Actions

Work Header

Enigmatic of Kallima

Summary:

Pemuda itu berjalan mendekat ke arah sekelompok orang itu dengan gembira. Rasanya ada beban yang hilang dari pundaknya usai beberapa hari ini ia tak henti-hentinya bekerja.

“Wah! Gila!” Kunigami menepuk bahu Isagi begitu pemuda itu sampai di hadapannya. “Bagaimana kau menyebut sesuatu yang seperti itu?”

Isagi mengedikkan bahu. “Entah. Kasus dibalik kasus?”

Notes:

Semua nama tempat, karakter, dan sebagainya hanya fiksi. Semuanya fiksi, yang asli cuma cintaku ke Isagi.

Work Text:

Chigiri menatap bosan sekelompok orang di hadapannya. Mungkin sekitar sepuluh menit telah berlalu tanpa ada seorangpun yang memulai percakapan. Ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya mentari dari sela-sela itu terasa begitu dingin seolah tahu pemiliknya kini telah tiada. Bahkan tak sampai dua minggu lagi, pemuda itu cukup yakin kalau hunian megah ini akan berpindah kepemilikan karena tak seorangpun dari anggota keluarga ini yang mewarisinya. 

“Bisa kita mulai pembicaraan ini?” Chigiri menelisik lewat ekor matanya.

“Ah, tentu. Silahkan,” ucap seorang wanita dengan ramah. 

Chigiri merapikan lembaran kertas di depannya. “Sesuai dengan keinginan mendiang Tuan Yamasato Shuichi, hartanya akan diwariskan secara merata ke semua anggota keluarga tanpa terkecuali. Selain itu, Tuan Izumi, kepala rumah tangga yang sudah melayani beliau sejak lima puluh tahun terakhir, diberi sebidang tanah dan sebuah hunian di Sadena. Pelayan-pelayan yang lain juga akan diberi sejumlah uang pesangon. Lalu, ad—”

“Berapa banyak?” sela seorang pemuda. 

“Jumlahnya masih belum ditentukan secara keseluruhan karena rumah ini masih belum terjual.” Chigiri menatap lekat-lekat sekelompok orang di hadapannya dengan serius. “Saya akan memberikan salinan surat ini pada masing-masing anggota keluarga.” Dia berkata sambil mengulurkan beberapa lembar kertas pada semua orang di ruangan itu. “Apabila rumah ini terjual, saya akan segera menghubungi kalian semua,” jelasnya. 

“Apakah ada uang mukanya?” tanya pemuda itu lagi. 

“Ya,” jawab Chigiri. “Uang muka yang bisa diambil sekitar dua ribu kane.”

Tak seorangpun dari mereka berusaha menyembunyikan kegembiraan itu. Dua ribu kane merupakan jumlah yang fantastis. Bagi keluarga yang hidup biasa-biasa saja, uang sebanyak itu mungkin bisa menghidupi satu keluarga selama setahun. Suasana duka di tempat itu mendadak sirna, tergantikan oleh raut antusias tiap orang di ruangan itu. 

“Luar biasa!” seru seorang pemuda yang lain. “Kau dengar itu, Atsuko? Itu jumlah yang cukup untuk mendirikan toko kosmetik di jalan utama.”

Wanita bernama Atsuko itu mengangguk setuju. “Benar! Kita bisa membeli satu bangunan di sana.”

Chigiri hanya bisa menghela napas. Padahal tak sampai satu jam yang lalu mereka menangisi kepergian Tuan Shuichi. Sekarang mereka semua bergembira akan sejumlah uang yang akan pria tua itu warisi. 

“Tidakkah ini aneh?” seorang wanita yang terlihat lebih tua dari yang lainnya berbicara pada dirinya sendiri. “Aneh sekali. Kenapa kakakku mati tiba-tiba? Apa dia dibunuh?”

Ucapannya tidak dihiraukan karena orang-orang sibuk dengan kegembiraan mereka masing-masing. Mereka antusias dengan dunia mereka sendiri tanpa tahu kalau Chigiri tak bisa berhenti memikirkan ucapan wanita itu sepanjang hari. Kenapa ia berpikir kalau kakaknya dibunuh? 

 


 

“Jadi, alasanmu datang ke tempatku hanya karena terlalu memikirkan ucapan seorang wanita lanjut usia?” Isagi menyesap teh hangat buatan ibunya itu dengan khidmat.

Chigiri yang duduk di seberang kursi merengut kesal. “Mungkin agak terdengar berlebihan—”

“Memang,” potongnya. Pemuda itu meletakkan kedua tangannya di atas meja. “Kau kan seorang pengacara. Tidak etis kalau dirimu melayangkan tuduhan tak berdasar karena kematian seseorang dianggap aneh oleh seorang wanita lanjut usia. Makanya kau datang menemuiku untuk meyakinkanmu kalau Tuan Shuichi meninggal dengan wajar, benar?”

“Sa, aku paham.” Kata Chigiri tanpa menyela.

“Iya, iya. Bisa dimengerti, Chi,” ucap Isagi. Ia memainkan kedua jarinya dengan gelisah. “Kalau begitu, coba ceritakan detailnya.”

“Tuan Shuichi meninggal dalam keadaan tidur. Tidur!” Chigiri memukul pahanya sendiri. “Bangsawan sepertinya mati dalam keadaan baik-baik saja dalam posisi tidur. Tidak ada siapa-siapa. Tak seorangpun. Orang yang menemukannya mati adalah Izumi, pria tua yang sudah melayaninya puluhan tahun.”

“Apa Tuan Shuichi menderita penyakit keras?” tanya Isagi sambil menyimak penjelasan itu dengan cermat. 

Chigiri menganggukkan kepala. “Begitulah. Usianya sudah cukup tua, sekitar enam puluh delapan tahun. Ia sudah sakit sejak dua tahun terakhir. Istrinya meninggal belasan tahun yang lalu dan anak bungsunya telah tiada sejak masih sangat kecil. Kematian anak pertamanya lah yang mungkin menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.”

“Anak laki-lakinya itu, aku mengenalnya dengan baik. Namanya Yusuke.” Mata Chigiri menerawang penuh nostalgia. “Dia pria yang bisa diharapkan. Pintar dan tangguh. Sayangnya ia meninggal tanpa sempat menikah karena terkena wabah.”

“Wabah itu memang bencana besar,” komentar Isagi sambil mengetuk kuku-kuku jarinya satu sama lain. “Lalu, bagaimana dengan hubungannya dengan anggota keluarga yang lain?”

“Dia punya empat adik, tiga diantaranya meninggal dan meninggalkan beberapa anak.” Chigiri mengambil beberapa lembar kertas dari tasnya. “Biar kusebutkan satu persatu,” katanya. 

“Adik pertamanya adalah seorang pria yang pernah bekerja di kantor kepengurusan tenaga kerja asing, namanya Masamichi. Ia menikahi wanita dari keluarga bangsawan dari wilayah Meiwa, Kamiya Suzume. Mereka memiliki seorang anak laki-laki bernama Yoshio dan seorang menantu yang datang dari keluarga biasa bernama Fukasawa Atsuko. Tuan Masamichi meninggal sembilan tahun yang lalu tanpa meninggalkan warisan yang cukup. Ku dengar mereka tinggal di rumah Nyonya Suzume di Meiwa dan hidup dari uang pesangon yang diberikan oleh kantor tempat pria itu bekerja yang sangat sedikit dan uang saku dari Tuan Shuichi yang tak seberapa. Jadi, mereka ini bisa dibilang memiliki kesulitan ekonomi.”

Chigiri beralih ke kertas selanjutnya. “Adik keduanya adalah Nyonya Okichi, meninggal sekitar lima belas tahun yang lalu karena kecelakaan. Ia menikah dengan laki-laki yang tak begitu jelas asal-usulnya—namanya Yanagimoto Hajime, sudah meninggal lima tahun yang lalu. Mereka memiliki dua anak—”

“Yanagimoto?” Isagi memotong penjelasan Chigiri dengan sebuah pertanyaan yang cukup mengejutkan. 

Chigiri menatapnya penuh selidik. “Kau kenal orang itu?”

“Mungkin. Sepertinya aku pernah melihat nama itu dalam selebaran. Apa dia punya catatan kriminal?” tanya pemuda itu. 

“Sepertinya ada sedikit catatan tentang itu. Tunggu.” Chigiri membaca tulisan itu dengan cepat. “Ini dia! Kasus perampokan barang dagang.” Ia menunjukkan catatan yang ia temukan. “Insiden yang terjadi di kota perbatasan,” katanya dengan antusias. 

Isagi mengangguk paham. “Kalau begitu, sampai mana tadi penjelasannya?”

“Keluarga Nyonya Okichi!” Chigiri kembali memperbaiki posisi duduknya. “Mereka memiliki dua anak dan satu menantu. Anak pertamanya laki-laki bernama Yanagimoto Renjirou, bekerja di balai pengobatan sebagai tukang obat di ibukota. Anak keduanya perempuan, namanya Ritsuka. Ia menikah dengan seorang seniman dari wilayah Ikata, namanya Kuwahara Hideaki. Mereka berdua sama-sama penggiat seni dan tertarik pada sandiwara panggung.”

“Tidak sedang mengalami kesulitan ekonomi?” tanya Isagi memastikan. 

Chigiri menggeleng. “Entah. Kalau hanya dilihat dari permukaan, Ritsuka dan suaminya harusnya sedang mengalami kesulitan karena pertunjukan-pertunjukan seperti itu sedang sepi peminat,” jawab pemuda itu ala kadarnya. 

“Renjirou, ya…” Isagi menatap langit-langit rumahnya dengan penuh rasa ingin tahu. “Aku akan menyelidikinya nanti.”

“Terima kasih atas pengertianmu.” Chigiri melanjutkan penjelasannya. “Adik ketiganya, mendiang Tuan Eichi, meninggal hanya beberapa tahun setelah ia menikah. Istrinya berasal dari keluarga yang cukup agamis dari wilayah Ikata, namanya Shinohara Keiko. Mereka tidak punya anak. Ia hidup dari uang saku yang diberikan Tuan Shuichi padanya tiap tahun.”

“Dia—Tuan Shuichi, sangat kaya, ya?” Isagi berkata penuh keheranan. Ini pertama kalinya ia mendengar seseorang memiliki harta sebegitu banyaknya hingga mampu menghidupi semua anggota keluarganya. 

“Begitulah,” kata Chigiri menanggapi. “Ini, yang terakhir, Nyonya Machi.” Ia menatap Isagi dengan raut wajah yang penuh akan tekanan. “Dia yang bergumam kalau kematian kakaknya itu aneh.”

“Nyonya Machi terlihat sangat murung. Maksudku, dia memang wanita yang seperti itu. Ayahku selalu memperingatkanku untuk mengawasinya karena ia tak pernah bicara. Sama sekali tidak pernah! Itulah kenapa ucapannya membuatku kepikiran. Orang yang tidak pernah bicara sama sekali tiba-tiba berpikir kalau kakaknya mati dibunuh,” jelas Chigiri sambil menyisipi ucapannya dengan kata-kata pembelaan. 

Isagi tampak mulai tertarik pada persoalan itu. “Apa dia sudah menikah?”

“Iya.” Chigiri menganggukkan kepala. “Dia, secara tidak diduga, tumbuh menjadi gadis pembangkang. Pria yang dinikahinya adalah seorang nelayan dari pesisir pulau Iden, namanya Takemoto Isamu. Pernikahan mereka ditentang oleh keluarga—tentu saja. Jadi, mereka kawin lari. Suaminya itu mati sekitar satu dekade silam akibat kecelakaan kapal. Katanya, jasad pria itu hanyut dan tak pernah ditemukan hingga sekarang. Nyonya Machi menjanda sejak saat itu. Sekarang ia tinggal di Sadena, di sebuah rumah sewa kecil sambil bekerja sebagai pelayan rumah tangga. Dia juga diberi uang saku tiap tahun oleh kakaknya—Tuan Shuichi.” Pemuda itu menutup penjelasannya dengan meletakkan kertas-kertas itu kembali di atas meja. 

“Jadi, dari informasi sebanyak itu, menurutmu apa yang menyebabkan kematian Tuan Shuichi?” tanya Isagi. 

Chigiri menggelengkan kepala. “Aku juga tidak bisa menebaknya. Dokter yang menanganinya, Tuan Reiji, tidak mengatakan apapun karena semuanya baik-baik saja. Dia bilang, Tuan Shuichi memang diprediksi bisa bertahan hidup hingga dua tahun yang akan datang. Tapi, prediksi hanyalah prediksi. Datangnya ajal bukanlah sesuatu yang bisa diatur oleh dokter.”

“Aku mengerti.” Isagi menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi. “Obat-obatannya bagaimana? Apakah terbesit dalam pikiranmu kalau Tuan Shuichi kemungkinan diracuni?”

“Aku mempertimbangkan itu,” kata Chigiri. 

“Baiklah. Aku akan mencobanya. Tapi,” Isagi menyentuh pelipisnya dengan canggung lalu melanjutkan, “tidak ada hasil yang bisa aku janjikan. Mayat Tuan Shuichi juga sudah dikremasi. Jadi, kita tidak punya bukti apa-apa. Kau kan yang paling tahu kalau hal seperti ini dilakukan tanpa ada instruksi resmi akan menimbulkan sesuatu yang buruk. Maka dari itu, sebaiknya—”

“Iya, aku paham!” Chigiri mendengus pelan. “Aku bisa pergi ke rumah Nyonya Machi dan pura-pura butuh tanda tangannya untuk surat warisan atau semacamnya. Jadi, kau lakukan apalah itu terserah!”

Isagi tersenyum mendengarnya. Mungkin ini akan menjadi sedikit menantang karena kasus seperti ini terdengar sangat konyol di mata hukum. Chigiri bahkan bisa ditangkap karena tuduhan tak berdasar. Rasa penasaran yang menghantuinya itu bisa membunuhnya. Tapi, Isagi tahu betul bagaimana caranya menuntaskan perasaan seperti itu tanpa bersinggungan dengan hukum sedikitpun walau mungkin akan menghabiskan sedikit waktu. Mungkin saja. 

 


 

Nagawa merupakan wilayah sentral yang menjadi pusat kehidupan masyarakat di kontinen timur. Wilayah itu telah menjadi pusat perekonomian dan pemerintahan sejak ratusan tahun yang lalu. Lokasinya diapit oleh empat wilayah yang memiliki kondisi alam yang berbeda-beda. Sadena di utara yang dingin dengan pohon-pohon yang tumbuh rimbun, Ikata di selatan yang kaya akan perkebunan, Meiwa di timur dengan hasil pertanian yang melimpah, dan Iden di barat yang kaya akan hasil laut. Hal itu membuat Nagawa menjadi lokasi yang cocok untuk bertransaksi. 

Pagi itu, Isagi menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan sambil menunggu beberapa pemilik toko membuka tirai mereka. Setelah menghabiskan sore sebelumnya membicarakan kasus yang diada-adakan, ia memutuskan untuk menemui seseorang yang paling mudah ia ajak bicara. Kebetulan ibunya sedang sakit tenggorokan. Ia mungkin bisa memperpanjang percakapannya di pagi hari yang sepi itu. 

Balai pengobatan selalu terbuka, kapanpun dan dalam kondisi apapun. Mereka punya banyak tenaga medis yang kompeten. Obat-obatan yang mereka sediakan juga memiliki kualitas yang bagus dan khasiatnya selalu terbukti. Jadi, Isagi mengantisipasi keramaian yang mungkin terjadi di sana dengan datang pagi-pagi. Kakinya melangkah dengan tenang saat mengetahui gedung itu sepi pengunjung. 

Isagi melangkah ke sebuah tempat di ujung kanan yang khusus menjual obat. Ia sudah beberapa kali pergi ke tempat itu hingga ia bisa tahu berapa langkah yang dibutuhkan untuk tiba di depan sebuah meja panjang yang dijaga oleh dua sampai tiga apoteker itu. Pagi itu, hanya ada dua orang yang duduk sambil menulis sesuatu di atas lembaran kertas. Satu diantara mereka mendongak saat menyadari kehadiran Isagi. 

“Selamat datang.” Wanita itu menyapa dengan ramah. Ia meletakkan pena di tangan kanannya lalu segera berdiri dan melayani Isagi. “Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya butuh obat sakit tenggorokan,” jawab Isagi singkat. 

“Baik. Apakah anda memiliki resep dokter?” Wanita itu buru-buru mengambil sebuah buku dari laci mejanya. “Atau mungkin sudah pernah membelinya?”

“Ya, harusnya sudah pernah. Obat yang biasa dibeli atas nama Isagi Iyo.”

Mata wanita itu bergerak menyisir rentetan huruf di buku itu lalu menganggukkan kepala. “Ya, ada. Atas nama Nyonya Isagi dan—maaf, anda sendiri?”

Isagi sempat berpikir untuk menipu wanita itu namun ia membatalkannya. “Yoichi, Isagi Yoichi. Saya putranya.”

“Baik, Tuan Isagi Yoichi. Mohon tunggu sebentar. Akan saya racikkan obat tersebut terlebih dahulu,” katanya. Wanita itu sempat memperhatikan Isagi sejenak lalu beralih pada rekannya, memberitahu kalau dirinya akan meracik obat. Setelah itu, ia menghilang di balik pintu. 

“Apakah ia pekerja baru?” tanya Isagi basa-basi. 

Seorang pria yang sibuk dengan bukunya menatap Isagi penuh tanya. “Ya, dia anak baru. Apa anda sering datang kemari? Sepertinya ini baru pertama kali saya melihat anda.”

Isagi bisa menilai kalau pria di hadapannya cukup berhati-hati. “Saya datang kemari beberapa kali. Lebih tepatnya, ibu saya yang menghampiri meja ini, saya menunggu di depan,” ucapnya dengan nada bersahabat. Ia tampak berusaha mencairkan suasana canggung itu. 

“Saya mengerti. Saya bertemu dengan ibu anda beberapa kali,” katanya. 

“Dia sedikit tidak bersahabat dengan perubahan musim. Tiap kali kembali dari perjalanan jauh, tubuhnya jadi tak berdaya.” Isagi memperhatikan tempat itu dengan seksama. “Apakah anda sudah lama bekerja di sini?”

“Cukup lama.” Pria itu mengalihkan konsentrasi dari bukunya sepenuhnya. “Saya sudah berada di sini selama dua tahun.”

“Anda menyukai pekerjaan ini?” tanya Isagi.

Pria itu diam sejenak dan menatap Isagi dengan penuh selidik. “Ada masanya saya menyukai pekerjaan ini, ada masanya juga saya membenci pekerjaan ini. Tidak tentu. Saya rasa semua orang merasakan hal serupa.”

Isagi mengangguk setuju. “Saya rasa juga begitu. Mungkin hanya para bangsawan saja yang bisa menikmati waktu mereka sepanjang hari tanpa jenuh.”

“Saya rasa tidak juga,” sanggah pria itu. “Saya kenal bangsawan yang putus asa karena tak menemukan tujuan hidup. Ada juga yang sakit-sakitan dan tak memiliki anak. Cerita seperti itu sering saya dengar.”

“Menarik.” Isagi menaruh perhatian pada ucapan pria itu. “Apa yang dilakukan oleh bangsawan yang tak memiliki keturunan seperti itu? Saya berasal dari keluarga biasa. Lingkungan tempat saya tumbuh adalah lingkungan para pedagang yang sering keluar kota. Jadi, kondisi seperti itu tiba-tiba membuat saya penasaran.”

Pria itu tampak lebih santai saat mengetahui sedikit latar belakang yang Isagi ceritakan. “Setahu saya, mereka mewariskan harta mereka pada sanak saudara terdekat. Beberapa mungkin ada yang melanjutkan bisnis mereka, beberapa yang lainnya tidak. Sangat disayangkan kalau semua bisnis itu tak dilanjutkan, bukan?”

Obrolan mereka terganggu karena kedatangan seorang wanita paruh baya yang mendekat sambil membawa sebungkus plastik tanaman herba di tangan kanannya. Tubuhnya sudah renta dan jalannya bungkuk. Kalau bukan karena pria itu yang tiba-tiba mendekat dengan penuh rasa marah, Isagi mungkin sudah membantunya. 

“Sudah kubilang, jangan datang lagi!” bentak pria itu keras. Otot-otot wajahnya menegang.

