Actions

Work Header

Who'll Stop the Rain

Summary:

Aventurine merupakan seorang yatim piatu yang hidupnya dihabiskan untuk berjudi dan mencari masalah. Hingga suatu hari dia ikut menjadi korban sindikat perdagangan manusia.

Hari itu gerimis ketika sebuah mobil mewah datang menjemputnya. Aventurine pikir dia dibeli untuk dijadikan pelacur atau simpanan pria hidung belang kaya raya. Namun dugaanya salah. Dia justru dibawa ke sebuah mansion mewah dan diperlakukan dengan sangat baik di sana.
.
.
.
"... Bawa aku pergi, Veritas."

Notes:

Disclaimer:

Honkai: Star Rail © Mihoyo/Hoyoverse

Who'll Stop the Rain © Convallarie

Warning : OOC, Typos

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Saat itu langit sangat gelap dan gerimis turun ketika Aventurine dibawa keluar dari gudang tua tempatnya disekap bersama dengan dua puluh satu orang lainnya.

Pada jarak kurang dari lima meter terparkir sebuah mobil Audi hitam metalik. Detik itu juga Aventurine sadar bahwa seseorang sudah membelinya.

Matanya yang gelap memperhatikan siluet seorang pria dari balik kaca hitam mobil saat punggungnya didorong dengan kasar. Dia dipaksa maju dan berjalan di atas tanah yang becek untuk menghampiri mobil mewah tersebut.

Tanah basah dan lembek menggelitik kaki Aventurine yang telanjang. Ketika dia masuk ke dalam mobil, noda lumpur otomatis ikut mengotori karpet yang diinjaknya. Tapi pria kaya yang duduk di sebelahnya tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya memberi perintah sopir untuk segera pergi.

Perjalanan itu berlangsung hening. Sesekali Aventurine mencuri pandang pada pria yang duduk di sampingnya. Dia perkirakan pria tersebut berumur sekitar empat puluh tahun atau lebih, mungkin seumuran dengan mendiang ayahnya.

Garis wajahnya tegas dengan mata tajam yang dalam. Usia sama sekali tidak dapat menutupi bahwa pria itu memang tampan. Sayangnya ketampanan tidak bisa menjamin seseorang itu sesat atau tidak.

Aventurine dibawa ke sebuah hotel mewah bintang lima dan diberi fasilitas berupa suit room. Di atas ranjang sudah disediakan jubah mandi dan handuk berwarna putih, serta beberapa potong pakaian. Avanturine sama sekali tidak kaget dan terlihat masa bodo. Dia sendiri sudah siap menerima jika dirinya dijadikan prostitusi.

Semasa dua puluh tahun hidupnya, Aventurine akui dia bukan warga negara yang baik yang taat mengikuti aturan. Ia sering terlibat perkelahian dan menghabiskan hampir seluruh waktunya di kasino untuk berjudi.

Aventurine seorang yatim piatu. Jadi, saat mendapati dirinya ikut menjadi korban kasus perdagangan manusia Aventurine tidak panik maupun khawatir sama sekali. Dia berpikir hidupnya tidak lah seberharga itu, bahkan masa depannya terlihat sangat abu-abu. Menjadi peliharan pria kaya atau hidup serabutan di jalan terlihat tiada beda di matanya.

Suara ketukan pintu terdengar ketika Aventurine baru selesai mandi dan sedang menimbang-nimbang apakah dia perlu segera berganti pakaian atau menunggu tuannya di atas ranjang dengan patuh.

Akan tetapi, yang menyambut Aventurine di balik pintu bukan lah pria tampan yang telah membelinya, melainkan sopir yang sebelumnya membawa mereka.

Sopir tersebut merupakan seorang pria tua yang usianya sekitar enam puluh tahunan. Wajahnya yang sudah dipenuhi kerutan tersenyum ramah pada Aventurine.

Dia tidak masuk ke dalam dan datang hanya untuk memberitahu Aventurine bahwa dalam waktu lima belas menit akan ada pelayanan kamar yang mengantarkan makan malamnya. Juga menginformasikan tentang sang tuan yang sudah lebih dulu pergi karena urusan penting.

Setelah mengatakan mereka akan check out besok pagi dan terbang ke kota B, sang sopir tua pamit undur diri. Itu kali pertama dalam hidupnya Aventurine diperlakukan dengan begitu sopan oleh seseorang.

—o0o—

Akibat cuaca buruk penerbangan mereka sempat tertunda selama dua jam. Sisa-sisa hujan masih terlihat ketika Aventurine tiba di bandara kota B. Dia dapat mencium aroma tanah dan rumput yang basah.

Aventurine kemudian dibawa ke sebuah rumah sakit dengan mengendarai Rolls-Royce hitam. Untuk kali kedua ia diminta untuk melakukan pemeriksaan medis—yang pertama dilakukan saat dia masih disekap dan korban penculikan lainnya juga menjalani prosedur yang sama.

Kali ini lebih dari satu tenaga ahli yang membantunya dan butuh waktu selama empat jam hingga prosesnya selesai karena lebih mendetil.

Setelah makan siang Aventurine kembali dibawa pergi, kali ini ia dibawa ke area distrik perindustrian.

Dari balik kaca mobil dia memperhatikan gedung-gedung pencakar langit yang merupakan gedung perkantoran. Kafe dan restoran cepat saji terlihat ramai oleh orang-orang berdasi dan berpakaian formal karena saat itu masih jam makan siang.

Roda mobil berhenti tepat di depan lobi sebuah gedung perkantoran. Aventurine lalu dibimbing oleh seorang wanita berpenampilan cantik yang mengenakan setelan blazer berwarna beige. Dia diajak menaiki lift menuju lantai teratas gedung yang berada di lantai 64.

Aventurine dipersilahkan masuk ke sebuah ruangan yang sempat diliriknya memiliki tag bertuliskan Chairman Ratio. Wanita yang membimbingnya lalu berpaminat untuk kembali ke meja kerjanya sendiri sehingga dia masuk sendirian ke dalam ruangan tersebut.

Pria yang sehari lalu menjemputnya dari gudang tua di tengah belantara kini duduk di balik sebuah meja kerja dengan penuh wibawa. Matanya yang tajam dan tegas menatap Aventurine yang berdiri jauh di depan pintu.

"Mendekatlah." Katanya tegas dengan suara bariton yang enak didengar.

Aventurine dengan patuh berjalan mendekat hingga berdiri tepat di depan meja dengan santai. Sama sekali tidak terpengaruh oleh aura dominasi boss besar yang ada di hadapannya itu.

"Saya akan menjelaskan tujuan saya membawamu ke sini." Katanya lagi dengan nada yang cukup serius.

—o0o—

Keesokan harinya seorang asisten pribadi wanita membawa Aventurine ke sebuah mansion bergaya Eropa. Di gerbangnya yang menjulang terdapat simbol Laurel wreath yang biasa ditemukan di buku-buku sejarah Yunani kuno.

Di depan pintu utama telah menunggu seorang pria paruh baya yang mengenakan seragam kepala pelayan. Dia menyambut Aventurine dengan sikap dan senyuman yang ramah. Lalu membimbing Aventurine masuk sambil menjelaskan tata letak dan peraturan di dalam mansion karena Aventurine akan menjadi penghuni mansion untuk sementara waktu.

Kamar yang akan menampung Aventurine selama beberapa bulan ke depan tidak kalah mewah dengan kamar hotel yang dia tempati saat masih berada di kota C. Di dalam lemari besar yang memiliki tiga pintu juga sudah disediakan berbagai macam pakaian, aksesoris dan sepatu dari brand-brand ternama. Bisa dibilang keluarga Ratio sangat bermurah hati kepadanya. Mereka bahkan membelikannya smartphone baru.

Avanturine tidak sungkan dan mulai mencocokan beberapa pakaian yang sesuai seleranya di cermin besar yang ada di pojok ruangan.

Tak lama kemudian terdengar suara ketuka di pintu kamarnya ketika Aventurine sedang mengira-ngira jumlah uang yang bisa dia dapatkan jika menjual semua pakaian itu. Dia melemparkan sweater Balenciaga yang sedang dipegangnya ke atas kasur secara sembarang, lalu beringsut untuk membuka pintu.

Matanya disambut sosok wanita yang pernah dilihatnya pada potret besar keluarga tiga yang digantung di dinding ruang tengah mansion. Aventurine tebak wanita yang sedang dia hadapi adalah sang nyonya rumah.

Andaikan Aventurine tidak mengetahuinya, dia pasti akan salah megira bahwa wanita tersebut adalah putri keluarga Ratio alih-alih nyonya rumah. Bagaimana pun penampilan nyonya Ratio masih sangat muda dan cantik. Sama sekali tidak terlihat seperti wanita paruh baya. Lebih cocok jika disebut sebagai anak kuliahan daripada wanita yang sudah bersuami dan memiliki anak berusia remaja.

"Aventurine, benar?" Tanyanya dengan suara yang tak kalah indah dari parasnya. Bibirnya yang seranum delima mengulas senyuman yang ramah.

Aventurine mengangguk. Dia kemudian mempersilakan nyonya Ratio untuk masuk. Seorang pelayan wanita berusia tiga puluhan setia mengikuti di belakangnya.

Awalnya nyonya Ratio masih berbasa-basi dengan menanyakan hal-hal remeh semacam, bagaimana kenyaman kamarnya, apakah pakaian yang mereka sediakan sesuai preferensinya dan sebagainya. Dia baru memulai topik sesungguhnya ketika waktu sudah berlalu sekitar lima belas menit—memunculkan suasana melankolis yang menyesakkan.

"Kami tidak menyalahkanmu jika kamu membenci kami berdua. Tapi saya sangat berharap kamu tidak membenci dan menaruh dendam pada Veritas kami." 

Itulah kalimat terakhir yang diucapkan nyonya Ratio sebelum berpaminat dan menghilang dari balik pintu.

Aventurine tertawa. Dimulai dari kekehan tertahan sampai menjadi ledakan tawa seperti orang sakit jiwa. Menurutnya itu terdengar konyol.

Menghela napas, ia meraih satu-persatu pakaian yang berserakan di atas kasur dan mengembalikannya ke dalam lemari.

—o0o—

Di hari keempat dia tinggal di mansion keluarga Ratio, akhirnya Aventurine bertemu dengan Veritas.

Aventurine tengah bermain roulette secara online di smartphone miliknya saat Veritas baru kembali dari liburan di rumah kakeknya. 

Pemuda tampan berusia delapan belas tahun yang sudah memulai kehidupan perguruan tingginya di usia lima belas tahun itu sedikit mengerutkan keningnya. Bukan karena kehadiran sosok asing yang menguasai ruang tengah rumahnya, melainkan konten yang ada di layar smartphone orang tersebut.

"Secara ilmu matematika, probabilitas kemenangan dalam permainan judi adalah negatif. Artinya, pemain adalah pihak yang dirugikan. Semakin banyak pemain bertaruh, maka nilai harapan untuk menang akan semakin kecil. Dengan adanya analisis tersebut Aku heran kenapa masih banyak orang-orang bebal sepertimu yang masih mempercayai permainan kotor semacam itu."

Tiba-tiba dikuliahi oleh orang yang baru ditemuinya adalah pengalaman baru bagi Aventurine. Dia mengalihkan pandangannya dari layar smartphone untuk melihat si pemilik suara.

Ia berambut ungu bergelombang, memiliki kulit putih pucat, dan mata merah muda kemerahan dengan cincin kuning di sekitar pupilnya. Aventurine sangat hafal dengan ciri-ciri tersebut karena setiap hari dia melihatnya di dalam potret bingkai besar yang menempel di dinding berjarak tak lebih dari enam meter dari posisinya duduk. Pemuda tampan itu adalah Veritas Ratio, putra semata wayang keluarga Ratio.

Aventurine menyeringai, "Mari bertaruh. Akan kutunjukan bahwa teorimu itu salah."

Seusai mengatakannya Aventurine kembali berkutat dengan mesin roulette yang ada di layar smartphone. Ia memasang single bet di angka 32 dengan percaya diri, lalu roda roulette di layar mulai berputar diiringi efek kelap-kelip. Setelah beberapa saat, putaran roda roulette mulai melambat dan secara ajaib bolanya berhenti tepat di angka yang Aventurine memasang taruhan. Dalam satu kali percobaan Aventurine berhasil memenangkan straight up.

Seringaian Aventurine semakin lebar. Dia memasang wajah tak kalah angkuh dari Veritas yang wajahnya kini menggelap. Sambil menunjukkan hasil kemenangannya Aventurine mencibir, "Kau lihat? Pada akhirnya akulah yang akan selalu jadi pemenang dalam setiap pertaruhan."

Veritas mendengus pelan, menatap masam ke arah pemuda pirang itu untuk terakhir kalinya dan langsung menyeret kakinya pergi meninggalkan ruangan sambil menggeret koper yang ia bawa. 

Aventurine tertawa kecil. Dia kembali menyamankan posisinya di sofa, lalu kemudian melanjutkan permainan.

"How cute." Gumamnya.

—o0o—

Aventurine tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar dan melambaikan tangannya ke udara. Dia merasa seperti tenggelam di laut dalam dan tidak bisa bergerak sama sekali.

Dia kembali melihat masa lalunya seperti kaset film rusak yang diputar berulang-ulang.

Darah berceceran di seluruh lantai. Tubuh kedua orang tuanya terkulai kaku tak bergerak. Mata mereka yang mati membuka lebar, memelototi Aventurine seakan ingin menariknya ke dalam jurang gelap tak berdasar.

Aventurine terus dihantui oleh mimpi buruk masa lalunya yang kejam dan menakutkan. Dia berteriak dan memberontak, tapi seluruh badannya kaku tidak bisa digerakan.

Beruntung dia bisa kembali mendapatkan kesadarannya dan bangkit dari dasar bak mandi, terengah-engah mencari udara. Untuk beberapa waktu Aventurine terus mengeluarkan batuk di tengah napasnya yang memburu.

Dia nyaris tenggelam.

Kulitnya pun sudah berubah menjadi sangat pucat hampir membiru karena terlalu lama di dalam air.

Suara petir menggelegar terdengar saling bersahutan, diikuti angin dan hujan lebat. Pada saat ini semua orang sudah terlelap dalam peraduannya masing-masing. Hanya Aventurine yang tiba-tiba saja dipaksa terjaga.

Dia keluar dari bak mandi dengan tubuh telanjang. Ada banyak bekas luka lama yang tidak bisa dijelaskan di sekujur tubuhnya—sangat kentara di permukaan kulitnya yang putih.

Aventurine mendekati cermin yang berembun, lalu mengelapnya dengan telapak tangan. Wajah tampan seorang pemuda nampak terlihat, matanya memiliki iris indah yang unik namun terlihat dingin akibat sarat cahaya, garis bibirnya yang tipis cukup manis jika tersenyum.

Dari luar pintu kamarnya tiba-tiba terdengar suara benda berat jatuh ke atas lantai. Cukup keras hingga Aventurine yang berada di dalam kamar mandi masih bisa mendengarnya meski samar.

Tangannya meraih jubah mandi yang tergantung di sisi dinding kamar mandi dan mengenakannya secara asal. Lalu bergegas menuju pintu kamarnya untuk melihat kondisi di luar.

Butuh sekian detik untuk Aventurine memproses gambaran yang dilihatnya saat membuka pintu.

Veritas yang masih mengenakan baju tidur justru duduk di lorong lantai dengan punggung bersandar ke sisi tembok alih-alih tidur di kamarnya. Satu kakinya dibiarkan berselonjoran, sedangkan sebelahnya lagi ia tekuk ke atas. Lalu kedua tangannya meremas kuat kain piyama di bagian rongga dada sebelah kirinya.

Jika Aventurine perhatikan baik-baik, wajah Veritas sudah sangat pucat dan butiran keringat dingin memenuhi dahinya. Dia nampak kesakitan.

"Kau mengalami serangan?" 

Susah payah Veritas mengangkat wajahnya untuk melihat Aventurine. Bahkan dalam keadaan seperti itu dia masih mampu menunjukkan raut wajah skeptis seakan-akan Aventurine seorang idiot.

"Mau kuberi bantuan?" Tawar Aventurine. Tangannya sudah siap dia ulurkan pada Veritas.

"Jaga dirimu sendiri baik-baik, Penjudi. Aku tidak butuh kau khawatirkan." Ucapan angkuh Veritas sebenarnya bukan tidak beralasan. Suara Aventurine yang terdengar seperti minta tolong sebelumnya telah membangunkan ia dari tidurnya.

Jarak kamar mereka berdua hanya dipisahkan sebuah dinding. Jika seseorang berbicara dengan keras atau berteriak tentu akan terdengar ke ruangan sebelah meski agak samar.

Nahas, jantung Veritas yang sedari awal tidak sehat mengalami serangan sakit yang teramat ketika ia hendak mengetuk pintu kamar Aventurine sehingga membuatnya jatuh limbung ke lantai. Kemungkinan besar karena dipicu serangan panik dari teriakan samar Aventurine yang membangunkannya.

Ditolak seperti itu Aventurine tidak terus bersikeras. Tetapi dia juga tidak ada niat untuk pergi. Alih-alih kembali ke dalam kamar, Aventurine justru menutup pintu dan berdiri bersandar pada dinding tak jauh dari tempat Veritas duduk.

Keduanya berada di dalam keheningan yang menggantung. Hanya ada suara guntur dan hujan yang terdengar samar di luar. Juga suara batuk Veritas yang kian lama frekuensi jumlahnya semakin sering.

Malam itu cukup dingin, terlebih lagi Aventurine baru saja direndam lama di bak mandi dan hanya mengenakan jubah mandi. Bahkan bibirnya bisa dikatakan masih terlihat membiru.

