Work Text:
Rumah itu tampak bisa ditempati. Sinar dari matahari sore menerangi rumah itu, memperlihatkan kondisi rumah lebih jelas. Walau rupa dari rumah itu terlihat dapat roboh kapan saja, tetapi rumah itu layak menjadi tempat tinggal. Tangga kayu itu berderit saat ia dan kawannya memijakkan kaki di sana.
Para petinggi benar. Mereka melakukan renovasi besar-besaran dengan cepat dalam dua minggu agar dia bisa tinggal di daerah ini selama bertahun-tahun. Ketika masuk, keadaan rumah tampak biasa saja. Perabotan seadanya seperti meja makan, kursi kayu panjang yang difungsikan sebagai sofa dan beberapa peralatan masak. Kemudian, terdapat dua kamar di sana. Rumah ini cukup untuk di tempati dua orang.
"Itu kamar untuknya," ucap rekannya yang ikut bersamanya, menunjuk salah satu dari dua kamar.
Abu Syik menoleh, melangkah memasuki ke dalam kamar. Cukup kecil tapi pas untuk satu orang. Terdapat lemari yang tidak terlalu besar, namun cukup untuk memasukkan beberapa pakaian dan barang di dalamnya. Jendela di kamar tersebut sudah terbuka, membiarkan pergantian sirkulasi udara agar tidak pengap. Terdapat dipan yang terbuat dari kayu yang kasurnya tampak empuk. Saat dipegang, memang masih empuk. Kemungkinan kasur itu baru dipakai sebentar lalu dihibahkan kepadanya untuk si bayi dalam gendongannya.
Abu Syik perlahan meletakkan bayi yang sedari tadi tidur tenang dalam kain jariknya ke atas kasur. Ia melipat kain jarik tersebut, menjadikannya bantal untuk si bayi. Membiarkan si bayi perempuan cantik itu tidur lebih pulas.
Abu Syik menoleh ke arah luar jendela. Ia melangkah mendekat, melihat keadaan kampung yang ditempati. Dari bawah tadi dia sudah melihat secara keseluruhan, jarak antar rumah-rumah disini cukup jauh, memungkin untuknya melatih dan memberikan didikan khusus untuk bayi yang dibawanya kesini. Dari jendela kamar, Abu Syik menyimpulkan bahwa tetangga tidak akan terlalu melihat apa yang akan terjadi dalam rumah sebelah mereka.
Walau sudah tua, Abu Syik masih memiliki mata yang tajam untuk melihat kejauhan. Ia tidak dapat terlalu melihat apa yang sebenarnya kegiatan yang dilakukan di dalam rumah tetangganya. Itu kabar baik untuknya. Abu Syik tahu orang-orang yang tinggal disini tidaklah sepenuhnya suci, tapi lebih baik dia merahasiakan urusannya dari orang-orang ketimbang membuat mereka mengetahuinya. Meskipun tempatnya bekerja tidak terlalu memusingkan hal tersebut.
Mereka kembali sibuk memasukkan beberapa barang ke dalam rumah. Mulai dari tas, beberapa kotak, dan beberapa senjata. Senjata-senjata itu disembunyikan di atas loteng, agar para tetangga tidak terlalu takut saat datang ke rumah.
Saat hendak mengganti seprai, Abu Syik memindahkan si bayi ke dalam kamarnya lalu memasangkan seprai di atas kasur. Menata tata letak perlengkapan bayi yang dibawa, dan mengeluarkan baju-baju bayi dari tas.
Ketika selesai, Abu Syik berjalan menuju ke arah kamarnya namun berhenti ketika melihat rekannya sedang berdiri di bingkai pintu. Menatap si bayi.
"Kau yakin bisa membesarkannya?" Rekannya bertanya.
Abu Syik melangkah masuk ke dalam kamar. Ia ikut melihat si bayi. Perlahan ia duduk di atas kasur. Wajah tidur bayi itu begitu tenang dan damai. Berbanding terbalik dengan apa yang dilalui bayi tersebut dua minggu lalu.