Dengan tubuh bergetar karena terkejut, wanita itu mengulurkan barang yang ia bawa. “T-tapi, mereka bilang saya bisa menjual ini di—”

“KAMI TIDAK BUTUH!”

“Tuan, s-saya mohon,” kata wanita itu. 

“Ada keributan apa ini?” tanya sebuah suara yang muncul dari balik pintu. “Renjirou, kenapa berteriak?”

Pria itu mendengus. “Lihatlah orang tua ini. Sudah diberitahu berkali-kali kalau apotek kita tidak membeli tanaman herba secara sembarangan tapi dia bersikeras datang kemari.”

“Astaga! Kau sebaiknya duduk kembali, Ren.” Saran wanita itu. Ia buru-buru mendekati wanita paruh baya di depan meja. “Maaf, bu. Kami tidak bisa menerimanya karena aturan dari balai kesehatan sudah ditetapkan bahwa kami hanya bisa menyuplai tanaman obat dari pihak-pihak yang sudah disetujui,” jelasnya. 

Wanita paruh baya itu hanya mengangguk lemah lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan lesu. Sepertinya kejadian ini sudah terjadi berkali-kali. 

“Dia sudah pikun.” Wanita itu kembali ke mejanya lalu menulis lagi. “Maaf sudah membuat keributan, Tuan Isagi.”

“Tidak apa-apa,” kata Isagi. 

Sementara wanita itu sibuk menulis, Isagi memperhatikan Renjirou yang masih berdiri di tempat yang sama sambil menatap tajam ke arah pintu masuk. Gelagatnya seperti orang yang sedang mengantisipasi bahaya. Padahal tidak ada siapa-siapa di sana. 

“Silahkan.” Wanita itu menyerahkan sebungkus obat kepada Isagi. “Saya sudah menuliskan detailnya di dalam kertas. Untuk pembayarannya, ayah anda sepertinya sudah memesan obat ini secara berkala. Jadi, anda tidak perlu membayarnya lagi.”

“Baik, terima kasih banyak,” kata Isagi. 

Pemuda itu bergegas pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Mengetahui ada yang tidak beres pada Renjirou, ia merasa harus menelusurinya secara pribadi melalui seseorang. Jadi, ia memutuskan untuk segera pergi menemuinya sebelum jam makan siang tiba. 

Saat kakinya melangkah keluar dari bangunan itu, ia berpapasan kembali dengan wanita paruh baya yang tadi menawarkan barang dagangannya. Isagi melirik sekilas ke arah tangan kanannya. Dilihatnya seikat tanaman yang cukup sering ia jumpai di sekitar pinggiran kota. Sebelum detik kesepuluh, tangannya sudah bergerak menepuk pelan bahu wanita paruh baya itu. 

“Bolehkah saya beli tanaman herba itu?” tanya Isagi. 

Wanita paruh baya itu membelakkan mata. “Sungguh? Kau mau? Tentu boleh!”

Pada akhirnya, Isagi kembali ke rumah sambil membawa obat untuk ibunya dan sebungkus daun herba yang ia dapatkan tanpa direncanakan. Sebelum ia sempat memberi penjelasan lebih lanjut pada ibunya, kakinya sudah kembali bergegas pergi. Ia mengitari jalanan sepi ke arah utara lalu memasuki sebuah hutan. Di tempat itu, Isagi tahu betul orang itu selalu ada di sana. 

 


 

“Tumben, Sa.” Sebuah suara yang familiar berhasil tertangkap oleh indra pendengaran Isagi. “Masih pagi, lho.”

Isagi menengadah. Ia mendapati seorang pemuda sedang duduk santai di atas pohon. “Cuma penasaran, kok. Sedikit.”

Pemuda itu menguap sekali lalu berkata setengah mencemooh, “Kau sampai menyuruhku mencari data beberapa orang, bukan satu atau dua tapi dua puluh. Dua puluh! Pasti bukan hanya karena penasaran, kan? Itu alasan yang konyol.”

“Sebenarnya bukan aku, tapi Chigiri.” Isagi memilih untuk duduk di bawah pohon itu. Mata birunya menatap kosong ke arah jemari tangannya yang tertaut satu sama lain. “Kemarin dia datang menemuiku dan menceritakan hal yang sebenarnya tidak menjadi masalah besar.”

Isagi mulai menceritakan duduk perkaranya. Ia memberikan informasi yang sesuai dengan apa yang Chigiri ceritakan tanpa ada satupun informasi yang tertinggal. Sementara ia menjelaskannya secara gamblang, pemuda yang ia ajak bicara memperhatikannya dengan seksama.

“Jadi, itu kasus yang terlahir dari pemikiran pribadi?” tanya pemuda itu sesaat setelah Isagi selesai menjelaskan. 

“Bisa dibilang begitu. Kasus yang diada-adakan, begitu aku menyebutnya.” Isagi menengadah lagi. “Jadi, apa yang bisa kau berikan kepadaku?”

Pemuda itu melompat turun lalu melempar segulung kertas. “Hanya itu. Aku tidak sempat menulis semuanya,” katanya. 

Isagi menerima gulungan itu dengan senang. “Kau memang bisa diandalkan. Terima kasih.”

“Tidak gratis!” pemuda itu duduk di samping Isagi. “Kau juga harus melakukan sesuatu untukku.”

Isagi menaikkan sebelah alisnya dengan heran. “Lalu kau hanya akan menungguku kembali dengan malas sambil tidur di atas pohon?”

“Itu bagian dari pekerjaanku,” bela pemuda itu. 

“Aku tidak mengerti kenapa kau bisa bekerja di badan intelijen,” kata Isagi.

“Ucapkan hal yang sama pada dirimu! Ah, intinya bukan itu. Ini jauh lebih penting.” Pemuda itu menatap area sekitarnya dengan waspada. “Ini juga sesuatu yang terlahir dari pemikiran seseorang. Lebih tepatnya, pemikiranku sendiri.”

“Tidak ada orang di sini. Aku bisa memastikannya,” kata Isagi. 

“Ini berkaitan dengan mata-mata.” Pemuda itu tetap merendahkan suaranya meski Isagi sudah memberitahu kalau tidak ada siapapun di sana kecuali mereka berdua.

Isagi menatapnya penuh rasa ingin tahu. “Mata-mata?”

Pemuda itu mengangguk. “Iya.”

“Nagi, sebaiknya jangan bertele-tele!” Isagi memperingatkan. 

“Baiklah, baiklah. Dengarkan baik-baik.” Pemuda yang dipanggil Nagi itu memulai ceritanya. “Di salah satu dari lima kuil besar di Sadena, tepatnya di kuil Nagayama, ada seorang wanita yang mencurigakan. Data dari pencatatan sipil mencatat identitasnya sebagai anggota keluarga Aguri. Kalau kau tidak tahu, keluarga Aguri merupakan salah satu keluarga yang pernah terlibat dalam kasus pemberontakan sekitar tiga ratus tahun yang lalu. Rumor menyebutkan bahwa keluarga itu diusir keluar kontinen hingga tak tersisa seorangpun.”

Nagi mengambil ranting kayu lalu menggambarkan sesuatu di atas tanah sambil melanjutkan ceritanya. “Sadena adalah wilayah yang paling kuat. Mereka memiliki kewenangan sendiri hingga membuat pemerintah pusat khawatir akan terjadinya kasus serupa. Seperti yang kau tahu, lima kuil yang berada di sana dipimpin oleh masing-masing petinggi.”

“Tunggu dulu.” Isagi menyela. “Apa yang membuatmu curiga pada wanita itu?”

“Kalau aku bilang karena penampilannya, apa kau akan percaya?” tanya Nagi. 

“Penampilan?” Isagi balik bertanya dengan keheranan. Ia merasa Nagi bukanlah tipe orang yang menilai seseorang dari penampilannya. 

“Begini,” Nagi membuang ranting kayu di tangannya lalu menatap kosong pada hasil gambarnya. “Aku mencurigai petinggi kuil Nagayama sedang merekrut orang-orang khusus untuk membentuk pasukan. Seminggu terakhir ini aku menyelidiki pergerakan mereka terutama di malam hari. Lalu, wanita dari keluarga Aguri ini muncul entah dari mana. Maksudku, dia tiba-tiba ada di sana seolah tahu kalau kuil itu sedang diawasi. Aku bergegas pergi untuk mencari tahu tentang identitasnya karena dia terlihat sangat asing. Aku bersumpah kau juga akan merasakan hal yang sama anehnya kalau bertemu dengan wanita itu.”

“Apa penampilannya mencolok?” tanya Isagi. 

Nagi menggelengkan kepala. “Kebalikannya. Penampilan wanita itu sangat normal. Ia selalu mengenakan pakaian kuil, rambutnya pendek sedikit ikal, dan tubuhnya cukup tinggi. Mungkin lebih pendek darimu sekitar lima sampai delapan senti.”

“Aku tidak mengerti,” keluh Isagi. Ia masih tak bisa menangkap apa yang sedang Nagi khawatirkan. “Maksudku, bisa saja dia bekerja di kuil lain sebelum dipindahtugaskan ke Nagayama. Mungkin juga dia tinggal jauh di ujung utara atau mungkin dia baru datang kembali ke Nagawa setelah sekian ratus tahun reputasi keluarganya tidak bagus.”

“Aku memikirkan hal yang sama pada awalnya,” ucap Nagi dengan nada frustasi. “Masalahnya, dia benar-benar tidak berasal dari manapun. Tidak ada catatan kalau dia baru masuk ke kontinen. Tidak ada catatan juga kalau dia tinggal di ujung utara. Satu-satunya catatan yang ada hanyalah data tentang kelahirannya—yang menurutku palsu, pekerjaannya, dan alamatnya saat ini. Aku telah menelusuri semua data tentang semua orang yang datang dan pergi, yang bekerja di semua kuil dalam lima puluh tahun terakhir, dan yang tinggal di lokasi yang paling utara. Tidak ada informasi sama sekali. Aku merasa wanita ini seperti jatuh dari langit.”

Isagi menatap rekannya dengan penuh simpati. Ia tahu betul kalau Nagi adalah orang yang memiliki daya ingat yang kuat. Apalagi nama Aguri merupakan nama yang cukup mencolok untuk digunakan pada saat seperti sekarang. Selain sejarahnya yang cukup kelam, nama itu juga terdengar sedikit kuno. Tidak ada orang yang memiliki nama seperti itu dalam lima puluh tahun terakhir. 

“Jadi intinya,” Nagi melanjutkan, “kalau kau pergi ke Sadena, cobalah mampir ke kuil itu dan temui wanita Aguri ini. Menurutku dia terlihat sangat terlatih dalam melakukan semacam kontra spionase. Selagi kau menilai gelagatnya yang luar biasa normal itu, aku akan menyelidiki orang-orang di pencatatan sipil karena aku yakin data wanita ini diselundupkan oleh seseorang.”

Isagi akhirnya mengerti kemana arah pembicaraan ini. “Baiklah, aku paham. Tapi, ada satu hal yang ingin aku tanyakan.” Isagi menatap rekannya dengan penuh selidik. “Apakah menurutmu ada kemungkinan dia lahir dan tumbuh di tempat lain? Atau lebih gilanya lagi, dia tidak berasal dari kontinen timur sama sekali.”

“Benar. Ada kemungkinan seperti itu,” ucap Nagi mengiyakan. 

“Aku mengerti,” kata Isagi. 

Nagi menatap rekannya dengan penasaran. “Memangnya kenapa?”

“Hanya dugaanku saja. Kalau dia bukan orang kontinen timur, kemungkinan besar dia mata-mata dari luar kontinen dan sepertinya rencana pemberontakan itu benar-benar ada.” Jawab Isagi dengan penuh keyakinan.

 


 

Tidak ada yang menyangka kalau ucapan seseorang bisa mengantar Isagi pergi ke Nagayama tanpa mempertanyakan apapun. Usai makan siang, ia buru-buru membeli tiket kereta dengan keberangkatan paling cepat. Ibunya sempat bertanya apakah terjadi sesuatu yang genting. Tentu Isagi hanya menjawabnya dengan kata-kata seperti ada urusan pekerjaan atau ia perlu bertemu dengan beberapa teman, yang mana keduanya adalah benar—kecuali bagian temannya. 

Isagi duduk di samping jendela sambil membaca catatan yang diberikan oleh Nagi. Meski tulisan itu nyaris tak bisa dibaca, ia masih bisa memahami beberapa bagian penting yang berusaha pemuda itu sampaikan. Mungkin ini menjadi satu-satunya hal yang menjadikannya anggota unggulan. Kemampuan untuk mendapat informasi yang cepat ini membuatnya bekerja di bagian yang paling banyak santainya daripada yang lain. Berbeda dengan Isagi yang sering bertugas keluar kota, Nagi lebih banyak menghabiskan waktu di kantor sambil menyusun dan mengolah data. Pemuda itu hanya keluar kalau memang disuruh secara langsung oleh atasan mereka. 

Tiga jam kemudian, kereta yang Isagi tumpangi tiba di stasiun. Ia secara resmi menginjakkan kaki di wilayah Sadena. Dalam hati ia bersyukur karena kuil yang Nagi maksud berlokasi tepat di perbatasan. Jadi, tak perlu memakan banyak waktu untuk tiba di sana. 

Kuil Nagayama merupakan kuil yang megah dengan nuansa merah yang cukup mencolok. Tempat itu selalu ramai dikunjungi tiap pagi dan sore. Umumnya orang-orang yang berkunjung hanya datang untuk berdoa. Apalagi kuil itu terkenal akan mitos kelanggengan hubungan asmara yang terkenal di penjuru negeri. Hal itu membuat kuil tersebut banyak dikunjungi oleh orang-orang yang masih muda. 

Isagi berjalan santai sambil melihat-lihat area itu dengan seksama. Selain pengunjung yang banyak, para miko—penjaga kuil—yang bertugas juga jumlahnya tak sedikit. Dari depan sampai ke area pusat, jumlah mereka ada dua puluh tiga orang. Namun, tidak ada yang mencurigakan sama sekali. Mereka semua hanyalah miko biasa. 

Selagi terus mengawasi sekitarnya, Isagi melangkah semakin jauh ke tengah-tengah kuil. Ia menemukan barisan orang yang berdoa dan beberapa orang yang melakukan tes keberuntungan di sisi kanan kirinya. Namun, ia kembali dihadapkan pada kesimpulan yang sama. Tak seorangpun dari mereka tampak mencurigakan.

Kedua kakinya membawanya memasuki area terbuka di bagian belakang. Di tempat itu, ada bangunan khusus untuk tamu-tamu terhormat seperti para pejabat dan bangsawan. Tempatnya berdiri dan bangunan itu dipisahkan oleh kolam ikan yang cukup besar. Satu-satunya penghubung untuk mencapai tempat itu hanyalah sebuah jembatan kokoh yang dicat emas kekuningan yang dihiasi tali dan bel-bel kecil di kiri kanannya.

Isagi diam sebentar. Ia merasa kalau seseorang juga sedang mengawasinya. Apabila orang itu tahu kalau dirinya juga sedang mengawasi, ia akan mengalami kesulitan untuk menemukan orang itu. Isagi tahu kalau kesempatannya hanya sekali. Jadi, ia akan bertaruh pada momen ini, sekarang juga. 

Matanya menatap bangunan itu dengan penuh rasa ingin tahu. Dia berharap lebih agar wajahnya terlihat sepolos mungkin agar orang itu mau datang menghampiri dan menegurnya. Isagi cukup percaya diri dalam melakukan ini. Orang-orang selalu melihatnya seperti orang bodoh yang suka ingin tahu urusan orang. Jadi, sudah menjadi kebiasaan baginya untuk terlihat seperti orang yang selalu diremehkan. 

“Permisi,” tegur sebuah suara dari belakang Isagi. 

Isagi menoleh, mendapati seorang wanita yang persis seperti apa yang Nagi deskripsikan. Dilihat sekali pandang saja, ia sudah tahu kalau wanita di depannya adalah orang asing. Sekarang ia mengerti apa yang Nagi bicarakan pagi tadi. 

“Oh, maaf,” kata Isagi. Ia mundur selangkah lalu menunduk sopan. “Ada yang bisa saya bantu?”

Wanita itu menatap Isagi dengan tatapan yang sulit dimengerti. “Itu harusnya menjadi pertanyaanku.” Katanya dengan nada yang tajam. “Apa yang sedang anda lakukan di sini? Ini bukan tempat untuk berdoa.”

“Saya hanya sedang melihat-lihat lalu tiba-tiba sampai kesini,” jawab Isagi sekenanya. Ia tidak memikirkan hal lain selain cara untuk memperpanjang interaksi ini. Jadi, ia mundur selangkah lagi. “A-apa tempat ini dilarang untuk dikunjungi?”

“Tentu saja. Ini wilayah pribadi, tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang,” katanya sambil berkacak pinggang.

Sangat mendalami peran, pikir Isagi. Hampir semua miko yang bekerja untuk melayani pengunjung melakukan hal serupa tiap kali menemukan satu orang bandel—atau sebut saja tidak memiliki kesadaran diri—yang memasuki area-area terlarang. Isagi sudah mafhum akan tindakan tersebut jadi sepertinya ia akan menggunakan hal itu sebagai umpan.

Kakinya mundur selangkah lagi. “Saya minta maaf, Nona,” katanya sambil membungkuk.

“Iya, baiklah. Silahkan per—OH TUHAN!”

Isagi terperosok. Tubuhnya jatuh ke kolam di belakangnya. Tangan wanita itu berusaha menggapainya namun tak sempat. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah berusaha untuk mencapai tubuh Isagi yang mulai lenyap ke dasar kolam. Sedikit meleset dari apa yang Isagi pikirkan, kolam itu ternyata lebih dalam dari perkiraannya. Mungkin karena ikannya terlalu banyak sehingga dasar kolam itu tertutup sempurna, jadi Isagi sedikit tidak menduga kalau kolamnya tidak sedangkal yang ia perhitungkan.

“TUAN! ANDA BAIK-BAIK SAJA?” teriak wanita itu.

Tentu Isagi baik-baik saja. Dia bukan seorang amatiran yang tidak bisa melakukan apa-apa. Namun, kali ini ia harus bersandiwara sebaik mungkin. Jadi, ia harus pura-pura kesulitan.

Wanita itu melipat lengan bajunya dan menyingkap rok panjangnya agar bisa membantu Isagi naik ke permukaan. Ditariknya tubuh pemuda itu sekuat mungkin. Paling tidak ia harus membuat kepala pemuda itu keluar dari air.

“TUAN! ANDA BISA MENDENGAR SAYA?” wanita itu merasakan respon dari tubuh pemuda itu. “RILEKSKAN TUBUH ANDA!”

Isagi melakukan apa yang diintruksikan oleh wanita itu tanpa protes. Tubuh bagian atasnya berhasil menghirup udara segar beberapa saat sebelum ia merasakan sentuhan hangat di kedua sisi wajahnya. Begitu matanya terbuka, matanya langsung menemukan wajah yang menatapnya dengan penuh rasa khawatir. Entah kenapa, sedikit bagian dari hatinya berharap kalau tatapan itu bukanlah sekadar sandiwara. Wanita itu benar-benar tidak tampak seperti orang yang cocok menjadi mata-mata.

“Anda baik-baik saja?” tanya wanita itu.

Isagi terbatuk beberapa kali sebelum akhirnya bisa menganggukkan kepala. “U-uh, iya.” Katanya singkat.

“Sebaiknya kita ke ruang pengobatan sekarang,” saran wanita itu sambil membantu Isagi keluar dari kolam. “Anda masih bisa berdiri, kan?”

“Bisa. Terima kasih.”

Meski harus melakukan cara yang sedikit memalukan, paling tidak itu berhasil membawa Isagi masuk ke dalam percakapan yang lebih panjang. Mungkin akan sedikit lebih dalam juga.

 


 

Ruang pengobatan di kuil itu cukup besar. Ada beberapa bilik yang sepertinya banyak digunakan oleh para pengunjung yang merasa tidak enak badan dan ada juga ruangan khusus yang mungkin digunakan oleh orang-orang tertentu. Isagi dibawa ke salah satu bilik yang ada di paling ujung. Pemuda itu paham betul kalau wanita yang membawanya ini sedang menaruh curiga padanya.