Veritas menyadari itu dari sudut matanya yang tajam. Pada saat yang bersamaan rasa sakit di jantungnya juga sudah membaik. Ia pun mengumpulkan seluruh tenaganya untuk bangkit, tidak mau berlama-lama lagi berada di koridor yang dingin.

"Kembalilah ke kamarmu." Katanya sambil menoleh sedikit pada Aventurine. Kemudian dengan masih berusaha meredam sakit di jantungnya dan beberapa kali batuk, Veritas kembali ke kamarnya.

—o0o—

Pagi harinya Aventurine bangun dengan keadaan yang buruk. Meskipun tidak sampai masuk angin, dia tetap kehilangan napsu makan.

Tidak jauh berbeda, Veritas datang ke ruang makan dengan wajah yang bahkan terlihat lebih buruk darinya.

Sebelumnya penampilan Veritas bisa dikatakan normal, sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia adalah seorang pasien yang divonis. Tapi kali ini penampilannya mengatakan demikian. Seluruh wajahnya pucat seperti mayat hidup dengan kantung mata hitam yang masih terlihat samar-samar.

Kebetulan sejak kemarin pasangan suami-istri Ratio sedang absen di rumah karena harus melakukan perjalanan bisnis. Jadi pagi ini hanya ada Veritas dan Aventurine di meja makan untuk melakukan sarapan.

Sama seperti Aventurine, Veritas juga terlihat tidak memiliki napsu untuk sarapan. Dia hanya memakan beberapa sendok bubur biasa dan minum segelas air. Setelah itu ia meminum beberapa pil obat yang dibawakan seorang pelayan wanita dengan cara menelan semuanya sekaligus tanpa berkedip.

Kegiatan sarapan mereka berjalan hening hingga akhir. Tidak ada kata maupun sekadar kalimat sapaan yang keluar dari bibir Veritas dan Aventurine. Keduanya seakan-akan sudah memiliki perjanjian mereka sendiri tanpa perlu diucapkan.

.

Siang itu gerimis kembali turun seperti tirai halus. Aventurine kurang sukai saat musim penghujan datang. Karena tiap kali hujan turun kepalanya kerap terasa sakit akibat potongan gambar masa lalunya yang tidak menyenangkan dan itu menyerangnya secara acak tidak pandang tempat dan situasi.

Di dalam ruang keluarga Avanturine menonton sebuah film misteri yang dipilihnya secara asal dari stasiun TV berlangganan. Pun begitu, daripada disebut menonton justru lebih cocok kalau dikatakan TV lah yang menonton Aventurine. Karena pandangannya tidak benar-benar fokus dan mengawang entah ke mana. 

"Kau terlihat tertekan. Sesuatu mengganggu pikiranmu?" Veritas muncul dengan sebuah buku yang berjudul How to Teach Physics to Your Dog dan bertanya dengan nada cukup serius. Setelah mengkonsumsi obat-obatan dan cukup istirahat penampilannya terlihat jauh lebih baik dari pagi tadi.

Aventurine sudah membuka mulutnya, hendak menjawab. Namun kalimatnya harus dia telan kembali saat Veritas kembali berkata, "Jika ya, kau bisa mencari solusinya sendiri."

Hal itu tidak membuat Aventurine marah maupun jengkel. Hidup satu atap dengan Veritas selama dua pekan terakhir membuatnya terbiasa dengan keesentrikan yang dimiliki pemuda yang dua tahun lebih muda darinya itu. 

"Dengan kepribadian seperti itu, aku ragu kau punya teman dekat." Gurau Aventurine menanggapi.

"Jika yang kau maksud adalah mereka yang menawarkan dukungan, meningkatkan kualitas hidup dan kepercayaan diri, memberikan kejujuran dan cinta tanpa syarat, serta membantu kemajuan mental, jawabannya jelas, ya, aku tidak punya. Aku tidak bisa sembarangan menerima orang bodoh untuk berada di sisiku." Jawab Veritas tanpa repot mengalihkan perhatiannya dari buku bacaannya.

"Bagaimana denganku?" Aventurine memasang senyuman main-main. Menurutnya menggoda Veritas lebih menarik daripada film yang sedang diputar.

Pertanyaan tersebut membuat Veritas menurunkan bukunya. Dia menatap Aventurine dengan raut wajah seperti sedang melihat kecoak di tong sampah.

"Maksudmu, penjudi sepertimu itu layak? Aku bahkan tidak yakin kau bisa menebak otak pembunuhan di film ini."

Aventurine, "Mari bertaruh! Kalau aku bisa menebaknya dengan benar, kau harus mempertimbangkan kualifikasiku sebagai calon teman dekatmu. Deal?"

Veritas tidak menanggapi. 

Meski begitu Aventurine tetap menebak dengan sangat percaya diri. "Dalang pembunuhannya adalah sang guru yang kelihatan lemah lembut itu."

Veritas, "Kau tidak bisa asal menebak dengan hanya mengandalkan insting seperti itu."

"Siapa bilang aku asal menebak?" Aventurine menyeringai. "Lihat dan perhatikan filmnya. Kita akan tahu apakah tebakanku salah atau tidak."

"Jelaskan analisismu dulu padaku," Kali ini Veritas benar-benar sudah melupakan buku yang dibacanya. 

Dengan begitu Aventurine mulai menjabarkan bagaimana cara sang guru membunuh si nahkoda kapal dan alasan yang jadi pemicunya melakukan hal tersebut. Serta tujuan sang guru menculik kelima orang gadis yang merupakan muridnya dengan membawa mereka ke tengah lautan.

Veritas cukup terkejut dengan hasil analisis Aventurine. Dia sendiri sudah pernah menonton film itu sebelumnya, tapi merasa bosan ketika di tengah film dia bisa menebak seluruh isi plot film itu ke depannya. Hal itu juga baru saja dilakukan Aventurine.

Setelah film itu berakhir dengan ditangkapnya sang guru. Aventurine melayangkan tatapan penuh kemenangan dengan senyuman selebar bulan sabit.

"Bagaimana bisa kau menebaknya seakurat itu?" Veritas masih tidak percaya.

"Karena aku pernah menonton film ini sebelumnya." Aventurine tertawa setelah mengakui kecurangannya dengan jujur. 

Sedangkan Veritas yang merasa jengkel memilih hengkang dengan membawa bukunya meninggalkan Aventurine yang masih tertawa. 

—o0o—

"Hei, Veritas! Di sini!"

Kehadiran tak terduga sosok Aventurine menghentikan langkah kaki Veritas. Pemuda dengan rambut pirang pucat itu melambaikan tangan ke arahnya dari balik jendela mobil yang dibuka dengan raut wajah sumringah.

Beruntung gerbang kampus saat itu sudah sepi. Tidak ada seorang pun yang menyaksikan adegan tersebut selain satpam yang berjaga di pos.

Meskipun seharian turun hujan, sore itu langit terlihat cukup cerah—menampilkan warna lembayung senja nan elok yang memanjakan mata.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Veritas saat dirinya sudah berada di dalam mobil. Aventurine yang duduk di sebelahnya masih mempertahankan senyuman sok akrabnya yang membuat Veritas merasa sedikit tidak nyaman.

"Jangan dingin begitu, kawan," Aventurine berkata sambil melingkarkan sebelah lengannya di bahu lebar Veritas untuk memangkas jarak di antara mereka berdua.

Ada perubahan di wajah Veritas, namun ia tidak memberikan reaksi penolakan langsung akan perlakuan Aventurine kepadanya, dan itu membuat Aventurine cukup puas.

Aventurine melanjutkan, "Aku bosan. Jadi aku memohon untuk bisa ikut pergi menjemputmu."

Veritas, "Normalnya, orang bosan akan mencari kegiatan menyenangkan yang bisa meningkatkan hormon endorfin, bukannya berada di sini menggangguku."

"Justru karena itu aku berada di sini," senyuman Aventurine melebar, Veritas semakin tidak senang melihatnya. "Aku ingin bersenang-senang bersamamu."

Bisikan Aventurine yang sangat dekat dengan telinganya membangunkan bulu roma di sekujur tubuh Veritas. Dari sudut pandang mata telanjang mungkin Veritas terlihat tenang tak menunjukkan reaksi. Yang sebenarnya terjadi adalah dia membatu di tempat.

"Jadi begitulah. Aku ingin kau menemaniku bermain arkade di mall terdekat!" Lengan Aventurine yang tadinya berada di bahu Veritas kini pindah posisi melingkar dengan sangat intim di lengan atas Veritas seakan itu hal paling wajar untuk dilakukan.

.

"Aku tidak bilang kalau aku setuju." Protes Veritas yang ditarik paksa memasuki area permainan arkade.

Aventurine bersikap acuh. Tanpa melepaskan jeratannya pada lengan Veritas dia mendatangi konter pembelian koin untuk mendapatkan seember kecil penuh koin berwarna perak.

"Kau tidak boleh pulang sampai aku menghabiskan semuanya." Ucap Aventurine yang masih menyeret lengan Veritas menuju salah satu mesin permainan.

Sebenarnya Veritas bisa saja pergi dengan tidak menghiraukan ucapan Aventurine, tapi di sana lah ia, memasang tatapan lucu memperhatikan Aventurine yang bermain dengan antusias.

"Kau pikir berapa umurmu masih menyukai permainan anak-anak seperti ini." Komentarnya.

"Asal kau tahu, tidak ada batasan umur untuk bersenang-senang," timpal Aventurine saat karakternya di dalam permainan menembak zombie terakhir yang muncul. "Lagipula aku ini lebih tua dua tahun darimu. Jadi, sopan lah sedikit saat bicara pada seniormu."

Veritas mencibir dalam hati. Dia tidak bicara lagi dan memilih untuk mengecek jam tangannya. Melihat Aventurine yang tenggelam dalam permainan Veritas meninggalkan area arkade tanpa berpaminat.

Dia pergi ke super market terdekat untuk membeli botol air mineral. Saat melewati rak yang menjual berbagai macam jenis roti, tanpa banyak berpikir Veritas mengambil dua buah fruit sando. Kemudian berjalan menuju kasir untuk membayar.

Saat dia kembali, Aventurine masih berada di posisi yang sama. Tanpa banyak bicara dia meletakkan sebotol air mineral dan satu fruit sando di ruang kosong sebelah tangan Aventurine.

"Untukku?" Tanya Aventurine memandang Veritas.

"I'm just being considerate." Jawab Veritas. Matanya menyapu sekitar sebelum berjalan ke arah kursi panjang yang disediakan bagi pengunjung yang ingin beristirahat.

Melihat kepergian Veritas, Aventurine merasa dia harus mengikuti. Mereka pun duduk bersebelahan memakan fruit sando mereka masing-masing sambil menonton orang-orang bermain arkade.

Setelah menghabiskan bagian miliknya, Veritas mengeluarkan sebuah tabung gelas kecil yang berisikan beberapa butir obat yang berbeda dari dalam tasnya. Dia kemudian menuang seluruhnya ke telapak tangan, lalu meminum semuanya sekaligus.

"Kau punya sisa waktu satu jam enam belas menit untuk menghabiskan sisa koinmu." Katanya seraya menutup botol air mineral di tangannya. Aventurine siap melayangkan protes saat Veritas melanjutkan, "Tidak ada tapi."

"Kau tidak asyik." Cibir Aventurine tak senang.

Veritas, "Apa aku pernah berkata atau mengimplikasikan bahwa aku ini orang yang asyik?" Dia tidak pernah.

Aventurine memasukkan seluruh sisa fruit sando ke dalam mulutnya tanpa takut tersedak. Setelah minum dan membuang bungkus plastiknya ke tong sampah dia kembali menghampiri sebuah mesin arkade yang lain. Masih ada seperempat koin perak di dalam ember kecilnya.

Kali ini Veritas tidak menonton Aventurine dari dekat. Dia tetap duduk di kursi dan menonton dari sana.

.

Veritas tidak bercanda saat dia berkata bahwa Aventurine hanya memiliki sisa waktu satu jam enam belas menit. Tepat pukul sembilan malam, kali ini Aventurine yang diseret paksa oleh Veritas untuk pulang.

Sisa koin perak yang dia miliki Aventurine berikan kepada sepasang remaja laki-laki yang dia temukan secara acak beserta seluruh tiket penukaran hadiah yang dia dapatkan. Setelah itu dia bergegas menyusul Veritas yang sudah tidak sabaran dan kembali duluan ke mobil.

"Ambil ini!" Sebuah benda melayang tepat ke wajah Aventurine ketika dia baru duduk di kursi mobil. Beruntung dia memiliki refleks yang cukup bagus dan dengan mudah menangkapnya.

Itu adalah sebuah boneka rubah imut berwarna oranye berukuran dua puluh centi yang bulu di bagian bawah perutnya berwarna putih. Boneka rubah tersebut mengenakan syal segitiga berwarna hijau tua serta kacamata trendy berbentuk hati dan topi vedora berwarna hitam.

Aventurine sedikit tercengang. Memikirkan kapan Veritas memainkan mesin capit boneka. Karena Aventurine sendiri sempat melihat boneka itu sekilas berada di dalam mesin permainan tersebut.

Tapi, saat dia hendak menuntut jawaban, Veritas di sebelahnya sudah menutup mata seakan tidur dengan punggung bersandar ke belakang kursi. Melihat wajah kelelahannya Aventurine tidak tega untuk membangunkan. Mau tak mau dia telan kembali rasa penasarannya untuk sementara waktu.

—o0o—

Keesokan paginya hanya ada Aventurine di meja makan untuk sarapan. Veritas tidak menunjukkan batang hidungnya hingga siang. Hal itu jelas memunculkan tanda tanya untuk Aventurine.

Jadi, Aventurine meraih tangan seorang gadis pelayan secara acak, menggodanya sedikit hingga wajah gadis itu memerah karena malu. Setelah mengorek informasi dari si gadis pelayan, Aventurine akhirnya tahu alasan Veritas tidak berada di mansion sejak waktu sarapan karena harus mengurus sesuatu di kampus yang bersifat mendesak.

Seandainya ia tahu kebenarannya. Aventurine mungkin akan mulai menyalahkan dirinya sendiri. Itu sebabnya Veritas sudah lebih dulu melakukan persiapan dengan meminta seluruh penghuni mansion untuk merahasiakan kondisinya dari Aventurine.

Yang sebenarnya terjadi adalah semalam ketika semua orang berada di titik puncak terlelap tidurnya, Veritas dilarikan ke UGD karena mengalami serangan yang lebih serius dari terakhir kali saat ia ketahuan Aventurine. Terlambat sedikit saja kemungkinan besar Veritas tidak akan bisa melihat matahari terbit lagi.

Serangan itu dipicu oleh kelelahan berlebih dan mengkonsumsi makanan tinggi gula. Biasanya Veritas selalu berhati-hati dalam mengatur dietnya dan menghindari makanan manis. Hanya kemarin saja dia menjadi sedikit membangkang dan dibayar dengan harga yang cukup tinggi. Tapi Veritas tidak menyesalinya sama sekali karena ia merasa itu hal sepadan.

Veritas masih bisa merasa sedikit beruntung karena hanya mengalami koma selama setengah hari. Biasanya dia bisa tak sandarkan diri hingga dua sampai tiga hari ketika mengalami serangan yang parah.

Saat kondisinya cukup stabil Veritas kembali memberi instruksi kepada seluruh penghuni yang ada di mansion melalui asisten pribadi yang dikirim orang tuanya untuk memperhatikan kondisi Veritas selama mereka absent. Dia juga tidak lupa mewanti semua orang untuk tidak membahas soal Aventurine yang mengajaknya main ke pusat perbelanjaan sampai larut malam, terutama orang tuanya tidak boleh sampai tahu.

"Apakah ada lagi?" Tanya asisten wanita berperangai lembut yang memiliki nama panggilan Black Swan. Black Swan sudah seperti kakak bagi Veritas. Dia sering menjaga Veritas sejak Veritas berusia dua belas tahun.

"Itu saja." Jawab Veritas singkat sebelum kembali jatuh tertidur tanpa dirinya sadari.

—o0o—

Aventurine mulai merasakan ada kejanggalan atas ketidak hadiran Veritas di mansion beberapa hari terakhir. Akan tetapi, sebelum rasa kecurigaan itu semakin menguat, Veritas muncul di hadapannya saat hari keempat.

Siang itu Aventurine sedang berada di depan pintu kamar Veritas—menimbang-nimbang apakah dia akan membukanya atau tidak.

"Apa yang kau lakukan di depan kamarku?" Secara mengejutkan Veritas muncul dari dalam kamar. Dia mengenakan kacamata baca berbingkai hitam yang terlihat sangat cocok di wajahnya yang tampan.

Aventurine cukup kaget. Dia bahkan tidak tahu kalau Veritas sudah kembali.

"Aku baru tahu kau memakai kacamata?" Kedua mata Aventurine menatap penuh selidik pada sosok Veritas yang lebih tinggi. Tapi dia tidak menemukan kejanggalan apapun selain kehadiran kacamata di wajahnya.

"Kadang-kadang saja." Katanya singkat. Veritas kembali masuk ke kamar dengan tidak menutup pintu—mengimplikasikan undangan untuk Aventurine masuk ke dalam.

Setelah menutup pintu, Aventurine mengekor di belakang Veritas. Itu kali pertama dia masuk ke kamar si tuan muda yang ternyata tidak jauh berbeda dengan kondisi kamarnya sendiri. Selain keberadaan rak yang terisi penuh oleh buku dan komputer di sisi ruangan yang membelakangi kaca jendela besar semuanya kurang lebih terlihat sama.

Veritas duduk di sisi ranjang dan membiarkan Aventurine menjelajahi kamarnya sambil memperhatikan dengan rasa tertarik yang aneh.