Seketika Abu Syik teringat malam kejadian ia pertama kali mendengar suara rengekan dari bayi itu saat menemukannya. Di tengah kerusuhan, di saat orangtuanya mati di tangannya, bayi itu bertahan.
Abu Syik memilih untuk membawanya pergi dan memutuskan merawat bayi tersebut hingga saat waktu dirinya yakin bayi itu sudah siap menjadi penerus selanjutnya, ia akan melepaskannya pergi.
Hanya itu tugasnya. Tugas terakhirnya, setelah itu dia bisa mati dengan tenang. Tentu saja ada syarat dalam melakukan tugasnya ini: jangan terlalu memiliki hubungan yang erat terhadap si bayi, jangan biarkan si bayi tahu dirinya adalah sosok yang dinantikan akan tumbuh menjadi petarung. Itu yang dipesankan oleh para petinggi. Seharusnya mudah, mengingat kebahagiaan palsu yang dilalui. Jadi, membesarkan bayi ini tidak akan terlalu menjadi masalah.
Dua minggu berlalu sejak pertemuan Abu Syik dengan para petinggi Organisasi—tempatnya bekerja—dan disinilah mereka sekarang. Di talang, kehidupan masyarakat yang seakan terisolasi dari dunia luar, tempat lahirnya kebanyakan para bandit.
Tapi ia datang ke sana bukan untuk menjadikan si bayi menjadi salah satu dari mereka. Melainkan sebaliknya.
"Tentu saja." Abu Syik menjawab pertanyaan rekannya tadi. "Aku sudah menjalankan hidup setengah abad, separuh dari perjalanan itu aku melakukan semua hal kasar dengan berani dan sendirian. Seharusnya membesarkan dan merawatnya tidak akan susah." Abu Syik tetap memandangi bayi perempuan tersebut, mengingat berasal dari keluarga apa bayi itu. "Terlebih, dia memiliki bibit petarung yang kuat. Kedua orangtuanya bertarung dengan hebat. Pastinya dia akan menjadi petarung yang hebat dan jauh lebih kuat dari mereka. Akan aku pastikan itu."
Rekan Abu Syik yang sedari tadi mendengarkan, tersenyum. Ia tahu kawannya satu itu sebenarnya tidak terlalu ingin menjalankan tugas ini, mengingat betapa gelap juga reputasi kawannya. Namun, mungkin keajaiban Tuhan itu memang ada dan sudah saatnya Abu Syik sendiri yang merasakan keajaiban itu tanpa disadari.
"Akan aku nantikan hari itu. Tapi untuk sekarang, cobalah untuk selalu mengingat yang kau besarkan ini manusia, masih bayi. Terlebih dia kelak akan tumbuh menjadi seorang gadis. Dan ingat, dia bukanlah dirimu, kawan."
Abu Syik mengerti apa maksud kalimat rekannya itu. Dan tentu saja dia akan mengingat perihal masalah tentang perempuan. Mulai dari perkembangannya dari bayi sampai dewasa nanti. Untuk soal mendidiknya, Abu Syik tidak berjanji tidak akan melatihnya dengan keras, tapi tentu bayi perempuan itu akan mendapatkan pelatihan yang lebih bagus ketimbang dirinya dulu.
"Jangan khawatir. Dia akan baik-baik saja." Hanya itu yang bisa Abu Syik katakan. Rekannya mengangguk, mempercayainya.
"Baiklah. Karena sepertinya tidak ada lagi yang bisa aku bantu, aku akan pulang." Rekan Abu Syik sekali lagi menatap bayi perempuan yang tertidur pulas di atas kasur. "Sampai ketemu lagi, Padma."
Padma, nama yang diberikan untuk bayi itu. Filosofis namanya unik. Kapan-kapan kita ceritakan (atau mungkin kalian sudah mengetahuinya).
Abu Syik dan rekannya keluar rumah, menuruni tangga ke halaman rumah. Langit tampak semakin sore, warna jingganya semakin tumpah meruah di atas sana seperti cat yang berserakan dan bercampur dengan warna putih dan ungu.