Wanita itu memberinya pakaian kering lalu membiarkan Isagi mengganti pakaiannya sendiri sebelum kembali lagi sambil membawa sekotak obat-obatan. Sambil menunggunya, Isagi mengamati bilik itu. Satu-satunya yang memisahkan satu bilik dengan bilik lainnya hanyalah sebuah papan tipis dengan sehelai tirai sebagai pintunya. Sudah dipastikan wanita itu membawanya ke bilik yang paling ujung agar pembicaraan mereka tidak terdengar oleh siapapun.

“Apa kau merasa tubuhmu tidak enak?” tanya wanita itu begitu memasuki bilik. Ia langsung meletakkan barang yang ia bawa ke atas nakas kecil dan berbicara sambil membelakangi Isagi. “Ada beberapa obat herbal yang bagus untuk meningkatkan imun tubuh. Ada juga pil vitamin dan beberapa minuman penambah energi. Apa kau perlu sesuatu?”

Isagi tampak menimbang selama beberapa saat. Ia tahu banyak gaya komunikasi yang biasanya digunakan oleh mata-mata. Jadi, sebaiknya ia harus segera menentukan mesti menggunakan percakapan yang seperti apa.

“Apa kau punya pil penambah darah?” tanya Isagi. Ia berekspektasi cukup tinggi pada jawaban yang akan ia dapatkan.

Tangan wanita itu bergerak mencari sesuatu di dalam kotak yang ia bawa. “Ada. Doparden atau Aesrolin? Apa yang biasanya kau minum?”

Isagi mengangkat sebelah alisnya dengan heran. Wanita itu menyebut obat-obatan menggunakan nama kandungan asli dari tanamannya, bukan nama obat yang sudah diracik yang biasanya dijual di balai pengobatan. Tipe mata-mata yang mungkin banyak bekerja di lingkungan medis, pikir Isagi. Sepertinya wanita itu juga sedang berusaha memancingnya untuk berbicara secara terang-terangan.

“Oh, kami hanya menyebutnya sebagai pil penambah darah, Nona.” Isagi bangkit dari duduknya. “Apakah anda sebelumnya bekerja di balai pengobatan?” tanya pemuda itu.

“Aku tahu beberapa macam obat. Acleopart, Ealettosse, atau Ephrum. Aku pikir itu cukup terkenal di sini,” kata wanita itu tak acuh.

Omong-omong, itu obat bius, batin Isagi. Ia pernah sekali diberi cairan Ephrum saat bertugas mengawal seorang pejabat dari kontinen selatan. Beruntung saat itu dosisnya tak cukup banyak untuk membunuhnya.

Isagi tersenyum canggung lalu berkata, “Ya. Tentu saja. Bagi orang-orang yang bekerja di bidang seperti itu, nama-nama ilmiah memang lebih sering digunakan.”

Wanita itu berbalik dan mengulurkan sebotol kecil pil berwarna merah. “Obatmu.” Katanya.

“Terima kasih,” ucap Isagi sambil menerima botol itu. Ia mengambil sebutir pil lalu menatap wanita di depannya dengan penuh rasa ingin tahu. “Seingatku, pil penambah darah itu bentuknya bulat dan kecil. Apa ini varian baru?”

Wanita itu menatap Isagi dengan tajam. “Sepertinya begitu. Lagipula bahan dasarnya sama kan? Menurutku hasilnya sama saja.”

Isagi sadar betul kalau wanita itu memiliki pesona yang luar biasa. Mata tajamnya itu—meski menakutkan—memberikan hipnotis yang begitu membuai seolah menyuruhnya melakukan apapun yang wanita itu perintahkan tanpa memberinya celah untuk membantah. Wajahnya yang dingin memiliki fitur yang mengesankan seperti pahatan patung yang sempurna. Anak rambut yang membingkai kedua sisi wajahnya memberi kesan yang sangat tinggi, membuatnya terlihat elegan dan berkasta. Apabila orang-orang betul-betul memperhatikannya, mereka pasti bertanya-tanya kenapa wanita sepertinya bekerja di kuil.

Wanita memang makhluk yang paling berbahaya di muka bumi.

“Baiklah. Terima kasih,” ucap Isagi. Ia meminum pil itu sekali teguk meski tahu kalau benda itu akan sedikit membuatnya kesulitan semalaman suntuk.

Wanita itu berbalik, membelakangi Isagi lagi untuk merapikan kotak obat yang ia bawa. Sebelum semuanya terlambat, Isagi bergerak lebih cepat untuk menghindari adanya keributan yang tidak diinginkan. Tangannya bergerak menarik kedua tangan wanita itu ke belakang tubuhnya. Ia menjatuhkan wanita itu ke lantai dengan sedikit keras lalu menahannya menggunakan salah satu lututnya. Isagi pikir itu seharusnya sudah cukup untuk melumpuhkan wanita itu.

“Saya tidak ingin buang-buang waktu,” kata Isagi tegas. Matanya menangkap raut kaget wanita itu dengan tajam. “Sebaiknya anda mengatakannya sekarang.”

Wanita itu berdecak kesal lalu melirik Isagi sekilas. “Apa yang anda bicarakan?”

“Bukankah anda juga mencurigai saya sejak awal?” tanya Isagi sambil mengencangkan cengkeramannya.

Wanita itu bergerak dengan tidak nyaman. “L-lepaskan dulu!”

“Tidak. Tidak akan saya lepaskan sampai saya mendengar sesuatu yang memuaskan,” kata Isagi tak acuh.

Sebenarnya ini juga bukan cara yang baik. Namun, Isagi benar-benar kehabisan waktu. Ia merasa jauh lebih berbahaya kalau ia terlalu banyak berbicara secara baik-baik dengannya. Namun, meski ia berusaha berpikir kalau itu cara yang benar, setengah hatinya merasa bersalah karena wanita itu sepertinya cukup syok dan terus menatapnya dengan tatapan tak menyangka. Apakah Isagi terlalu kasar?

“Aku akan mengatakan sesuatu, tapi tidak semua. Jadi, sebaiknya kau beri aku beberapa pertanyaan,” saran wanita itu.

Isagi menganggukkan kepala. “Baik, aku mengerti.” Ia melirik ke area sekitarnya untuk memastikan tak ada seorangpun di sekitar sana. Sekiranya merasa aman, ia memberi pertanyaan pertama. “Dari mana kau berasal?”

Wanita itu manatap heran. “Apa aku tidak terlihat seperti orang-orang kontinen timur?”

“Hah! Kau bercanda?” Isagi mendengus kesal. “Kau pikir pengalamanku seminim apa sampai hal-hal sepele seperti ini tak bisa kuketahui?”

“Padahal orang-orang bilang aku sudah sangat mirip,” gumam wanita itu tanpa sadar. Ia kembali menatap Isagi yang masih duduk dengan santai di atas tubuhnya. “Ya, aku mengerti. Aku juga tidak akan berbohong mengenai hal ini. Aku adalah agen mata-mata dari Strieburg, kau tahu? Kontinen barat. Aku sedang dalam misi untuk mengikuti perkembangan rencana pemberontakan dan semacamnya. Lalu—”

“Tunggu sebentar!” Isagi menyela. Meski tahu kalau wanita itu tidak berbohong, rasanya tetap aneh mendengar seseorang menjelaskan identitasnya sebagai mata-mata sesantai itu. “Kenapa kau bisa mengatakannya semudah itu?”

“Kau pikir sejak kapan aku tahu kalau aku diawasi?” Wanita itu berdecak lagi. “Aku sudah memperhitungkan ini. Aku juga tahu kau orang dari badan intelijen atau semacamnya. Temanmu yang berambut putih itu sangat tidak jago. Dia payah sekali.” Jelasnya.

“Omong-omong, kau juga sama payahnya,” kata Isagi setengah mengejek.

“Asal kau tahu! Aku ini sedang berusaha memancingmu. Jangan berpikir kalau hanya kau saja yang tahu apa yang sedang terjadi di sini!” kata wanita itu dengan kesal.

Isagi tersenyum puas lalu melanjutkan pertanyaannya. “Lalu, sampai dimana kita?”

“Pemberontakan,” kata wanita itu. “Kau pasti sudah menduganya, kan?”

“Aku memperhitungkan kemungkinan itu.” Isagi menatap wanita itu dengan penuh rasa ingin tahu. “Jadi, itu benar-benar sedang direncanakan?”

“Ya. Tentu saja.” Wanita itu menghirup napas panjang dengan sedikit kepayahan lalu beralih menatap lantai di bawahnya sambil menerawang. “Mereka—siapa namanya? Nobumasa? Petinggi kuil utama, Yahatsukawa, melakukan transaksi ilegal melalui perairan kontinen barat. Badan intelijen Strieburg menemukan indikasi pembelian perlengkapan militer secara ilegal yang jumlahnya sangat banyak dari arah Espyrius ke Sadena. Itu terjadi selama kira-kira sejak lima minggu yang lalu. Jadi, mereka mengirimku kesini untuk mengawasi perkembangannya.”

“Apa hubungannya dengan Strieburg? Kalian kan cukup memberi laporan saja. Kenapa repot-repot menugaskan mu di sini?” tanya Isagi.

“Tadinya aku juga bertanya-tanya tentang itu,” katanya. “Semuanya tidak ada hubungan apa-apa dengan Strieburg sampai ada satu jalinan komunikasi yang mencurigakan. Aku masih belum tahu siapa yang sedang berbicara dengan siapa. Tapi, aku pasti akan menemukannya tak lama lagi.”

Isagi sedikit terhibur mendengarnya. “Apa komunikasi ini ada hubungannya dengan transaksi ilegal itu?”

Wanita itu mengangguk. “Itu yang dicurigai oleh pimpinanku. Setidaknya ada tiga orang yang sekarang ada dibawah pengawasanku. Seorang duta besar yang sedang bertugas di wilayah ini, seorang bangsawan pemilik usaha kayu atau semacamnya, dan seorang petinggi di Sadena yang memiliki pengaruh besar. Aku yakin kau juga tahu tentang mereka, kan?” tanya wanita itu memastikan.

“Ya, sedikit. Tapi, itu bukan tugasku,” kata Isagi.

“Apa?” wanita itu menoleh. “Kalau itu bukan tugasmu, lantas apa yang sedang kau lakukan sekarang?”

“Entahlah.” Isagi mengedikkan bahu. “Pastinya itu sesuatu yang tidak perlu kau tahu. Tapi, terima kasih atas informasinya. Aku bisa menerka sebuah adegan pembunuhan karena itu.”

Wanita itu menyipitkan mata lalu membuang muka. “Kalau begitu, lepaskan aku!”

“Tunggu sebentar. Aku punya satu pertanyaan terakhir.” Isagi menahan kedua tangan wanita itu kuat-kuat. “Beritahu aku beberapa jenis tanaman yang mematikan, sesuatu yang bisa membunuh tanpa meninggalkan bekas hingga kematiannya terlihat normal.”

“Kau mau membunuh siapa?” tanya wanita itu.

“Bukan siapa-siapa.” Kata Isagi. “Kau tahu? aku punya keyakinan kalau jawabanmu bisa membantuku mengungkap sesuatu. Nah, beri aku satu nama dan aku akan melepaskanmu.”

“Sebenarnya ada banyak sekali dan penggunaannya berbeda-beda. Jadi, aku tidak bisa memberi satu nama saja.” Wanita itu melirik Isagi penuh curiga namun ia tetap memberi jawaban. “Kalau aku mau membunuh seseorang tanpa ketahuan, aku akan memilih untuk menggunakan Opharile. Itu bahan yang paling mudah kita dapat. Tapi, kurasa hanya pembunuh amatiran yang akan menggunakan tanaman itu. Jadi, tanaman seperti Athriyiscus atau Ebliscion akan memberi lebih banyak keuntungan. Sayangnya itu bukan tanaman yang bisa ditemukan di kontinen timur.”

“Kau meremehkan seorang pembunuh, Nona.” Isagi melonggarkan cengkeramannya lalu bangkit dari tubuh wanita itu. “Terkadang mereka itu sangat cerdas. Jadi, apakah tanaman itu sebaiknya dilarutkan dalam makanan?”

“Tapi, pembunuh itu tidak ada yang bijak. Kalau kau bisa menangkapnya, mereka harusnya tak lebih cerdas darimu, benar?” wanita itu terduduk lalu melanjutkan, “dan ya, kau bisa mencampurkan tanaman itu ke dalam makanan. Tapi, tentu saja ada cara yang lebih baik. Oh, omong-omong,” wanita itu menoleh pada Isagi dan memandangnya dengan penuh rasa puas. “Semoga berhasil. Aku harap kau tidak mengacau. Maksudku, kau sendiri yang memilih untuk meminumnya.” Katanya.

Isagi mendengus pelan. “Aku akan mendatangimu untuk meminta pertanggungjawaban,” ujarnya setengah mengancam.

“Maaf, aku tidak dibayar untuk itu, Tuan. Lagipula kau hanya minum satu butir,” kata wanita itu dengan santai.

Isagi melepaskan cengkeramannya lalu berdiri. Ia menatap jengkel ke arah wanita itu lalu berkata, “Satu butir obat perangsang itu sudah lebih dari cukup untuk membuat seorang pria menghabisimu semalaman, tahu!”

“Mengerikan! Semua pria di dunia ini sepertinya hanya ditakdirkan untuk melakukan perbuatan yang tidak pantas.” Wanita itu berdiri sambil tertawa. Ia mengibaskan pakaian kuilnya lalu balas menatap Isagi dengan jahil. “Aku tinggal di belakang kuil ini. Ah, kau pasti sudah tahu, ya? Hm, barangkali kau perlu tempat untuk bermalam.”

Isagi menggertakkan gigi sekali lalu membuang muka. “Jangan menggodaku, Nona. Kau terdengar jauh lebih mengerikan sekarang!”

Tak mau jatuh terlalu dalam ke perangkap tak senonoh yang dibuat oleh wanita itu, Isagi memilih untuk keluar dari tempat itu. Meski ia mengakui dengan kesungguhan hati kalau wanita itu memang cantik, tapi—hei! Isagi tidak bekerja untuk melakukan hal yang seperti itu. Tidak boleh. Sebaiknya ia memikirkan suatu kegiatan yang bisa membantunya terdistraksi dari pengaruh obat itu mulai dari sekarang.

 


 

Paginya, Isagi terjaga karena mendengar berita yang cukup mengejutkan dari Chigiri. Pemuda itu mengiriminya sebuah surat yang hanya berisi satu kalimat. Orang yang mengantar surat itu juga merupakan orang-orang dari keluarganya—keluarga Chigiri merupakan orang yang sangat berada—hingga Isagi tak lagi bisa bermain-main dengan permintaan aneh yang diajukan oleh pemuda itu. Pagi itu juga, Isagi memutuskan untuk segera pergi untuk menemui kawan pengacaranya itu.

Tak butuh waktu lama bagi Isagi untuk segera tiba di tempat yang sudah dijanjikan. Dari halaman depan, ia sudah melihat keramaian yang diakibatkan atas kejadian mengejutkan yang menimpa seseorang yang harusnya menjadi kunci akan permasalahan yang Chigiri risaukan. Ia menemukan kawannya itu di pintu masuk ditemani seseorang dari badan keamanan wilayah itu. Wajah frustasinya membuat Isagi yakin kalau pemuda itu belum sempat mengatakan apa-apa pada kliennya.

“Oh, di sini, Sa,” kata Chigiri sambil melambaikan tangan begitu ia menangkap presensi Isagi di kediaman itu.

Isagi berjalan ke arah pemuda itu lalu menyalaminya. “Benar-benar fantastis,” komentarnya.

“Apa ini? Kenapa kau di sini juga?” tanya pemuda jangkung di samping Chigiri.

“Inilah yang aku sebut dengan kasus yang diada-adakan.” Isagi meninju pelan lengan pemuda jangkung itu. “Meski aku sangat percaya diri tapi aku perlu sesuatu yang lebih menjanjikan,” katanya sok misterius.

“Barou, Isagi hanya akan menjadi asistenku. Yah, sebut saja begitu,” bela Chigiri.

Pemuda jangkung yang dipanggil Barou itu mendengus. “Aku tidak mau ada kekacauan. Sebaiknya kau bekerja diam-diam saja.”

“Aku mengerti,” kata Isagi. “Jadi, bagaimana perkembangannya?”

“Sudah dievakuasi,” jawab Barou. “Kunigami ada di dalam, masih melakukan penyidikan. Barangkali kau mau bantu.”

“Itu bukan pekerjaanku, lho.”

“Anak ini!” Barou nyaris memukul kepala Isagi tapi pemuda itu segera berlari. “Hah! Orang yang mengherankan.”

Chigiri terkekeh pelan mendengarnya. “Kau penasaran juga, kan?” tanya Chigiri setengah menggoda. “Dia memang pandai menemukan sesuatu. Ah, aku jadi tidak sabar mendengar rahasia apa yang berhasil dia ungkap. Pasti akan menjadi berita besar.”

Di sisi lain, Isagi berjalan memasuki sebuah ruangan kecil dengan santai. Ia menemukan seorang pemuda sedang mengamati barang-barang peninggalan pemilik ruangan itu yang ia jejerkan di atas sebuah meja dengan rapi. Saking seriusnya, ia sampai tidak menyadari kalau Isagi ada di belakangnya.

“Menemukan sesuatu?” Isagi ikut memperhatikan deretan benda itu.

Pemuda di depannya tidak terkejut sama sekali namun tampaknya ia tak menduga orang yang datang itu Isagi. “Eh, lama tidak bertemu! Kenapa kau kemari?” tanya pemuda itu.

“Ya, lama tak bertemu, kawan!” Isagi menepuk bahu pemuda itu dengan akrab. “Chigiri menyebutku sebagai asisten. Jadi, anggap saja begitu.”

Kawannya itu mendengus pelan. “Dasar anak itu! Suka seenaknya. Tapi, paling tidak ia membawamu kemari. Harusnya kau bisa membantuku, kan?”

“Aku tidak janji.” Isagi berjalan ke arah sebuah kasur lantai yang masih berantakan. “Apa kau menemukan sesuatu, Kunigami?”

“Tidak,” jawab Kunigami. Ia masih menatap benda-benda di depannya dengan serius. “Wanita itu meninggal dengan wajar. Tidak ada hal yang membuat kematiannya aneh kecuali waktunya yang hanya berselang dua hari setelah kematian kakaknya.”

“Kematian yang wajar itu juga bisa direncanakan,” kata Isagi.

“Aku tahu, aku tahu. Tapi, kita tidak punya sesuatu yang bisa digunakan untuk menuduh seseorag sebagai pembunuh.” Kunigami membolak-balikkan beberapa lembar surat yang ia dapat dari laci meja itu. “Benar-benar normal. Makanan yang ia makan juga sudah diperiksa jadi tidak mungkin ia diracun. Hasil autopsi belum keluar tapi katanya dia meninggal semalam, beberapa jam setelah tertidur. Menurutmu bagaimana?”

“Seseorang mengatakan bahwa ada cara yang lebih baik dalam mengolah tanaman beracun.” Isagi tersenyum mengingatnya. “Sepertinya aku bisa membayangkan skenario seperti itu,” katanya.

“Apa menurutmu pembunuh Nyonya Machi adalah orang profesional?” tanya Kunigami setengah berbisik.

Isagi menggelengkan kepala. “Sebaliknya. Tapi, dia cerdas. Sangat cerdas. Hanya saja pembunuh itu tidak pernah bijak.”

“Aku tidak mengerti,” kata Kunigami. “Cobalah bicara dengan bahasa manusia. Kepalaku bisa meledak kalau kau terus-terusan memberi teka-teki seperti itu.”

“Masalahnya adalah,” Isagi berbalik menatap kawannya dengan serius, “kita butuh bukti. Tapi, tidak ada bukti. Makanya aku tidak bisa mengatakan apa-apa.”

“Ya, aku mengerti.” Kunigami meletakkan kembali lembaran surat itu ke dalam laci. “Tapi, beri tahu aku apa motifnya. Setidaknya itu cukup.”

“Uang. Motifnya adalah uang,” kata Isagi. “Pembunuhnya menginginkan uang warisan yang diberikan Tuan Shuichi. Itu sudah dipastikan.”

Kunigami berdecak sekali lalu berbalik menatap Isagi dengan penuh kekesalan. “Kau bercanda? Bukankah semua anggota keluarga mendapatkan nilai yang sama rata?”

