Work Text:
"Sama seperti di film favoritmuuu, semua cara akan kucobaaa!!!"
Ganjar bernyanyi keras-keras sambil sesekali menabuh meja. Untungnya makanan di atas meja sudah direlokasi ke tempat yang aman, alias ludes masuk ke dalam perutnya.
Anies yang mendengarkan nada acak dari Ganjar hanya menggelengkan kepala. "Fals banget suaramu, Mas."
Ganjar mendengus, "Lho, suka-suka saya dong. Lagian kamu nih lebih gak ngerti nada sok-sokan komentarin saya!" Ganjar melirik tajam. Ia lantas memainkan ponselnya, masih menggumamkan lirik lanjutannya—tidak benar-benar berhenti bernyanyi.
"Astaga, Mas, kok jadi bahas-bahas saya yang gak bisa nyanyi sih,” sahut Anies, masih menanggapi dengan santai.
"Makanya diem deh, saya tuh masih marah sama kamu!"
Ganjar menyahut tanpa menoleh ke empunya suara. Mata dan tangannya masih fokus ke ponsel. Sesekali memencet simbol suka di unggahan yang terlewat di linimasa media sosialnya.
"Ampun, Kang Mas. Saya kan udah minta maaf tadi.” Anies menghela napas. “Yaudah sebut deh mau apa lagi? Sesajen yang tadi masih kurang?" lanjutnya, mencoba berguyon dengan Ganjar yang sedari tadi misuh-misuh.
Ganjar melotot, "Kampret kamu, Nies! Memangnya saya dedemit?"
Jajanan sebegitu banyaknya yang Anies beli di warung depan gang tadi memang hanya tinggal remahan saja. Membujuk seorang Ganjar Pranowo yang sedang ngambek memang butuh merogoh kocek dan stok kesabaran dalam-dalam.
Anis membalasnya dengan cengiran. "Hehe. Yaudah ketik nih, Mas Ganjar mau apa. Mumpung Cak Imin lagi di luar, biar sekalian nitip," ucap Anies, menunjukkan pesannya dengan Muhaimin sambil menyerahkan ponselnya ke Ganjar.
Ganjar menggeleng pelan. "Yang biasa kamu beli aja, Nies. Favoritmu," jawabnya.
"Favorit saya kan kamu, Mas."
"Basi. Mulut manismu itu gak mempan sama saya," cibir Ganjar. Namun senyum mulai terbit di bibirnya.
Ganjar mana mungkin bisa berlama-lama marah ke sosok di hadapannya ini.