"Terima kasih sudah mau membantuku."
Rekan Abu Syik membuka pintu mobil, hendak masuk. "Hei, itu namanya kawan. Aku memiliki firasat kita akan sangat jarang bertemu lagi. Jadi, lebih baik aku membantumu selagi sempat. Terlebih melihat bakal jagoan Organisasi di masa depan untuk terakhir kalinya sebelum dia tumbuh menjadi wanita yang hebat."
Setelah bercakap sedikit banyak, rekan Abu Syik itu akhirnya menyalakan mobil. Mengemudikannya keluar dari talang dan tidak terlihat lagi.
Beberapa bulan berlalu dan Abu Syik merasa seharusnya dia jangan terlalu percaya diri saat beranggapan dirinya bisa membesarkan seorang bayi sendirian, terlebih bayi perempuan lincah seperti Padma.
Tidak, dia tidak mengeluhkan rengekan tangisan bayi itu di tengah malam. Ia sudah terbiasa terbangun dari tidur dengan berbagai kericuhan yang mendadak terjadi. Abu Syik juga tidak mengeluhkan ribetnya membersihkan bokong bayi itu saat sudah buang air besar.
Yang dia keluhkan (bahkan sedikit ia khawatirkan) adalah tingkah jahil dan tak terduga dari bayi yang sudah beranjak berumur 11 bulan itu.
Seperti sekarang:
Abu Syik menghela napas. Ia berjongkok, ditangannya terdapat sebuah ranting. Matanya tajam menatap bayi di depannya yang tengah tertawa, awas melihat pergerakan Padma selanjutnya.
"Padma." Abu Syik mendekati bayi tersebut, mencoba berucap lembut. Sebelah tangannya terbuka. "Berikan paku itu ke Abu Syik."
Bayi itu tidak mendengarkan 'kakeknya'. Keras kepala sejak dini. Entah dari dia mendapatkan sifat tersebut. Sang ayah kah? Sang ibu kah? Tidak tahu. Yang penting sekarang adalah bayi itu sedang memegang paku dan Abu Syik harus mendapatkan kembali benda tersebut.
Pernah satu kali Abu Syik mengambil paksa paku dari Padma, bayi itu langsung menangis. Tidak heran. Siapa juga yang tidak sedih jika sesuatu diambil paksa darinya? Tapi keheranan semakin memenuhi kepala Abu Syik ketika kerjanya sudah selesai, bayi itu tak kunjung berhenti menangus.
Bahkan saat mencoba bermain dengan Padma sampai menggendongnya untuk menenangkannya, tangisan itu tak kunjung berakhir. Berbagai cara Abu Syik lakukan, sampai ia berpikir memberikan paku kembali Padma. Anehnya tangisan bayi itu berhenti, digantikan suara tawa.
Mulai saat itu, Abu Syik selalu menjauhkan Padma (bahkan mengurungnya dalam kamar) untuk tidak mengganggunya, atau lebih buruk mengambil satu benda tajam dan memasukkannya ke dalam mulut.
Dan kejadian itu terulang lagi hari ini.
Abu Syik berpikir Padma tidak akan ingat lagi dengan paku-paku itu karena sudah 3 bulan Padma tidak melihat benda tersebut karena Abu Syik jadi selalu mengerjakan sesuatu di luar rumah. Maka, ketika Abu Syik hendak memasang pembatas di kamar bayi, karena Padma sekarang suka merangkak keluar dari kamar kapan saja saat ia sedang bekerja, ia tidak menyangka Padma masih ingat dengan paku-paku itu.
"Hei, lihat ke sini. Eh, jangan dimasukin ke mulut!" seru Abu Syik setengah panik dengan intonasi yang cukup kecil agar bayi itu tidak takut. Ia menahan tangan Padma yang hendak memasukkan ujung paku ke dalam mulut, membuat Padma menatapnya. Abu Syik menghela napas.