Nampaknya Aventurine menaruh perhatian pada koleksi buku-buku yang ada di rak. Dia membaca judulnya satu persatu dalam hati dengan jari telunjuk menempel di tiap punggung buku. Sampai perhatiannya jatuh pada sebuah buku yang memiliki judul paling omong kosong yang pernah Aventurine temukan. Tanpa rasa sungkan ia kemudian mengambil buku tersebut dari dalam rak dan menunjukkannya pada Veritas.

How to Good-bye Depression: If You Constrict Anus 100 Times Everyday. Malarkey? or Effective Way? by Hiroyuki Nishigaki.

"Kau juga membaca buku semacam ini, eh?" Tanya Aventurine tidak berusaha menahan rasa ingin tertawanya.

"Ada masalah?" Veritas menanggapi dengan kasual, dia lalu menambahkan, "Wawasan dan ilmu pengetahuan bisa ditemukan dari berbagai macam sumber, seaneh apapun itu."

"Kalau begitu, wawasan seperti apa yang kau dapatkan dari buku yang memiliki judul semenarik ini?" Sudah jelas Aventurine mengatakannya untuk menggoda Veritas. Akan tetapi hal itu sepertinya tidak berhasil. Veritas masih mempertahankan raut wajah yang tabah.

"Kulihat kau agak kurang bersemangat akhir-akhir ini. Itu salah satu tanda gejala awal depresi. Aku bisa memberimu bantuan demonstrasi langsung tentang apa yang kutemukan di dalamnya." Kali ini Veritas lah yang balik menggoda Aventurine. Pun dikatakan menggoda juga tidak benar karena Veritas seperti sungguh-sungguh saat mengatakannya.

Avanturine sedikit tercengang untuk beberapa detik sebelum meledakkan tawanya. "Aku bertaruh kau tidak memiliki keahlian semacam itu."

Menurut Veritas reaksi Aventurine agak lucu. Dia akhirnya bisa memastikan kalau orang yang lebih tua darinya itu telah salah paham dengan isi buku tersebut karena judulnya yang terbilang cukup nyeleneh.

Veritas pun mengambil inisiatif untuk menghampiri Aventurine yang masih berada di depan rak buku. Sebelah lengannya kemudian secara kasual melingkar di pinggul ramping Aventurine dan membimbingnya menuju ranjang.

Di sisi lain Aventurine juga tidak menunjukkan reaksi penolakan dan membiarkan Veritas memimpin. Sedangkan buku yang menjadi sumber perdebatan masih setia berada di genggamannya.

Veritas membaringkan Aventurine di atas kasur dengan tidak lembut maupun kasar. Dia juga memposisikan tubuhnya berada tepat di atas Aventurine dengan menahan berat badannya menggunakan tangan yang bertumpu ke kasur.

Dalam posisi tersebut Aventurine bisa melihat garis wajah Veritas ternyata cukup tajam. Sebuah seringaian jahil pun membentuk di wajahnya yang rupawan. Dia lalu berkata, "Siapa sangka kau ternyata punya sisi seperti ini."

Namun Veritas tidak menanggapi. Dia justru menunjukan sebuah senyuman mengejek yang entah bagaimana malah membuat orang di bawahnya itu terlihat semakin bersemangat.

Senyuman itu pudar secepat gerakan sebelah tangannya yang sudah menyusup ke dalam sweater yang Aventurine kenakan. Veritas bisa merasakan suhu tubuh Aventurine ketika telapak tangannya bersentuhan langsung dengan kulit perut Aventurine yang menegang akibat sentuhan tersebut.

Sambil mengincar area pusar menggunakan ibu jarinya, Veritas merapatkan jarak antara mereka berdua. Dia lalu berbisik, "Rileks dan coba lakukan gerakan merapatkan lubang anusmu sebanyak seratus kali. Setelah itu aku akan membantu menekan area pusarmu sebanyak seratus kali juga."

Usai mengatakannya Veritas tidak bisa tidak mengecek seperti apa wajah Aventurine sekarang. Sesuai dugaan, Aventurine sudah menatapnya dengan wajah masam.

"Kau tidak mau melakukannya?" Tanya Veritas acuh tak acuh.

"Akan kupertimbangkan jika kau mau membantuku di area bawah sana juga." Tantang Aventurine tak mau kalah. Dia mengulurkan kedua tangannya ke atas untuk melingkar di leher Veritas sambil melayangkan tatapan seduktif layaknya jalang murahan.

"Aku tidak merasa hal itu perlu dilakukan karena prosesnya hanya bisa mengandalkan otot-otot yang ada di tubuhmu saja." Jelas Veritas dengan otak rasionalnya. Pun begitu dia tidak menyingkirkan lengan Aventurine yang menggantung di lehernya seperti koala.

Aventurine, "Kalau begitu aku menolak melakukannya."

Sejak awal Veritas memang hanya berniat untuk mempermainkan Aventurine yang telah salah paham dan tidak berniat untuk bertindak lebih jauh. Lagipula dia baru saja pulih dan dokter mewantinya untuk tidak melakukan aktivitas yang memberi stimulasi berlebihan pada jantungnya.

Jadilah Veritas melepaskan kedua lengan Aventurine yang menggantung di lehernya dan segera bangun sambil menarik tangannya keluar dari dalam sweater Aventurine.

Veritas, "Sebentar lagi jam makan siang. Kau sebaiknya kembali dulu kalau tidak ada keperluan lain lagi denganku."

"Itu memang rencanaku." Kata Aventurine. Dia bangun dari atas ranjang, merapikan pakaian dan rambutnya yang sedikit kusut, lalu pergi menuju pintu.

"Ngomong-ngomong, jika kau tertarik melakukan hal yang lebih menantang dari yang tadi, aku siap meladenimu." Tambah Aventurine. Dia melayangkan sebuah kedipan mata singkat sebelum benar-benar keluar dari kamar Veritas.

—o0o—

"Aku sudah menunggu di luar gerbang," Ucap Aventurine pada Veritas di seberang telepon, "tidak. Aku janji hari ini kita tak akan pergi bermain arkade lagi," sambungnya. "Oke. Jangan buru-buru, masih hujan juga. Bye, kawanku!"

Aventurine meletakkan smartphone miliknya di kursi mobil seusai menelepon Veritas yang masih berada di dalam gedung universitas.

Hujan turun dengan sangat deras hingga mengaburkan pandangan di luar jendela mobil. Sesekali ada kilatan cahaya petir disertai suara guntur yang menyambar.

Menggunakan telapak tangannya Aventurine menyapu jendela kaca yang berembun. Dari kejauhan dia melihat dua sosok anak kecil sedang berteduh di sebuah halte bus dengan posisi duduk saling berdempetan.

Akibat angin dan derasnya hujan yang turun kedua bocah tersebut pada akhirnya tetap saja kebasahan. Aventurine tidak bisa melihat dengan begitu jelas wajah kedua anak itu, tapi yang pasti baju serta rambut mereka sudah lepek, menyebabkan keduanya menggigil. Anak yang lebih besar terlihat beringsut memeluk tubuh anak yang lebih kecil—berusaha melindunginya dari rasa dingin.

Pandangan Aventurine terus terpaku pada sosok kedua anak tersebut hingga terdengar suara ketukan di kaca mobil. Dia melihat Veritas berdiri di bawah siraman air hujan dengan sebuah payung berwarna hitam.

"Kenapa tidak menunggu sampai hujannya reda?" Tanya Aventurine ketika Veritas sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahnya.

"Sekarang atau nanti sama saja." Veritas menyandarkan payung yang tadi digunakannya di pinggir dekat pintu mobil. Airnya masih menetes dari payung tersebut, membentuk genangan kecil di atas karpet karet.

Tak lama kemudian sopir yang berada di kursi pengemudi menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobil meninggalkan area universitas.

Perhatian Aventurine kembali disita oleh kehadiran dua bocah yang menggigil kedinginan di halte bus saat mobil mereka melewatinya. Kali ini dia bisa melihat mereka dengan jelas. Itu adalah seorang gadis dengan adik laki-lakinya, begitulah dugaan Aventurine.

Keduanya begitu pucat dan kurus, hingga tonjolan tulang di pergelangan tangan mereka terlihat sangat jelas. Pakaian yang mereka kenakan juga lusuh dengan banyak lubang yang ditambal kain perca tak senada yang dijahit secara asal-asalan. Di beberapa bagian tubuh mereka yang terlihat juga terdapat luka memar yang tidak diketahui asalnya, terutama pada sang kakak.

Veritas menyadari ada yang aneh dari sikap Aventurine, bahkan sejak dia mengetuk kaca mobil tadi. Karena diamnya Aventurine seperti anomali baginya.

Dalam diam dia ikut memperhatikan arah tujuan tatapan mata Aventurine dan menemukan dua sosok anak kecil di halte bus yang berada sudah agak jauh dari mobil yang mereka tumpangi. "Kau kenal mereka?"

Suara Veritas menyadarkan lamunan Aventurine. Dia kemudian memijat pelipis matanya sebelum melihat ke arah Veritas dengan senyuman seperti sedia kala. "Tidak. Hanya teringat kenangan lama." Katanya.

Sejak pertama kali bertemu dengan Aventurine, Veritas menyadari keberadaan lubang kosong di dalam tatapan mata Aventurine. Dan hari ini dia bisa melihat lubang itu secara perlahan membesar dan menelan semua cahaya di mata Avanturine.

Menghela napas, Veritas menyimpan buku yang belum lama dia keluarkan. Dia kemudian mengubah posisi duduknya sedikit menyamping dengan lengan dan bahu menyender ke penyanggah kursi agar bisa melihat Aventurine lebih jelas.

Veritas, "Zat serotonin dalam tubuh berkurang ketika hujan, sehingga dapat mempengaruhi penurunan suasana hati dan orang cenderung akan melamun. Pada akhirnya hal itu menjadi pemicu timbulnya ingatan dan kenangan masa lalu yang membuat melankolis,"

Melihat Aventurine yang melongo karena mendadak diberi sesi kuliah, Veritas bersikap masa bodo. Dia bahkan tidak mempedulikan lirikan sopirnya dari kaca spion.

Dia kemudian melanjutkan, "Sebuah studi menyebut bahwa untuk bertahan hidup manusia membutuhkan setidaknya 4 pelukan dalam satu hari. Sementara untuk menjaga tubuh tetap sehat, dibutuhkan hingga 8 kali berpelukan."

Aventurine, "?"

Veritas, "Saat berpelukan, otak akan melepaskan zat kimia yang disebut oksitosin yang dapat meningkatkan produksi hormon serotin. Hormon ini bisa membantu membuat seseorang merasa lebih bahagia dan juga memperbaiki suasana hati."

Aventurine memiringkan kepalanya, "Jadi ...?"

Tanpa peringatan Veritas menarik tubuh Aventurine ke dalam sebuah pelukan. Secara mengejutkan tubuh Aventurine terasa sangat pas di dalam dekapannya. Dia juga dapat mencium aroma tubuh Aventurine yang tercampur menjadi satu dengan aroma parfum segar yang biasa dia gunakan.

Hanya saja, yang lebih menarik perhatian, Veritas menemukan bahwa suhu tubuh Aventurine terasa sangat dingin dan tidak normal. Dia sedikit mengernyit, lalu mengeratkan dekapannya berharap agar bisa memberi Aventurine kehangatan.

Di sisi lain Aventurine cukup dikejutkan oleh tindakan Veritas yang sulit diprediksi. Namun harus Aventurine akui, pelukan itu memberinya rasa aman yang sudah sejak lama dia lupakan. Ia kemudian membalas pelukan tersebut dan menenggelamkan wajahnya di bahu Veritas.

Di luar hujan masih turun dengan sangat deras. Sang sopir yang melihat adegan dua remaja saling berpelukan di kursi penumpang tiba-tiba saja merasa kedinginan dan merindukan istrinya di rumah.

—o0o—

Saat akhir pekan Veritas biasa mengunjungi perpustakaan nasional di pusat kota setidaknya dua kali dalam satu bulan.

Veritas mengenakan rompi rajut biru dongker dengan kemaja putih lengan panjang di bawahnya dan celana bahan warna hitam. Sebuah kacamata juga tersemat di wajahnya yang rupawan.

Ketika Veritas hendak masuk ke dalam mobil Aventurine tiba-tiba saja muncul dan menyelak masuk tanpa tahu sopan santun. Dia hanya menyengir melihat Veritas menggelengkan kepala.

"Kau yakin mau ikut ke perpustakaan?" Veritas menatap Aventurine di dalam mobil. Dia mengenakan cardigan oversize berwarna hitam dan kaos dalam hijau pine yang membuatnya terlihat seperti remaja berusia enam belas tahun.

"Jauh lebih baik daripada terjebak di rumah besarmu sepanjang hari." Katanya sambil menyalakan telivisi mini yang merupakan fitur di dalam mobil.

Enggan berkomentar lebih lanjut, Veritas ikut masuk dan meminta sopirnya untuk segera berangkat.

.

Saat berada di dalam perpustakaan Veritas dan Aventurine memisahkan diri.

Veritas mengambil beberapa judul buku dan duduk di meja baca yang telah disediakan untuk pengunjung dan segera melupakan keberadaan Aventurine saat sudah tenggelam dalam buku bacaannya.

Di lain sisi perpustakaan Avanturine terlihat tengah mengobrol santai dengan dua orang gadis berwajah manis. Keduanya merupakan murid sekolah menengah atas yang sedang menyiapkan diri untuk ujian masuk universitas.

"Kalian lihat pemuda tampan di sana?" Aventurine menunjuk ke arah Veritas melalui matanya, lalu menambahkan, "kawanku itu sangat pintar. Dia bahkan sudah masuk universitas saat usianya baru lima belas tahun. Bagaimana jika kukenalkan kalian padanya?"

Kedua gadis itu melihat ke arah Veritas untuk beberapa saat. Mereka akui penampilannya tidak kalah menawan dari Aventurine, namun dalam hati mereka berdua setuju untuk tidak terlibat dengannya.

"Eh? Kenapa tidak mau?" Tanya Aventurine agak bingung ketika mendengar penolakan dua gadis tersebut.

Dia hendak meyakinkan kembali mereka berdua ketika sebuah telapak tangan membungkam mulutnya dari arah belakang. "!?"

"Ini perpustakaan. Kalian terlalu berisik." Veritas yang tadi masih membaca buku jauh di pojokan kini sudah berada di belakang punggung Aventurine. Tubuhnya yang tinggi dengan wajah tampan yang terkesan dingin dan angkuh menakuti kedua gadis itu hingga membuat mereka lari ketakutan.

Aventurine menghela napas lega saat mengetahui telapak tangan itu merupakan milik Veritas. Dia sempat panik karena memiliki pengalaman buruk dengan hal semacam itu.

"Lihat apa yang telah kau lakukan, kau menakuti kedua gadis itu." Ucap Aventurine tepat ketika mulutnya bebas. Matanya menatap ke arah dimana dua gadis itu berlari.

"Kalau kau ke sini hanya untuk menggoda para gadis, sebaiknya kau pulang saja." Usai mengatakannya Veritas berbalik meninggalkan Aventurine yang kebingungan mengapa kawannya itu tiba-tiba menjadi sangat marah.

.

"Kawanku Veritas, lihat apa yang aku temukan!" Aventurine menunjukkan sebuah buku tebal dengan sampul hardcover berwarna biru royal—itu adalah buku Dongeng Grimm versi folio tahun 1909. Tapi Veritas tidak meliriknya sama sekali, kemungkinan besar masih marah.

Aventurine tidak terlalu mengambil hati. Dia menarik sebuah kursi dan mendekatkannya dengan Veritas hingga bahu mereka saling menempel saat dia duduk. Veritas masih bergeming.

"Beri tahu aku cerita mana yang jadi favoritmu?" Aventurine masih berusaha mengajak Veritas bicara. Sayangnya suasana hati pemuda yang lebih muda darinya terlanjur buruk.

Tapi dia terus berbicara, "Apa kau pernah membaca cerita The poor boy in the grave? Aku sangat menyukai yang satu itu."

Alih-alih mendapatkan respon positif, Veritas menatapnya dengan tajam. "Hal yang paling menjengkelkan tentang kebodohan adalah kau tidak bisa menjelaskannya kepada orang idiot. Sudah kukatakan ini perpustakaan, jadi berhentilah bicara dan berbuat onar." Lalu kembali fokus menatap buku di tangannya.

Aventurine mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Dia tersenyum pasrah lalu berkata untuk yang terakhir kalinya, "Orang bilang kematian itu pahit, tapi bagiku rasanya sangat manis. Itu dialog favoritku."

Ketika Veritas mengangkat wajahnya lagi Aventurine sudah lama lenyap dari pandangannya.

.

Sepanjang hidupnya Veritas belum pernah berlari dengan seputus asa itu demi seseorang.

Giginya bergemeletuk—menahan sakit di dadanya yang terasa seperti terbakar. Keringat dingin juga sudah memenuhi wajahnya yang sepucat kertas. Jika berlanjut seperti itu kemungkinan besar Veritas akan jatuh pingsan.

Tapi saat ini Veritas sudah tidak peduli lagi dengan kondisi tubuhnya sendiri. Ucapan Aventurine sebelumnya telah menimbulkan rasa cemas tak wajar di hatinya. Jika orang lain yang mengatakannya mungkin Veritas tidak akan merasa sekacau ini. Tahu-tahu ia sudah berlari keluar perpustakaan berusaha untuk mengejar Aventurine.

Setelah sekitar sepuluh menit berlari menyusuri jalan di sekitar lokasi perpustakaan akhirnya Veritas menemukan sosok Aventurine. Dia sedang duduk di luar sebuah kafe, mengobrol dan tertawa entah dengan siapa. Veritas tidak bisa melihatnya dengan jelas karena pandangannya mulai mengabur.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Veritas berjalan menghampiri Aventurine. Rasa sakit di dadanya bahkan sudah berubah kebas. Ia merasa akan runtuh kapan saja.