“Coba kau lihat siapa yang paling diuntungkan atas kejadian ini,” ucap Isagi.

Kunigami menghela napas pelan. “Keponakannya,” jawabnya dengan nada sedikit frustasi. “Tapi, tidak ada kepastian akan itu. Surat yang baru akan dikirimkan ke Chigiri hanya berisi tentang rencananya, bukan hal yang secara gamblang ditulis sebagai surat wasiat. Chigiri bilang hal ini tidak bisa dijadikan acuan. Lagipula tidak ada yang tahu rencana ini kecuali dirinya sendiri. Anehnya lagi, keponakan yang Nyonya Machi inginkan sebagai ahli waris adalah Yamasato Yoshio. Mereka hanya bertemu dua kali. Hal itu justru menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru.”

“Tapi, kita memang harus punya pertanyaan-pertanyaan.” Isagi duduk di atas kasur lantai itu dengan tenang. “Semakin banyak dugaan, semakin banyak hal yang terungkap. Walau kadang ada yang tidak penting. Apa ada lagi yang kau temukan?”

Kunigami menganggukkan kepala. “Dari surat-surat yang ia simpan, bisa aku simpulkan kalau hubungannya dengan ipar-iparnya cukup baik. Tidak ada konflik sama sekali. Keponakan-keponakannya tidak begitu dekat dengannya tapi mereka tetap menghormatinya sebagaimana mereka menghormati Tuan Shuichi. Bangsawan yang tinggal di sini, keluarga Saimori, merupakan keluarga yang memiliki hubungan baik dengan keluarga Yamasato. Kalau tidak salah, mendiang nyonya keluarga ini dulunya merupakan pengasuh Nyonya Machi. Jadi, tidak ada hal yang aneh.”

“Apa anggota keluarga Saimori yang tinggal di sini tidak ada yang keberatan atas keberadaan Nyonya Machi?” tanya Isagi.

“Tidak ada. Nyonya Machi diterima dengan baik. Dia datang kemari atas rekomendasi Nyonya Keiko, janda Tuan Yamasato yang ketiga—aku lupa nama kecilnya. Lagipula dia hanya wanita tua yang hanya membantu pekerjaan rumah saja, tak lebih,” jelas Kunigami.

Isagi menutup mulutnya sambil berpikir selama beberapa saat. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan memutari ruangan itu sekali lalu berhenti di depan sebuah nakas kecil yang di atasnya tergeletak sebuah amplop, sebuah pena, dan sebuah lilin yang tersisa seperempat.

“Kau tahu apa yang menarik, Kunigami?” Isagi mengambil lilin itu, menciumnya sekali, lalu meletakannya lagi. “Salah satu keponakannya yang bekerja di balai pengobatan itu pernah gila. Maksudku, gangguan jiwa. Ia terbukti sudah kembali waras sekitar delapan bulan belakangan dan mendapat pekerjaan di balai pengobatan sebagai apoteker. Kalau kau mau mencurigai orang yang punya kemungkinan besar menggunakan racun, dialah orangnya.”

“Dari ucapanmu, kau justru terdengar seperti sedang membuatku memikirkan hal yang sebaliknya,” keluh Kunigami.

Isagi tertawa pelan. “Apa terdengar terlalu masuk akal?”

“Benar. Saking masuk akalnya sampai aku merasa kalau bukan itu yang kau inginkan,” jawab Kunigami.

“Aku sedang mencari koneksinya,” kata Isagi. “Kalau dugaanku benar, orang ini—maksudku si pembunuh harusnya ikut campur dalam kasus lain yang sedang kuselidiki.”

“Kasus lain?” tanya Kunigami.

Isagi terbatuk beberapa kali. “Ah, maaf aku tidak tidur semalaman.” Katanya. “Benar. Ada kasus lain yang cukup gawat. Nagi pasti sudah mendapat laporannya sejak dua atau tiga minggu yang lalu dan aku hanya perlu menunggu perintah saja. Jadi, aku punya banyak waktu untuk pergi kesana kemari untuk mencari tahu. Lalu, aku bertemu seorang mata-mata dari kontinen barat.”

“Tunggu dulu!” Kunigami berjalan menghampiri Isagi. “Tunggu sebentar, kawan! Ini masalah serius. Kasus apa yang sedang kau selidiki?”

“Aku tidak bisa memberitahumu untuk saat ini. Intinya kasus ini cukup mendesak dan aku perlu mengawasi orang-orang penting. Jadi, aku akan merasa sangat terbantu kalau kau juga mau menyelidiki orang-orang dari keluarga Yamasato ini,” ucap Isagi.

“Baiklah. Keluarga Yamasato biar aku yang tangani,” kata Kunugami setuju. “Apapun alasannya, aku akan tetap memintamu memberi penjelasan yang lebih detail nantinya.”

Isagi menganggukkan kepala. “Tentu. Aku akan memberi tahumu.”

“Omong-omong,” Kunigami menatap kawannya dengan penuh selidik, “kenapa kau bisa terjaga semalaman? Apa sesuatu terjadi? Sebaiknya kau istirahat sebentar sebelum jadi mayat hidup.”

“Ah, hanya jebakan saja. Aku akan istirahat setelah ini,” kata Isagi.

“Kau…” Kunigami terdiam sesaat. Ia menatap Isagi dengan tatapan tak menyangka. “Kau tidak bermalam bersama seorang wani—”

“TIDAK!” Isagi memotong perkataan pemuda itu. “Yang benar saja? Oh, Tuhan! Aku bisa gila.”

Kunigami memiringkan kepalanya dengan bingung. “Tuhan? Kita tidak menyebut dewa dengan sebutan seperti itu. Sebenarnya kau habis melakukan apa?”

“Ah, sudahlah. Sebaiknya kau tidak memikirkan hal-hal aneh,” kata Isagi.

“Eh, aku tidak akan mencemooh. Maksudku, kalau kau memang habis bersenang-senang juga aku tidak melarang. Kau kan seorang pria normal,” kata Kunigami dengan santai.

Isagi mengambil lilin yang di atas nakas lagi lalu berjalan ke arah pintu keluar. “Lupakan! Aku tidak melakukan apa-apa jadi jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku pamit,” ucapnya sambil lalu.

Kunigami hanya menanggapinya dengan lambaian tangan. Ia sebenarnya lebih khawatir kalau kawannya tertekan karena mendapat terlalu banyak tugas. Jadi, kesenangan-kesenangan seperti itu biasanya memang sering dijadikan pelepas stres bagi beberapa orang. Lagipula hidungnya bekerja dengan baik. Ia tahu kalau Isagi menelan obat perangsang. Bau obat itu merupakan bau yang biasa Kunigami cium saat sedang berpatroli di sekitar distrik hiburan. Yah, mau bagaimanapun kawannya itu pria dewasa. Kunigami cukup yakin kalau Isagi adalah tipe yang bertanggung jawab. Hanya saja hal itu menimbulkan pertanyaan baru. Kira-kira wanita seperti apa yang berhasil membuatnya seperti itu?

 


 

“Jadi, dia mata-mata?” Nagi yang sedang duduk di balik meja kerjanya langsung menghentikan pekerjaannya begitu melihat Isagi masuk. “Benar, kan?”

Isagi duduk di kursi seberang pemuda itu lalu mengangguk. “Agen ganda,” jawabnya singkat.

“Agen—APA?” tanya Nagi lagi.

“Agen ganda.” Isagi mengulangi jawabannya. “Dia tidak mengatakannya tapi aku tahu itu. Lagipula siapa juga yang mau buka-bukaan tentang persoalan itu?”

Nagi mendengus pelan lalu bertanya, “dia bekerja pada siapa?”

“Pada siapa dan siapa,” kata Isagi mengoreksi.

“Ya, siapa-siapa lah itu,” kata Nagi.

Manik biru Isagi memandang sekilas ke arah tumpukan kertas di meja kerja Nagi. “Dia agen dari Strieburg. Aku cukup yakin dia bekerja untuk negara dan semacamnya. Tapi, saat ini dia bekerja juga pada orang lain,” jelas Isagi. Tangannya bergerak mengambil selembar kertas dari atas meja itu. “Sepertinya laporan tentang indikasi pemberontakan itu sudah sampai telingamu. Sampai mana perkembangannya?”

“Cukup jauh. Bisa dibilang lebih jauh dari yang diperkirakan,” jawab Nagi.

“Diperkirakan? Siapa yang memperkirakan?” Isagi bertanya asal. Fokusnya tertuju pada lembaran di tangannya.

Nagi menguap sekali sambil memandang bosan pemuda di depannya. “Ah, sudah lah. Aku pusing tiap kali mendengar kau bicara. Jadi, intinya aku ingin bertanya apakah wanita itu berbahaya?”

“Eh, aku tidak merasa begitu,” kata Isagi. “Maksudku, dia berbahaya karena memang memiliki kemampuan yang membahayakan. Tapi, tidak mengancam.”

“Tidak mengancam kita, begitu?” tanya Nagi memastikan.

Isagi menganggukkan kepala. “Benar. Dia tahu banyak tentang medis jadi kupikir tugasnya banyak berkaitan dengan hal itu.”

“Wah!” Nagi menepuk pahanya sekali. “Hebat betul. Katanya ada orang mati di kediaman Saimori, kan? Wanita itu bukan pembunuhnya?”

Isagi mengalihkan pandangannya dari kertas di tangannya. “Nagi, sepertinya kau terlalu banyak tidur. Otakmu jadi tidak bekerja, tuh!”

“Barangkali.” Nagi mengedikkan bahu. “Dia dibunuh, kan?”

“Ya. Nyonya Machi dibunuh.” Isagi meletakkan kertas itu kembali. “Pembunuhnya pasti berhubungan dengan rencana pemberontakan itu.”

Sebuah ketukan terdengar dari balik pintu. Sebelum Nagi mempersilahkan orang itu masuk, Isagi menatapnya penuh tanya. Tapi, pemuda itu juga tak tahu siapa yang datang jadi ia hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.

“Masuk,” kata Nagi.

Pintu itu tergeser, menampakkan seorang pria berkacamata yang memandang mereka dengan tatapan agak mengejek. “Kalian terlalu lamban, bocah dungu!” katanya.

Isagi dan Nagi segera bangkit dari kursi mereka. Sungguh mengejutkan melihat pria itu datang dan mengetuk pintu. Biasanya dia akan menerobos masuk tanpa permisi.

“Ego-san,” kata Isagi dan Nagi bersamaan.

“Ya, ya, ya. Terima kasih atas sambutannya.” Pria bernama Ego itu masuk ke dalam ruangan Nagi dan menduduki kursi di samping Isagi. “Kalian berdua, duduk!”

Kedua pemuda itu duduk dengan patuh. Rasanya sudah sekian minggu mereka tak bertemu dengan pimpinan mereka yang satu ini. Kian hari tubuhnya tampak semakin mengempis, seperti balon yang kehilangan udara.

“Ada apa, Pak?” tanya Isagi membuka percakapan.

“Kita lihat apa yang kalian temukan. Kalian terlambat temukan, maksudku.” Pria itu menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi. “Pemberontakan. Cerita lama yang terjadi tiga abad yang lalu. Lalu, di sini ada lagi. Dosa baru memang biasanya memiliki bayang-bayang lama, sepertinya begitu kata orang. Senjata militer, strategi perang, dan lain-lain, dan lain-lain,” katanya mulai berceloteh.

“S-saya pikir juga begitu,” ucap Isagi pelan sambil melirik ragu pada Nagi yang duduk tegak seperti anjing pemburu.

“Ya, begitulah. Kalian berdua,” Ego menatap dua pemuda itu bergantian, “sangat lamban! Rencana ini baru ketahuan seminggu belakangan. Apa yang kalian kerjakan, hah?! Orang-orang tua yang tahu segalanya itu tak berhenti mengomel. Sebaiknya kalian bereskan persoalan-persoalan itu. Sisa-sisa pemberontakan, anggota lama yang melakukan revolusi-revolusi, paham-paham baru, dan lain-lain, dan lain-lain. Ah, pokoknya kalian hentikan saja lah itu semua! Kawasan ini bisa berdarah-darah dalam kurun waktu sebulan saja. Ingat, sebulan!”

“A-anu, Pak.” Isagi mengangkat tangan kanannya. “Hanya memastikan, apakah mata-mata dari kontinen lain menghubungi pihak kita? Maksud saya, secara resmi.”

“Ya,” jawab pria itu. “Siapa wanita sinting itu? Rosentine? Rosamund? Sepertinya dia punya semacam nama khusus dalam pekerjaan spionasenya. Dia datang bersama perlengkapan militer dari Espyrius dan lain-lain, dan lain-lain. Orang Strieburg sudah memberi konfirmasi dan sekarang dia sedang bekerja sebagai miko atau pelayan, semacam itu lah!”

“Apa anda tahu kalau dia agen ganda?” tanya Isagi lagi.

“Ah, wanita memang selalu seperti itu.” Pria itu mendongak, menatap langit-langit ruangan itu lalu menguap. “Oh, namanya Rosemary. Dia memang berbahaya, maksudku punya kemampuan yang membahayakan. Tapi, tidak mengancam. Namanya dikenal dengan sangat baik dikalangan kita dan kalangan atas juga barangkali. Mereka-mereka—para wanita maksudku, yang bekerja seperti itu biasanya memang muka dua. Tidak perlu diurus. Selama tidak menghalangi kita, biarkan saja lah.”

“Baik, Pak.” Kata Isagi dan Nagi bersamaan.

Pria itu bangkit dari duduknya lalu berjalan meninggalkan ruangan tanpa sepatah katapun. Ia seperti tak mau repot-repot berpamitan atau sekadar mengatakan ‘semoga berhasil’ pada anak buahnya itu. Isagi dan Nagi hanya memandangi pria kurus itu sampai ia menghilang di balik pintu tanpa mempertanyakan suatu hal apapun. Kemudian, keduanya terdiam selama beberapa saat seperti sedang mencerna sesuatu.

“Apa wanita itu memang sesinting yang Ego katakan?” tanya Nagi memecah keheningan.

Isagi mengedikkan bahu. “Entah. Menurutku dia hanya terlihat seperti orang yang susah mati.”

Nagi menatap heran rekannya. “Apa pula arti perkataanmu itu?”

“Tipe orang yang akan menimbulkan banyak kekacauan kalau dibunuh,” jawab Isagi. Nagi tampak masih belum puas akan jawaban itu. Jadi, Isagi melanjutkan, “maksudku, ada pihak-pihak tertentu yang menyokongnya. Mereka tidak akan senang kalau agen berbakat sepertinya mati. Makanya dia berani mengambil risiko untuk melakukan ini itu. Yah, semacam orang yang suka berpetualang dan menyelesaikan persoalan yang mendebarkan. Seperti itu lah!”

“Banyak sekali persoalan yang keluar dari mulutmu,” kata Nagi.

Isagi mendengus pelan. “Paling tidak itu tak sebanyak ‘dan lain-lain’ yang diucapkan Ego. Sudah berapa kali ia mengatakannya?”

“Empat atau lima.” Nagi menghitung dengan jarinya. “Berkurang drastis dari terakhir kali kita bicara dengannya. Dulu dia bisa mengatakan ‘dan lain-lain’ sembilan belas kali sehari.”

“Saat kita bertemu dengannya lagi, mungkin dia sudah jadi tengkorak,” kata Isagi.

Nagi mengangguk setuju. “Sebaiknya dia banyak makan lemak.”

“Ah, sudah lah!” Isagi bangkit dari duduknya. “Aku sudah janji akan menemani Chigiri pergi ke Ikata untuk mengurus beberapa persoalan.”

Nagi menghela napas berat. “Persoalan lagi, persoalan lagi. Ada banyak sekali persoalan. Aku benci persoalan.”

“Saat aku kembali nanti, pastikan kau sudah siap dengan dua pasukan yang siap untuk menangkap dua orang di dua lokasi yang berbeda. Aku rasa aku akan menemukan koneksinya begitu aku selesai dengan kasus pembunuhan ini,” ucap Isagi mengingatkan lalu pergi meninggalkan ruangan itu.

 


 

Sehari setelah kematian Yamasato Machi, Isagi bertolak ke Ikata bersama Chigiri. Mereka berangkat pagi-pagi sekali agar bisa menepati janji temu dengan beberapa anggota keluarga Yamasato untuk mengurus warisan. Hal itu sudah direncanakan lebih awal. Namun, kematian Nyonya Machi harusnya akan ikut serta dalam pembicaraan mereka hari itu.

Sisa anggota keluarga yang perlu mereka temui adahal putri mendiang Nyonya Okichi serta suaminya dan Nyonya Keiko, istri dari Yamasato Eichi, adik ketiga Tuan Shuichi. Mendiang Nyonya Okichi merupakan anak perempuan pertama dalam keluarga Yamasato. Menurut informasi yang Isagi dapatkan, wanita itu ternyata cukup dikenal di bidang seni peran. Hal itu membuat apa yang dikerjakan putrinya di masa kini menjadi sesuatu yang masuk akal.

Berbeda dengan keluarga Nyonya Okichi, Nyonya Keiko tak begitu banyak melakukan hal diluar apa yang biasanya dia lakukan sejak masih gadis. Sepeninggal suaminya, ia memilih untuk mengurusi kuil lagi. Terlebih ia tumbuh di keluarga yang menjunjung tinggi nilai agama. Itu membuatnya lebih mudah menjalani hari seorang diri karena orang-orang di kontinen timur menganggap bercerai dan menikah lagi sebagai dosa dan aib yang memalukan.

Selagi keduanya masih sama-sama hidup di wilayah Ikata, Chigiri mengusulkan agar mereka semua bertemu di satu tempat yang paling sentral. Lokasi yang mereka pilih adalah sebuah pondok di depan gedung keamanan setempat, hanya beberapa kilo saja dari stasiun. Tempat itu dipilih oleh Chigiri dengan dalih memanfaatkan koneksinya sebagai pengacara karena pondok itu adalah milik pemerintah. Jadi, mereka tidak perlu membayar.

Isagi dan Chigiri sudah tiba di sana setengah jam lebih awal. Keduanya tampak letih setelah menempuh perjalanan nyaris delapan jam menggunakan kereta. Sambil menunggu kedatangan klien mereka, keduanya memilih untuk bersantai.

“Sungguh! Ini pertama kalinya aku merasa jadwalku sangat padat!” keluh Chigiri yang sedang berbaring di tengah ruangan. Ia menatap kosong ke langit-langit ruangan itu. “Tidak ada waktu. Satu jam pun tidak ada. Pergi dari Nagawa ke Sadena lalu ke Nagawa lagi dan sekarang kita sudah ada di Ikata. Besok-besok aku harus menyediakan obat sakit punggung.”

Isagi yang duduk di dekat jendela terkekeh pelan. “Ya, benar. Barangkali punggung kita yang remuk bisa disusun kembali,” ucapnya menanggapi.

“Oh iya, kau tadi bilang apa? Sebelum kita masuk. Yoshio kenapa?” tanya Chigiri.

“Ah, persoalan itu.” Isagi menatap pemandangan di luar dengan tenang. “Nanti kau katakan pada mereka kalau harta Nyonya Machi, termasuk semua warisan dari Tuan Shuichi, akan diberikan pada Yoshio,” jawabnya.

Chigiri menoleh ke arah rekannya dengan heran. “Kenapa? Apa itu sebuah trik untuk melihat reaksi mereka agar kita tahu siapa yang membunuh Nyonya Machi?”

Isagi menganggukkan kepala. “Semacam itu lah. Kau perhatikan wajah mereka baik-baik. Barangkali ada yang kelihatan aneh.”

“Uh, aku muak dengan persoalan warisan ini,” kata Chigiri. “Seandainya ayahku bukan pengacara, aku pasti akan memilih pekerjaan lain yang tak banyak memiliki persoalan. Barangkali seperti pengusaha-pengusaha kecil yang berjualan keramik atau tukang potret.”

“Kau akan tetap menemukan persoalan yang lain,” kata Isagi.

“Ah, sudah lah.” Chigiri kembali menatap langit-langit ruangan. “Omong-omong, katanya kau menyuruh Kunigami dan Barou pergi ke Meiwa. Benar begitu?”

“Aku tidak menyuruh. Aku minta tolong,” kata Isagi mengoreksi. “Memangnya kau mau kita pergi ke Meiwa setelah ini?”

