Work Text:
Jeonghyeon rasanya hampir gila karena harus menahan salah tingkah tiap teman satu grupnya meledek dia dengan Hanbin. Iya Park Hanbin, teman satu grup sekaligus sahabatnya sejak masa-masa trainee hingga sehabis acara survival usai yang mengharuskan mereka tinggal di satu dorm, dan hanya berdua.
Tiga tahun bukan waktu yang sedikit kalau Jeonghyeon boleh bilang. Sudah lebih dari tiga tahun masa remaja menuju dewasa Jeonghyeon habiskan dengan Hanbin, dan di masa itu pula kali pertama Jeonghyeon menyadari ada yang tidak beres dengan perasaannya.
Grup project debut yang menyatukan dia bersama enam teman lain dari survival show lalu itu benar-benar definisi dari berisik yang sesungguhnya.
Jeonghyeon tidak masalah kalau mereka berisik jika bermain, atau bertengkar layaknya saudara. Tapi tidak dengan berisik menjodoh-jodohkan dirinya dengan Hanbin. Bukan. Bukannya Jeonghyeon menolak ide itu, tapi Jeonghyeon tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum bodoh dan salah tingkah hanya karena Jihoo terus menerus memanfaatkan kesempatan untuk membuatnya bersama Hanbin.
Dan juga waktu mereka hanya tinggal berdua sehabis acara yang menguras mental dan fisik itu, Jeonghyeon jadi melihat sisi lain dari seorang Park Hanbin yang digadang-gadang memiliki kepribadian sangat ceria.
Malam itu Hanbin pulang ke dorm dengan mata sembab khas menangis, membuat Jeonghyeon mau tidak mau jadi maju dan memeluk Kakak beda beberapa bulan dengannya itu erat.
Hanbin menangis tersedu didekapannya. Sangat Pilu. Jeonghyeon rasanya ingin mengobrak-abrik seluruh dunia kala mendengar rintihan tangis Hanbin kala itu.
Dan sejak saat itu, keduanya jadi punya kebiasaan baru, untuk saling mendekap dan mengucapkan selamat malam sebelum melarikan diri ke alam mimpi.
Tapi yang lalu biarlah berlalu. Jeonghyeon dan Hanbin sekarang bagai dua makhluk representasi dari lagu 5 Second Of Summer yang berjudul Close as Strangers.
Jeonghyeon terus merutuk pada diri sendiri karena dia lah yang membuat Hanbin menjauh. Karena kejadian yang mungkin akan selalu Jeonghyeon sesali.
Malam itu, Jihoo datang berkunjung ke dorm tempat Jeonghyeon dan Hanbin tinggal, sendirian saja tanpa Munjung atau Seobin —teman Jihoo. Membawa dua box pizza yang akan dia jadikan santapan untuk menemani mereka bertiga menontom film.
Tapi belum juga anak SMA itu sampai pada ruang tengah dorm, dia telah menjatuhkan dua box pizza di ambang pintu.
Hanbin yang mendengar suara gaduh jadi menarik diri dan mendorong Jeonghyeon menjauh hingga sedikit terjerembab ke ujung sofa.
Pemuda cantik dengan lesung pipi itu merutuk terus terusan sebelum berlari masuk kedalam kamar miliknya, meninggalkan Jeonghyeon dan Jihoo yang saling tatap.
Satu yang dapat Jeonghyeon simpulkan, bahwa Hanbin-nya malu setengah mati setelah dipergoki Jihoo karena berciuman dengannya.
Semua salah Jeonghyeon yang sangat terbawa suasana saat menonton serial romantis yang Hanbin pelopori untuk mereka tonton sambil menunggu delivery makanan datang.
“Apasih? Kamu yang salah ya? Ngapain tunjuk-tunjuk abang?” kata Jeonghyeon sewot saat Jihoo memandangnya tajam dan menunjuk-nunjuk pemuda virgo itu.
Jihoo jadi mengerutkan keningnya, merasa tidak adil karena disalahkan, “Apaan kok jadi aku yang salah? Abang yang salah! Kenapa cium-cium Kak Hanbin?” balasnya tak kalah sewot.
“Samperin sana Kakakmu.”
“Apasih kenapa nyuruh-nyuruh. Kamu lah sana samperin pacarmu.” Jihoo memandang Jeonghyeon dengan sinis membuat Jeonghyeon jadi menghela nafas kasar sebelum menyugar rambutnya yang jatuh menutupi kening, lalu bangkit.