"Aven... turin..." Sedetik kemudian Veritas benar-benar jatuh. Dia bahkan tidak memiliki waktu untuk kaget karena mendengar betapa parau suaranya saat itu.

Kejadian tersebut sontak menimbulkan kegemparan.

Beruntung Aventurine bergerak cepat menangkapnya meskipun dengan sedikit kesulitan sehingga Veritas tidak benar-benar jatuh membentur aspal.

Dengan dibantu Topaz, Veritas dibaringkan di atas sebuah kursi panjang yang segera disiapkan pemilik kafe tersebut. Aventurine yang panik hendak menelepon ambulan saat itu juga, namun secara mengejutkan Veritas kembali sadar dan menangkap pergelangan tangannya.

"Jangan panggil ambulan. Aku tidak apa-apa." Katanya parau.

"Apanya yang tidak apa-apa?! Kau hampir membuatku mati ketakutan!" Geram Aventurine.

"Dengarkan aku." Veritas memperkuat genggamannya, "Be good." 

Keduanya saling bertatapan hingga Aventurine menyerah dan kembali memasukkan smartphone miliknya ke dalam saku celananya.

"Apa kau membawa obatmu?" Veritas menggeleng, Aventurine menghela napas, "Tunggu aku belikan air mineral untukmu." Dia kemudian bergantian melihat ke arah Topaz yang sejak tadi diam menonton, "Tolong jaga dia untukku sebentar."

Setelah itu Aventurine masuk ke dalam kafe meninggalkan Veritas yang masih berbaring dengan wajah pucat dan Topaz yang berdiri sambil melipat tangannya di dada.

"Hai, panggil saja aku Topaz, teman lama Aventurine." Karena dipandangi terus-terusan oleh Veritas mau tak mau dia mengambil inisiatif memperkenalkan dirinya duluan. "Kamu?"

"Veritas, Ratio" Jawab Veritas singkat. Dia terlihat ragu sesaat sebelum melanjutkan, "Apa kalian dekat?"

Topaz mengibaskan tangannya di udara, wajahnya terlihat semakin manis ketika tertawa. "Tidak, tidak. Kami bahkan baru bertemu lagi setelah lebih dari dua belas tahun."

Veritas, "Kalian teman masa kecil?"

"Kurang lebih," Topaz mengedikkan bahu, "kenapa? Kamu tertarik dengan cerita masa kecil Aventurine?" Dia sedikit membungkuk, menatap lebih dekat wajah Veritas yang masih berbaring di kursi dan tersenyum jahil.

Seperti biasa Veritas memilih tak menjawab dengan membuang wajah ke samping. Untung saja Topaz termasuk pribadi berhati besar.

"Kalau kamu penasaran, Aku dan Aventurine berasal dari panti asuhan yang sama," Topaz mulai bercerita.

Saat dia dibawa ke panti asuhan, Aventurine sudah berada lebih dulu di sana. Kemudian, dia dan Aventurine bersama delapan orang anak lainnya dimasukkan ke dalam kelompok yang sama karena kecerdasan yang mereka miliki.

"Aventurine bukan naman aslinya. Begitu pula dengan nama Topaz yang aku gunakan sekarang,"

Topaz melanjutkan, dia menceritakan bagaimana Aventurine saat kanak-kanak merupakan anak yang cukup unik. Disaat anak-anak seusianya menyukai cerita dongeng indah yang memiliki akhir bahagia atau cerita tentang pahlawan, Aventurine justru memiliki ketertarikan yang aneh pada dongeng tentang seorang anak laki-laki yang memiliki akhir tragis.

"Sampai suatu hari aku mengetahui kebenaran tentang keluarganya dan bisa menebak alasan Avanturine menyukai cerita suram seperti itu," sirat kesedihan mendadak muncul di dalam mata Topaz yang Indah.

Veritas, "Apa yang kau ketahui?"

Topaz, "Kedua orang tuanya menjadi korban pembunuhan. Saat itu usia Aventurine baru enam tahun dan dia menyaksikan sendiri pembataian tersebut dari kolong tempat tidur,"

Masa lalu Aventurine terus terang membuat Veritas sangat terkejut. Dia tidak bisa membayangkan seberat apa beban psikologis yang ditanggung Aventurine yang baru berusia enam tahun saat menyaksikan kejadian semengerikan itu.

Mendadak jantung Veritas kembali sakit, tapi sakit kali ini berbeda dari sebelumnya. "Bagaimana dengan pelakunya?"

Topaz tersenyum getir, "Pelakunya tertangkap. Tetapi, karena alasan gangguan kejiwaan, bajingan itu bisa lepas dari jeratan hukum dan hanya menjalani rehabilitasi di rumah sakit jiwa,"

Wajahnya menengadah, menatap awan hujan yang mulai memenuhi langit yang tadinya cerah. "Kamu bisa menemukan berita lengkapnya di internet. Kasusnya sempat menjadi topik panas tahun itu."

Tidak lama kemudian Aventurine kembali dengan membawa sebotol air mineral dan kantung roti berwarna coklat. Sebelah alisnya terangkat karena merasakan suasana berat yang menggantung di sekitar kedua kawannya.

"Kalian tidak bertengkar selama aku pergi tadi, kan?" Tanyanya menyelidik.

"Kau pikir aku sudah gila bertengkar dengan orang sakit?" Topaz mendengus sambil berkacak pinggang. Sedangkan Veritas memilih untuk diam.

Kendati masih curiga, Aventurine setuju untuk tidak membahasnya lagi. Dia kemudian membantu Veritas duduk dan memberinya botol air mineral yang sudah lebih dulu dibukanya.

"Aku membeli beberapa madeleine. Kau pasti lapar karena belum makan siang." Aventurine meletakkan botol air mineral di atas kursi di sebelah Veritas, lalu menyerahkan kantung roti yang mengeluarkan aroma harum roti yang baru dipanggang.

"Bagaimana denganku?" Topaz menunjuk dirinya sendiri.

"Kau sudah makan sepotong besar triple chocolate mousse torte dan tiga buah fruit puff tadi. Memangnya kau ini babi yang selalu lapar?" Komentar sinis Aventurine itu Topaz hadiahi tinju lumayan keras di area tulang belikat dan itu cukup untuk membuat Aventurine meringis kesakitan.

Di sisi mereka Veritas hanya diam menonton sambil memakan madeleine. Rasanya gurih dan manis, tetapi itu tidak bisa mengurangi rasa getir yang ada di dalam hatinya Veritas.

—o0o—

Aroma desinfektan yang khas menyambut indera penciuman Veritas ketika dia mendapatkan kembali kesadarannya, diikuti pemandangan akrab ruangan yang serba putih. Terdapat jarum infus di sebalah kanan tangannya dan selang bantu peranapasan tersemat di lubang hidungnya.

Veritas merasa sangat buruk. 

Ingatan terakhir Veritas adalah dia sedang berada di dalam kamar hendak meminum obatnya setelah pulang dari perpustakaan. Selain itu dia tidak ingat telah dilarikan ke rumah sakit.

"Syukurlah kamu sudah sadar." Black Swan muncul dari balik pintu dan berjalan masuk ke dalam dengan sangat angun. Di genggamannya ada beberapa tangkai bunga lili putih yang kemudian ia letakkan ke dalam vas bunga kecil menggantikan bunga anggrek yang telah layu.

"Berapa lama aku tak sandarkan diri kali ini?" Veritas berusaha duduk dengan dibantu Black Swan. Dia lalu melepas selang bantu peranapasan di hidungnya karena merasa tak lagi memerlukannya.

"Ini hari kelima sejak kamu jatuh pingsan di kamarmu," Jawab Black Swan sambil membuka gorden jendela agar cahaya matahari masuk ke dalam ruangan.

Veritas mengernyit sebelum kembali bertanya, "Bagaimana dengan orang tuaku?"

Alih-alih menjawab, Black Swan justru memberinya segelas air.

Saat air masuk melewati kerongkongannya baru lah Veritas sadari dia ternyata sangat haus dan mampu menghabiskan setengah air di dalam gelas.

"Dalam kurun waktu satu bulan kamu sudah masuk ruang ICU sebanyak dua kali," Black Swan mengambil gelas di tangan Veritas dan meletakkannya di atas meja sisi ranjang. "Menurutmu, hal apa yang akan kedua orang tuamu pikirkan?" Sambung Black Swan.

Veritas bisa menangkap sedikit nada sinis dari ucapan Black Swan. Dari luar wanita itu memang terlihat anggun dan lemah lembut. Namun, entah apa yang berada di balik topeng tersebut, Veritas tidak peduli dan tak mau tahu.

Veritas, "Berapa banyak orang yang kehilangan pekerjaannya kali ini?"

Black Swan, "Tiga orang, termasuk sopir pribadimu."

Seketika wajah Veritas berubah masam. "Orang tuaku sudah tahu kebenaran kejadian tempo hari?"

Black Swan tidak menjawab. Tetapi dari raut wajahnya Veritas bisa tahu kalau dugaan terburuknya sudah menjadi kenyataan.

"Di mana Aventurine?" Veritas selalu gagal mempertahankan ketenangannya ketika dihadapkan dengan hal-hal yang menyangkut pemuda yang memiliki hobi berjudi itu.

Padahal mereka baru saling mengenal kurang dari dua bulan, tetapi Veritas merasa Aventurine sudah menjadi bagian dari hidupnya yang sangat penting.

Diamnya Black Swan semakin memperkeruh keadaan. Rasa nyeri tak tertahankan kembali menyerang jantung Veritas yang berdebar cepat. Secara insting Veritas meremas kain baju di bagian dada, giginya bergemeletuk menahan rasa sakit yang menyiksa.

"Kamu harus tenang." Black Swan menghela napas. Dia kemudian menekan tombol darurat yang ada di pinggir ranjang.

Hanya butuh waktu kurang dari satu menit dua orang suster dan satu orang dokter menyeruak masuk ke dalam ruangan. Veritas dibuat kembali berbaring di atas ranjang dengan sedikit paksaan karena dia tidak bisa diajak bekerjasama. Sang dokter juga tidak pernah bosan meminta Veritas untuk tenang dan menarik napas.

Kondisi Veritas terlihat sangat buruk. Tak ada rona di wajahnya yang sepucat kertas. Pun begitu dia tetap mamaksa untuk turun dari ranjang dan berusaha melepaskan jarum infusnya secara paksa. Oleh karenanya sang dokter terpaksa memberinya suntikan obat penenang yang langsung melumpuhkan perjuangan Veritas dan membuatnya tertidur kembali.

"Anda tidak seharusnya memicu stimulasi berlebihan terhadap pasien yang baru saja bangun dari koma."

Setelah memarahi Black Swan dan memastikan kondisi Veritas sudah kembali stabil, dokter beserta kedua suster pergi meninggalkan ruangan. 

—o0o—

Keesokan harinya Veritas dipindahkan ke ruang rawat inap intensif dengan pengawasan ketat. Kendati dia terus mengatakan bahwa dirinya sudah merasa jauh lebih baik dan menolak untuk dirawat lebih lama. 

Tidak banyak hal yang bisa Veritas lakukan di ranjang rumah sakit. Selain membaca buku, Veritas paling-paling hanya menonton acara membosankan di televisi.

Dia kemudian teringat ucapan Topaz tempo hari. Beruntung smartphone miliknya juga termasuk ada di dalam tas berisi buku yang dibawakan oleh Black Swan. 

Setelah mengirimi Aventurine pesan singkat, Veritas beralih membuka situs web yang digunakan untuk mencari informasi. Di kolom pencarian Veritas mengetik kata kunci tentang kasus pembunuhan empat belas tahun lalu yang menimpa keluarga Aventurine.

Muncul sederetan hasil dari berbagai macam sumber yang membahas kasus tersebut. Veritas memilih satu artikel yang memiliki jumlah kunjungan paling tinggi. Artikel tersebut berisi informasi sangat terperinci. Bahkan disertai beberapa bukti foto TKP tanpa sensor.

Veritas juga menemukan bahwa yang menjadi korban bukan hanya kedua orang tua Aventurine. Ada juga nenek dan adik laki-laki ayahnya yang masih remaja. Total keseluruhan korban berjumlah empat orang.

Disebutkan, selain bocah laki-laki berusia enam tahun, ada juga anggota keluarga lainnya yang selamat karena sedang tidak berada di tempat sewaktu kejadian berlangsung. Orang itu adalah kakak perempuan Aventurine yang berusia dua tahun lebih tua. 

Usai membaca keseluruhan artikel, Veritas kembali memeriksa chat logs miliknya dengan Aventurine. Melihat pesan yang dia kirimkan beberapa saat lalu belum juga dibaca, tanpa pikir panjang Veritas menekan tombol panggilan. Sayangnya dia harus kembali dikecewakan—nomor Aventurine tidak dapat dihubungi. 

"Kau menyia-nyiakan wajah tampanmu dengan mengerutkan kening seperti itu." Veritas melihat Aventurine berdiri di depan pintu. Di tangannya ada kantung roti berwarna coklat yang logonya Veritas kenali. "Hai, kawan!" Sapanya dengan senyuman sambil mengangkat satu tangan ke atas. 

Kendatipun ia tidak memperlihatkannya dan masih mempertahankan sikap acuh tak acuh, dalam hatinya Veritas merasa senang ketika bisa melihat wajah tengil Aventurine lagi.

"Kupikir kau sudah lupa denganku?" Veritas melipat kedua lengannya di dada, wajahnya menunjukkan sikap angkuh yang biasa.

"Mana mungkin aku bisa melupakan kawan tampanku Veritas? Tidak melihatmu beberapa hari saja sudah membuat hatiku sakit karena merindu." Ucap Aventurine dramatis.

Veritas, "Kau benar-benar tak tahu malu,"

Dikatai seperti itu tidak membuat Aventurine jengkel. Dengan bangga dia mengakui dan berkata, "Tapi kau menyukaiku yang seperti ini, kan?"

Veritas menolak untuk menimpali.

"Ngomong-ngomong, aku membawakanmu madeleine dari kafe waktu itu," Aventurine meletakkan kantung kertas roti di atas pangkuan Veritas. "Terakhir kali kulihat kau cukup menyukainya."

"Kau seharusnya tahu aku tidak boleh mengkonsumsi makanan manis dalam kondisi seperti ini," pun bibirnya berkata demikian, Veritas tetap mengambil satu madeleine dan memakannya seperti seekor tupai menggigit kenari.

Avanturine yang duduk di sisi ranjang memangku wajahnya dengan kedua tangan yang sikunya bertumpu di atas kasur, matanya yang beriris cantik memandang Veritas, mengagumi.

"Jika kuperhatikan lagi, kau ini benar-benar sangat rupawan," ucapan Aventurine sontak menghentikan gerakan Veritas yang sedang mengunyah. Aventurine menyengir lebar saat sadar ia tidak sengaja telah mengucapkan isi pikirannya. "Hei, apa kau tidak berminat kencan denganku?"

"Omong kosong!" Veritas menyelesaikan suapan terakhirnya dan meletakkan madeleine yang tersisa ke atas meja di sebelah ranjangnya.

Avanturine tertawa geli. "Jangan marah. Aku hanya bercanda." Dia mengerling ke arah jam di dinding, "Kapan kau keluar dari rumah sakit?"

"Mungkin lusa, atau minggu depan. Aku tidak yakin," Veritas melihat Aventurine tenggelam dalam pikirannya, alisnya bertaut, "ada apa?"

"Tidak. Aku hanya sedang berpikir untuk menyiapkan pesta penyambutan kepulanganmu." Aventurine tersenyum.

Tapi Veritas bisa melihat adanya kejanggalan dalam ucapan dan senyuman Aventurine. Dia bertanya tanpa basa-basi, "Sesuatu terjadi selama aku koma? Orang tuaku menyusahkanmu?"

Aventurine, "Apa maksudmu? Paman dan Bibi sangat baik padaku. Mana mungkin mereka menyusahkanku?"

Veritas tahu Aventurine sedang berbohong. Dia sudah bertanya pada suster yang bertanggung jawab untuk menjaganya, suster itu mengatakan bahwa Aventurine hanya pernah sekali menjaganya semalam di hari pertama Veritas dilarikan ke ruang ICU. Setelah itu Aventurine tidak muncul sama sekali sampai hari ini tiba.

Mengingat watak Aventurine, Veritas tahu dia tidak mungkin secuek itu, ditambah Aventurine tidak bisa dihubungi dalam beberapa hari terakhir.

Veritas, "Kenapa nomormu tidak bisa dihubungi?"

Aventurine, "Smartphoneku jatuh ke dalam kolam dan belum sempat kuperbaiki."

Alasan klise.

Veritas, "Sejak tadi kuperhatikan kau sangat tertarik dengan jam di dinding, kau sedang buru-buru?"

Ada perubahan di raut wajah Aventurine, tapi itu hanya berlangsung secepat kedipan mata. Dia pun mengakui, "Tepat. Aku memang harus pergi sekarang."

"Bagaimana jika aku melarangmu?" Veritas tidak bercanda.

Aventurine tersenyum sinis, "Kawan, kau tidak berhak untuk melarangku,"

"Kalau begitu, ayo pakai caramu. Kita bertaruh. Jika aku menang, kau tidak boleh pergi dan harus menemaniku setiap hari sampai aku keluar dari sini, dan jika kau menang, aku tidak akan pernah lagi memaksamu untuk tinggal." 

"Maksudmu, kau rela mengingkari ideologimu yang setinggi langit itu hanya untuk hal seperti ini?" Sejujurnya itu membuat Aventurine sedikit terkesan.

"Kau tidak berani bertaruh?" Tantang Veritas, sama sekali tidak menggubris ucapan provikasi Aventurine.