“TIDAK!” kata Chigiri. “Tidak sama sekali!”

“Itu lah kenapa aku meminta bantuan.” Isagi memperbaiki posisi duduknya. Ia menyandarkan punggungnya ke sisi jendela lalu menatap Chigiri dengan serius. “Sebenarnya persoalan ini mungkin takkan pernah kita selidiki kalau bukan karena kau memikirkan ucapan Nyonya Machi. Tapi, berhubung kita—pada akhirnya—memiliki kecurigaan yang sama, aku harus berterima kasih padamu karena selain membuka kasus pembunuhan keluarga ini, kau juga membantuku menemukan sesuatu tanpa kau sadari. Ah, bukan berarti persoalan ini takkan pernah terungkap. Maksudku, kau membuat kita bekerja lebih cepat.”

“Iya, sama-sama.” Chigiri mendengus pelan. “Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Tapi, sepertinya aku sudah dengar gosipnya. Sesuatu yang berhubungan dengan duta besar itu, ya? Kurasa namanya Jason atau Jonathan atau James. Semacam itu.”

“Kurasa John. Nama tengahnya John,” kata Isagi mengoreksi.

“Ya, seperti itu. duta besar dari salah satu negara di kontinen barat,” kata Chigiri.

“Dari Strieburg,” imbuh Isagi. “Oh, iya, omong omong, aku dengar kau mau menikah.”

“Me—APA?!” Chigiri terduduk tegak usai mendengar ucapan Isagi. “Kau dengar dari mana? Aku? Menikah?”

“Ibuku.” Jawab Isagi.

Chigiri menggelengkan kepala. “Sebenarnya tidak benar tapi masih bisa dibenarkan juga. Maksudku, ayahku sudah merencanakan itu sejak lama dan aku juga tidak keberatan. Maksudku, itu bukan sesuatu yang aku benci maupun suka. Maksudku—ah, apa lah yang aku bicarakan. Tapi, mungkin iya tapi tidak dalam waktu dekat,” jelasnya.

“Aku mengerti.” Isagi menganggukkan kepala. “Itu sudah menjadi tradisi dan sulit untuk ditentang. Tapi, selama kau merasa baik-baik saja akan keputusan itu, aku akan turut senang. Siapa namanya? Nona muda dari keluarga Ishimaki, kan?”

“Ya. Namanya Asa.” Jawab Chigiri. “Dia anak bungsu dan yang terpandai dalam literatur. Aku juga baru beberapa kali bertemu dengannya.”

“Kalau begitu berarti tidak ada masalah, ya.” Kata Isagi.

“Apa kau juga akan dinikahkan oleh orang tuamu?” tanya Chigiri.

Isagi menggelengkan kepala. “Tidak. Tapi, mereka pernah merencanakannya. Aku bilang aku tidak mau karena pekerjaanku cukup sulit. Maksudku, sebaiknya aku memilih sendiri wanita yang bisa aku ajak bicara tentang persoalan-persoalan yang aku kerjakan. Kalau orang tuaku yang memutuskan, rasanya terlalu berbahaya,” jelas Isagi.

“Kalau seperti itu, kau akan menemukan wanita yang kau inginkan itu di tempatmu bekerja,” kata Chigiri.

Isagi tertawa mendengarnya. “Ya, kedengarannya seperti itu. Tapi, Ego bilang wanita yang bekerja di sana banyak yang muka dua. Sepertinya terlalu berisiko.”

Pintu ruangan itu diketuk tiga kali, membuat dua pemuda yang ada di dalam ruangan itu menghentikan percakapan mereka. Beberapa saat kemudian, sebuah suara terdengar dari luar.

“Permisi, kami dari keluarga Yamasato,” ucap seseorang.

Chigiri menatap Isagi sesaat lalu keduanya mengangukkan kepala. “Silahkan, masuk.” Kata Chigiri.

Seorang pria dan dua wanita memasuki ruangan itu. Mereka langsung menempatkan diri di balik meja, tepat di seberang Chigiri. Isagi memilih tempat di tengah-tengah mereka sambil mengamati sanak saudara Tuan Shuichi itu satu persatu.

Kuwahara Hideaki merupakan pria yang cukup berkharisma. Isagi perkirakan usianya mungkin baru akan memasuki angka tiga puluhan. Mengingat pekerjaannya di bidang seni peran, ia jadi sedikit berhati-hati barangkali pria itu sedang bersandiwara. Tubuhnya tinggi dan posturnya tegap. Apabila seseorang menyebutnya sebagai staf badan keamanan kota, Isagi mungkin akan percaya.

Di samping kanannya, seorang wanita yang wajahnya cukup familiar memandang tajam ke arah Chigiri. Dari samping, Isagi bisa melihat kemiripannya dengan sang kakak, Renjirou. Sebelum menikah dengan Hideaki, namanya adalah Yamasato Ritsuka. Garis-garis kebangsawanan dalam dirinya tak lenyap meski ia kini hidup sebagai seniman lokal yang penghasilannya tak seberapa. Isagi bahkan sempat berpikir kalau Ritsuka laki-laki, mungkin Tuan Shuichi akan mempertimbangkannya sebagai pewaris.

Di samping kiri Hideaki, seorang wanita yang lebih tua tampak duduk dengan anggun. Sebelum menikah, wanita itu adalah Shinohara Keiko. Isagi pernah mendengar rumor dari ibunya yang mengatakan bahwa wanita itu merupakan incaran para bangsawan. Selain cantik, ia juga cerdas. Orang yang berhasil mempersuntingnya adalah Yamasato Eichi, adik ketiga Tuan Shuichi. Meski singkat, pernikahan mereka mungkin menjadi salah satu pernikahan yang paling banyak dibicarakan dalam lima puluh tahun terakhir. Sekarang usia wanita itu mungkin sudah hampir lima puluh tahun. Tapi, guratan ‘cantik’ yang dibicarakan orang-orang masih bisa Isagi lihat dengan jelas.

“Pertama-tama, saya turut berduka atas kepergian Nyonya Machi. Berita itu pasti sangat mengejutkan,” ucap Chigiri dengan sopan.

“Terima kasih, Tuan Chigiri.” Nyonya Keiko tersenyum ramah. “Tidak ada yang menyangka kalau ajalnya datang secepat itu. Tapi, Machi memang sangat menyayangi kakaknya jadi saya berharap ia bisa bahagia di surga sekarang.”

“Ya, benar.” Kata Ritsuka. “Bibi Machi adalah adik yang paling disayangi. Paman selalu mengkhawatirkannya dan berpikir sebaiknya ia menyisihkan hartanya agar hidup bibi terjamin. Tapi, takdir berkata lain.”

Chigiri menganggukkan kepala. “Saya harap juga ini adalah yang terbaik bagi Nyonya Machi.”

“Apakah ada perubahan soal warisannya?” tanya Hideaki terus terang.

“Oh, tidak banyak.” Chigiri membagikan dua lembar kertas yang ia bawa dari rumah. “Itu adalah rincian tentang uang mukanya. Saya sudah membicarakan ini dengan pihak-pihak yang terlibat. Warisannya baru akan bisa diserahkan semua setelah rumah utama terjual sesuai dengan rencana awal.”

“Oh, bagus. Memang sebaiknya begitu,” kata Ritsuka.

“Kira-kira butuh berapa lama sampai rumah itu terjual?” tanya Nyonya Keiko.

“Mungkin satu hingga dua minggu, sama seperti perkiraan sebelumnya,” jawab Chigiri.

“Lalu, bagaimana dengan warisan yang harusnya diberikan pada bibi? Apa akan dibagi rata?” tanya Ritsuka.

Chigiri melirik sekilas pada Isagi lalu menggelengkan kepala. “Sayangnya, Nyonya Machi sudah menulis surat wasiatnya sendiri. Jadi, harta bendanya akan diserahkan pada keponakannya yang lain yaitu Tuan Yoshio.”

“Yoshi—eh, dia?” Ritsuka menatap Chigiri tak percaya. “Kenapa? Aku pikir dia tidak dekat sama sekali dengan bibi. Iya, kan?”

Nyonya Keiko mengangguk setuju. “Benar. Anak-anak ini tidak ada yang dekat dengannya. Apa ada alasan khusus?”

“Tidak ada. Nyonya Machi hanya menyebutkan nama Tuan Yoshio tanpa memberi penjelasan lebih lanjut,” jawab Chigiri.

“Aneh.” Kata Hideaki. “Apa kalian akan memberikannya pada Yoshio begitu saja? Semuanya?”

“Rasanya tidak benar,” kata Nyonya Keiko.

“Itu sudah diputuskan.” Chigiri menatap satu lembar kertas di tangan kirinya. “Suratnya sudah diamankan dan sudah dipelajari. Harta yang menjadi hak milik Nyonya Machi akan diwariskan pada Tuan Yamasato Yoshio,” jelasnya lebih lanjut.

Ritsuka menghela napas berat. “Ada-ada saja,” katanya.

“Apa tidak ada kemungkinan kalau surat wasiat itu belum selesai ditulis sehingga isinya tidak sah?” tanya Nyonya Keiko.

Chigiri tampak berpikir sebentar lalu memperbaiki postur duduknya. “Sependek pengetahuan saya, surat itu adalah surat yang akan dikirimkan kepada ayah saya. Sepertinya Nyonya Machi berniat untuk konsultasi dan sudah memutuskan untuk diapakan hartaya kalau beliau meninggal. Jadi, tidak mungkin itu surat yang belum selesai ditulis.”

“Anda yakin akan hal itu?” tanya Hideaki.

“Tentu saja.” Chigiri menganggukkan kepala. “Apabila kalian merasa keberatan, ajukan lah banding ke pengadilan.”

Hideaki dan Ritsuka saling pandang dengan penuh tanya. Sepertinya keduanya tak mau repot-repot berurusan dengan orang-orang sana. Sementara itu, Nyonya Keiko terlihat masih sama tenangnya. Wanita itu menatap kosong ke arah lembaran kertas di tangannya.

“Baiklah. Sepertinya tidak ada yang kita perlukan juga. Warisan paman sudah lebih dari cukup.” Kata Ritsuka.

Hideaki menganggukkan kepala. “Ya. Lebih baik dari pada tidak sama sekali.”

Sementara mereka masih membicarakan pembagian harta, Isagi terus memperhatikan tiga orang itu dengan seksama. Sesaat setelah Chigiri mengatakan bahwa harta Nyonya Machi akan diberikan pada Yoshio, Isagi merasa ada sesuatu yang janggal. Ekspresi, respon kalimat, lirikan mata, gerakan tangan, dan reaksi tubuh seseorang di antara mereka bertiga sepertinya salah—tidak, bukan. Bukan salah. Tapi, ada sesuatu yang tidak berada di tempatnya. 

Apa yang tidak berada di tempatnya? Isagi berpikir. Pembunuhan yang diada-adakan, harta warisan yang sangat banyak, rencana pemberontakan besar-besaran, serta kuil-kuil. Kepingan petunjuk itu berputar di kepalanya seperti potongan puzzle yang kini bisa ia lihat dengan jelas gambarnya. Koneksinya berhasil ia temukan sekarang.

 


 

“Yoshio hanya pria yang biasa-biasa saja. Pria yang menjalani hidup dengan apa adanya, seperti itulah,” ucap Kunigami membuka percakapan.

Pagi itu, setelah menempuh perjalanan pulang pergi Nagawa-Meiwa, Kunigami dan Barou datang ke kediaman Chigiri sesuai dengan perjanjian mereka. Isagi yang sudah tiba di sana lima belas menit lebih awal menyeruput cangkir kedua teh hangat yang disajikan oleh pemilik hunian megah itu sambil menyimak dengan seksama. Masih belum ada informasi signifikan yang bisa membantunya merasa yakin akan kesimpulan yang ia dapat sejak kemarin. Jadi, ia merasa lebih santai.

“Oh, ayolah! Kita semua baru kembali setelah menempuh perjalanan panjang. Tidak bisa kah kau santai sedikit?” protes Chigiri.

“Eh, aku pikir ini hal yang sangat krusial. Makanya aku buru-buru sekali,” bela Kunigami.

Barou yang duduk di tengah-tengah mereka mengangkat tangannya. “Diam kalian!” perintahnya. “Sebaiknya kita interogasi orang yang sedang asyik minum teh itu!”

“Oh, iya, benar! Kau hutang penjelasan pada kami,” kata Kunigami.

Isagi yang merasa sungkan akhirnya meletakkan cangkirnya dan mulai bicara. “Baiklah, baiklah. Aku akan bicara.”

“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Barou. Ia merendahkan suaranya. “Apa terjadi sesuatu yang amat sangat genting?”

“Ya, kira-kira begitu.” Isagi menegakkan tubuhnya. “Ini berkaitan dengan rencana pemberontakan yang sedang dilakukan oleh orang-orang kuil Sadena,” katanya.

“Pemberontakan? Sungguh?” tanya Kunigami tak percaya.

Isagi menganggukkan kepala. “Sekitar seminggu yang lalu, Nagi menemukan sesuatu yang aneh. Seperti pergerakan yang tidak biasa dan beberapa hal janggal tentang orang-orang yang ada di Sadena. Dia juga menemukan data asing di dalam pencatatan sipil lalu menyelidikinya sendiri ke Nagayama. Di sana, ada agen mata-mata dari Strieburg.”

“Sepertinya masalah yang sangat serius.” Kata Chigiri.

“Ya, begitulah.” Kata Isagi. “Aku bertemu dengannya—agen mata-mata itu maksudku—lalu mendapat informasi tentang pembelian perlengkapan militer secara ilegal dari Espyrius. Perlengkapan militer itu dibeli secara masif dan tak seorangpun tahu ada barang sebanyak itu masuk ke Sadena.”

“Lalu, apa hubungannya dengan mata-mata Strieburg itu?” tanya Kunigami.

“Itu, aku juga masih belum yakin. Tapi, dia bilang orang-orang Strieburg menemukan jalinan komunikasi yang terjadi antara seseorang yang sedang berada di Sadena dengan seseorang yang tinggal di Strieburg. Agen itu sedang mencarinya,” jawab Isagi.

“Oh, rumor tentang duta besar itu, benar ada kaitannya?” tanya Barou.

Isagi menganggukkan kepala. “Kurang lebih begitu,” katanya.

“Sepertinya itu bukan hal yang menjadi urusan kita saat ini. Jadi, mari kembali ke topik utama kita. Sampai mana tadi?” tanya Chigiri. Ia berusaha menetralkan suasana yang mendadak berubah menjadi tegang.

“Tunggu sebentar!” sanggah Kunigami. “Kau bilang kasus pembunuhan ini berhubungan dengan rencana pemberontakan itu Apa hubungannya?”

Barou yang baru mendengar itu tampak terkejut. “Wah! Kau merahasiakan banyak hal, ya!” katanya setengah meledek.

Isagi terkekeh mendengarnya lalu menjawab, “Iya, ada.”

“Kau bercanda?!” Chigiri menatapnya tak percaya. “Masih ada hal lain selain rumor si John itu?”

“John siapa?” tanya Barou.

“Si duta besar itu,” jawab Kunigami.

“Aku masih perlu waktu untuk menyelidikinya. Jadi, yang bisa kukatakan hanya tentang motifnya saja, yaitu uang. Semuanya berawal dari uang dan keluarga Yamasato, secara kebetulan ada di posisi yang paling mudah untuk dirampas. Makanya aku minta tolong agar kalian berdua membantuku untuk menyelidiki sisa keluarga Yamasato yang lain. Aku mau tahu siapa orang yang sedang bermain-main dengan nyawa seseorang hanya untuk melakukan rencana pemberontakan yang tidak bisa kita sebut sebagai rencana yang bagus itu,” jelas Isagi dengan serius.

“Gila!” Chigiri berdecak tak percaya. “Sangat gila! Sungguh ini diluar ekspektasiku!” katanya.

“Tapi, apa kau benar-benar yakin ada seseorang yang tergabung dalam rencana itu? Maksudku, tidak ada yang mencurigakan sama sekali. Bukankah begitu, Barou?” tanya Kunigami.

“Ya. Mereka semua hidup normal. Si Yoshio itu bukan laki-laki yang bisa diharapkan. Tidak berbakat mencari uang,” kata Barou.

“Kondisi ekonomi mereka cukup parah. Jadi, aku tidak yakin kalau mereka mau menyerahkan uang hanya untuk rencana pemberontakan itu,” imbuh Kunigami.

“Bagaimana dengan istrinya? Nyonya Suzume juga, apa ada sesuatu yang mereka bicarakan?” tanya Isagi.

Kunigami menggelengkan kepala. “Tidak ada sesuatu yang penting. Mereka hanya membicarakan uang, rencana pembangunan toko kosmetik, dan sebagainya. Oh, iya. Hasil autopsi baru keluar kemarin dan sepertinya tidak ada yang aneh. Pokoknya semuanya sangat normal. Tidak ada yang mencurigakan.”

“Oh, tapi ada yang menarik.” Barou menyela. “Sebelum kita pergi ke Meiwa, ingat?”

“Ah, itu.” Kata Kunigami. “Aku dan Barou bertemu dengan pelayan pribadi mendiang Tuan Shuchi. Namanya Izumi kalau aku tak salah ingat. Pria itu bilang Tuan Shuichi pergi ke Sadena dua minggu yang lalu untuk menemui Nyonya Machi.”

“Lalu, apa yang terjadi?” tanya Isagi.

“Dia bercerita tentang intensitas Tuan Shuichi dalam menulis surat yang menjadi sangat sering. Sayangnya, tak banyak surat yang tersisa. Izumi mengatakan bahwa kebanyakan surat-surat itu dibakar. Satu-satunya yang ia dengar dari tuannya hanyalah gumaman singkat seperti, ‘semoga ia tak ikut campur’ dan ‘sebaiknya aku menjauhkan diri sebelum terlambat’. Hanya itu.” Jelas Kunigami.

Isagi tersenyum puas. “Bagus. Bagus sekali!” Ia bangkit dari kursinya. “Aku harus pergi sekarang!”

“Eh, pergi kemana?” tanya Chigiri.

“Sadena.” Jawab Isagi.

“Hei, kita belum selesai!” ucap Barou memperingatkan. “Paling tidak beritahu dulu siapa yang membunuh Nyonya Machi dan bagaimana cara dia dibunuh.”

“Ah, itu mudah. Dia diracun dan seseorang berharap hartanya akan diberikan padanya. Kalian tebak sendiri lah siapa pelakunya,” kata Isagi. Ia sudah bersiap-siap untuk pergi sebelum akhirnya kembali berbalik sebentar dan berkata, “Oh, iya, kalau Nagi bertanya aku kemana, katakan kalau aku pergi ke tempat Rosemary.”

“Rosemary?” tanya Barou.

“Pokoknya dia tahu. Aku pergi dulu, sampai jumpa!” pamit Isagi.

“Hei! Ya ampun bocah itu!” Barou berkata setengah berteriak tapi Isagi sudah menghilang dibalik pintu. “Kebiasaannya buruk sekali.”

“Sepertinya dia baru menemukan sesuatu yang teramat penting.” Kata Chigiri.

“Ya. Biarkan sajalah! Lagipula kita sudah diberi petunjuk. Jadi, sebaiknya kita bicarakan saja bahan yang ada,” saran Kunigami.

“Ah, kau berlagak seperti tahu saja apa yang dia katakan!” ejek Barou.

Kunigami meringis malu. “Yah, setidaknya kita mencoba dulu.”

“Kalian tahu, aku jadi memikirkan sesuatu.” Chigiri menyesap tehnya sekali lalu menatap dua rekannya dengan penuh rasa ingin tahu. “Rosemary itu siapa?”

 


 

Isagi berjalan dengan terburu-buru melewati kerumunan orang di jalan. Ia sempat menyambangi tempat tinggal wanita itu di belakang kuil tapi tak menemukan apa-apa. Ia menduga kalau wanita itu sudah berhasil menyelesaikan misinya karena tidak ada sedikitpun jejak yang tertinggal. Bahkan orang-orang yang bekerja di kuil tak tahu menahu tentang keberadaan wanita itu saat ini. Jadi, Isagi hanya berkeliaran di Nagayama dengan hanya berbekal insting. Sialnya, ia tak tahu banyak tentang wanita itu sedikitpun selain nama samarannya. Karena itu, pekerjaannya jadi terhambat.