Jeonghyeon mengetuk daun pintu kamar Hanbin beberapa kali sebelum bunyi pintu yang dibuka memecah keheningan. Kepala Hanbin menyembul dibalik pintu, melirik ke arah Jihoo yang sudah fokus pada tayangan minions di televisi.
“Nggak mau gabung?” tanya Jeonghyeon dengan intonasi kecil.
Hanbin yang masih menundukkan badan jadi mendongak menatap Jeonghyeon di depannya, “Aku malu banget deh. Nggak usah aja ya, kamu aja temenin Jihoo nonton.” katanya final.
Jeonghyeon cuma balas mengangguk sebelum tangannya naik dan mengusap ujung bibir Hanbin yang terkena noda lip produk yang dipakainya dan meleber karena ciuman keduanya tadi. “Sorry i didn't mean to kiss you, tadi.” kata Jeonghyeon lirih.
Setelahnya Jeonghyeon pamit dan bergabung bersama Jihoo di ruang tengah.
Sejak saat itu Hanbin selalu menghindar dari dekat-dekat dengan Jeonghyeon. Membuat pemuda virgo itu jadi sedikit merasa bersalah karena telah ruined their 3rd years friendship.
Sudah lewat setahun lebih sejak kejadian Jihoo memergoki mereka berbuat yang tidak-tidak di dorm, sekarang Jeonghyeon maupun Hanbin jadi saling menghindar satu sama lain walaupun debut di dalam satu grup.
Jihoo dan empat teman yang lain seringkali meledek keduanya yang enggan bersebelahan maupun act like they're friends seperti mereka dengan member yang lain.
Hanbin bisa dengan leluasa mencium dan menggelendoti Keita, ataupun Yunseo, dan bahkan dengan Jihoo dan Munjung, tapi tidak dengan Jeonghyeon. Hal itu membuat Jeonghyeon jadi pusing sendiri dan merasa marah.
“Kenapa sih, mukanya ditekuk terus?” Jeonghyeon menoleh kala Keita ikut duduk dan bergabung dengannya di kursi balkon tanpa melakukan apapun.
“Hanbin. Do you think that he hates me?” bukannya menjawab, Jeonghyeon malah jadi ikut mengajukan tanya, membuat Keita disebelahnya jadi mengerutkan kening.
“He likes you dumbass.” semprotnya yang malah membuat Jeonghyeon jadi terkekeh pelan.
“Really? But i don't think so. Dia betulan menghindariku,” di nada nya ada setitik sendu yang ikut keluar.
Jeonghyeon menoleh ke arah Keita yang kini sudah memasukkan potongan melon terakhir kedalam mulutnya, “Dia bisa cium-cium kamu, dia juga bisa minta peluk sama Yunseo dan Sungeon. Bahkan menggelendoti Munjung dan Jihoo?” katanya mengeluh.
Keita balas terkekeh ringan, “Are you jealous huh?”
“Nggak.”
Yang lebih tua jadi mencibir sebelum meninju pelan lengan Jeonghyeon yang terbalut cardigan hijau, “You're not jealous but you're sulking. Hanbin… dia sepertinya malu saja denganmu.”
Jeonghyeon mengernyitkan kening, “Why?”
“Dia cerita, kalau Jihoo pernah memergoki kalian berciuman diatas sofa.”
“Damn, dia betulan tidak bisa melupakan itu ya.”
“Bagaimana bisa dia melupakan ciuman pertamanya? And especially it's you, you're the one who stole his first kiss, Jeong.” Keita balas mengomel, “And he love you.” lanjutnya dalam hati.
Hanbin masih bergelung dengan selimut dan memeluk boneka angsa yang Munjung hadiahkan untuknya pada malam natal kemarin. Memegang ponsel dan menggulir lama twitter untuk menggali informasi.
Dia kemudian terkekeh pelan kala menemukan satu tweet yang berisi kumpulan momen dirinya dengan Jeonghyeon sejak masa trainee hingga sekarang.
Senyumnya perlahan luntur karena intensitas dirinya berinteraksi dengan Jeonghyeon di masa sekarang cuma ada segelintir.
Hanbin bukannya membenci Jeonghyeon seperti apa yang pemuda virgo itu pikir. Hanbin hanya merasa malu dan terus mengingat kejadian hampir setahun yang lalu di atas sofa dorm lama mereka.