Dari siapa kenekatan bayi ini berasal, huh?
"Padma, dengerin Abu Syik."
Abu Syik duduk di depan Padma. Dia bisa saja membentak bayi itu, memperingatkannya untuk tidak bermain lagi dengan benda-benda berbahaya. Tapi mengingat efek psikologis yang akan didapat Padma, Abu Syik berusaha meredakan rasa geramnya.
"Ini bahaya. Nggak boleh, ya. Ganti sama ranting saja ya mainnya." Abu Syik memperlihatkan ranting yang sedari tadi dipegang. "Nih. Ranting lebih ringan dan panjang. Ganti, ya." Abu Syik menyodorkan ranting tersebut ke depan Padma, berusaha menawarkan mainan baru.
Padma Si Bayi ragu-ragu sebentar. Ia gantian melihat paku, kemudian melihat ranting kembali. Ranting itu memang panjang dan tampak lebih menarik untuk dimainkan. Tapi, dia sudah suka bermain dengan paku di tangannya.
Terlihat masih ragu, Abu Syik diam-diam mengambil paku di tangan kecil Padma yang tampak melonggar. Sedikit demi sedikit ditarik, lalu saat Padma menyadari paku yang dipegangnya tak lagi dalam genggamannya, ia menoleh ke sang 'kakek'. Matanya berbinar hendak menangis, merasa kehilangan. Mulutnya tertekuk gemas.
Abu Syik memberikan ranting tersebut ke Padma, membuat bayi itu menggenggamnya. "Nih, coba pegang. Ringan, kan? Tuh, coba kamu ayunkan. Lebih asik, kan?" ujar Abu Syik, mencoba meyakinkan 'cucunya'.
Tangan Padma mengikuti ayunan yang gerakan ayunan Abu Syik. Bayi itu awalnya tampak bingung. Namun, tak lama senyuman terbentuk kembali di wajah gempalnya.. Ia mulai cekikikan, bermain dengan 'mainan' barunya.
Abu Syik yang melihat respons tersebut, mendengus lega. Akhirnya dia tahu apa yang bisa digunakan untuk membuat Padma mengembalikan paku jika suatu saat mengambilnya lagi—yang Abu Syik berharap hal itu tidak pernah terjadi lagi.
Ketika Abu Syik hendak berdiri, Padma yang sedang mengayun-ayunkan ranting yang dimainkan, tak sengaja ranting itu menebas wajah Abu Syik, mengenai mata 'kakek'nya.
"Aduh!"
Padma semakin cekikikan.
Duduk di kursi meja makan bersama Padma, sembari menyuapi bayi tersebut, Abu Syik masih memikirkan bagaimana membuat bayi itu bisa berjalan.
Seharusnya di umur Padma sekarang dia sudah bisa berdiri tegak. Tentu, umurnya masih 12 bulan. Bayi sudah dapat belajar berjalan sejak umur segitu sampai umur 15 bulan. Tapi, lebih cepat lebih bagus.
Sudah berkali-kali Abu Syik membimbing Padma untuk berdiri kemudian perlahan menggerakkan kakinya, membiarkannya berdiri selama beberapa detik.Tapi sayang, Padma belum bisa berjalan sesuai ekspektasinya.
"Bu-bu-buuu." Padma memanggil, minta disuap lagi. Makanan bayi di mangkuknya memang tinggal sedikit. Abu Syik menyendok satu suap penuh ke dalam mulut Padma. Mulutnya yang berlepotan dilap. Mangkuk yang kosong lalu dibawa ke dapur, diletakkan ke dalam baskom untuk dicuci nanti.
Saat kembali ke meja makan, Padma sedang berbicara sendiri sembari melihat burung-burung sedang hinggap di dahan pohon sebelah rumah mereka. Abu Syik menggendong Padma, memindahkannya ke ruang tengah untuk bermain dengan mainan-mainannya. Beberapa buku bergambar juga dibuka untuknya.
"Bu-buuuu." Padma menatap Abu Syik, mata hitamnya berbinar, membujuk bermain bersama.