Kakinya terus melangkah menjauhi wilayah Nagayama. Semakin jauh dari tempat itu, semakin tak jelas arah yang Isagi tuju. Kira-kira apa yang mungkin dilakukan wanita itu saat ini? Mungkin ia sudah menemukan siapa dan siapa yang ia cari dan saat ini sedang menyusun rencana penangkapan. Kalau sial, mungkin ia yang ditangkap. Walau sepertinya dia bukan tipe wanita yang mudah ditangkap—kecuali dia sendiri yang mau ditangkap—tapi, Isagi mempertimbangkan kediaman Nobumasa dan si John itu sebagai tujuan pencariannya. Tapi, tidak mungkin. Wanita itu tidak mungkin ada di sana.

Isagi berpikir mungkin wanita itu pergi ke tempat di mana perlengkapan militer itu disimpan. Pihaknya masih belum menemukan lokasi yang akurat. Jadi, mungkin wanita itu ada di sana. Namun, semakin Isagi memikirkan kemungkinan itu, rasanya malah semakin tidak mungkin. Tempat itu terlalu berisiko untuk didatangi seorang diri. Bisa-bisa wanita itu ditembak mati sebelum berhasil melaporkan hasil misinya.

Waktu terus berlalu tanpa Isagi sadari. Kedua kakinya membawanya melewati desa, sungai, pasar, dan pohon-pohon tinggi. Semakin gelap, semakin asing pula lokasi yang kini sedang ia susuri. Kalau ia terus berjalan lurus, mungkin ia akan sampai ke kuil utama Yahatsukawa. Ternyata sudah sangat jauh dari stasiun. Isagi terbawa suasana hingga lupa akan dirinya sendiri.

Ia menatap area sekitarnya. Tempatnya kini berdiri merupakan sebuah perkampungan yang warganya sebagian besar adalah tukang kayu. Ada yang menjual perlengkapan rumah seperti pintu, meja, dan kursi. Ada yang menjual parabot kecil, mainan anak anak, dan ada juga yang menjual barang-barang yang biasanya hanya digunakan sebagai hiasan di dalam rumah. Isagi kembali berpikir. Sepertinya wanita itu pernah menyebut bangsawan pemilik usaha kayu.

Bangsawan di perkampungan itu mungkin hanya ada satu atau dua. Salah satunya pasti dari keluarga Nobumasa sendiri. Kalau Isagi tidak salah ingat, istri Nobumasa berasal dari keluarga pengusaha kayu. Mungkin ia bisa menemukan petunjuk di sekitar sini.

“Kau mencariku, Tuan?”

Sebuah suara yang familiar membuat Isagi merasa merinding. Ia berbalik dan menatap orang itu dengan perasaan yang tak karuan. Sebagian dari dirinya merasa lega, namun sebagian lainnya merasa kesal. Terlebih wanita itu sepertinya terlihat baik-baik saja, tak seperti dirinya yang kelelahan dan bingung seperti seorang gelandangan.

“Kemana saja kau?” Isagi tak peduli kalau suaranya terdengar seperti sedang marah. “Sulit sekali ditemukan. Kakiku nyaris lepas gara-gara berjalan dari Nagayama sampai ke sini.”

Orang itu tertawa. “Eh, kenapa kau marah?”

“Nona Rosemary,” Isagi menatapnya lekat-lekat, “sekarang bukan saat yang tepat untuk bercanda. Jadi, sebaiknya kau memberiku informasi yang berguna.”

“Rose—apa?” wanita itu tampak bingung sejenak. “Ah, jadi nama itu. Baik, baik, aku mengerti. Apa yang akan kau berikan padaku kalau aku memberimu informasi yang berguna?”

Isagi menghela napas singkat lalu berkacak pinggang. “Entahlah. Sepertinya kau pernah minta aku untuk bermalam di tempatmu,” katanya setengah menggoda.

“Astaga!” Rosemary terkekeh pelan. “Kau benar-benar mengerikan.”

“Aku sedang sangat perlu bantuanmu. Aku bisa membayarmu berapapun yang kau mau,” kata Isagi.

Wanita itu menatap penuh selidik. “Jaga bicaramu, Tuan! Aku akan benar-benar menuntutmu nanti.”

“Tapi, aku bersungguh-sungguh.” Isagi berjalan mendekat. “Ada sesuatu yang sangat penting. Benar-benar penting sampai aku harus turun tangan mencarimu sendiri sampai kemari. Agen ganda sepertimu pasti punya banyak informasi. Jadi, aku menawarkan untuk—”

“Agen ganda?” sela wanita itu. “Wah! Kau benar-benar sulit dibohongi. Padahal aku melakukannya dengan sangat baik dan kau sudah tahu tentang ini? Sejak awal?”

“Kenapa? Kau sendiri yang ceroboh,” kata Isagi tak acuh. “Semua agen wanita yang kutemui selalu bicara sembarangan, tak pernah berhati-hati. Ah, intinya bukan itu. Kau mau tidak? Maksudku, bekerja sama atau semacamnya.”

Wanita itu menatap awas ke sekitarnya. “Aku tahu tempat yang bagus,” katanya.

Isagi tersenyum penuh kemenangan. “Sebaiknya itu tempat yang menyediakan makanan hangat. Aku lapar.”

 


 

Rosemary—agen ganda itu, merupakan seorang wanita yang bisa menjadi apa saja. Beberapa hari yang lalu ia adalah seorang wanita kuil. Hari ini, ia menjadi wisatawan asing. Rambut pendeknya kini menjadi panjang. Warnanya pirang mencolok, tebal, dan ikal di bagian bawahnya. Tak ada lagi tampilan pakaian kuil yang sederhana. Kini tubuh jenjangnya dibalut gaun panjang berwarna abu-abu yang dipadupadankan dengan sebuah topi yang menutup setengah wajah cantiknya. 

Penampilan seperti itu tentunya menarik perhatian. Tapi, semencolok apapun dirinya saat ini, itu semua berhasil tertutup tanpa celah dengan akting luar biasanya sebagai ‘bangsawan dari negeri seberang yang sedang liburan’ bersama Isagi yang entah kenapa diberi peran sebagai kekasihnya. Mereka berdua berjalan dengan leluasa melewati sebuah keramaian di wilayah perbatasan Nagayama-Yahatsukawa tanpa dicurigai. Paling tidak itulah yang Isagi amati sejak tadi.

“Ah, itu dia!” seru wanita itu sambil menunjuk sebuah bangunan besar. “Katanya mereka punya pemandian air hangat. Ayo kita sewa satu kamar malam ini.”

“I-itu terdengar agak—” Isagi tak sempat menyelesaikan protesnya karena wanita itu sudah menariknya terlebih dahulu. “Tak bisakah kita pergi ke tempat yang lebih normal?” tanya Isagi setengah berbisik.

Wanita itu menggelengkan kepala. “Semakin normal, semakin kita dicurigai.”

Isagi menatap heran pada wanita yang berjalan di depannya itu. “Tapi, kenapa kita harus dicurigai? Kau habis melakukan apa?”

“Kau yang habis melakukan apa!” katanya. “Kau kan sadar betul kalau kau diikuti sejak keluar dari wilayah kuil. Kenapa kau mau membiarkannya, sih? Aku kan harus repot-repot menjadi pacarmu agar mereka tidak curiga.”

“Eh, aku tidak berniat untuk membiarkan mereka mengikutiku. Tadinya kalau aku tidak berhasil menemukanmu, aku berniat untuk menangkap mereka,” ucap Isagi membela diri.

Wanita itu mendengus pelan. “Biarkan sajalah. Mereka takkan bisa mengikuti kita masuk ke dalam kamar penginapan.”

“Kau benar-benar mau menyewa kamar?” tanya Isagi.

“Kenapa? Kau bilang sendiri kalau kau akan membayarku berapapun yang aku mau,” kata wanita itu dengan jahil.

Isagi bergidik ngeri. Meski tahu itu hanya sebatas candaan, rasanya tetap menyeramkan mendengar seseorang mengatakan itu padanya. Selama ini ia bekerja dalam satu lingkup yang sama tanpa pernah bersinggungan dengan orang seperti ini. Mau bersyukur karena ini menjadi pengalaman baru pun rasanya tidak benar. Kalau tahu begini, ia mungkin takkan mau coba-coba.

Mereka memasuki bangunan itu disaat yang tepat sebelum semua kamar mereka habis terjual. Beruntung—atau sial, Isagi tak tahu—mereka mendapat satu ruangan di lantai dua yang harganya tak terlalu mahal. Meski tak menyajikan pemandangan yang bagus, kamar itu tetap memiliki pemandian pribadi yang cukup untuk digunakan oleh dua orang. Mereka menyediakan makan malam dan juga kasur lantai tambahan apabila cuacanya bertambah dingin. Tempat yang cocok untuk bertukar informasi.

“Jadi, orang yang mati di kediaman bangsawan itu dibunuh. Sepertinya begitu. Apa aku benar?” tanya wanita itu membuka percakapan.

Keduanya duduk di kasur lantai untuk melepas penat. Barang bawaan mereka diletakkan di atas meja yang sudah disediakan. Wanita itu melepas topi dan sepatunya sementara Isagi duduk sambil menyandarkan punggung ke dinding. Mereka merasa sama-sama lelah.

“Iya. Dia mati dibunuh menggunakan sebuah cara yang mampu mengelabuhi semua orang,” jawab Isagi.

“Sepertinya berendam dalam air hangat itu menyenangkan.” Kata wanita itu. “Mau berendam?”

“Kau duluan saja,” saran Isagi.

Wanita itu menatap Isagi dengan heran. “Tidak mau berendam bersama?”

“Kau gila?!” Isagi memijat pelan kedua pelipisnya. Rasanya ia kehabisan banyak tenaga hanya untuk meladeni wanita itu bicara. “Aku tidak mau. Kau saja sana yang berendam.”

“Ternyata kau pemalu, ya.” Wanita itu berjalan menjauh. “Kalau begitu, kita bicara sambil aku berendam.”

“Terserah apa katamu saja lah,” kata Isagi.

Pemandian pribadi itu dipisahkan oleh sebuah pembatas kayu yang bisa dilipat, bukan pintu. Sepertinya ruangan itu di desain untuk berbulan madu atau semacamnya karena Isagi tidak melihat ada privasi sama sekali. Wanita itu segera berjalan ke tempat di balik pembatas itu, meninggalkan Isagi duduk seorang diri di atas kasur hangat yang mereka gelar. Sambil menunggu wanita itu melepas semua pakaiannya dan mulai berendam, ia menatap barang bawaan mereka di atas meja. Wanita itu hanya membawa satu tas kecil yang Isagi duga hanya berisi uang.

Setelah Isagi pikir-pikir lagi, wanita itu hanya pergi seorang diri ke negeri orang—di luar kontinen—tanpa mengenal siapapun dan hanya berbekal informasi untuk mengerjakan misi berbahaya tanpa bantuan berarti. Benar-benar perlu pengalaman yang luar biasa untuk sampai di titik yang mengesankan seperti itu. Isagi jarang sekali melakukan pekerjaan ke tempat yang jauh. Jadi, membayangkan dirinya melakukan hal seperti itu tampaknya perlu keberanian yang cukup tinggi.

“Tadi kita bicara sampai mana?” wanita itu menggeser sedikit pembatas ruangan itu, membuat Isagi bisa melihat bagian atas tubuhnya yang menjorok keluar dari tepi kolam pemandian. “Jadi, apa hubungan kematian itu dengan penyelidikan yang sedang aku lakukan?”

“Sebaiknya kau ceritakan dulu apa yang berhasil kau dapatkan,” pinta Isagi.

Wanita itu bergerak menopang dagunya dengan tangan kirinya. “Aku mulai dari mana, ya?”

“Duta besar itu,” kata Isagi.

“Ah, si Parkinson tua. Dia memang menyuruhku datang ke kontinen timur.” Wanita itu terdiam sejenak lalu menghela napas pelan. “Agak sulit, ya. Sebaiknya aku ceritakan sejak awal saja.”

“Apa si John itu tidak ada hubungannya dengan rencana pemberontakan itu?” tanya Isagi memastikan.

Wanita itu menggelengkan kepala. “Tidak ada. Omong-omong, namanya Bentley Parkinson. John itu nama tengah. Orang-orang di kontinen barat jarang menyebutkan nama tengah mereka karena biasanya nama itu diambil dari nama kakek atau nenek mereka atau buyut mereka atau leluhur-leluhur lainnya,” jelasnya.

“Baiklah, baiklah. Si Parkinson tua, kita sebut dia begitu.” Kata Isagi.

“Ceritanya dimulai dari enam bulan yang lalu,” kata wanita itu memulai kisahnya. “Di kontinen barat, dulunya ada banyak negara sebelum menjadi satu serikat seperti sekarang. Salah satu negara itu bernama Dhruh Shua—sekarang Edrington—negara kecil di tepi timur, dekat dengan wilayah Espyrius.”

“Wilayah yang dilewati mereka saat melakukan transaksi ilegal itu?” tanya Isagi.

Wanita itu mengangguk. “Benar,” jawabnya. “Wilayah itu dirampas oleh Strieburg, dulu sekali saat peperangan ada dimana-mana. Mungkin sekitar lima abad yang lalu. Setelah wilayah itu ada dibawah kekuasaan Strieburg, terjadi beberapa konflik karena mereka ingin memisahkan diri. Enam puluh tahun yang lalu, wilayah mereka diberikan otoritas sendiri.”

“Seperti Sadena,” gumam Isagi.

“Tepat sekali. Persis seperti Sadena,” kata wanita itu.

“Apa yang terjadi setelah itu?” tanya Isagi.

Wanita itu merendam tubuhnya lebih dalam, menyisakan kepalanya yang ia biarkan bagian belakangnya ditopang oleh tepian kolam pemandian. “Pemberontakan.” Jawabnya sambil menengadah menatap langit-langit ruangan. “Mereka melakukan aksi pemberontakan beberapa kali. Hal itu berhasil ditekan dalam lima tahun terakhir karena pemimpin baru mereka—namanya Shamane—adalah orang yang cinta damai. Namun, ditengah-tengah perdamaian itu, terjadi sebuah kudeta. Pemimpin mereka dibunuh, orang-orang yang setia padanya juga dibunuh. Itu terjadi enam bulan yang lalu.”

Isagi bergidik ngeri. “Mengerikan.”

“Iya. Mengerikan sekali.” Wanita itu terkekeh pelan. “Tapi, itu bukan urusanku. Hal yang membuatku kemari adalah rumor tentang harta peninggalan Shamane. Kabarnya, harta berharga itu dibawa keluar negeri dengan maksud agar tidak jatuh ke tangan orang-orang yang melakukan kudeta itu. Berita ini tersebar ke seluruh kontinen barat dan semua orang memburunya. Tapi, sampai sekarang tidak ada yang berhasil menemukannya.”

“Siapa yang menyuruhmu kemari untuk memburu harta itu?” tanya Isagi.

“Pemerintah Strieburg. Mereka membagi semua agen ke berbagai tempat. Kebetulan aku ditugaskan kemari dan si Parkinson tua tiba-tiba menghubungiku karena tertarik pada perburuan harta itu juga. Jadi, aku pikir aku bisa bertindak sebagai agen ganda karena otoritasnya di sini sebagai duta besar juga cukup memudahkanku melakukan apa saja yang aku mau,” jelas wanita itu.

Isagi mengangguk paham. “Jadi, kesimpulannya adalah kau sudah berhasil menemukan siapa dan siapa yang melakukan komunikasi mencurigakan itu, kan? Si Parkinson tua itu berarti sudah bersih dari segala bentuk tuduhan yang ku layangkan kepadanya.”

“Ya, tentu saja. Jalinan komunikasi itu dilakukan oleh si pemilik usaha kayu dan seorang penjual rumah di Strieburg.” Wanita itu menoleh ke arah Isagi dengan tatapan penuh arti. “Aku tebak kau tahu siapa orang ini dan sepertinya orang ini juga lah yang melakukan pembunuhan di kediaman Saimori. Benar begitu?”

Isagi menghela napas dengan berat. “Hah! Benar-benar gila!” pemuda itu mengacak bagian depan rambutnya dengan kesal. “Jadi, rencana pemberontakan ini dibuat karena sebuah alasan yang sepele? Orang ini pasti berniat mengkambinghitamkan si Parkinson tua dan mungkin juga petinggi kuilnya, si Nobumasa tua. Pasti dia mau kabur dari kontinen timur dan berencana membeli rumah di kontinen barat,” celotehnya panjang lebar.

Isagi yang tak bisa menyembunyikan kekesalannya sama sekali itu malah mengundang gelak tawa. Padahal biasanya pemuda itu selalu terlihat tenang dan mampu memperhitungkan segalanya. Kali ini ia bahkan tak ambil pusing dengan perkataannya yang bisa saja secara tak sengaja membocorkan rahasia negara.

“Jadi, seperti apa kisah pembunuhan itu? Aku juga mau dengar,” pinta Rosemary.

“Kau tahu? Di kontinen ini, seseorang yang bercerai dan menikah lagi atau yang menikah lagi setelah pasangannya meninggal dianggap berdosa. Itu adalah aib yang sangat besar. Meski secara hukum tidak salah, tapi orang-orang yang hidup di sini sangat menjunjung tinggi nilai agama,” kata Isagi mengawali ceritanya.

“Perceraian juga masih menjadi hal tabu di kontinen barat,” ucap Rosemary menanggapi. “Sepertinya masih banyak yang berpikir lebih baik menderita dalam pernikahan daripada menanggung malu seumur hidup karena bercerai.”

“Kurang lebih begitu.” Isagi meluruskan kakinya. Ia menatap kosong ke arah kedua ibu jari kakinya yang bergerak kecil dibalik kaus kaki yang ia kenakan. “Singkatnya, keluarga Yamasato merupakan keluarga bangsawan yang sangat kaya. Kepala keluarganya tidak memiliki pewaris dan ia memutuskan untuk mewariskan hartanya ke semua anggota keluarganya secara merata. Tapi, itu bukan fokus utama kisah ini. Asal muasalnya adalah dari dua orang yang sangat nekat menggunakan segala cara untuk memenuhi ego mereka.”

“Cinta yang terhalang hukum sosial, begitu?” tanya wanita itu.

Isagi menganggukkan kepala. “Orang ini dan si pemilik usaha kayu, mereka saling jatuh cinta tetapi terhalang akan banyak hal. Kau tahu siapa pemilik usaha kayu itu, kan?”

“Iya. Anaknya si Nobumasa yang kedua, kan? Dia masih muda sekali. Si Nobumasa sendiri sudah tidak bisa beraktivitas terlalu banyak sehingga urusan kuil diambil alih oleh putra sulungnya. Jadi, usaha kayu itu akhirnya diserahkan pada putra keduanya, Kotarou.” Jelas Rosemary sambil mengalirkan air hangat ke lengannya.

“Si Kotarou pasti berniat untuk pergi ke luar kontinen dan memulai hidup baru bersama wanita dari keluarga Yamasato itu, sebut saja wanita X. Tapi, ia tak mendapat restu karena kondisi kepala keluarga Nobumasa sudah sangat mengkhawatirkan. Selain itu, wanita X yang dipilihnya juga bukan seseorang yang harusnya Kotarou nikahi,” kata Isagi.

Wanita itu menatap Isagi penuh tanya. “Kau masih belum tahu siapa wanita X ini?”

“Tentu saja sudah.” Isagi menatap wanita itu dengan gusar. “Rasanya sedikit menjijikan kalau aku menyebut namanya jadi sebaiknya kita sebut dia wanita X.”

“Baik, aku mengerti,” kata wanita itu sambil tertawa.

“Karena kondisi si Nobumasa tua sudah tidak bisa diharapkan, Kotarou jadi mudah memperalatnya. Sementara kakaknya sibuk kesana kemari melakukan kunjungan, berdoa, dan sebagainya, ia menggunakan otoritas ayahnya untuk menyabotase keuangan kuil utama. Anak itu sangat membenci keluarganya—tentu saja karena keinginannya tidak terkabul—jadi ia tak merasa bersalah sama sekali saat melakukan hal itu. Lalu, terbesit dibenaknya untuk membalas dendam. Ia adalah anak seorang petinggi kuil. Mudah baginya untuk mengumpulkan banyak orang dari berbagai macam kalangan. Singkat cerita, anak itu menanamkan ideologi pada orang-orang untuk melepaskan diri dari kekuasaan pemerintah Nagawa,” jelas Isagi.