"Oke. Jangan menyesal jika kau kalah." Kali ini Aventurine lah yang bersikap angkuh. Biasanya dia selalu merendah, hanya saja Veritas sedikit membuatnya kesal sekarang. "Metode seperti apa yang ingin kau gunakan untuk taruhan ini?" Sambungnya.

"Kau lihat di luar sana, tepat di seberang gedung rumah sakit ada sebuah kafe," Veritas menengok ke arah jendela yang gordennya dibuka. Dia tidak bisa melihat pemandangan jauh di bawah sana, tapi Veritas sudah hafal area sekitar rumah sakit. "Kita akan menebak gender orang yang akan keluar dari kafe tersebut mulai dari sekarang." Jelasnya.

Aventurine mengikuti arah tatapan Veritas sebelum mendekat ke jendela dan melongok ke bawah dari balik kaca—ia bisa melihat kafe yang Veritas maksud kendati mereka berada di lantai enam dan jarak sekitar 50 meter dari bangun rumah sakit.

Itu adalah sebuah kafe yang terdiri dari tiga lantai, bercat putih dan terlihat elegan dan cantik. Desain bangunannya mengambil konsep ala-ala kafe di kota Paris yang romantis. Terdapat tanaman hijau merambat dan bunga warna-warni pada dinding balkon lantai kedua.

"Kau tidak bisa melihatnya dari tempat tidurmu." Itu lah kesan pertama yang muncul di dalam kepala Aventurine.

Veritas, "Hanya kau yang mengamati. Aku percaya kau tidak akan berbohong."

Ucapan itu sontak membuat Aventurine tertegun sejenak. Dia dapat melihat keyakinan yang kuat dari mata Veritas saat mengatakannya. "Baiklah. Untuk menghormatimu, kau boleh menebak duluan."

"Perempuan." Katanya singkat, yang berarti pilihan Aventurine hanya tersisa laki-laki.

Sepuluh menit kemudian seorang pria keluar dari kafe tersebut diikuti seorang wanita di belakangnya. Aventurine memberi tahu Veritas sesuai dengan apa yang dia lihat.

"Kemenanganku?" Aventurine menyeringai sombong, dia melihat Veritas sedikit mengerutkan alisnya, mungkin kesal atau kecewa. "Sudah pernah kukatakan sebelumnya, bukan? Aku tidak akan pernah kalah dalam taruhan. Dewi Fortuna terlalu mencintaiku."

"Kau boleh pergi. Aku tak akan menahanmu lagi di sini." Meskipun Veritas sedikit kecewa, taruhan tetap lah taruhan. Semengecewakan apapun hasilnya harus diterima mengikuti kesepakatan yang telah dibuat.

"Sampai jumpa, Kawan." Ucap Aventurine sebelum benar-benar pergi meninggalkan Veritas sendirian.

—o0o—

Sejak saat itu Aventurine tidak menampakan batang hidungnya lagi di rumah sakit. Dia seakan menghilang seperti buih di lautan luas.

Seminggu kemudian Veritas diperbolehkan untuk pulang. Sebelum itu, atas perintah orang tuanya, Veritas diminta menemui dokter yang menjadi penanggung jawabnya. Dia diberi tahu sebuah kabar gembira mengenai jadwal operasi cangkok jantung yang sempat lama tertunda.

Mereka akhirnya menemukan pendonor yang memiliki kecocokan hampir 90%. Veritas diminta untuk lebih berhati-hati dan menjaga kondisi fisiknya karena dalam dua minggu ke depan operasinya akan dijalankan. Dia ditawari untuk tetap tinggal di rumah sakit sampai hari H. Namun Veritas justru terlihat tak senang dan menolak. Hal itu tentunya membuat sang dokter bingung.

Hal yang pertama Veritas lakukan saat kembali ke mansion adalah mencari keberadaan Aventurine di kamarnya. Dia hampir gila saat tidak ada respon dari dalam kamar ketika ia mengetuk pintu.

Sampai, saat dirinya hendak mencoba mendobraknya, Aventurine muncul dari dalam ruangan dengan rambut yang basah dan hanya mengenakan jubah mandi. "Kau sudah kembali."

Veritas tidak tahu sejak kapan dia mulai menahan napasnya. Baru ketika melihat sosok Aventurine berada di hadapannya dengan kondisi utuh dia akhirnya bisa menghela napas lega.

"Pinjam bahumu sebentar." Katanya sebelum menarik Aventura ke dalam pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di bahu Aventurine. Karena perbedaan tinggin mereka yang cukup besar, Veritas melakukannya dengan agak membungkuk.

Aventurine tidak mengatakan apapun, ia membiarkan Veritas memeluknya untuk waktu yang cukup lama tanpa melakukan apa-apa.

"Kau sebegitunya merindukanku, eh?" Goda Aventurine, tapi ia tak mendapat respon yang diinginkan.

Dipeluk dalam waktu yang cukup lama membuat Aventurine merasa sesak dan kembali berkeringat. Padahal dia baru saja selesai mandi. Rasanya seperti ada koala besar yang menemplok di tubuhnya.

"Hei, Veritas, sampai kapan kau mau terus memelukku? Ayo kita bicara di dalam?" Bujuk Aventurine.

Beruntung Veritas setuju akan saran Aventurine tersebut. Ia melepaskan pelukannya dan menyelonong masuk begitu saja ke dalam kamar Aventurine tanpa mengatakan apapun.

Aventurine menghela napas lega, kemudian menutup pintu kamarnya rapat-rapat.

Dia memperhatikan Veritas yang sudah duduk di sofa panjang yang ada di sisi ruang kamarnya membelakangi jendela. Wajahnya tampannya tampak merengut seakan sedang dihadapkan dengan rumus matematika paling sulit di dunia.

"Apa yang membuatmu tak senang?" Aventurine bertanya sambil berjalan mendekat. Dia lalu duduk di sebelah Veritas dan dengan sabar menunggu pemuda itu angkat bicara.

Sebelum Aventurine pergi mandi tadi dia sempat mengintip ke luar jendela, saat itu masih sangat pagi tapi awan gelap sudah berkumpul di langit.

Kali ini di luar hujan sudah turun dengan sangat deras. Aventurine baru sadar ia lupa menyalakan lampu sehingga kamarnya sangat minim cahaya. Hanya ada sinar temaram dari luar yang menyelinap masuk dari gorden putih tipis yang menggantung di jendela.

Karena Veritas belum mau bicara, Aventurine hendak bangun untuk menyalakan lampu. Namun sesuatu menyambar pergelangan tangannya sehingga membuatnya tertahan di tempat.

Itu adalah Veritas. Dia masih termangu, tidak melirik Aventurine sama sekali, padahal tangannya tetap menjerat pergelangan tangan Aventurine.

"Biarkan aku menyalakan lampu dulu. Di sini sangat gelap." Memang tidak segelap yang membuatmu seperti buta. Kau masih dapat melihat tata letak barang-barang di ruangan sehingga tidak menyebabkanmu tersandung atau membentur sesuatu ketika bergerak.

Berada di ruangan minim cahaya ketika di luar sedang hujan deras normalnya akan memberikan kesan syahdu. Tapi kondisi kamar Aventurine saat ini justru malah menimbulkan suasana suram yang membuat dingin hati seseorang.

Tidak tahan lagi berada di dalam keheningan yang menyesakkan, Aventurine berinisiatif memecahnya dengan menceritakan kisah hidupnya yang tidak ada bagus-bagusnya sama sekali. Toh, dia juga tidak pernah berencana untuk menyembunyikannya.

Jujur saja, awalnya Aventurine merasa Veritas orang yang sangat dingin. Dia bahkan tidak memberikan reaksi apa-apa ketika Aventurine menceritakan mimpi buruknya soal kejadian tragis yang menimpa keluarganya ketika ia masih kecil. 

Sampai ketika Aventurine bercerita mengenai kakak perempuannya, barulah Veritas berhenti bermain menjadi patung. Dia menengok ke arah Aventurine dan bertanya, "Di mana kakakmu sekarang?"

Aventurine tersenyum kecut, ada kilat kesedihan di matanya. Pun begitu dia masih sempat bercanda, "Dari semua hal yang kuceritakan, kau justru tertarik dengan keberadaan kakak perempuanku. Asal kau tahu, aku tidak mau memiliki ipar sepertimu."

Tapi bukan itu masalahnya. Aventurine merasa Veritas sudah lama tahu tentang masa lalunya. Mungkin Veritas melakukan background check pada dirinya. Itu bukan sesuatu yang sulit dilakukan saat kau memiliki banyak uang. Jika dugaannya benar, tidak heran Veritas sama sekali tidak kaget ketika mendengar kisah hidupnya.

"Sejak kapan kau tahu?" Tentang masa lalunya.

Ngomong-ngomong, sampai kapan Veritas akan tetap menggenggam pergelangan tangannya? Pikir Aventurine.

"Topaz yang menceritakan semuanya padaku saat kau pergi membeli air mineral waktu itu," seakan bisa membaca isi pikiran Aventurine, Veritas melepaskan pergelangan tangannya.

Bajingan kecil itu!

"tapi dia tidak menceritakan kisahmu yang dipaksa menjadi pengemis bersama kakakmu sebelum dibawa ke panti asuhan." Sambungnya.

Tentu saja Topaz tidak menceritakannya. Lebih tepatnya Topaz tidak memiliki informasi tersebut. Dia hanya tahu ketika Aventurine dibawa ke panti asuhan, kakaknya sudah tidak lagi berada bersamanya.

"Kenapa kau tidak pernah menyebutkan bahwa kau masih memiliki seorang saudari sebelumnya?" Tanya Veritas lagi.

"Menurutmu?" Aventurine balik bertanya dengan nada menyindir, "Tidak ada gunanya menceritakan keberadaan orang yang sudah lama mati."

Kakaknya meninggal seminggu sebelum Aventurine diselamatkan dan dibawa ke panti asuhan.

Hari itu terjadi badai. Ia dan kakaknya hanya bisa berlindung di bawah kolong jembatan bersama gelandangan lainnya. Karena ia dan kakaknya hanyalah pengemis kecil berwajah baru, mereka tidak bisa melawan pengemis yang lebih senior dan dewasa untuk mendapatkan posisi yang lebih aman di bawah jembatan yang lebarnya tidak lebih dari empat meter dan dipenuhi gelandangan itu. Jadilah mereka hanya bisa berteduh di area paling pinggir.

Bisa dikatakan itu tidak melindungi mereka sama sekali. Air hujan yang dibawa angin badai tetap membuat Aventurine dan kakaknya basah kuyup akibat badai yang terlalu kencang hingga membuat seluruh pemandangan seperti ditutupi tirai putih raksasa.

Ketika badai sudah berhenti dan hujan tak lagi turun dari langit, Aventurine kecil yang entah sejak kapan tertidur pun terjaga. Aventurine menemukan kain lusuh yang menjadi satu-satunya media yang bisa melindungi mereka dari dingin membungkus seluruh tubuh mungil miliknya. Menandakan kakaknya tidur memeluknya semalaman tanpa perlindungan apapun.

Para pengemis dan gelandangan yang berlindung di bawah jembatan bersamanya sudah tidak ada satupun yang nampak. Hanya tersisa dia dan sang kakak yang masih menutup matanya.

Masih sangat jelas di ingatan Avanturine wajah pucat dan dingin sang kakak ketika tangannya yang masih sangat mungil itu menyentuhnya untuk membangunkan. Hingga beberapa kali percobaan kakaknya tidak kunjung bangun, barulah Aventurine merasa ada yang salah dengan sang kakak.

Aventurine tidak bodoh dan dia bukan bocah lugu yang tidak tahu apa-apa. Bahkan sebelumnya dia sudah pernah merasakan seperti apa itu neraka. Jadi dia langsung tahu kalau kakaknya bukan sedang tertidur, melainkan sudah mati.

"Sejak saat itu aku jadi sangat membenci hujan," Matanya menerawang ke udara, "Bukan hanya karena pengalaman burukku. Tiap musim penghujan datang kepalaku akan menjadi sangat sakit dan tidurku selalu dihantui mimpi buruk tentang masa lalu." 

Veritas, "Apa kau pernah berpikir untuk pergi menemui psikiater?"

"Tidak." Aventurine tersenyum, lalu membungkam mulut Veritas dengan jari telunjuknya agar dia tidak memulai sesi kuliah secara random lagi. "Jangan menguliahiku soal bahayanya gangguan psikologis atau apalah. Aku yang paling tahu tentang kondisi mentalku sendiri."

Sudut bibir Veritas berkedut. Sejak dulu dia paling tidak suka disela saat sedang atau hendak berbicara. Maka ditepis lah telunjuk Aventurine dari bibirnya dengan tidak ramah.

"Woops!" Aventurine melindungi tangannya dengan sayang diiringi seringaian jahil. Dia bersikap seolah-olah kisah tragis yang baru dia ceritakan beberapa saat lalu adalah milik orang lain. "Jangan terlalu agresif, bisa-bisa aku tidak dapat menahan diriku lagi untuk tidak mencium bibirmu."

Wajah Veritas seketika menggelap. Dia merasa ada sesuatu yang bangun dari dalam dirinya. Kemungkinan besar hal itu dipicu oleh ucapan provokatif Aventurine dan suasana hatinya yang buruk.

Dia ingin menguasai Aventurine. Menindih tubuhnya yang ramping dan membuat mulut yang nakal itu hanya bisa mengeluarkan suara teriakan dan erangan tertahan. Veritas ingin melihat mata indah milik Aventurine itu basah oleh air mata saat berada di bawah kendalinya tanpa bisa melakukan apa-apa.

Aventurine yang tidak menyadari pikiran berbahaya Veritas lagi-lagi memprovokasi Veritas dengan cara menyentuh salah satu tangan Veritas dan menggiringnya untuk menyentuh pipi miliknya, tersenyum merayu dan memberikan tatapan seduktif.

"Kau bilang, sebuah pelukan bisa memperbaiki suasana hati. Aku tahu suasana hatimu sedang tidak bagus. Bagaimana jika aku memberimu pengalaman yang lebih menyenangkan dari sekadar sebuah pelukan?"

Di dalam pikirannya saat ini entah sudah berapa macam hal tak senonoh yang Veritas lakukan pada tubuh Aventurine seperti adegan di film biru yang dilihatnya ketika sedang mempelajari lebih dalam sistem reproduksi manusia.

Pada saat menontonnya kala itu Veritas tidak memiliki reaksi apa-apa. Dia murni menonton demi ilmu pengetahuan. Namun kali ini sungguh berbeda ketika sosok Aventurine lah yang menjadi model di dalam adegan tersebut. Veritas merasa suhu tubuhnya meningkat dan bagian bawahnya merasakan sesak tak nyaman.

Veritas lagi-lagi menepis tangan Aventurine—menarik tangannya menjauh dengan raut wajah seperti baru saja menyentuh sesuatu yang menjijikan. Dia melakukannya demi mempertahankan kewarasannya yang sudah berada di ujung tanduk tanpa menyadari ada hati yang tak sengaja ia sakiti.

"It's ok jika kau tidak mau melakukannya. Kau sebaiknya kembali ke kamarmu dan beristirahat, kawan." Aventurine memberi gestur mempersilakan Veritas untuk segera angkat kaki dari kamarnya disertai senyuman yang sangat sopan. "Silakan."

Tanpa melihat lagi pada Aventurine, Veritas bangun dari sofa dan keluar dari kamar dengan sedikit membanting pintu.

Tujuan awalnya mencari Aventurine adalah untuk memastikan bahwa pemuda itu baik-baik saja.

Kedua orang tuanya memang merahasiakan kebenaran soal tujuan Aventurine dibawa ke mansion. Veritas bukanlah orang bodoh, dia sudah menaruh curiga sebelumnya ketika orang tuanya tiba-tiba membawa orang asing untuk tinggal di mansion selama beberapa waktu. Dan kecurigaannya itu terbukti saat dokter memberitahunya bahwa mereka telah menemukan donor yang tepat untuk operasi cangkok jantung miliknya.

Sayangnya Veritas malah termakan provokasi Aventurine dan kehilangan kesempatan untuk mengkonfimasi bahwa Aventurine adalah pendonor yang dimaksud. Ketidak kompetenannya membuat Veritas sangat marah pada dirinya sendiri.

Jika hipotesisnya memang terbukti tepat, Veritas sebisa mungkin akan mencegah hal itu terjadi. Bagaimana pun dia tidak mau orang yang disukainya mengorbankan diri untuknya.

—o0o—

Sejak kejadian tempo hari di dalam kamar Aventurine, keduanya berada di dalam atmosfir yang aneh.

Aventurine tetap mengajak Veritas bicara tapi tidak seaktif biasanya dan tanpa ada selipan kalimat godaan. Pun Veritas menjadi lebih cuek seakan mereka baru saling mengenal di hari pertama.

Tanpa terasa satu minggu berlalu. Menandakan semakin dekat dengan jadwal operasi yang akan Veritas jalani. Masa-masa itu seharusnya dilewati Veritas dengan tenang dan tanpa banyak beraktivitas yang dapat mempengaruhi kesehatannya. Dia juga telah mengambil izin absent pada dosen pembimbingnya.

Namun sebaliknya, suatu hari Veritas menyelinap keluar dari mansion tanpa sepengetahuan siapa-siapa. Dia memesan taksi online dan pergi ke sebuah pelabuhan di pinggir kota.

Sejak tiga hari sebelumnya Veritas telah berkomunikasi secara daring dengan sekelompok orang misterius yang menyebut diri mereka sebagai Masked Fools. Dia mendapatkan kontak mereka dari salah satu forum di dark web.