"Abu Syik cuma mau ngambil radio sebentar." Kemudian Abu Syik meninggalkan Padma di tuang tengah, pergi ke kamar. Radio yang dimaksud bukanlah sembarang radio. Alat itu dialihfungsikan menjadi alat telekomunikasi dengan anggota rekannya di luar wilayah karena sinyal di talang sangat buruk.
Duduk di sebelah Padma, Abu Syik memutar kenop radio, memberikan pesan.
[Belum ada kemajuan yang signifikan darinya]
Setelah mengirim sinyal tersebut, Abu Syik kembali bermain dengan Padma. Sesekali ia membacakan gambar-gambar dalam buku, Padma mencoba ikut melafalkan nama-nama dari gambar tersebut.
Terdengar suara krsk, krsk dari radio.
[Jangan berpikir berlebihan. Dia baru 12 bulan. Masih ada waktu untuk mengajarkannya]
Abu Syik tidak menjawab pesan tersebut. Balasan dari kekhawatirannya pasti selalu seperti itu. Apakah Organisasi tidak mau membagikannya tips untuk mempercepat bayi yang diasuhnya ini untuk cepat berjalan? Itu akan sangat membantunya untuk segera menstimulasi perkembangan Padma selanjutnya, daripada khawatir tidak jelas seperti ini.
Pagi menjelang siang kala itu terasa sejuk. Sinar mentari masuk ke dalam rumah mereka melalui jendela. Sepoian angin masuk ke dalam rumah, diikuti dengan burung yang hinggap di tepi bingkai jendela. Padma yang melihat burung tersebut, matanya langsung berbinar. Tangannya menunjuk burung di jendela. Senyuman seketika terukir di wajah mungilnya.
"Bu....bu..." ucapnya. Padma menoleh ke 'kakeknya' dengan mata berbinar. "Bu...."
Seakan tahu apa yang ingin diucapkan Padma, Abu Syik menjawab, "Iya, itu burung."
Abu Syik yang selalu melihat ekspresi penasaran dan gembira Padma itu, tersenyum kecil. Menjaga jarak hubungan emosional dengan Padma untuk tidak terlalu dekat dengannya masih Abu Syik perhatikan. Namun, dalam beberapa pencapaian perkembangan Padma belakangan ini, ia memang merasa bangga kepada anak itu. Ia senang saat melihat reaksi, pertumbuhan si kecil selama beberapa bulan belakangan, hal itu menyenangkan hatinya.Tapi, Abu Syik tetap menjaga jarak pada hal afeksi. Ia melarang diringa menganggap Padma adalah sebagian diri dari Abu Syik, beranggapan Padma adalah sosok berharga yang harus dia jaga seperti keluarganya, ia melarang hal itu semua.
Beberapa burung hinggap lagi di jendela. Satu dua burung terbang ke dalam rumah, hinggap di atas meja makan. Padma yang melihat hewan tersebut semakin masuk ke dalam, ingin mendekatinya. Ia pun berdiri.
"Bu..." Padma mulai mengambil satu langkah mendekat. Abu Syik tetap mengamati "cucunya" melangkah.
Padma baru bisa melangkah sebanyak lima langkah, ia tidak akan melangkah jauh. Setelah lima langkah, bayi itu akan terjatuh. Abu Syik sedikit mendekati Padma, bersiap jika bayi itu terjatuh saat melangkah.
Namun, di luar prediksi Abu Syik, Padma terus melangkah setelah langkah kelima diambil. Abu Syik terdiam, jantungnya terasa hendak keluar dari dadanya. Ia terkejut bukan main.
Lihatlah kedua kaki ke itu terus melangkah. Tak hanya lima langkah, tidak berhenti di langkah kelima. Padma tetap berjalan mengejar burung seakan dia sudah lama bisa berjalan. Kaki-kaki mungil itu terus melangkah.