“Aku yakin wanita X punya peran besar untuk mempengaruhi anak itu. Si Kotarou kan sedang diumur yang berapi-api,” kata Rosemary.

“Tentu saja. Wanita X juga merasa sangat kesal karena ia ada di posisi yang sulit sehingga mudah sekali baginya untuk menyulut api dalam jiwa Kotarou yang sedang membara. Andai saja ia belum menikah, pasti sekarang ia sudah bahagia bersama Kotarou. Pemikirannya pasti seperti itu,” kata Isagi.

Wanita itu mengangguk paham. “Lalu, si Kotarou ini menggunakan uang kuil untuk membeli perlengkapan militer. Ia berniat mempersenjatai orang-orang yang berhasil ia pengaruhi, benar?”

“Ya,” jawab Isagi. “Sialnya, uang yang mereka dapat dari kuil tak cukup banyak untuk membeli semua itu. Jadi, mereka perlu uang yang lebih banyak.”

“Lalu, keluarga Yamasato dijadikan opsi untuk mendapatkan uang dengan cepat. Merasa tak cukup dengan uang warisan yang diberikan, wanita X ini membunuh anggota keluarga lain dengan harapan mendapatkan uang warisan tambahan. Benar begitu?” tanya wanita itu memastikan.

Isagi tersenyum senang. “Tepat sasaran. Tadinya si wanita X ini meminta uang dengan cara baik-baik dan menawarkan sesuatu yang fantastis terkait dengan rencana pemberontakan itu. Tapi, Tuan Shuichi menolak mentah-mentah tawaran itu hingga wanita X dan Kotarou dengan terpaksa membunuhnya. Begitulah skenario yang sebenarnya terjadi dibalik kasus pembunuhan ini.”

“Tak kusangka kalau perburuan harta yang kulakukan ini secara tidak sengaja membuatku menemukan rencana pemberontakan dan pembunuhan secara bersamaan,” kata wanita itu sambil menatap Isagi dengan penuh rasa puas.

“Aku dengar kau naik kapal dari Espyrius. Kenapa? Apa harta yang kau cari ada di sana? Kalau iya, berarti kau juga tahu di mana mereka menyimpan perlengkapan militer itu, kan?” tanya Isagi.

“Tentu saja,” jawab Rosemary penuh percaya diri. “Aku sudah menemukannya tapi belum aku ambil karena aku perlu bantuan untuk melakukan itu. Baguslah kau ada di sini. Jadi, malam ini kita bisa selesaikan semuanya. Oh, iya!” Rosemary menjentikkan jari. “Pembunuhan itu, apa dilakukan menggunakan racun seperti yang kau perkirakan?”

“Iya. Mereka memasukkan bahan mematikan ke dalam lilin,” jawab Isagi.

Wanita itu terkekeh pelan. “Ah, metode yang sangat rapi.”

Isagi mengangguk setuju. “Benar. Aku yakin mendiang Tuan Shuichi juga dibunuh dengan cara yang sama.”

“Benar-benar mengerikan.” Wanita itu menggelengkan kepala. “Membuatku teringat sesuatu yang dikatakan oleh si Parkinson tua itu.”

Isagi menatap wanita itu penuh tanya. “Apa?”

“Sebaiknya kau jangan mengajari tukang kayu untuk bermain catur karena mereka lah yang membuat bidaknya,” kata wanita itu.

“Si Parkinson tua jauh lebih bijak dari yang kuperkirakan,” kata Isagi.

Wanita itu tersenyum. “Dia orang yang sangat nyentrik, lho! Barangkali dia juga tahu banyak tentang apa yang dilakukan si Kotarou selama ini dan memilih untuk diam saja sambil menunggu kesempatan.”

 


 

Isagi berjalan menyusuri sebuah jalan setapak yang mengarah ke pesisir perairan utara kontinen timur. Setelah menikmati makan malam dan berendam sebentar, ia dan Rosemary—Isagi masih merasa agak aneh apabila memanggilnya dengan nama itu—pergi menggunakan kereta terakhir ke wilayah utara Sadena yang berada dibawah otoritas kuil Nagamitsu. Wilayah itu merupakan wilayah yang paling ujung dan yang paling dingin dibandingkan wilayah lain bahkan di musim panas sekalipun. Jadi, Isagi dan wanita itu memutuskan untuk membeli dua buah mantel untuk mengantisipasi udara dingin di sana.

Suasana malam yang sepi senyap membuat langkah mereka bergema ke penjuru area itu. Pohon-pohon tinggi dan ranting-ranting yang berserakan di tanah cukup mengganggu jalan mereka beberapa kali. Namun, tidak ada hambatan yang berarti. Keduanya berhasil mencapai area pesisir dengan selamat.

Isagi sudah memberi pesan untuk beberapa orang rekannya untuk membantu mereka dalam melakukan beberapa hal. Harusnya mereka sudah berada di tempat yang mereka janjikan saat ini.

“Isagi-san!” panggil sebuah suara familiar.

Isagi menoleh ke sisi kanan dan menemukan tiga orang yang sedang berdiri menunggunya di bawah lampu jalan. Ia dan wanita itu segera mendekat.

“Oh, kalian di sini,” kata Isagi. Ia menyalami mereka satu persatu lalu memperkenalkan wanita di sampingnya. “Ini Rosemary, agen Strieburg.”

Wanita itu menyalami ketiga rekan Isagi dengan ramah. “Salam kenal,” katanya.

“Bagaimana dengan situasinya, Hiori? Apakah aman?” tanya Isagi terus terang.

Pemuda yang dipanggil Hiori itu mengangguk. “Aman. Aku sudah membersihkan area itu. Kau tinggal masuk saja.”

“Eh, tapi kau tidak bisa berlama-lama,” ucap seorang lainnya memperingatkan. “Mereka akan kembali berpatroli pukul tiga pagi. Sekarang pukul dua tiga puluh. Kalian punya waktu setengah jam. Kalau beruntung mungkin empat puluh menit.”

“Terima kasih, Nanase. Sepertinya itu sudah lebih dari cukup. Benar begitu, Non?” Isagi melirik wanita di sampingnya.

“Tentu,” jawab wanita itu percaya diri.

“Oh, iya. Kurona, aku perlu kau untuk menyampaikan pesan ke markas.” Isagi mengambil selembar surat yang sempat ia tulis di kereta. “Sampaikan ini pada Nagi.”

Pemuda kecil dengan kepang pendek di sisi kiri itu menganggukkan kepala. “Baik, baik. Apakah kau perlu beberapa orang untuk berjaga-jaga?”

“Tidak perlu.” Isagi tersenyum. “Hiori dan Nanase ada di sini. Itu sudah cukup.”

“Aku juga di sini!” protes Kurona. “Aku akan segera kembali dengan cepat! Sangat cepat!”

“Baiklah,” kata Isagi sambil tertawa. “Aku serahkan sisanya pada kalian bertiga.”

Ketiga pemuda itu menganggukkan kepala lalu beranjak pergi untuk melakukan tugas mereka masing-masing. Tak lama berselang, Isagi dan wanita itu pergi ke tempat tujuan mereka. Perjalanan yang mereka tempuh untuk mencapai markas bawah tanah yang dicurigai sebagai gudang penyimpanan perlengkapan militer itu hanya menghabiskan waktu sekitar delapan menit. Gudang itu bukan tempat yang mencolok. Tapi, ukurannya sangat besar. Isagi bahkan sempat ragu kalau mereka memiliki waktu yang cukup untuk menggeledah tempat itu.

“Pantas saja kau perlu bantuan,” kata Isagi begitu mereka berdua berhasil masuk ke gudang itu.

“Kita tidak perlu turun ke bawah tanah.” Wanita itu berjalan mendahului. “Sepertinya aku tahu ada di mana—tidak! Bukan sepertinya. Aku pasti tahu harta itu ada di mana.”

Isagi menatap wanita itu dengan heran. “Kalau begitu, di mana?”

Wanita itu menyisir bagian kiri gudang itu dalam cahaya remang-remang dari lampu yang tergantung di luar. Gudang itu, Isagi tahu betul kalau barang-barang rongsokan yang ada di dalam tempat itu hanyalah kamuflase. Perlengkapan militer yang berharga pasti mereka simpan di bawah tanah. Mendengar bahwa harta berharga Shamane ada diantara rongsokan ini mungkin masuk akal. Jadi, Isagi hanya menuruti perkataan wanita itu.

“Petunjuknya adalah benda yang rapuh. Aku sudah memecahkan teka-teki itu selama sebulan. Jadi, aku yakin harta itu ada diantara benda-benda ini,” jawab wanita itu.

“Apa tidak ada hal yang lebih spesifik?” tanya Isagi sambil ikut menggeledah di sisi kanan wanita itu.

“Isi surat yang Shamane tulis untuk seseorang yang menyembunyikan hartanya hanya berisi teka-teki yang apabila dipecahkan hanya menghasilkan satu kalimat singkat, ‘kembalikan rangka milik Kandake’. Kandake itu nama istrinya. Apa kau bisa tahu apa maksud kalimat itu bahkan tanpa konteks apapun?” wanita itu membuka sebuah kotak kayu berisi beberapa alat jahit. “Aku pikir mereka sengaja menggunakan kata-kata konyol agar kita sulit menebaknya.”

Isagi menatap sebuah mainan kuda kayu yang bagian kepalanya sudah patah. “Tidak. Mungkin aku tidak akan tahu artinya sampai kapanpun. Tapi, kalau kita perhatikan kalimat itu baik-baik, kenapa aku merasa kalau ‘Kandake’ yang dimaksud adalah sesuatu secara literal? Patung Kandake barangkali. Atau mungkin suatu benda yang diberi nama Kandake.”

Wanita itu melompat ke arah Isagi. “Itu dia! Itu dia!” katanya dengan antusias. “Akronim konyol! KEmbalikan RAngka MIlik Kandake. KERAMIK!”

“Hah? Keramik?” Isagi menatap wanita itu penuh tanya. “Apa itu tidak terlalu mudah?”

Keduanya menoleh ke pusat ruangan, satu-satunya tempat di mana benda pecah belah diletakkan. Sebelum wanita itu melakukan hal-hal yang berbahaya, Isagi menarik tangannya. Ini tidak akan mudah. Selain menimbulkan suara, mereka bisa saja terluka karena nekat memecah keramik itu satu persatu.

“Ayo kita lihat!” ajak wanita itu.

Isagi manarik tubuh wanita itu. “Tunggu sebentar, Non! Biar aku pastikan kalau benda-benda itu takkan jatuh menimpa kita.”

Kaki Isagi melangkah dengan hati-hati. Ia berjalan mendahului wanita itu untuk mengantisipasi hal-hal yang membahayakan. Ada dua baris benda pecah belah dalam ruangan itu. Satu baris khusus untuk perlengkapan makan antik dan barang-barang bekas yang sudah hancur berkeping-keping seperti lampu dan pecahan kaca jendela, satu baris lainnya merupakan benda-benda yang lebih besar seperti guci, patung, dan vas.

“Bagaimana?” Isagi menahan kedua tangannya kuat-kuat hingga wanita itu tak mampu lepas darinya. “Apakah aman?”

Isagi meregangkan genggamannya. “Sepertinya aman. Tapi—”

Wanita itu melepaskan diri dan berlari menyusuri deretan guci-guci besar dan patung itu. Belum genap semenit, sebuah benda jatuh ke lantai. Isagi menghela napas dengan kasar. Harusnya ia tahu kalau orang-orang selalu kehilangan akal kalau sudah menyangkut harta-harta seperti ini.

“Isagi, anu—maksudku, Tuan!” wanita itu terduduk di depan sebuah kursi keramik yang jatuh terguling di hadapannya. “P-permata!”

Isagi langsung datang menghampiri. Ia menatap takjub sekantung benda bulat-bulat yang separuhnya menggelinding di bawah kaki wanita itu. Permata-permata yang warnanya mencolok itu jumlahnya tidak sedikit, mungkin sekitar dua puluh buah. Wanita itu buru-buru meletakkan benda itu kembali ke kantungnya. Ia benar-benar memastikan tidak ada yang tertinggal.

Wanita itu menatap Isagi dengan tatapan tak percaya. “P-permatanya benar ada di sini dan aku, ak—”

“Non, kakimu terluka,” potong Isagi. Tubuh wanita itu bergetar karena syok, jadi ia mungkin tak menyadarinya. “Apa kau bisa berdiri?”

“Ah, aku tidak sadar.” Wanita itu menatap punggung kakinya yang berdarah. “Maaf, sepertinya aku merepotkanmu,” katanya.

Isagi duduk memunggungi wanita itu. “Simpan baik-baik kantung itu dan naiklah ke punggungku. Kita pergi ke Nagawa sekarang juga.”

Sebelum Isagi kehilangan akal sehatnya juga, sebaiknya mereka pergi ke tempat di mana terdapat orang-orang yang bisa membantu mereka mengatasi ini. Harta sebanyak itu sedang diincar oleh semua orang dari penjuru negeri. Jadi, ia tak mau mengambil risiko yang mengancam nyawanya sendiri.

 


 

Sudah dua puluh menit berlalu sejak Isagi duduk di ruangan Nagi. Ia sedang menunggu laporan tentang penangkapan pelaku rencana pembunuhan dan pemberontakan yang langsung dilakukan siang itu juga. Rasanya sudah semalaman ia tak mendapatkan sedikitpun waktu untuk beristrirahat. Jadi, sesaat setelah Nagi membiarkan ruangannya dijadikan tempat untuk istirahat, Isagi tak berpikir dua kali untuk terlelap. Dua puluh menit mungkin sudah lebih dari cukup.

Beberapa saat setelah Isagi menutup mata, pintu ruangan itu terbuka. Ia langsung terjaga dan mendapati seorang wanita yang datang sambil berjalan menggunakan tongkat. Rambut pirang mencoloknya dikuncir ke belakang dan mantel yang baru ia beli semalam masih dipakai dengan rapat. Satu-satunya yang berbeda hanyalah kakinya. Wanita itu tak mengenakan alas kaki.

“Eh, maaf kalau mengganggu.” Katanya sambil mendekat. “Mereka bilang aku bisa menunggu di sini.”

Isagi menggelengkan kepala. “Tidak apa-apa. Duduk lah,” katanya sambil menggeser kursi lain yang ada di sampingnya.

Wanita itu duduk di kursi itu. “Terima kasih.”

“Apa lukamu parah?” tanya Isagi. Matanya tertuju pada punggung kaki kanan wanita itu yang dibebat sempurna. “Retak barangkali.”

“Retak.” Katanya mengiakan. “Ternyata kejatuhan guci yang berisi abu Kandake bisa membuat tulang punggung kakiku seperti ini.”

“Kau ceroboh, sih!” Isagi mendongak menatap langit-langit ruangan, menikmati masa istirahat singkatnya dengan santai dan leluasa. “Sudah kuperingatkan tapi kau hiraukan,” omelnya tanpa sadar.

Wanita itu mendengus pelan. “Siapa pula yang tidak mau buru-buru mendapatkan harta sebanyak itu.”

“Ingat, itu bukan milikmu,” kata Isagi memperingatkan.

“Aku tahu!” wanita itu menyentuh saku dalam mantelnya. “Barangkali aku bisa dapat satu yang merah jambu.”

“Apa bagusnya benda bulat-bulat seperti itu,” gumam Isagi tak mengerti. “Intinya, kita perlu memanggil pimpinanmu atau orang dari negaramu yang bertanggung jawab atas harta itu.”

“Iya, mereka sudah mengurusnya. Kau jangan menatapku seperti tikus pencuri, dong! Begini-begini juga aku tahu prosedurnya,” protes wanita itu.

Pintu ruangan itu dibuka lagi, membuat kedua orang itu menoleh untuk mencari tahu siapa yang datang. Mereka segera bangkit dari kursi begitu melihat orang yang membuka pintu. Seorang pria kurus dan tinggi datang bersama Nagi. Isagi berjalan mendekat ke arah mereka sementara Rosemary berusaha untuk tetap berada di belakangnya. Wanita itu bergerak sedikit kepayahan.

“Ada apa, Ego-san?” tanya Isagi basa-basi. Sebenarnya ia tahu kalau pimpinannya itu datang untuk mengurus permata-permata.

Ego menatap wanita di belakang Isagi dengan penuh selidik. “Apa aku bisa melihat permata-permata itu, Nona Rosemary?”

Rosemary bergerak dengan gelisah. “Siapa dia?” bisiknya pada Isagi.

“Pimpinanku,” jawab Isagi singkat.

“Apa saya bisa mempercayai anda?” Rosemary menatap pria berkacamata itu dengan tajam.

“Tak apa, Rosé,” ucap suara lain dari arah pintu.

Seorang pria paruh baya dengan setelan kantor khas Strieburg berjalan santai memasuki ruangan. Ia menyalami Ego yang tadi datang bersama Nagi lalu beralih pada dua orang yang sudah lebih dulu ada di ruangan itu.

“Tuan Siegmund?” wanita itu keluar dari persembunyiannya. “Oh, saya kira saya tidak akan bertemu siapa-siapa di tempat ini,” katanya dengan lega.

Pria berkumis tebal itu tersenyum ramah. “Tentu saja, Nak. Aku tahu kau bisa menemukannya.” Tuan Siegmund duduk di kursi yang tadi diduduki Isagi. “Nah, mana permata-permata itu?”

 

Wanita itu langsung membuka mantelnya dan menyerahkan kantung kulit yang pagi tadi ia temukan. “Silahkan. Aku pastikan tidak ada yang tertinggal.” Ia lalu menyentuh bahu Isagi lalu berkata, “Dia bisa menjadi saksi.”

Pria paruh baya itu membuka kantung itu lalu menjajarkan isinya di atas meja. Ia dan Ego sibuk menilai benda bulat-bulat itu sambil sesekali berdebat tentang uang yang bisa didapatkan apabila benda itu terjual. Keduanya terlalu sibuk hingga tak mempedulikan tiga orang lainnya yang menatap mereka dengan heran.

“Bagaimana penangkapannya?” tanya Isagi memecah keheningan.

Nagi menghela napas lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding. “Lancar. Semuanya berjalan dengan baik. Nyonya Keiko belum mengaku, sih. Tapi, kau menyimpan barang buktinya, kan?”

Isagi menganggukkan kepala. “Iya. Lilin itu aku simpan dengan baik. Wanita itu meremehkan barang itu karena berpikir semuanya akan habis terbakar.”

“Eh, aku cukup yakin tanpa lilin itu kau bisa tetap tahu siapa yang melakukannya,” ucap Nagi setengah meledek.

“Tentu saja,” kata Isagi dengan percaya diri. “Mau bagaimanapun, bau khas yang dihasilkan dari lilin aromaterapi itu selalu berbeda tergantung di mana kau membakarnya, wadahnya, dan besar sumbunya meski bahan dasarnya sama. Aku belajar banyak dari ibuku tentang itu.”

Nagi mendengus pelan. “Ya, ya, ya. Hidungmu itu sepertinya jauh lebih tajam dari anjing.” Ia melirik sekilas ke arah wanita di samping Isagi lalu berbisik, “Dia baik-baik saja?”

“Menurutmu?” bisik Isagi balik.

“Kelihatan seperti sedang kelaparan,” kata Nagi.

Isagi mengangkat bahu. “Barangkali. Sepertinya semua wanita suka benda bulat seperti itu.”

“Aku bisa dengar, lho!” tegur wanita itu.

Kedua pemuda itu meringis malu. Tentu saja wanita itu dengar. Mereka hanya terpaut jarak kurang dari satu meter. Siapapun yang memiliki telinga yang normal pasti bisa mendengarnya.

“Apa anda lapar, Nona Rosemary?” tanya Nagi.

Wanita itu menggeleng. “Tidak. Aku tidak lapar,” jawabnya. Ia menatap kedua pemuda itu dengan penuh tanya. “Nyonya Keiko yang sempat kalian bicarakan tadi, bukannya dia sudah tua? Sepertinya aku pernah dengar namanya. Dia bekerja di kuil yang ada di Ikata, kan?”