Wajahnya kian panas kala memori otaknya memutar kembali adegan itu. Dengan bagaimana tangan Jeonghyeon ada di pipinya dan mengelus sepanjang rahangnya, dan sesekali jempol Jeonghyeon mengusap bibir tipisnya. Semuanya terasa sangat nyata sampai tangan Jeonghyeon jadi memencet pipinya hingga cekung dan membuat bibirnya mengerucut. Tidak. Ini tidak seperti adegan setahun lampau.
Hanbin mengerjap beberapa kali sebelum menoleh dan memekik kecil. Jeonghyeon disana, berdiri di sebelah ranjang tingkat milik keduanya.
“Mikirin apa sampai mukanya merah kayak gitu?”
“Mikirin kamu lah!” ingin rasanya Hanbin berteriak seperti itu tepat di depan muka Jeonghyeon. Tapi apa daya, Hanbin tidak memiliki nyali sebesar itu.
Hanbin menggeleng keras dan mundur hingga punggungnya menabrak tembok, menghindar dari sentuhan tangan Jeonghyeon yang hendak kembali menyentuhnya.
Refleks Hanbin tadi jadi membuat Jeonghyeon mematung dengan tangan yang masih di udara, “Sorry.” cicitnya sambil sedikit menunduk.
Hal itu membuat Hanbin jadi mengulum bibir, merasa bersalah sebelum menggeser tubuhnya dan menarik tangan Jeonghyeon yang masih bertengger di kayu pembatas, “Tadi mau apa memangnya?” katanya sambil memegangi jemari Jeonghyeon sebelum menaruhnya ke atas kepalanya.
“Usapin dong, aku sedikit ngantuk.”
Jeonghyeon tak ayal jadi terkekeh pelan dan menuruti apa kata Hanbin.
“Dua hari lagi kamu ulang tahun, mau kado apa dari aku?” tanya Jeonghyeon membuat Hanbin yang sudah hampir terlelap jadi kembali membuka mata.
“Mau kamu, boleh?”
Jawaban Hanbin membuat Jeonghyeon lagi-lagi mematung dan kegiatannya mengusap puncak kepala Hanbin terhenti.
“Nevermind. Mending kamu keluar saja, tadi aku dengar kamu dipanggil Keita.” kata Hanbin setelah Jeonghyeon tidak menjawab permintaannya tadi.
Ya bisa dimengerti, permintaan Hanbin agaknya sedikit tidak masuk akal dan penuh misteri.
“O-okay, good night.” sejurus dengan itu, Jeonghyeon balik badan dan memilih untuk keluar dari kamar mereka, meninggalkan Hanbin yang diam-diam menghela nafas panjang.
Jeonghyeon betulan tidak bisa tidur bahkan sehari setelah Hanbin dengan santai mengutarakan keinginannya.
“Mau kamu, boleh?”
Pemuda virgo itu buru-buru menggelengkan kepalanya, guna mengusir pikiran kotornya kala suara mendayu dan tatapan sayu Hanbin terputar di memori otaknya.
“Mau kamu. Mau kamu… Mau aku ngapain?” monolognya yang entah keberapa kali malam ini.
Tomorrow is the day.
Jeonghyeon betulan tidak menyiapkan apapun untuk hadiah Hanbin selain cardigan rajut berwarna pink yang dirinya buat sejak sebulan yang lalu mengikuti kursus merajut.
Mereka di dorm hanya berdua malam ini, lima member lain sudah memiliki janji temu masing-masing. Entah akan pulang kapan tidak ada yang tahu.
“Jeong, bisa bantu aku hidupin kompor?”
Jeonghyeon menoleh ke asal suara, Hanbin di dapur lengkap dengan panci dan satu bungkus ramyeon.
“Laper ya?” tanyanya sembari membantu Hanbin menghidupkan kompor dan mengisi panci dengan air. “Duduk aja, aku masakin. Karena kamu ulang tahun malam ini.”
Hanbin jadi berseru sebelum menepuk pundak Jeonghyeon dengan lembut lalu berbalik dan menunggu di meja makan.
“Jeonghyeon, gimana kalau kita ciuman sekarang?”
Si pemuda virgo jadi menoleh, menatap lekat pada Hanbin yang duduk menopang dagu di atas meja makan, “Pardon?”
“You look extremely hot saat memasak.” Hanbin terkikik sebelum jadi menahan nafas saat Jeonghyeon dengan sengaja mendatanginya dan menatap tepat di depan wajahnya.
“Kiss me then.”
Selanjutnya, Hanbin bangkit dan menarik Jeonghyeon kedalam ciuman yang menuntut.