Masked Fools merupakan organisai yang cukup terkenal di kalangan pengguna dark web. Mereka adalah sekumpulan orang-orang gila yang mau menerima segala macam jenis pekerjaan—bahkan pekerjaan untuk menghilangkan nyawa seseorang—tanpa mempertanyakan identitas asli klien mereka.

Veritas bukan orang bodoh yang akan mengambil tindakan semberono. Sebelum dia benar-benar menghubungi organisasi tersebut, dia telah lebih dulu membayar seseorang untuk mengumpulkan sumber informasi yang terpercaya. Setelah diketahui Masked Fools bukan organisasi hitam yang senang menipu klien, barulah Veritas yakin untuk menggunakan jasa meraka.

Sesuai perjanjian, siang itu Veritas mendatangi pelabuhan tempat perjanjian mereka untuk bertemu secara luring. Dia diminta untuk menemukan sebuah kapal pesiar yang memiliki tanda khusus.

Setelah berkeliling setidaknya selama lima belas menit, Veritas menemukan kapal pesiar yang dimaksud. Seorang pria berambut silver yang mengenakan topeng badut tiga warna telah menunggunya di dek kapal. Pria itu menyebut dirinya sebagai Giovanni, ia lalu membimbing Veritas naik ke atas kapal pesiar dan membawanya menemui orang yang akan mengambil pekerjaan yang dimintanya.

Di luar dugaan Veritas, orang yang selama beberapa hari terakhir berkomunikasi secara daring dengannya merupakan seorang gadis berperawakan mungil dengan rambut gelap yang dikuncir dua. Awalnya gadis itu juga mengenakan topeng kitsune merah putih seperti Giovanni, tapi saat Veritas muncul dan duduk berhadapan dengannya, gadis itu membuka topeng tersebut dan memperkenalkan dirinya sebagai Sparkle.

Wajahnya masih tampak begitu muda, seperti wajah gadis yang baru berusia enam belas tahun. Seperti sebagian besar orang asia timur, Sparkle memiliki kulit putih sehalus porselen dengan iris mata berwarna merah muda dan terdapat titik hitam di bawah kedua matanya yang sangat menarik perhatian.

Veritas memperkenalkan dirinya sebagai Dr. Truth. Setelah itu mereka mulai berdiskusi tentang detail perkerjaan seperti apa yang Veritas inginkan untuk mereka kerjakan dan negosiasi masalah harga.

"Jadi, permintaanmu adalah untuk menculik orang yang berada di dalam foto ini dalam dua hari ke depan dan menyekapnya selama kurang lebih satu minggu?" Sparkle kembali mengkonfirmasi sambil menunjuk sosok Aventurine di dalam foto. 

"Benar." Veritas ingin Aventurine menghilang ketika hari operasi mereka akan dilaksanakan. Sehingga Aventurine tidak usah mendonorkan jantungnya. Setelah itu dia berencana mendeportasi Aventurine ke luar negeri dan memberinya sejumlah uang untuk bertahan hidup dengan identitas baru.

Sparkle memainkan foto Aventurine di tangannya. Wajahnya membentuk senyuman main-main, "Itu pekerjaan mudah. Tapi membuatnya tidak lecet sedikit pun akan jadi sedikit lebih sulit," katanya.

"Aku bisa membayar kalian dua kali lipat untuk itu,"

Suara tawa renyah dan manis Sparkle menggema di dalam ruangan, "Ini bukan soal uang," Sparkle meletakkan foto Avanturine di atas meja, dia melanjutkan, "tapi, baiklah, karena kau memiliki wajah tampan aku akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak melukai kekasihmu."

Veritas tidak melakukan tindakan tidak perlu seperti menyangkalnya. Setelah mencapai hasil mufakat, mereka pun berpisah dan Veritas kembali ke mansion dengan aman dan tentunya masih tidak diketahui oleh siapapun.

—o0o—

Dua hari kemudian Veritas mengajak Aventurine pergi ke sebuah taman wisata akuarium. Ia seharusnya sudah dipindahkan ke rumah sakit untuk rawat inap guna melakukan persiapan sebelum operasi yang akan dijalaninya beberapa hari ke depan. Namun Veritas menolak dan berjanji akan menjalani perawatan setelah perjalanan ke akuarium bersama Aventurine.

"Apa maksudnya semua ini?" Aventurine menatap Veritas yang sedang membeli dua tiket masuk di loket. Pemuda yang lebih muda dua tahun darinya itu tidak langsung menjawab, dia justru membimbing Aventurine ke pintu masuk dan menyerahkan tiket mereka ke petugas.

"Apa yang aneh dari mengunjungi akuarium?" Veritas balik bertanya ketika mereka sudah berjalan memasuki area akuarium dengan melewati sebuah lorong panjang, di kedua sisinya terdapat layar monitor yang menampilkan berbagai macam jenis satwa laut beserta informasinya.

Untuk kebanyakan orang hal itu memang tidak aneh. Tapi menurut Aventurine hal seperti Veritas mengajaknya ke tempat rekreasi merupakan suatu anomali. Orang yang lebih menyukai buku daripada manusia tidak mungkin tiba-tiba mengajaknya pergi untuk menonton ikan.

Sebuah gagasan muncul di otak Aventurine. Dia berjalan sambil mendongak menatap Veritas dan menggunakan jari telunjuknya untuk mencolek pipi Veritas dengan jahil, "Jangan bilang kawanku Veritas yang tampan ini sedang mengajakku berkencan dan berencana untuk menyatakan cintanya di sini?"

Veritas agak jengkel. Dia kemudian menangkap pergelangan tangan Aventurine yang mengganggu wajahnya tanpa menanggapi. Setelah itu, tanpa ada niat ingin melepaskan, Veritas menggandeng tangan Aventurine sampai masuk ke dalam kawasan aula akuarium.

Jelas hal itu membuat Aventurine sedikit terkejut. Tetapi dia tidak banyak bertanya lagi dan dengan senang hati mengikuti Veritas yang menggandengnya ke mana pun dia melangkah.

Tiga puluh menit pertama Veritas dan Aventurine habiskan untuk melihat berbagai macam pameran ikan tawar dari seluruh penjuru dunia. Aventurine hampir tidak perlu repot-repot membaca panel penjelasan di setiap akuarium yang mereka sambangi, karena kehadiran Veritas di sisinya sudah seperti ensiklopedia berjalan.

Selanjutnya mereka menuju ruangan yang menampilkan berbagai macam biota laut. Aventurine paling menyukai saat mereka memasuki terowongan kaca seperti di bawah laut dan menonton pertunjukan penyelam berinteraksi dengan ikan-ikan di dalamnya. Veritas yang berada di sebelah hanya diam memperhatikan dengan sedikit tersenyum.

"Apa yang ingin kau lihat selanjutnya?" Tanya Veritas ketika mereka sudah keluar dari terowongan bawah laut dan duduk di salah satu kursi panjang yang disediakan untuk pengunjung. Di tangannya terdapat peta wilayah akuarium yang kini ia buka lebar-lebar.

"Biar aku lihat," Aventurine bersandar lebih dekat untuk ikut melihat isi peta yang sontak membuat jantung Veritas berdetak lebih cepat.

Beruntung Aventurine tidak terlalu memperhatikan. Dia lebih tertarik dengan salah satu area di peta yang sengaja dibuat lebih menonjol dengan tulisan besar berbunyi:

NEW! Explore The Wonder Of An Underwater World In Amazing Virtual Reality! Come and enjoy your own experience now!

"Selanjutnya ayo ke sini!" Katanya dengan bersemangat.

Di sisinya Veritas sama sekali tidak melirik area peta yang dimaksud. Iris matanya yang berwarna merah kemerah-merah mudaan itu hanya memperhatikan wajah ceria Aventurine sebelum berkata, "Oke."

Setelah puas merasakan pengalaman menyelam ke kedalaman laut menggunakan VR, Veritas dan Aventurine memutuskan untuk makan siang di restoran yang masih berada di area akuarium.

Kali ini Veritas benar-benar berhati-hati dalam memilih makanan yang dia pesan. Bukan berarti dia melakukannya demi menjalani operasi, melainkan untuk menjaga kondisinya agar tetap bugar dan bisa menjalankan semua rencana ke depannya untuk Aventurine. Karena setelah rencana penculikan dia akan sangat sibuk.

"Kita masih memiliki waktu beberapa jam sebelum pulang. Kau ingin melihat apa lagi?" Tanya Veritas yang telah menyelesaikan makan siangnya.

"Ayo lihat penguin." Jawab Aventurine disela-sela kunyahannya. Ketika kau pergi ke akuarium dan belum melihat penguin rasanya akan ada yang kurang, begitulah pikir Aventurine.

Maka keduanya sepakat pergi ke area pertunjukan penguin. Di sana Aventurine sangat bersenang-senang saat sesi pemberian makan penguin oleh pengunjung dibuka. Dengan wajah sumringah dan penuh tawa, Aventurine yang memberi ikan pada para penguin sesekali melirik ke arah Veritas yang memilih untuk tidak ikut melakukannya dan menonton saja jauh di belakang.

"Veritas, cobalah! Mereka sangat menggemaskan!" Katanya sedikit berteriak. Tetapi Veritas teguh akan pendiriannya dan hanya memberi Aventurine gestur penolakan.

Usai menonton pertunjukan penguin yang berlangsung sekitar setengah jam, mereka memutuskan untuk pergi ke area pertunjukan hiu sebelum pulang. Ketika berada di area tersebut Veritas dan Aventurine mengikuti sesi di mana pengunjung akan diperbolehkan menyentuh berbagai macam jenis hiu—tentunya bukan hiu dewasa dan masih masuk ke dalam beberapa spesies hiu yang tidak akan menyerang manusia.

"Padahal mereka begitu lucu. Tapi di dalam film yang banyak berdar hiu selalu digambarkan sebagai hewan ganas yang selalu menyerang manusia." Komentar Aventurine. Tangannya sibuk menyentuh anakan hiu paus di kolam.

"Faktanya, gajah yang terlihat tidak berbahaya lebih banyak membunuh manusia dalam pertahunnya dibandingkan hiu. Hiu itu sendiri tidak termasuk ke dalam daftar 9 hewan paling berbahaya di dunia. Tetapi stigma buruk tentang mereka sudah terlanjur tertanam jauh di dalam pikiran masyarakat." Jelas Veritas yang juga ikut menyentuh hiu yang sama dengan Aventurine.

Aventurine bukan tipe orang yang mudah terbawa perasaan. Namun dia tetap merasa sedikit kasihan dengan para hiu yang dipandang salah oleh kebanyakan orang.

"Ayo pulang." Ajak Veritas setelah mereka menyelesaikan sesi bermain dengan para hiu.

Setidaknya begi lah rencana awal mereka. Akan tetapi sopirnya memberi kabar akan sedikit terlambat menjemput karena terjadi kemacetan akibat kecelakaan lalu lintas. Jadi lah Veritas dan Aventurine menunggu dengan mengunjungi tempat pembelian souvenir.

Awalnya Veritas tidak berencana untuk membeli apapun dan hanya menuruti rengekan Aventurine yang memaksa untuk sekadar melihat-lihat saja. Pada akhirnya mereka tetap membeli sepasang gantungan handphone berbentuk lumba-lumba.

Masih ada waktu sekitar sepuluh menit sebelum jemputan mereka tiba. Aventurine dan Veritas memutuskan untuk menunggu dengan duduk di lobi. Terdapat akuarium besar di salah satu sisi ruangan alih-alih tembok beton. Juga kerangka besar paus orca di tengah-tengah ruangan.

"Apa kau pernah mendengar kisah paus orca bernama Kiska?" Tanya Aventurine tiba-tiba. Matanya tidak lepas memandang kerangka paus di tengah ruangan.

Tentu saja Veritas mengetahui kisah paus malang yang sempat menjadi sorotan dunia tersebut. Kiska merupakan paus orca terakhir di sebuah penangkaran di Kanada sebelum negara tersebut akhirnya menesahkan undang-undang pelarangan memelihara atau membiakkan paus dan lumba-lumba di penangkaran.

Dikatakan Kiska wafat di usia sekitar 47 tahun di penangkaran karena infeksi bakteri. Dia mati membawa status sebagai paus paling kesepian di dunia. Semasa hidupnya Kiska telah kehilangan lima anak paus yang dilahirkannya yang selalu mati diusia muda.

"Aku merasa nasib kami sedikit mirip. Kiska tidak memiliki siapa-siapa hingga akhir hayatnya. Begitu pula denganku." Aventurine tersenyum memainkan gantungan lumba-lumba yang belum sempat ia pasang. Dia mengatakan hal tersebut seakan itu merupakan hal yang sangat wajar untuk dikatakan.

Veritas tidak menyukai sedikit pun gagasan Aventurine tersebut. Itu terlihat jelas di raut wajahnya yang menggelap. Aventurine yang menyadarinya merasa sedikit lucu.

"Jangan terlalu diambil hati. Aku mengatakannya tidak dengan perasaan yang berat." Katanya sambil menepuk bahu Veritas.

"Tapi kau punya aku,"

"Maaf?" Aventurine refleks bertanya. Tidak mempercayai apa yang telah ia dengar.

"Kau berbeda dari Kiska," Veritas menggenggam sebelah tangan Aventurine yang sebelumnya berada di bahunya. Matanya yang tajam menatap tepat ke dalam mata Aventurine—merah bertemu ungu. "Aku tidak akan membiarkanmu mati sendirian."

Butuh sekian detik untuk Aventurine bisa memproses semua ucapan Veritas. Dia sendiri terbiasa melayangkan kata-kata rayuan tak tahu malu. Namun, ketika dihadapkan dengan perkataan tulus seseorang untuk pertama kalinya, Aventurine merasa dirinya berubah menjadi pribadi yang asing. Dia tidak kenal dengan perasaannya sendiri.

Dengan sedikit panik Aventurine berusah melepaskan tangannya, namun Veritas tidak membiarkan Aventurine berhasil melakukannya. "Kawan, lepaskan! Apa kau sudah gila?!"

Veritas justru menariknya ke dalam pelukan yang seketika membuat Aventurine membeku di tempat. Sejujurnya Veritas sangat ingin menenangkan Aventurine dengan cara memberinya sebuah ciuman yang juga memiliki peran untuk meyakinkan Aventurine bahwa dia tidak sedang main-main. Tapi mereka sedang berada di tempat umum sekarang. Dengan hanya berpelukan saja sudah ada beberapa pasang mata yang melihat aneh ke arah mereka berdua.

Veritas memberi tatapan mengancam pada orang-orang tersebut yang berhasil membuat mereka segera mengalihkan pandangannya. Dia kemudian kembali berkata pada Aventurine, "Ayo kita bicara di luar."

Dia membawa Aventurine keluar dan menemukan tempat yang lumayan sepi di pojok bangunan gedung akuarium. Veritas langsung mengecup dahi Aventurine dan menariknya kembali ke dalam sebuah pelukan.

"Sebelumnya kau bertanya apakah aku membawamu ke sini untuk berkencan dan menyatakan cinta padamu, bukan?" Veritas berbisik dengan nada yang lebih lembut dari kapas, "Sekarang aku akan mengatakannya. Aku menyukaimu, Aventurine. Jadi, jangan mati demi diriku."

"Tapi aku bersedia," Aventurine mendorong Veritas dengan lembut, lalu kedua tangannya naik ke atas untuk menangkup wajah pemuda yang lebih muda. Kedua mata indahnya yang sarat akan cahaya menatap tiap inci ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna di hadapannya, "dan aku tidak takut akan kematian."

"Aku tahu. Kau orang paling tangguh yang pernah aku kenal," Veritas balas menyentuh tangan Aventurine di wajahnya, "namun aku berbeda. Aku tidak bisa hidup di atas pengorbananmu."

Aventurine, "Kau akan menentang kedua orang tuamu jika terus bersikeras seperti ini. Kau akan menderita,"

"Kehilanganmu lebih menakutkan bagiku,"

"Kau akan dicap sebagai anak durhaka yang tak tahu terima kasih,"

"Biarkan mereka berpikir demikian,"  Veritas mengeratkan genggamannya, sorot matanya menunjukkan keteguhan hati sekokoh tembok.

Setelah waktu yang lama akhirnya Aventurine kembali menunjuk senyuman, "Kau tidak boleh menyesal setelah ini,"

"Tidak akan." Veritas mengecup telapak tangan Aventurine. "Apa ini berarti kau sudah menerimaku?"

"Panggil aku Kakavasha," Entah sudah berapa lama nama itu tidak keluar dari lidahnya. 

Veritas tidak banyak bertanya, dia langsung tahu bahwa itu adalah nama asli Aventurine. Jadi, tanpa keraguan dia langsung berkata, "Kakavasha, be mine forever, will you?"

"Okay." Jawab Aventurine yang tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya. Mendengar seseorang kembali memanggil nama aslinya ternyata memiliki kesenangan tersendiri. Padahal sebelumnya Aventurine sangat ingin mengucapkan selamat tinggal sepenuhnya pada nama pemberian orang tuanya tersebut.

"Thank you." ucap Veritas dengan tatapan dan senyuman yang begitu lembut. Ia kembali mengecup tangan Aventurine tapi kali ini pada bagian punggung tangannya.

"Baik, hentikan itu." Aventurine menarik tangannya, wajahnya sudah merona karena malu. Agak lucu jika mengingat watak Aventurine yang hobi menggoda sana-sini.

Aventurine kemudian teringat sesuatu yang sangat penting. Jika dia tidak mendonorkan jantung miliknya seperti rencana awal, lalu bagaimana dengan nasib Veritas selanjutnya? Bukankah dia akan meninggal jika tidak segera melakukan operasi transplantasi jantung?

"Ngomong-ngomong, bagaimana denganmu? Apa kau akan mati?"