Nagi menganggukkan kepala. “Iya, dia wanita paruh baya. Umurnya sudah mendekati angka lima puluh.”

“Jadi, maksudmu si Kotarou berpacaran—maksudku, berhubungan dengan wanita itu?” tanya wanita itu tak percaya.

Nagi mengangguk lagi. “Begitulah,” katanya.

Wanita itu kini menatap Isagi. “Astaga! Sekarang aku mengerti kenapa kau bilang menjijikan,” katanya sambil menepuk bahu Isagi. “Seorang wanita paruh baya dan pria muda yang bahkan belum dua puluh tahun! Aku rasa—ah, gila!”

“Iya, kan?” Isagi menggeleng miris. “Wanita itu bisa dipidana dengan banyak pasal termasuk kejahatan pedofilia karena aku yakin mereka—tidak, maksudku dia, sudah berusaha mempengaruhi Kotarou sejak lama.”

“Ya, aku pikir juga begitu,” kata Rosemary setuju. “Agak konyol, sih. Maksudku, bagaimana hubungan mereka ketahuan karena jalinan komunikasi yang mencurigakan. Aku tidak tahu detailnya tapi seorang teman bercerita tentang indikasi penipuan yang dilakukan oleh orang Sadena. Mungkin si Kotarou saat itu tidak bisa menemukan titik terang untuk mencapai kesepakatan dengan si penjual rumah hingga berkali-kali merayunya, seperti tukang tipu.”

Isagi mengangguk setuju. “Barangkali begitu.”

“Lalu, kenapa dia malah memilih untuk berontak?” tanya Nagi dengan bingung. “Maksudku, setelah mendapat uang warisan, mereka bisa langsung kabur. Kenapa repot-repot merencanakan pemberontakan?”

Isagi dan wanita itu saling pandang selama beberapa saat. Kemudian, keduanya tertawa setelah hitungan kesepuluh, membuat Nagi semakin bingung akan apa yang keduanya pikirkan.

“Ah, anak muda memang suka menjadi pahlawan. Biasanya mereka berambisi untuk menjadi sosok yang bisa dikenang,” kata wanita itu.

Nagi terdiam sejenak lalu menggelengkan kepala. “Aku tidak mengerti.”

“Atau mungkin seperti ini.” Isagi mencoba membantu memberi penjelasan. “Anggap saja dia mau menciptakan sebuah cerita heroik seperti mengulang sejarah yang terjadi tiga abad yang lalu atau semacamnya.”

“Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan,” ucap Nagi dengan frustasi.

“Kalau begitu, anggap saja dia mau mengalihkan perhatian kalian. Dia mau kalian fokus pada pemberontakan itu sementara dia kabur ke Strieburg bersama pacarnya,” jelas wanita itu sambil menahan tawa.

Nagi mendengus pelan lalu melipat kedua tangannya. “Tapi, itu kan tindakan yang bodoh dan merepotkan.”

“Memang.” Isagi ikut menyandarkan punggungnya ke dinding. “It tindakan impulsif yang dilakukan oleh remaja yang masih belum matang. Mereka tidak berpikir panjang dan hanya ingin terlihat keren. Kalau kau mau dengar lebih jelas, tanya langsung saja padanya.”

Ih, malas. Aku lebih suka tidur di sini sampai urusan itu selesai,” kata Nagi menolak.

“Rosé.” Pria paruh baya itu tiba-tiba memanggil.

Rosemary menoleh dengan sigap. “Ya, Pak. Apakah anda perlu sesuatu?”

“Tidak, tidak,” jawab pria itu sambil menggeleng. “Kau mau satu?” tawarnya.

Wanita itu mendekat dengan antusias. “Sungguh? Boleh?”

“Tentu. Hadiah untukmu.” Pria itu menoleh ke arah Isagi. “Barangkali kau juga mau, Nak. Anggap saja sebagai imbalan.”

“E-eh, saya juga?” Isagi menunjuk dirinya sendiri. “Tapi, saya tidak melakukan apa-apa. Hanya menemaninya saja.”

Pria itu tertawa lalu menepuk bahu Ego yang berada di sampingnya. “Anakmu boleh juga. Apa bisa kubawa ke Pruavania?”

Ego mendengus pelan. “Coba kau tawarkan langsung padanya.”

“Apa kau mau coba bekerja di ruang internasional, Nak?” tawar pria paruh baya itu.

“Saya tidak memiliki banyak pengalaman dan tidak memiliki pengetahuan yang cukup, Pak,” kata Isagi berusaha menolak.

“Ah, iya. Aku mengerti.” Pria itu melirik Rosemary yang sedang sibuk memilih permata. “Tapi, kalau kau bekerja bersama Rosé, kau pasti bisa cepat belajar.”

Isagi menatap wanita itu sekilas. “Akan menjadi suatu kehormatan bagi saya. Tapi, ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan.”

“Aku mengerti.” Pria itu menyentuh kumisnya lalu tersenyum senang. “Kau bisa memberitahu pimpinanmu kalau kau tertarik.”

“Terima kasih, Pak,” ucap Isagi dengan sopan.

Pria paruh baya itu beralih pada anak buahnya. “Apa kau sudah selesai memilih, Rosé? Kau harus memberi imbalan pada anak ini juga.”

“Sudah. Satu untukku, satu untuknya.” Wanita itu menunjukkan dua buah permata. Satu berwarna merah jambu, satu lainnya berwarna hijau zamrud.

“Bagus. Kau bisa istirahat sekarang. Kita kembali ke Strieburg besok lusa. Jadi, nikmati liburanmu,” kata pria itu.

Rosemary tersenyum cerah. “Terima kasih banyak!”

“Kau juga boleh beristirahat dulu,” kata Ego pada Isagi.

Isagi mengangguk paham. “Baik, Ego-san.”

Isagi dan wanita itu berjalan keluar, meninggalkan Nagi bersama para petinggi itu. Selama beberapa saat, tidak ada satupun dari mereka membuka suara. Nagi memilih untuk kembali mengerjakan tugasnya sementara Mr. Easthampton dan Ego duduk di seberang mejanya.

“Si Rosemary tidak sinting, tuh!” kata Ego. Ia melipat kaki dan menatap pria paruh baya di sampingnya dengan penuh tuntutan. “Aku kira dia tipe yang tidak tahu aturan, tidak bisa diam, dan lain-lain.”

Tuan Siegmund terkekeh singkat. “Oh, tidak. Rosé tidak sinting sama sekali. Itu hanya kamuflase—tentu saja. Dia terlihat agak sedikit gila tiap kali bermain peran, maksudku dilebih-lebihkan. Harusnya kau amati saat dia masih bermain-main sebagai wanita kuil agar tahu betapa lain-nya anak itu,” jelasnya sambil memelintir ujung kumisnya.

“Apa kau benar-benar akan menyuruhnya pergi ke Pruavania?” tanya Ego dengan nada bimbang.

“Iya. Dia sangat kompeten, cocok untuk tugas itu,” jawab pria paruh baya itu dengan tenang.

Ego menghela napas. “Dan itu tugas yang sangat berbahaya. Dia itu cukup dikenal di kalangan kita. Kau tahu apa yang aku bicarakan, kan?” katanya.

“Keamanannya memang tidak bisa terjamin seratus persen. Makanya aku sedang berusaha mendapatkan hati anakmu itu. Rosé bukan tipe yang bisa bekerja sama. Dia lebih efisien saat bekerja sendirian. Makanya aku cukup kaget melihatnya bisa melunak dengan anak itu.” Tuan Siegmund berdecak kagum. “Sepertinya mereka bisa jadi cukup membahayakan bagi musuh kalau bisa benar-benar bekerja sama,” lanjutnya.

“Tapi, Isagi tidak kenal siapa-siapa di sana,” bantah Ego. Ia tampaknya masih ingin mempertahankan anak buahnya itu untuk tetap berada di kontinen timur. “Dia buta informasi. Konflik di sana sudah berlangsung sekian tahun. Aku tidak cukup yakin untuk mengirimnya ke sana dalam waktu dekat, apalagi untuk urusan spionase yang kau ceritakan.”

“Justru itu, Nak.” Pria itu tersenyum tenang. “Justru karena dia tidak kenal siapa-siapa dan orang-orang di sana tidak mengenalinya, misi ini akan jadi lebih ringan. Selain menjamin keselamatan Rosé selama mengerjakan tugas spionasenya, Isagi bisa bebas menyeludup untuk menangkap dua orang musuh yang sedang kita cari.”

Ego terdiam sejenak sambil mengetuk meja di depannya beberapa kali. Ia membenarkan posisi kacamatanya lalu menatap Nagi dan berkata, “Siapkan identitas baru dan segala sarana prasarana untuk pergi ke Pruavania. Aku akan mengirimnya bulan depan sesuai dengan kesepakatan yang telah disetujui oleh Tuan Grinn.”

Pria paruh baya itu tampak senang mendengarnya. “Aku akan pastikan itu akan menjadi pengalaman yang paling berharga.”

 


 

“Isagi!” Chigiri yang sejak tadi menunggu pemuda itu keluar melambaikan tangan.

Isagi menoleh dan mendapati pemuda itu sedang duduk di depan balai keamanan bersama lima orang lainnya. “Eh, ramai sekali,” katanya.

Pemuda itu berjalan mendekat ke arah sekelompok orang itu dengan gembira. Rasanya ada beban yang hilang dari pundaknya usai beberapa hari ini ia tak henti-hentinya bekerja.

“Wah! Gila!” Kunigami menepuk bahu Isagi begitu pemuda itu sampai di hadapannya. “Bagaimana kau menyebut sesuatu yang seperti itu?”

Isagi mengedikkan bahu. “Entah. Kasus dibalik kasus?”

“Kami sudah dengar semuanya. Rasanya masih sulit dipercaya—maksudku, pembunuhannya,” kata Hiori yang duduk di samping Chigiri.

Kurona yang berdiri di belakang mereka mengangguk setuju. “Sulit dipercaya, sulit dipercaya.”

“Wanita itu masih belum mengaku katanya. Hah! Dasar wanita licik. Harusnya kau langsung saja mengatakannya padaku saat itu,” kata Chigiri dengan kesal.

“Ah, itu.” Isagi menggaruk tengkuknya dengan canggung. “Awalnya aku juga hanya berspekulasi menggunakan bahasa tubuh dan melihat emosi yang terlihat di mata mereka. Jadi, tidak bisa dipercaya sepenuhnya.”

“Tapi, bagaimana kau bisa tahu kalau itu dia? Maksudku, ada banyak sekali orang. Dari sekian banyak itu, bagaimana kau bisa menunjuk langsung—dan anehnya itu benar, sampai tahu skenario dibaliknya?” tanya Barou penasaran.

“Bagaimana, ya?” gumam Isagi sambil mengetuk dagunya beberapa kali. “Mungkin bisa dibilang aku beruntung. Ada beberapa kepingan petunjuk yang tertinggal karena mereka semua amatir. Bahkan yang tertinggal itu barang yang bisa menjadi kunci kasus ini. Kau ingat lilin yang aku ambil, Kunigami?”

Kunigami tersentak begitu ingat apa yang Isagi lakukan hari itu. “Jangan bilang—”

“Benar,” potong Isagi. “Hari di mana aku berangkat ke Sadena, aku sempat mampir ke apotek dan bertemu seorang nenek penjual herba. Aku beli daun herbanya karena aku merasa tidak asing dengan baunya. Ternyata dugaanku benar. Daun itu adalah bahan yang biasa dijadikan obat bius.”

“Ah, apa daun herba yang punya kandungan Opharile yang sedang banyak dibudidayakan itu?” tanya Nanase.

Isagi menganggukkan kepala. “Iya, daun itu. Singkatnya, seseorang memberitahuku kalau bahan-bahan seperti itu bisa mematikan apabila diolah dengan cara yang berbeda. Lalu, aku mencari tahu. Disaat yang bersamaan, Nyonya Machi tewas dan aku menemukan aroma yang sangat familiar dari dalam kamar tidurnya.”

“Lalu, kau menemukan sumber baunya yaitu dari sebuah lilin?” tanya Chigiri.

Barou berdecak sekali lalu menatap Isagi tak mengerti. “Lantas apa yang bisa membuatmu langsung tahu kalau pelakunya si wanita tua itu?”

“Ada banyak sekali kepingan petunjuk yang bisa aku hubungkan. Tapi, yang paling mudah adalah dengan memikirkan penyelesaiannya dengan metode eliminasi karena ada terlalu banyak orang. Pertama-tama, kita tahu daun herba itu sedang dibudidayakan. Tempat yang paling mudah untuk melakukan hal itu adalah wilayah Ikata. Itulah alasan kenapa aku memilih untuk pergi sendiri ke sana,” jelas Isagi sambil menatap teman-temannya bergantian.

Hiori mengangguk mengerti. “Itu masuk akal,” katanya.

“Lalu, aku menggunakan trik psikologis untuk melihat reaksi mereka apabila uang yang menjadi hak milik Nyonya Machi diberikan hanya kepada satu orang alih-alih dibagi rata. Hasilnya, mereka semua terkejut. Kau juga mendengar sendiri bagaimana mereka berusaha membantah kan, Chigiri?” tanya Isagi pada pemuda berambut merah itu.

“Ah, iya. Awalnya memang tidak ada yang percaya,” jawab Chigiri.

“Sampai akhirnya ada satu kalimat yang membuatku bertanya-tanya.” Isagi mengingat kembali kejadian yang terpatri dengan jelas dalam ingatannya. “Wanita tua itu mengatakan, ‘rasanya tidak benar’. Awalnya aku tidak merasa aneh sampai aku sadar tangannya yang tidak memegang kertas mengepal. Wajah tenangnya sangat sulit diabaikan hingga gerakan tubuhnya bisa saja kita lewatkan. Tapi, tentu aku merasa aneh. Sangat aneh.”

“Menarik,” kata Kunigami. “Apa yang kau pikirkan setelahnya?”

“Aku teringat seseorang yang mengatakan sesuatu tentang pemilik usaha kayu. Saat itu, aku merasa bisa menghubungkannya karena aku berpikir skenario yang sangat sepele bisa saja menjadi alasan sebuah kejahatan terjadi,” kata Isagi.

Semuanya terdiam setelah mendengar penjelasan itu. Agak sulit bagi mereka untuk menerka bagaimana jalan pikiran Isagi hingga bisa menemukan itu semua. Namun, sepertinya mereka semua sudah terbiasa akan hal ini.

“Cukup memusingkan,” ucap Chigiri sambil memijat pelipisnya. “Rasanya terlalu banyak informasi dalam satu waktu.”

“Itu, sih, sepertinya kita yang tidak terlalu cerdas,” kata Nanase.

Isagi terkekeh pelan. “Ah, sudah lah. Aku mau pulang dan tidur. Aku lelah,” katanya.

“Ya, benar,” kata Kurona. “Bagusnya begitu. Kita pulang lalu tidur.”

“Baik, baik. Kalau begitu sebaiknya kalian istirahat,” kata Kunigami setuju.

“Kalau begitu, aku pulang dulu. Sampai jumpa!” pamit Isagi seraya meninggalkan teman-temannya.

Ia berjalan cepat meninggalkan bangunan yang berada di pusat kota itu ke arah keramaian yang ada di sisi lainnya. Kakinya berjalan dengan buru-buru melewati para pedagang sebelum akhirnya berhenti karena mendengar sesuatu. Isagi berbalik. Ia tahu seseorang sedang mengikutinya.

“Ada apa, Nona Rosemary?” tanya Isagi.

“Tidak ada,” jawab wanita itu sambil menggelengkan kepala.

Isagi menatapnya dengan heran. “Kau dari tadi mengikutiku. Aku mau pulang.”

“Kalau begitu, aku ikut kau pulang,” ucap wanita itu dengan santai.

“Sejak kapan kau bisa memutuskannya?” tanya Isagi sedikit kesal.

Wanita itu mengedikkan bahu. “Tidak tahu. Mungkin sejak sekarang.”

“Aku mau pulang ke rumah,” kata Isagi penuh penekanan.

“Kalau begitu, aku ikut pulang ke rumah,” balas wanita itu tak mau kalah.

Isagi menatap wanita itu tidak senang. “Itu rumahku!”

“Eh, kau mau membiarkanku berjalan tanpa arah dengan kondisi seperti ini?” tanya wanita itu dengan nada memelas.

“Ah, sudah lah!” Isagi yang terlihat agak frustasi itu memilih untuk kembali berjalan. “Tidak bisa dibantah, tidak bisa dinasehati, keras kepala!” gerutunya sambil lalu.

Wanita itu berjalan mengekorinya. Meski sedikit kesusahan karena harus menggunakan tongkat, ia tak menyerah. Secepat apapun Isagi berjalan, wanita itu selalu berhasil mencapainya. Isagi sama sekali tidak menoleh tapi ia bisa memastikannya. Suara tongkat itu sedikit membuatnya bersimpati. Jadi, ia memutuskan untuk membiarkannya.

“Apa kau benar-benar percaya keberuntungan? Tadi aku dengar pembicaraanmu dengan teman-temanmu,” kata wanita itu memecah keheningan.

“Menurutmu? Bukankah akronim konyol yang kau temukan juga sebuah keberuntungan?” Isagi balik bertanya.

“Ah, benar juga,” gumam wanita itu.

“Dalam dunia kita, keberuntungan itu sesuatu yang ditemukan, bukan dicari.” Isagi berbelok ke sebuah gang yang ramai akan orang yang berlalu lalang dengan barang belanjaan mereka. “Kebetulan-kebetulan yang terjadi itu bisa terjadi karena kita sudah mengumpulkan banyak komponen. Komponen yang kita kumpulkan itu merupakan sesuatu yang kita temukan selama kita melakukan penyelidikan dan semacamnya.”

“Aku tidak setuju!” bantah wanita itu. “Keberuntungan itu sesuatu yang bisa kita cari juga. Kalau aku tidak mencari sampai ke sini, aku mungkin tidak akan pernah beruntung. Maksudku, semuanya berasal dari sesuatu yang ingin kita temukan. Cara kita menemukan itu semua adalah dengan mencari. Bukankah begitu?”

Isagi menghela napas. “Benar juga,” katanya tak acuh. “Peduli apa dengan keberuntungan. Itu bukan hal yang bisa diandalkan karena tidak selalu ada.”

“Iya, sih,” ucap wanita itu setuju. “Apa kau benar-benar tidak tertarik untuk pergi ke Pruavania?”

“Kenapa? Kau mau aku pergi ke sana?” tanya Isagi.

“Di sana ada perang. Sepertinya Tuan Siegmund perlu bantuanmu,” kata wanita itu.

Isagi tiba di sebuah bangunan sederhana yang memiliki nuansa biru yang cerah. Di depannya, ada beberapa bunga yang dirawat dengan baik oleh ibunya. Ia berjalan melewati taman kecil itu dengan senang. Rasanya sudah sekian lama ia tak kembali ke sana.

“Entah. Aku bilang akan mempertimbangkannya tapi aku tahu Ego-san pasti sudah memutuskan aku akan pergi atau tidak. Jadi, tanyakan saja padanya kalau kau mau tahu.” Isagi membuka pintu rumahnya. “Omong-omong, jangan mengatakan hal aneh pada ibuku.”

“Aku tidak boleh mengaku sebagai pacarmu?” tanya wanita itu sambil merengut sedih.

“Kenapa kau jadi sangat suka denga peran itu?” Isagi menatapnya dengan heran.

Wanita itu balas menatapnya dengan tajam. “Memangnya kau tidak suka? Padahal kau sampai pura-pura tenggelam untuk menarik perhatianku.”

Isagi merasa merinding mendengarnya. “Orang waras mana yang—”

“Eh, sudah pulang?” Ibu Isagi datang menghampiri. “Kenapa tidak langsung masuk? Oh, siapa ini? Tumben sekali kau bawa teman.”

“Selamat siang,” sapa wanita itu.

Ibu Isagi menyalaminya dengan ramah, “Siang.”

Isagi berjalan masuk melewati ibunya. “Ah, anggap sa—”

“Aku pacarnya,” potong wanita itu.

“P-pacar?” tanya ibunya tak percaya.

Sebelum Isagi mengatakan sesuatu, wanita itu dan ibunya sudah terlanjur antusias.

“Anda bisa memanggilku Beatrice,” kata wanita itu.

Ah, ya. Tentu saja itu hanya permainan peran.