Jeonghyeon menegang, tidak menyangka bahwa Hanbin akan bersungguh-sungguh menciumnya saat ini juga.
“Fuck. Kenapa kamu tidak membalas ciumanku?” seru Hanbin sambil terengah setelah dia menyudahi ciumannya dan menarik diri, “You hates me so much, huh?”
“You really felt disgusted after kissing me a year ago, didn't you?” tuduh Hanbin yang membuat Jeonghyeon jadi membelalakkan matanya. Merasa tidak terima dengan tuduhan tidak berdasar yang Hanbin utarakan.
“Stop talking nonsense, Hanbin.” kata Jeonghyeon sembari menarik tengkuk Hanbin untuk kemudian dia bawa kedalam ciuman lembut.
Posisi sudah berubah sekarang, Hanbin disandarkan pada kabinet di sebelah meja kompor sebelum tubuhnya ditekan agar tetap diam.
Tangan Jeonghyeon yang menganggur bergerak mematikan kompor saat air di panci sudah mendidih.
Jeonghyeon melumat lembut bibir atas dan bawah Hanbin bergantian sebelum menggigit kecil bibir bawah yang lebih tua untuk kemudian dia lesakkan lidahnya, mengabsen deretan gigi rapi Hanbin.
Hanbin sesekali melenguh kecil saat Jeonghyeon dengan sengaja menggigit kecil belah bibirnya. Suara kecipak basah diiringi dengan suara lenguhan pelan yang mereka ciptakan memecah keheningan malam itu.
Hingga sampai pada dentingan standing clock di sebelah televisi berbunyi.
Jeonghyeon melepas tautan bibir kedua sebelum terkekeh pelan, “Happy birthday, Kak Hanbin.” katanya dengan suara lembut dan halus, “You looks so pretty tonight.” lanjutnya sambil tak bisa mengalihkan pandangan dari bibir plumpy milik Hanbin yang mengkilat akibat saliva keduanya dan berwarna merah merona.
“Don't talk to me.” sambar Hanbin sembari menepuk keras dada Jeonghyeon, membuat pemuda virgo itu terkekeh pelan.
“Why? Kamu betulan sangat cantik malam ini.”
Hanbin merotasikan matanya sebelum jadi memeluk Jeonghyeon erat, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Jeonghyeon dan menghirup dalam-dalam bau si pemuda virgo.
“Jadi, kamu minta aku ngapain buat hadiah ulang tahunmu?” tanya Jeonghyeon sambil balas mendekap.
“To fill me up.”
“To what????” pekik Jeonghyeon yang lalu berusaha melepaskan dekapan Hanbin yang kian mengerat. Pemuda virgo itu butuh tau ekspresi apa yang Hanbin pasang saat mengatakan hal tidak senonoh tadi.
Pada akhirnya Hanbin melepaskan pelukannya, “Jeong, please make me.” katanya sembari menatap penuh permohonan kepada Jeonghyeon di depannya.
Dan siapalah Jeonghyeon yang berani menolak permintaan pemuda yang sedang berulang tahun ini.
“Kamu duluan lah yang buka pintu, aku jadi bagian yang membawa kue dan bernyanyi saja.”
“Tak bisakah aku saja yang membawa kue? Aku terlalu nervous untuk memanggil Kak Hanbin, apalagi pasti ada Abang disana.”
Jihoo dan Munjung bercekcok kecil di depan pintu kamar Hanbin dan Jeonghyeon. Membawa satu kue lengkap dengan lilin dan hiasan. Bersiap memberi kejutan pada Kakak mereka yang tengah berulang tahun.
“Move! Biar aku saja.” sambar Keita yang jadi tidak sabaran akibat dua adiknya yang hendak kembali bercekcok.
“Hanbin Happy birthday to you…”
“Kak Hanbin happy birthday…”
Seru mereka berlima setelah Keita membuka pintu kamar.
“Damn, kan aku sudah bilang, mereka pasti sedang menghabiskan waktu bersama diatas ranjang.” Jihoo berbisik kearah Munjung yang langsung menyenggolnya agar terdiam.
Seungeon menghidupkan lampu membuat ruangan kamar jadi terang benderang, dan memperlihatkan dua orang berbagi kehangatan di atas ranjang bawah milik Jeonghyeon. Dengan
Jeonghyeon yang bertelanjang dada, juga beberapa baju berserakan dibawah.
“Did you two???????”
Jeonghyeon balas mengangguk sebelum menyuruh mereka semua keluar dari kamar. Membuat Keita yang mengajukan tanya jadi menganga.
