pikirnya sambil senyam-senyum sendiri.
Imin yang melihat itu, langsung menggelengkan kepalanya. "Anies serem juga ya kalo senyam-senyum sendiri gitu..." Gumamnya.
———————————————
Upacara pun akhirnya selesai. Setelah membubarkan barisan, Anies buru-buru memanggil Imin dan mengajak nya untuk bertemu Ganjar.
Imin pun menyetujui nya dan akhirnya mereka berdua mendatangi Ganjar yang sedang frustasi akan nasibnya hari ini.
"Ada yang telat nih, siapa ya?" Goda Imin sambil menahan tawa.
"Berisik min, masih pagi aku dah kena apes. Hadeh." Ketus Ganjar dengan sebal.
"Oh iya njar, kita ada murid baru loh di kelas." Ucap imin, dengan cepat Ganjar langsung kembali ceria dan Anies melihat ke arah Imin.
"Cewe atau cowo mas?" Tanya Anies.
"Cowo Nies, dia kenalannya aku."
"Nah itu orang nya!" Sahut Imin dan melambaikan tangannya.
Orang berkacamata dengan tinggi sedang datang menghampiri mereka bertiga, lalu memberikan senyuman nya. Imin mendekat dan berdiri di samping nya.
"Nah Nies, njar, kenalin, ini sandi."
"Salam kenal mas Anies, mas Ganjar." Ucap sandi.
"Salam kenal juga ya mas sandi." Ucap Anies dan Ganjar.
Anies melirik ke arah Ganjar, ia melihat Ganjar sepertinya sedang terpaku dengan sandi. Anies yang melihat itu sedikit membuat nya cemburu, tapi ia mencoba menepis pikiran itu.