Veritas, "Semua yang hidup pasti akan mati," 

"Bullshit." Sebuah tinju ringan Aventurine layangkan ke arah bahu Veritas. Tapi dengan cepat dapat dicegah—kepalan tinju Aventurine sudah lebih dulu ditangkap oleh tangan Veritas.

"Tenang dulu," Katanya sambil menurunkan tangan Aventurine. "Apa kau tahu berapa besar persentase angka keberhasilan operasi transplantasi jantung?"

Jelas, Aventurine tidak tahu. "Apa sangat kecil?"

Veritas menggeleng," Sebaliknya, 95%. Terdengar sangat menjanjikan, bukan?" Ia berusaha meyakinkan, "Tanpamu pun, aku masih bisa menunggu setidaknya setengah tahun lagi sebelum menemukan pendonor baru."

Dia tidak berbohong. Veritas hanya tidak mengatakan semuanya. Salah satunya tentang resiko penolakan tubuh pada jantung yang dicangkokkan. Jika hal semacam itu terjadi, pasien bisa kehilangan nyawanya dalam beberapa pekan atau hitungan hari pasca operasi. Pun jika semuanya berjalan lancar, rata-rata pasien transplantasi jantung hanya dapat bertahan hidup selama 5 sampai 20 tahun saja. 

Setelah itu Veritas kemudian membocorkan seluruh informasi mengenai rencana yang telah ia susun secara matang dan hati-hati. Dimulai dari penculikan Aventurine dan kegiatan setelahnya.

"Bagaimana bisa kau yakin semua ini akan berhasil?" Aventurine menatap sanksi.

"Aku tidak sepertimu yang hanya bergantung pada kemungkinan dan keberuntungan. Seluruh rencanaku disusun dengan penuh perhitungan dan tingkat keberhasilan yang tinggi."

"Baiklah, Tuan pintar," Aventurine berkata sarkastik, "tingkat keberhasilan tinggi bukan berarti rencanamu seratus persen akan berjalan mulus. Pada akhirnya kita tetap harus bertaruh pada takdir."

"Keberuntunganmu selalu bagus. Jika hipotesisku benar, apa yang perlu aku takutkan dari angka kemungkinan gagal yang bahkan tidak mencapai dua puluh persen?"

Aventurine mendengus pelan, "Jangan terlalu jumawa,"

"Kau harus percaya diri jika ingin mendapatkan hasil yang diinginkan."

"Terserah apa katamu."

Tak lama kemudian mobil jemputan mereka datang. Aventurine dan Veritas segera meninggalkan area akuarium.

Jika mengikuti sesuai rencana, ketika mobil mereka sampai di pertigaan dan jalan sekitar sepuluh meter setelah belokan, orang-orang suruhan Topaz seharusnya sudah siap menyergap mobil yang mereka tumpangi untuk memulai sandiwara penculikan Aventurine. 

Sayangnya, ketika hendak berbelok di persimpangan, sebuah mobil van berwarna hitam menabrak mereka dari arah belakang. Sehingga menyebabkan guncangan besar yang membuat sang sopir ikut mengerem mendadak.

Beruntung tidak ada yang mendapatkan luka maupun cidera. Hanya saja, akibat guncangan hebat yang mengagetkan itu, jantung Veritas yang lemah tidak dapat menanggungnya. Seketika wajahnya memucat—ia merasakan seperti ada puluhan belati tajam yang menghujam jantungnya tanpa ampun.

Tidak sampai di sana, tiba-tiba saja ada sekelompok orang misterius yang mengenakan pakaian serba hitam dengan penutup wajah membuka paksa pintu mobil dengan cara memecahkan kaca.

Veritas merasakan perih di pipi sebelah kanannya ketika sepotong kaca terbang ke arah wajahnya dan ia tidak sempat menghindar. Di sela suara telinganya yang berdengung, Veritas samar-samar bisa mendengar suara pergulatan Aventurine. 

Ia berusaha sekuat tenaga mengendalikan diri agar tidak pingsan dan membantu Aventurine. Akan tetapi tubuhnya mengkhianatinya. Dalam pandangan yang mulai mengabur, Veritas melihat sekelompok orang itu berhasil menyeret Aventurine keluar dengan kasar sebelum ia benar-benar kehilangan kesadaran.

—o0o—

Veritas dibangunkan oleh mimpi buruk yang tidak dapat dia ingat kembali isinya. 

Kali ini dia sudah berada di salah satu bangsal rumah sakit dengan jarum infus tersemat di tangan sebelah kanannya. Dia juga bisa merasakan keberadaan plester luka di pipinya—menandakan kejadian beberapa waktu lalu bukanlah sekadar mimpinya di siang bolong. 

Hal pertama yang muncul di benak Veritas adalah mencari smartphone miliknya. Untung saja benda yang dicarinya itu ada di atas meja sebelah tempat tidurnya. Dia segera maraihnya dan menekan tombol panggilan pada salah satu nomor dengan tangan sedikit gemetar—entah karena panik atau marah. 

Sebelum mulai bicara Veritas menarik napas dalam-dalam guna menenangkan diri, setelah merasa lebih tenang barulah dia membuka suara lebih dulu, "Kuberi waktu lima menit untukmu menjelaskan semuanya,"

"Tidak ada yang perlu kujelaskan," suara Sparkle terdengar dari seberang telepon, dari nada bicaranya gadis itu seakan tidak terlalu menaruh minat pada percakapan mereka.

Kedua alis Veritas bertaut, "Apa maksudmu?"

"Masalah eksternal yang muncul saat misi baru akan dijalankan itu di luar kuasa kami dan kami tidak memiliki kewajiban untuk bertanggung jawab,"

"Maksudmu, orang yang menyerang mobil kami bukan kalian?" Sejujurnya Veritas memang sudah memiliki kecurigaan akan hal itu. Orang misterius yang menyerang mereka bergerak terlalu kasar dan semberono, sama sekali tidak mencerminkan bagaimana para Masked Fools biasanya beraksi. Lagipula mereka sudah memiliki perjanjian untuk tidak akan menyakiti siapapun dalam prosesnya.

"Tepat." Di seberang telepon terdengar suara tuangan air ke dalam gelas, tak lama berselang Sparkle kembali bicara, "tapi aku punya kabar baik untukmu,"

"Katakan," perintah Veritas tanpa basa-basi.

"Salah satu orangku berinisiatif membuntuti mobil van yang menculik kekasihmu. Kebetulan beberapa dari mereka standby di dekat lokasi kejadian,"

Mendengar berita tersebut raut tegang di wajah Veritas sedikit mengendur. Setidaknya dia bisa mengantongi petunjuk keberadaan Aventurine.

"Lalu, di mana mereka sekarang?"

Sparkle tidak buru-buru menjawab, dia justru sengaja berlama-lama dengan memainkan gelas berisi wine di tangannya, "Apa kau tahu gedung pusat penelitian ilegal yang ditutup sepuluh tahun lalu?"

"Mereka membawanya ke sana," Veritas menarik kesimpulan.

"M-hm," Sparkle membenarkan. "Ngomong-ngomong, ini sudah hari kedua sejak kejadian, kalau-kalau kau tidak tahu."

Jantung Veritas mencelos mendengarnya. Otot di wajahnya yang sebelumnya sudah sedikit tenang kembali menegang. Dengan berusaha menekan emosinya yang hampir meledak ia kembali berkata, "Kalian hanya diam menonton dan tidak segera menyelamatkan orangku?" 

Di seberang telepon terdengar suara tawa Sparkle, "Kalau kami melakukannya bukankah jadi tidak seru? Lagipula, sejak awal kami juga bukan orang baik. Kami tidak akan melakukan pekerjaan di luar kesepakatan atas dasar perbuatan amal kebaikan," katanya tak peduli.

Mendengar itu Veritas menggertakan giginya menahan amarah dan meremas kuat smartphone di tangganya.

"Anggap saja informasi letak keberadaan kekasihmu itu merupakan bentuk kompensasi yang kuberikan karena sudah menerima bayaran dari pekerjaan sebelumnya." tambah Sparkle.

Setelah itu Veritas memutus sambungan telepon mereka begitu saja tanpa mengatakan apa-apa lagi. Ia kemudian dengan lihai melepas sendiri jarum infus di tangannya dan bergegas turun dari tempat tidur kendati tubuhnya masih lemah.

Ketika membuka pintu bangsal, Veritas berpapasan dengan seorang perawat yang hendak mengecek kondisinya. Perawat wanita itu sempat kaget, tapi itu hanya berlangsung singkat. Dia kemudian mencoba menahan Veritas yang berusaha melarikan diri.

Veritas memang hanya seorang remaja berusia delapan belas tahun, tapi perawakannya tetap lebih tinggi dan besar dibandingkan tubuh mungil si perawat wanita. Jadi Veritas dengan sangat mudah melepaskan diri. Dia bergegas menuju lift tanpa menghiraukan panggilan dan teguran si perawat di belakangnya.

Veritas tidak bertindak semberono dan tetap berpikir jernih ketika menghadapi situasinya saat ini. Selepas dari rumah sakit, dia pergi ke kantor polisi dengan menggunakan taksi.

Sesampainya di kantor polisi, Veritas segera menemui kenalan ayahnya yang merupakan kapten tim investigasi tindak kriminal bernama Gallagher yang sebelumnya sudah dia hubungi lewat telepon.

Di sana Veritas menceritakan semua kronologi awal hingga bagaimana dia mengetahui lokasi Aventurine disekap. Dan tentunya Veritas sebisa mungkin tidak membongkar identitas para Masked Fools yang membantunya.

Bagaimana pun Masked Fools merupakan salah satu buronan polisi yang paling dicari. Urusannya akan semakin diperparah jika ia ketahuan memiliki hubungan bisnis dengan organisasi kriminal tersebut. Tindakannya itu juga bisa mengancam nama baik keluarganya.

"Tim kami akan segera melakukan persiapan untuk meluncur ke lokasi secepat mungkin. Kamu sebaiknya kembali ke rumah sakit jika tidak ingin membuat ayahmu murka. Urusan ini serahkan saja pada kami para professional." Gallagher memberi pengertian dengan menepuk bahu Veritas. 

Sayangnya Veritas memiliki ide lain. Dia justru meminta Gallagher menemaninya pergi ke lokasi lebih awal. "Aku berjanji tidak akan melakukan tindakan apapun sebelum yang lain tiba. Aku hanya ingin mengamati."

"Tidak bisa. Itu tetap berbahaya. Warga sipil tidak diizinkan untuk ikut ke lokasi penyergapan dengan alasan keselamatan," Gallagher mengatakannya dengan sangat tegas, jemarinya meremas bahu Veritas. "Veritas, kamu anak yang cerdas. Kamu seharusnya sangat mengerti perkataanku, benar?"

"Mengerti bukan berarti aku bersedia menuruti. Jika kau tidak mau membantuku, aku bisa pergi sendiri ke sana." Ucap Veritas keras kepala. Matanya yang tajam menatap Gallagher tanpa rasa takut dan sungkan terhadap orang yang lebih tua.

"Berhenti keras kepala. Jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi orang tuamu, terutama ayahmu."

"Kau cukup tutup mata dan pura-pura tidak tahu," Veritas melepaskan bahunya dari cengkraman Gallagher. Keputusannya sudah bulat. "Aku tidak akan merepotkanmu lebih dari ini. Terima kasih." Katanya sambil berlalu menuju pintu keluar.

Gallagher menghela napas. Itu adalah pertama kalinya dia melihat Veritas yang keras kepala di luar soal ilmu pengetahuan. Pada akhirnya Gallagher tidak bisa membiarkan bocah itu pergi ke sarang harimau sendirian dan tetap menemani Veritas pergi ke lokasi lebih awal.

.

Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke lokasi gedung penelitian terbengkalai yang dimaksud. Saat Veritas bersama Gallagher sampai dan memarkirkan mobil di balik pepohonan untuk kamuflase, waktu sudah menunjukkan jam dua siang.

Langit yang seharusnya masih berwarna biru dengan hiasan awan seputih kapas justru digantikan dengan warna kelabu yang suram. Dari kejauhan juga mulai terdengar suara guntur menggelegar kendati tetes hujan pertama belum jatuh ke tanah.

"Kamu harus menepati janji. Kita hanya mengamati sampai timku datang." Gallagher kembali mengingatkan. Dia kemudian mengambil satu batang rokok dan hendak menyalakannya, tapi dia urungkan ketika mengingat kembali bahwa yang berada bersamanya saat ini adalah seorang pasien jantung kronis yang bahkan belum lama menginjak usia delapan belas tahun.

Jadi, Gallagher mengambil permen rasa buah yang dia simpan di dalam dashboard dan memakan satu. Dia juga menawari Veritas, namun Veritas menolaknya.

Sepuluh menit pertama mereka jalani penuh keheningan. Pada gedung penelitian terbengkalai di depan mereka juga tidak terlihat sedikitpun adanya aktivitas.

Karena lokasinya terpencil dan jauh dari pemukiman, tidak ada makhluk hidup yang terlihat selain Veritas dan Gallagher. Hanya ada sepasang kupu-kupu putih yang terbang berdampingan mengelilingi pagar gedung yang terkorosi dan sudah ditumbuhi tanaman rambat.

Kondisi gedung empat lantai itu pun terlihat tidak terlalu bagus. Terdapat beberapa retakan kecil di beberapa sisi tembok, catnya yang berwarna putih sudah berubah kekuningan dan banyak yang sudah mengelupas. Halaman yang tak terawat lagi kini ditumbuhi alang-alang setinggi satu meter. Tidak heran jika banyak hewan pengerat atau ular membuat sarang di sana.

"Berapa lama lagi timmu akan sampai?" Veritas bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya pada salah satu jendela gedung di lantai tiga. Matanya sedikit memicing ketika sebelumnya matanya seperti melihat siluet seseorang di sana.

Gallagher melihat jam tangannya, jika tidak ada kendala, orang-orangnya akan tiba sebentar lagi. "Kurang lebih lima belas menit lagi mereka tiba." Katanya sambil melirik ke arah remaja di sampingnya. Melihat perubahan di wajah Veritas, Gallagher kembali mengingatkan, "Jangan bertindak impulsive. Ketika orang-orangku tiba nanti, kamu harus tetap diam di dalam mobil dan menuggu dengan tenang sampai semuanya—hei, Veritas!"

Belum sempat kalimatnya selesai diucapkan, Gallagher dikejutkan oleh Veritas yang sudah lebih cepat membuka pintu mobil dan berlari ke arah gedung tanpa melihat ke belakang lagi. Sebuah umpatan vulgar meluncur dari mulut sang kapten yang segera keluar dari mobil untuk menyusul bocah berengsek yang sangat sulit untuk diatur.

.

Veritas berhasil memasuki gedung tanpa menemui sedikitpun kendala. Di luar dugaannya, lantai satu dan dua gedung itu benar-benar kosong. Tidak ada satu orang pun yang datang untuk menghadangnya. Padahal dia sudah siap jika harus berkelahi dengan kemampuan terbatasnya. Veritas juga sudah memperhitungkan keterlibaran Gallagher yang seratus persen tidak akan membiarkan dirinya bertarung sendirian. Bagaimana pun Gallagher adalah seorang ahli yang memiliki kemampuan bela diri yang sudah teruji. Karena itu Veritas tidak takut sama sekali.

Di belakangnya terdengar suara derap langkah kaki dan panggilan Gallagher yang diminimalisir sekecil mungkin agar tidak membuat musuh waspada akan kehadiran mereka. Namun Veritas tidak menghiraukan, dia tetap bergerak secepat yang dia bisa untuk menemukan tangga menuju lantai tiga. Virasatnya mengatakan kalau Aventurine berada di salah satu ruangan di sana.

Bangunan yang dulunya digunakan sebagai tempat penelitian tersebut terbilang cukup luas. Terdapat banyak ruangan dan jalan yang membentuk lorong dan belokan seperti labirin. Akan sedikit sulit untuk menemukan seseorang jika terpisah jauh dan tidak akrab dengan struktur bangunannya. Jadilah Veritas dan Gallagher benar-benar terpisah saat ini.

Setelah berjalan mengelilingi lantai dua cukup lama, Veritas akhirnya menemukan tangga menuju lantai selanjutnya. Sebenarnya, tepat di lobi lantai dua ada sebuah lift, begitu pula di lantai satu. Namun, karena gedung tersebut sudah lama tidak digunakan dan aliran listrik sudah diputus, Veritas harus mencari jalan lain. Normalnya, tangga darurat letaknya tidak jauh dari lift, tapi di bangunan itu—entah ulah ide siapa meletakkan tangga darurat di tempat yang sangat jauh.

Akibat berkeliling jauh dan menaiki tangga sebanyak dua kali, jantung Veritas mulai merengek lagi. Beruntung dia tidak langsung runtuh kendati jantungnya terasa seperti terbakar.

Veritas menyadari bahwa tidak bisa terus memaksakan diri. Pada akhirnya dia memilih untuk beristirahat sejenak dengan duduk bersandar pada tembok di samping sebuah pintu ruangan yang terkunci.

Kendati berada di tengah lantai tiga dan jauh dari jendela, Veritas masih bisa mendengar suara hujan deras di luar. Kemungkinan karena banyak kaca yang sudah pecah dan banyak lubang sehingga tidak bisa meredam suaranya yang bisa sampai jauh masuk ke dalam. Selain suara samar hujan, hanya ada suara batuk Veritas yang terdengar.

Tidak ada tanda-tanda Gallagher berhasil menyusulnya. Dan bila perhitunga Veritas tepat, seharusnya orang-orang dari kepolisian juga sudah sampai di lokasi. Jika memang demikian, kemungkinan Gallagher memilih kembali dan mengkoordinir timnya untuk segera melakukan penyelamatan. Toh tidak benar-benar ada bahaya yang mengancam di dalam gedung.

"Apa ada orang di luar?"