Padma terus melangkah mendekati meja makan. Burung yang melihatnya, terbang menjauh keluar dari rumah. Tapi, ternyata itu tidak mengurangi rasa semangat Padma untuk melihat burung lebih dekat. Ia kian melangkah mendekati jendela. Abu Syik masih terpaku di tempatnya, terkagum dengan perkembangan Padma yang sempat ia ragukan. Seketika hatinya teraza hangat hanya dengan melihat "cucunya" bisa berjalan lebih dari lima langkah.
BUK!
Suara benda ditabrak menyadarkan Abu Syik. Padma tak sengaja menabrak kursi meja makan saking bersemangat ingin mendekati burung-burung di pohon. Dengan benda sekeras itu, cukup membuat bayi berumur 12 bulan tersebut menangis nyaring.
Cepat-cepat Abu Syik mendekati Padma, menggendongnya. Mengusap-usap jidat bayi tersebut sambil menenangkannya. Perasaan tergelitik dirasakan olehnya ketika melihat Padma menangis. Abu Syik terkekeh.
Semua pencapaian perkembangan yang Padma perlihatkan kepada Abu Syik, selalu disambut dengan tawa oleh bayi itu. Wajah terkagum dan terkejut Abu Syik selalu sukses membuatnya tertawa. Jadi, lucu sekali kalau memperhatikan Padma menangis setelah dapat berjalan sendiri untuk pertama kalinya.
"Kau biasanya selalu bahagia kalau mencapai suatu hal. Bertepuk tangan atau malah tertawa. Tapi di salah satu pencapaian terbesarmu kau malah menangis." Abu Syik membawa Padma ke dekat jendela, mencoba menghibur anak bayi tersebut melihat burung-burung yang hendak ditangkap. Padma yang mulai mendengar suara cuitan burung-burung dari pohon perlahan membuka matanya, melihat ke arah sumber suara. Ia kembali tampak kegirangan, tangannya terulur ingin memegang burung-burung.
Melihat raut muka "cucunya" perlahan kembali senang, Abu Syik mendengus, tersenyum. Ia ikut menatap sekawanan burung di pohon. Membayangkan kalau suatu hari saat Padma semakin besar, mungkin "cucunya" dapat menangkap burung-burung tersebut. Kemudian, saat tahun silih berganti, ketika rambut Padma semakin panjang, tubuhnya tampak semakin kuat sebagai seorang gadis, tangkapan Padma akan menjadi lebih besar. Kemungkinan ayam hutan. Lalu, di tahun-tahun berikutnya ketika paras wajahnya akan tampak lebih tegas dan seperti wanita dewasa, tangkapan Padma akan jauh lebih besar. Tangkapannya akan jauh lebih lincah dari seekor ayam hutan. Tangkapannya akan jauh lebih cepat dari seekor burung yang terbang dari pohon. Bahkan, tangkapannya mungkin akan sebesar dari seekor babi hutan yang terkadang ditemukan saat mampir ke dalam hutan, atau mungkin lebih lagi.
Abu Syik melihat kembali ke arah Padma, fokus pada binar di matanya. Tak selamanya binar itu akan selalu di sana. Akan datang masa bayi itu akan dilanda kesedihan yang luar biasa hingga membuatnya tak percaya musibah tersebut benar-benar datang menimpanya.
Namun, Abu Syik tidak terlalu mengkhawatirkan hal tersebut. Ia membesarkan padma, ratu dari segala bunga. Bunga Padma, bunga yang kuat dan penuh pengorbanan. Nama dengan kisa yang terdengar tragis, namun sebenarnya itu kisah yang menarik. Padma akan menjadi bunga itu ketika dirinya tidak ada, ketika bayi perempuan itu sudah siap menghadapi kenyataan kehidupan di luar sana.
Padma akan tetap berdiri kokoh dengan segala rasa sakit, pengorbanan dan makian yang akan diterimanya.
Satu langkah yang Padma ambil ketika berjalan sendiri untuk pertama kalinya, merupakan langkah yang berarti dalam mempersiapkan dirinya, ratu dari segala bunga.