Veritas hampir mengira dirinya sedang berhalusinasi saat mendengar suara sesorang dari dalam pintu yang terkunci di sebelahnya. Dia baru yakin bahwa itu bukan hanya imajinasinya saja ketika suara itu kembali terdengar.

"Tolong jawab aku jika kau memang ada di sana."

Suara tersebut terdengar sangat serak, tapi Veritas masih bisa mengenalinya, itu adalah suara milik Aventurine.

"Aventurine, kau kah itu?" Tanya Veritas sambil berusaha berdiri. Dia berjalan mendekati pintu sambil berpegangan pada tembok. "Aventurine?"

"... Veritas?"

Mendengar namanya disebut Veritas menjadi sangat yakin bahwa itu memang suara Aventurine. Seketika rasa lega membanjiri hatinya. Akan tetapi dia tidak bisa senang dulu, dia harus menemukan cara untuk membuka pintu ganda yang mengunci Aventurine tersebut. "Tunggu, aku akan mencari sesuatu untuk membuka kuncinya."

Setelah itu Veritas mencari benda apapun yang kiranya bisa dia gunakan. Keberuntungan benar-benar sedang berpihak padanya, karena sebelumnya Veritas pernah mempelajari trik membuka lubang kunci menggunakan kawat sepit rambut dan sekarang dia menemukan sebuah kawat.

Tidak lama kemudian terdengar bunyi klik dan kunci di pintu berhasil dibuka. Tanpa membuang waktu lagi Veritas segera masuk. Berbarengan dengan itu lampu di dalam ruangan ikut menyala, membuat kaget Veritas. Padahal sudah ia dipastikan bahwa aliran listrik gedung tersebut sudah tidak berfungsi sama sekali.

"Aventurine?" Panggilnya.

Alih-alih Aventurine, yang menjawab Veritas justru sebuah suara yang disamarkan menggunakan alat pengubah suara yang terdengar dari speaker yang ada di pojok atas ruangan.

"Let's play a game!"

Lampu di sisi lain ruangan yang masih gelap kini ikut menyala. Menampilkan tembok yang terbuat dari kaca bening setebal empat millimeter yang berarti tidak mudah untuk memecahkannya. Di tengah dinding kaca terdapat satu lubang yang bisa memuat satu tangan orang dewasa dan didesain khusus untuk berinteraksi dengan apapun yang ada di dalam ruangan seperti akuarium raksasa tersebut tanpa bisa menimbulkan kebocoran apapun dari dalam.

Tidak ada pintu maupun ventilasi udara. Hanya ruangan polos berwarna putih tanpa furniture dan air conditioner yang mengatur sirkulasi udara. Yang mengejutkan Veritas adalah Aventurine berada di dalamnya.

Dia masih mengenakan pakaian di hari mereka pergi ke akuarium. Selain memar di pelipis dan luka robek di sudut bibir sebelah kiri yang sudah mengering darahnya, Aventurine tidak kekurangan satu pun anggota tubuh.

Selama beberapa detik Veritas merasa kehilangan kemampuan untuk bicara. Dia hanya bisa menatap Aventurine yang masih sanggup tersenyum ke arahnya dan berkata bahwa dia baik-baik saja dan meminta Veritas untuk tetap tenang.

Tak lama suara di dalam speaker kembali bicara, "Karena kawan kita Aventurine sangat menyukai perjudian, bagaimana kalau kita bermain Russian roulette? Jika kalian menang, Aku akan melepaskan Aventurine."

Kedua bola mata Veritas membulat lebar kali ini. Dia sedikit banyak tahu tentang permainan mematikan yang melibatkan penggunaan senjata api tersebut. Peraturannya sangat sederhana, jika kau menarik pelatuk dan tidak memicu proyektil peluru, maka kau pemenangnya. Sedangkan, jika Keberuntungan tidak berpihak padamu, kau akan mati.

Veritas tidak habis pikir bagaimana bisa Aventurine memiliki keterlibatan dengan orang sakit jiwa yang menganggap nyawa manusia adalah hal remeh yang bisa digunakan sebagai taruhan permainan.

"Hanya orang sakit jiwa dan berpikiran dangkal yang setuju melakukan taruhan berat sebelah semacam itu."

Suara di dalam speaker mendengus penuh cemo'oh, "Kau bisa tanya sendiri pada Aventurine, apakah dia setuju atau tidak dengan permainan ini."

"Aventurine, kau tidak akan—" pita suara Veritas tercekat saat dirinya berbalik dan matanya menangkap wajah tersenyum Aventurine. Dia juga bisa melihat kilat kegilaan dalam mata indah sarat cahaya milik Aventurine.

"Kita tidak punya pilihan. Terima saja." Kata Aventurine dengan nada sangat tenang seakan nyawa miliknya sedang tidak dipertaruhkan.

"Jangan tolol, Aventurine!" Tentu saja Veritas sangat kesal dengan keputusan yang diambil Avanturine. Dia sendiri sadar bahwa pilihan mereka memang tidak banyak, tapi bukan berarti mereka berada di jalan yang buntu. Masih ada cara untuk membebaskan Aventurine selain melakukan permainan konyol semacam Russian roulette. Lagipula polisi juga sudah mengepung seluruh area gedung. Mereka tidak benar-benar berada di kondisi yang memaksa terjun ke jurang keputusasaan.

Aventurine, "Kau tidak mengerti. Sejak awal aku memang tidak pernah punya pilihan selain dibebaskan dalam keadaan hidup atau dibebaskan dalam keadaan mati,"

Veritas mengepal jemarinya kuat-kuat lalu meninju kaca tebal yang memenjara Aventurine. Ia kemudian berkata dengan suara tertahan dan mata yang mengancam, "Berhenti mengucapkan kata-kata terkutuk semacam itu. Kau pasti bisa keluar hidup-hidup."

"Maaf menginterupsi, tapi kita kehabisan waktu. Main atau tidak?" Kata orang di dalam speaker yang sejak tadi membisu.

"Main/Tidak!" Ucap Aventurine dan Veritas bertentangan.

"Kakavasha!" Bentak Veritas memelototi Aventurine yang tidak memiliki perubahan ekspresi di wajahnya.

"Sepertinya kau belum mengerti situasinya," speaker itu kembali bicara dan kalimat tersebut sepertinya khusus ditujukan untuk Veritas. "Apa kau berpikir dengan mengulur waktu seperti ini para anjing pemerintah itu bisa segera tiba di sini dan membalik keadaan?"

Suara itu tertawa dengan gila.

"Kuberi tahu, sampai kapan pun mereka tidak akan pernah bisa sampai ke lantai ini," sambungnya.

Jantung Veritas mencelos mendengarnya, tapi dia sebisa mungkin tidak menunjukkan sedikit pun kepanikan di wajahnya, "Kau pikir gertakanmu itu bisa menipuku?"

"Aku tidak sedang menggertakmu. Kutebak teman-teman anjingmu itu sekarang sudah tak sadarkan diri karena keracunan gas karbon monoksida," katanya santai. "Tapi tenang saja, selama kalian menyelesaikan permainan secepat mungkin, teman-temanmu itu masih bisa selamat sebelum mengalami kerusakan otak yang berujung pada kematian."

"Kau benar-benar bajingan! Jalang! Lebih buruk dari sampah!" Mata Veritas memerah dan giginya bergemeletuk karena amarah. Sebelumnya dia belum pernah mengucapkan kata-kata vulgar semacam itu dari lubuk hatinya yang terdalam.

Di sisi lain Aventurine tidak menunjukkan reaksi apapun seakan dia hanya sebuah dekorasi ruangan yang dilindungi kaca tebal.

"Semakin banyak kau mengulur waktu, maka teman-temanmu akan semakin cepat menemui pintu ajal." Ancam suara di speaker.

"Veritas, kau tahu aku tidak takut akan kematian. Jangan terlalu banyak berpikir dan lakukan saja." Kata Aventurine yang akhirnya angkat bicara.

"Benar, seperti itu. Aku sangat menyukai orang pemberani dan blak-blakan sepertimu, Aventurine. Sayangnya kita berada di kubu yang bertentangan." 

"Aventurine, kau tahu kalau kita melakukannya tidak akan ada jalan keluar lain lagi, kan?" Tanya Veritas yang pertahanannya hampir runtuh.

Alih-alih menjawab, Aventurine justru kembali menunjukkan senyuman sederhana yang tidak mengartikan apa-apa. Dan saat itu juga Veritas tahu bahwa keputusan kekasihnya itu sudah bulat.

"Bagus. Kita bisa mulai permainannya sekarang." Suara di dalam speaker terdengar senang. Dia kemudian menjelaskan lebih rinci peraturan yang telah ia buat sendiri.

Di atas meja yang hanya ada satu-satunya di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah senjata api jenis Revolver Nagant M1895 Rusia yang di dalamnya sudah diisi satu peluru. Dia menjelaskan bahwa Veritas hanya perlu melakukan tembakan sebanyak tiga kali ke arah jantung atau kepala Aventurine melalui celah lubang yang ada di tengah dinding kaca. Jika tidak ada satupun peluru yang keluar dari ketiga tembakan tersebut, maka mereka menang.

"Ngomong-ngomong, aku lupa mengatakannya. Jika kau tidak bisa melakukan ketiga tembakan dalam waktu kurang dari satu menit setelah memasukkan tanganmu ke dalam lubang, ruangan tempat Aventurine berada akan segera diisi oleh gas arsenik yang sudah kusiapkan sebelumnya." Tambahnya di akhir penjelasan.

Mendengarnya, otomatis membuat amarah Veritas memuncak dan tidak bisa ditahan lagi. Dia sangat tahu konsekuensi jika menghirup gas mematikan tersebut dalam jumlah banyak di dalam ruangan kedap udara, sudah dipastikan Avanturine akan langsung mati dalam waktu singkat.

Dengan tindakan impulsive Veritas menodongkan senjata api ke arah speaker dan menarik pelatuknya seakan hal itu bisa membunuh langsung orang di dibalik suara tersebut. Tentu saja tidak terjadi apa-apa dan satu kesempatan menghindari letusan peluru sudah dia buang secara sia-sia.

Orang di balik speaker tertawa terbahak-bahak menyaksikan kebodohan yang baru saja dilakukan Veritas. Dia terdengar sangat bersenang-senang. 

Jangankan Veritas yang masih remaja, orang dewasa sekali pun pasti tidak akan bisa terus mempertahankan ketenangan mereka jika mentalnya diserang secara berturut-turut tanpa istirahat.

Tindakan yang Veritas lakukan merupakan reaksi normal kebanyakan makhluk hidup yang memiliki perasaan, terlepas IQmu selevel dengan Einstein maupun tidak lebih pintar dari keledai.

"Veritas, lihat dan dengarkan aku," Panggil Aventurine berusaha mengembalikan kesadaran Veritas yang mengawang entah kemana. Dia terlampau syok dengan tindakan yang baru saja ia lakukan hingga tatapannya menjadi kosong. 

"Veritas Ratio!" Panggil Aventurine lagi. Kali ini dengan suara yang lebih lantang dan itu terbukti bekerja sangat efektif. Setidaknya perhatian Veritas kini sepenuhnya berada pada Aventurine.

Melihat wajah bengong Veritas yang biasanya angkuh dan percaya diri sesungguhnya membuat Aventurine merasa sedikit lucu. Sayangnya mereka sedang berada di situasi genting dan dia harus menahan diri untuk tidak menggoda Veritas.

"Kau bisa mendengarku?" Tanya Aventurine untuk meyakinkan. 

"Maaf." Ucap Veritas lesu dan jujur saja itu membuat Aventurine patah hati.

"Sekarang lihat mataku." Perintah Aventurine yang segera dituruti Veritas. Akhirnya mata mereka bertemu satu sama lain.

"Bisakah kalian lebah cepat?" Protes orang di balik speaker tidak sabaran. Dari nadanya dia terdengar bosan. 

"Shut the fuck up!" Sembur Aventurine sambil memelototi speaker di pojok ruangan. Dia yakin ada kamera tersembunyi juga di sana. Setelah itu Aventurine kembali menatap mata Veritas.

"Pejamkan matamu, lalu tarik napas dan keluarkan perlahan. Tenangkan dirimu, ok?" Katanya lembut. 

Usai melakukan hal yang Aventurine minta, raut wajah Veritas menjadi lebih rileks dan tidak sehilang sebelumnya.

"Sudah tenang?"

Veritas ingin berkata belum, namun dia tetap mengangguk—tidak ingin membuat Aventurine lebih khawatir lagi. Jika ditelusuri lebih dalam, tekanan mental Aventurine seharusnya jauh lebih berat darinya. Veritas merasa harus segera bangkit dan mengatur kontrol emosinya. 

"Bagus. Kalau begitu, ayo mulai." Aventurine bergerak lebih mendekat ke sisi lubang dan memposisikan dirinya tepat di tengah-tengah. "Jangan takut, kau bisa melakukannya."

"Aku akan mengeluarkanmu hidup-hidup." Ucap Veritas sambil mempersiapkan diri memasukan tangannya yang memegang senjata api ke dalam lubang. 

Aventurine mengangguk dan tersenyum. Setelah itu dia meraih tangan Veritas yang sudah berada di dalam dan menempelkan mulut senjata api tersebut tepat ke dada sebelah kirinya. 

"Kuserahkan hidupku padamu."

Klik! Klik! 

Tidak terjadi apa-apa pada dua tarikan pelatuk pertama yang dilakukan secara berturut-turut. Tapi Veritas berhenti dan tidak langsung meluncurkan tarikan pelatuk ketiga karena dia seakan tahu bahwa keberuntungannya telah habis dan baru kali ini Veritas merasa sangat tidak berdaya. Bahkan ilmu yang sangat dibanggakannya tidak dapat membantunya sama sekali. 

"Jangan ragu. Bawa aku pergi, Veritas."

dan

Bang! 

Tepat ditarikan pelatuk yang ketiga, suara tembakan senjata api menggema di udara. Dengan mata membelalak Veritas melihat tubuh Aventurine perlahan jatuh ke belakang.

Namun wajah Aventurine masih mempertahankan senyumannya dan matanya menatap Veritas dengan lembut di detik-detik terakhirnya.

Veritas Ratio, mari bertemu lagi ketika takdir tidak terlalu kejam terhadap kita berdua. 

Suara benturan keras tubuh yang jatuh membentur lantai terdengar dan diiringi suara jerit kepedihan yang menyesakkan hati seluruh makhluk yang dapat mendengarnya. 

—Epilog—

"Menurutmu, orang seperti apa yang dikirim ke sini sebagai perwakilan Persatuan Intelegensia?" Topaz mengelus kepala Numby—trotter kesayanganya. Saat ini dia bersama Aventurine tengah menyusuri koridor menuju kantor tempat Diamond bekerja.

Mereka berdua dipanggil secara khusus oleh Diamond untuk dikenalkan pada perwakilan partner bisnis baru IPC yang berasal dari Persatuan Intelegensia. Karena ke depannya mereka bertiga akan menjadi partner yang sering melakukan aktivitas misi bersama. 

"Kau akan mengetahuinya sendiri saat kita sampai di kantor Diamond." Jawab Aventurine yang lebih tertarik pada kacamata gaya di tangannya.

Tak lama kemudian mereka berdua sampai di depan pintu mahogani ganda bercat coklat. Aventurine mengetuk pintu singkat sebelum masuk ke dalam bersama Topaz. 

Di dalam ruangan sudah ada tiga orang. Salah duanya adalah Diamond dan Jade dan yang terakhir tentunya orang dari Persatuan Intelegensia. Diamond duduk di meja kerjanya, sedangkan Jade berdiri dan bersandar di sisi sebelah kiri meja kerja Diamond dengan menyilangkan lengan di dada.

"Aku tidak akan berbasa-basi lagi. Kuperkenalkan partner baru kalian, Dr. Ratio dari Persatuan Intelegensia." Kata Diamond sambil memberi gestur tangan mempersilakan ke arah pria tinggi dengan wajah kurang bersahabat yang berdiri di sisi ruangan sambil bersandar ke tembok. Di genggamannya terdapat sebuah buku tebal yang tidak ingin Aventurine ketahui isinya.

Topaz yang memiliki perangai ceria dan mudah bergaul tanpa sungkan segera memperkenalkan dirinya dan Numby. Dia dengan mudah menciptakan suasana yang terkesan akrab.

Setelah itu barulah giliran Aventurine yang memperkenalkan diri. Berbeda dengan Topaz, Aventurine justru memberi kesan pertama yang provokatif.

"Dr. Ratio, benar? Mau bertaruh denganku?" Tawarnya. Kendati dia bertubuh jauh lebih pendek, Aventurine tidak merasa terintimidasi sama sekali dan bahkan berani memasang raut wajah menantang. 

Alih-alih menanggapi, Dr. Ratio justru memberi Aventurine tatapan seperti melihat sampah. Dan menurut Aventurine itu sangat menarik, jadi dia hanya tertawa.

"Aku tidak sabar untuk bekerjasama denganmu, Dr. Veritas Ratio."

Notes:

Akhirnya kelaaaaarr!
Jujur saja ini saya tulis dimulai dari tanggal 6 Maret. Karena mager dan banyak perubahan pikiran sama plotnya jadi ketunda terus progressnya sampai hampir satu bulan. lol

Maafkan kalau banyak typo atau kata yang gak nyambung ulah autocorrect. Saya terlalu malas mengecek ulang dan gak punya beta reader.

Pokoknya terima kasih yang sudah mau mampir dan meluangkan waktunya untuk membaca. Komen dan kudos sangat diapresiasi! <3

Btw, mungkin ada yang mau mutualan di Twitter? Main ship saya Jingluo sama Ratiorine. Uname saya @.nemurieri, mention saja kalau berkenan mutualan hehe